cover
Contact Name
Jurnal Living Islam
Contact Email
living.islam@uin-suka.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
living.islam@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Living Islam: Journal of Islamic Discourses
ISSN : 26216582     EISSN : 26216590     DOI : -
Living Islam: Journal of Islamic Discourses merupakan jurnal yang berada di bawah naungan Prodi Pascasarjana Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Living Islam: Journal of Islamic Discourses didesain untuk mewadahi dan mendialogkan karya ilmiah para peneliti, dosen, mahasiswa dan lain-lain dalam bidang studi: Filsafat Islam, al-Qur'an dan Hadis, dan Studi Agama dan Resolusi Konflik, baik dalam ranah perdebatan teoritis, maupun hasil penelitian (pustaka dan lapangan). Living Islam: Journal of Islamic Discourses terbit dua kali dalam satu tahun, yakni pada bulan Mei dan November.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 1 (2024)" : 10 Documents clear
STUDI LIVING QURAN ATAS PENGAMALAN AYAT-AYAT AL-QUR’AN DALAM AMALIAH DZIKIR AL-MA’TSURAT DI PPTQ AR-ROUDHOH PUTRI BOTORAN TULUNGAGUNG Fatimatuzzahro', Nurushofa; As’adah, Rifqi
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i1.4559

Abstract

This research discusses the verses of the Koran in the practice of dhikr at the Tahfidz al-Qur'an Ar-Roudhoh Putri Botoran Tulungagung Islamic Boarding School. The purpose of this study is to briefly describe the history and procession of the practice of al-Ma'tsurat so that the practitioners know the meaning of amaliah dhikr of the verses of the Koran. The research was conducted using qualitative descriptive methods and social theory of knowledge by Karl Mannheim, namely objective, expressive and documentary. The conclusion resulting from this research is that the amaliah tradition of dzikir al-Ma'tsurat at the Tahfidz al-Qur'an Ar-Roudhoh Putri Botoran Timur Tulungagung Islamic Boarding School is carried out at two times, namely, after the morning prayer and after the maghrib prayer in congregation and led by one one on schedule. The discussion regarding the profile of the Islamic boarding school, the history of the beginning of the practice and what the procession is then the meaning obtained so as to produce research that is in accordance with the formulation of the problem. At the core of the discussion related to meaning there is an objective meaning, it is found that there is a compulsion on new students and a sense of ta'dzim in implementing it on old students. Then in terms of expressive meaning, from some of the interviewees who have been interviewed, in general, they feel calm in their hearts and minds so that they are more focused on worship. While the meaning of the documentary, the practice that is part of the activities of the pondok and continues to this day, is unknowingly included in the routine of the boarding school. Keywords: Dhikr Al-Ma'tsurat, Living Qur'an, Karl Mannheim.   Penelitian kali ini membahas mengenai ayat-ayat Al-Qur’an dalam amaliah dzikir di Pondok Pesantren Tahfidz al-Qur’an Ar-Roudhoh Putri Botoran Tulungagung. Tujuan dari penelitian terhadap fenomena sosial tersebut untuk mendeskripsikan sekilas sejarah dan prosesi pengamalan al-Ma’tsurat sehingga mengetahui makna yang terkandung dalam amaliah dzikir ayat-ayat al-Qur’an bagi para pengamalnya. Metode yang digunakan dalam penelitian seperti berikut; deskriptif kualitatif dan teori sosial pengetahuan oleh Karl Mannheim, yaitu objektif, ekspresif, dan dokumenter. Kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian ini bahwa, tradisi amaliah dzikir al-Ma’tsurat di Pondok Pesantren Tahfidz al-Qur’an Ar-Roudhoh Putri Botoran Timur Tulungagung dilaksanakan setelah melaksanakan shalat subuh dan shalat maghrib secara berjamaah dan dipimpin salah seorang sesuai jadwalnya. Pembahasan mengenai bagaimana profil dari pondok pesantren, sejarah awal mula diadakannnya kegiatan amalan tersebut dan apa saja prosesi kemudian makna yang didapatkan sehingga menghasilkan penelitian yang sesuai dengan rumusan masalah. Pada inti pembahasan terkait makna terdapat makna objektif, ditemukan adanya keterpaksaan pada santri baru dan rasa ta’dzim dalam melaksanakannya pada santri lama. Kemudian pada makna ekspresif, dari beberapa para narasumber yang telah diwawancara pada umumnya merasakan temtramnya hati dan fikiran sehingga lebih fokus dalam ibadah. Sedangkan makna dokumenter, amalan yang dijadikan bagian dari kegiatan pondok dan terus dijalannya hingga saat ini, tanpa disadari termasuk dalam rutinitas pondok. Kata Kunci : Dzikir Al-Ma’tsurat, Living Qur’an, Karl Mannheim.
TINJAUAN FILSAFAT MANUSIA MUHAMMAD TAQI MISHBAH YAZDI ATAS PERMASALAHAN KEMANUSIAAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE Ammar, Ammar Mahir Hilmi
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i1.4671

