cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 1 (2022): April" : 17 Documents clear
Tinjauan pustaka sistematis: Studi kritis pementasan budaya di era pandemi Covid-19 pada pertunjukan sendratari Ramayana secara online Dian Kusmawati Rahardjo; Haryadi Sarjono
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.18275

Abstract

Indonesia memiliki kekayaan tradisi yang menjadikannya sebagai daya tarik tersendiri, salah satunya adalah seni Sendratari Ramayana. Cerita ini populer di kalangan masyarakat Jawa. Akan tetapi, dengan adanya pandemi Covid-19 pementasan ini terhenti sementara waktu dan dialihakan dengan cara virtual melalui media daring. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh persepsi dan minat pengunjung wisata terhadap pagelaran seni Sendratari Ramayana secara online. Pementasan ini dianggap berhasil karena memiliki daya tarik tersendiri dan banyak diminati wisatawan  lokal maupun global. Metode penelitian yang digunakan adalah metode SLR (Systematic Literature Review), yaitu menggunakan data yang bersumber dari rujukan artikel penelitian yang sudah terindeks International Standart Serial Number secara online yang dipublish dengan Kode ISSN. Sedangkan artikel yang terpakai difokuskan pada jurnal terpublikasi dari tahun 2017-2021. Hasil penelitian menunjukan masih ada rasa tanggung jawab terhadap aktivitas kesenian dari pelaku seni. Serta keinginan untuk menjadi semakin baik dalam melakukan pertunjukan walaupun dilaksanakan secara daring karena pandemi. Kondisi ini mengakibatkan munculnya dua sisi yang berbeda. Di satu sisi memberikan dampak positif bagi pengelola lokasi wisata, pemain, dan penduduk sekitarnya yang menjadi penari latar dalam pentas. Di sisi lain para pedagang kaki lima, juru parkir, tidak beroperasi sebagai akibat dari pandemi Covid-19. Gambaran ini dapat diartikan bahwa pertunjukan Sendratari Ramayana secara online tetap diminati para pengunjung karena pengaruh persepsi dan minat pengunjung wisata yang positif dan cukup puas terhadap kualitas pertunjukan seni sendratari tersebut.     Indonesia has many cultures related to various folklores that make it a special attraction, one of which is the Ramayana ballet, which became a popular story among the Javanese people, but with the Covid-19 pandemic, this performance was suspended for a while, but in the end it was stopped. reopen in a virtual way through online media. The purpose of this study was to determine the effect of the perception and interest of tourist visitors on the online Ramayana ballet art performance, considering that this performance was considered successful because it is an art performance that has its own tourist attraction which is very well known and attracts foreign and domestic tourists. The research method used is the SLR (Systematic Literature Review) method, which uses data sourced from the literature of research articles that have been indexed by the International Standard Serial Number online published with the ISSN code, while the paper used is focused on published journals from 2017-2021. . The results of the study show that there is still a sense of responsibility for the continuity of artistic activities from artists, as well as the desire to be better at performing the performances that are presented, even in a pandemic, namely online performances. This will have two impacts, namely a positive impact for the manager of tourist sites, players and surrounding residents who are recruited to work as background dancers in the stage, while the negative impact is for street vendors, parking attendants, due to not operating as a result of the Covid pandemic. -19. This description can be interpreted that the online Ramayana ballet performances are still in demand by visitors because of the positive influence of perceptions and interests of tourist visitors and are quite satisfied with the quality of the ballet art performances.
Seni Beduda: Penanaman nilai-nilai tradisi melalui musik dan syair pada masyarakat Suku Dayak Kebahan Penyelopat Imam Ghozali
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.18902

