cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
PREDIKTIBILITAS CURAH HUJAN DIURNAL DI PULAU JAWA MENGGUNAKAN MODEL WRF [PREDICTIBILITY OF DIURNAL RAINFALL OVER JAVA ISLAND USING WRF] nFN Suaydhi
Jurnal Sains Dirgantara Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1812.42 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2016.v14.a2375

Abstract

Indonesian region often experiences hydrometeorological disasters such as floods and landslides. To mitigate the losses from such disasters, an early warning system is needed. PSTA LAPAN has developed an early warning system called SADEWA (Satellite Disaster Early Warning System). The performance of this early warning system needs to be evaluated in order to increase the confidence level. The evaluation of the WRF performance in producing the prediction was carried out by analyzing the diurnal cycles of rainfall over Java and its surroundings using the results of WRF predictions implemented in SADEWA and GSMaP data for one year period (Maret 2014 Februari 2015). The contrasting diurnal cycles between Java island and its surrounding seas could be well simulated by the WRF model, both the amount and the frequency of the rainfall. However, the phase of diurnal cycle from the WRF prediction leads that of the observation by two hours and the amplitude of the simulated diurnal cycle is higher than the observed. The results also show that the WRF predictions could not simulate the effects of MJO (Madden-Julian Oscillation) on the diurnal cycles of rainfall over Java.ABSTRAKWilayah Indonesia sering mengalami bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Untuk mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh kejadian bencana meteorologi diperlukan suatu sistem peringatan dini. PSTA LAPAN telah mengembangkan sebuah sistem peringatan dini yang diberi nama SADEWA (Satellite Disaster Early Warning System). Kinerja sistem peringatan dini seperti ini perlu dievaluasi agar tingkat kepercayaannya meningkat. Evaluasi kinerja hasil prediksi ini dilakukan dengan menganalisis siklus diurnal curah hujan di pulau Jawa dan sekitarnya pada data hasil prediksi WRF yang digunakan dalam SADEWA dan data GSMaP selama satu tahun (Maret 2014 Februari 2015). Siklus diurnal curah hujan yang kontras antara pulau Jawa dengan lautan sekitarnya mampu disimulasikan dengan baik oleh model WRF, baik dari jumlah maupun frekuensi curah hujannya. Namun fasa diurnal dari hasil prediksi WRF mendahului fasa data pengamatan sekitar dua jam dan mempunyai amplitudo lebih besar. Hasil analisis juga menunjukkan hasil prediksi WRF belum mampu mensimulasikan pengaruh MJO (Madden-Julian Oscillation) pada siklus diurnal curah hujan di Jawa.
PROFIL VERTIKAL SUHU ATMOSFER DI ATAS INDONESIA BERBASIS HASIL ANALISIS DATA SATELIT FORMOSAT-3/COSMIC Eddy Hermawan
Jurnal Sains Dirgantara Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1016.801 KB)

Abstract

Penelitian ini utamanya ditujukan untuk menganalisis data satelit FORMOSAT-3, khususnya parameter suhu dan perbandingannya terhadap data radiosonde di atas beberapa kawasan Indonesia. Daerah kajian dibatasi pada sekitar 90º-140º BT dan 12º LU-12º LS dengan waktu pengamatan pada bulan Desember 2006, Januari 2007 dan Februari 2007. Hasil data merupakan data yang telah diproses berupa plot grafik profil vertikal atmosfer. Berdasarkan hasil perbandingan data satelit FORMOSAT-3 dengan Profil Vertikal Suhu Atmosfer di atas Indonesia..... (Eddy Hermawan) 177 data radiosonde didapatkan bahwa hampir sebagian besar profil atmosfer berdasarkan satelit FORMOSAT-3 sama dengan profil atmosfer berdasarkan data suhu radiosonde. Perbedaan ini terjadi di sekitar lapisan permukaan yaitu pada ketinggian di bawah 8 kilometer. Ketidaktepatan profil suhu vertikal di daerah dekat permukaan berdasarkan data satelit FORMOSAT-3 dapat diatasi dengan melakukan konversi berdasarkan faktor koreksi tertentu, sehingga data yang dihasilkan sama dengan data radiosonde. Analisis lebih lanjut, menunjukkan adanya korelasi yang baik antara data satelit FORMOSAT-3 dengan data radiosonde di “sekitar” lapisan tropopause, yakni dengan nilai koefisien korelasi rata-rata sebesar 0.81 untuk besaran Brunt Väisälä Frequency Squared (N2). Keutamaan satelit ini selain dapat menyediakan data atmosfer vertikal, khususnya suhu udara untuk seluruh kawasan Indonesia disaat data radiosonde sulit didapat. Sedangkan kekurangannya, FORMOSAT-3 melakukan pengamatan tidak pada titik lokasi yang sama setiap harinya. Kata kunci: FORMOSAT-3/COSMIC, Radiosonde dan profil vertikal suhu atmosfer.
ANALISIS KONDISI ANTARIKSA DI ORBIT LAPAN A2 MENJELANG PUNCAK AKTIVITAS MATAHARI SIKLUS 24 Nizam Ahmad; - Neflia
Jurnal Sains Dirgantara Vol 8, No 2 (2011)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.244 KB)

