cover
Contact Name
Muh. Fatoni Rohman
Contact Email
muh_fatoni@ub.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
muh_fatoni@ub.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Hasta Wiyata
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 26151200     EISSN : -     DOI : -
Hasta Wiyata adalah nama jurnal yang diterbitkan oleh program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya. Kedua istilah tersebut berasal dari bahasa Sanskerta, “hasta” berarti tangan dan “wiyata” berarti pengajaran. Jurnal ini bergerak dalam bidang bahasa, sastra, dan pendidikan. Jurnal Hasta Wiyata memuat hasil penelitian yang inovatif, tulisan ilmiah yang orisinil, refleksi kritis-teoretis, studi literatur, gagasan tertulis, dan artikel konseptual dari berbagai cabang ilmu yang fokus pada kajian bahasa, sastra, dan pendidikan. Jurnal ini terbit dua kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Januari dan Juli.
Arjuna Subject : -
Articles 191 Documents
Analisis Campur Kode Dalam Kanal Youtube Tirta Pengpengpeng: Kajian Sosiolinguistik Dinan El Haq Rahimahullah; Izzuddin Musthafa; Ade Nandang
Hasta Wiyata Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Hasta Wiyata
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.hastawiyata.2025.008.02.14

Abstract

This study aims to identify the use of code-mixing by dr. Tirta on his YouTube channel and the factors that influence its occurrence. The research employs a qualitative approach with a descriptive research type, which aims to describe and understand a phenomenon. In collecting the data, the researcher used observation and note-taking techniques. The data source observed consists of three videos from the Tirta PengPengPeng YouTube channel. After the data was collected, the next step was classifying it based on specific questions to align with the context, followed by analysis and presentation in tabular form. From the three videos observed and noted, there were 66 instances of code-mixing identified, consisting of (1) 15 instances in video 1, (2) 14 instances in video 2, and (3) 37 instances in video 3. The causes of code-mixing used by Dr. Tirta as the speaker fall into four categories: (1) the speaker, (2) the interlocutor, (3) the situation, and (4) habit. However, the primary influencing factor is the speaker himself, while the other three are merely supporting factors.
OPTIMALISASI KETERAMPILAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI METODE CERITA PADA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR Yuriananta, Renda
Hasta Wiyata Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Hasta Wiyata
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.hastawiyata.2025.008.02.15

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas metode cerita dalam meningkatkan keterampilan membaca permulaan pada siswa kelas V sekolah dasar. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada rendahnya kemampuan membaca siswa di tingkat dasar serta dominasi metode pembelajaran konvensional yang belum sepenuhnya mendorong keterlibatan dan pemahaman siswa dalam membaca. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu dengan desain non-equivalent control group. Sampel penelitian terdiri dari dua kelompok siswa, masing-masing berjumlah 30 orang, yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen memperoleh pembelajaran membaca menggunakan metode cerita, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan pembelajaran konvensional. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan pada skor membaca siswa di kelompok eksperimen dibandingkan kelompok kontrol, dengan selisih peningkatan sebesar 18,35 poin berbanding 7,45 poin. Uji statistik menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Temuan ini mengindikasikan bahwa metode cerita tidak hanya memberikan pengalaman belajar yang kontekstual dan menyenangkan, tetapi juga terbukti efektif secara empiris dalam meningkatkan keterampilan membaca permulaan siswa sekolah dasar. Implementasi metode ini direkomendasikan sebagai pendekatan alternatif dalam penguatan literasi dasar pada jenjang pendidikan dasar.
Pelatihan Bahan Bacaan Melalui Pemanfaatan Teknologi Aplikasi Canva dan Flutterflow di SDIT An-Najah Adi Mahendra, Cahyani Bagus; Rahman, Fahrizal
Hasta Wiyata Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Hasta Wiyata
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.hastawiyata.2025.009.01.01

