cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
IDENTIFIKASI FLUKS MAGNETIK DARI GERAK PASANGAN BINTIK BIPOLAR Clara Y. Yatini
Jurnal Sains Dirgantara Vol 2, No.2 Juni (2005)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.334 KB)

Abstract

Proper motion of a pair of bipolar spots is analyzed using TRACE white light data to find their relation with the emerging flux. These spots were located under flaring region of NOAA 0424, which ejected an M1.7/S N flare on August 5, 2003. As the result, it is found that the preceding moved westward of the following. We interpret this as the indicator of emerging magnetic flux triggering flare.
DAMPAK PENERAPAN PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS (PCA) DALAM CLUSTERING CURAH HUJAN DI PULAU JAWA, BALI, DAN LOMBOK [IMPACT OF PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS (PCA) IMPLEMENTATION ON RAINFALL CLUSTERING OVER JAVA, BALI AND LOMBOK ISLANDS] Ina Juaeni
Jurnal Sains Dirgantara Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (974.454 KB)

Abstract

Analisis komponen utama atau Principal Component Analysis (PCA) adalah prosedur matematik yang menggunakan teknik transformasi orthogonal untuk mengubah sekumpulan data dengan komponen yang mungkin saling berhubungan menjadi komponen yang tidak saling berkaitan. Hal ini bisa memberikan dampak pada clustering curah hujan di Jawa, Bali, dan Lombok. Penelitian ini menggunakan data curah hujan TRMM setiap 3 jam selama 13 tahun (dari tahun 1998 sampai 2010) yang diolah menjadi rata-rata tahunan, klimatologi bulanan (Januari – Desember), rata-rata selama 13 tahun. Tes multikolinieritas juga dilakukan pada ketiga jenis data ini sebelum melakukan clustering dengan PCA. Hasilnya menunjukkan bahwa clustering dengan PCA mengurangi  jumlah cluster dan mengubah distribusi spasial cluster curah hujan.Kata kunci: Analisis  Komponen  Utama, Cluster, Curah hujan
ANALISIS PREKURSOR PERISTIWA FLARE/PELONTARAN MASSA KORONA DALAM RANGKA PERINGATAN DINI CUACA ANTARIKSA (THE ANALYSIS OF FLARE/CORONAL MASS EJECTION PRECURSORS RELATED TO THE SPACE WEATHER EARLY WARNING) Agustinus Gunawan Admiranto; Nanang Widodo; Iyus Edi Rusnadi; Heri Sutastio; Dasimun Dasimun
Jurnal Sains Dirgantara Vol 13, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (988.973 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2016.v13.a2940

Abstract

Based on active regions dynamics we analyzed the precursors of flare/coronal mass ejections. From the assumption that the energy of coronal mass ejection/flare are from magnetic energy conversion that can be deducted from the changes of sunspots area we analyzed some active regions which produced flare/CME to identify the area changes before the occurrence of the event. We found that in general the sunspots area decreased before the flare/CME occurred, so it is concluded that the decrease of sunspots area can be used as precursors of flare/CME. ABSTRAKDengan melihat dinamika daerah aktif dilakukan analisis prekursor fenomena flare/ pelontaran massa korona (CME). Dengan asumsi bahwa energi pelontaran massa korona berasal dari konversi energi magnet yang dilihat dari perubahan luas harian bintik Matahari maka dilakukan analisis perubahan luas harian bintik Matahari pada beberapa daerah aktif yang menghasilkan flare dan atau CME untuk melihat bagaimana luas daerah-daerah tersebut berubah menjelang terjadinya fenomena flare/CME. Didapat bahwa secara umum luas bintik Matahari mengalami penurunan beberapa saat sebelum peristiwa flare/CME ini terjadi. Dari sini dapat disimpulkan bahwa penurunan luas Harian bintik Matahari bisa dijadikan precursor atau indikasi akan adanya peristiwa flare/CME.
ANALISIS PENYEBAB ANOMALI SATELIT AKIBAT AKTIVITAS GEOMAGNET Nizam Ahmad
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 2 (2009)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (915.091 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2009.v6.a355

