cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 2 (2012)" : 8 Documents clear
KARAKTERISTIK SINYAL EMISI ULF YANG BERHUBUNGAN DENGAN PREKURSOR GEMPABUMI DI SUMATERA, STUDI KASUS: GEMPABUMI PADANG 2009 DAN GEMPABUMI MENTAWAI 2010 Gunawan Ibrahim; Suaidi Ahadi; Sarmoko Saroso
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.133 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v13i2.122

Abstract

Karakteristik prekursor gempabumi yang berhubungan dengan anomali emisi ULF (Ultra Low Frequency, f < 1 Hz) medan magnet bumi dianggap paling potensial untuk studi prekursor gempa jangka pendek. Gempabumi Padang 2009, Mw = 7,6 dan gempabumi Mentawai 2010, Mw=7,8 masing-masing berjarak 141 km dan 358 km dari KTB (Kototabang, Sumatera) sangat menarik untuk diteliti hubungannnya dengan anomali emisi ULF tersebut. Kedua gempabumi tersebut memiliki magnitudo > 7 dengan jarak yang berbeda. Metode yang dilakukan adalah menganalisis data magnet bumi menggunakan periode 10 - 45 detik yang berasosiasi dengan gangguan magnet bumi eksternal dan hubungannya dengan prekursor gempabumi. Untuk memonitor dari gangguan eksternal digunakan dua indeks magnet bumi, yaitu Dst (untuk lintang rendah) dan E Dst (untuk ekuator), polarisasi power ratio komponen Z/H yang dibandingkan dengan stasiun referensi DAV (Davao Filipina) dan DAW (Darwin, Autralia) yang merupakan jaringan MAGDAS untuk mewakili variasi medan magnet bumi di ekuator. Selanjutnya dilakukan polarisasi power ratio antara dua stasiun referensi yaitu [HKTB/HDAV] dan [HKTB/HDAW]. Hasilnya diperoleh karakteristik dan lamanya anomali dari sinyal prekursor untuk kedua gempabumi tersebut adalah gempabumi Padang sebesar 23 hari dan gempabumi Mentawai 5 hari. Characteristics of earthquake precursors associated with anomalous ULF emission (Ultra Low Frequency, f <1 Hz) geomagnetic field is considered the most potential for the study of short-term earthquake precursors. Padang Earthquake 2009, Mw = 7.6 and Mentawai earthquake 2010, Mw = 7.8 respectively is 141 km and 358 km from KTB (Kototabang, Sumatra) is very interesting to study the anomaly its relationship ULF emissions. Both earthquakes had magnitudes> 7 and different distances. The method used is to analyze data using period of 10-45 seconds associated with external geomagnetic disturbance and its relationship with earthquake precursors. To monitor geomagnetic disturbance use two indices, namely Dst (low-latitude) and E Dst (equator). Polarization power ratio Z/H were compared to reference station DAV (Davao, Philippines) and DAW (Darwin, Autralia) which is to represent the network Magdas geomagnetic field variations at the equator. Further polarization power ratio between the two reference stations are [HKTB/HDAV] and [HKTB/HDAW]. The results obtained from the signal characteristics and anomali ULF emission for both earthquake precursors Padang earthquake for 23 days and 5 days Mentawai earthquake.
KAJIAN POTENSI BAHAYA GEMPABUMI DAERAH SUMBAWA BERDASARKAN EFEK TAPAK LOKAL Bambang Sunardi; Daryono Daryono; Januar Arifin; Pupung Susilanto; Drajat Ngadmanto; Boko Nurdiyanto; Sulastri Sulastri
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.171 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v13i2.127

