cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 310 Documents
Sampul Jurnal MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 18, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisa sistem komunikasi data berbasis Internet of Things (IoT) menggunakan metode PIECES pada Sistem Pengamatan Cuaca Otomatis di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Ariffudin Ariffudin; Purnawarman Musa
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 23, No 2 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v23i2.831

Abstract

Stasiun Pengamatan Cuaca pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah merapatkan jaringan stasiun pengamatan cuaca guna menghasilkan akurasi data yang lebih baik. BMKG memiliki kurang lebih 1000 dan jumlah ini masih jauh dari ideal untuk kerapatan jaringan pengamatan cuaca se-Indonesia. Stasiun pengamatan cuaca yang terbagi dalam 3 (tiga) type yaitu Automatic Rain Gauge (ARG), Automatic Weather Station (AWS) dan Agroclimate Automatic Weather Station (AAWS). Pemuktahiran sistem pengiriman data dari stasiun pengamat cuaca terhadap protokol pengiriman File Transfer Protocol (FTP) melalui modem General Packet Radio Service (GPRS) setiap 10 menit, dengan upgrade teknologi Internet of Things (IoT) perlu peninjauan terhadap kinerja operasional sistem komunikasi data. Karakteristik data yang kecil sangat cocok pada teknologi Internet of Things dengan menggunakan protokol Message Queuing Telemetry  Transport (MQTT) guna monitoring data-data cuaca secara real-time. Berdasarkan hasil kajian dan penelitian dengan pengujian yang dilakukan terhadap metode komunikasi protokol FTP dengan protokol IoT MQTT pada stasiun AWS menggunakan analisa dengan metode PIECES (Performance, Information, Economic, Control, Efisiency dan Service) menunjukkan protokol MQTT yang berbasis IoT sebagai konsep komunikasi data yang tepat dimasa depan mengantikan protokol FTP. 
STUDI POTENSI SEISMOTEKTONIK SEBAGAI PRECURSOR TINGKAT KEGEMPAAN DI WILAYAH SUMATERA Supriyanto Rohadi; Hendra Grandis; Mezak Arnold Ratag
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 9, No 2 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v9i2.27

Abstract

Distribusi parameter seismotektonik dari relasi Gutenberg-Richter memegang peranan penting terkait dengan mitigasi  bencana gempabumi. Pada penelitian ini, analisis parameter seismotektonik menggunakan data gempabumi dari katalog BMG dan National Earthquake Information Center (NEIC), tahun 1973 - 2008, dengan batas 5,0° LS - 8° LU dan 92° BT -106° BT, yaitu meliputi wilayah Sumatera-Andaman. Dari analisis menggunakan softaware analisis ZMAP diperoleh variasi nilai-b berkisar antara 0.5 - 2.2, variasi nilai-a berkisar antara 4-12 sedangkan periode ulang gempabumi dengan magnitude 6,8 secara umum adalah berkisar antara 5-23 tahun. Gempa-gempa besar pada kurun waktu 2004 - 2008 diindikasikan terjadi di wilayah dengan parameter seisotektonikk yang relatif rendah.
PENENTUAN DOMAIN SPASIAL NWP DALAM PEMBANGUNAN MODEL OUTPUT STATISTICS Urip Haryoko; Hidayat Pawitan; Edvin Aldrian; Aji Hamim Wigena
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 14, No 3 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v14i3.163

