cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 310 Documents
PROFIL KLIMATOLOGIS LAPSE RATE VERTIKAL DI MEDAN, PADANG, JAKARTA, PALU, DAN AMBON Lisnawati Lisnawati; Erwin E. S. Makmur; Donaldi Sukma Permana
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 18, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.78 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v18i2.456

Abstract

Lokasi pengamatan Radiosonde yang tersebar di seluruh Indonesia hingga tahun 2015 mencapai 23 tempat ini ternyata masih belum banyak yang memanfaatkan hasil data tersebut untuk analisis kondisi udara lapisan atas. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk membuat profil klimatologis bulanan lapse rate vertikal per bulan pada jam 00 dan 12 UTC di wilayah Medan, Padang, Jakarta, Palu, dan Ambon berdasarkan data observasi suhu udara vertikal harian pada tahun 2007-2016. Kemudian, metode penelitian yang digunakan adalah interpolasi, menghilangkan data pencilan, rata-rata, median, maksimum, minimum, dan perhitungan lapse rate. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa puncak tropopause sekitar 16-17,4 km dengan ketinggian puncak tropopause pada bulan Desember dan Januari-April lebih tinggi daripada bulan Juni-September dan terjadi inversi permukaan di Medan pada bulan Maret dan Juni-Juli serta di Jakarta pada bulan September-Oktober. Rata-rata tahunan ketinggian awal inversi jam 00 dan 12 UTC adalah 17,1 km dengan rata-rata bulanan Januari-Mei dan Desember lebih tinggi daripada Juni-November.
ANALISIS DATA METEOROLOGI DARI PEMANTAU CUACA OTOMATIS BERBAGAI ELEVASI DAN DATA RADIOSONDE DI PAPUA Donaldi Sukma Permana
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.307 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i2.96

Abstract

Iklim regional Papua dipengaruhi oleh Zona Konvergensi Inter-tropis (ITCZ). Tiga sirkulasi utama yang mengendalikan ITCZ di wilayah tersebut meliputi sirkulasi meridional Hadley, palung meridional kutub (South Pacific Convergence Zone) dan sirkulasi zonal Walker. Sirkulasi angin permukaan di Papua dipengaruhi oleh angin pasat tenggara dan angin pasat timur laut serta angin monsun barat-an. Akan tetapi di wilayah dataran tinggi, iklim Papua juga dipengaruhi oleh proses konvektif dan sirkulasi angin lokal. Pada studi ini, kami memaparkan analisis data meteorologi Papua menggunakan data pemantau cuaca otomatis (AWS) dari berbagai elevasi dan data radiosonde sebagai pembanding. Data AWS diperoleh dari PT. Freeport Indonesia (PTFI) yang terpasang mulai dari pesisir selatan Papua sampai ke dataran tinggi dekat pegunungan Puncak Jaya serta data stasiun BMKG Timika. Analisis menunjukkan bahwa laju susut temperatur permukaan sekitar 5°C/km. Rentang temperatur harian semakin besar pada ketinggian dibawah ~2.500 m d.p.l dan diatas ~3.500 m d.p.l. Total presipitasi tahunan tertinggi terjadi pada ketinggian sekitar 617 m d.p.l (~12.500 mm/tahun). Diatas ketinggian ~600 m d.p.l, total curah hujan siang hari lebih tinggi dari curah hujan malam hari dan sebaliknya dibawah ~600 m d.p.l.  Regional climate setting of Papua is mainly controlled by the intertropical convergence zone (ITCZ). Three major circulation systems control the ITCZ in the region including the meridional Hadley circulation, the South Pacific Convergence Zone and the zonal Walker circulation. Surface wind system over Papua is affected by easterlies trade winds and the equatorial or monsoon westerlies. However, in highland of Papua, its climate is dominated by local convective processes and local wind circulation. Here, we present meteorological data analysis based on automatic weather stations (AWS) data from different elevation and radiosondes data in Papua. AWS data were acquired from PT. Freeport Indonesia (PTFI) who installed automatic weather stations from southern coast of Papua to highland of Papua near Puncak Jaya Mountains as well as from BMKG station in Timika. Analysis of the data shows that the surface temperature lapse rate is about 5°C/km. Greater diurnal temperature differences are identified at below ~2,500 m a.s.l and at above ~3,500 m a.s.l. The highest annual precipitation of ~12,500 mm/ year is recorded at an elevation of 617 m. At above ~600 m a.s.l, the daytime precipitation is higher than during the night and vice versa at below ~600 m a.s.l.
ANALISIS INDEKS IKLIM UNTUK ASURANSI PERTANIAN TANAMAN PADI DI KABUPATEN CIREBON DALAM RANGKA ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM Trinah Wati; Woro Estiningtyas; Fatkhuroyan Fatkhuroyan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 17, No 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15828.568 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v17i2.439