Abstract

Telah dilakukan pengukuran mikrotremor di 71 titik di Sumbawa. Daerah penelitian dibatasi pada koordinat 117.21250°-117.22750°BT dan 8.7850°-8.8150°LS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dinamis kondisi geologi lokal diantaranya frekuensi resonansi (fo) dan indeks kerentanan seismik (Kg) serta nilai percepatan getaran tanah (PGA) menurut formulasi Kannai. Pengukuran mikrotremor dilakukan pada masing-masing titik pengukuran selama 30 menit dengan menggunakan Digital Portable Seismograph. Dari analisa data diperoleh nilai frekuensi resonansi (fo) yang relatif tinggi berkisar antara 24,4 hingga 48,14 Hz dan nilai indeks kerentanan seismik (Kg) yang relatif rendah berkisar antara 0,1 hingga 4,8. Hal ini berkaitan erat dengan kondisi geologi lokal berupa batuan yang masif, sehingga daerah dengan frekuensi resonansi tinggi dan indeks kerentanan yang rendah relatif stabil secara seismik. Nilai PGA di daerah kajian berkisar antara 0,25 hingga 0,36 g. Nilai PGA di daerah kajian menunjukkan variasi yang tidak terlalu mencolok yang menunjukkan nilai PGA lebih banyak dipengaruhi oleh input nilai periode dominan di daerah kajian. Microtremor measurements have been done at 71 points in Sumbawa. The research area is restricted to the coordinate 117.22750°-117.21250°E and 8.7850°-8.8150°S. This study aims to determine the local dynamic characteristics including the resonance frequency (fo), seismic vulnerability index (Kg) and peak ground acceleration (PGA) according to Kannai formulation. Microtremor measurements carried out at each point for 30 minutes using Digital Portable Seismograph. From the data analysis obtained the resonance frequency (fo) value are relatively high ranging from 24.4 to 48.14 Hz and seismic vulnerability index (Kg) values are relatively low ranging from 0.1 to 4.8. It is closely related to local geological conditions in the form of a massive rock, so that area with a high resonance frequency and relatively low vulnerability index is seismically stable. PGA values in the study area ranged from 0.25 to 0.36 g. PGA values showed a less variations that indicate PGA value is more influenced by the input value of the dominant period in the study area.
KETERKAITAN ANTARA MONSUN INDO-AUSTRALIA DENGAN VARIABILITAS MUSIMAN CURAH HUJAN DI BENUA MARITIM INDONESIA SECARA SPASIAL BERBASIS HASIL ANALISIS DATA SATELIT TRMM Danang Eko Nuryanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.924 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v13i2.123

Abstract

Studi mengenai aktivitas curah hujan Benua Maritim Indonesia (BMI) menjadi penting karena dikaitkan dengan aktivitas Monsun Indo-Australia. Analisis spasial digunakan untuk memberikan gambaran secara luas mengenai curah hujan spasial BMI terkait dengan Monsun Indo-Australia. Data yang dipergunakan adalah data curah hujan spasial dari Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) dan angin zonal 850 mb, guna menghitung indeks Monsun Indo-Australia, dari National Centers for Environmental Prediction (NCEP). Setelah dihitung indeks Monsun Indo-Australia, dipilih Australian Monsoon Index 0 AUSMI0 dan AUSMI3, maka selanjutnya dilakukan korelasi lag (waktu jeda) pada masing- masing indeks, terhadap curah hujan spasial. Diperoleh hasil bahwa Monsun Indo-Australia cenderung tidak berkaitan terhadap variabilitas musiman curah hujan BMI saat periode JJA. Wilayah BMI dengan variabilitas musiman curah hujan mempunyai keterkaitan paling kuat saat periode DJF adalah Lampung, Jawa, Kalimantan bagian selatan dan Makasar. Wilayah BMI dengan variabilitas musiman curah hujan mempunyai keterkaitan yang sangat kuat pada saat dan sebelum Monsun Indo-Australia aktif. Study of Indonesian Maritime Continent (IMC) rainfall activity is important because of the relationship with Indo- Australian Monsoon. Spatial analysis is used to provide a broad overview of the IMC spatial rainfall associated with Indo- Australian monsoon. This study uses the spatial rainfall data from Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) and 850 mb zonal wind from National Centers for Environmental Prediction (NCEP), in order to calculate Indo-Australian Monsoon Index. Choosing AUSMI0 and AUSMI3 Australian Monsoon Index after calculating the Indo-Australian Monsoon index is to conduct lag-time correlation on each index to spatial rainfall. The results show that the Indo-Australian Monsoon region do not tend to be associated with JJA period of IMC seasonal rainfall variability. The IMC region with seasonal rainfall variability that linked most strongly during DJF period is Lampung, Java, southern Kalimantan and Makassar. The IMC region with seasonal rainfall variability has a very strong relationship at the time and before activity the Indo-Australian Monsoon.
ANALISIS SUMBER GEMPABUMI PADA SEGMEN MENTAWAI (STUDI KASUS: GEMPABUMI 25 OKTOBER 2010) Wiko Setyonegoro; Bambang Sunardi; Sulastri Sulastri; Jimmi Nugraha; Pupung Susilanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.027 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v13i2.128

