cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink)
ISSN : 02169541     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Enerlink adalah jurnal yang diterbitkan 2 kali setahun oleh Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Energi dan Industri Kimia BPPT di bidang energi dan lingkungan. Enerlink is a scientific journal that publishes twice annually by Centre of Energy Technology and Chemical Industry of BPPT.
Arjuna Subject : -
Articles 322 Documents
OPTIMASI PROSES PENGOLAHAN PELUMAS BEKAS MENJADI BAHAN BAKAR Ade Syafrinaldy; Imron Masfuri
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 14 No. 1 (2018)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v14i1.4272

Abstract

Optimalisasi kondisi proses konversi minyak pelumas bekas menjadi bahan bakar diselidiki dalamdemo plant. Pemrosesan kembali pelumas bekas menjadi bahan bakar dapat menjadi solusipencegahan pencemaran lingkungan. Demo plant BPPT di Balikpapan, mengolah pelumas bekasmenjadi bahan bakar setara HSD (High Speed Diesel) dan MFO (Marine Fuel Oil) menggunakanevaporator dalam kondisi vakum (20 kPa). HSD dihasilkan dengan cara distilasi pada temperatur260oC, kemudian dikondensasikan dengan hasil 5-10% produk HSD. Sementara MFO diproduksimelalui proses water cut (penguapan air) pada temperatur 120oC kemudian sisa air dan sedimennyadipisahkan menggunakan separator sentrifugal. Penelitian ini bertujuan menentukan kondisi prosesyang lebih efisien dan optimal dalam evaporator di demo plant. Pada bagian pertama riset ini dilakukanpenentuan temperatur proses water cut yang paling rendah di mana air telah terpisahkan secaramaksimal dari pelumas bekas. Temperatur ditetapkan pada 80-120oC pada tekanan 20 kPa yangsama dengan kondisi proses evaporator demo plant. Pada bagian kedua, pelumas bekas didistilasipada temperatur 220-300oC pada kondisi vakum 20 kPa untuk mengetahui kecenderungan perolehanjumlah produk HSD. Sampel pelumas bekas yang digunakan untuk penelitian sama dengan pelumasbekas yang digunakan pada demo plant. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk proses water cut,pemisahan air maksimal dapat dicapai pada temperatur 80oC, 20 kPa. Sedangkan untuk prosesdistilasi HSD, hasil penelitian menunjukkan semakin tinggi temperatur distilasi semakin banyak jumlahproduk HSD. HSD yang dihasilkan berada pada rentang 8,6% (220oC, 20 kPa) - 29,8% (300oC, 20kPa). Semua hasil ini mengarah pada pengoperasian demo plant yang lebih baik, lebih ekonomis danmenguntungkan.Kata Kunci: pelumas bekas; distilasi; proses water cut; high speed diesel, marine fuel oil
DEGRADASI PRODUK PADA LIKUIFAKSI SELULOSA DENGAN PELARUT ETANOL-AIR Galuh W. Murti; P. S. Marathe; R.J.M. Westerhof
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 14 No. 1 (2018)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v14i1.4273