Abstract

Analisis indeks iklim untuk asuransi pertanian tanaman padi telah dilakukan di empat kecamatan di wilayah Kabupaten Cirebon yaitu di kecamatan Gegesik, Susukan, Klangenan dan Babakan untuk mengurangi kerugian gagal panen akibat bencana iklim kekeringan. Analisis tersebut menggunakan dua metode yaitu metode Historical Burn Analysis (HBA) untuk kejadian kekeringan dan metode statistik korelasi antara curah hujan dengan produksi dan luas panen tanaman padi. Hasil analisis indeks iklim dengan parameter curah hujan berdasarkan metode HBA menghasilkan dua indeks yaitu indeks trigger dan indeks exit, indeks trigger merupakan besaran curah hujan sebagai batasan untuk pembayaran klaim asuransi yang dibayarkan sebagian dan indeks exit yaitu besaran curah hujan untuk pembayaran klaim asuransi dibayarkan penuh dengan indeks window (jendela waktu) bulan Juni hingga September. Indeks iklim berdasarkan korelasi curah hujan dengan produksi dan luas panen tanaman padi, diperoleh satu indeks exit yang merupakan batasan pembayaran klaim asuransi sepenuhnya dengan periode 5 tahun, 10 tahun dan 20 tahun yaitu masing-masing sebesar 317 mm, 242 mm dan 180 mm di kecamatan Gegesik dengan indeks window bulan Maret-April-Mei, sedangkan kecamatan lainnya memiliki korelasi yang lemah sehingga tidak dapat ditentukan besaran indeks exitnya. Analysis of climate indices for paddy crop agricultural insurance was conducted for four subdistricts of Cirebon district namely Gegesik, Susukan, Klangenan and Babakan, to reduce crop failure due to drought as climate disaster. The analysis employed two methods : the Historical Burn Analysis (HBA) of drought and statistical method which analyzed the correlation between rainfall with paddy crop yield and harvest areas. The HBA method resulted in two kind of indices : trigger index and exit index. Trigger index is the treshold of rainfall for the insurance claim with partial payment while exit index is the rainfall treshold for full payment of the insurance claim with window indices during June to September. Another method resulted in only one index: exit indices values during 5, 10 and 20 years period of insurance that were 317 mm, 242 mm and 180 mm in Gegesik with window indices during March-April-May periods. Unfortunately, exit indices for other subdistricts could not be determined because of the weak correlation between its rainfall with yield and harvest areas of paddy crop.
APLIKASI WAVELET STASIONER DALAM PREDIKSI AKTIVITAS STRAIN ENERGY RELEASE GEMPABUMI DI ZONA SUBDUKSI JAWA Supriyanto Rohadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 9, No 1 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.403 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v9i1.20

Abstract

Utsu (1977), Rikitake (1976) dan Hagiwara (1974) mengusulkan suatu pendekatan prediksi probabilistik terjadinya gempabumi pada segmen patahan tertentu berdasarkan pada sebuah model perulangan gempabumi, model ini mengasumsikan bahwa probabilitas gempabumi dimulai dengan rupture pada segmen yang lemah kemudian meningkat secara gradual bersamaan dengan proses tektonik yang bekerja pada patahan tersebut. Selain itu, peningkatan aktivitas kegempaan sebelum terjadinya gempa besar biasanya teramati untuk daerah gempa tertentu. Prediksi berdasarkan peningkatan aktivias kegempaan ini menjadi dasar model prediksi penelitian berbasis wavelet ini. Metode wavelet stasioner, model deret waktu autoregressive dan ANFIS digunakan untuk prediksi strain energi release gempabumi pada penelitian ini. Data yang digunakan adalah data gempabumi dangkal dan menengah di Zona Subduksi Jawa dari katalog gempabumi NEIC tahun 1973-2006. Dengan metode prediksi ini diperoleh bahwa strain energy release pada tahun 2007 untuk zona Bagian Barat kegempaan fluktuatif dan relatif lebih tinggi dibandingkan zona Bagian Tengah dan Bagian Timur
PERBANDINGAN EVAPOTRANSPIRASI POTENSIAL ANTARA HASIL KELUARAN MODEL RegCM 4.0 DENGAN PERHITUNGAN DATA PENGAMATAN Danang Eko Nuryanto; Jose Rizal
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 14, No 2 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.48 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v14i2.157

