cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 310 Documents
KETERKAITAN ANTARA MONSUN INDO-AUSTRALIA DENGAN VARIABILITAS MUSIMAN CURAH HUJAN DI BENUA MARITIM INDONESIA SECARA SPASIAL BERBASIS HASIL ANALISIS DATA SATELIT TRMM Danang Eko Nuryanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.924 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v13i2.123

Abstract

Studi mengenai aktivitas curah hujan Benua Maritim Indonesia (BMI) menjadi penting karena dikaitkan dengan aktivitas Monsun Indo-Australia. Analisis spasial digunakan untuk memberikan gambaran secara luas mengenai curah hujan spasial BMI terkait dengan Monsun Indo-Australia. Data yang dipergunakan adalah data curah hujan spasial dari Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) dan angin zonal 850 mb, guna menghitung indeks Monsun Indo-Australia, dari National Centers for Environmental Prediction (NCEP). Setelah dihitung indeks Monsun Indo-Australia, dipilih Australian Monsoon Index 0 AUSMI0 dan AUSMI3, maka selanjutnya dilakukan korelasi lag (waktu jeda) pada masing- masing indeks, terhadap curah hujan spasial. Diperoleh hasil bahwa Monsun Indo-Australia cenderung tidak berkaitan terhadap variabilitas musiman curah hujan BMI saat periode JJA. Wilayah BMI dengan variabilitas musiman curah hujan mempunyai keterkaitan paling kuat saat periode DJF adalah Lampung, Jawa, Kalimantan bagian selatan dan Makasar. Wilayah BMI dengan variabilitas musiman curah hujan mempunyai keterkaitan yang sangat kuat pada saat dan sebelum Monsun Indo-Australia aktif. Study of Indonesian Maritime Continent (IMC) rainfall activity is important because of the relationship with Indo- Australian Monsoon. Spatial analysis is used to provide a broad overview of the IMC spatial rainfall associated with Indo- Australian monsoon. This study uses the spatial rainfall data from Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) and 850 mb zonal wind from National Centers for Environmental Prediction (NCEP), in order to calculate Indo-Australian Monsoon Index. Choosing AUSMI0 and AUSMI3 Australian Monsoon Index after calculating the Indo-Australian Monsoon index is to conduct lag-time correlation on each index to spatial rainfall. The results show that the Indo-Australian Monsoon region do not tend to be associated with JJA period of IMC seasonal rainfall variability. The IMC region with seasonal rainfall variability that linked most strongly during DJF period is Lampung, Java, southern Kalimantan and Makassar. The IMC region with seasonal rainfall variability has a very strong relationship at the time and before activity the Indo-Australian Monsoon.
Sampul Jurnal MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2803.772 KB)

Abstract

KAJIAN KERENTANAN TANAH BERDASARKAN ANALISIS HVSR DI DAERAH SEMBURAN LUMPUR SIDOARJO DAN SEKITARNYA, JAWA TIMUR, INDONESIA Karyono Karyono; Ildrem Syafri; Abdurrokhim Abdurrokhim; Masturyono Masturyono; Supriyanto Rohadi; Januar Arifin; Ajat Sudrajat; Adriano Mazzini; Soffian Hadi; Agustya Agustya
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 17, No 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3965.322 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.398