Abstract

 LAPAN A2 satellite will be placed at 650 km altitude and inclination of 8 at the beginning of year 2012 based on the initial scenario. This satellite has structure with the size and weight are 60 cm x 60 cm x 80 cm and 65 kg consecutively. Space environment analysis on this satellite using space weather pattern method showed that geomagnetic activity levels, represented by Kp and Dst indices, had range of 2 to 4 and -40 to -9 nT consecutively. It means that the effect of geomagnetic activity will not significantly impact the satellite system. Simulation using SPENVIS also showed small impact of proton and electron on satellite structure. Analyzing on atmospheric drag showed that this satellite has stable orbit. The only possibility of LAPAN A2 satellite experiences charging come from charged particles trapped in South Atlantic Anomaly (SAA) that contain high flux of particles. Keywords:LAPAN A2 Satellite, Geomagnetic, Particle
REANALISIS WEATHER RESEARCH AND FORECAST - FOUR DIMENSION DATA ASSIMILIATION (WRF-FDDA) UNTUK MENINGKATKAN AKURASI ESTIMASI POTENSI ENERGI ANGIN DI DAERAH LEPAS PANTAI (STUDI KASUS: PANTAI SELATAN JAWA BARAT) Nurry Widya Hesty; Tri Wahyu Hadi
Jurnal Sains Dirgantara Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.867 KB)

Abstract

Peta potensi energi angin lepas pantai yang akurat, memiliki resolusi tinggi, dan tidak tergantung pengukuran insitu sangat dibutuhkan untuk mengurangi biaya pengukuran langsung dan mendorong pengembangan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Angin di Indonesia. Dalam penelitian ini, dilakukan teknik asimilasi data nudging FDDA untuk memperbaiki akurasi model cuaca skala meso WRF di lepas pantai selatan Jawa Barat menggunakan data angin permukaan laut Cross-Calibrated Multi-Platform (CCMP) sebagai data asimilasi. Tes sensitifitas dilakukan dengan membandingkan enam buah parameterisasi Planetary Boundary Layer (PBL) terhadap sampel. Hasil uji menyatakan skema PBL Yonsei University (YSU) menjadi skema yang paling mendekati data stasiun pengamatan dan terpilih untuk dijalankan sepanjang 2008. Hasil model diverifikasi dengan data stasiun pengukuran di Sukabumi. Hasil verifikasi menunjukkan asimilasi data FDDA dapat mereduksi nilai RMSE dan menghasilkan pola distribusi angin mirip dengan data stasiun pengukuran.Kata kunci: WRF, FDDA, Potensi angin, Lepas pantai
PENGUJIAN TEKNIK KORELASI UNTUK DETEKSI PENGARUH AKTIVITAS GEMPA BUMI BESAR PADA IONOSFER [EXAMINATION OF CORRELATION TECHNIQUE FOR DETECTING THE INFLUENCE OF GREAT EARTHQUAKE ACTIVITIES ON IONOSPHERE] Buldan Muslim
Jurnal Sains Dirgantara Vol 12, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (889.708 KB)

Abstract

Teknik korelasi telah digunakan untuk penelitian deteksi pengaruh aktivitas gempa bumi dari data ionosfer, tetapi penelitian tersebut masih terbatas pada beberapa kasus karena keterbatasan data ionosfer dan kejadian gempa bumi besar. Teknik korelasi belum diuji menggunakan data ionosfer yang lebih luas cakupan spasialnya dan belum menerapkan nilai ambang batas anomali ionosfer. Data ionosfer di atas lokasi terdekat dengan episenter gempa bumi diperoleh dari Global Ionosphere Maps (GIM). Dengan asumsi gempa bumi besar dengan kekuatan ≧ 8 SR dapat menimbulkan anomali di ionosfer, teknik korelasi dengan penerapan nilai ambang batas anomali ionosfer telah diuji untuk deteksi pengaruh gempa bumi pada ionosfer. Hasil pengujian menunjukkan bahwa mayoritas besar gempa bumi besar tersebut dapat diketahui prekursornya, dan sebagian besar efek gempa bumi tidak dapat dideteksi dari anomali ionosfer. Deteksi prekursor dan efek gempa bumi besar pada ionosfer hanya efektif jika sebelum atau sesudah gempa bumi tidak terjadi badai geomagnet moderat atau lebih kuat. Oleh karena itu penerapan teknik korelasi untuk deteksi pengaruh gempa bumi besar pada ionosfer perlu didukung dengan data aktivitas geomagnet, data geofisika dan atmosfer lainnya jika akan digunakan untuk mendukung sistem peringatan dini gempa bumi besar.Kata kunci: Gempa bumi, Ionosfer, Korelasi, Deteksi.
KARAKTERISTIK ORBIT SATELIT MIKRO DI KETINGGIAN LEO Nizam Ahmad
Jurnal Sains Dirgantara Vol 5, No.1 Desember (2007)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1017.611 KB)