Abstract

Untuk menentukan desain parameter sumber gempabumi dilakukan melalui pendekatan analisis kondisi geologi area penelitian di segmen Mentawai. Data historis yang dijadikan acuan dalam penelitian ini adalah gempabumi Mentawai 25 Oktober 2010. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemodelan sumber gempabumi sebagai pembangkit tsunami pada segmen Mentawai yang difokuskan pada kejadian gempabumi dan tsunami Mentawai 25 Oktober 2010. Pemodelan tersebut berdasarkan pada empat skenario sumber gempabumi. Skenario pertama dan kedua menggunakan data USGS, sedangkan skenario ketiga dan keempat menggunakan data BMKG. Metode yang digunakan adalah metode Wells and coppersmith dan distribusi gempabumi susulan (aftershock). Setelah diakukan pengolahan data sumber gempabumi dengan software Tsunami L-2008, diperoleh hasil berupa run-up tsunami yang memiliki nilai dengan pola distribusi yang mendekati hasil survei lapangan dari BMKG dan Atsushi Koresawa (JICA, Japan), yaitu distribusi run-up yang tinggi di P. Pagai Selatan dan menurun di P. Pagai Utara. Hasil dari pemodelan yang paling mendekati hasil survei yaitu pemodelan sumber gempabumi berdasarkan mekanisme dari CMT USGS dan mengacu pada distribusi gempabumi susulan dengan mekanisme strike: 319, dip : 7, slip: 7 m, luas sesar: 180 m x 110 m, depth: 12 m. To determine design of earthquake source parameters, it is done by analysis of geological conditions approach of research area in Mentawai segment. Refference of historical data in this study is Mentawai earthquake October 25th, 2010. This research aims to earthquake source modeling as a tsunami triggering in Mentawai segment that is focused on the earthquakes and tsunami event of Mentawai October 25, 2010. This modeling is based on four scenarios of earthquake sources. The first and second scenario uses USGS data, while the third and fourth scenarios uses BMKG data. The used method is Wells and coppersmith method and aftershock earthquakes distribution. After the earthquake sources data processing is done by using Tsunami L-2008 software, it is obtained results as tsunami run-up having  values close to the distribution patterns of the BMKG and Atsushi Koresawa (JICA, Japan) field surveis, that is the distribution of high run-up in Pagai island and decrease in North Pagai island. The modeling results that is closest to the survei result is the earthquake sources modeling based on CMT USGS mechanisms and refers to aftershocks distribution with strike mechanism: 319, dip:7, slip: 7 m wide fault: 180 mx 110 m, depth: 12 m.
SIMULASI ROB DI SEMARANG MENGGUNAKAN MODEL HIDRODINAMIKA 2D Muhammad Najib Habibie; Agus Hartoko; Nining Sari Ningsih; Muhammad Helmi; Siswanto Siswanto; Roni Kurniawan; Andri Ramdhani; Rahayu Sapta S. Sudewi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.409 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v13i2.124

Abstract

Semarang merupakan salah satu kawasan yang sering mengalami genangan air pasang (rob) yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: faktor meteorologi, laju penurunan tanah dan faktor astronomi (pasang surut). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kehandalan model dan peran faktor meteorologi pada simulasi genangan rob di wilayah Semarang.  Metode yang digunakan adalah analisa kenaikan tinggi muka laut beserta penurunan muka tanah, simulasi model dengan Hidrodinamika 2D serta verifikasi menggunakan data citra satelit IKONOS untuk mengetahui wilayah genangan. Dari simulasi model hidrodinamika 2D pada tanggal 13 Juni 2009 - bertepatan dengan siklon tropis Linfa di Laut Cina Selatan - yang memperhitungkan komponen pasang surut, tekanan dan angin diperoleh hasil yang menunjukkan wilayah Semarang Barat mengalami pengurangan batas pantai sejauh  221 m dan wilayah Pelabuhan sebesar 270 m dibanding jika komponen pasang surut saja yang diperhitungkan. Selain itu tinggi muka laut juga meningkat sebesar 10 cm ketika memasukkan komponen kecepatan angin dan tekanan udara permukaan. Hasil luaran model ketika dibandingkan dengan citra satelit IKONOS menunjukkan kemiripan yang berarti model telah merepresentasikan kondisi sebenarnya. Semarang is one of the area that experienced by inundation controlled by meteorological factor, subsidence and astronomical tide. The purpose of this research is to investigate the model performance and the role of meteorological factor on inundation area by using the 2D Hydrodynamic model. The simulation outputs are verified by IKONOS satellite data. By using the air pressure and wind data as the atmospheric forcings on June 9, 2009 coincides with tropical cyclone Linfa on South China Sea, the output of the model shows that the inundation is expanded up to 221 m in the West Semarang and 270 in the Semarang Harbor, compare to the output just using the tidal data only. Modeled-results also show that the sea level increase 10 cm. The output of 2D Hydrodynamic model have same pattern with IKONOS satellite image when both of them compared, so the model simulation represented actual condition on inundation field.
Sampul Jurnal MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7310.91 KB)

Abstract

Sampul Jurnal Volume 13 No 2 Tahun 2012
STUDI INDEKS STABILITAS UDARA TERHADAP PREDIKSI KEJADIAN BADAI GUNTUR (THUNDERSTORM) DI WILAYAH STASIUN METEOROLOGI CENGKARENG BANTEN Maria Budiarti; Muzilman Muslim; Yopi Ilhamsyah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v13i2.125

