cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
KALPATARU
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 278 Documents
Hasil Analisis Mikrofosil Tumbuhan (phytolith) Situs Wineki dan Padang Hadoa, di Kawasan Lembah Besoa, Sulawesi Tengah. rooseline linda octina
KALPATARU Vol. 26 No. 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v26i2.317

Abstract

Phytoliths are plant microfossil made of silica that varies in shape and size. Variations of form happen when silica in soil is absorbed by plants then transported and deposited in various parts of plant cells. When the plant dies, the plant's organic matter decomposes and leaves the inorganic material of silica, which we know by the name of phytoliths. Silica can survive in various environmental conditions, That’s make phytoliths are important data for scientific research including archeology. Phytoliths analysis on soil samples from prehistoric  Besoa Valley’s site aimed to reveal past environmental conditions and also find out the possibility of an economical plant utilization. Extraction performed on 18 soil samples from Wineki (box K1) and the Padang Hadoa sites (box K2 and K3). Techniques were performed using Sodium Polytungstate heavy flotation. Phytoliths identification results reveal palmae plants dominate the entire site, other phytolith derived from sample are Poaeceae, Cyperaceae and also two types of economic plants Oryza and Musaceae. Difference vegetation on past (dominated by palm) and current conditions (dominated by grasses)can indicate their changing environmental conditions either due to natural or due to human intervention. The existence of Oryza and Musaceae in Padang Hadoa sites can be an indication of the use by Padang Hadoa’s prehistoric occupant.Keyword : phytolith, Besoa Valley, Oryza, Musaceae  Phytoliths merupakan mikrofosil tumbuhan berbahan silica yang bervariasi secara bentuk dan ukuran. Variasi bentuk phytolith terjadi ketika silica dalam tanah terserap oleh tumbuhan kemudian terangkut dan terdeposisi pada bermacam bagian sel tumbuhan. Ketika tumbuhan mati, material organic tumbuhan membusuk dan meninggalkan material anorganik berupa silica yang kemudian kita kenal dengan nama phytoliths. Sifat silica yang dapat terawetkan diberbagai kondisi lingkungan menjadikan phytoliths data penting bagi penelitian ilmiah termasuk bagi arkeologi. Analisis phytoliths pada sampel tanah dari kawasan prasejarah Lembah Besoa ini bertujuan untuk mengungkapkan kondisi lingkungan masa lalu dan juga mengetahui kemungkinan adanya pemanfaatan tumbuhan. Ekstraksi dilakukan pada 18 sampel tanah dari Wineki ( kotak K1 ) dan situs Padang Hadoa ( kotak K2 dan K3 ). Teknik yang dilakukan yakni dengan pengambangan menggunakan mineral berat Sodium Polytungstate. Hasil identifikasi mengungkapkan tumbuhan jenis palem mendominasi seluruh situs dibandingkan dengan jenis tumbuhan lain. Jenis tumbuhan lain yang dapat diidentifikasi dari sampel yaitu jenis   Poaeceae, Cyperaceae dan juga dua jenis tumbuhan ekonomis Oryza dan Musaceae. Perbedaan vegetasi di masa lalu (yang didominasi oleh palem) dan kondisi saat ini (didominasi oleh rumput ) dapat menunjukkan adanya perubahan kondisi lingkungan baik karena alam atau karena campur tangan manusia. Keberadaan Oryza dan Musaceae di situs Padang Hadoa dapat menjadi indikasi adanya pemanfaatan jenis tumbuhan tersebut oleh manusia pendukung situs Padang Hadoa ini.Kata kunci: phytolith, Lembah Besoa, Oryza, Musaceae
Cover Kalpataru Volume 26, Nomor 2, Tahun 2017 redaksi arkenas
KALPATARU Vol. 26 No. 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Apendix Kalpataru Volume 26, Nomor 2, Tahun 2017 redaksi arkenas
KALPATARU Vol. 26 No. 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Back Cover Kalpataru Volume 26, Nomor 2, Tahun 2017 redaksi arkenas
KALPATARU Vol. 26 No. 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v26i2.446

Abstract

Preface Kalpataru Volume 26, Nomor 2, Tahun 2017 redaksi arkenas
KALPATARU Vol. 26 No. 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisional atau Modern: Dampak Kebijakan Perumahan Rakyat terhadap Bangunan Tradisional di Lembah Bada, Sulawesi Selatan Citra Iqliyah Darojah
KALPATARU Vol. 27 No. 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v27i2.451