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi pelaksanaan dan dampak pelatihan pengembangan bahan bacaan melalui pemanfaatan aplikasi teknologi digital Canva dan FlutterFlow di SDIT An-Najah. Pelatihan ini memberdayakan guru untuk menghasilkan bahan bacaan yang menarik secara visual, relevan secara kontekstual, dan kaya nilai edukasi yang mengintegrasikan literasi ekologis dan budaya pesantren. Dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR), studi melibatkan identifikasi masalah secara kolaboratif, pengembangan strategi, pembuatan bahan, dan digitalisasi. Hasilnya menunjukkan peningkatan kompetensi guru dalam literasi digital dan produksi bahan ajar, tersedianya bahan bacaan yang beragam dan bermakna, serta mendukung gerakan literasi sekolah. Intervensi ini memberikan kontribusi penting dalam membangun budaya literasi yang berkelanjutan dan inovasi digital pada pendidikan dasar berbasis pesantren.
Implementasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Adaptif Berbasis Student-Centered Learning risna, risnawati
Hasta Wiyata Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Hasta Wiyata
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.hastawiyata.2025.009.01.02

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi pembelajaran Bahasa Indonesia adaptif berbasis student-centered learning pada jenjang SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-komparatif melalui observasi kelas, wawancara guru/dosen serta peserta didik, dan analisis dokumen pembelajaran di SD Muhammadiyah 9 Malang, SMP Al-Mahira Malang, SMA Negeri 3 Malang, dan Universitas Brawijaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada seluruh jenjang diterapkan kombinasi model discovery learning, cooperative learning, project-based learning, inkuiri, diferensiasi, dan contextual teaching and learning yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Di SD, pembelajaran multisensori berbasis proyek efektif membangun literasi dasar. Di SMP, kolaborasi dan inkuiri berbantuan media digital mendorong interaksi multiarah dan berpikir kritis. Di SMA, pendekatan bermakna dan diferensiasi melalui analisis teks anekdot memperkuat refleksi sosial siswa. Di perguruan tinggi, model presentasi–studi kasus–reflektif meningkatkan kesadaran analitis terhadap keefektifan bahasa serta pemanfaatan AI secara etis. Kendala utama pada semua jenjang adalah keterbatasan waktu, heterogenitas kemampuan, dan sarana. Temuan ini menegaskan terjadinya pergeseran praktik pembelajaran Bahasa Indonesia menuju pembelajaran adaptif, kolaboratif, kontekstual, dan literat digital yang selaras dengan semangat Kurikulum Merdeka.
Analisis Metafora Konseptual dalam Dongeng Nusantara (Linguistik Kognitif dalam Cerita Anak) Puspitoningrum, Encil; Santoso, Anang; Martutik
Hasta Wiyata Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Hasta Wiyata
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.hastawiyata.2025.009.01.03

Abstract

This study aims to identify cultural patterns and values in conceptual metaphors found in Nusantara fairy tales using a cognitive linguistic approach. This study was designed as a qualitative-descriptive study with a focus on analysing three main fairy tales that represent geographical diversity, namely Timun Mas from Java, Putri Mandalika from West Nusa Tenggara, and Malin Kundang from West Sumatra. The results of the analysis show that there are a total of 55 conceptual metaphors found in the three fairy tales. Structural metaphors dominate about fifty percent of all findings, followed by ontological and orientational metaphors. These metaphors serve as a means of transmitting cultural values that vary between regions, such as contextual wisdom in the western region, the values of collectivity and sacrifice in the central region, and an emphasis on social harmony and relationship with nature. These findings also reveal the mindset of the Indonesian people, who prioritise collectivity over individuality, as reflected in the metaphorical structure of fairy tales. The conclusion of this study confirms that Nusantara fairy tales are a medium rich in cultural cognition. Pedagogically, this study offers important implications for character education through a story-based moral education approach, where the metaphorical structure in fairy tales can serve as a cognitive scaffold for internalising moral values. Theoretically, this study also enriches the development of cognitive linguistics in the context of Indonesia's multicultural society.
Variasi Ortografi dan Praktik Textese dalam Komunikasi WhatsApp Penutur Muda di Aceh Tamiang: Kajian Sosiolinguistik Siber Indah Fajarini; Tanita Liasna; Widia Tamara; Rico Adriansyah
Hasta Wiyata Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Hasta Wiyata
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.hastawiyata.2025.009.01.04

