cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 310 Documents
PENGARUH SIKLON TROPIS CEMPAKA TERHADAP CURAH HUJAN HARIAN DI WILAYAH JAWA DAN MADURA Muhammad Najib Habibie; Sri Noviati; Hastuadi Harsa
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 19, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1853.011 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v19i1.542

Abstract

Siklon tropis memiliki pengaruh yang sangat luas terhadap beragam parameter meteorologi. Analisis terhadap kejadian siklon tropis dapat dilakukan pada berbagai macam parameter dengan berbagai teknik yang berbeda. Pada penelitian ini dibahas mengenai identifikasi pola data curah hujan di Jawa dan Madura bertepatan dengan terjadinya siklon tropis Cempaka pada akhir bulan November 2017 di perairan selatan Jawa. Analisis data dilakukan menggunakan Self Organizing Map (SOM) dan Hierarchical Clustering. Hasil yang diperoleh menunjukkan terdapat 4 kelompok pola curah hujan dominan berkaitan dengan siklon tropis Cempaka. Analisis temporal dan spasial terhadap keempat kelompok tersebut menunjukkan bahwa siklon tropis Cempaka berpengaruh kuat terhadap sebaran curah hujan di Jawa dan Madura. Tropical cyclones have strong influences on numerous meteorological parameters. An analysis of a tropical cyclone event can be conducted for various parameters by using different techniques. This study investigated the rainfall patterns over Java and Madura Islands during the occurrence of Cempaka tropical cyclone that struck the southern coast of Java at the end of November 2017. The Self-Organizing Map (SOM) and the Hierarchical Clustering (HC) were utilized as the analysis tools. The results showed that there were 4 dominant rainfall patterns related to the Cempaka tropical cyclone. The temporal and spatial analysis of those patterns showed that Cempaka tropical cyclone had strongly affected the distribution of rainfall in Java and Madura. 
Sampul Jurnal MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 8, No 1 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.932 KB)

Abstract

Sampul Jurnal Meteorologi dan Geofisika
AKTIVITAS SESAR LEMBANG DI UTARA CEKUNGAN BANDUNG Rasmid Rasmid
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.404 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i2.182

Abstract

Sesar Lembang yang membentang mulai dari Gunung Manglayang di bagian Timur hingga Cisarua di bagian barat yang panjangnya sekitar ± 22 km diduga merupakan sesar yang masih aktif. Untuk membuktikannya, maka dipasang 4 buah seismometer disekitar Sesar Lembang yaitu di Ciater, Tangkuban Perahu, Cimenyan dan di Lembang mulai Mei 2010 – Agustus 2013. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah menentukan lokasi hypocenter gempa bumi yang lebih presisi, serta menentukan mekanisme sumber gempa bumi. Untuk mengetahui posisi gempabumi-gempabumi tersebut, maka dilakukan proses pengolahan penentuan pusat gempa bumi yaitu metoda tiga lingkaran, direlokasi lagi dengan metoda single event determination dan joint hypocenter determination, dan penentuan mekanisme sumbernya dengan menggunakan software isola. Gempa bumi-gempa bumi terkonsentrasi pada kedalaman 3-4 km, sebagian lagi tersebar pada kedalaman 6-7 km. Berdasarkan data mekanisme sumber, maka gempa bumi-gempa bumi yang terjadi, terdiri dari gempa bumi yang dihasilkan oleh Sesar Lembang bagian atas yaitu berupa gempa bumi-gempa bumi tipe strike slip, serta gempa bumi dengan kedalaman 6-7 km dengan tipe pensesaran naik (thrusting). Selain itu juga terdapat gempa bumi-gempa bumi yang dihasilkan oleh sesar-sesar sekunder yang berarah timur laut dengan tipe pensesaran normal. Berdasarkan data diatas, maka Sesar Lembang merupakan sesar yang masih aktif. Lembang Fault which extends from Manglayang mount in the east to Cisarua in the West, which long about ± 22 km is thought to be the fault is still active. To prove it, then to install 4 seismometers around Lembang fault Ciater, Tangkuban Perahu, Cimenyan and in Lembang and began in May 2010 - August 2013. The purpose of this study was to determine the hypocenter location and the mechanism of the earthquake source. To locate the earthquakes, 3 circles methods were employed: relocated used single event determination method and joint hypocenter determination method, and processed with the software mechanism Isola source. Earthquakes are concentrated at depths of 3-4 km, partly scattered at a depth of 6-7 km. Based on the source mechanism data, the earthquakes that occurred consisted of earthquakes produced by the upper Lembang fault of earthquakes strike-slip type, and the depth earthquakes 6-7 km with thrusting type. There are also earthquakes generated by second faults with northeast-trending normal type. Based on the above data, Lembang's fault is active.
DISTRIBUSI FREKUENSI GEMPA DAN DIMENSI FRAKTAL PADA SEISMIK GAP DI INDONESIA Rahmat Setyo Yuliatmoko; Yusuf Hadi Perdana; Agustya Adi Martha
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 22, No 2 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2338.408 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v22i2.771