Abstract

Beduda adalah seni tutur pada masyarakat Suku Dayak Kebahan Penyelopat Desa Engkurai Kabupaten Melawi. Penelitian ini dilatarbelakangi peran penting kesenian tersebut dalam penanaman nilai-nilai kearifan lokal pada masyarakatnya. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini tentang bentuk dan penanaman nilai-nilai seni Beduda pada masyarakat Suku Dayak Kebahan Penyelopat. Penanaman nilai-nilai pada masyarakat berfungsi untuk membantu masyarakat tersebut mengenal dan mempertahankan tradisi budayanya yang meliputi sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya dari masyarakat tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan bentuk penelitian analitik interpretatif dengan sumber data pelaku maupun tokoh seni beduda. Teknik analisis data yang digunakan adalah  model analisis interaktif (interactive analysis models). Beduda bentuk seni tutur yang disertai dengan nada dan cengkok. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Selayan. Isi syair Beduda berupa nasihat, hiburan, penyambutan, maupun riwayat hidup seseorang serta ucapan rasa syukur dan harapan. Nilai-nilai yang ditanamkan melalui syair-syair beduda  meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, dan juga kemandirian. Penanaman nilai-nilai tersebut termaktub dalam syair-syair beduda yang dilantunkan. Secara konteks hampir seluruh syair mengandung nilai-nilai dengan makna yang dalam. Syair-syair yang dilantunkan dalam bahasa kuno menjadi kendala bagi kalangan muda untuk mempelajarai dan memahaminya. Seni beduda digunakan dalam lingkup kecil dalam keluarga, maupun pada masyarakat yang lebih luas, sebagai hiburan maupun pengisi acara-acara ritual. Penanaman nilai pada seni beduda dilakukan melalaui syair maupun dalam pengggunaan alat musik pengiringnya.   Beduda is the art of speech in the Dayak Kebahan Penyelopat Tribe, Engkurai Village, Melawi Regency. This research is motivated by the important role of the arts in instilling the values ​​of local wisdom in the community. The problem posed in this research is about the form and inculcation of Beduda artistic values ​​in the Kebahan Penyelopat Dayak Tribe community. Instilling values ​​in the community serves to help the community recognize and maintain its cultural traditions which include a system of ideas, actions, and the work of the community. This study uses a qualitative method in the form of interpretive analytic research with data sources from actors and figures of the Beduda art. The data analysis technique used is interactive analysis models. Beduda art form of speech accompanied by tone and twist. The language used is the Malay language. The contents of Beduda's poetry are in the form of advice, entertainment, welcoming, as well as a person's life history as well as expressions of gratitude and hope. The values ​​that are instilled through beduda poems include religious values, honesty, tolerance, discipline, hard work, and independence. The cultivation of these values ​​is embodied in the beduda poems that are sung. In context, almost all of the poems contain values ​​with deep meaning. The poems sung in ancient languages ​​are an obstacle for young people to learn and understand them. Beduda art is used in small circles within the family, as well as in the wider community, as entertainment and as performers in ritual events. Instilling values ​​in the art of beduda is carried out through poetry and in the use of musical accompaniment instruments.
Tari Greget Sawunggaling sebagai ikon kota Surabaya Hanidar Fejri Diagusty; Setyo Yanuartuti; Eko Wahyuni Rahayu
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.19247