Abstract

Analisis terhadap data anomali satelit dan aktivitas geomagnet melalui indeks Kp dari tahun 1990-2001 memberikan informasi prakiraan penyebab dan dampak pengaruh aktivitas geomagnet ini pada operasional satelit. Analisis ini menunjukkan bahwa 58 persen kejadian anomali satelit dalam kurun waktu 1990-2001 kemungkinan disebabkan oleh aktivitas geomagnet. Hal ini dapat dilihat melalui besarnya indeks Kp pada saat kejadian dan rentang waktu 3 hari sebelum dan sesudah kejadian anomali dilaporkan. Variasi aktivitas geomagnet ini menimbulkan dampak yang berbeda pada sistem satelit, mulai dari kerusakan yang bisa langsung dipulihkan (recovery) dari stasiun bumi maupun kegagalan misi satelit secara total (total loss). Analisis ini juga memperlihatkan bahwa kebanyakan anomali satelit dialami oleh instrumen yang terdapat dalam sistem GNdanC (Guidance, Navigation and Control) satelit seperti sistem kontrol sikap satelit (ACS), sistem pengarah (pointing system) dan sensor pada satelit. Kata kunci: Satelit, Anomali satelit, Indeks Kp.
ANALISA KETELITIAN PEMETAAN MULTIQUADRATIC UNTUK FREKUENSI KRITIS IONOSFER REGIONAL [ANALYSIS ACCURACY OF MULTIQUADRATIC METHOD FOR MAPPING OF CRITICAL FREQUENCY OF IONOSPHERIC LAYER REGION] - Jiyo; - Ednofri
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1114.291 KB)

Abstract

Dalam makalah ini kami membahas pengujian ketelitian peta frekuensi kritis lapisan ionosfer (foF2) regional Indonesia, yang ditentukan menggunakan metode Multiquadratic. Pengujian telah dilakukan menggunakan data pengamatan di Biak, Pontianak, Kototabang, Sumedang, dan Pameungpeuk selama tahun 2006-2007 dan 2009-2010, serta menggunakan data tambahan yang diturunkan dari model ionosfer. Hasil analisis adalah Pertama, penerapan metode Multiquadratic menggunakan data pengamatan menghasilkan peta foF2 yang relatif lebih teliti dibandingkan dengan menggunakan data asimilasi. Kedua, nilai foF2 hasil pemetaan berkorelasi linier dengan data pengamatan dan akan semakin mendekati nilai sebenarnya jika jarak antar titik rujukan terdekat juga semakin kecil. Ketiga, penerapan metode Multiquadratic menggunakan data pengamatan dengan jarak antar titik rujukan terdekat kurang dari 1600 km menghasilkan galat relatif hingga 0,25 dan simpangan baku 0,24. Sedangkan penerapan dengan data asimilasi menghasilkan galat relatif hampir sama dan jarak antar titik rujukan terdekat kurang dari 1000 km. Keempat, ketelitian peta foF2 yang dihasilkan dengan metode ini dapat ditingkatkan dengan cara menambahkan titik rujukan sedemikian sehingga jarak antar titik rujukan terdekat hanya beberapa ratus kilometer saja. Cara ini dapat dilakukan dengan menggunakan data asimilasi. Kelima, khususnya daerah-daerah di Indonesia yang belum memiliki stasiun pengamatan ionosfer maka perlu dilakukan pemetaan dengan menggunakan data asimilasi.Kata kunci: Frekuensi kritis, Multiquadratic, Asimilasi, Titik rujukan, Galat realtif, Simpangan baku1 PENDAHULUAN
VARIASI KANDUNAGN UAP AIR DI ATAS KOTOTABANG, SUMATERA BARAT HASIL ANALISIS DATA RADIO ACOUSTIC SOUNDING SYSTEM (RASS) SELAMA KEGIATAN CPEA-CAMPAIGN 2004 Eddy Hermawan; Fikri Muhammad Abdul Wahab
Jurnal Sains Dirgantara Vol 4, No.1 Desember (2006)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.114 KB)