Abstract

This research will to identify the relationship between human concepts according to Muhammad Taqi Mishbah Yazdi and the discourse on Artificial Intelligence (AI). The problem of this research is to what extent humans are influenced by artificial intelligence technology in making decisions, what impacts can potentially be felt by humans with the increasingly massive use of AI, and whether the application of artificial intelligence is good or bad. This research uses a library study method by collecting various library data related to thoughts about humans according to Mishbah Yazdi and then dialogues with the discourse theme of artificial intelligence, especially related to the humanitarian problems it causes. The results of the research found that there are several similarities and differences between the concept of humans according to Mishbah Yazdi and the discourse on artificial intelligence and its problems related to humanity. The similarities include that humans and AI both have knowledge that makes them intelligent, while what differentiates the two is that everything humans have is natural and obtained directly through a series of efforts. As for AI systems, no matter how great they are, they still depend on the humans who programmed them. Keyword: Artificial Intelligence; Humanism; Human Philosophy   Penelitian ini hendak mengidentifikasi keterkaitan konsep manusia menurut Muhammad Taqi Mishbah Yazdi dengan diskursur Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI). Permasalahan dari penelitian ini yakni sejauh mana posisi manusia dipengaruhi oleh teknologi kecerdasan buatan dalam mengambil keputusan, apa saja dampak yang berpotensi dirasakan oleh manusia dengan semakin massifnya penggunaan AI, serta apakah baik atau buruk penerapan kecerdasan buatan. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan mengumpulkan berbagai data pustaka yang terkait dengan pemikiran tentang manusia menurut Mishbah Yazdi lalu mendialogkannya dengan tema diskursus kecerdasan buatan, utamanya terkait dengan permasalahan kemanusiaan yang ditimbulkannya. Hasil dari penelitian menemukan adanya beberapa persamaan maupun perbedaan antara konsep manusia menurut Mishbah Yazdi dengan diskursus kecerdasan buatan dan permasalahannya terkait kemanusiaan. Persamaannya antara lain manusia dan AI sama-sama mempunyai pengetahuan yang membuatnya menjadi cerdas, sedangkan yang membedakan keduanya yakni segala yang dimiliki oleh manusia semuanya bersifat alami dan diperoleh langsung melalui serangkaian usahanya. Adapun pada sistem AI, bagaimanapun hebatnya tetap bergantung pada manusia yang telah memprogramnya. Kata kunci: Kecerdasan Buatan; Kemanusiaan; Filsafat Manusia
STUDI LIVING QUR’AN DALAM ANIMASI UPIN DAN IPIN: REPRESENTASI NASIHAT LUQMAN AL-HAKIM DEPISODE INDAHNYA RUMAH RASA SAYANG Yahya, Yuangga Kurnia; Mahmudah, Umi
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i1.4691