Abstract

Aluvium merupakan fitur geologi yang memiliki sifat rentan terhadap pengaruh gempabumi. Daerah Porong dan sekitarnya tempat semburan Lumpur Sidoarjo (Lusi) terjadi merupakan daerah dataran yang ditutupi oleh endapan aluvium Delta Brantas, sehingga daerah ini merupakan zona lemah yang rentan terhadap pengaruh gempabumi. Hal ini diperkuat dengan adanya sesar Watukosek di daerah tersebut. Dengan tujuan untuk membuktikan hal tersebut maka dilakukan observasi seismik dengan cara memasang 71 stasiun pengamat gempabumi temporal yang tersebar di daerah Sidoarjo dan sekitarnya. Hasil analisis Horizontal Vertical Spectral Ratio (HVSR) terhadap data seismik diperoleh sebaran frekuensi natural bawah permukaan lebih rendah di daerah Lusi yaitu 0,4Hz. Hasil analisis juga mengungkap bahwa di daerah tersebut mempunyai amplifikasi tanah sebesar 5,2 dan tingkat kerentanan tanah sebesar 56, lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain di sekitarnya. Karena letaknya di zona lemah, maka berimplikasi bahwa Lusi menjadi sensitif terhadap gangguan luar misalnya dampak kejadian gempabumi menjadi lebih besar pada daerah ini. Alluvium is a geological feature characterized by high risk vulnerability influenced by the earthquakes. Porong and surrounding areas where the eruption of Lumpur Sidoarjo’s (Lusi) occurred are areas covered by alluvium sediment of Brantas Delta, as consequences this area is a weak zone characterized by high risk vulnerability as well. This is also supported by the present of Watukosek fault system in this area. To proved, we deployed 71 temporary seismic stations distributed in and around Sidoarjo area. The Horizontal Vertical Spectral Ratio (HVSR) analysis revealed that the natural frequency in Lusi area is about 0.4Hz, this is lower than other part areas. The analysis also revealed that this area has soil amplification about 5.2 and soil vulnerability index about 56, these are higher compared with other part areas. These results support that this area is a weak zone. Because of its location in a weak zone, this implies that Lusi became sensitive to external perturbation for example the earthquake events would have greater impact to this area.
PERBANDINGAN HASIL LUARAN MODEL PRAKIRAAN CUACA CONFORMAL-CUBIC ATMOSPHERIC MODEL (CCAM) TERHADAP ARPEGE DAN TLAPS Roni Kurniawan; Donaldi Sukma Permana; Rian Anggraeni; Kurnia Endah Komalasari
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 1 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1236.148 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v11i1.59

Abstract

Pada penelitian ini dilakukan perbandingan luaran model prakiraan cuaca CCAM terhadap luaran model prakiraan cuaca ARPEGE dan TLAPS untuk mengetahui performa dari model prakiraan cuaca CCAM di wilayah Indonesia. Data model global Global Forecasting System (GFS) digunakan sebagai data inisialisasi CCAM untuk prediksi. Cakupan data prediksi yang dibandingkan adalah periode tanggal 1 - 28 Februari 2009 mewakili kondisi musim hujan dan periode tanggal 1 – 31 Mei 2009 mewakili kondisi awal musim kering di Indonesia. Perbandingan dilakukan secara kualitatif dengan komparasi visual dan kuantitatif dengan menghitung nilai korelasi spasial menggunakan software Grid Analysis and Display System (GrADS) versi 1.8SL11. Diperoleh bahwa hasil luaran ketiga model tersebut memiliki pola yang hampir sama, meskipun ARPEGE dan TLAPS menunjukkan hasil yang sedikit lebih baik dari CCAM. Hal ini mungkin dikarenakan penggunaan data analisis ARPEGE dan TLAPS sebagai representasi data observasi. Nilai rata-rata spasial korelasi dan nilai rata-rata RMSE untuk kedua perbandingan tersebut masing-masing menunjukkan tren menurun dan tren meningkat seiring dengan bertambahnya panjang waktu prediksi. Untuk parameter angin zonal dan angin meridional diperoleh bahwa CCAM memiliki pola yang sama dengan ARPEGE dan TLAPS. Sedangkan, untuk parameter suhu permukaan dan MSLP masih terdapat perbedaan RMSE yang cukup signifikan. Disimpulkan bahwa luaran model CCAM mempunyai performa yang cukup baik sebagai model prakiraan cuaca pada skala regional di Indonesia, meskipun masih perlu dilakukan proses validasi dan perbaikan pengaturan model lebih lanjut. This research accomplished the comparison of weather forecast output of CCAM upon ARPEGE and TLAPS to examine the performance of CCAM in Indonesia region. The Global Forecasting System (GFS) model output was used as the initial condition of CCAM. The comparison was applied to the forecast output on 1-28 February 2009 which represents the rainy season and 1-31 Mays 2009 which represents the onset of dry season in Indonesia. The comparison was conducted qualitatively by image visual comparison and quantitatively by spatial correlation calculation using Grid Analysis and Display System (GrADS) software version 18SL11. The result showed that the output from the three models have almost similar pattern, however output of ARPEGE and TLAPS were fairly better than CCAM. This result might emerge from the use of the ARPEGE and TLAPS data analysis as representation of observation data. The average spatial correlation showed a decreasing trend pattern while the average of RMSE showed a rising trend pattern along with the increasing of prediction time length. For zonal and meridional wind, it was found of having similar pattern as ARPEGE and TLAPS results. While for surface temperature and MSLP parameters, it was found of a significant difference in RMSE. As conclusion, CCAM has showed a fairly good performance upon generating weather forecast at regional scale in Indonesia, though there is still need to be improved further model tunning and validation.
STUDI AWAL CODA Q-FACTOR WILAYAH SESAR OPAK Indra Gunawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.996 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i3.222