Abstract

Seismic gap didefinisikan sebagai wilayah potensi gempa tinggi yang seharusnya telah melepaskan energi sebagai gempa besar, namun berdasarkan data katalog pelepasan energi tersebut belum terjadi. Identifikasi zona seismic gap dapat digunakan dalam meningkatkan kewaspadaan, penentuan prioritas monitoring kegempaan, warning tsunami, pertimbangan pembangunan infrastruktur, dan tata kota wilayah sehingga perlunya pemahaman yang akurat tentang karakteristik gempabumi di Indonesia. Dalam penelitian ini, baik a Value maupun b Value dari hubungan distribusi frekuensi-magnitudo dan fractal dimension (Dc) diteliti secara bersamaan dari 12 zona seismic gap di Indonesia. Dengan menggunakan data gempabumi, perhitungan b-value dan Dc-value telah menyiratkan adanya variasi seismotectonic stress. Hubungan antara Dc-b dan Dc-(a/b) diteliti untuk mengkategorikan tingkatan bahaya gempabumi dari zona sumber seismik, dimana kalibrasi kurva menggambarkan korelasi negatif antara Dc dan b-value (Dc=0.1146b-1.9029) dan korelasi negatif antara Dc dan rasio a/b (Dc=0.0443(a/b)-6.825) dengan koefisien korelasi yang berbeda antara R2=0.0011 dan R2=0.0027 untuk kedua regresi. Berdasarkan hubungan Dc-b lebih terpercaya dan lebih efektif, diinterpretasikan secara tektonik bahwa zona West Papua dan Fault Sumatera Selatan menunjukkan akumulasi stress yang rendah sedangkan zona Backthrust Bali dan Halmahera sebagai wilayah dengan stress tertinggi, yang berpotensi terjadinya gempa besar. Oleh karena itu, disarankan untuk di kaji lebih detail untuk memahami karakteristiknya sebagai upaya mitigasi bencana gempabumi.
STUDI PERIODISITAS GEMPABUMI DI ZONA SUBDUKSI JAWA DENGAN METODE WAVELET Supriyanto Rohadi; Hendra Grandis; Mezak Arnold Ratag
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 8, No 2 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1926.986 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v8i2.15

Abstract

Gempabumi merupakan proses titik (point process) yang berarti setiap kejadian merepresentasikan waktu dan ruang masing-masing. Oleh karena itu, analisis katalog gempabumi secara metodologi lebih sulit daripada analisis model deret waktu lain. Dalam pelaksanaanya aplikasi model deret waktu pada katalog gempabumi memerlukan perubahan sementara, misalnya kedalam bentuk akar kuadrat energi (strain energy release). Selain itu, dalam analisis deret waktu ini biasanya dihadapkan pada permasalahan resolusi frekuensi-waktu dimana dalam paper ini suatu metode multi resolusi wavelet digunakan untuk mensiasati permasalahan frekuensi-waktu. Transformasi Box-Cox, maksimum entropi, transformasi wavelet digunakan untuk mendeteksi periodisitas dari strain energy release gempabumi. Data yang digunakan adalah katalog gempabumi NEIC tahun 1973-2006 untuk Zona Subduksi Jawa dengan batas 6,5° LS - 12° LS dan 105° BT - 115° BT. Dari periodisitas energi dapat diketahui aktivitas gempabumi berdasarkan kedalaman dimana dominan siklus kegempaan adalah empat tahun, sedangkan berdasarkan zona wilayah memiliki siklus kegempaan dua hingga delapan tahunan.
PREDIKSI GEMPABUMI JEPANG 11 MARET 2011 OLEH DETEKTOR ATROPATENA-ID (STASIUN YOGYAKARTA) Wahyudi Wahyudi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.394 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i3.105