Abstract

This research focuses on the representation of Luqman Hakim's advice in the animation Upin and Ipin episode "Indahnya Rumah Rasa Sayang" using Living Qur'an perspective. This research is a qualitative descriptive research based on literature sources. The data used in this study came from observation and documentation. The purpose of this study, firstly, is to analyze the verbal messages in the series and Luqman's advice to his son in Surah Luqman 12-19. Secondly, this study aimed to discuss the application of the living Qur'an in popular culture, especially films. The results of the study found seven pieces of advice on abstaining from surah Luqman verse 12-19 that appear in this episode. Those advices are 1) a commandment to always be grateful 2) orders always do good to parents 3) explain all human actions, good and bad 4) commanding prayers and commanding to do ma'ruf (good), prevent the evil, and be patient in dealing with various things happened 5) giving a smile and a cheerful face and not looking away from other people because of pride 6) equalize in behaving and speaking; 7) maintain good manners in interacting with others. Keyword: Surah Luqman; Upin and Ipin serial; Animation for Children; Living Qur’an   Penelitian ini bertujuan membahas tentang representasi nasihat Luqman Hakim dalam animasi Upin dan Ipin episode “Indahnya Rumah Rasa Sayang”: Perspektif Living Qur’an. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang berbasis dari sumber-sumber pustaka. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari observasi dan dokumentasi dari tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu, pertama menganalisis pesan-pesan verbal di serial tersebut dan nasihat Lukman kepada anaknya dalam Surah Luqman 12-19. Kedua, mendiskusikan aplikasi living qur’an dalam budaya populer, khususnya film.  Hasil penelitian menjelaskan terdapat tujuh nasihat penting yang terdapat surat Lukman ayat 12-19 yang diimplementasikan dalam tayangan ini, yaitu 1) perintah untuk selalu bersyukur; 2) perintah selalu berbuat baik kepada orang tua; 3) menjelaskan seluruh perbuatan manusia, baik dan buruknya; 4) perintah shalat, mengerjakan yang ma’ruf, mencegah kemunkaran, serta sabar terhadap berbagai hal yang menimpa; 5) memberikan senyuman dan wajah yang ceria serta tidak memalingkan wajah dari orang lain karena sombong; 6) sederhana dalam bertingkah laku dan berbicara; 7) menjaga budi bahasa dalam berinteraksi dengan orang lain. Kata kunci: Surah Luqman; Upin dan Ipin; Animasi Anak; Living Qur’an
KRITIK IBRAHIM M. ABU RABI’ ATAS PERSEPSI ISLAMOFOBIA BARAT Almas, Afiq Fikri
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i1.4767

Abstract

Islamophobia symptoms significantly emerged among Westerners after the attack on the World Trade Center in the United States on September 11, 2001. Furthermore, the gap between the ideals of Islam as a religion of peace and the Western perception of Islam as a violent religion has become an issue that needs addressing. This research employs a qualitative method based on literature sources, focusing on the thoughts of Ibrahim M. Abu Rabi’, who proposes an approach in religious studies to correct Islamophobia. The research is conducted through literature sources, documents, archives, and similar materials. Ibrahim M. Abu Rabi’ emphasizes the importance of studying Islam through historical and sociological religious approaches. Through the "historical" approach, the study and empirical-historical-critical religious approach are expected to reduce the levels and intensity of violence and tension among religious believers, although not claiming to eliminate them entirely. Ibrahim M. Abu Rabi’ also recommends the necessity of dialogue between Islam and the West. This dialogue, indirectly, will revive the tradition of intellectualism that is free, dialogic, innovative, creative, and egalitarian between these two compass points. Keyword: Ibrahim M. Abu Rabi’, Historical Approach, Religious Sociology   Gejala Islamophobia banyak muncul dari orang-orang barat setelah terjadinya serangan terhadap WTC di Amerika Serikat pada 11 September 2001. Selain itu kesenjangan antara cita-cita Islam sebagai agama perdamaian dengan konteks kehidupan Islam yang dipandang oleh barat sebagai agama kekerasan sudah menjadi isu yang muncul dan harus diselesaikan. Penelitian ini dengan metode kualitatif yang berdasarkan sumber kepustakaan terhadap pemikiran Ibrahim M. Abu Rabi’ yang menawarkan pendekatan dalam kajian keagamaan untuk meluruskan Islamofobia. Penelitian dilakukan melalui sumber pustaka, dokumen, arsip, dan lain sejenisnya. Ibrahim M. Abu Rabi’ menekankan pentingnya kajian Islam melalui pendekatan historis dan sosiologi keagamaan. Melalui pendekatan “historis”,studi dan pendekatan agama yang bersifat empiris-historis-kritis diharapkan mampu mengurangi kadar dan intensitas kekerasan dan ketegangan antara sesama pemeluk agama, tentu tidak juga berpretensi untuk menghilangkan sama sekali. Ibrahim M. Abu Rabi’ juga merekomendasi pentingnya dialog antara Islam dan Barat. Dialog ini secara tidak langsung akan menghidupkan kembali tradisi intelektual yang bebas, dialogis, inovatif, kreatif sekaligus egaliter antara kedua arah mata angin ini. Kata kunci: Ibrahim M. Abu Rabi’, Pendekatan Historis, Sosiologi Keagamaan
LINGUISTIC INTERPRETATION OF THE DIFFERENCE OF THE HARAKAT OF LETTERS IN THE RECITATION OF AL-QIRA'AT AL-'ASYR Amin Kahila, Muhammad ad-Dasuki; Nasir, Husain; Sabry, Muhammad Sadik; Malik, Firdaus; Has, Muhammad Hadsin
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i1.4804