Abstract

Selama proses penjalaran gelombang seismik sampai terekam di seismometer, gelombang seismik mengalami proses atenuasi dimana energi gelombang berkurang akibat geometrical spreading, intrinsic attenuation dan scattering attenuation. Proses ini dapat menerangkan struktur lapisan bumi dan aktivitas seismik suatu wilayah. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap proses atenuasi adalah coda Q-factor.  Hasil pengolahan coda Q-factor dari empat gempa lokal di sekitar Sesar Opak menghasilkan nilai rata-rata atenuasi sebesar Qc = 95.02 f 0.15. Berdasarkan nilai ini bila dibandingkan dengan nilai coda Q-factor di wilayah seismik aktif maka dapat dikatakan wilayah Sesar Opak memiliki tingkat aktivitas seismik yang cukup aktif. During seismic wave propagating process through it is recorded on a seismometer, seismic wave encounters attenuation process, where the wave energy is reduced due to geometrical spreading, intrinsic and scattering attenuation. This process can interpret the structure of the layers of the earth and the seismic activity of a region. The coda Q-factor is a phenomenon affected the attenuation process. The result of coda Q-factor processing of four local earthquakes around Opak’s Fault yields an average attenuation value around Qc= 95.02 f 0.15. Based on this coda Q-factor number for active seismic, it is estimated that Opak’s Fault region has a reasonably active seismic region.
Sampul Jurnal MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 14, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.671 KB)

Abstract

Sampul Jurnal MG Volume 14 No 1 tahun 2013
PEMANFAATAN SATELIT ALTIMETRI UNTUK VERIFIKASI TINGGI GELOMBANG SIGNIFIKAN OCEAN FORECAST SYSTEM (OFS) – MODEL BMKG Eko Supriyadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 19, No 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1716.914 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v19i2.586

Abstract

Model OFS-BMKG yang sudah beroperasi sejak akhir tahun 2016 belum banyak dilakukan verifikasi secara menyeluruh di perairan Indonesia.  Penelitian kali ini melakukan kajian verifikasi tinggi gelombang laut signifikan (SWH) hasil pemodelan OFS menggunakan pengamatan satelit altimetri untuk periode Januari 2017. Verifikasi dilakukan dengan menyesuaikan posisi SWH yang diperoleh dari lintasan satelit terhadap kontur model menggunakan grid yang sama.  Hasil analisis statistika menunjukkan nilai koefisien korelasi SWH antara hasil model dengan pengamatan satelit  tergolong baik, yaitu sebesar 0.64.  Sedangkan untuk uji bias, RMSE, dan SI masing-masing bernilai 0.41, 0.89, dan 0.52.  Secara umum bila dilihat dari plot time series dan sebaran data setiap waktu pengamatan umumnya hasil model lebih tinggi dibandingkan pengamatan satelit. Sehingga dibutuhkan penyesuaian untuk hasil model agar sesuai dengan pengamatan sebenarnya. The OFS-BMKG system has been operating since the end of 2016 but has not been verified in Indonesian waters. This system was developed from the WaveWatch III (WW3) model. This study was conducted to verify OFS Significant Wave Height (SWH) against satellite altimetry measurements for the period of January 2017. The verification was performed by adjusting the position of SWH obtained from the altimetry satellite path to the contour of the WW3 model for the same grids. The results showed that the OFS SWH had good accordance with the satellite measurement. The correlation coefficient was 0,64 while bias, RMSE, and SI values were 0,41; 0,89; and 0,52, respectively. The time series and data distribution showed that OFS SWH, in general, had higher values than that measured by altimetry satellite. Adjustments or fine-tuning therefore are required for the WW3 model results to match actual observations. 
IDENTIFIKASI DAN DELINEASI WILAYAH ENDEMIK KEKERINGAN UNTUK PENGELOLAAN RISIKO IKLIM DI KABUPATEN INDRAMAYU Woro Estiningtyas; Rizaldi Boer; Irsal Las; Agus Buono
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 1 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.575 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v13i1.114