Abstract

Surabaya sebagai bagian dari etnis Arek memiliki budaya yang beragam dan khas, salah satunya dalam seni tari terdapat tari Greget Sawunggaling yang menjadi ikon kota Surabaya. Sebagai visualisasi tokoh Sawunggaling yang  menjadi ikon kota memunculkan rumusan masalah bagaimana fenomena pada tari Greget Sawunggaling sehingga menjadi ikon kota dan mengapa tari Greget Sawunggaling dapat menjadi ikon kota. Dari rumusan tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah mengungkap fenomena Greget Sawunggaling sehingga menjadi ikon kota dan menjabarkan alasan tari Greget Sawunggaling dapat menjadi ikon kota Surabaya. Adapun metode pendekatan penelitian ini adalah kualitatif deskriptif melalui kajian identitas. Metode untuk mengecek keabsahan data dilakukan dengan triangulasi data di mana dalam pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan dokumentasi, serta observasi. Hasil dari penelitian ini sebagai kajian interdisiplin dikupas secara teks maupun konteks kajian tari. Dalam teks ditemukan adanya karakterisasi dari transformasi Remo gaya Suroboyoan dan pemaknaan simbol bentuk sajian yang dilihat secara ikonografis maupun semiotika. Secara kontekstual dikupas dari historis fenomenologi dan nilai-nilai yang sesuai dengan pandangan hidup Arek Suroboyo yang meliputi nilai kepahlawanan, Pendidikan, dan ketrampilan yang menjadikan tari ini sebagai ikon kota Surabaya. Kesimpulan penelitian ini adalah kesesuaian tokoh Sawunggaling yang diangkat dalam karya tari ini dengan karakter dan pandangan hidup arek Suroboyo sehingga dapat menjadi identitas budaya.   Surabaya as part of the Arek ethnic group has a diverse and distinctive culture, one of which is the Greget Sawunggaling dance which is an icon of the city of Surabaya. As a visualization of the Sawunggaling character who became an icon of the city, it raises the formulation of the problem of how the phenomenon in the Greget Sawunggaling dance becomes an icon of the city and why the Greget Sawunggaling dance can become an icon of the city. From this formulation, the purpose of this research is to reveal the phenomenon of Greget Sawunggaling so that it becomes an icon of the city and to describe the reasons why Greget Sawunggaling dance can become an icon of the city of Surabaya. The method of this research approach is descriptive through identity studies. The method to check the validity of the data is done by triangulation of data where the data collection is done by interviews and documentation, as well as observation. The results of this study as an interdisciplinary study are described in the text and context of dance studies. In the text, it is found that there is a characterization of the Remo transformation in the Suroboyoan style and the meaning of the symbol of the form of the dish which is seen both iconographically and semiotically. Contextually, it is analyzed from historical phenomenology and values ​​that are in accordance with Arek Suroboyo's view of life which includes the values of heroism, education, and skills that make this dance the city of Surabaya. The conclusion of this study is in accordance with the Sawunggaling character who was appointed in the work of art with the character and way of life of the Suroboyo arek so that it can become a cultural identity.
Implementasi nilai dalam Wahyu Kliyu di masyarakat Desa Kendal Kecamatan Jatipuro Kabupaten Karanganyar Marlia Ika Asih; Atiqa Sabardila
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.19294