Abstract

Pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar alternatif merupakan salah satu solusi untuk mengatasikelangkaan bahan bakar minyak di masa depan. Indonesia memiliki biomassa yang melimpah yangdapat dimanfaatkan sebagai sumberdaya bahan bakar. Selulosa adalah komponen terbesar dalambiomassa, selulosa ini merupakan gula yang terdiri dari unit-unit glukosa. Oleh karena itu, tujuan daripenelitian ini adalah untuk mengetahui produk-produk degradasi selulosa dan pengaruh campuranetanol/air sebagai media likuifaksi. Selulosa dilikuifaksi pada suhu 300oC dengan campuran etanol/airtertentu (0/100, 10/90, 50/50, 60/40, 80/20, 100/0) ke dalam reaktor batch. Media likuifaksi optimumadalah 60/40 (w/w) etanol / air. Beberapa produk degradasi dari selulosa dalam fase aqueous sepertiasam levulinat, asam asetat, asam format, dan etil levulinat diamati oleh HPLC dan LCMS. Dalamlikuifaksi selulosa, berat molekul rata-rata menurun dengan bertambahnya etanol. Ini menunjukkanbahwa charring dapat dihindari dengan menggunakan etanol sebagai pelarut. Selain itu, etanolbereaksi dengan produk intermediet dan menghasilkan senyawa dengan berat molekul ringan. Studikami menegaskan bahwa dalam media yang kaya air, reaksi tersebut terjadi dengan cepat terhadapproduk degradasi dan charring; namun, penambahan etanol dapat menurunkan laju reaksi sertamelindungi glukosa menjadi produk degradasi lebih lanjut, dan akhirnya, ester levulinik ditemukansebagai produk stabil pada akhir reaksi. Ester Levulinik diketahui sebagai biofuel atau komponen aditifuntuk diesel dan biodisel.Kata kunci: ester levulinik, likuifaksi selulosa, etanol, air, produk degradasi
EVALUASI EFISIENSI POMPA SENTRIFUGAL PADA UNIT PENGOLAHAN AIR MINUM PUSAT DISTRIBUSI CILINCING Akhmad Muji Hartono; Amiral Aziz
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 14 No. 1 (2018)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v14i1.4274

Abstract

Tulisan in menampilkan beberapa hasil penelitian yang dilakukan untuk mengevaluasi efisiensi pompasentrifugal pada Unit Pengolahan Air Minum Pusat Distribusi Cilincing. Hasil dari penelitian inimemperlihatkan bahwa. Efisiensi pompa 2 didapat 60,87 % hal ini lebih kecil dibandingkan denganefisiensi pompa 2 yang didapat berdasarkan “Pump Performance Test Record” yang dikeluarkanmanufaktur pompa Kubuta Corporation sebesar 70 %. Efisiensi pompa 4 didapat 69,87 % hal ini lebihkecil dibandingkan dengan efisiensi pompa 4 yang didapat berdasarkan “Pump Performance TestRecord” sebesar 84 %. Efisiensi pompa 5 didapat 61,87 % hal ini lebih kecil dibandingkan denganefisiensi pompa 5 yang didapat berdasarkan “Pump Performance Test Record” sebesar 65 %.Penurunan efisiensi terbesar terjadi pada pompa 4 dimana efisiensi pompa 4 adalah 69,87 % hal inilebih jauh kecil dibandingkan dengan efisiensi pompa 4 yang didapat berdasarkan “PumpPerformance Test Record”.sebesar 84 %, hal ini disebabkan karena pompa 4 beroperasi padakapasitas yang jauh lebih kecil yaitu 5936.274 (m³/jam) dibandingkan dengan kapasitas pompaberdasarkan “Pump Performance Test Record” sebesar 7380 (m³/jam). Apabila pompa 2,4 dan 5beroperasi secara parallel, efisiensi total pompa tertinggi adalah 49,8 %. Penurunan efisiensi padasistem pempompaan dapat terjadi pada :Pompa, Motor listrik dan Kabel penghubung motor dansumber listrik.. instalasi listrik yang tidak memenuhi standar, pola pengoperasian mekanikal danelektrikal yang tidak tepat, penurunan kinerja peralatan listrik dan pompa.Kata kunci: pompa sentrifugal , unit pengolahan air minum pusat distribusi cilincing , air minum,efisiensi
PENGARUH CAMPURAN PELARUT ETANOL-AIR PADA LIKUIFAKSI BIOMASSA LIGNOSELULOSA Galuh Wirama Murti
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 14 No. 1 (2018)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v14i1.4275