Abstract

The Micro satellite is commonly placed in Low Earth Orbit (LEO) which has the altitude approximetely about 300-1000 km above surface of the earth. At this altitude, the the orbit of satellite will be influenced by perturbation force from atmospheric drag (Hasting, 1996) and earth oblateness. The understanding of orbit characteristics by studying the space environment where the satellite placed, will give much help in every launch of satellite. In this research, the study conducted by using 6 micro satellite as references with varying altitudes. The simulation result that the placement of satellite in the right position will reduce the effects of those perturbation on the satellite's orbit. It can be seen that all these micro satellites have conducted their mission goals, at least untill this time.
VARIASI TRACE GASES SELAMA 10 TAHUN DAN PENCAMPURAN DI SEKITAR LAPISAN TROPOPAUSE DI INDONESIA BERBASIS SATELIT (TRACE GASES VARIATION FOR 10 YEARS AND MIXING AROUND THE TROPOPAUSE LAYERS IN INDONESIA BASED ON SATELLITE) Novita Ambarsari; Ninong Komala; Fanny Aditya Putri
Jurnal Sains Dirgantara Vol 14, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1115.248 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2017.v14.a2523

Abstract

Measurement of trace gases (CO, O3, CH3Cl, HCl, H2O, and HNO3) and temperatures around upper troposphere/lower stratosphere (UT/LS) or rather around Tropical Tropopause Layer (TTL) in Indonesia by using Microwave Limb Sounder (MLS) instrument board on Satellite AURA for 2005-2014 period to make variations of these gases over the 10 years around TTL allows to be studied more deeply. TTL becomes the main route entry of chemical compounds and aerosols originating in the troposphere into the stratosphere. The composition of minor gases in the TTL is very important because it affects the global radiation budget. Analysis of vertical profiles of these gases in the TTL was done to determine the suitability of the concept of TTL which starts from the upper troposphere to the lower stratosphere. Other method are the time series diagram of the altitude (height versus time series cross section) which shows the annual and interannual variations in vertical profiles of these gases in the TTL and the possible influence of the dynamics of the atmosphere. The results showed correlation of these gases with ozone showed most of the air in the stratosphere is experiencing mixing in the TTL. In addition, changes in concentration and temperature values in the TTL have been calculated using the trends of each parameter and it is known that the parameters of HCl, CH3Cl, and temperature show respective decreases of -0.036 ppmv, -0.024 ppmv, and -0.456 K. As for other parameters such as ozone, CO, H2O, and HNO3 showed an increase of respectively 0.0036 ppmv, 0.0096 ppmv, 0.108 ppmv, and 0.06 ppmv. AbstrakPengukuran trace gases (CO, O3, CH3Cl, HCl, H2O, HNO3) dan temperatur di sekitar lapisan troposfer atas/stratosfer bawah (UT/LS) atau tepatnya di sekitar Tropical Tropopause Layer (TTL) di Indonesia menggunakan instrumen Microwave Limb Sounder (MLS) pada Satelit AURA periode 2005-2014 menjadikan variasi gas-gas tersebut selama 10 tahun di sekitar TTL memungkinkan untuk dikaji lebih dalam. TTL menjadi jalur utama masuknya senyawa-senyawa kimia dan aerosol yang bersumber di troposfer ke stratosfer. Komposisi gas-gas minor di TTL sangat penting karena mempengaruhi budget radiasi global. Analisis profil vertikal gas-gas tersebut di TTL dilakukan untuk mengetahui kesesuaian konsep TTL yang dimulai dari lapisan troposfer atas hingga ke stratosfer bawah. Metode lainnya adalah dengan diagram time series terhadap ketinggian (time series versus height cross section) yang menunjukkan variasi tahunan maupun antar tahunan profil vertikal gas-gas tersebut di TTL serta kemungkinan adanya pengaruh dari proses dinamika atmosfer. Hasil penelitian menunjukkan korelasi gas-gas tersebut dengan ozon menunjukkan adanya sebagian udara di stratosfer yang mengalami pencampuran di wilayah TTL. Selain itu, perubahan nilai konsentrasi dan temperatur di TTL telah dihitung menggunakan trend masing-masing parameter dan diketahui bahwa parameter HCl, CH3Cl, dan temperatur menunjukkan penurunan masing-masing sebesar  -0,036 ppmv, -0,024 ppmv, dan -0,456 K. Adapun parameter lain seperti ozon, CO, H2O, dan HNO3 menunjukkan adanya peningkatan masing-masing sebesar 0,0036 ppmv, 0,0096 ppmv, 0,108 ppmv, dan 0,06 ppmv.  
PERUBAHAN KLIMATOLOGIS CURAH HUJAN DI DAERAH ACEH DAN SOLOK Juniarti Visa
Jurnal Sains Dirgantara Vol 3, No.1 Desember (2005)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (959.588 KB)