Abstract

Wahyu Kliyu merupakan salah satu tradisi Masyarakat Desa Kendal yang masih lestari. Wahyu Kliyu memuat nilai-nilai yang dapat menjadi pedoman hidup manusia. Penelitian ini bertujuan untuk (1) endeskripsikan prosesi tradisi Wahyu Kliyu sebagai implementasi nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat Desa Kendal Kecamatan Jatipuro Kabupaten Karanganyar, (2) mendeskripsikan implementasi nilai kegotongroyongan masyarakat Desa Kendal Kecamatan Jatipuro Kabupaten Karanganyar, dan (3) memaparkan fungsi tradisi Wahyu Kliyu terhadap kehidupan sosial masyarakat Desa Kendal Kecamatan Jatipuro Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Informan dalam penelitian ini adalah tokoh sesepuh desa, kepala desa, perangkat desa, tokoh masyarakat. Pengumpulan data dengan wawancara, pengamatan, dan menelaah dokumen. Analisis data secara kualitatif. Penelitian menemukan penduduk Desa Kendal Kecamatan Jatipuro Kabupaten Karanganyar masih melaksanakan tradisi Wahyu Kliyu yang diadakan setiap setaun sekali sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan dengan melempar apem. Nilai dalam tradisi merupakan implementasi kegotongroyongan, seperti peduli, sikap tenggang rasa, tolong menolong. Fungsi dari tradisi Wahyu Kliyu, di antaranya: 1) sebagai bukti kearifan lokal, 2) Sebagai bentuk pengakuan dari negara untuk warga desa kendal khususnya dan masyarakat kabupaten Karanganyar pada umumnya, 3) Sebagai budaya setempat yang perlu dilestarikan, 4) Wadah untuk mempererat persaudaraan dan silaturahmi. Wahyu Kliyu dilakukan turun temurun untuk mengharap berkah, menyampaikan syukur, dan memohon keselamatan. Ungkapan syukur kepada Tuhan dengan cara setiap warga Desa Kendal membuat masing-masing 344 apem yang didoakan dan kemudian dimakan bersama.   Wahyu Kliyu is one of the traditions of the Kendal Village Community that is still sustainable. Wahyu Kliyu contains values ​​that can be a guide for human life. This study aims to (1) describe the Wahyu Kliyu tradition procession as an implementation of the values ​​contained in the community of Kendal Village, Jatipuro District, Karanganyar Regency, (2) Describe the implementation of the value of mutual cooperation in Kendal Village, Jatipuro District, Karanganyar Regency, and (3) Describe the function of tradition. Wahyu Kliyu on the social life of the Kendal Village community, Jatipuro District, Karanganyar Regency. This study used descriptive qualitative method. Informants in this study were village elders, village heads, village officials, community leaders. Collecting data by interviewing, observing, and reviewing documents. Qualitative data analysis. The results show that the villagers of Kendal, Jatipuro District, Karanganyar Regency still carry out the Wahyu Kliyu tradition which is held once a year as an expression of gratitude to God by throwing apem. Values ​​in tradition are the implementation of mutual cooperation, such as caring, tolerance, help. The functions of the kliyu revelation tradition include: 1) as evidence of local wisdom; 2) As a form of recognition from the state for Kendal village residents in particular and the Karanganyar district community in general; 3) As a local culture that needs to be preserved; 4) A place to strengthen brotherhood and friendship. Wahyu Kliyu is carried out from generation to generation to hope for blessings, express gratitude, and ask for safety. an expression of gratitude to God by means of each Kendal villager making 344 apem each which is prayed for and then eaten together.
Analisis perubahan peran dan fungsi keluarga pada masyarakat Minangkabau dalam teori feminisme dan teori kritis Irwan Irwan; Felia Siska; Zusmelia Zusmelia; Meldawati Meldawati
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.19383

Abstract

Masyarakat Minangkabu dewasa ini mengalami perubahan yang terlihat pada peran dan fungsi keluarga matrilinial. Fokus tujuan penelitian adalah menganalisis perubahan keluarga Minangkabau dalam perspektif teori feminisme dan teori kritis. Metode dalam penelitian ini adalah expost facto. Metode expost facto menjelaskan hubungan sebab akibat dalam suatu peristiwa dengan kenyataan. Analisis data dalam penelitian menggunakan buku, jurnal dan dokumen berdasarkan observasi di lapangan dan data diperoleh melalui studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di era digital ada perbedaan keluarga tradisional Minangkabau dan keluarga modern Minangkabau. Arus globalisasi berubah terdapat pada peran keluarga Minangkabau. Realitas kehidupan institusi dan fungsi keluarga Minangkabau mengalami perubahan dalam pelaksanaan peran. Relasi keluarga Minangkabau termasuk kuat, akan tetapi peran ninik mamak terhadap keponakan mengalami perubahan dalam realitas kehidupan.   Minangkabau society today is experiencing changes that can be seen in the roles and functions of the matrilineal family. The focus of the research objective is to analyze changes in the Minangkabau family in the perspective of feminism theory and critical theory. The method in this research is ex post facto. The expost facto method explains the causal relationship in an event with reality. Data analysis in the study used books, journals and documents based on field observations and data obtained through literature study. The results show that in the digital era there are differences between the traditional Minangkabau family and the modern Minangkabau family. The current of globalization has changed in the role of the Minangkabau family. The reality of institutional life and the function of the Minangkabau family has changed in the implementation of roles. Minangkabau family relations are strong, but the role of ninik mamak towards nephews has changed in the reality of life.
Kearifan lokal dalam pengelolaan Repong Damar Pekon Pahmungan Kecamatan Pesisir Tengah Kabupaten Pesisir Barat Lampung Nana Oktarina; Heni Nopianti; Ika Pasca Himawati
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.19609