Abstract

In the science of Qiraat, the problem of vowel reading on letters and words in the Qur'an is still much that has not been revealed, both from the aspect of classical and modern scholarly opinions. This study aims to describe and introduce several rules about the process of occurrence of vowel a/i/u in certain words and verses, which are caused by the presence of letters, hamzah, sukun, and ishmam, including exploring new ways of analyzing the phonology of modern Arabic vowels based on standard generative theory. This research is literature research. Primary data sources were obtained by al-Našr fi al-Qirā'at al-Islāmiyyah, and several verses of the Qur'an for comparison. Secondary data sources are literature, both in the form of books, journals, and research results related to phonology. Data collection is carried out by documentation techniques, listening, and recording. Data analysis techniques use open coding, then analyzed descriptively using grounded theory. This study informs about the rule that the variety of vowel punctuation on some verbs in the Qur'an will change according to the readings attributed to the ten Qira'at. The Vowel sign emphasizes the reading of dammah/kasrah). The emphasis mark on nouns requires the insertion of dammah while on verbs and insertion of kasrah. The round distinguishing mark (sifr) is important in turning kasrah into dammah. Both Kasrah and dammah have the property of 'Al, but some of them are distinguished by round marks on dammah and square marks on kasrah. The Vowel sign for classical scholars indicates that the kasrah from the letter "waw" in the verb "qul" moved to the letter "qaf" after hadzf dammah, then "waw" changed to "ya" to correspond to the kasrah in front of it. Modern linguists believe that the dammah of the letter "qaf" can be changed to Kasrah and then "waw" removed, so that the existence of the two kasrahs is merged and becomes a long shaddah. The differences and changes in vowels in phonetics cannot be separated from the debate that exists between classical and modern scholars. This indicates that the problem of qira'at is closely related to diacritical marks that are icons of producing sounds with various characters. This research has implications that having to study Qur'anic verses from a Vowel aspect will require us to see how scholars used to read so that the sounds produced are not only one variant but have a variety of very detailed and interesting reasons to be studied based on modern linguistic theory. Keywords: Vowel; linguistic interpretation; recitation, Qira’at Ten   Dalam ilmu Qiraat, persoalan bacaan vokal pada huruf dan kata-kata dalam al-Qur’an masih banyak yang belum diungkap, baik dari aspek pendapat ulama klasik maupun modern. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan  dan mengenalkan  beberapa kaidah tentang proses terjadinya vokal a/i/u pada kata dan ayat tertentu, yang disebakan oleh adanya huruf, hamzah,  sukun dan isymam, termasuk  mengeksplorasi cara-cara baru dalam menganalisis fonologi vokal bahasa Arab modern berdasarkan teori generatif standar. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Sumber data primer diperoleh al-Našr fi al-Qirā'at al-Islāmiyyah, dan beberapa ayat al-Qur’an sebagai bandingannya. Sumber data sekunder adalah literatur, baik berupa buku-buku, jurnal dan hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan fonologi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi, simak dan catat. Teknik analisis data menggunakan  pengkodean terbuka, lalu dianalisis secara deskriptif menggunakan grounded theory. Penelitian ini menginformasikan tentang kaidah bahwa ragam tanda baca vowel pada beberapa kata kerja dalam al-Qur’an akan berubah sesuai dengan bacaan yang dinisbatkan kepada sepuluh Qira’at. Tanda Vowel menekankan pada bacaan dammah/kasrah). Tanda penekanan pada kata benda mengharuskan penyisipan dammah sedangkan pada kata kerja dan penyisipan kasrah. Tanda pembeda bulat (sifr)penting dalam mengubah kasrah menjadi dammah. Baik Kasrah maupun dammah sama-sama memiliki sifat ‘Al, namun beberapa di antaranya dibedakan dengan tanda bulat pada dammah dan tanda persegi  pada kasrah. Tanda Vowel bagi ulama klasik  mengiformasikan bahwa kasrah dari huruf “waw” pada kata kerja “qul” berpindah ke huruf “qaf” setelah terjadi hadzf dammah, kemudian “waw” berubah menjadi “ya” agar sesuai dengan kasrah di depannya. Sedangkan bagi para linguis modern meyakini bahwa dammah dari huruf “qaf” dapat berubah menjadi Kasrah dan kemudian “waw” dihapus, sehingga keberadaan kedua kasrah tersebut digabung dan menjadi shaddah yang panjang. Perbedaan dan perubahan Vowel dalam ilmu fonetik tidak lepas dari perdebatan yang pajang antara ulama klasik dan modern. Hal ini mengindikasikan bahwa masalah qira’at sangat berkaitan dengan tanda diakritik yang menjadi icon penghasil bunyi dengan aksara yang  beragam. Penelitian ini berimplikasi pada  keharusan  mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an dari aspek Vowel akan mengharuskan kita untuk melihat kmbali seperti apa para ulama dulu membaca, sehingga bunyi-bunyi yang dihasilkan tidak hanya satu varian, namun memiliki ragam alasan yang sangat detail dan menarik untuk dipelajari berdasarkan teori linguistik modern. Kata kunci: Linguistik interpretasi:  Suara, Vokal, Qiraat 10 mutawatir
MENEGUHKAN IDENTITAS SOSIAL KEAGAMAAN: ANALISIS DAKWAH ATAS GERAKAN ISLAM LIBERAL Irawan, Deni
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i1.4808