Abstract

Perubahan medan gravitasi frekuensi rendah yang timbul sebelum terjadinya gempabumi kuat dapat dideteksi dengan alat Atropatena. Prinsip kerja Atropatena mirip dengan Torsion Balance pada Eksperimen Cavendish. Detektor Atropatena mencatat secara simultan dan kontinu variasi medan gravitasi dalam tiga komponen, yaitu satu komponen vertikal (Z) dan dua komponen horizontal (X dan Y). Pada bulan AgustuS 2009, stasiun Atropatena-ID telah dipasang di Yogyakarta. Stasiun Atropatena bekerja dalam bentuk jaringan, di bawah koordinasi GNFE (Global Network for the Forecasting of Earthquakes) yang berpusat di Istanbul, Turki. Pada saat ini di seluruh dunia terdapat 5 stasiun Atropatena, yaitu di Azerbaijan, Pakistan, Turki, Indonesia, dan Ukraina. Sampai dengan saat ini, jaringan stasiun Atropatena telah berhasil memprediksi lebih dari 50% gempabumi kuat di seluruh dunia, termasuk gempabumi Jepang (8,9 SR) yang terjadi pada tanggal 11 Maret 2011. The low frequency three-dimensional changes of gravitational field before strong earthquakes are detected by a device called Atropatena. Atropatena uses the physical principle of Cavendish Torsion Balance. Detector Atropatena simultaneously registered time variations of gravitational field in two mutually perpendicular  directions  (horizontal  components,  X  and  Y)  and  variations  of  gravity Dg (vertical component, Z). The atropatena-ID has been installed in Yogyakarta since August 2009. Atropatena works under the world wide station network which are coordinated by GNFE (Global Network for the Forecasting of Earthquakes), based in Istanbul, Turkey. Five stations of Atropatena are now established in Azerbaijan, Pakistan, Turkey, Indonesia, and Ukraine. Up to now, Atropatena station network has successfully predicted more than 50% of strong earthquakes around the world, including Japan earthquake (8.9 magnitude) that occurred on March 11, 2011.
KAJIAN AWAL UJI STATISTIK PERBANDINGAN SUHU UDARA DARI PERALATAN OTOMATIS DAN MANUAL Kharisma Aprilina; Tri Astuti Nuraini; Ardhasena Sopaheluwakan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5568.195 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v18i1.396