Abstract

Kearifan lokal merupakan komponen terpenting dalam kebudayaan  termasuk halnya dalam pengelolaan Repong Damar yang terdapat di Pekon Pahmungan, Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kearifan lokal pengelolaan Repong Damar di Pekon Pahmungan. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa kearifan lokal dalam pengelolaan Repong Damar di Pekon Pahmungan sebagai berikut. Nilai-nilai adat pewarisan Repong Damar kepada anak tertua laki-laki.  Hal ini dikarenakan anak tertua laki-laki dianggap mempunyai tanggung jawab penuh untuk keluarganya. Dalam pembukaan lahan harus mengikuti proses pengelolaan Repong Damar melalui tiga fase, yaitu fase darak, yaitu pembukaan lahan; fase kebun, yakni penanaman bibit pohon produktif (damar, duku, durian, jengkol); fase repong, yakni proses terakhir dalam pembukaan lahan yang sudah berbentuk kebun yang menyerupai hutan alami yang ditumbuhi berbagai tanaman produktif baik kayu, damar, duku, jengkol yang harus menunggu usia pohon damar berumur di atas 15 tahun untuk siap disadap. Apabila tidak mengikuti ketiga fase tersebut maka akan menyebabkan bala bencana (kualat) seperti hasil getah damar menyusut dan tidak menghasilkan getah damar unggul (damar mata kucing). Selain itu terdapat hukum adat yang mengatur kegiatan pengelolaan petani Repong Damar bahwa penebangan pohon damar harus sesuai dengan ketentuan umur pohon yakni usia pohon damar di atas 15 tahun, apabila tidak mematuhi maka akan diberikan sanksi berupa penanaman bibit pohon damar kembali di lahan yang sama. Berdasarkan realita di lapangan berbagai hal yang dilakukan petani merupakan tradisi leluhur yang diwariskan antargenerasi.   Local wisdom is the most critical component in culture, including the management of Repong Damar. This study aims to find out the local wisdom in managing Repong Damar in Pekon Pahmungan. Data collection techniques use qualitative description. This study concluded that local wisdom in the management of Repong Damar in Pekon pahmungan as follow. Traditional values of inheritance of Repong Damar to the eldest son. This is because the eldest son is considered entirely responsible for his family. Inland clearing must follow the management process of Repong Damar through three phases, namely darak phase, namely land clearing; kebun phase, planting productive tree seedlings namely (resin, duku, durian, jengkol); repong phase is the last process in land clearing that has been in the form of a garden that resembles a natural forest that is overgrown with various productive plants both wood, resin, Duku, jengkol who have to wait for the age of resin trees over 15 years to be ready to be tapped, if they do not follow the three phases it will cause disaster (kualat) such as the results of resin shrinking and not produce superior resin sap (cat's eye damar). In addition, there is a customary law that regulates the management activities of Repong Damar farmers that the felling of damar trees must comply with the provisions of the age of the tree, namely the age of the damar tree is above 15 years, if it does not comply, it will be given a sanction in the form of planting damar tree seedlings again on the same land. Based on the reality, the actions taken by Repong Damar farmers are a form of the traditional auction because the management of Repong Damar has become a tradition that is carried out from generation to generation from the ancestors.
Akulturasi Islam pada budaya Ruwatan Rumah di Cikidi Hilir Banten Bilal Hardiansyah; Deni Iriyadi; Iffan Ahmad Gufron
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.19755

