Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 4 No. 2 (2020)"
:
10 Documents
clear
Fungsi, Bentuk, dan Makna Gerak Tari Jaranan Turonggo Yakso Kecamatan Dhongko Kabupaten Trenggalek
Tri Rusianingsih;
Yuddan Fijar Sugma Timur
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v4i2.13631
Kehadiran jaranan Turonggo Yakso pada awal-mulanya diinspirasi oleh keberadaan kegiatan upacara adat yang sering disebut dengan baritan. Upacara yang dilakukan masyarakat tersebut merupakan bentuk upacara bersih desa yang bertujuan untuk memohon kepada Hyang Widi (Tuhan Penguasa Alam) dan mensyukuri atas hasil panen, maupun supaya hewan ternak mereka juga dapat dihindarkan dari segala jenis penyakit. Penelitian bertujuan mendeskripsikan fungsi, bentuk penyajian dan makna gerak tari jaranan Turonggo Yakso. Konsep pertunjukan digunakan sebagai alat analisa penelitian. Penelitian menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, studi pustaka serta dokumentasi. Analisis dilakukan dengan deskripsi mendalam. Hasil penelitian menunjukkan terjadi pergeseran fungsi dari fungsi sakral ke profan. Bentuk penyajian terdiri dari gerak baku dan gerak tambahan. Gerakan pertunjukan ini memiliki makna yang berkaitan dengan kegiatan bertani. Gambaran jaranan (turonggo) yang berkepala raksasa (yakso) merupakan simbol dari hawa nafsu yang harus dijinakkan atau ditunggangi agar tidak liar.Â
Peran Ritual Meras Gandrung di Banyuwangi dalam Membentuk Kualitas Kepenarian
Lilik Subari;
Suwandi Widianto
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v4i2.13633
Perubahan fungsi kesenian Gandrung dalam masyarakat Banyuwangi juga mempengaruhi pelaku pertunjukan. Tarian Gandrung yang awalmulanya dibawakan sebagai ritual atau perwujudan rasa syukur, kini mengalami pergeseran fungsi sebagai hiburan. Pergeseran fungsi ini menyebabkanpertunjukan lebih dominan pada kebutuhan visual seni tari.Akhirnya keberadaan pertunjukan Gandrung kini berkembang ke arah tuntutan kualitas kepenarian yang secara tradisi hanya dapat dihasilkan masyarakat pendukungnya melalui ritual Meras Gandrung.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikanfaktor pendukung kepenarian, bentuk ritual Meras Gandrung, dan peranan ritual Meras Gandrung terhadap kualitas kepenarian. Penelitian menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Teknik pengumpulan datadenganobservasi, wawancara, studi pustaka, serta dokumentasi. Analisis dilakukan dengan deskripsi mendalam. Hasil penelitian menunjukkan faktor pendukung kepenarian adalah patron. Ritual meras gandrung dilakukan mulai dari gerakan tari, alunan vocal, hingga meminum ramuan gurah suara. Ritual ini merupakan wujud simbolisasi pengakuan terhadap kesiapan pelaku gandrung di masyarakat. Meras gandrung hanyalah sebuah sarana atau media kegiatan ritual yang berusaha untuk mengesahkan apa yang telah menjadi pilihan seseorang. Kehadiran maupun peranannya sebagai sarana juga berkaitan erat dengan keberadaaan sosok gandrung yang akhirnya akan bermuara terhadap lingkungan komunitas sebagai pendukung utama yang melahirkannya.Â
Tuturan Bahasa Indonesia Masyarakat Etnik Keturunan Arab Di Kota Bangil
Wegig Panji Prasasti
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v4i2.13882
Bahasa dapat mengidentifikasi seseorang dari mana mereka berasal melalui tuturan yang mereka ujarkan. Melalui tindak tutur kita dapat mengetahui asal daerah seseorang. Tindak tutur merupakan gejala individual, bersifat psikologis, dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Dalam hal ini, tuturan yang diujarkan oleh seseorang yang berasal dari keturunan etnik Arab berbeda dengan tuturan masyarakat kota Bangil pada umumnya. Tuturan mereka dipengaruhi oleh aksen dan beberapa kata dalam bahasa Arab yang masih mereka gunakan atau dapat disebut dengan peristiwa campur kode. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tuturan yang digunakan oleh masyarakat etnik keturunan Arab di kota Bangil. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode penelitian etnografi. Masyarakat keturunan etnik Arab umumnya tergolong masyarakat dwibahasa. Mereka menguasai bahasa pertama (B1) bahasa daerah dan bahasa kedua (B2) bahasa Arab. Ragam yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suasana maupun gaya bahasa yang terjadi ketika suatu peristiwa tutur berlangsung. Pada penelitian ini, ragam bahasa yang digunakan ketika terjadi peralihan kode dari BI ke BA adalah dua tuturan dalam ragam resmi. Pada penelitian ini, peralihan kode BI ke BA dalam ragam resmi terdapat dua tuturan, yaitu tuturan yang diberi nomor (1) dan (2). Kontak yang intensif antara dua bahasa atau lebih di dalam situasi yang memiliki lingkungan dwibahasa seperti halnya di masyarakat Indonesia dan dalam kasus ini adalah Kota Bangil dapat menimbulkan alih kode dan campur kode. Dalam penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pada tuturan masyarakat etnik keturunan Arab sering melakukan alih kode dan campur kode.