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan secara statistik hasil pengukuran suhu udara menggunakan peralatan otomatis (Automatic Weather Station/AWS) dengan hasil pengukuran suhu udara secara manual atau sinoptik. Data yang diuji adalah data per-tiga-jam-an yang berasal dari data AWS dan data sinoptik dari 12 (dua belas) stasiun milik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yaitu Bengkulu, Dabo Singkep, Gunung Sitoli, Lhokseumawe, Meulaboh, Ranai, Rengat, Sibolga, Tanjung Pandan, Tarakan, Tarempa, dan Tegal dari bulan Februari-Juni 2016. Uji normalitas menggunakan metode Anderson-Darling dan Shapiro-Wilk menghasilkan keputusan data AWS dan data sinoptik dari seluruh stasiun yang diujikan tidak berdistribusi normal pada taraf signifikansi α = 0,05. Uji homogenitas menggunakan uji Levene menghasilkan keputusan bahwa kedua data di stasiun Bengkulu, Dabo Singkep, Gunung Sitoli, Lhokseumawe, dan Rengat homogen pada taraf signifikansi α = 0,05, sedangkan kedua data di stasiun Meulaboh, Ranai, Sibolga, Tanjung Pandan, Tarakan, Tarempa, dan Tegal tidak homogen pada taraf signifikansi α = 0,05. Uji beda statistik menggunakan metode Wilcoxon-Mann-Whitney menghasilkan keputusan bahwa antara data AWS dan data sinoptik tidak berbeda nyata pada taraf signifikansi α = 0,05 pada semua stasiun kecuali stasiun Lhokseumawe dan Ranai kedua data berbeda nyata pada taraf signifikansi α = 0,05. This study aims to determine the statistical differences between measurements of air temperature using the automatic instrument (Automatic Weather Station/AWS) and air temperature measurements using the manual instrument. The data that is used in this study are three-hourly data collected from February to June 2016 in 12 (twelve) synoptic stations of the Indonesian Agency for Meteorology Climatology and Geophysics (BMKG), which are Bengkulu, Dabo Singkep, Gunung Sitoli, Lhokseumawe, Meulaboh, Ranai, Rengat, Sibolga, Tanjung Pandan, Tarakan, Tarempa, and Tegal. Normality tests performed using the Anderson-Darling and Shapiro-Wilk methods conclude that AWS data and synoptic data from all stations are not normally distributed with a significance level of α = 0.05. Meanwhile, homogeneity test using the Levene's test concludes that both types of data in Bengkulu, Dabo Singkep, Gunung Sitoli, Lhokseumawe, and Rengat are homogeneous in their variance at the significance level α = 0.05, while in Meulaboh, Ranai, Sibolga, Tanjung Pandan, Tarakan, Tarempa, and Tegal the two types of data are not homogeneous in their variance with a significance level of α = 0.05. The test of statistical significance, which is performed using the non-parametric Wilcoxon-Mann-Whitney test, concludes that there is no significant difference (with a significance level of α = 0.05) between the AWS data and synoptic data for all stations, except for Lhokseumawe and Ranai stations. 
MODEL GEOSPASIAL POTENSI KERENTANAN TSUNAMI KOTA PADANG Dian Oktiari; Sudomo Manurung
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.669 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v11i2.73

Abstract

Kondisi geografis Kota Padang yang landai di bagian tengah dan berbukit-bukit disekelilingnya menyebabkan aktifitas manusia terpusat di lokasi yang landai tersebut. Apabila terjadi bencana gempabumi, yang diikuti tsunami, akan menimbulkan korban yang cukup besar, karena terjadi penumpukan objek vital, infrastruktur dan aktivitas manusia di daerah landai. Jumlah korban dapat dikurangi dengan menghitung potensi kerentanan tsunami sebagai sumber bencananya. Faktor resiko meliputi sebaran penduduk, objek vital, dan infrastruktur. Perkalian factor resiko dan sumber bencana  akan dimodelkan secara spasial, sehingga diperoleh klasifikasi area berdasarkan tingkat kerentanan terhadap bencana tsunami  di Kota Padang, dimana yang paling tinggi adalah  Kecamatan Kuranji dan Kecematan Padang Utara, dan  yang paling rendah potential risk nya adalah Kecamatan Lubuk Kilangan. Kota Padang’s topography show that there’s a slope in the middle of city and hilly surrounds it caused centralization on those slope location. If earthquake occurred, followed by tsunamis, it will be a great number of victims, because there are an accumulation of critical objects, infrastructures, and human activities on that slope. Reducing victims could be done by calculating tsunami -as disaster source- vulnerability potential. Disaster vulnerability potential risk factor consists of demography, critical objects, and infrastructures. Multiplication of risk factor and disaster potential will be shown in spatial model, so that we can get the area classification based on level of tsunami disaster vulnerability of Kota Padang, and the highest level is Kecamatan Kuranji and Kecamatan Padang Utara, and the lowest level is Kecamatan Lubuk Kilangan.
RELOKASI SUMBER GEMPA DI DAERAH SUMATERA BAGIAN UTARA MENGGUNAKAN HASIL INVERSI SIMULTAN RELOKASI DAN KECEPATAN GELOMBANG P TIGA DIMENSI Jajat Jatnika; Andri Dian Nugraha; Wandono Wandono
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 16, No 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5393.164 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v16i2.274