Abstract

Studi mengenai evapotranspirasi potensial menjadi penting karena evapotranspirasi merupakan indikator perubahan iklim yang sangat penting. Juga karena adanya hubungan antara keseimbangan air dan keseimbangan energi yang disebabkan interaksi rumit dalam sistem darat-tumbuhan-atmosfer. Karena keterbatasan pengamatan, model skala meso menjadi perangkat alternatif studi yang cukup berdayaguna untuk melihat fenomena iklim dan turunannya. Analisis perbandingan digunakan untuk mengetahui kemampuan model RegCM 4.0 dalam mensimulasikan evapotranspirasi potensial. Data yang dipergunakan adalah data klimatologi wilayah Medan, Bogor, Semarang, Maros dan Kupang untuk menghitung evapotranspirasi potensial berdasarkan data observasi. Sedangkan data global GFS dan modifikasi landuse digunakan sebagai inputan model RegCM 4.0. Dari 5 lokasi penelitian, hanya satu lokasi yang menunjukkan model RegCM 4.0 merepresentasikan data pengamatan yaitu pada wilayah Maros. Hal ini terlihat pada pola evapotranspirasi model hampir mendekati hasil perhitungan data pengamatan meskipun nilai penyimpangannya relatif lebih tinggi 25-79 mm per bulan. A study on the potential evapotranspiration is important because evapotranspiration is a very important indicator of climate change. Also because of the relationship between water and energy balance due to complex interaction of land-vegetation-atmosphere systems. Due to the limitations of observations, a meso-scale model is used as an alternative tool to study the climate phenomenon and its derivatives. Comparative analysis is used to determine the ability of the RegCM4.0 model to simulate potential evapotranspiration. To calculate potential evapotranspiration based on obsevational data, climatological data from Medan, Bogor, Semarang, Maros and Kupang were used, while the GFS global data and landuse modifications were used as input models RegCM 4.0. From the 5 areas studied, only one site shows that the model RegCM 4.0 represent data observations, that is in Maros region. This is reflected in the pattern of evapotranspiration models which come close to the calculation of observational data, though its relatively higher deviation values between 25-79 mm per month.
KARAKTERISTIK MUSIMAN DAN VARIABILITAS ARUS WYRTKI PERIODE 2000 – 2014 Eko Supriyadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1030.316 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v20i1.538

Abstract

Arus Wyrtki merupakan bagian dari arus ekuatorial yang dihasilkan dari dominasi angin baratan. Penelitian ini menggunakan data observasi bouy RAMA, OSCAR, ERA-Interim pada periode 2000 – 2014.  Penelitian ini difokuskan pada identifikasi arus Wyrtki dan variasi EOF/PC yang dihasilkan pada tahun pengamatan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa arus Wyrtki musim dingin Asia lebih kuat dan dan berlangsung pada bulan Februari – Mei dibandingkan dengan musim panas Asia yang berlangsung pada bulan September - November.  Arus Wyrtki pada musim panas dan dingin Asia memiliki kecepatan masing – masing sebesar 20 m/s dan 40 m/s.  Analisa spasial dan temporal arus Wyrtki sepanjang ekuator terhadap angin zonal menunjukkan bahwa arus Wyrtki yang dibangkitkan pada  musim dingin dan panas Asia berhubungan dengan angin baratan yang dihasilkan.  Dimana pada pada saat musim panas dan dingin Asia angin zonal maksimum berturut – turut terjadi pada bulan Mei dan November dengan kecepatan masing – masing sebesar 3 m/s dan 4 m/s.  Sementara itu nilai varians yang dihasilkan dari 4 komponen teratas EOF/PC memegang 92.1 % variabilitas pengamatan data.  Variabilitas skala ruang menunjukkan pada kedalaman ~ 150 m memiliki varians sebesar 0.  Sedangkan dari skala temporal varians terbesar dan terendah masing-masing terjadi pada bulan Mei 2003 dan Januari 2008.
PENENTUAN WAKTU TIBA GELOMBANG-P SECARA OTOMATIS DENGAN METODA SKEWNESS DAN KURTOSIS TERINTEGRASI Hendar Gunawan; Nanang T. Puspito; Gunawan Ibrahim; P. J. Prih Haryadi; Kadnan Kadnan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 1 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.527 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v13i1.119