Abstract

Tulisan ini menyajikan hasil analisis, survey dan wawancara dengan petani di Kabupaten Indramayu terkait dengan kejadian kekeringan. Klasifikasi dan peta  tingkat endemik kekeringan dianalisis berdasarkan plot antara anomali luas kekeringan dan anomali frekuensi kejadian kekeringan. Berdasarkan survey di Kabupaten Indramayu, kekeringan menjadi penyebab utama gagal panen (79,8%). Kekeringan paling sering terjadi selama 6 bulan dan bulan Juni adalah bulan yang dominan terjadi kekeringan. Sebaran rata-rata luas kekeringan per kecamatan adalah 26 Ha sampai dengan 1602,5 Ha, dengan rata-rata 406 Ha/per kecamatan. Jumlah kejadian kekeringan berkisar antara 1-9 kejadian dan rata-rata 4 kejadian kekeringan dalam kurun waktu 2005-2011. Peta endemik kekeringan menghasilkan sebaran wilayah dengan klasifikasi endemik kekeringan tinggi, agak tinggi, agak rendah dan rendah. Beberapa pilihan teknologi untuk pengelolaan risiko iklim   diusulkan dalam penelitian ini   berdasarkan peta endemik kekeringan, karakteristik dan diskripsi setiap wilayah. Wilayah endemik tinggi merupakan prioritas pertama penanganan apabila terjadi bencana kekeringan. Pada wilayah ini dapat diterapkan teknik irigasi bergilir teratur, penggunaan varietas sangat genjah dan toleran kekeringan. Untuk sawah tadah hujan digunakan padi gogorancah pada MH dan walik jerami pada MK,  pergiliran varietas dan pengaturan pola tanam. This paper presents the results of analysis, surveys and interviews with farmers in Indramayu district. Drought becomes a major cause of crop failure (79,8%). Classification and map of drought were analysis based on anomaly drought area and frequency drought data.. Distribution of average drought in Indramayu district is 406 ha and 4 incidents in 2005-2011. Map of endemic drought is produce four classification : high, middle   high, middle low and low. Several technologies for managing climate risk in this research can be designed based on the map of endemic drought, the characteristics and description of each area. Highly endemic areas is the first priority handling in case of drought. In this irrigation techniques can be applied to regular rotation, the use of very early maturing varieties and drought tolerant. For rainfed land, gogorancah can be applied during wet season, and walik jerami in dry season, rotating varieties and cropping patterns. 
RELOKASI HIPOSENTER DAN PENCITRAAN STRUKTUR GELOMBANG P MENGGUNAKAN METODE INVERSI SIMULTAN DI WILAYAH PAPUA Arif Rahman Hakim; Supriyanto Rohadi; Jajat Jatnika
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 18, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4937.4 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v18i2.395