Abstract

The main aim of this research is to understand the phenomenon of the liberal Islamic movement and the role of da'wah in this movement. This research aims to analyze the understanding of liberal Islamic movements, their goals, and the da'wah strategies used to spread liberal thoughts in Islam. The research design used is a qualitative approach. This research involved collecting data through in-depth interviews with members of the liberal Islamic movement, analysis of documents related to the movement, and observations of the movement's activities and events. The data obtained was then analyzed descriptively and interpretively to understand the dynamics of the movement, the thinking of the actors, and their implications in social and religious contexts. The main result of this research is a deeper understanding of the liberal Islamic movement and the role of da'wah in the movement. This research reveals that the liberal Islamic movement aims to reform the understanding of Islam to make it more inclusive, tolerant and relevant to current developments. This movement uses various da'wah strategies, such as the use of social media, open religious teaching, and interfaith dialogue, to spread liberal thinking in Islam. The results of this research also show that the liberal Islamic movement faces challenges and controversy in society. Some parties consider this movement to be a deviation from actual religious teachings, while others see it as an attempt to reform the understanding of Islam to make it relevant to modern times. This controversy created fierce debate among Muslims and the wider community. The conclusion of this research is that the liberal Islamic movement is a complex and controversial phenomenon. Da'wah plays an important role in spreading liberal thoughts in Islam. This movement offers a more open and inclusive interpretation of religion, emphasizing the principles of freedom of thought, tolerance and a contextual understanding of Islamic teachings. Although controversial, this movement reflects an attempt to reform the understanding of Islam to make it relevant to modern times. Keywords: Religious Identity, Da'wah, Islam, Liberal   Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memahami fenomena gerakan Islam liberal dan peran dakwah dalam gerakan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman gerakan Islam liberal, tujuan mereka, serta strategi dakwah yang digunakan untuk menyebarkan pemikiran liberal dalam Islam. Desain penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini melibatkan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dengan anggota gerakan Islam liberal, analisis dokumen yang terkait dengan gerakan tersebut, dan observasi terhadap kegiatan dan acara gerakan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif dan interpretatif untuk memahami dinamika gerakan, pemikiran para aktor, dan implikasinya dalam konteks sosial dan agama. Hasil utama dari penelitian ini adalah pemahaman yang lebih mendalam tentang gerakan Islam liberal dan peran dakwah dalam gerakan tersebut. Penelitian ini mengungkapkan bahwa gerakan Islam liberal memiliki tujuan untuk mereformasi pemahaman Islam agar lebih inklusif, toleran, dan relevan dengan perkembangan zaman. Gerakan ini menggunakan berbagai strategi dakwah, seperti penggunaan media sosial, pengajaran agama yang terbuka, dan dialog antaragama, untuk menyebarkan pemikiran liberal dalam Islam. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa gerakan Islam liberal menghadapi tantangan dan kontroversi dalam masyarakat. Beberapa pihak menganggap gerakan ini sebagai bentuk penyimpangan dari ajaran agama yang sebenarnya, sementara yang lain melihatnya sebagai upaya untuk mereformasi pemahaman Islam agar relevan dengan zaman modern. Kontroversi ini menciptakan perdebatan yang sengit di kalangan umat Islam dan masyarakat luas. Kesimpulan dari penelitian ini adalah gerakan Islam liberal merupakan fenomena yang kompleks dan kontroversial. Dakwah memainkan peran penting dalam menyebarkan pemikiran liberal dalam Islam. Gerakan ini menawarkan interpretasi agama yang lebih terbuka dan inklusif, dengan menekankan pada prinsip-prinsip kebebasan berpikir, toleransi, dan pemahaman yang kontekstual terhadap ajaran Islam. Meskipun kontroversial, gerakan ini mencerminkan upaya untuk mereformasi pemahaman Islam agar relevan dengan zaman modern. Kata Kunci: Identias keagamaan, Dakwah, Islam Liberal
MODERASI BERAGAMA DAN PERAN GURU DALAM PENANAMANNYA DI SEKOLAH Darma Yanti, Annisa; Masduki; Syafiuddin, Fauzan Azima; Siregar, Syahruddin
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i1.4881