Abstract

Penentuan waktu tiba gelombang P sangat penting dalam perhitungan parameter Peringatan Dini Gempabumi (PDG) yaitu periode dominan dan amplitudo pergeseran maksimum yang digunakan untuk memprediksi magnitudo dan lokasi hiposenter. Metodologi statistik orde tinggi yang disebut dengan Integ telah digunakan untuk menentukan waktu tiba gelombang P. Filter bandpass butterworth orde dua dengan frekuensi 0,075-4 Hz diterapkan untuk menghilangkan efek drift dan gangguan gelombang panjang. Proses integrasi sinyal broadband kecepatan dilakukan untuk mendapatkan sinyal broadband pergeseran. Dari perhitungan yang dilakukan pada 68 sinyal broadband kecepatan yang tercatat oleh stasiun CISI, Jawa Barat sepanjang periode 2009-2011 menunjukan tingkat ketelitian yang lebih baik jika dibandingkan dengan metode STA/LTA yang saat ini digunakan di BMKG. Selisih residu rata-rata metoda Integ dengan data acuan BMKG adalah -0.063 detik dengan standar deviasi 0.393 detik dan standar kesalahan 0.048 detik. Hasil ini menunjukan bahwa metoda Integ memiliki tingkat ketelitian yang baik dan dapat digunakan dalam penentuan parameter PDG. Determination of P-wave arrival time is crucial in the calculation of Earthquake Early Warning (EEW) parameters is dominant period and maximum displacement amplitude is used to predict magnitude and hipocenter. The methodology of higher order statistical called Integ used to determine P-wave arrival time. Bandpass filter of second order butterworth with frequency 0.075-4 Hz is applied to eliminate drift effects and long-wave noise. The integration procces   of velocity broadband signal applied to get displacement signal. From the calculations of 68 velocity broadband signals recorded by CISI station, West Java during period 2009-2011 showed a better accuracy compared to the STA/LTA are currently used in BMKG. Difference in average residual of Integ method to reference data of BMKG is -0063 seconds with standard deviation 0,393 seconds and standard error 0,048 seconds. These results indicate that the Integ method has high accuracy and can be used in the determination of EEW parameters.
Full Journal JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31321.217 KB)

Abstract

TEKNIK STATISTICAL DOWNSCALING DENGAN REGRESI KOMPONEN UTAMA DAN REGRESI KUADRAT TERKECIL PARSIAL UNTUK PREDIKSI CURAH HUJAN PADA KONDISI EL NINO, LA NINA, DAN NORMAL Woro Estiningtyas; Aji Hamim Wigena
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4155.775 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i1.87

Abstract

Makalah ini menyajikan hasil validasi model prediksi curah hujan di Kabupaten Indramayu dengan pendekatan statistika untuk downscaling, yaitu Regresi Komponen Utama dan Regresi Kuadrat Terkecil Parsial, pada kondisi El Nino, La Nina, dan Normal. Data curah hujan dari 6 stasiun hujan dan data presipitasi dari Global Circulation Model ECHAM3 digunakan dalam analisis ini dengan domain grid 8x8 (1.4°LU-18.1°LS; 98.4°-118.1°BT), di atas wilayah Indramayu. Data dibagi untuk setiap kondisi anomali iklim berdasarkan pada Oceanic Nino Index (ONI) yang menggunakan data suhu permukaan laut di Nino 3.4 dari hasil analisis NOAA. Rata- rata nilai RMSEP dan korelasi pada kondisi El Nino adalah 95.22 dan 0.66 untuk PCR serta 102.52 dan 0.62 untuk PLS, pada kondisi La Nina adalah 85.14 dan 0.65 untuk PCR, serta 98.43 dan 0.69 untuk PLS, sedangkan pada kondisi Normal diperoleh nilai rata-rata 91.41 dan 0.57 untuk PCR, serta 85.37 dan 0.63 untuk PLS. Secara umum pada kondisi El Nino PCR menunjukkan performa yang lebih baik daripada PLS, sedangkan pada kondisi La Nina dan Normal, PLS lebih baik daripada PCR. Pemilihan model tergantung pada cakupan wilayah yang dikaji, apakah mewakili daerah di sekitar stasiun hujan atau mewakili suatu wilayah kabupaten. This paper presents the results of validation of rainfall prediction models in Indramayu district using statistical approaches for downscaling, i.e. Principal Component Regression and Partial Least Square Regression, during El Nino, La Nina, and Normal conditions. Rainfall data from 6 stations and the precipitation data from Global Circulation Model ECHAM3 are used in this analysis with the domain size 8x8 (1.4°S-18.1°S; 98.4°-118.1°E), over the Indramayu region. Data are classified into each climatic anomaly condition based on the Oceanic Nino Index (ONI) which uses sea surface temperature data at the Nino 3.4 as the results of NOAA analysis. The average value of RMSEP and correlation in El Nino conditions are 95.22 and 0.66 for PCR and 102.52 and 0.62 for PLS,in La Nina conditions the values are 85.14 and 0.65 for the PCR, and 98.43 and 0.69 for the PLS, and in normal conditions the values are 91.41 and 0.57 for PCR, and 85.37 and 0.63 for PLS. In general PCR shows better performance than PLS in El Nino conditions, while in La Nina and Normal conditions the PLS performance is better than PCR. The selection model depends on the coverage areas studied, whether representing the area around the rainfall station or representing a district area.
PENGUKURAN VS30 MENGGUNAKAN METODE MASW UNTUK WILAYAH YOGYAKARTA Muzli Muzli; R. Pandhu Mahesworo; R. Madijono; Siswoyo Siswoyo; K.R. Dewi; Budiarta Budiarta; O. Sativa; B. Sulistyo; R. Swastikarani; N. Oktavia; Moehajirin Moehajirin; N. Efendi; T.A. Wijaya; B. Subadyo; Mujianto Mujianto; Suwarto Suwarto; S. Pramono
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 17, No 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4690.755 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.374