Abstract

Bio-crude oil, yang diproduksi dari proses likuifaksi biomassa lignoselulosa,dapat dijadikan salah satualternatifenergi dari sumberdaya terbarukan. Eksperimen likuifaksi ini melibatkan solventdan terjadipada suhu tinggi dan tekanan tinggi dalam reaktor batch. Studi ini mempelajari pengaruh mediapelarut etanol-air (0-100%), suhu(250-350oC), dan waktu reaksi(0 – 90 menit) pada likuifaksibiomassa. Selain itu, penggunaan air dalam proses juga dibuktikan dapat mempercepat reaksi ke arahproduk. Kondisi operasi optimum likuifaksi biomassa (kayu pinus) dicapai pada campuran etanol/air60/40 (w/w) pada suhu reaksi 300oC, dan waktu reaksi 30 menit. Di atas 300oC, hasil residu padatbertambah secara signifikan karena re-polimerisasi. Selain itu, waktu reaksi yang berkepanjanganlebih dari 1 jam meningkatkan yield residu padat. Selama recovery (separasi) produk, bio-crude oilcenderung terikut melalui filter saat menggunakan etanol dalam proses pencairan. Terungkap bahwabio-crude oil sebagian terlarut dalam campuran etanol/air. Kelarutan bio-crude oil yang hidrofobikmeningkat secara proporsional dengan jumlah konsentrasi etanol. Campuran etanol dan airmenunjukkan efek sinergis pada proses pencairan. Air mempercepat reaksi dekomposisi, dan secarabersamaan, etanol dapat melarutkan senyawa berat molekul berat dari matriks padat.Kata kunci: likuifaksi biomassa, kayu pinus, etanol, air, likuifaksi hidrotermal
INVESTIGASI TANAH LOKASIPEMBANGUNAN REAKTOR PLTBG DI PKS SEI PAGAR, PTPN 5 Dwi Lukman Hakim; Novio Valentino; Ade Syafrinaldy
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 14 No. 2 (2018)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v14i2.4276

Abstract

Tahap pertama yang harus dilakukan dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg)adalah perencanaan lokasi. Lokasi yang ideal adalah lokasi yang dekat dengan bahan baku dan harusdekat dengan daerah yang memiliki jaringan listrik untuk memastikan bahwa listrik yang dihasilkandapat disalurkan. Ketersediaan bahan baku limbah cair POME (Palm Oil Mill Effluent) yangberkelanjutan dan dapat diandalkan merupakan aspek penting bagi proyek biogas karena volumepasokan limbah bisa bervariasi sepanjang tahun. Karakteristik limbah cair POME, dan kondisipasokan dapat diperoleh dari survei dan pengambilan sampel limbah. Pembangunan PLTBgditetapkan berlokasi di PKS (Pabrik Kelapa Sawit) Sei Pagar, PTPN 5, Riau.Kegiatan perencanaanlokasi ini ditekankan pada penyelidikan tanah dengan cara sondir dan pengambilan sampel tanahmenggunakan alat bor serta analisissampel tanah. Analisis kondisi tanah bertujuan untukmengevaluasi kondisi lapisan tanah yang ada di lokasi dan mengetahui letak kedalaman tanah kerasserta untuk mendapatkan data parameter tanah yang akan digunakan sebagai dasar perhitungandalam perencanaan pondasi dan design infrastruktur perencanaan pembangunan reaktor CSTR.Berdasarkan analisis daya dukung tanah dan hasil standard penetration test (SPT) diperolehperhitungan pemancangan perlu dilakukan sampai kedalaman 12,00 meter di bawah muka tanahdengan diameter tiang pancang diatas 60 cm.Selain itu, dari perhitungan daya dukung pondasidiketahui titik BH.02 memiliki daya dukung tanah yang tidak konsisten sehingga terindikasi merupakantanah hasil timbunan. Oleh karena itu perlu dilakukan revisi lay-out biogas plant.Kata kunci: investigasi tanah, uji tanah, pembangkit listrik tenaga biogas, POME
ANALISA TEKNO-EKONOMI BIO-CNG SEBAGAI BAHAN BAKAR GAS TERBARUKAN DI INDONESIA Yudiartono Yudiartono; Ira Fitriana; Ratna Etie Puspita Dewi; Prima Trie Wijaya; Nona Niode; Nini Gustriani
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 14 No. 2 (2018)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v14i2.4277

