cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
KALPATARU
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 278 Documents
Ragam Hias pada Makam di Komplek Mesjid Makam Turikale di Maros Sulawesi Selatan. Yadi Mulyadi; Muhammad Nur
KALPATARU Vol. 26 No. 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v26i1.222

Abstract

Ragam hias merupakan salah satu atribut pada makam Islam yang memiliki makna budaya dan menjadi objek kajian arkeologi Islam. Keberadaan ragam hias ditemukan juga pada makam di Komplek Mesjid Makam Turikale di Maros. Mesjid Turikale ini merupakan mesjid kuno dengan tipe mesjid makam, dimana arsitektur mesjid dengan arsitektur makam merupakan satu rangkaian bangunan secara utuh. Semua artefak kaligrafi pada makam di Komplek Mesjid Makam Turikale dapat digolongkan ke dalam aliran Tsulus atau Khat Tsulus. Tidak ada kaligrafi di komplek makam ini yang meniru atau memanipulasi bentuk makhluk hidup apalagi anthropomorphic. Gejala ini berbeda dengan beberapa komplek makam di Sulawesi Selatan. Adapun ragam hias pada bangunan makam, menganut paham representative art dan menghindari aktivitas pengkultusan pada sosok selain Allah. Sulur-suluran dan bunga ditampakkan sangat vulgar dengan kelopak bunga yang menengadah, yang dalam falsafah Bugis-Makassar, menyimbolkan pandangan hidup yang terbuka dan progressif. Abstract. Ornament is one of the attributes in the Islamic cemetery that has cultural significance and become the object of Islamic archaeological study. The existence of ornament were also found in the tomb at the Tomb Mosque Complex in Turikale in Maros. Mosque of Turikale is an ancient mosque by mosque-type tombs, where the architecture of the mosque with the tomb architecture is a series of buildings in their entirety. All artifacts calligraphy on a tomb in the Tomb Mosque Complex in Turikale can be classified into Khat Tsulus. No calligraphy in this tomb complex that mimics or manipulate living things especially anthropomorphic form. These symptoms differ with some graveyard in South Sulawesi. The ornaments on the tomb building, adopts representative art and avoid the cult activity on the figure besides Allah. Tendrils and flowers revealed a very vulgar with upturned petals, which in philosophy Bugis-Makassar, symbolizes a view of life that is open and progressive.
Signifikansi tembikar tera-tali dari situs Ceruk Landai (Merangin, Jambi) dalam rekonstruksi ekspansi neolitik di bagian barat Indonesia Mohammad Ruly Fauzi
KALPATARU Vol. 26 No. 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v26i1.229

Abstract

AbstrakEkskavasi situs Ceruk Landai (Kabupaten Merangin, Jambi) berhasil mengungkap adanya dua fase hunian neolitik yang berbeda melalui kajian artefaktual dan kontekstual pada temuan-temuannya. Data menarik diperoleh dari analisis ragam hias tera-tali atau cord-marked, jala, dan belah ketupat yang dihasilkan oleh alat tatap (paddle) yang digunakan (i.e. teknik paddle impressed). Tembikar bermotif hias cord-marked pada lapisan US c di Ceruk Landai membuktikan adanya hubungan antara masyarakat neolitik di Sumatra dengan kompleks tembikar Bau-Malay di Asia Tenggara Daratan. Hal tersebut menjadi bukti adanya kemungkinan ekspansi budaya neolitik dari arah barat melalui Semenanjung Malaya yang kemudian masuk ke Sumatra setidaknya sejak 3000 tahun yang lalu.Kata kunci: tera-tali, tembikar, ragam-hias, neolitikAbstractArchaeological excavation at Landai Rockshelter (Merangin District, Jambi) successfully unearthed two different phases of neolithic habitation through artifactual and contextual analysis on its remains. Interesting result came from the analysis on cord-marked, nets, and rhombus motif appeared on pottery fragments which are made by paddle-impressed technique. Cord-marked pottery from US c layer in Landai Rockshelter established a possible link between neolithic pottery traditions in Sumatra with the Bau-Malay pottery complex in the mainland of Southeast Asia. It became the evidence of a possible expansion of neolithic culture from the west through the Malay Peninsula then move southward into Sumatra at least 3000 years ago.Keywords: cord-marked, pottery, decoration, neolithic
Penggunaan Ubin-ubin Enkaustik di Nusantara pada Abad Ke-19-20 Sarjiyanto Sarjiyanto
KALPATARU Vol. 26 No. 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v26i1.234