Preserving Local Literary Community: Literary Planning and Policy as a Cultural Strategy in Indonesia
Nadya Afdholy;
Anas Ahmadi;
Ghanesya Hari Murti
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v4i2.13945
The development of literary communities in Indonesia which spread in every region receive less attention from the government. Literary communities can continue to productively produce works but struggle to survive. This article aims to providing recommendations related to planning and policy to overcome various kinds of Indonesian literary, especially problems in international arena, regional potentials, literary contests, or historiographic documentation of Indonesian literary works development. Literary communities should be optimally empowered through macro planning and policy to revitalize their self in each region. The author recommends several strategies to revitalize local literary communities, namely forming special institutions from independent governments, noting and archiving the development of the literary community from year to year, and setting aside grants for the literary community in each region. This recommendation is expected to overcome the problem of Indonesian literature in international arena.
Peran Komunikasi dalam Proses Modernisasi Masyarakat Desa Pertanian
Dinna Eka Graha Lestari
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v4i2.14108
Pembangunan pertanian modern sangat ditentukan oleh percepatan peningkatan produktivitas, kualitas, dan nilai tambah produksi dengan pendekatan agribisnis dan agroindustri. Sejak perkembangan revolusi hijau, teknologi pertanian dan manajemen bisnis pertanian di dalam negeri berkembang pesat, terutama dalam meningkatkan produksi berbagai komoditas pangan melalui program pembangunan yang direncanakan oleh pemerintah. Untuk mendorong peningkatan kapasitas petani menuju terwujudnya pertanian yang lebih modern pemerintah memberikan pembinaan pendekatan top down melalui program penyuluhan dan penyebaran tenaga penyuluh lapangan (PPL). Memasuki era globalisasi dengan perkembangan teknologi komunikasi yang sangat dinamis membutuhkan model pembangunan pertanian modern yang berkelanjutan dengan pendekatan agribisnis dan agroindustri untuk daya saing petani berdasarkan penguatan koperasi pertanian petani. Tujuan tulisan ini adalah mendeskripsikan peran komunikasi dalam menumbuhkan proses modernisasi pada masyarakat desa pertanian. Peran komunikasi pembangunan dalam modernisasi semakin penting seiring dengan kemajuan iptek dan perkembangan globalisasi yang menuntut kemandirian dan daya saing petani. Komunikasi budaya yang dibangun melibatkan seluruh pihak yang terlibat, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Pengembangan pertanian ini berlandaskan pada sistem pembangunan yang berkelanjutan.