Abstract

Indonesia is a country with all the diversity that exists. Ethnic, cultural and religious diversity are some of the forms of diversity that exist in Indonesia. Prolonged conflicts in the name of religion often occur in various regions in Indonesia. Mosques are burned, churches are attacked, religious leaders are subjected to cruelty by irresponsible hands, suicide bombings in the name of religion, radicalism and discrimination in the name of sara issues often occur and become national news. For this reason, an attitude or perspective is needed to be a resolution to the conflict. Religious moderation is a moderate perspective, attitude and behavior in religion, namely understanding and practicing religious teachings without extremes. Neither extreme right nor extreme left. Basically, normative Islam itself has a wasathiyah character, moderation. Religious moderation education in strengthening national insight is important especially in recent years the diversity on earth Indonesia is being tested by the existence of extreme religious attitudes expressed by a group of people in the name of religion. This happens in actions in the real world and statements in cyberspace. This exclusive and intolerant group is dangerous for the religious climate in Indonesia. This research is a type of library research. What is called library research or often also called library studies, is a series of activities using library data collection methods, reading and recording and processing research materials. The world of education is the foundation of hope for strengthening the values of religious moderation. The high participation of the Indonesian people in establishing and organizing religion-based educational institutions needs to be directed to strengthen this idea. Religious moderation education needs to be developed along with the character building of students. Religious moderation education is expected to answer the target of the mental revolution of students to continue to develop the values of peace and tolerance.  Keywords : Religious Moderation, Teacher Role, School   Indonesia merupakan negara dengan segala keragaman yang ada. Keragaman suku bangsa, budaya dan agama merupakan beberapa bentuk keberagaman yang ada di Indonesia. Konflik berkepanjangan atas nama agama sering kali terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Masjid dibakar, Geraja diserang, tokoh agama menjadi sasaran kekejaman tangan-tangan tidak bertanggung jawab, bom bunuh diri mengatasnamakan agama, radikalisme dan diskriminasi atas nama isu sara seringkali terjadi dan menjadi pemberitaan nasional. Untuk itu dibutuhkan suatu sikap atau cara pandang untuk dapat menjadi resolusi dari konflik tersebut. Moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap dan perilaku dalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem. Baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Pada dasarnya normatif Islam itu sendiri mempunyai watak wasathiyah, moderasi. Pendidikan moderasi beragama dalam penguatan wawasan kebangsaan menjadi penting apalagi dalam beberapa tahun terakhir keragaman di bumi Indonesia sedang diuji dengan adanya sikap keberagamaan yang ekstrem yang diekspresikan oleh sekelompok orang yang mengatas namakan agama. Hal ini terjadi dalam aksi-aksi di dunia nyata maupun statement di dunia maya. Kelompok ekslusif dan intoleran ini membahayakan bagi iklim keberagamaan di Indonesia. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian dengan jenis riset kepustakaan. Apa yang disebut dengan riset kepustakaan atau sering juga disebut studi pustaka, merupakan serangkaian kegiatan yang dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian. Dunia pendidikan menjadi tumpuan harapan untuk penguatan kembali nilai-nilai moderasi beragama. Partisipasi masyarakat Indonesia yang tinggi dalam mendirikan dan menyelenggarakan lembaga pendidikan berbasis agama, perlu diarahkan untuk menguatkan gagasan ini. Pendidikan moderasi beragama perlu dikembangkan beriringan dengan pembangunan karakter peserta didik. Pendidikan moderasi beragama diharapkan menjawab sasaran revolusi mental para peserta didik untuk terus mengembangkan nilai-nilai kedamaian dan toleransi. Kata kunci : Moderasi Beragama, Peran Guru, Sekolah
LOGIKA EMPIRISME IBNU TAIMIYYAH DAN RELEVANSINYA TERHADAP STABILITAS EPISTEMOLOGI ISLAM Muhammad Aviv Nafiudin
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i1.5165