Abstract

AbstractTiles are an essential element of a design or architecture. As part of the work of architecture, the floor can be compacted soil, marble rocks, organic types such as wood, bamboo etc. Encaustic tiles is one of the products which are the elements to meet the needs and desires of man both in terms of technical, artistic or symbolic. This tile was first introduced in Europe in the 1800s. In fact there are several archaeological sites in Indonesia there are tiles of this type. How these tiles can get to the archipelago and how the use and function. The method used in this research is descriptive qualitative research method. It is by doing a search of facts with proper interpretation, by studying the problems of society in a particular situation or period including the relationships, attitudes and ongoing process and its influence on the phenomenon. The purpose of writing this article to give an overview on some of the facts about the existence of the tiles from Europe and its use in the archipelago. The results obtained showed enkaustik tiles are spread evenly from the eastern region to the western region of the archipelago and placed in various types of buildings and parts of architectural space. Keywords: tile, encaustic, architecture, decorative arts, symbol, identity AbstrakUbin merupakan elemen penting dari sebuah rancang bangun atau arsitektur. Sebagai bagian karya arsitektur lantai dapat berupa tanah yang dipadatkan, batuan marmer, jenis organik seperti kayu, bambu dan sebagainya. Ubin encaustic (enkaustik) merupakan salah satu produk yang merupakan elemen untuk memenuhi kebutuhan dan hasrat manusia baik dalam hal teknis, seni maupun simbolik. Ubin ini dikenalkan pertama kali di Eropa tahun 1800an. Faktanya ada beberapa situs arkeologi di Indonesia terdapat ubin-ubin jenis ini.  Bagaimana ubin ini dapat sampai ke Nusantara dan bagaimana penggunaan dan fungsinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Ini dengan melakukan pencarian fakta-fakta dengan interpretasi yang tepat, dengan mempelajari masalah masyarakat dalam situasi atau masa tertentu termasuk dengan hubungan, sikap dan proses yang sedang berlangsung dan pengaruhnya terhadap suatu fenomena. Tujuan penulisan artikel ini untuk memberikan gambaran atas beberapa fakta tentang keberadaan ubin-ubin yang berasal dari Eropa ini dan penggunaannya di Nusantara. Hasil yang diperoleh menunjukkan ubin-ubin enkaustik ini tersebar secara merata dari wilayah timur hingga wilayah barat Nusantara dan di tempatkan di berbagai jenis bangunan dan bagian ruang sebuah bangunan arsitektur. Kata kunci: ubin, encaustik, arsitektur, seni hias, simbol, identitas
Perkembangan Ragam Hias Pada Batu Nisan Tipe Malik As-Shaleh Abad 13 - 17. libra hari inagurasi
KALPATARU Vol. 26 No. 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v26i1.259