Abstract

ABSTRAKPapua merupakan bagian dari pulau New Guinea, yang memiliki tatanan tektonik sangat komplek, dimana tektonik papua dipengaruhi 4 lempeng utama yaitu Lempeng Australia, Lempeng Pasifik, Lempeng Filipina dan Lempeng Eurasia, serta sesar lokal aktif seperti Sesar Sorong, Sesar Yapen, dan lainnya. Tatanan tektonik yang sangat komplek ini, menjadikan Papua menarik untuk dikaji lebih lanjut. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan pola tektonik wilayah Papua, menggunakan metode simultan menggunakan software simulPS12. Data yang digunakan adalah katalog gempa PGR V Jayapura hasil analisa seiscomp3 dari tahun 2010 hingga 2015, dengan 19 stasiun pencatat. Hasil relokasi gempabumi memperlihatkan adanya perubahan sebesar 75%, baik secara kedalaman maupun secara lintang ataupun bujur, dengan nilai RMS mendekati 0. Sedangkan hasil tomogram pada penampang horisontal menunjukkan resolusi yang baik pada kedalaman 30 km dan 50 km, yang di indikasikan sebagai zona dengan kecepatan rendah berasosiasi dengan sesar sorong dan manokwari trench. Pada penampang vertikal didapatkan tomogram yang juga menginidikasikan zona lemah teridentifikasi sesar sorong, patahan ransiki dan manokwari trench.
PEMBUATAN MODEL SEDERHANA PENGARUH GAS CO2, SO2 DAN NO2 TERHADAP TINGKAT KEASAMAN AIR HUJAN Agusta Kurniawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1488.971 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i1.82

Abstract

Telah dilakukan pembuatan model sederhana menggunakan pengaruh gas CO2,SO2 dan NO2 terhadap tingkat keasaman (pH) air hujan. Pengukuran gas Co2, SO dan NO dilakukan dengan metode monitoring terus-menerus. Gas CO diukur dengan instrumen 2 Picarro analyzer G1301 dengan metode CRDS, gas NO2 diukur dengan instrumen TS42-TL dengan metode Chemiluminescence, sedangkan gas SO2 diukur dengan instrumen TS43i-TLE dengan metode UV Fluorescence.Dari tiga macam gas tersebut muncul 7 macam skenario model. Besarnya pengaruh gas CO2, SO2 dan NO2 dihitung, kemudian dibandingkan dengan pH air hujan observasi. Besarnya nilai Korelasi Pearson digunakan sebagai indikator pemilihan skenario model yang sesuai. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa tingkat keasaman air hujan di SPAG Bukit Kototabang pada bulan April 2009 dipengaruhi oleh campuran gas CO2 dan gas NO2, pada bulan Mei 2009 dipengaruhi oleh gas CO2 saja, pada bulan Juni 2009 dipengaruhi oleh campuran gas CO2 dan gas SO2. Data tingkat keasaman air hujan bulan April, Mei dan Juni 2009 dibandingkan dengan model ini mengkonfirmasi bahwa kondisi udara di lingkungan sekitar SPAG Bukit Kototabang masih bersih. Simple model has been created using effect of CO2, SO2 and NO2 on the level of rain water acidity (pH). Measurement of gases (CO2, SO2 and NO2) are conducted using continuous monitoring program. CO2 is measured by Picarro G1301 analyzer with CRDS method, NO2 is measured by TS42-TL analyzer with Chemiluminescence method, while SO2 gas is measured with TS43i-TLE analyzer with UV Fluorescence method. Three kinds of gas make 7 different scenario models. The amount of the influence of CO2, SO2 and NO2 is calculated, then acidy result from calcutation compared with its observation. Pearson correlation value is used as an indicator of an appropriate selection of model scenarios. The results show that acidity level of rainwater in GAW Bukit Kototabang Station in April 2009 was influenced by a mixture of CO2 and NO2 gases, in May 2009 was affected by CO2 alone, in June 2009 wasinfluenced by a mixture of CO2 and SO2 gas. The Data of acidity level of rain water in April, May and June 2009 compared with this model confirmed that air condition in environment around of Bukit Kototabang GAW Station still cleanness.

Page 11 of 31 | Total Record : 310