cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 310 Documents
MODEL PRAKIRAAN CURAH HUJAN BULANAN DI WILAYAH JAWA BAGIAN UTARA DENGAN PREDIKTOR SUHU MUKA LAUT (SML) DAN OUTGOING LONGWAVE RADIATION (OLR) Dedi Sucahyono; Hidayat Pawitan; Aji Hamim Wigena
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1002.393 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v10i2.39

Abstract

Penelitian ini telah menganalisis pengaruh Suhu Muka Laut (SML) dan Outgoing Longwave Radiation (OLR) terhadap curah hujan bulanan di wilayah Jawa bagian utara. Sebagai wilayah represntatifnya digunakan data curah hujan empat Zonasi Musim (ZOM) meliputi ZOM 30, 43, 88, dan 90. Data curah hujan bulanan ke empat ZOM tersebut dihitung koefisien Pearson (r) saat dikorelasikan dengan SML  dengan resolusi 1º X 1º dan OLR dengan resolusi 2.5º  X 2.5º pada domain 5º LU -  20º LS dan 90º BT – 150º BT selama periode 1979 – 2007. Hasilnya menunjukkan korelasi yang signifikan antara curah hujan bulanan dengan SML dan OLR. Dalam penelitian ini digunakan juga Jaringan Syaraf Tiruan (JST) untuk menyusun model prakiraan curah hujan bulanan di empat ZOM dengan masukan SML dan OLR  hasil korelasi di atas  yang berperan sebagai prediktor. Untuk menentukan validasi model tersebut, hasil prakiraan diverifikasi dengan data observasi selama periode 2003 – 2007. Hasil luaran model menunjukkan pola yang sama dan konsisten ketika dibandingkan dengan data observasi. Hal tersebut ditunjukkan pula dengan nilai RMSE yang kecil selama tahun 2006. Disisi lain, hasil evaluasi dengan menggunakan nilai galat, galat besar diperoleh selama periode bulan-bulan kering. Aims of this research is to analysis the influence of sea surface temperature (SST)) and Outgoing Long wave Radiation (OLR) on monthly rainfall in northern Java Island. The rainfall data are from   Rainfall Type (ZOM) 30, ZOM 43, ZOM 88, and ZOM 90 as defined by Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (MCGA). The  monthly rainfall of each region were calculated by Pearson coefficient ( r) to be correlated to SST resolution 1º X 1º and OLR  resolution 2.5 º  X 2.5º at area domain 5º N -  20º S and 90º E – 150º E and over  period 1979 – 2007. The result indicates significant correlations   between the monthly rainfall and SST and OLR. Artificial Neural Network (ANN) was applied to predict monthly rainfall over the four ZOM using input SST and OLR selected base on the correlation result. The validation of ANN model was done by comparing output of the monthly predicted rainfall to its observation over period 2003 – 2007. It is found out that the output model pattern is reasonably its consistent to its observation. The value of RMSE is smallest in 2006. The evaluation result using bias indicates that the biggest error occurred during dry season period.
SIMULATION OF RAINFALL OVER WEST NUSA TENGGARA PROVINCE BASED ON ECHAM5/MPI-OM AND GFDL CM2.1 Dian Nur Ratri; Mugni Hadi Hariadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.216 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i2.178

Abstract

Simulasi curah hujan di Propinsi Nusa Tenggara Barat dipelajari dengan menggunakan Regional Climate Model (RCM) Conformal-Cubic Atmospheric Model (CCAM) dari CSIRO yang didukung oleh model global (General Circulation Models atau GCMs) yaitu ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1. Tiga periode yang dikaji dalam studi ini adalah 1980–1999, 2050–2069, dan 2080–2099. Untuk simulasi periode 1980–1999 dievaluasi terhadap observasional data. Secara umum, untuk simulasi pola curah hujan tahunan periode 2050–2069 dan 2080–2099,  ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1 menunjukkan pola simulasi yang hampir sama. Namun, simulasi kedua model global ini untuk curah hujan tahunan periode observasi (1980–1999) berbeda. Bila dilihat secara musiman, simulasi model untuk musim kemarau periode 2060 dan periode 2090, ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1 jika dibandingkan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan, dan sebaliknya pada musim hujan. Rainfall over the West Nusa Tenggara Province was simulated by a Regional Climate Model (RCM) - the CSIRO Conformal-Cubic Atmospheric Model (CCAM) driven by two host General Circulation Models (GCMs), ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1. Three periods considered for this study were 1980–1999, 2050–2069, and 2080–2099 for the IPCC SRES greenhouse gas emission scenario A2. Simulations for the 1980–1999 periods were evaluated against observational data. The finding shows that in general, ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1 did not show any significant behavior in simulating annual mean rainfall patterns for the period of 2050–2069 and period of 2080–2099. Nevertheless, for the current period (1980–1999) those both GCMs are markedly different in the simulation of annual mean rainfall. There are also simulations of seasonal mean rainfalls, dry and wet season, and show that ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1 are nearly similar in simulating dry season but not for the wet season.
MODULASI QBO TERHADAP ANOMALI KONSENTRASI UAP AIR DAN OZON DI STRATOSFER BAWAH Noersomadi Noersomadi; Dita Fatria Andarini
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 21, No 2 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (948.251 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v21i2.672