Abstract

Decorative variety is a decorative element, its main function as a decoration to beautify the appearance of an object so that it becomes a work of art. The function of the decoration is shown through the integrated forms, textures, materials, and art elements. An object decorated with decorative or decorative elements is a tombstone made of stone. Decorative on the gravestone is formed by sculpting then produce certain forms adorn the headstone so it looks not plain. The development of tombstones of this type and their decorations include the dimensions of time and space. The Malik As-Shaleh type headstone originally evolved from the gravestone on the tomb of Sultan Malik As-shaleh in the 13th century. The tombs spread eastwards to Sumatra, Banten, Lombok, and Gowa in South Sulawesi in the 17th century. The variety of decoration on the gravestone Malik As-Shaleh type in its development is distinguished two groups namely the first group of ornamental fashions whose existence always persists from the beginning to the end of its development and the two groups of decoration whose existence is lost or replaced with other types of decorations. The standard Malik As-Shalh standard headstone is in the tomb of Sultan Malik As-Shaleh. All kinds of decorative elements are on the tombstone so it looks beautiful or highway. The similar type of grave on another tomb has a simple ornamental variety. AbstrakRagam hias merupakan elemen dekoratif, fungsi utamanya sebagai hiasan untuk memperindah penampilan suatu obyek sehingga menjadi sebuah karya seni. Fungsi ragam hias tersebut ditunjukkan melalui bentuk, tekstur, bahan, serta unsur seni yang terpadu. Suatu obyek yang diberi elemen ragam hias atau dekoratif ialah nisan yang dibuat dari bahan batu. Ragam hias pada nisan dibentuk dengan cara dipahat selanjutnya menghasilkan bentuk-bentuk tertentu menghiasi nisan sehingga terlihat tidak polos. Perkembangan batu nisan tipe tersebut beserta ragam hiasnya mencakup dimensi waktu dan ruang. Nisan tipe Malik As-Shaleh pada awalnya berkembang dari nisan pada makam Sultan Malik As-shaleh pada abad ke-13. Selanjunya nisan  menyebar ke arah timur ke Sumatra, Banten, Lombok, dan Gowa di Sulawesi Selatan pada abad ke-17. Ragam hias pada nisan tipe Malik As-Shaleh dalam perkembangannya dibedakan dua kelompok yakni pertama kelompok ragam hias yang keberadaannya selalu tetap ada dari awal hingga akhir perkembangannya dan kedua kelompok ragam hias yang keberadaannya hilang atau diganti dengan ragam hias jenis lainnya. Nisan tipe Malik As-Shaleh yang standar terdapat  pada makam Sultan Malik As-Shaleh. Semu jenis elemen dekoratif terdapat pada nisan tersebut sehingga terlihat indah atau raya. Adapun nisan tipe sejenis pada makam lainnya memiliki ragam hias yang sederhana.
Geologi situs paleolitik das kikim, kabupaten lahat, provinsi sumatra selatan. Muhammad Fadhlan Syuaib Intan
KALPATARU Vol. 26 No. 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v26i2.273