Abstract

This study aims to describe the forms and functions of orthographic variation in WhatsApp communication among young speakers in Harum Sari Village, Aceh Tamiang, and to examine its relation to textese practices within the ecosystem of Computer-Mediated Communication (CMC). This research employed a qualitative descriptive approach from the perspective of cyber sociolinguistics. The data were obtained through screenshot documentation, exported WhatsApp conversations, and questionnaires distributed to 24 purposively selected respondents. Data analysis was conducted using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana through the stages of data condensation, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that digital orthographic practices among young speakers in Harum Sari are dominated by five major patterns: contraction and vowel ellipsis, cyber acronyms and initialisms, graph substitution using numbers, visual onomatopoeia, and expressive logograms. These variations do not merely represent spelling deviations, but also function as communicative strategies intertwined with principles of linguistic economy, relational closeness, emotional expression, and group solidarity in digital spaces. The findings further indicate that WhatsApp language operates within the logic of Language of Immediacy, in which written language moves closer to the spontaneity of spoken interaction. This study argues that digital orthographic variation should be understood as a linguistic practice emerging from the negotiation between communicative efficiency, social identity, and the digital literacy culture of younger generations.
Tingkat Kesukaran dan Daya Beda Butir Soal Ulangan Harian Teks Negosiasi pada Kelas X di SMK Semesta Bumiayu Tahun Pelajaran 2024/2025 Nasikha, Latifatun; Irma, Cintya Nurika
Hasta Wiyata Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Hasta Wiyata
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.hastawiyata.2025.009.01.07

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, menganalisis, dan menjelaskan tingkat kesukaran dan daya pembeda butir soal ulangan harian teks negosiasi kelas X di SMK Semesta Bumiayu. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer berupa butir soal ulangan harian teks negosiasi, lembar jawaban siswa, ATP, bahkan semester MA, sedangkan data sekunder dalam penelitian ini adalah dokumentasi visual berupa gambar untuk menunjukkan gambar bukti penilaian butir soal ulangan harian teks negosiasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari empat komponen utama, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dalam hal tingkat kesukaran menunjukkan 28% soal sangat mudah, 24% mudah, 44% sedang, dan 4% sangat sukar. Daya pembeda menunjukkan terdapat 4% soal berkategori sangat baik, 16% soal berkategori baik, 32% soal berkategori cukup, 40% soal berkategori kurang, dan 8% soal berkategori kurang.
REPRESENTASI DINAMIKA SOSIAL DALAM NASKAH DRAMA “RT NOL RW NOL”: TEORI KONFLIK RALF DAHRENDORF Nurizkya, Azhara
Hasta Wiyata Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Hasta Wiyata
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.hastawiyata.2025.009.01.11

Abstract

The absurd drama “RT Nol RW Nol” by Iwan Simatupang represents social chaos through its depiction of the lives of a community of homeless people living under a bridge. This work serves as a mirror of the reality of inequality and marginalization in society. This article aims to analyze the representation of social dynamics, particularly structural conflict, as manifested in the drama script. This study uses Ralf Dahrendorf's Conflict Theory as an analytical framework to unravel the power relations between the ruling class and the oppressed class. The results of the study show that systematic conflict is represented through the concept of “forced association” that unites marginalized people, interactions that reinforce hierarchy, and symbolic spatial settings. The imperative class (the state through the police and bureaucracy, as well as capital owners) controls and oppresses the subordinate class (the homeless) through repressive mechanisms, administrative rules, and stigmatization. Although various forms of resistance emerge, the conflict is continuous and unresolved, which in fact becomes a source of dynamics as well as sharp social criticism of a system that fails to humanize its marginalized citizens.
Fungsi Pragmatik Bahasa Brainrot dalam Komunikasi Digital di Platform Youtube Shorts Agustin, Nova; Wardani, Chintya; Rohimat, Mohamad; Alfarizi, Sutrisno
Hasta Wiyata Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Hasta Wiyata
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.hastawiyata.2025.009.01.12