Abstract

Islamic civilization in its golden age is a civilization built by the Islamic intellectual tradition with all its developments in intuitive, textual, rational, and empirical areas. However, while Islamic knowledge in the intuitive, textual, and rational areas can be witnessed today, it is not the case with knowledge concerning the empirical area which seems to sink from the paradigm of Islamic thought. Therefore, this research aims to explore the logical structure of Ibn Taymiyyah's empiricism and see its relevance to the stability of Islamic epistemology. To answer these questions, this study uses a qualitative method with the type of library research that refers to two works of Ibn Taymiyyah "Naqdh al-Manthiq" and "al-Radd 'ala al-Manthiqiyyin", while the theory used is the framework of empiricism epistemology. This study found that Ibn Taymiyyah's criticism of Aristotelian formal logic (deductive-syllogistic) which is deeply rooted in the Islamic intellectual tradition is the thing that led to the formulation of the empiricism logic. While Ibn Taymiyyah deconstructed the deductive style of thought, indeed at the same time he had formulated the logic of empiricism, that the essence of natural reality is everything as far as it is particular-concrete, which to capture it requires inductive reasoning in the form of sensory observation, particular syllogism, and analogical reasoning. Finally, this finding has its urgency and contribution to the stability and comprehensiveness of Islamic epistemology. Keyword: Epistemology; Naqdh al-Manthiq; al-Radd ‘ala al-Manthiqiyyin; Deductive; Inductive.   Peradaban Islam pada masa keemasannya adalah peradaban yang dibangun oleh tradisi intelektual Islam dengan segala perkembangannya baik dalam wilayah intuitif, tekstual, rasional, maupun empiris. Namun demikian, sementara ilmu pengetahuan Islam dalam wilayah intuitif, tekstual, dan rasional dapat disaksikan perkembangannya hingga dewasa ini, tidak halnya dengan pengetahuan yang menyangkut wilayah empiris yang seakan tenggelam dari paradigma pemikiran Islam. Oleh karenanya, penelitian ini bertujuan untuk menggali struktur logika empirisme Ibnu Taimiyyah dan melihat relevansinya terhadap stabilitas epistemologi Islam. Untuk menjawab persoalan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan model library research yang mengacu pada dua karya Ibnu Taimiyyah “Naqdh al-Manthiq” dan “al-Radd ‘ala al-Manthiqiyyin”, sementara teori yang digunakan adalah kerangka epsitemologi empirisme. Penelitian ini menemukan bahwa kritik Ibnu Taimiyyah terhadap logika formal Aristotelian (deduktif-silogistik) yang mengakar kuat dalam tradisi intelektual Islam adalah hal yang melatarbelakangi gagasan logika empirismenya. Sementara Ibnu Taimiyyah mendekonstruksi corak pemikiran deduktif tersebut, sungguh pada saat yang sama ia telah merumuskan logika empirismenya, bahwa hakikat dari realitas kealaman adalah segala sesuatu sejauh ia bersifat partikular-konkret, yang untuk menangkapnya diperlukan penalaran induktif yang berupa observasi indrawi, silogisme partikular dan penalaran analogis. Pada akhirnya, temuan ini memiliki urgensi dan kontribusinya tersendiri terhadap stabilitas dan komperhensifitas epistemologi Islam. Kata kunci: Epistemologi; Naqdh al-Manthiq; al-Radd ‘ala al-Manthiqiyyin; Deduktif; Induktif.
BERAGAMA BAHAGIA UNTUK BINA DAMAI: KAJIAN ATAS TEORI KEMATANGAN BERAGAMA WILLIAM JAMES Ismail, Roni
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i1.5277