Abstract

Angin rerata zonal di stratosfer bawah (100–10 hPa) yang merambat vertikal ke bawah seiring waktu dengan periode ~26 bulanan lazim disebut sebagai Quasi Biennial Oscillation (QBO). Untuk mengetahui hubungan antara QBO dengan konsentrasi uap air (H2O) dan ozon (O3) terhadap proses pendinginan dan pemanasan radiatif di stratosfer bawah, penelitian ini menggunakan data MLS Aura versi 4.2 sepanjang Agustus 2004–Juli 2019 (16 tahun). Kami menitikberatkan pada analisis variasi antartahunan yaitu simpangan dari rerata tahunan anomali H2O (H2O*) dan anomali (O3*). H2O* menunjukkan pola perambatan ke atas yang dikenal sebagai ‘atmospheric tape recorder’. Osilasi O3* positif–negatif dan anomali temperatur (T*) hangat–dingin terlihat jelas merambat ke bawah bersesuaian dengan pola perubahan angin zonal. Diagram komposit H2O* di 100 hPa menunjukkan anomali kering sekitar ± 3 bulan dari transisi fasa QBO timuran (QBO easterly; QBO-E) ke fasa QBO baratan (QBO westerly; QBO-W), dimana O3* memerlihatkan fluktasi menurun dan meningkat di 20–50 hPa. Udara kering (H2O* ~ –0.5 ppmv) dengan O3* positif (0.5 ppmv) tinggi akan menaikkan temperatur sebesar 2 K. Profil rerata H2O*, O3* dan T* pada dua fasa QBO yang berbeda menunjukkan modulasi QBO pada variasi uap air dan ozon yang memengaruhi pendinginan dan pemanasan radiatif di stratosfer bawah. Dengan demikian, variasi dua komposisi kimia (H2O dan O3) terkait respon radiatif di stratosfer bawah perlu dipertimbangkan untuk pengembangan model iklim. Zonal mean wind in the lower stratosphere (100–10 hPa) that propagates vertically with a period of about 26 months is well known as the Quasi-Biennial Oscillation (QBO). To understand the relationship between QBO and both water vapor (H2O*) and ozone (O3*) concentration on the radiative cooling and heating in the lower stratosphere, this research utilized MLS Aura version 4.2 data from August 2004 to July 2019 (16 years). We focus on the analysis of interannual variation as the deviation from the annual mean of H2O anomaly (H2O*) and O3 anomaly (O3*). H2O* showed an upward propagation pattern called an atmospheric tape recorder. The positive-negative oscillation of O3* and warm-cool of temperature anomaly (T*) were clearly seen propagating downward associate with zonal wind alteration. The composite diagram of H2O* at 100 hPa showed dry anomaly during about ± 3 months around the transition period from QBO easterly phase (QBO-E) to QBO westerly phase (QBO-W), where O3* depict decreasing and increasing fluctuations at 20–50 hPa. The dry air about –0.5 ppmv with ozone about 0.5 ppmv will increase the temperature by 2 K. The mean profile of H2O*, O3* and T* during the two QBO phases showed QBO modulation on the water vapor and ozone variation that influence the radiative cooling and heating in the lower stratosphere. Therefore, the variation of two chemical constituents (H2O and O3) related to radiative response in the lower stratosphere should be considered when one will develop the climate model.
IMPLEMENTASI PERHITUNGAN RECEIVER FUNCTION UNTUK GEMPA JAUH (TELESEISMIC) MENGGUNAKAN MATLAB Wiwit Suryanto; Boko Nurdiyanto; Suliyanti Pakpahan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 1 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1206.63 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v11i1.64