Abstract

The analysis of rainfall climatologic change of Aceh and Solok area using 103 years (1900-2003) data for wet season (DJF) and dry season (JJA) have been done. The result show that for Aceh area, for wet season (DJF) the maximum rainfall was 664 mm/month in 1926, which was in the normal condition. And for dray season (JJA) the rainfall condition for periods JJA-7. (1961-1990), JJA-8 (1971-2000) and JJA-9 (1981-2003) were under normal condition. For Solok area the maximum rainfall was 1972 mm/mounth in 1972, the rainfall condition for wet season (DJF) and dry season (JJA) are in the normal condition.
PENGEMBANGAN MODEL PERSAMAAN EMPIRIS DALAMMEMPREDIKSI TERJADINYA LONGSOR DI DAERAHALIRAN SUNGAI (DAS) CITARUM (JAWA BARAT)BERBASIS DATA SATELIT TRMM[DEVELOPMENT OF EMPIRICAL EQUATION MODEL INPREDICTING THE OCCURRENCE OF LANDSLIDE AT WATERSHEDOF CITARUM (WEST JAVA) BASED ON THETRMM SATELLITE DATA] Sinta Berliana Sipayung; Nani Cholianawati; Indah Susanti; Soni Aulia R.; Edy Maryadi
Jurnal Sains Dirgantara Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.191 KB)

Abstract

Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap bencana kebumian termasuk bencana longsor yang umumnya terjadi selama musim basah akibat hujan lebat yang terjadi terus-menerus. Kajian tentang longsor yang telah banyak dilakukan namun umumnya berbasis data observasi (in-situ rain gauge). Salah satu kekurangan dari hasil-hasil penelitian tersebut adalah tidak diketahuinya potensi terjadinya longsor, khususnya di Daerah Aliran Sungai (DAS). Dalam penelitian ini dilakukan analisis potensi terjadinya longsor di kawasan DAS Citarum (Jawa Barat) berbasis data satelit Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) periode 2000-2009 dengan resolusi pengamatan harian. Untuk mengetahui potensi terjadinya longsor di DAS tersebut, maka dibangunlah satu persamaan empiris P0 = f (P1, P2) dengan P1 dan P2 adalah jumlah curah hujan (dalam mm) selama 3 hari sebelum longsor dan 15 hari terakhir sebelum P1. Persamaan empiris tersebut digunakan untuk prediksi potensi terjadinya longsor di DAS Citarum akibat curah hujan dan peta kerentanan. Persamaan empiris yang diperoleh telah diuji di beberapa lokasi di DAS Citarum dengan hasil yang baik. Persamaan empiris ini dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini potensi terjadinya longsor DAS Citarum dengan kategori sedang, tinggi dan sangat tinggi.Kata Kunci: Hujan, Longsor, DAS Citarum, Persamaan empiris, dan TRMM
RELASI APROKSIMASI ANTARA DIAMETER KAWAH TUMBUKAN DI BUMI DAN UKURAN OBJEK PENUMBUK DARI SIMULASI NUMERIK Judhistira Aria Utama
Jurnal Sains Dirgantara Vol 15, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.732 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v15.a2909

Abstract

Di permukaan Bulan dan planet-planet terestrial dapat dijumpai kawah-kawah hasil tumbukan benda-benda angkasa. Studi ini mencoba memperoleh relasi aproksimasi antara diameter kawah tumbukan di Bumi terhadap ukuran objek yang diperlukan untuk membentuk kawah tersebut. Studi dilakukan menggunakan simulasi numerik terhadap ribuan sampel asteroid dekat-Bumi  nyata dalam orbit yang telah dikenal dengan baik. Menggunakan asumsi bahwa jumlah kawah yang dibentuk di permukaan Bumi sama dengan banyaknya asteroid dekat-Bumi yang menumbuk dalam kurun waktu tertentu, diperoleh bahwa diperlukan asteroid dengan diameter yang lebih kecil untuk menghasilkan kawah-kawah besar yang dikenal dibandingkan prediksi yang ada sebelumnya. Pengetahuan tentang ukuran fisik asteroid penumbuk dapat digunakan dalam mengestimasi besarnya energi tumbukan yang dihasilkan, yang berhubungan pula dengan strategi metode mitigasi yang diperlukan.