Abstract

Lahat is one of the districts within the province of South Sumatra, the site of research, saving many cultural remains, one of them from the paleolithic period, which for so long received no attention from environmental researchers. This is the basis of the main problems that cover geology in general. Therefore, the purpose of this study is to conduct surface geology mapping in general as an effort to present geological information, while the aim is to know the geomorphological aspects, stratigraphy, geological structures associated with existence in paleolithic sites of research area. The research method begins with literature review, survey, analysis, and interpretation of field data. Environmental observations provide information about the landscape consisting of terrestrial morphology units, weak corrugated morphology units, and strong corrugated morphology units. The rivers are in the Old River, the Adult River, and Periodic /Permanent River. The constituent rocks are Gumai Formation, Benakat Air Formation, Muara Enim Formation, Kasai Formation, and alluvial. The geological structure is a strike slip fault that flows northeast-southeast. The study was conducted on the Kikim River, Lingsing River, and Pangi River, which stretches from east to west with direction from south to north. Exploration in the Kikim Basin, Lahat District has managed to find 30 paleolithic sites.Keywords: Geology, Pleistocene, Paleolithic, Open SiteABSTRAKLahat merupakan salah satu kabupaten dalam Provinsi Sumatra Selatan yang menjadi lokasi penelitian, menyimpan banyak tinggalan budaya, salah satunya dari masa paleolitik, yang sekian lama tak mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan. Hal inilah yang dijadikan dasar permasalahan utama yang mencakup geologi secara umum. Oleh sebab itu, maksud penelitian ini dalah untuk melakukan pemetaan geologi permukaan secara umum sebagai salah satu upaya untuk menyajikan informasi geologi, sedangkan tujuannya adalah untuk mengetahui aspek-aspek geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi yang dikaitkan dengan keberadaan di situs-situs paleolitik wilayah penelitian. Metode penelitian diawali dengan kajian pustaka, survei, analisis, dan interpretasi data lapangan. Pengamatan lingkungan memberikan informasi tentang bentang alamnya yang terdiri dari satuan morfologi dataran, satuan morfologi bergelombang lemah, dan satuan morfologi bergelombang kuat. Sungainya berstadia Sungai Tua, Sungai Dewasa-Tua, dan Sungai Periodik/Permanen. Batuan penyusun adalah Formasi Gumai, Formasi Air Benakat, Formasi Muara Enim, Formasi Kasai, dan aluvial. Struktur geologi berupa patahan geser yang berarah timur laut-tenggara. Penelitian dilaksanakan di Sungai Kikim, Sungai Lingsing, dan Sungai Pangi, yang membentang dari timur ke barat dengan arah aliran dari selatan ke utara. Eksplorasi di DAS Kikim, Kabupaten Lahat telah berhasil menemukan 30 situs paleolitik. Kata kunci: Geologi, Plistosen, Paleolitik, Situs Terbuka
Lingkungan dan Lansekap Situs Kampung Kuno Kao: Faktor Determinasi Permukiman dan Pusat Islamisasi di Halmahera Utara Wuri Handoko; Muhammad Al Mujabuddawat
KALPATARU Vol. 26 No. 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v26i2.298

Abstract

Abstract. Kao Old Village Site, is a fairly developed settlement site during the early Islamization in the hinterland of North Halmahera. Environmental and landscape characteristics Watersheds, wetlands and agricultural lands are the reasons for the selection of past settlement sites, especially early in the development of Islam in the North Halmahera region. This study focuses on archaeological surveys to look at archeological data relationships both artefactual and features as well as the environment, which explains that the carrying capacity of the environment in the Old Kao Kampug Site is a factor determining the rapid progress of a region to live. The results showed that based on the distribution and density of archaeological remains, the Kao Old Village Site is a fairly dense settlement site, in addition to the environmental carrying capacity to be the source of production and economic resources, a factor that determines the development of the region as a residential area. Environmental data indicate the existence of a very advanced source of production and economic population, even part of the process of exchange and commerce with other outside areas in the chain of trade and network Islamization in the region of North Halmahera. In addition to landscape or landscape conditions, it is an environmental characteristic in the spatial distribution process, which shows the prevailing patterns and cultural systems of society, and this shows that the cultural traits of the community at that time were prosperous.Abstrak. Situs Kampung Tua Kao merupakan situs permukiman yang cukup berkembang pada masa awal Islamisasi di wilayah pedalaman Halmahera Utara. Karakteristik lingkungan dan lansekap Daerah Aliran Sungai, lahan basah, dan lahan pertanian merupakan alasan pemilihan lokasi permukiman penduduk pada masa lampau, terutama masa awal perkembangan Islam di wilayah Halmahera Utara. Kajian ini menitikberatkan pada survei arkeologi untuk melihat hubungan data arkeologi baik artefaktual maupun fitur serta lingkungan, yang menjelaskan bahwa daya dukung lingkungan di wilayah Situs Kampug Tua Kao merupakan faktor yang menentukan maju pesatnya suatu wilayah untuk bermukim. Hasil penelitian berdasarkan sebaran dan kepadatan temuan arkeologi menunjukkan Situs Kampung Tua Kao merupakan situs permukiman yang cukup padat. Selain itu, daya dukung lingkungan yang menjadi sumber produksi dan sumber ekonomi menjadi faktor yang sangat menentukan berkembangnya wilayah ini sebagai wilayah permukiman penduduk. Data lingkungan menunjukkan adanya sumber produksi dan ekonomi penduduk yang sangat maju, bahkan menjadi bagian dari proses pertukaran dan perniagaan dengan wilayah-wilayah lainnya dalam mata rantai perdagangan dan jaringan Islamisasi di wilayah Halmahera Utara. Kondisi bentang lahan atau lansekap yang merupakan karakteristik lingkungan dalam proses distribusi ruang menunjukkan pola dan sistem budaya masyarakat yang berlaku, dan hal ini menunjukkan ciri budaya masyarakat pada masa itu sudah sangat berkembang.
ANALISIS PHYTOLITH DAN STARCH UNTUK STUDI ARKEOLOGI LINGKUNGAN Alifah Alifah
KALPATARU Vol. 26 No. 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v26i2.308