Abstract

Produksi limbah cair pengolahan kelapa sawit (POME) yang berlimpah di Indonesia menjadi faktorpendukung yang perlu menjadi perhatian, karena akan menimbulkan masalah lingkungan. Untuk itulimbah POME perlu dikonversi misalnya menjadi biogas, kemudian diupgrade menjadi biometana,agar beban pencemaran terhadap lingkungan akan berkurang. Konsep dasar upgrading biogasmenjadi biometana adalah untuk menaikkan kandungan metana (CH4) dalam raw biogas denganmenurunkan kandungan karbondioksida (CO2), untuk meningkatkan nilai kalori raw biogas. Selain itu,dilakukan pula penghapusan produk korosif, terutama hidrogen sulfida (H2S), air (H2O), dan beberapaunsur pengotor lainnya (H2, N2, O2). Proses ini dapat dilakukan dengan menerapkan berbagai jenisteknologi pembersihan dan peningkatan kualitas bogas. Teknologi tersebut diantaranya adalah aminescrubbing, water scrubbing, pressure swing adsorption, dan pemisahan membrane.Adapun distribusibiometana bisa dalam bentuk BioCNG, biasa disebut CBM (Compressed Biomethane), untukdigunakan sebagai bahan bakar pada sektor transportasi dan industri. Pola distribusi produk BioCNGyang paling layak adalah pemanfaatan BioCNG untuk kendaraan secara onsite. Model yangdigunakan berupa SPBG small fast fill, yaitu tipe SPBG dengan ukuran kecil, dimana pengisianBioCNG dilaksanakan secara cepat, seperti pengisian BBM di SPBU. Biaya pengadaan BioCNGtersebut adalah sebesar Rp. 4.242/LSP s.d. Rp. 4.563/LSP. Namun jenis distribusi denganmenggunakan tube trailers atau GTM (Gas Transport Module) ke SPBG Daughter sangat tidakekonomis, karena biaya pengadaan BioCNG-nya rata-rata lebih dari Rp. 8.000/LSP. Dengandemikian, untuk tipe distribusi jenis GTM - SPBG Daughter tidak dianjurkan untuk diterapkan diIndonesia.Kata kunci: BioCNG, Compressed Biomethane (CBM), SPBG, Gas Transport Module (GTM)
DISAIN SISTEM KONTROL DAN OPERASI UNTUK PROTON EXCHANGE MEMBRANE FUEL CELL Anton Rahmawan; Abdul Hamid Budiman; Kurniawan Kurniawan; Ferri Hermawan
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 14 No. 2 (2018)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v14i2.4279

Abstract

Fuel cell atau sel bahan bakar adalah alat atau divais konversi energi elektrokimia yang akanmengubah hidrogen dan oksigen menjadi air, dimana secara bersamaan menghasilkan energi listriksecara kontinyu dan panas sebagai buangan dalam prosesnya. Proton Exchange Membrane FuelCell (PEMFC) beroperasi dengan elektrolit polimer yang bentuknya tipis dan bersifat permeable.Dengan dilakukannya desain sistem kontrol ini diharapkan operasional fuel cell dapat sesuai dengandesain parameter proses yang telah ditentukan. Selain sistem kontrol untuk pengoperasian fuel celljuga dilakukan desain sistem proteksi atau keamanan fuel cell pada saat pengoperasiannya. Mengacupada diagram blok/arsitektur sistem kontrol dan operasi fuel cell yang sudah dibuat, selanjutnya akandibuat desain detil sebagai acuan untuk pembuatan prototipe sistem kontrol dan proteksi untukkeperluan operasional serta pengujian fuel cell. Pembuatan SOP (standard operation procedure)sangat membantu dalam pengoperasian dan menghindari kesalahan operasi yang dapatmengakibatkan kerusakan serta bahaya yang ditimbulkan.Kata Kunci: PEMFC, sistem kontrol, proteksi, diagram arsitektur, prototipe, SOP
PERENCANAAN PRODUKSI BIOGAS DARI PALM OIL MILL EFFLUENT UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK: STUDI KASUS PABRIK KELAPA SAWIT SEI PAGAR Novio Valentino; Dwi Lukman Hakim; Hana Nabila Anindita; Zulaicha Dwi Hastuti
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 14 No. 2 (2018)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v14i2.4280