Abstract

Model Output Statistics (MOS) adalah salah satu metode statistical downscaling pada tahap post processing luaran Numerical Weather Prediction (NWP) untuk mendapatkan nilai prakiraan parameter cuaca di sebuah titik stasiun pengamatan. Permasalahan yang timbul dalam MOS adalah penentuan domain spasial NWP yang akan digunakan sebagai prediktor. Pada makalah ini disajikan metode penentuan domain spasial untuk memprakirakan suhu maksimum di wilayah Jabodetabek menggunakan data luaran NWP Global Forecast System (GFS) dari National Oceanic and AtmosphericAdministration (NOAA). Data pengamatan suhu maksimum diambil dari delapan stasiun di Wilayah Jakarta, Jawa Barat dan Banten yang digunakan untuk kalibrasi. Pada tahap awal domain spasial NWP ditentukan berukuran 8x8 grid, selanjutnya dicobakan untuk beberapa domain, yaitu berukuran 2x2, 3x3, 3x4, 4x4 dan 5x5 grid. Tiga metode digunakan untuk menentukan domain spasial, yaitu metode analisis korelasi spasial, singular value decomposition (SVD) dan partial least square regression (PLSR). Analisis ketiga metode secara umum menunjukkan hasil yang hampir sama, yaitu domain dengan ukuran 3x3 adalah yang paling baik. Analisis korelasi spasial menunjukkan luasan dengan korelasi lebih besar dari 0,4 hanya meliputi domain maksimal 3x3. Analisis SVD menunjukkan bahwa keeratan hubungan secara simultan antara data observasi dengan NWP hampir sama, yaitu pada ekspansi pertama. Sedangkan hasil verifikasi analisis PLSR menggunakan korelasi dan root mean square error(RMSE) menunjukkan bahwa grid berukuran 3x3 adalah domain terbaik. Model Output Statistics (MOS) is one of a statistical downscaling methods in post-processing of Numerical Weather Prediction (NWP) output to get weather forecasts at a point of observation stations. The problem in MOS is how to determine the spatial domain of NWP which will be used as a predictor in the development stage. This paper presented the methods for determining the NWP spatial domain to predict the maximum temperature in the Greater Jakarta area using the NWP output of Global Forecast System (GFS) produced by National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Maximum temperature observation data was taken in eight stations, around West Java, Banten, and Jakarta. In the first stage, the spatial domain of NWP was defined as 8x8 grids, then attempted for some domains, i.e. 2x2, 3x3, 3x4, 4x4 and 5x5grids. Three methods for determining spatial domain were spatial correlation analysis, singular value decomposition (SVD) and partial least square regression (PLSR). Those three analysis methods generally showed similar results,  spatial domains with size 3x3 are the most excellent. Spatial correlation analysis shows that the size of the area which correlates greater than 0.4 only covered a maximum of 3x3 domain. SVD analysis suggests that the simultaneous relationship between the observation data with NWP is almost the same in the first expansion. While the results of the verification PLSR analysis using correlation and root mean square error (RMSE) indicate that the 3x3 grid is the best domain.
PEMISAHAN AWAN KONVEKTIF DAN STRATIFORM DALAM MENGKAJI SIKLUS DIURNAL DAN MIGRASINYA DI PEGUNUNGAN BAWAKARAENG SULAWESI SELATAN BERDASARKAN DATA RADAR CUACA Syamsul Bahri; Nurjanna Joko Trilaksono
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 20, No 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v20i2.424

Abstract

Aktivitas konvektif diurnal merupakan mode paling dominan di Benua Maritim Indonesia (BMI). Namun kajian yang telah dilakukan sebelumnya tidak memisahkan periode analisis berdasarkan musim sekaligus pemisahan awan konvektif dan stratiform. Selain itu, data yang digunakan terbatas baik resolusi temporal maupun horizontalnya. Adapun tujuan dari kajian ini untuk mengetahui siklus dan migrasi diurnal awan konvektif dan stratiform pada musim berbeda. Kajian migrasi sistem awan hujan dilakukan dengan menggunakan radar cuaca C-Band polarisasi tunggal yang berlokasi di Maros (4.997733o LS, 119.572014o BT) dan terletak pada bagian barat Pegunungan Bawakaraeng (PB) Sulawesi Selatan. Metode Steiner dkk., digunakan untuk mengklasifikasikan awan hujan menjadi dua yaitu awan konvektif dan stratiform. Pada bulan Desember-Januri-Februari (DJF) terdapat aktifitas awan hujan yang bermigrasi secara zonal (timur-barat) yaitu awan konvektif di laut yang bergerak ke darat mulai pagi hari hingga siang dan awan stratiform di darat (gunung) bergerak menuju laut. Selain itu awan hujan juga tampak bermigrasi secara meridional (utara-selatan) yang didominasi oleh awan konvektif. Hasil analisis temporal siklus diurnal menunjukkan bahwa awan stratiform terjadi setelah satu jam puncak awan konvektif. Pada bulan Maret-April-Mei (MAM) aktifitas awan konvektif hanya terdapat di darat (gunung) dan tidak tampak adanya migrasi, berbeda halnya dengan awan stratiform yang tampak bermigrasi ke laut yang sangat jelas terlihat pada wilayah PB bagian utara. Adapun siklus diurnal awan konvektif di pesisir dan gunung maksimum terjadi pada sore hari berbeda dengan awan stratiform yang terjadi dua kali yaitu pada sore hari dan awal pagi. Puncak siklus awan stratiform terjadi setelah dua jam puncak awan konvektif
STUDI INDEKS STABILITAS UDARA TERHADAP PREDIKSI KEJADIAN BADAI GUNTUR (THUNDERSTORM) DI WILAYAH STASIUN METEOROLOGI CENGKARENG BANTEN Maria Budiarti; Muzilman Muslim; Yopi Ilhamsyah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v13i2.125