Abstract

Badai guntur merupakan salah satu fenomena cuaca yang sering terjadi di wilayah Indonesia. Singkatnya durasi hidup badai guntur menyebabkan kejadian ini sulit sekali diprediksi. Analisis indeks stabilitas udara adalah salah satu cara yang digunakan untuk memprediksi peluang kejadian badai guntur. Metode Total – Totals Index, Indeks K dan Indeks Severe Weather Threat (SWEAT) merupakan beberapa metode analisis indeks stabilitas udara yang dikembangkan di daerah lintang tinggi dan sering digunakan untuk memprediksi peluang terjadinya badai guntur di Indonesia. Hasil pengolahan data selama periode tahun 2000 – 2009 menunjukkan bahwa interval yang telah ada dari masing – masing indeks untuk wilayah lintang tinggi tidak cocok untuk digunakan di Stasiun Meteorologi Cengkareng. Untuk Total – Totals Index peluang terbesar terjadinya badai guntur pada nilai interval 42 – 46, berbeda dengan nilai interval yang telah dirumuskan yaitu sebesar   44. Demikian juga dengan interval indeks K yang menunjukan terjadinya badai guntur umumnya pada interval 29 – 37 berbeda dengan interval yang telah dirumuskan yaitu sebesar >25, sedangkan untuk indeks SWEAT peluang terbesar terjadinya badai guntur pada interval 135 – 239 dengan prosentase kejadian sebesar 91,86% berbeda dengan interval yang sudah ada dimana badai guntur umumnya terjadi pada interval diatas nilai 230. Thunderstorm is one of weather phenomena which mostly occurred in Indonesia. It is difficult to predict thunderstorm because of its short life cycle. An analysis of  stability indices  can be used to predict thunderstorm. Total – Totals Index, K Index and Severe Weather Threat (SWEAT) Index are some indices used in subtropic and also used in Indonesia to predict thunderstorm. The analysis of data from 2000 – 2009 shows that interval used in subtropic not suitable for Cengkareng Meteorological Station. Thunderstorm mostly occur in interval 42 – 46 for Total – Totals Index, different from the interval using in subtropic region which is 44. For the K-index, thunderstorms mostly occur with interval 29 – 37 but thunderstorm had been formulated to mostly occur with interval >25. Meanwhile, for SWEAT index thunderstorm predict mostly occur for interval 135 – 239 (91.86%) different from the inverval used in subtropic which is >230.
AKURASI PREDIKSI CURAH HUJAN HARIAN OPERASIONAL DI JABODETABEK : PERBANDINGAN DENGAN MODEL WRF Indra Gustari; Tri Wahyu Hadi; Safwan Hadi; Findy Renggono
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v13i2.126

Abstract

Akurasi prakiraan curah hujan harian operasional yang dibuat oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dikaji dengan cara diverifikasi berdasarkan kategori hujan dikotomi, lebat dan sangat lebat terhadap data dari 25 titik pengamatan di Jakarta. Prosedur yang sama juga diterapkan pada prakiraan curah hujan model Weather Research and Forecasting (WRF) dengan teknik multi-nesting yang di-downscale dari keluaran Global Forecast System (GFS). Hasilnya memperlihatkan bahwa kedua metode prediksi tersebut memiliki akurasi yang baik untuk prediksi dikotomi tetapi hampir gagal dalam memprediksi curah hujan lebat dan sangat lebat. Khususnya, kegagalan prediksi operasional dalam mendeteksi tiga kejadian hujan sangat lebat dalam periode kajian. Dalam hal ini, model WRF yang cenderung menghasilkan false alarm memperlihatkan prospek yang bagus untuk pengembangan sistem prediksi cuaca skala lokal/regional yang lebih akurat di Indonesia. The accuracy of daily rainfall forecasts produced operationally by the Meteorological, Climatological, and Geophysical Agency (BMKG) has been assessed by verifying the prediction of dichotomous, heavy, and very heavy rain events against observed data at 25 stations in Jakarta. Similar procedure was applied to raw hindcasts performed  using the Weather Research and Forecasting (WRF) model with multi-nesting technique up to 3 km resolution downscaled from NOAA global forecast system (GFS) outputs.  The results show that both forecasts have quite favorable accuracy for dichotomous rain events but almost no meaningful score for the predictions of heavy and very heavy rain events was obtained. Particularly, none of as many as three observed very heavy rain events was predicted by the operational forecast. In this case, WRF tend produce false alarms indicating a better prospect for future development of more accurate local/regional weather forecasting system in Indonesia.

Page 1 of 1 | Total Record : 8