Abstract

Di zaman sekarang terjadi perubahan-perubahan dinamikia sosial kemasyarakatan sebagai dampak dari adanya gempuran modernitas. Berbagai hal mendapat pengaruh dengan perubahan tersebut salah satunya berkaitan dengan tradisi yang ada di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana proses akulturasi budaya Islam pada zaman dulu dan sekarang serta hal apa yang mempengaruhi perubahan tersebut, khususnya pada tradisi ruwatan rumah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara yang dilakukan secara langsung kepada responden yang tetap menjaga kondisi alami dari masyarakat. Penelitian dilakukan di daerah Cikidi Hilir karena masyarakat masih sangat kental dengan keyakinan dengan leluhur yang dilaksanakan pada bulan Desember 2021. Responden pada penelitian ini sebanyak 10 orang yang berasal dari masyarakat di daerah Cikidit Hilir. Pemilihan sampel menggunakan teknik nonprobability sampling (purposive sampling) yakni ditujukan kepada masyarakat yang bermukim di daerah tersebut dan dianggap mengetahui tradisi. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan pelaksanaan ruwatan rumah di Cidikit Hilir merupakan bentuk akulturasi budaya karena semua masyarakat di kampung itu beragama Islam. Terlebih dalam ajaran Islam, proses ruwatan rumah yang dijelaskan di atas tidak ada. Ruwatan itu hasil karya atau cipta yang diturunkan oleh para pendahulunya. Mengingat, tidak menutup kemungkinan, sebelum Islam datang wilayah itu masyarakatnya beragama Sunda Wiwitan. Terdapat akulturasi budaya Islam dengan budaya kokolot masyarakat dulu. Sebab, ada kolaborasi antara doa-doa yang bersumber dari ajaran agama Islam dan peninggalan kokolot dengan bahasa Sunda Kuno. Ruwat rumah sebagai bentuk penghargaan seseorang atau kumpulan yang paling ramai pencipta berkat tempat kediamannya (rumah).   In today's era there are changes in social dynamics of society as a result of the onslaught of modernity. Various things are influenced by these changes, one of which is related to the traditions that exist in society. This study aims to see how the acculturation process of Islamic culture in the past and present and what influences these changes. This research is a qualitative research with an ethnographic approach. Data collection techniques using interviews conducted directly to respondents who still maintain the natural conditions of the community. The research was conducted in the Cikidi Hilir area where the area is still very strong with beliefs with ancestors which was carried out in December 2021. The respondents in this study were 10 people who came from the community in the Cikidi Hilir area. The sample selection used a non-probability sampling technique (purposive sampling) which was aimed at the people who live in the area and are considered to know the tradition/culture to be studied (ruwatan rumah). The results of the research conducted indicate that the implementation of home care in Cidikit Hilir is a form of cultural acculturation. Because all the people in the village are Muslims. Especially in the teachings of Islam, the process of ruwatan house described above does not exist. Ruwatan is the result of the work or copyright handed down by his predecessors. Remembering, it is possible, before Islam came, the people were Sunda Wiwitan. There is acculturation of Islamic culture with the old-fashioned culture of the people. Because, there is a collaboration between prayers that come from the teachings of Islam and the legacy of the ancient Sundanese language. Ruwat house as a form of appreciation for someone or a group of the most crowded creators thanks to their residence (house).
Peran media baru terhadap gelaran konser musik di era pandemi Covid-19: Studi kasus Pamungkas "The Solipsism 0.2” Rachman Rigga Aglaia; Nur Maghfirah Aesthetika
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.19836