Abstract

Telah dilakukan pemodelan receiver function untuk data teleseismik yang direkam oleh stasiun pengamatan gempabumi 3 komponen. Perhitungan dekonvolusi dalam perhitungan receiver function ini dilakukan dalam domain frekuensi. Pemodelan dilakukan dalam sistem MATLAB. Program dapat berjalan dengan efisien, dan waktu yang diperlukan untuk perhitungan untuk model 4 lapis adalah sekitar 1,2 detik dengan menggunakan komputer Intel Atom dengan memori 1 GB. Untuk model dengan 31 lapisan, diperlukan waktu perhitungan 1,9 detik. Efektifitas program ini memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut misalnya untuk keperluan inversi. Receiver function modeling for teleseismic earthquake has been implemented using MATLAB. The deconvolution process is carried out in the frequency domain for simplicity. The time required for calculating a four-layer model is about 1.2 seconds using Intel Atom 1 GB of memory. For a velocity model with 31 layers it takes 1.9 seconds using the same computer specification. The effectiveness of the program may used for other advance application especially for earth crustal inversion.
RESPON PERILAKU USAHATANI PADI TERHADAP RESIKO IKLIM EKSTRIM DAN SERANGAN OPT Woro Estiningtyas; Adang Hamdani
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 16, No 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18960.012 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v16i1.261

Abstract

Posisi Indonesia di antara dua benua dan samudera merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kondisi iklimnya sangat dinamis dan kompleks. Kejadian iklim ekstrim seperti banjir, kekeringan dan serangan OPT juga menjadi bagian yang harus dihadapi oleh petani dalam keseharian usahataninya. Survey dan wawancara dilakukan di Kecamatan Sliyeg dan Cantigi, Kabupaten Indramayu dalam rangka mengetahui dinamika iklim serta respon dan adaptasi petani pada kejadian iklim ekstrim. Diantara banjir, kekeirngan dan OPT, kejadian kekeringan masih menjadi penyebab utama (70%) kerugian dan gagal panen sebagian besar petani padi di Kabupaten Indramayu. Kekeringan pada umumnya berlangsung selama 1-6 bulan. Identifikasi tahun terburuk selama periode 1992-2012 sebagian besar berhubungan dengan kejadian El-Nino, banjir dan OPT. Empat tahun terburuk di Kecamatan Cantigi adalah tahun 2012, 2011, 2010 dan 2009 , sedangkan di Kecamatan Sliyeg tahun 2012, 2007, 2008 dan 2003. Respon dan adaptasi petani terhadap kejadian iklim ekstrim antara lain dengan pompanisasi, sumur bor dan penggantian tanaman. Sebagian besar Petani belum memiliki cara untuk mengetahui kondisi kekeringan ke depan. Kearifan lokal masih diandalkan oleh petani dalam melihat dan memperkirakan kejadian alam terkait dengan usahataninya selain juga informasi dari instansi terkait seperti BMKG, Dinas dan juga penyuluh. Indonesia's position between two continents and oceans is one of the factors that cause climate conditions very dynamic and complex. Extreme climate events such as floods, drought and pest attacks also become part of the situation that must be faced by farmers in farmer system. Surveys and interviews were conducted in Sliyeg and Cantigi Sub-district, Indramayu district to determine the dynamics of the climate as well as the response and adaptation of farmers to extreme climate events. Amongst floods, drought, and pests, it showed that drought event is still the main cause (70%) of harvest failure in Indramayu district. Drought generally lasts for 1-6 months. Identification of the worst year during the period 1992-2012 was largely due to El-Nino events, floods, and pests. Four worst extreme climate years in Cantigi are in 2012, 2011, 2010 and 2009, whilst in Sliyeg District are in 2012, 2007, 2008 and 2003. Response and adaptation of farmers to extreme climate events in those sub-districts were shown by pumping, drilling wells and replacement of the plants. Most of the farmers have not yet had a way to know the future drought conditions. Local wisdom is still relied upon by farmers to see and predict natural events associated with farming as well as information from relevant agencies such as BMKG, local Government and extension worker.
SUHU PERMUKAAN DAN KANDUNGAN PANAS LAUT PERAIRAN INDONESIA DALAM SATU ABAD TERAKHIR Mutiara Rachmat Putri; Iwan Pramesti Anwar; Ayi Tarya; Idris Mandang
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 23, No 2 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.987 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v23i2.841