Abstract

Environmental issues in archaeology have become a very interesting theme to be researches. Those theme relates to landscapes, environmental changes, site formation and human adaptation processes. Faunal ecofact and artifact are commonly used as research data nowdays. Analysis of plants residu are less common because of the scarcity of those remains in the archaeological sites,especially prehistory. This paper attempts to explain some possible uses of microscopic plant residua analysis in the form of phytolith and starch for environmental studies. The method used in this paper is literature study on microbotani  as well as imitation experiments by combining several methods ever undertaken by previous researchers. This study shows that the  plants remains , especially the microbotany form of phytolith and starch provide significant information about the types of plants in the pass, environmental changes and their utilization by humans.
Preface Kalpataru Volume 26, nomor 1, tahun 2017 Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
KALPATARU Vol. 26 No. 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v26i1.309

Abstract

Petrographic analysis on prehistoric-protohistoric pottery of Northern coastal sites of central java: “early studies of environmental archaeology”. Gunadi Kasnowihardjo
KALPATARU Vol. 26 No. 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v26i2.312

Abstract

AbstractPottery or often called gerabah is one of the results of technology that developed in the neolithic period, until now some people in Central Java in general and in the northern coast of Rembang regency in particular still found pottery craftsmen, one of them is in Balong Mulyo Village, Kragan District, Regency of Rembang. To get raw materials such as clay and sand, Balong Mulyo pottery craftsmen apparently make use of natural resources in their environment. As one artifact made from clay and sand materials, petrographically pottery can be analyzed type content and mineral percentage. The results of an analysis of petrographic samples of pottery fragments from prehistoric-protohistoric sites in the northern coast of Central Java such as Binangun, Leran, Plawangan and Tanjungan sites, have in common with the pottery samples from Balong Mulyo. This is one of the benefits of applying petrographic studies in archaeological research. In addition, the results of this petrographic study can provide an explanation that prehistoric-protohistoric humans in the northern coastal area of Central Java to meet their daily needs have utilized the natural resources of their environment, one of which is in pottery technology.Keywords: Pottery, Neolithic, Petrographic analysis, Raw material, Environment. Abstrak            Tembikar atau sering disebut gerabah adalah salah satu hasil teknologi yang berkembang pada masa neolitik, hingga sekarang sebagian masyarakat di Jawa Tengah umumnya dan di daerah pantai utara Kabupaten Rembang khususnya masih ditemukan pengrajin tembikar, salah satu di antaranya adalah di Desa Balong Mulyo, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang. Untuk mendapatkan bahan baku seperti tanah liat dan pasir, para pengrajin tembikar Balong Mulyo rupa-rupanya memanfaatkan sumberdaya alam di lingkungan mereka. Sebagai salah satu artefak yang dibuat dari bahan baku tanah liat dan pasir, secara petrografis tembikar dapat dianalisis kandungan jenis dan prosentasi mineralnya. Hasil analisis petrografi sampel fragmen tembikar dari situs-situs prasejarah-protosejarah di kawasan pantai utara Jawa Tengah seperti Situs Binangun, Leran, Plawangan, dan Tanjungan, secara garis besar memiliki kesamaan dengan sampel tembikar dari Balong Mulyo. Inilah salah satu manfaat penerapan kajian petrografi dalam penelitian arkeologi. Selain itu, hasil kajian petrografi ini dapat memberikan penjelasan bahwa manusia prasejarah-protosejarah di kawasan pantai utara Jawa Tengah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka telah memanfaatkan sumberdaya alam lingkungannya, salah satu di antaranya adalah dalam teknologi pembuatan tembikar.Kata Kunci:  Tembikar, Neolitik, Analisis petrografi, Bahan baku, Lingkungan
Etnobotani Sagu (Metroxylon sagu) warisan Budaya Masa Sriwijaya di Lahan Basah Air Sugihan, Sumatera Selatan. Vita Vita
KALPATARU Vol. 26 No. 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v26i2.314