Abstract

Badai guntur merupakan salah satu fenomena cuaca yang sering terjadi di wilayah Indonesia. Singkatnya durasi hidup badai guntur menyebabkan kejadian ini sulit sekali diprediksi. Analisis indeks stabilitas udara adalah salah satu cara yang digunakan untuk memprediksi peluang kejadian badai guntur. Metode Total – Totals Index, Indeks K dan Indeks Severe Weather Threat (SWEAT) merupakan beberapa metode analisis indeks stabilitas udara yang dikembangkan di daerah lintang tinggi dan sering digunakan untuk memprediksi peluang terjadinya badai guntur di Indonesia. Hasil pengolahan data selama periode tahun 2000 – 2009 menunjukkan bahwa interval yang telah ada dari masing – masing indeks untuk wilayah lintang tinggi tidak cocok untuk digunakan di Stasiun Meteorologi Cengkareng. Untuk Total – Totals Index peluang terbesar terjadinya badai guntur pada nilai interval 42 – 46, berbeda dengan nilai interval yang telah dirumuskan yaitu sebesar   44. Demikian juga dengan interval indeks K yang menunjukan terjadinya badai guntur umumnya pada interval 29 – 37 berbeda dengan interval yang telah dirumuskan yaitu sebesar >25, sedangkan untuk indeks SWEAT peluang terbesar terjadinya badai guntur pada interval 135 – 239 dengan prosentase kejadian sebesar 91,86% berbeda dengan interval yang sudah ada dimana badai guntur umumnya terjadi pada interval diatas nilai 230. Thunderstorm is one of weather phenomena which mostly occurred in Indonesia. It is difficult to predict thunderstorm because of its short life cycle. An analysis of  stability indices  can be used to predict thunderstorm. Total – Totals Index, K Index and Severe Weather Threat (SWEAT) Index are some indices used in subtropic and also used in Indonesia to predict thunderstorm. The analysis of data from 2000 – 2009 shows that interval used in subtropic not suitable for Cengkareng Meteorological Station. Thunderstorm mostly occur in interval 42 – 46 for Total – Totals Index, different from the interval using in subtropic region which is 44. For the K-index, thunderstorms mostly occur with interval 29 – 37 but thunderstorm had been formulated to mostly occur with interval >25. Meanwhile, for SWEAT index thunderstorm predict mostly occur for interval 135 – 239 (91.86%) different from the inverval used in subtropic which is >230.
KAJIAN VERIFIKASI PRODUK PRAKIRAAN CURAH HUJAN BULANAN (2003-2012) Robi Muharsyah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v18i1.265

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk mengukur kualitas produk prakiraan curah hujan (PCH) bulanan dengan cara melakukan verifikasi PCH selama 10 tahun pada periode 2003-2012. Berdasarkan bentuk prakiraan yang dipublikasikan maka metode verifikasi yang sesuai adalah verifikasi prakiraan berkategori. Ukuran verifikasi yang digunakan yaitu Ketepatan, Keunggulan dan Keandalan.  Ketepatan diukur dengan nilai Proportion of Correct (PC), Keunggulan dengan nilai Heidke Skill Score (HSS) dan Keandalan dengan nilai Frequency Bias Index (FBI).  Hasilnya secara temporal dan spasial, PCH pada periode JJA (musim kemarau) lebih baik dari pada PCH pada periode DJF (musim hujan). Nilai rata-rata PC, HSS dan FBI pada musim kemarau berada pada kriteria: ketepatan tinggi, unggul dan handal. Peningkatan kualitas PCH pada musim kemarau umumnya terdapat pada pos hujan di wilayah Monsunal seperti Sumatera bagian tengah hingga selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi Selatan bagian barat, Jawa bagian tengah dan timur hingga ke pulau Bali, dan Nusa Tenggara. Namun demikian, selama periode 2003-2012, kualitas PCH pada musim kemarau 2010 adalah yang paling buruk. Hal ini disebabkan karena adanya fenomena La Nina Kuat yang berpengaruh pada peningkatan jumlah curah hujan pada saat musim kemarau di Indonesia.
STUDI HAZARD SEISMIK DAN HUBUNGANNYA DENGAN INTENSITAS SEISMIK DI PULAU SUMATERA DAN SEKITARNYA Edy Santoso; Sri Widiyantoro; I Nyoman Sukanta
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v12i2.93