Abstract

Abstract. Public housing has become Indonesian Government’s main consideration since 1970s. As one of public welfare indicator, three categories of house based on its material are amongst government’s policy of public housing. Discussing the impact of government’s public housing policy implementation into traditional houses in Indonesia is the aim of this article. Qualitative method consists of field survey and desktop survey used as primary data collection. Field survey at Bada was conducted in 2012 and followed by desktop survey. Result of the study shows that traditional houses built from organic materials like wood, thatch, bamboo, rattan, palm fiber, and leaves, considered as non-permanent house. Thus, the category is a legitimation for people to shift from traditional houses to modern houses (permanent house), following social and economics factor that triggered the phenomena. In Bada it happened in rapid movement and endangered the existence of traditional houses.Keywords: traditional house, policy, government, BadaAbstrak. Perumahan rakyat telah menjadi pusat perhatian Pemerintah Indonesia sejak tahun 1970-an. Sebagai salah satu indikator kesejahteraan, tiga tipe rumah berdasarkan materialnya ada di dalam kebijakan pemerintah terkait perumahan rakyat. Tujuan utama dari artikel ini adalah untuk mendiskusikan dampak penerapan kebijakan perumahan rakyat tersebut terhadap rumah-rumah tradisional di Indonesia. Pengumpulan data primer dilakukan dengan metode kualitatif terdiri dari survei lapangan dan survei data sekunder. Survei lapangan di Bada dilakukan pada tahun 2012 dan dilanjutkan dengan survei data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah tradisional yang dibangun dengan bahan-bahan organik seperti kayu, bambu, ijuk, rotan, serat palem, dan dedaunan, termasuk dalam kategori rumah tidak permanen. Pengkategorian tersebut adalah legitimasi masyarakat untuk beralih dari rumah tradisional ke rumah modern (rumah permanen), mengikuti faktor perubahan sosial dan ekonomi yang menjadi pemicu fenomena tersebut. Di Bada hal tersebut terjadi cukup cepat dan mengancam keberadaan rumah-rumah tradisional.   Kata kunci: rumah tradisional, kebijakan pemerintah, Bada
MOTIF HIAS PADA ARSITEKTUR BANGUNAN PENINGGALAN ZENDING DI PULAU ROON DAN WASIOR, KABUPATEN TELUK WONDAMA, PROVINSI PAPUA BARAT Marlin Tolla
KALPATARU Vol. 27 No. 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v27i2.456

Abstract

Abstrak. Misionaris yang bergabung dalam perkumpulan Zending Ultrecht untuk Misi Kristen Protestan (UZV) melakukan pengenalan agama Kristen Protestan di daerah Mansinam dan daerah sekitar unik yang diaplikasikan pada bagian tertentu pada bangunan yang ada. Tulisan ini bertujuan mengekplorasi  dan mengetahui makna dari arsitektur bangunan, dalam hal ini motif hias yang diterapkan pada bangunan yang didirikan oleh zending dalam misi kristiani yang dilakukan di daerah Roon dan Wasior. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif  dengan menggunakan data etnografi yang diperoleh melalui studi pustaka. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini menunjukkan bahwa bangunan peninggalan yang ada di kedua daerah ini menggunakan bahan yang sesuai dengan iklim setempat, sedangkan motif yang diterapkan sangat kuat dipengaruhi oleh budaya adat Saireri. Adopsi budaya lokal pada motif bangunan dimotivasi oleh nilai luhur yang terkandung dalam motif tersebut yang selanjutnya diaplikasikan pada bangunan sebagai pengingat untuk tetap dipedomani oleh masyarakat pada masa lalu.Kata Kunci: Zending, Motif hias, Pekabaran Injil, Roon dan Wasior  Abstract. Ultrecht Protestant Mission Union (UZV), also known as Zending Ultrecht, is group of missionaries of Dutch government who did evangelism in Mansinam and its surrounding areas in Cenderawasih Bay. Architectures built for the mission can be found in this area, including in Roon and Wasior. This paper aims to explore the history of Christianity in Roon and Wasior areas reflected in materials used for the construction as well as the architecture ornaments. The descriptive method and literature-based ethnography study were applied in this study to explain the meaning of the ornaments and the influence of local cultures to the colonial legacy. The results shows that the local culture, Saireri, strongly influenced the variety of ornaments used in the architectures. Another factor is adaptation with local climate that can be seen from its building materials. The use of local culture was to serve as life guidance by the community.Keywords: Zending, decorative ornaments, Christianity, Roon and Wasior
“OMO HADA” Arsitektur Tradisional Nias Selatan Diambang Kepunahan Muhammad Fadhlan Syuaib Intan; Nasruddin Nasruddin
KALPATARU Vol. 27 No. 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v27i2.458