Tradisi Ruwatan Jawa pada Masyarakat Desa Pulungdowo Malang
Jijah Tri Susanti;
Dinna Eka Graha Lestari
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v4i2.14245
Jawa yang merupakan salah satu suku terbesar di Indonesia juga memiliki keanekaragaman budaya. Masyarakat Jawa kental dengan kepercayaan mistis atau sering disebut juga kepercayaan dalam dunia Spiritual. Â Masyarakat Jawa memiliki beragam teori yang menjadi dasar dilakukannya sebuah ritual. Upacara atau ritual yang dilakukan untuk menghindarkan diri dari dampak yang ditimbulkan akibat kesalahan manusia, dalam masyarakat Jawa disebut ruwatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah asal mula tradisi ruwatan adat Jawa bagi anak perempuan tunggal, mengetahui makna yang terkandung dalam tradisi ruwatan adat Jawa bagi anak perempuan tunggal, dan proses tradisi ruwatan adat Jawa bagi anak perempuan tunggal sebelum melakukan pernikahan. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan di Desa Pulungdowo Kabupaten Malang. Sumber data penelitian ini adalah informan dan fenomena tradisi ruwatan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan studi dokumen. Teknik analisa data dilakukan dengan reduksi, interpetasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa asal muasal adanya Ruwatan adalah dari cerita pewayangan ada seorang tokoh yang bernama Batara Guru dia beristrikan dua orang istri yaitu Pademi dan Selir. Ruwatan dilakukan dengan menggelar pertunjukan wayang lakon Murwakala. Dalang akan menyajikan sesaji khusus untuk memuja batarakala. Pada acara pamungkas dalang membaca mantra dengan iringan gamelan dan gending sebagai tolak bala (mengusir Batarakala). Makna dari ruwatan adalah meminta dengan sepenuh hati agar pelakunya lepas dari petaka dan memperoleh rahayu keselamatan. Hal tersebut memperlihatkan masih kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap mitos dan tradisi utamanya bagi ruwatan anak perempuan tunggal sebelum melangsungkan pernikahan.Â
Dinamika Maskulinitas dan Nasionalisme Masyarakat Jawa Di Era Majapahit
Mega Widyawati;
Eggy Fajar Andalas
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v4i2.14288
Maskulinitas dan nasionalisme selama ini menggambarkan fenomena di mana konsepsi negara atau bangsa, termasuk bagian dari kedaulatan dan identitas yang berkontribusi dalam kaitannya dengan peran gender. Artinya, mikrokultur maskulinitas dalam kehidupan sehari-hari mengartikulasikan dengan sangat baik dengan tuntutan nasionalisme. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk maskulinitas dan nasionalisme yang beroperasi pada kultur masyarakat Jawa dahulu, tepatnya pada era Kerajaan Majapahit. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Sumber data penelitian berupa novel Jayaning Majapahit (2014) karya Agus S. Soerono. Teknik pengumpulan data memakai teknik baca-catat. Analisis data dilakukan dengan menyajikan data, menginterpretasi data, dan menarik kesimpulan berdasarkan tujuan yang dinyatakan. Hasil analisis menunjukkan bahwa novel Jayaning Majapahit mewacanakan kedudukan tokoh laki-laki lebih mendominasi dalam urusan kedaulatan kerajaan Majapahit, baik dalam urusan mengatur strategi politik dalam pemerintahan maupun mengatur strategi perang. Melalui dua bentuk dominasi maskulinitas, masyarakat majapahit lebih spesifiknya pada laki-laki berada di level tertinggi dalam situasi posisi terkait menjaga dan mempertahankan nasionalisme kerajaan.
Resepsi Anggota Ikatan Keluarga Banyuwangi Malang Pada Tari Gandrung sebagai Identitas Masyarakat Banyuwangi
Rahadi Rahadi;
Widiya Yutanti
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v4i2.28007
Meskipun Tari Gandrung telah secara resmi menjadi ikon Kabupaten Banyuwangi sejak tahun 2000an, namun keberadaannya masih menuai pro dan kontra. Permasalahan ini muncul akibat adanya stigma negatif yang berkembang selama ini, bahwa tari Gandrung adalah tarian erotis untuk menggoda kaum laki-laki dan para penarinya. Penelitian ini  mengungkapkan bagaimana resepsi ikatan keluarga banyuwangi (IKAWANGI) Malang pada tari gandrung. Sumber data pada penelitian ini adalah mahasiswa banyuwangi yang tergabung dalam IKAWANGI dan sekaligus menjadi penari gandrung, selain itu sumberdata juga didapatkan dari Ketua IKAWANGI. Teknik pengumpulan data menggunakan Observasi, wawancara dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan teori resepsi dari stuart Hall. Hasil penelitian menunjukkan spirit yang terkandung dalam tari gandrung merupakan karakter dan identitas dari masyarakat Using Banyuwangi. Stigma negatif yang melekat dalam diri penari gandrung tak dipungkiri masih ada, namun seiring perubahan jaman stigma tersebut perlahan-lahan mulai menghilang.  Even though the Gandrung Dance has officially become an icon of Banyuwangi Regency since the 2000s, its existence still reaps pros and cons. This problem arises due to the negative stigma that has developed so far, that Gandrung dance is an erotic dance to seduce men and their dancers. This study reveals how the Malang Banyuwangi family bond (IKAWANGI) reception is in the gandrung dance. The data source in this study was Banyuwangi students who were members of IKAWANGI and at the same time became passionate dancers, besides that the data source was also obtained from the Chairperson of IKAWANGI. Data collection techniques using observation, interviews, and documentation. Data were analyzed using reception theory from Stuart Hall. The results of the study show that the spirit contained in the gandrung dance is the character and identity of the Using Banyuwangi people. It is undeniable that the negative stigma attached to the gandrung dancer still exists, but as times change, this stigma slowly begins to disappear.Â