cover
Contact Name
Jurnal Living Islam
Contact Email
living.islam@uin-suka.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
living.islam@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Living Islam: Journal of Islamic Discourses
ISSN : 26216582     EISSN : 26216590     DOI : -
Living Islam: Journal of Islamic Discourses merupakan jurnal yang berada di bawah naungan Prodi Pascasarjana Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Living Islam: Journal of Islamic Discourses didesain untuk mewadahi dan mendialogkan karya ilmiah para peneliti, dosen, mahasiswa dan lain-lain dalam bidang studi: Filsafat Islam, al-Qur'an dan Hadis, dan Studi Agama dan Resolusi Konflik, baik dalam ranah perdebatan teoritis, maupun hasil penelitian (pustaka dan lapangan). Living Islam: Journal of Islamic Discourses terbit dua kali dalam satu tahun, yakni pada bulan Mei dan November.
Arjuna Subject : -
Articles 132 Documents
TRADISI SAKRAL DAN TRADISI POPULIS DALAM MASYARAKAT MUSLIM DI INDRAMAYU Mubarok, Frenky
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 3 No. 2 (2020)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v3i2.2288

Abstract

Masyrakat tidak dapat dilepaskan dengan tradisi yang ada di dalamnya. Salah satu unsur yang membentuk tradisi tersebut adalah keberadaan agama yang menjadi keyakinan masyrakat. Bagi masyarakat Jawa – Indramayu tradisi tidak hanya bersifat sakral namun juga dikemas secara populis sehingga dapat berpengaruh dalam perkembangan sosial dan ekonomi masyrakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk perkembangan tradisi sakral dan tradisi populis di dalam masyrakat Indramayu dan pengaruhnya bagi masyrakat itu sendiri. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis yang diambil dari literatur maupun pengolahan data lapangan yang penulis dapatkan. Agar cakupan penelitian ini lebih terfokus maka penulis membatasi pembahasan penelitian ini pada tradisi sunatan, rasulan dan arak-arakan depok. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa terdapat ambivalensi dalam relasi antara tradisi sakral dan tradisi populis di dalam masyrakat Indramayu. Hal tersebut karena meskipun masyarakat Indramayu tatap memelihara keyakinannya terhadap agama dengan menjaga tradisi-tadisi yang bernilai sakral, akan tetapi tetap terbuka terhadap budaya populis yang memberikan peluang terjadinya pelanggaran etika dan moral yang ada di dalam agama. Meskipun demikian dalam kedudukannya di masyarkat, kedua tradisi ini berjalan beriringan bahkan saling melengkapi.
KONTRIBUSI FILSAFAT PERDAMAIAN ERIC WEIL BAGI RESOLUSI KONFLIK MASYARAKAT MAJEMUK Taufiq, Thiyas Tono
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v4i1.2780

Abstract

Artikel ini berupaya menguraikan kontribusi pemikiran filsafat perdamaian Eric Weil bagi resolusi konflik menuju terciptanya budaya damai dalam bingkai masyarakat majemuk. Di tengah berbagai persoalan kekerasan dan konflik yang berkepanjangan yang melanda dunia, filsafat perdamaian Eric Weil mencoba menjelaskan tautan antara filsafat dan perjuangan untuk menciptakan perdamaian dunia. Bagi Weil filsafat harus mengakar dalam kehidupan keseharian masyarakat secara luas, sehingga bisa memberikan kontribusi secara nyata dan konkrit. Selain itu, Weil mengajak untuk terjun langsung dalam masyarakat yang di dalamnya terdapat konflik dan kekerasan, sehingga diharapkan bisa menghargai pentingnya hidup damai secara bersama-sama tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lainnya. Dalam kajian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode studi pustaka dengan pendekatan hermeneutik. Poin-poin penting dari uraian kontribusi filsafat perdamaian Eric Weil bagi resolusi konflik menuju terciptanya budaya damai dalam bingkai masyarakat majemuk dapat dijabarkan sebagai berikut: Pertama, kontribusi nyata kontribusi filsafat untuk menjamin tetapnya perdamaian dan penyelesaian kekerasan dan konflik; Kedua, etika (moralty) secara universal harus ditaati oleh manusia dari berbagai konteks, karena melupakan konteks acap kali bisa tidak terwujudnya sebuah perdamaian; Ketiga, filsafat harus terbuka, kreatif dan dinamis; Keempat, Eric Weil mengajak untuk menggunakan filsafat di tengah kekerasan, sehingga dengan berfilsafat dapat membantu memecahkan persoalan-persoalan kekerasan dan konflik untuk mewujudkan perdamaian yang langgeng pada masyarakat mejemuk.
RESOLUSI KONFLIK KEAGAMAAN INTEGRATIF: STUDI ATAS RESOLUSI KONFLIK SOSIAL KEAGAMAAN AMBON Ismail, Roni
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 3 No. 2 (2020)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v3i2.2458

