cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 310 Documents
PERBANDINGAN CURAH HUJAN BULANAN DARI DATA PENGAMATAN PERMUKAAN, SATELIT TRMM DAN MODEL PERMUKAAN NOAH Dodo Gunawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 9, No 1 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v9i1.17

Abstract

Membandingkan  data curah hujan bulanan antara hasil pengamatan di permukaan (OBS) dengan data dari pengukuran melalui satelit TRMM dan hasil keluaran model permukaan NOAH telah dilakukan terhadap beberapa  lokasi yaitu Medan, Indramayu, Karang Ploso dan Makassar. Data yang dibandingkan adalah curah hujan bulanan dari periode 1998 sampai 2007. Hasil perbandingan ini menunjukan bahwa  curah hujan yang diukur melalui satelit  maupun hasil keluaran model NOAH memperlihatkan pola curah hujan bulanan yang sesuai dengan pengamatan  di permukaan. Namun besarannya setiap lokasi yang dianalisa menunjukan adanya variasi perbedaan curah hujan bulanan. Hal ini terlihat melalui korelasi dari ketiga data set tersebut yang tertingi adalah curah hujan observasi dengan satelit TRMM dilokasi Hasanuddin (Makassar), Karang Ploso dan Medan. Di Indramayu korelasi tertinggi adalah antara data model NOAH dengan TRMM. Di Stasiun Hasanuddin, korelasi tinggi selain pasangan data observasi-TRMM juga pada pasangan data model NOAH dengan observasi. Memperhatikan besarnya korelasi, yaitu antara 0.7-0.9 data curah hujan dari TRMM berpotensi untuk digunakan mengisi data-data pengamatan di darat yang  kosong baik secara temporal untuk series data suatu lokasi, maupun mengisi kekosongan spasial untuk suatu wilayah yang kurang memiliki kerapatan pengamatan curah hujan di permukaan.  Comparing monthly rainfall data between the surface observation (OBS) with satellite data (TRMM) measurement and output result of model surface (NOAH) have been conducted to some location that is Medan, Indramayu, Karang Ploso and Hasanuddin (Makassar). The compared data is monthly rainfall of period 1998 until 2007. Result of this comparison shows that measured rainfall by satellite and also output of model show monthly rainfall pattern matching with the surface observation in term of monthly rainfall pattern. However, every analyzed location shows an existence of difference variation of monthly rainfall. This matter seen through correlation from the three data set. The highest correlation is observation rainfall with satellite ordered by location in Hasanuddin (Makassar), Karang Ploso and Medan respectively. In Indramayu the highest correlation is between data model NOAH with TRMM. In Station of Hasanuddin, the high correlation besides data set of observation-TRMM also at data set of model NOAH with observation. Consideingr to the level of correlation, with the range from 0.7-0.9 the rainfall data of TRMM have potency to be used in fill data empty either through temporal for the series of data in a location, and also to fill blankness of spatial data in a region having sparse rain gauge station distribution. 
DESAIN DAN PEMBUATAN ALAT UKUR GEOFISIKA BERBASIS SENSOR FLUXGATE DAN SENSOR MEDAN LISTRIK I Made Astra; Widyaningrum Indrasari; Umiatin Umiatin; Mitra Djamal
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v12i3.107