Abstract

Abstract. Sago (Metroxylon sagu) is one of potential carbohydrate source which had been used by people since pra-Sriwijaya (2-5 masehi century). Unfortunately  at the moment,  The community of sago  vegetation is rare to be found in Air Sugihan site. Why did that happen. Could sago did not important anymore or the ignorant of people about the advantages of sago. or may be this vegetation  could not growth anymore in present environment.  Therefore, Field survey and Ethnobotany study have to be done by describing/grouping (taxonomy plants) habitat and benefit of sago. The result of this study shown that people had change the growth area of sago into paddy field /plantation. Sago is included in Arecacceae (palmae) group. It has typical form and habitat. Beside that it also has a lot of advantages, its leave could be used as roof house and house wares, its midribs for house wall, its pith for food as sago flour. The skin rod for fuel and house floor. The young rod for fodder, even the former slash could be used as the media of sago caterpillar. From this discussion, could be concluded that Sago Plant is important in preserving the balance of environment, especially in the ground water. All parts of this plant also have an advantages not only in daily living but also in modern industry. Key word : Ethonobotany, taxonomy plants, environment, habitat  Abstrak. Sagu (Metroxylon sagu) merupakan salah satu sumber karbohidrat potensial yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat sejak pra-Sriwijaya (abad ke-2-5 Masehi), tetapi saat ini disalah satu wilayah bekas kerajaan Sriwijaya yaitu Situs Air Sugihan komunitas tumbuhan sagu sudah jarang ditemukan. Mengapa hal tersebut bisa terjadi. Apakah mungkin sagu tidak begitu penting lagi, ataukah masyarakat kurang mengetahui manfaat sagu (Metroxylon sagu)  dalam kehidupan, ataukah jenis ini tidak dapat tumbuh dan berkembang lagi dengan keadaan lingkungan sekarang. Untuk itu diperlukan survei lapangan dan studi etnobotani melalui pendekripsian/pengelompokan (taksonomi tumbuhan), habitat dan manfaat tumbuhan sagu. Dari hasil pengamatan ini diketahui bahwa masyarakat telah merubah lahan tempat tumbuhnya sagu menjadi areal persawahan / perkebunan. Sagu yang masuk dalam kelompok Arecacceae (Palmae) ini mempunyai bentuk dan habitat yang khas serta berbagai manfaat seperti daunnya untup atap rumah, peralatan rumah tangga; pelepah untuk dinding rumah; empulur untuk bahan makanan berupa tepung sagu; kulit batangnya untuk bahan bakar dan lantai rumah; batang muda untuk makanan ternak dan bekas tebangannyapun sebagai media ulat sagu. Dari bahasan ini disimpulkan bahwa tumbuhan sagu berperanan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan, terutama dalam menjaga kestabilan air tanah, seluruh organ dari tumbuhan inipun mempunyai manfaat baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam industri modern saat ini. Kata kunci: Etnobotani, Taksonomi tumbuhan, Lingkungan, Habitat