Abstract

In the ideal or normative terms, all religions teach the tenet of peace, so that they express a "friendly" face. However, in historical reality, religion often displays an "angry" face and is used as a tool for hostility, hatred, violent conflict, and even war. Cassanova calls this the Janus face or double face of religion. Religious scholars, practitioners and academics have made various efforts to return religion to its ideal face as a power of peace, brotherhood, unity and humanity. Some propose a peaceful, inclusive, pluralist, dialogical, archipelagic, progressive religiosity, and so on. This article offers a happy religion or religiosity through a psychology of religion approach as participation in discussions of religion for peace, through a study of William James' mature religious theory. James' four mature religious criteria are: (1) always feeling God's presence in life, (2) His presence gives rise to surrender to God and His values, (3) self-surrender gives rise to happiness, freedom and loss of ego, and , (4) changing emotions into love and harmony, are indicators of religious happiness. Happy religiousity are unlikely to hurt, hate, get involved in hostility and violent conflict in the name of religion, but are instead able to spread happiness and peace to others. Happy religiosity are able to build peace, namely: maintaining the sacredness of life and upholding the ideal of life's happiness. Keywords: Happy Religiosity, Mature Religion William James, Peace. Secara idealitas-normatif, semua agama memuat ajaran damai sehingga berwajah “ramah”. Akan tetapi, secara realitas-historis seringkali agama menampilkan wajah “marah” dijadikan alat permusuhan, kebencian, konflik kekerasan, bahkan perang. Cassanova menyebut ini sebagai janus face atau wajah ganda agama. Para agamawan, praktisi dan akademiki telah melakukan berbagai upaya untuk mengembalikan agama pada idealitasnya sebagai pejuang kedamain, persaudaraan, persatuan, dan kemanusiaan. Ada yang menggagas beragama damai, inklusif, pluralis, dialogis, nusantara, berkemajuan, dan lain-lain. Artikel ini menawarkan beragama bahagia melalui pendekatan psikologi agama sebagai keikutsertaan dalam diskusi fungsi beragama untuk perdamaian, melalui kajian atas teori beragama matang dari William James. Empat kriteria beragama matang James, yaitu: (1) merasakan selalu kehadiran Tuhan dalam hidup, (2) kehadiran-Nya memunculkan kepasrahan kepada Tuhan dan nilai-nilai-Nya, (3) kepasrahan diri memunculkan kebahagiaan, kebebasan, dan hilang ego, dan, (4) mengubah emosi menjadi cinta dan harmoni, merupakan indikator kebahagiaan keagamaan. Orang beragama bahagia tidak mungkin menyakiti, membenci, terlibat permusuhan dan konflik kekerasan atas nama agama, tetapi justru mampu menebar kebahagiaan dan perdamaian kepada sesama. Orang beragama bahagia mampu membangun perdamaian, yaitu: menjaga sakralitas kehidupan dan menjunjung ideal kebahagiaan hidup. Kata Kunci: Beragama Bahagia, Beragama Matang William James, Perdamaian.
AL-TASĀMUH OR TOLERANCE IN THE QURAN AND SUNNAH AND CLAIMS OF THE DENIERS Klaina, Mekki; Putra, Ansusa
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i1.5367

Abstract

This research examines the topic of al- Tasāmuh in the Quran and Sunnah and how it aligns with the meaning declared in 1995. It is evident that there is a difference in meaning between the two. Those who deny al- Tasāmuh in Islam rely on a different concept that seeks to separate from religious and cultural identity and rely on secularism. This research shows that the scope of tolerance is wide in Islam, which gives Muslims and non-Muslims the right to coexist in safety. It is connected with what a person has the right to be tolerant in. As for Allah's rights, they do not fall under this right. Moreover, freedom has limits to prevent self-harm or harming others. Islam does not impose religion on people, but focuses on dialogue and persuasion. To promote positive tolerance, emphasis should be placed on teaching future generations how to interact with others, and laws should protect the rights of all without tolerance for disrespect for religious sanctities or the spread of deviant behavior. Keyword: Al-Tasāmuh; Tolerance; Quran and Sunnah; Islamophobia.   Kajian ini membahas tentang topik al-Tasāmuh dalam Al-Quran dan Sunnah serta sejauh mana maknanya sesuai dengan apa yang disebutkan oleh UNESCO pada tahun 1995. Jelas sekali ada perbedaan makna di antara keduanya. Mereka yang menolak al-Tasāmuh dalam Islam mengandalkan berbagai konsep yang mencoba memisahkan diri dari identitas agama dan budaya serta mengandalkan sekularisme. Kajian ini menunjukkan bahwa ruang lingkup toleransi dalam Islam sangat luas, yang memberikan hak kepada umat Islam dan non-Muslim untuk hidup bersama dengan aman. Itu terkait dengan apa yang menjadi hak seseorang untuk toleran. Kebenaran Tuhan tidak termasuk dalam kebenaran ini. Selain itu, kebebasan memiliki batasan untuk mencegah kerugian bagi diri sendiri atau orang lain. Islam tidak memaksakan agama pada manusia, tetapi berfokus pada dialog dan persuasi. Untuk mempromosikan toleransi positif, perlu ditekankan pendidikan generasi mendatang tentang bagaimana berinteraksi dengan orang lain, dan undang-undang harus melindungi hak-hak semua orang tanpa menoleransi kerusakan kesucian agama atau berupaya menyebarkan perilaku menyimpang. Kata kunci: Al-Tasāmuh; Toleransi; Quran dan Sunnah; Islamofobia

Page 1 of 1 | Total Record : 10