Abstract

AbstractThe South Nias cultural heritage presented through the artifacts, in the form of traditional architectural buildings, as well as various megalithic stone buildings with all their forms, is an ancestral cultural work that not only contains aesthetic values, uniqueness and art, but also local wisdom as a source of knowledge which is very valuable to be studied and studied. This important and very valuable heritage must be preserved and preserved. But the attitudes and views of the people towards their cultural heritage are changing, as if they no longer have sacred values, even the value of local wisdom begins to fade over time. The existence of South Nias traditional houses is relatively more sustainable compared to other traditional houses. To maintain its existence, changes are needed to accommodate the current residential needs of the community. On the other hand, these changes have the potential to eliminate the character or authenticity of traditional Nias Selatan architecture. This study aims to find out about traditional technologies and architectural changes that occur and their impact on the existence of traditional South Nias houses. From the various problems of the South Nias cultural heritage that are being faced, this study tries to highlight aspects of traditional architecture and local wisdom, including the accompanying megalithic elements. The subjects that will be studied use an ethno-archaeological approach with emphasis on the observation method through direct observation of objects of material culture and social aspects at the research site. In this way it makes it easier for us to observe directly and in detail the architectural forms and components, both exterior and interior as well as the decorative types in the past cultural context of South Nias.Keywords: Traditional Architecture, Megalithic, Cultural HeritageAbstrak Warisan budaya Nias Selatan yang dipresentasikan lewat  peninggalan artefak, berupa  bangunan berarsitektur tradisional, maupun beragam bangunan batu megalit dengan segala rupa bentuknya, merupakan karya budaya leluhur  yang tidak hanya mengandung nilai estetika, keunikan dan seni semata, tetapi juga merupakan kearifan lokal sebagai sumber ilmu pengetahuan yang sangat berharga untuk dikaji dan dipelajari.  Warisan yang penting dan sangat berharga  ini wajib dipelihara dan dilestarikan. Namun sikap dan pandangan masyarakatnya  terhadap warisan budayanya, sedang berubah, seakan tidak lagi memiliki nilai-nilai sakral, bahkan  nilai kearifan lokal pun mulai luntur seiring perjalanan waktu. Keberadaan rumah tradisional Nias Selatan relatif lebih bertahan eksistensinya dibandingkan rumah tradisional lainnya. Untuk mempertahankan eksistensinya, diperlukan perubahan untuk mengakomodasi kebutuhan hunian masyarakat saat ini. Di sisi lain, perubahan tersebut berpotensi menghilangkan karakter atau keaslian  arsitektur tradisional Nias Selatan. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui teknologi tradisional dan perubahan arsitektur yang terjadi dan dampaknya terhadap eksistensi dari rumah tradisional Nias Selatan. Dari berbagai masalah warisan budaya Nias Selatan yang sedang dihadapi itu,  maka penelitian ini mencoba menyoroti aspek  arsitektur tradisional maupun kearifan lokalnya, termasuk unsur megalitik yang menyertainya. Subyek yang akan  dikaji ini memakai pendekatan etnoarkeologi dengan  penekanan  pada metode  observasi melalui pengamatan langsung terhadap obyek-obyek budaya material dan aspek sosial di lokasi penelitian. Dengan cara ini memudahkan kita mengamati secara langsung dan detil bentuk-bentuk arsitektur dan komponennya, baik eksterior dan interior maupun ragam hias dalam konteks budaya masa lalu Nias Selatan.Kata Kunci: Arsitektur Tradisional, Megalitik, Warisan Budaya
IDENTIFIKASI SITUS ARKEOLOGI BAWAH AIR TINGGALAN PERANG DUNIA II DI PERAIRAN TELUK AMBON Wisnu A. Gemilang; Nia N.H Ridwan; Ulung J. Wisha
KALPATARU Vol. 28 No. 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v28i1.459