Abstract

Yogyakarta merupakan salah satu wilayah yang aktif gempabumi di Indonesia. Sumber gempabumi dapat berasal dari patahan lokal Opak di bagian timur ataupun zona subduksi pada bagian selatan Yogyakarta. Pembuatan peta mikrozonasi gempa sangat dibutuhkan untuk pertimbangan pembangunan infrastruktur atau bangunan yang tahan terhadap gempabumi. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak resiko yang mungkin ditimbulkan. Pada pertengahan tahun 2014 telah dilakukan pengukuran kecepatan gelombang geser (Vs30) di wilayah Yogyakarta khususnya wilayah Kabupaten Bantul dan Sleman. Pengukuran dilakukan terhadap 55 titik yang menyebar pada dua wilayah Kabupaten tersebut dengan jarak antar titik sekitar 1 sampai 5 km. Vs30 merupakan salah satu parameter yang digunakan dalam peta mikrozonasi. Pengukuran Vs30 dengan metode Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW) menggunakan 24 geofon komponen vertikal dengan frekuensi 4.5 Hz. Nilai Vs30 memberikan informasi klasifikasi tanah permukaan sampai pada kedalaman 30 meter. Hasil interpretasi nilai Vs30 menunjukkan bahwa pusat kota yaitu Kotamadya Yogyakarta memiliki resiko amplifikasi gelombang yang relatif besar dengan nilai Vs30 berkisar antara 115-175 m/s. Pembangunan di wilayah ini sangat disarankan untuk memperhatikan aturan yang memenuhi standard sesuai rujukan SNI 1726-2012. Pada sisi lain, wilayah yang memiliki tanah permukaan klasifikasi padat dengan nilai rata-rata Vs30 antara 350-480 m/s adalah Kecamatan Kretek, Sanden, Pandak dan Bambanglipuro. Wilayah ini memiliki potensi untuk pelemahan atau atenuasi gelombang sehingga resiko kerusakan akibat gempabumi relatif lebih kecil. Yogyakarta region is one of a seismically active region in Indonesia. Earthquake source can be generated from a local fault Opak in the eastern or subduction zone in the southern part of Yogyakarta. Map of seismic microzonation is needed for infrastructure development considerations or buildings resistant to earthquakes. The use of this map is expected to reduce the impact of risks that may be posed. In mid-2014 measurements of shear wave velocity (Vs30) in Yogyakarta has been carried out, especially in the districts of Bantul and Sleman. Measurements were made on the 55 points spread in the two districts with the distance between the points is 1 to 5 km apart. Vs30 is one of the parameters used in the microzonation maps. Vs30 measurements using Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW) method. It is acquired using 24 geophones of the vertical component with the frequency of 4.5 Hz. The values provide information of the classification of the soil surface to a depth of 30 meters. Results and interpretation of Vs30 value indicates that the city center of Yogyakarta has intermediate risk with relatively large possibility of seismic wave amplification with the values of Vs30 ranging between 115-175 m/s. The Building Construction in this region are strongly recommended to follow the regulation or building code of SNI 1726-2012. Whereas the region which has a solid surface soil classification with the average Vs30 values between 350-480 m/s is the districts of Kretek, Sanden, Pandak and Bambanglipuro. This region could potentially attenuate the seismic wave, hence they have relatively low risk for the damages due to strong earthquakes.