Abstract

This article, that is a field research result, aims to analyze the conflict resolution adopted in resolving the 1999-2002 Ambon socio-religious conflict. It was found that the Ambon conflict resolution was done by integrative conflict resolution. Integrative conflict resolution is a conflict resolution model that integrates structural and cultural resolution together. Structural conflict resolution was pursued to resolve the roots of non-religious Ambon conflict, through: security approaches such as increasing 11,250 security personnel, upgrading Korem to Maluku Military Command, and enforcing civil emergency; the role of the Government in the Malino II Peace Agreement; Sharing of Muslim-Christian political leadership in the competition of the election of government local leaders; regents; and sharing of bureaucratic positions with SKJ. Meanwhile, the cultural conflict resolution is to resolve the roots of conflicts originated from religious issue, namely: the revitalization of multiculturalism by the state religious higher education of Ambon IAIN and IAKN; revitalizing the religion peaceful value through Christian-Muslim clerics through joint dialogue, cooperation, reconciliation, greetings, and deradicalization; optimizing the FKUB's role in life dialogue; and, the revitalization of the pela gandong between Muslim and Christian countries. Integrative conflict resolution is recognized by Ambonese Muslims and Christians as a very effective in resolving the roots of Ambon conflict, so that a firm foundation of peace is built in Ambon. In 2019, Ambon won a Harmony Award from the Indonesian Minister of Religion Affairs.
TASAWUF DI ERA MODRNITAS (KAJIAN KOMPERHENSIF SEPUTAR NEO-SUFISME) Sakdullah, Muhammad
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 3 No. 2 (2020)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v3i2.2504

Abstract

Sufisme atau tasawuf merupakan buah peradaban Islam yang sangat tua, namun telah banyak mengalami revitalisasi dari masa ke masa, tidak terkecuali di era modern saat ini. Kehadirannya semakin bermakna ketika ia mampu menjadi oase di padang pasir, khususnya bagi masyarakat modern yang mengalami krisis spiritual. Ia yang dahulu dituduh sebagai penyebab kemunduran Islam, dan disikapi secara negatif oleh sebagian pemikir Islam, oleh mereka para pemikir islam progresif, seperti Fazlur Rahman, al-Faruqi, hingga Hamka, kini semakin mendapatkan tempat dalam masyarakat modern. Bahkan ia menjadi alternatif solusi yang dinantikan bagi problematika masyarakat modern saat ini.Lebih lanjut, melihat ekspektasi kehidupan modern dengan berbagai pencapaian dalam banyak bidang, seharusnya dapat mengantarkan manusia pada kehidupan yang tenang dan bahagia, namun secara nyata justru sebaliknya, bahwa pencapaian dunia saja tidak mampu untuk mengantarkan manusia pada kondisi yang diidamkan tersebut. Kenyataan ini mengisyaratkan bahwa terdapat unsur lain dari diri manusia yang menuntut untuk dipenuhi, yakni unsur kerohaniannya.Tulisan ini akan mengkaji seacra komprhensif bagaimana peran neo-sufisme atau tasawuf gaya baru dalam menyikapi kehidupan modern. Tulisan ini tergolong pada kajian pustaka dan menggunakan metode analisis-deskriptif. Melalui tulisan ini, ditemukan bahwa nilai-nilai yang terdapat pada neo-sufisme di era modern saat ini, dapat melatih jiwa, dan mental agar dapat hidup seimbang ditengah pengaruh keduniawian yang serba materialis dan hedonis dalam ketaatan kepada Sang Pencipta. Karena secara substantif, manusia yang telah memasuki alam kerohanian, ia akan menemukan dan menjalankan nilai-nilai tasawuf dalam kehidupannya berupa sifat wara’, tawadu’, qana’ah, ta’abbud, zuhud, dsb.
MENCARI KALIMATUN SAWA DALAM PLURALISME AGAMA (KAJIAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM) Nuraeni, Nuraeni
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 3 No. 2 (2020)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v3i2.2459