Abstract

Histori kenaikan suhu permukaan laut (SPL) telah terjadi sejak revolusi industri dunia. Secara alamiah kejadian letusan gunung yang dahsyat dapat pula mempengaruhi suhu air laut hingga kedalaman laut tertentu. Suhu air laut ini sangat mempengaruhi kandungan panas laut, yang berperan penting dalam mengatur kondisi iklim yang terjadi di bumi. Kandungan panas laut di Perairan Indonesia dihitung menggunakan data temperatur berdasarkan data Met Office Hadley Observation “EN 4.1.1” yang merupakan hasil model numerik dan asimilasi data pengamatan, dengan resolusi ruang 1o x 1o dan rentang waktu bulanan dari tahun 1901-2015 atau selama 115 tahun. Kandungan panas laut dihitung di kedalaman 0-100 m dan total kedalaman perairan Indonesia. Kandungan panas laut permukaan di Indonesia dari tahun 1901-2015 mengalami kenaikan sebesar 2x1014 J, namun sebaliknya di kedalaman total turun sebesar -2x1014 J. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan iklim dari interaksi laut udara di permukaan laut, yang ditunjukkan pula adanya trend kenaikan SPL dalam kurun waktu 115 tahun. Pengaruh dari Samudra Pasifik yang masuk melalui Sistem Arus Laut Indonesia diperkirakan menjadi penggerak utama kenaikan kandungan panas laut di Indonesia. Selama indeks Pacific Decadal Oscillation (PDO) memiliki fase positif menyebabkan turunnya kandungan panas di Perairan Indonesia dan sebaliknya fase negatif PDO menyebabkan naiknya kandungan panas laut rata-rata.
PROYEKSI POTENSI ENERGI SURYA SEBAGAI ENERGI TERBARUKAN (STUDI WILAYAH AMBON DAN SEKITARNYA) Deni Septiadi; Pieldrie Nanlohy; M. Souissa; Francis Y. Rumlawang
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.518 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v10i1.30

Abstract

Indonesia merupakan negara yang melimpah akan energi surya dilihat dari letak yang potensial migrasi tahunan matahari. Pemanfaatan energi fosil sampai saat ini cukup mengkhwatirkan karena semakin menipisnya sumber energi disamping efek negatif yang ditimbulkannya akibat meningkatnya konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK). Peningkatan GRK akan memicu meningkatnya suhu permukaan dan menciptakan lingkungan tidak kondusif. Matahari sebagai sumber energi terbesar seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal untuk wilayah Indonesia. Diversifikasi energi merupakan langkah yang harus ditempuh untuk mendapatkan sumber lain sehingga mengurangi ketergantungan akan sumber fosil. Untuk mendapatkan gambaran riil akan energi surya tersebut perlu dilakukan analisis spasial distribusi potensi energi matahari untuk wilayah Indonesia keseluruhan dan Ambon secara khusus. Dengan melakukan kombinasi antara teknik Kriging dan metode iterasi Point Successive Over-Relaxation (PSOR) diharapkan memperlihatkan proyeksi pemetaan dengan resolusi yang lebih  baik. Sebelumnya dilakukan optimalisasi data sekunder dengan model Curve Fitting. Indonesia is a country which excessive energy resources of solar showed by potential position of solar annual migration. Until this time fossil energy consumption so apprehensively, its because decreasing of energy resources besides negative effect of increasing Greenhouse Gases concentrate, that is increasing of surface temperature and creates inconducive  environment. Sun as the biggest  energy resource should be use optimally for Indonesia area. Diversification of energy is a final step to get another resources so release us of dependently fossil resources. For real description of solar energy, it needs spatial analysis of potential distribution of solar energy  for Indonesia area particularly Ambon. By using combination between Kriging technique and iteration methods, Point Successive Over-Relaxation (PSOR), hoped indicates mapping projection with better resolution. Early by optimalisize secondary data using Curve Fitting models.
VERIFIKASI LUARAN MODEL GELOMBANG WINDWAVES-05 DENGAN SATELIT ALTIMETER Roni Kurniawan; Donaldi Sukma Permana; Suratno Suratno; Muhammad Najib Habibie
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 14, No 3 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.422 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v14i3.166