Abstract

Penujaman miring antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia memberikan pengaruh yang besar terhadap kondisi tektonik dan vulkanik di Sumatera bagian utara. Subduksi tersebut mengakibatkan terbentuknya deretan gunung api dan zona sesar yang terbentang di pulau Sumatera. Seismisitas yang tinggi di wilayah Sumatera bagian utara tidak hanya diakibatkan oleh pengaruh dari subduksi saja, namun dapat juga diakibatkan karena keberadaan sesar aktif dan aktivitas gunung api yang berada di darat pulau Sumatera. Oleh karena itu perlu dilakukan penentuan sumber gempa yang akurat dan presisi. Salah satu faktor yang mempengaruhi penentuan sumber gempa adalah model kecepatan yang digunakan. Dengan menggunakan program Simulps12 yang secara simultan menghitung kecepatan 3-D gelombang P dengan hasil relokasi gempanya, diharapkan dapat menentukan sumber gempa sesuai dengan kondisi tektonik sebenarnya. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah waktu tiba gelombang P dan parameter gempa dari katalog BMKG 2009-2012 dan katalog PASSCAL Februari-Mei 1995. Penjejakan sinar gelombang menggunakan metode pseudo-bending sedangkan metode LSQR teredam digunakan dalam teknik inversinya. Hasil penelitian menunjukan bahwa gempa hasil relokasi mengalami perubahan posisi baik secara horisontal maupun secara vertikal. Beberapa gempa menunjukan perubahan jarak horisontal yang besar yaitu sekitar 40-70 km. Sedangkan secara vertikal hampir setengah data mengalami perubahan kedalaman hingga 60 km. Setelah relokasi terlihat distribusi gempa dangkal di darat lebih berimpit dengan zona sesar Sumatera. Hal ini juga mengindikasikan bahwa zona sesar Sumatera sangat aktif dimana kedalaman gempa yang terjadi tidak lebih dari 50 km. The oblique subduction between the Indo-Australian plate and Eurasian plate in northern Sumatra gives a great influence on volcanic and tectonic conditions. The subduction resulted in the formation of a row of volcanoes and fault zones that lie on the island of Sumatra. The high seismicity in the northern Sumatra region is not only caused by the subduction alone but there are fault active and volcanoes. Then the precise determination of the earthquake source in accordance with the actual conditions needs to be done. One factor that affects the determination of earthquakes is the velocity model. By using the Simulps12 program that simultaneously calculates velocity models3-D and earthquake relocation, it was expected to determine the source of the earthquake following the actual conditions. The data used is the P wave arrival time and the parameters of the earthquake in a catalog of BMKG 2009-2012 and catalog of PASSCAL February-May 1995. Ray tracing in this study was using the pseudo-bending method, while the damped LSQR method was using inverse techniques. The results showed that the earthquake relocation results change positions either horizontally or vertically. Some earthquakes showed large changes in a horizontal distance of about 40-70 km vertically while almost half of the data changes to 60 km depth. After the relocation, the distribution of shallow earthquakes inland coincides with the Sumatra fault zone. It also shows that the Sumatra fault zone is highly active where the depth of the earthquake occurred not exceeding 50 km.
ANALYSIS AND DETERMINATION OF TOURISM CLIMATE INDEX (TCI) IN EAST NUSA TENGGARA Nizar Manarul Hidayat
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 23, No 3 (2022): Special Issue
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.579 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v23i3.821

Abstract

The development of tourism is quite rapid in several parts of Indonesia. No exception in East Nusa Tenggara which offers a beautiful part of the beach. Most tourists will use this information in the form of the climate comfort index to determine the right travel time. The Climate Comfort Index can be searched using the Tourism Climate Index (TCI) method including weather parameters such as maximum air temperature and minimum air humidity (Daytime Comfort Index), average air temperature and average air humidity (Daily Comfort Index), rainfall, length of sunshine and average wind speed). Monthly data for the years 1991 - 2015 were provided from eight BMKG meteorological stations. The results showed that the Rote and Maumere regions were in the 'Very Good' category in the summer (June and July). Meanwhile, Sabu and Rote had the most comfortable seven months. In general, during the summer (June - August) the TCI value (≥ 70) has increased so as to provide comfort for beach tourism destinations. The best time for traveling is best visited during the peak of the dry season (June to August) while in the rainy season (November - February) is the worst time to travel.