Abstract

Budaya merupakan salah satu komponen perilaku manusia dan teknologi, menurut O’Brien dalam (Setiawan, 2013) Musik telah menjadi budaya dan bagian hidup dari masyarakat Indonesia namun adanya pandemi Covid-19 menghambat seluruh aktivitas masyarakat tidak terkecuali dunia musik. Banyak gelaran musik yang telah dipersiapkan berbulan-bulan jauhnya dan selalu ada setiap tahun terpaksa dibatalkan, namun dengan adanya perkembangan teknologi perubahan ruang kreativitas musisi Indonesia pun berubah. Dengan memanfaatkan berbagai media online seperti Instagram, Youtube, dan situs web, Pamungkas sukses dengan album barunya “Solipsism 0.2”. Pamungkas berhasil menarik lebih dari satu juta penonton dari konser musik daringnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa peran new media terhadap gelaran konser musik dalam era pandemi Covid-19 dan bagaimana peran new media dalam mengatasi gelaran konser musik online dengan studi kasus “Pamungkas : The Solipsism 0.2” sehingga kami berharap dengan adanya penelitian ini dapat memberikan gambaran bagaimana perkembangan media baru dan teknologi komunikasi dalam perkembangan musik di Indonesia. Penulis melakukan analisa kualitatif deskriptif dengan mengumpulkan data dan informasi sekunder melalui kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media baru memiliki peranan yang penting dalam gelaran konser musik terutama pada masa pandemi Covid-19 seperti saat ini karena keterbatasan yang ada. Kesimpulan yang kami hasilkan yaitu media baru dapat dimanfaatkan sebagai media utama yang dapat efisiensi dalam berkomunikasi.   Culture is one component of human behavior and technology, according to O'Brien in (Setiawan, 2013) Music has become a culture and part of life for Indonesian people, but the Covid-19 pandemic has hampered all community activities, including the music world. Many musical events that have been prepared for months and always take place every year have had to be canceled, but with the development of technology, the creative space of Indonesian musicians has changed. By utilizing various online media such as Instagram, Youtube, and websites, Pamungkas was successful with his new album “Solipsism 0.2”. Pamungkas managed to attract more than one million viewers from its online music concerts. This study aims to find out what the role of new media in music concerts in the Covid-19 pandemic era and how the role of new media in overcoming online music concerts with the case study "The Ultimate: The Solipsism 0.2" so we hope that this research can provide an overview. how the development of new media and communication technology in the development of music in Indonesia. The author conducted a descriptive qualitative analysis by collecting secondary data and information through a literature review. The results of the study show that new media have an important role in holding music concerts, especially during the Covid-19 pandemic as it is today because of existing limitations. Our conclusion is that new media can be used as the main media for efficient communication.
Ketahanan kesehatan masyarakat melalui herbal habbit: Analisis isi pengobatan tradisional dalam Serat Centhini Joko Susilo
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.20193

Abstract

Artikel ini didasari atas realitas kondisi psikologis masyarakat yang masih cemas akan pandemi Covid-19. Penulis berusaha menggali pengetahuan pengobatan lama sebagai salah satu alternative solusi bagi kesehatan masyarakat. Serat Centhini terdiri dari 12 jilid, merupakan karya sastra Nusantara yang memuat beragam tema. Salah satu tema yang terdapat dalam Serat Centhini adalah tentang ragam penyakit dan gangguan kesehatan serta pengobatan yang berbasis bahan herbal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis penyakit dan gangguan kesehatan serta metode pengobatan herbal dalam Serat Centhini.  Peneliti melakukan penelusuran dengan menggunakan metode analisis isi kualitatif terhadap Serat Centhini Jilid 3. Analisis isi kualitatif bertujuan agar identifikasi teks tidak hanya menangkap hal-hal yang artifisial, tetapi juga mampu menggali muatan laten yang terkandung di dalamnya. Serat Centhini jilid 3 pada halaman 321 – 331 memuat informasi tentang gangguan kesehatan dan jenis penyakit serta formula pengobatan berbasis bahan herbal. Informasi tersebut tersaji dalam bentuk tembang, terdiri dari: Dandanggula, Salisir, Lonthang, dan Balabak. Hasil analisis menemukan empat kategori, yaitu: penyakit dan pengobatannya; gangguan kesehatan dan pengobatannya; pengobatan khusus pria; dan waktu yang mujarab untuk pengobatan. Hasil temuan tersebut dapat dijadikan alternatif penyembuhan selain pengobatan modern yang berbasis obat kimiawi. Informasi ini diharapkan dapat memberikan optimisme bagi masyarakat dalam rangka menghadapi era pandemi yang masih belum dapat dipastikan kapan akan berakhir pada status level zero. Kesimpulan penelitian bahwa Serat Centhini memuat khazanah pengetahuan tentang ragam penyakit dan metode pengobatan dengan berbasis bahan herbal yang mudah di dapat dan sudah akrab dalam kehidupan keseharian.                                  This article is based on the psychological condition of people who are still worried about the Covid-19 pandemic. The author tries to explore the knowledge of ancient medicine as an alternative solution for public health. Serat Centhini consists of 12 volumes, is a literary work of the Archipelago which contains various themes. One of the themes contained in the Serat Centhini is about various diseases and health problems as well as herbal-based treatment. This study aims to identify the types of diseases and health disorders as well as herbal treatment methods in Serat Centhini. The researcher conducted a search using qualitative content analysis methods on Serat Centhini Volume 3. Qualitative content analysis aims to identify texts not only capturing artificial things, but also being able to explore the latent content contained in them. Serat Centhini volume 3 on pages 321 – 331 contains information about health disorders and types of diseases as well as herbal treatment formulas. The information is presented in the form of songs, consisting of: Dandanggula, Salisir, Lonthang, and Balabak. The results of the analysis found four categories, namely: disease and its treatment; health problems and their treatment; male-only treatment; and an efficacious time for treatment. The findings can be used as an alternative healing in addition to modern medicine based on chemical drugs. This information is expected to provide optimism for the public in order to face the pandemic era, which is still uncertain when it will end at level zero status. The conclusion of the study is that Serat Centhini contains a wealth of knowledge about various diseases and treatment methods based on herbal ingredients that are easy to obtain and are familiar to in everyday life.
Konstruksi gender dalam sastra anak Sunda Nala karya Darpan Eka Ayu Wahyuni; Aquarini Priyatna; Tisna Prabasmoro
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.20250