Abstract

As we know since June 2001, the National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN) and Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH) of Kyoto University, Japan has already stared to make a joint research at LAPAN-Kototabang under the Coupling Processes Equatorial Atmosphere (CPEA) project. There are many research activities have already been dano by both institutes. One of them is the estimation of Total Precipitable Water (TPW) in the lower troposphere at Kototabang, West Sumatera (0.2˚S; 100.32˚E) during the CPEA I Campaign stared from April 10 to May 9, 2004 using many instruments. The main purpose of this paper is we would like to show how the TPW parameter can be estimated from the Radio Acoustic Sounding System (RASS) and radiometer and their correlation with the surface rainfall data. We applied the Wiesner (1970) technique when we estimated the TPW with specific humidity and air density taken from RASS and radiomater, respectively. Then, we analyzed the Cross-Correlation Function (CCF) when we compared the TPW and Optical Rain Gauge (ORG) data. In the same time, we analyzed the Boundary Layer Radar (BLR) data also to investigate the updraft and downdraft air mass activities from surface up to 5 km. We can see here the consistency of BLR, RASS and radiomater data when we investigated the vertical profile of water vapor over Kototabang. We found also a time variation of TPW, especially on April 24 and May 5, 2005 are about 0.43 and 0.35, respectively. Although both values look small relatively, but they are inough significant statistically.
EFEK CME HALO PENUH PADA IONOSFER LINTANG RENDAH DARI DATA GPS BAKO DI CIBINONG [EFFECT OF FULL HALO CME ON LOW LATITUDE IONOSPHERE FROM BAKO GPS DATA IN CIBINONG] Fakhrizal Muttaqien; Buldan Muslim
Jurnal Sains Dirgantara Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.159 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2017.v15.a2735

Abstract

A full halo coronal mass ejections (CMEs) are most energetic solar events that eject huge amount of mass and magnetic fields into heliosphere with 360o angular angle. The full halo CME effect on the ionosphere can be determined from the ionospheric total electron content (TEC) derived from GPS data. GPS data from BAKO station in Cibinong, satellite orbital data (brcd files) and intrumental bias data (DCB files) have been used to obtain TEC using GOPI software. Analysis of  the full halo CME data, Dst index, and TEC during October 2003 and February 2014 showed that the full halo CME could cause ionospheric disturbances called ionospheric storms. Magnitude and time delay of the ionospheric storms  depended on the full halo CME speed. For the high-speed full halo CME, the negative ionospheric storm generally occured during recovery phase of the geomagnetic storm. When the initial phase of geomagnetic disturbance with increasing Dst index more than +30 nT, the ionospheric storm occured during main phase of geomagnetic disturbance although the main phase of geomagnetic disturbance did not reach geomagnetic storm condition. ABSTRAKCoronal mass ejection  (CME) halo penuh merupakan peristiwa matahari  berenergi tinggi, yang menyemburkan massa dan medan magnet ke heliosfer dengan sudut angular sebesar 360º. Efek  CME halo penuh pada ionosfer dapat diketahui dari Total Electron Content (TEC). Data GPS BAKO di Cibinong, data orbit satelit (file brcd) dan data bias instrumental (file DCB) dapat digunakan untuk penentuan TEC menggunakan software GOPI. Analisis data CME halo penuh, indeks Dst, dan TEC selama bulan Oktober 2003 dan Februari 2014 menunjukkan bahwa CME halo penuh dapat menimbulkan gangguan ionosfer yang disebut badai ionosfer. Besar dan selang waktu badai ionosfer setelah terjadinya CME, tergantung pada kelajuan CME halo penuh. Untuk CME halo penuh berkelajuan tinggi, badai ionosfer negatif umumnya terjadi pada fase pemulihan badai geomagnet. Jika fase awal gangguan geomagnet diawali dengan peningkatan indeks Dst melebihi +30 nT, maka badai ionosfer dapat terjadi pada fase utama gangguan geomagnet walau gangguan geomagnet setelah  fase awal tidak mencapai kondisi badai geomagnet. 
DAMPAK VARIASI TEMPERATUR SAMUDERA PASIFIK DAN HINDIA EKUATORIAL TERHADAP CURAH HUJAN DI INDONESIA Bayong Tjasyono HK; - Ruminta; Atika Lubis; Ina Juaeni; Sri Woro B. Harijono
Jurnal Sains Dirgantara Vol 5, No 2 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1077.864 KB)