Abstract

 Abstract. City of Ambon holds the evidence of colonialism as part of World War II history. Various maritime cultural activities contain historical data that can reconstruct the history of Indonesia. One example is Duke of Sparta (SS Aquila) shipwreck, located in Ambon Bay, that is well-known by local and international divers. However, underwater cultural heritage has not optimally managed, even suffers from thievery. Since underwater cultural heritage in Ambon Bay is significant to support national and international interests, this study aims to identify and record underwater cultural heritage in Ambon Bay by using Side Scan Sonar (SSS) and direct observation through diving survey. This preliminary study was conducted as the first stage of underwater cultural heritage preservation effort. The result shows findings of archaeological remains of shipwrecks and aircrafts. Some parts were incomplete, covered by coral ecosystem, and become fish habitat. High level of sedimentation has a role in disrupting the recent condition as most of the wreckages are now covered by sediment materials. Thus, preservation and protection efforts are necessary to be well-managed by central and local governments.  Keywords: Underwater archaeology, World War II, Ambon Bay, Side Scan Sonar  Abstrak. Kota Ambon mempunyai sejarah dalam Perang Dunia II yang menyimpan bukti-bukti sejarah kolonialisme. Berbagai aktivitas budaya maritim telah meninggalkan data yang melimpah untuk merekonstruksi sejarah bangsa ini. Di Perairan Teluk Ambon terdapat situs kapal kargo Duke of Sparta (SS Aquila) yang sangat dikenal oleh penyelam lokal maupun mancanegara. Permasalahan pada sisi lain sumber daya tinggalan budaya bawah air belum optimal dimanfaatkan, bahkan seringkali diambil secara ilegal. Mengingat bahwa peninggalan arkeologi bawah air di Indonesia khususnya perairan Ambon tidak hanya memiliki signifikansi nasional, tapi juga regional bahkan internasional. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan inventarisasi tinggalan budaya arkeologi bawah laut Ambon menggunakan Side Scan Sonar (SSS) serta pengamatan secara langsung (penyelaman). Kegiatan ini sebagai upaya awal perlindungan terhadap tinggalan tersebut. Hasil pengamatan memperlihatkan beberapa temuan tinggalan arkeologi bawah laut berupa kapal tenggelam SS Aquila, SS Victoria serta situs pesawat. Beberapa bagian situs telihat sudah tidak utuh dan tertutupi oleh ekosistem karang dan dihuni oleh ikan-ikan. Tingginya tingkat sedimentasi berpengaruh terhadap keberadaan situs tersebut, sehingga beberapa bagian situs tertimbun material sedimen. Upaya penyelamatan dan perlindungan perlu dilakukan lebih lanjut baik oleh pemerintah pusat maupun daerah. Kata kunci: Arkeologi Bawah Air, Perang Dunia II, Teluk Ambon, Side Scan Sonar
Dua Tipe Ornamentasi Candi Perwara di Kompleks Candi Sewu Ashar Murdihastomo
KALPATARU Vol. 27 No. 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v27i2.462

Abstract

AbstractSewu Temple, located in Prambanan, is one of the Buddhist temple complex that have lots of uniqueness. One of the uniqueness can be seen on Perwara Temple that have two ornamentations. But, many scholars never make the research about it. Therefore, in this article, I want to describe the background of the two ornamentations on perwara temple. The research is carried out by observation and literature study. From the research, I find out that the two ornamentations on perwara temple in Sewu Temple complex have relation with the religion conception.Keywords: Buddha, Sewu Temple, perwara temple, ornamentation.AbstrakCandi Sewu, yang terletak di daerah Prambanan, merupakan salah satu kompleks percandian agama Buddha yang masih menyimpan banyak keunikan. Salah satu keunikannya adalah dua corak ornamentasi yang terdapat pada candi perwaranya. Keberadaan kedua ornamentasi ini belum pernah dibahas detail oleh peneliti mana pun. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis berusaha untuk mengkaji dua corak ornamentasi itu dengan tujuan memberikan gambaran terkait dua corak ornamen tersebut serta mencoba untuk mengetahui latar belakang perbedaan tersebut. Penelitian dilakukan melalui pengamatan langsung dan analisis dengan bantuan studi pustaka. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa kedua corak ornamentasi pada candi perwara tersebut terkait dengan konsep keagamaan.Kata kunci: Buddha, Candi Sewu, candi perwara, ornamentasi.