Abstract

Penggunaan bahasa brainrot di media sosial telah menjadi tren komunikasi baru di kalangan Generasi Alpha. Bahasa ini dikenal melalui expresi seperti “skibidi”, “rizz”, dan “gyatt”, yang sering muncul dalam konten Youtube Shorts dan platform digital lainnya. Perubahan gaya berbahasa ini menarik untuk dikaji karena mencerminkan cara generasi muda membangun identitas sosial dan interaksi digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk penggunaan bahasa brainrot dalam menyampaikan maksud tertentu atau tujuan komunikatifnya, untuk mengidentifikasi penggunaan bahasa brainrot pada konten dan komentar Youtube Shorts serta memahami peran bahasa brainrot sebagai representasi identitas sosial dan budaya komunikasi Generasi Alpha. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui teknik dokumentasi dan dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk mengetahui konteks penggunaan serta makna sosial yang terkandung dalam setiap bentuk tuturan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa brainrot digunakan terutama untuk mengekspresikan humor, sindiran, membangun keakraban, serta penggunaan bahasa ini juga berperan sebagai simbol keanggotaan komunitas daring dan bentuk kreativitas ekspresi di kalangan Generasi Alpha. Bahasa brainrot tidak hanya menjadi bahasa populer di dunia maya, tetapi juga cerminan dari perubahan sosial dan budaya komunikasi di era digital. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana generasi muda membangun identitas, solidaritas, serta dinamika interaksi baru yang memadukan bahasa, teknologi, dan budaya pop sebagai ekspresi diri di masa modern.  
MAKNA KEGELAPAN DAN REPRESENTASI KORBAN DALAM CERPEN DI TITIK TERGELAP DARI KEGELAPAN MENGGUNAKAN TEKSTUALITAS BARTHES Pohan, Juan Aiswara
Hasta Wiyata Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Hasta Wiyata
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.hastawiyata.2025.009.01.10

Abstract

Penelitian ini menganalisis makna serta pesan sosial dalam cerpen Di Titik Tergelap dari Kegelapan  karya Yudhi Herwibowo melalui perspektif semiotika Roland Barthes. Kajian berfokus untuk mengidentifikasi bagaimana teks ini merepresentasikan kekerasan seksual dalam situasi kerusuhan, praktik penyangkalan sejarah, serta simbol-simbol kegelapan yang berhubungan dengan trauma dan hilangnya jejak korban. Metode penelitian bersifat kualitatif deskriptif dengan sumber data berupa teks cerpen yang dipublikasikan secara daring. Data dikumpulkan dengan teknik simak-catat untuk mengidentifikasi unsur naratif yang signifikan. Analisis dilakukan berdasarkan lima kode Barthes meliputi hermeneutic, action, semic, simbolic, dan referential untuk membongkar lapisan makna yang dibangun melalui rangkaian peristiwa, citraan, dan penanda sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerpen ini menggunakan jaringan tanda yang kuat untuk menyoroti kehancuran fisik maupun psikis korban, sekaligus mengkritik struktur sosial yang mengabaikan kebenaran. Representasi kegelapan, suara korban, dan ketertutupan fakta menjadi pusat makna yang menunjukkan relasi erat antara teks sastra dan realitas sosial-politik. Hasil penelitian menegaskan pentingnya pembacaan kritis terhadap karya sastra sebagai ruang artikulasi pengalaman korban dan sebagai perlawanan terhadap penghapusan sejarah kekerasan.