Abstract

Religious pluralism in Indonesia is a necessity that cannot be avoided because it adheres to diversity. As we know that in Indonesia there are six religions recognized by the government namely (Islam, Christianity, Hinduism, Hinduism, Buddhism, Catholicism and Kong hu chu) and every Indonesian citizen must embrace one of these religions, besides that human beings themselves are part of pluralism itself, so we live in pluralism.Normatively, doctrinaire of religion always teaches kindness, love and harmony. But sociological reality shows the opposite, religion is actually used as a source of ongoing conflict, both internal and external conflicts, such as clashes between the Early Church Christians with Jews, Christians with adherents of Roman religion (imperial religion) in the first century to the third century. Not much different from that in Indonesia, so we need to find a meeting point or Sawa sentence, looking for a conducive and prospective approach to the realization of sacred religious values (fundamental values) to be applicable solutions in looking at this plural future. 
PESAN AL-QUR’AN TENTANG DAKWAH MODERAT Baidowi, Ahmad; Ma'rufah, Yuni
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v4i1.2779

Abstract

History shows that the success of Islamic da'wa is not through the ways of violence. Instead, Islam has succeeded in expanding to the communities in most places because it has been preached moderately so that the communities can accept Islam more easily. Moderate and non-violent attitude in conveying da'wa is not only taught by Al-Qur'an or exemplified by Prophet Muhammad SAW, but also acted by the preachers of Islam within the communities. These concepts of non-violence have been successfully applied in various models and approaches for the sake of the people as the subject of Islamic da'wa. This study shows that adaptation is an important point in a moderate approach of da'wa that support the success of the da'wa to societies. In other words, the socio-cultural and psychological approach has been the alternative way in Islamic da’wa in order that Islam becomes more easily accepted by the communities.
KORESPONDENSI MANUSIA DAN KOSMOS DALAM KOSMOLOGI SUFISME IBNU 'ARABI DAN ACHMAD ASRORI AL-ISHAQI Yaqin, Ainul
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v4i1.2524

Abstract

This research aims to determine the ihwal of correspondence between humans and cosmos according to the Sufism cosmological’s thingking of Ibn ‘Arabi and al-Ishaqi, which of course these two ideas will be compared. This ihwal correspondence caused a polemic because it was closely related to divine thing. In the Sufism cosmology, humans and the cosmos were placed in a position that aimed at reflecting God’s self-manifestation. To determine the ihwal correspondence, this research use library research method. Meanwhile to achieve the result of data analysis as expected, the study uses inductive and comparative method also analysis from hermeneutic theory of Hans-Georg Gadamer. The result of this research determine that Ibn ‘Arabi and al-Ishaqi approve this two entity that become one each other to keep and preserve the actualization of God’s self-manifestation. But, according al-Ishaqi, this correspondence places the universe as part of human, because human is macrocosm and cosmos is microcosm. This thought different with Ibn ‘Arabi which positions human as part of the universe with the cosmic structure that said human is microcosm and cosmos is macrocosm. Despite different this specification, human and cosmos have to complement each other to achieve His-determination like interaction between subjects each other.
PANAS PELA PENDIDIKAN DI SEKOLAH: DESEGREGASI ISLAM DAN KRISTEN MELALUI KEARIFAN LOKAL Hasudungan, Anju Nofarof
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 3 No. 2 (2020)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v3i2.2352