Abstract

Di negara kepulauan seperti Indonesia, informasi tentang tinggi gelombang sangat penting untuk menunjang aktivitas di laut. Mengingat hal tersebut, akurasi prakiraan tinggi gelombang perlu mendapat perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa model prediksi gelombang laut Windwaves-05 yang digunakan BMKG sejak tahun 2004 terhadap data observasi satelit altimeter AVISO dengan menghitung nilai korelasi, kesalahan absolut, dan kesalahan relatif model selama periode tahun 2010. Dari hasil verifikasi, diperoleh nilai korelasi antara luaran model Windwaves05 dengan AVISO bervariasi diatas 0,7, dengan nilai korelasi terendah (0,77) diperoleh pada bulan Februari dan yang tertinggi pada bulan Mei (0,94), dan nilai bias absolut tinggi gelombang yang diperoleh umumnya bervariasi kurang dari 0,8 meter, serta kesalahan relatif rata-rata model sebesar 24%. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa model gelombang laut Windwaves-05 mempunyai performa yang cukup baik dan dapat digunakan untuk prakiraan tinggi gelombang di perairan Indonesia.In a maritime continent Indonesia, information about sea wave height is highly important for supporting human activities in the ocean. Therefore, the accuracy of wave height prediction must require intensive attention. This study investigated the spatial performance and accuracy of Windwaves-05 ocean model prediction that has been used by BMKG since 2004 against the altimetry satellite observation data from AVISO for 2010 by computing the linear regression correlation, absolute error and its relative error. The verification results show that the correlation is greater than 0.75 for all months of 2010, with a minimum in February (0.77) and maximum in May (0.94). The absolute error varies between 0.2 - 0.8 meter with an average relative error of 24%. These results exhibit a relatively good performance of Windwaves-05 and support its application in wave height prediction in Indonesian waters.
INDEKS PENULIS DAN INDEKS SUBYEK VOL. 19 INDEKS PENULIS INDEKS SUBYEK
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 19, No 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (27.039 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v19i2.683

Abstract

Indeks Penulis dan Indeks Subyek Vol. 19
ANALISIS SUMBER GEMPABUMI PADA SEGMEN MENTAWAI (STUDI KASUS: GEMPABUMI 25 OKTOBER 2010) Wiko Setyonegoro; Bambang Sunardi; Sulastri Sulastri; Jimmi Nugraha; Pupung Susilanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.027 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v13i2.128

Abstract

Untuk menentukan desain parameter sumber gempabumi dilakukan melalui pendekatan analisis kondisi geologi area penelitian di segmen Mentawai. Data historis yang dijadikan acuan dalam penelitian ini adalah gempabumi Mentawai 25 Oktober 2010. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemodelan sumber gempabumi sebagai pembangkit tsunami pada segmen Mentawai yang difokuskan pada kejadian gempabumi dan tsunami Mentawai 25 Oktober 2010. Pemodelan tersebut berdasarkan pada empat skenario sumber gempabumi. Skenario pertama dan kedua menggunakan data USGS, sedangkan skenario ketiga dan keempat menggunakan data BMKG. Metode yang digunakan adalah metode Wells and coppersmith dan distribusi gempabumi susulan (aftershock). Setelah diakukan pengolahan data sumber gempabumi dengan software Tsunami L-2008, diperoleh hasil berupa run-up tsunami yang memiliki nilai dengan pola distribusi yang mendekati hasil survei lapangan dari BMKG dan Atsushi Koresawa (JICA, Japan), yaitu distribusi run-up yang tinggi di P. Pagai Selatan dan menurun di P. Pagai Utara. Hasil dari pemodelan yang paling mendekati hasil survei yaitu pemodelan sumber gempabumi berdasarkan mekanisme dari CMT USGS dan mengacu pada distribusi gempabumi susulan dengan mekanisme strike: 319, dip : 7, slip: 7 m, luas sesar: 180 m x 110 m, depth: 12 m. To determine design of earthquake source parameters, it is done by analysis of geological conditions approach of research area in Mentawai segment. Refference of historical data in this study is Mentawai earthquake October 25th, 2010. This research aims to earthquake source modeling as a tsunami triggering in Mentawai segment that is focused on the earthquakes and tsunami event of Mentawai October 25, 2010. This modeling is based on four scenarios of earthquake sources. The first and second scenario uses USGS data, while the third and fourth scenarios uses BMKG data. The used method is Wells and coppersmith method and aftershock earthquakes distribution. After the earthquake sources data processing is done by using Tsunami L-2008 software, it is obtained results as tsunami run-up having  values close to the distribution patterns of the BMKG and Atsushi Koresawa (JICA, Japan) field surveis, that is the distribution of high run-up in Pagai island and decrease in North Pagai island. The modeling results that is closest to the survei result is the earthquake sources modeling based on CMT USGS mechanisms and refers to aftershocks distribution with strike mechanism: 319, dip:7, slip: 7 m wide fault: 180 mx 110 m, depth: 12 m.