Abstract

Zona subduksi di sepanjang pantai barat dan sesar aktif yang berada di pulau Sumatera merupakan sumber gempa bumi yang aktif. Upaya peningkatan mitigasi di wilayah Sumatera menjadi bagian yang penting, untuk itu diperlukan suatu studi hazard seismik dan hubungannya dengan intensitas seismik di pulau Sumatera dan sekitarnya. Studi ini menggunakan data dukung seperti data katalog gempa bumi, data sesar, data subduksi, data intensitas seismik dan data pga dari rekaman akselerograf BMKG. Berdasarkan hasil studi hazard seismik, diperoleh beberapa kota besar di Sumatra yang mempunyai hazard seismik tinggi seperti: Banda Aceh, Padang, Bengkulu dan Bandar Lampung. Hasil studi hubungan empiris antara nilai percepatan tanah maksimum (PGA) rata - rata dan data intensitas seismik (MMI) observasi diperoleh rumusan:  I (MMI) = 0.008 * PGA (gal) + 3.159. Berdasarkan pendekatan hasil studi sementara wilayah Sumatera dengan beberapa hasil penelitian para ahli luar negeri, maka rumusan empiris Wald et al. (1999) mempunyai hasil yang cukup dekat dengan hasil studi pada nilai PGA 0 -200 gal. Sedangkan rumusan empiris Lepolt (2008) untuk nilai PGA 200-1000 gal. The existence of the subduction zone along the west coast and active faults in Sumatra is an active source of earthquakes. Increased mitigation efforts in the region became an important part of Sumatra. It required a study of seismic hazard and its relationship with seismic intensity on the island of Sumatra and surrounding areas. This study used data supporting such an earthquake catalog data, data delivery, data subduction, earthquake intensity data and PGA data from recording accelerograph BMKG based on the results of seismic hazard studies, acquired several major cities in Sumatra that have a high seismic hazard such as Banda Aceh, Padang, Bengkulu and Bandar Lampung. The results of an empirical study of the relationship between rate the value of maximum ground acceleration (PGA) and seismic intensity (MMI) observations obtained by the formula: I (MMI) = 0008 * PGA (gal) + 3159. Based on the approach to the study while the region of Sumatra by several findings by scientists abroad, then the empirical formulation of Wald et al. (1999) have results quite close to the results of studies on the PGA 0 -200 gal. While the empirical formula Lepolt (2008) for the PGA 200-1000 gal.
Sampul Jurnal MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 18, No 3 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DETEKSI POTENSI GERAK VERTIKAL ATMOSFER DI ATAS WILAYAH BANDUNG DAN SEKITARNYA Endarwin Endarwin
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 1 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v11i1.61

Abstract

Pada penelitian ini deteksi potensi gerak vertikal atmosfer di atas wilayah Bandung dan sekitarnya telah dicoba dilakukan. Upaya untuk mendeteksi potensi keberadaannya dilakukan dengan memanfaatkan terdapatnya konvergensi atau pengaruh kondisi orografi yang menjadi salah satu sebab dari timbulnya gerak vertikal tersebut. Melalui upaya interpolasi data angin pada arah horisontal (2D) di beberapa ketinggian yang berbeda untuk 9 waktu pengamatan pada bulan Oktober 2003, dilakukan analisis hodograf untuk menentukan indikasi kemampuan olahan data angin dalam mendeteksi potensi gerak vertikal, analisis divergensi untuk mengetahui terdapatnya konvergensi serta analisis vortisitas relatif untuk mengetahui terdapatnya pengaruh kondisi orografi. Setelah melalui analisis hodograph, hasil dari analisis divergensi dan vortisitas relatif selanjutnya dibandingkan dengan kondisi awan yang terjadi yang ditunjukkan oleh data MT-SAT kanal inframerah sebagai representasi akibat  adanya gerak vertikal.  Berdasarkan perbandingan kedua analisis tersebut  menunjukkan bahwa analisis vortisitas relatif dapat mendeteksi adanya potensi gerak vertikal  di atas wilayah penelitian  dengan cukup signifikan sedangkan analisis divergensi  sebaliknya. Hal tersebut menunjukkan bahwa gerak vertikal yang terjadi lebih didominasi oleh pengaruh kondisi orografi.  Tingkat korelasi rata-rata deteksi potensi gerak vertikal yang diperoleh melalui analisis vortisitas relatif adalah 64 % dan hal tersebut sekaligus juga menunjukkan bahwa olahan data angin yang digunakan dapat berfungsi dengan cukup baik. An attempt to detection the atmosphere vertical motion potency on Bandung and its around as the investigation area has been carried out. The investigation was done by utilize the convergence or orographic influences that caused the vertical motion. The wind data in regular points was found by horizontal interpolation of wind observation that observed in some places for 9 observation time in October 2003 as the first step and then was done the hodograph analysis to determine the ability of horizontal interpolation result to detection vertical motion potency, divergence analysis to detection the convergence and relative vorticity analysis analisis to detection the orographic influences. Base on the comparing of divergence and relative vorticity analysis with the MT-SAT data, they show the relative vorticity analysis can detect vertical motion potency on investigation area with significantly result whereas the divergence analysis is the opposite. This result gives indication that the vertical motion on the investigation area more dominated by orographic influences as the main cause.  Finally, the mean accuracy of detection vertical motion potency by relative vorticity analysis is 64 % and this result also show that the wind data in regular points by interpolation can be used well.