Abstract

Permasalahan terbesar yang belum terselesaikan saat resolusi konflik Ambon tercapai pada 12 Februari 2002 adalah adanya segregasi antara Islam dan Kristen. Keadaan ini berpotensi menimbulkan terjadinya konflik serupa di masa depan. Adanya polarisasi akibat politik identitas di masa pemilihan presiden Republik Indonesia tahun 2014 dan 2019 serta beredarnya fake news bernuansa rasisme di media sosial memperparah keadaan. Panas pela pendidikan dilakukan dengan tujuan untuk  desegregasi penganut agama Islam dan Kristen melalui pendidikan yang dikemas dengan budaya lokal. Pelaksanaan panas pela pendidikan antara SMPN 9 Kota Ambon yang 99% warga sekolahnya beragama Kristen/Katolik dengan SMPN 4 Salahutu Liang Kabupaten Maluku Tengah yang 100 % warga sekolahnya beragama Islam. Panas pela pendidikan memiliki arti mempererat kembali hubungan persaudaraan yang sebelumnya telah dibangun oleh para leluhur dengan cara mengadakan upacara secara berkala dan melibatkan seluruh warga sekolah. Kedua sekolah tersebut mengadakan panas pela pendidikan pada 29 Januari 2018 di SMPN 9 Kota Ambon. Tanpa adanya segregasi peserta didik kedua sekolah dapat menampilkan berbagai atraksi budaya seperti tari-tarian, lagu, dan puisi, pembuatan film perdamaian yang semuanya mengarah dan mengajak para siswa satu sama lain untuk hidup saling menyayangi walaupun berbeda agama, suku, dan golongan. Kata Kunci: Panas Pela Pendidikan, Desegregasi, Islam-Kristen, Sekolah
TRADISI MOING KE KUBURAN PADA 1 SYAWAL HARI RAYA IDUL FITRI DI DESA SIMPANG EMPAT, KECAMATAN TANGARAN, KABUPATEN SAMBAS Wiryawan, Hadi
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 3 No. 2 (2020)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v3i2.2294

Abstract

AbstractThis paper would like to explain the hadith study of the tradition of "moing to the grave" conducted on 1 Shawwal of Idul Fitri in Simpang Empat village, Tangaran District, Sambas Regency, West Kalimantan Province. As for the data collection process, it is more dominant by taking the results of the interviews, also by including the literature that discusses this. The results of this study indicate that the tradition of moing to the grave has existed since the past and continues to develop along with the times. In addition, the tradition has Islamic values in it, namely: silaturahim, forgiving, and praying. Besides this tradition shows a lot of wisdom in it namely; remembering death, friendship, increasing the spirit of worship, and the most important thing is getting the reward.Keyword: moing ke kuburan; ziarah kubur; idul fitri AbstrakTulisan ini hendak menjelaskan kajian hadis mengenai tradisi “moing ke kuburan” yang dilakukan pada 1 Syawal hari raya Idul Fitri di desa Simpang Empat, Kecamatan Tangaran, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. Adapun dalam proses pengambilan data lebih dominan dengan mengambil dari hasil wawancara, juga dengan menyertakan literatur-literatur yang membahas hal demikian. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwasanya tradisi moing ke kuburan telah ada sejak dahulu dan terus berkembang dengan seiring perkembangan zaman. Selain itu, tradisi tersebut memiliki nilai-nilai Islam di dalamnya yakni: silaturahmi, bermaaf-maafan, dan berdoa. Selain itu tradisi tersebut menunjukkan banyak hikmah di dalamnya yakni; mengingat kematian, silaturahmi, meningkatkan semangat beribadah, dan yang paling penting adalah mendapatkan pahala.Kata kunci: moing ke kuburan; ziarah kubur; idul fitri
PENAFSIRAN KONTEKSTUAL AL-QUR’AN: TELAAH ATAS PEMIKIRAN ABDULLAH SAEED Asroni, Ahmad
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v4i1.2782

Abstract

This article discusses Abdullah Saeed's thought on contextual exegesis of the Quran. The background of Abdullah Saeed's thought on the importance of conducting contextual exegesis was based on the solid domination of literal (textual) commentary of the Quran, particularly regarding ethics-legal verses. Based on Saeed's point of view, ethic-legal verses commentary must account for social changes to support the close relationship between Quran and the current Muslims. Several intellectual figures influenced Abdullah Saeed's thoughts related to contextual exegeses, such as Fazlur Rahman, Ghulam Ahmad Parvez, Nasr Hamid Abu Zayd, Mohammed Arkoun, Farid Esack, and Khaled Abou El Fadl. The theoretical foundations of the Quran contextual exegesis proposed by Abdullah Saeed can be traced back through his notion on revelation concept, the flexibility of meaning, and text meaning as a commentary.  

Page 6 of 14 | Total Record : 132