Abstract

Monsun menyebabkan variasi iklim musiman, sedangkan fenomena alam lain seperti El Nino, La Nina, Osilasi Selatan dan Dipol Osean Hindia menyebabkan variasi iklim non–musiman. Wilayah Indonesia dipengaruhi oleh rezim sirkulasi ekuatorial dan monsunal dengan karakter yang berbeda. Rasio antara jumlah curah hujan dalam monsun Asia (DJF) dan dalam monsun Australia (JJA) lebih besar untuk tipe hujan monsunal dari pada untuk tipe hujan ekuatorial. Pengaruh fenomena El Nino dan IOD(+) adalah penurunan jumlah curah hujan, sehingga masa tanam lebih pendek. Sebaliknya La Nina dan IOD (–) menyebabkan peningkatan jumlah curah hujan dengan demikian masa tanam lebih lama. Frekuensi kejadian El Nino, La Nina di Samudera Pasifik Ekuatorial dan Dipol Osean Hindia Ekuatorial kurang sering dibandingkan kondisi normalnya. Kata kunci : Curah hujan, SST, El Nino, La Nina, Osilasi Selatan, Dipol Osean Hindia.
ANALISIS POTENSI ANOMALI SATELIT-SATELIT ORBIT RENDAH DALAM SIKLUS MATAHARI KE-23 [ANALYSIS OF POTENTIAL ANOMALY FOR LOW ORBITING SATELLITES IN SOLAR CYCLE 23] Nizam Ahmad
Jurnal Sains Dirgantara Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3201.35 KB)

Abstract

Analisis potensi anomali pada satelit-satelit orbit rendah bumi dapat dilakukan berdasarkan data anomali satelit dari operator satelit. Analisis ini menggunakan data bilangan sunspot (SSN), indeks F10,7, indeks Kp dan Dst serta data energi dan fluks partikel yang tersebar di orbit rendah bumi. Satelit-satelit yang berada dalam wilayah sebaran proton dan elektron diasumsikan berinteraksi langsung dengan partikel dan memberikan pengaruh yang bervariasi pada satelit. Analisis memperlihatkan bahwa kasus peluruhan orbit satelit dominan terjadi pada saat puncak aktivitas matahari, sedangkan kasus anomali satelit dominan terjadi pada tahun 2003. Analisis kejadian anomali juga memperlihatkan bahwa sistem kontrol sikap satelit paling rentan mengalami kerusakan. Identifikasi terhadap satelit-satelit yang belum diketahui penyebab anomalinya seperti Fuse (1), Fuse (2) dan Monitor-E memberikan informasi bahwa kemungkinan besar anomali dipengaruhi oleh peningkatan plasma ketika terjadi badai geomagnet. Anomali pada satelit Kirari, Obrview 3 dan HST diduga terkait dengan masalah pada sistem satelit sendiri. Analisis pada beberapa satelit yang digunakan untuk studi kasus seperti satelit Tiros 10, Landsat 5, Oceansat 1 dan CBERS 1 memberikan informasi bahwa semua satelit tersebut berpotensi mengalami anomali pada suatu waktu dan kebanyakan disebabkan oleh proton dan elektron dengan variasi fluks. Analisis potensi anomali ini sangat bermanfaat dalam membangun sistem peringatan dini gangguan operasional satelit-satelit Indonesia pada masa mendatang. Kata kunci: Anomali Satelit, Proton, Elektron
PRAKIRAAN CUACA DENGAN METODE AUTOREGRESSIVE INTEGRATED MOVING AVERAGENEURAL NETWORK, DAN ADAPTIVE SPLINES THRESHOLD AUTOREGRESSION DI STASIUN JUANDA SURABAYA - Sutikno; Rokhana Dwi Bekti; Putri Susanti; - Istriana
Jurnal Sains Dirgantara Vol 8, No 1 (2010)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.641 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2010.v8.a1532

Abstract

The need of weather forecasting is primary to support activities in various sectors, so the efforts of development for forecast methods to improve the precision and the accuracy of the weather information are very important. Various weather forecasting models by engineering or stochastic model approach have been developed, although each method has both weaknesses and strengths, the efforts for developing techniques or methods to get the best model have to be done. What is elaborated in this article represent the result of testing in three statistical methods to obtain the best weather forecasting models. Three methods as mentioned before are: the Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA), Neural Network (NN), and Adaptive Splines Threshold Autoregression (ASTAR) to forecast the temperature, humidity, and daily rainfall. The performance of these three methods are evaluated by correlation values and Root Mean Square Error (RMSE). The good performance characterized by a high correlation between actual and forecast values, and also has a small RMSE. The results of this research indicate that ASTAR method produces better signed by a higher correlation, lower RMSE values and the constant forecasting from the first day until the thirtieth. The correlation in ASTAR method for Tmax and RHmin respectively are 0,70 and 0,75, for ARIMA method are 0,31 and 0,47, for NN method are 0,02 and -0,06. The three methods have poor performance for Tmin, RHmax and RRR. Keywords: Weather forecast, ARIMA, ASTAR, Neural Network