Abstract

Nala adalah sastra anak Sunda yang mengantarkan Darpan mendapatkan Hadiah Samsoedi pada tahun 2016, yaitu hadiah yang diberikan kepada penulis sastra anak berbahasa Sunda. Nala penting untuk dibahas karena ditulis oleh seorang penulis laki-laki yang memusatkan cerita pada tokoh anak perempuan tomboi yang kemudian diarahkan untuk menjadi perempuan feminin. Dari gambaran tersebut Nala diasumsikan menghadirkan konstruksi gender yang kaku yang menuntut perempuan untuk menunjukkan atribusi feminin; laki-laki harus menunjukkan atribusi maskulin. Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan konstruksi gender yang dimanifestasikan melalui penggambaran sikap serta peran tokoh perempuan dan tokoh laki-laki dalam Nala karya Darpan. Metode deskriptif-kualitatif digunakan di dalam penelitian ini. Selain itu penelitian ini menggunakan pendekatan kritik sastra feminis untuk melihat bagaimana citra perempuan dihadirkan di dalam karya sastra yang ditulis oleh laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di dalam Nala, konstruksi dan peran gender ditampilkan secara kaku bahwa perempuan harus feminin dan laki-laki harus maskulin. Dari temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa konstruksi gender yang ditampilkan di dalam Nala masih berorientasi pada konstruksi gender normatif, yang berkenaan dengan sikap dan peran. Penggambaran gender normatif tersebut menafikan adanya potensi konstruksi gender alternatif seperti yang dihadirkan melalui tokoh Nala, anak perempuan tomboi, sehingga digiring untuk mengikuti peran feminin.   Nala is a Sundanese children's literature that led Darpan to achieve the Samsoedi Prize, a prize awarded to notable writers of Sundanese children's literature, in 2016. Examining Nala is important because it is written by a male writer who focuses the story on a tomboy girl character, directed to become a feminine girl. From this description, Nala is assumed to present a rigid gender construction that requires women to show feminine attributions in contrast to men that must exhibit masculine attributions. This article aims to discuss gender construction manifested through the description of attitudes and roles of female and male characters in Darpan's Nala. Descriptive-qualitative method was employed in this study. In addition, this study used a feminist literary criticism approach to see how the image of women is presented in literary works written by men. The results show that the construction of gender and roles is depicted rigidly, in a way that women must be feminine, and men must be masculine. The findings led to a conclusion that the gender construction shown in Nala is aligned with the normative gender construction, which relates to certain attitudes and roles. The depiction of normative gender denies the potential for alternative gender construction as presented through the character of Nala, a tomboyish girl who is led and expected to follow the feminine role.

Page 1 of 2 | Total Record : 17