Abstract

Produksi minyak mentah kelapa sawit yang mengalami peningkatan setiap tahunnya mengakibatkanmeningkatnya pula produksi limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME). POMEmemiliki kandungan organik yang tinggi sehingga tidak dapat dibuang secara langsung ke lingkungan.Di sisi lain, tingginya nilai COD dalam POME ini sebenarnya dapat memberikan potensi untuk konversilistrik dengan menangkap gas metana atau biogas yang dihasilkan melalui serangkaian tahapanproses peruraian POME. Dalam kajian ini dilakukan pendataan potensi POME dari Pabrik KelapaSawit (PKS) Sei Pagar serta perencanaan proses produksi biogas dari POME. Data yang didapatseperti nilai COD, BOD, TSS, dan debit digunakan sebagai basic engineering design produksi biogasdari POME. Dalam perencanaan proses dipilih reaktor CSTR untuk proses produksi biogas. Selain itu,dilakukan proses pre-treatment terlebih dahulu untuk menyesuaikan POME dengan kondisi optimumreaktor. Biogas yang dihasilkan akan dipurifikasi sebelum masuk ke gas engine dan diubah menjadienergi listrik. Dengan kapasitas limbah POME di PKS Sei Pagar yakni sebesar 15 m3/jam dan waktu3pengumpanan 16 jam diharapkan mampu menghasilkan 119 m /jam biogas yang kemudian dapatdikonversi menjadi energi listrik sebesar 532 kW.Kata kunci: POME, biogas, COD, CSTR, desain basis
HMI SIMULATION OF BIOGAS HANDLING OF GAS ENGINE SYSTEM Nugroho Adi Sasongko; Anton Rahmawan; Hartadhi Hartadhi; Arga Febriantoni; Winaldha Erza N.H.; M. Taufiqi Arrais; Agus Rochmansyah
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 14 No. 2 (2018)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v14i2.4281

Abstract

Palm oil waste such as Palm Mill Effluent (POME) can endanger the environment, sincePOME stillcontains organic compounds with highCOD and BOD. To reduce COD and BOD level, POME needs tobe processed into environmentally friendly and useful products. One of the products is biogas, whichcan be used as fuel for gas engines to produce electricity. Biogas can be an alternative to diesel fuel.The results of the study indicatedthat the amount of biogas content from the new POME waste processcan be used to supply gas engines. It is necessary to optimize the design of the Human MachineInterface (HMI)ofthe biogas cleaning system such as bioscrubber, dehumidifier, and blower units,using instrumentation and control software called Virtual Instrument Engineering WorkbenchLaboratory (LabVIEW). LabVIEWis a system design platform and development environment for visualprogramming languages from National Instruments (NI), USA. Instrumentation and control systemsare designed for automation with graphic programming languages. The built-in interface helps simplifycomplex functions such as visualizing the control system in a large database and system-processingoptimization that has been designed.Kata kunci: biogas, gas engine, gas handling, labVIEW, POME (Palm Oil Mill Effluent)
PENGEMBANGAN MODEL LOGIKA FUZZY PADA REAKTOR BIOGAS ANAEROB Cahyadi Cahyadi; Taopik Hidayat; Dwika Budianto
Jurnal Energi dan Lingkungan (Enerlink) Vol. 14 No. 2 (2018)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/elk.v14i2.4282

Abstract

Kondisi kerja internal dan dinamika proses reaktor biogas anaerobik cukup sulitt dipecahkan danbanyak masalah metodologi dalam pemodelan masih harus dipecahkan. Terdapat banyak faktor yangdapat mempengaruhi tingkat pertumbuhan bakteri dan koefisien yield yang mencerminkanpertumbuhan mikroorganisme. Selain itu kurangnya akurasi dalam pengukuran dan kadangkurangnya pengukuran sering mengarah pada masalah identifikasi. Oleh karena itu, modeldikembangkan yang mampu mengkarakterisasi reaktor biogas anaerob menggunakan logika fuzzy.Model ini dibangun menggunakan persamaan keseimbangan massa dan pemodelan beberapaparameter dengan logika fuzzy. Hasil yang diperoleh dibandingkan dengan percobaan yang telahdiakukan pada reaktor fluidized bed dan dengan hasil yang diperoleh dari model lain. Hasil yangdiperoleh cukup baik dalam mengikuti profil hasil eksperimental dan dengan yang diperoleh denganmetode teoritis.Kata kunci: digester anaerobik, logika fuzzy, model reaktor biogas