Abstract

Telah dilakukan pembuatan alat dengan menggunakan metoda "EM survei geofisika" dalam bentuk sensor fluxgate, sensor potensial listrik, dan unit injector flow. Elemen sensor "fluxgate" dibentuk dengan menggunakan kumparan sekunder ganda. konfigurasi elemen sensor "fluxgate" terdiri dari variasi lilitan primer 4 x 40 dan lilitan sekunder 2 x 60. Kumparan primer akan membangkitkan sebuah medan magnet internal yang berfungsi sebagai medan magnet acuan ketika kumparan sekunder digunakan untuk mengukur medan magnet eksternal (mendeteksi) sehingga sensitivitas sensor fluxgate ditentukan dengan bentuk kumparan sekunder. Berdasarkan analisa data, diperoleh sensitivitas sebesar 283.02 mV/mT dan dapat mendeteksi medan magnet hingga 3:53 nT. Sebuah sensor potensial listrik memiliki rentang pengukuran  yang diperoleh dari masukkan sensor sebesar 0-13 mV dan menghasilkan tegangan keluaran 0-5 volt. Ketika keluaran dari IGBT yang berfungsi sebagai saklar dan belum diatur menggunakan  unit antarmuka, dapat menghasilkan 50% siklus sinyal yang cukup baik, sehingga masih diperlukan perbaikan pada unit interface circuit flow transmitter. The research done supporting the manufacture of devices based on the method of EM geophysical survey in the form of fluxgate magnetic sensors, electric potential sensors, and interface unit injector flow. Fluxgate sensor element designed using a secondary coil (pick-up) double. The composition of fluxgate sensor element consists of two primary coils (excitation coil(4x40), two secondary coils (2x60). Primary coil will generate an internal magnetic field that serves as a reference magnetic field while the secondary coil serves to measure the external magnetic field (sensing) so that the sensitivity of fluxgate sensor is determined by the secondary coil design. Based on analysis of data obtained sensitivity 283.02 mV/mT, and can detect magnetic fields up to 3:53 nT. An electric potential sensor have a range of measurements obtained by sensor inputs 0-13 mV and produces a voltage output 0-5 volts. While the output of the IGBT which functions as a switch and have not be set using the interface unit can generate 50% duty cycle signal that is good enough, so it is still need for improvement in the unit interface circuit flow transmitter.
ANALISIS RESPON IONOSFER TERHADAP GERHANA MATAHARI 9 MARET 2016 DARI DATA GPS PALU Bambang Sunardi; Buldan Muslim; Untung Merdijanto; Damianus Tri Heryanto; Joni Efendi; Yoga Andrian
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 17, No 3 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i3.328

Abstract

Respon ionosfer terhadap gerhana matahari total 9 Maret 2016 telah diteliti menggunakan data Global Positioning System (GPS) stasiun PALP di Palu. Slant Total Electron Content (STEC) diturunkan dari data jarak kode yang diukur dari satelit GPS dengan PRN 24 pada dua frekuensi yang berbeda. STEC pada tanggal 8 Maret 2016 digunakan sebagai nilai referensi STEC pada kondisi normal atau tidak terpengaruh oleh gerhana matahari. Pengurangan STEC tanggal 9 Maret 2016 saat gerhana terhadap STEC 8 Maret 2016 menunjukkan respon ionosfer terhadap gerhana matahari berupa penurunan STEC sekitar -12 TECU. Selama gerhana matahari terdapat histeresis ionosfer. Laju penurunan STEC saat radiasi matahari berkurang sebelum mencapai gerhana matahari total lebih lambat jika dibandingkan dengan laju kenaikan STEC selama proses kenaikan radiasi matahari dari gerhana matahari total mulai berakhir hingga selesainya gerhana matahari. Setelah gerhana matahari selesai, nilai STEC tidak kembali ke keadaan awal sebelum gerhana matahari terjadi. Hasil penelitian ini mengkorfirmasi hasil penelitian sebelumnya dan melengkapi dengan tambahan adanya histeresis respon ionosfer terhadap gerhana matahari total 9 Maret 2016
ANALISIS PENGARUH VARIABILITAS TANAH PADA VARIABILITAS SPEKTRUM RESPON GEMPABUMI I Nyoman Sukanta; Widjojo A. Prakoso
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v11i2.75

Abstract

Salah satu komplek perkantoran yang terletak di Jalan Thamrin, Jakarta, dipilih sebagai lokasi penelitian. Hasil pemodelan data tanah, menghasilkan 3 lapisan tanah yang berbeda dengan kriteria jenis tanahnya cenderung lunak, dengan nilai N-SPT rata–rata = 11,23. Perhitungan percepatan puncak muka tanah (PGA) dan nilai spektrum respon di permukaan tanah menggunakan metoda analisis linier equivalen dengan simulasi Monte Carlo. Program aplikasi SHAKE2000 merupakan alat bantu dalam simulasi, dengan memasukkan beberapa asumsi sebagai data masukan. Data masukan dinamik menggunakan sumber gempabumi Elcentro dan Mexico yang mempunyai kandungan frekuensi berbeda. Asumsi nilai percepatan puncak batuan dasar (PBA) untuk kedua sumber gempabumi tersebut sebesar 0,18 g. Hasil analisis menunjukkan nilai spektrum respon dan percepatan puncak muka tanah sangat bervariasi. Gempabumi Elcentro menghasilkan nilai rata–rata PGA = 0,36 g dengan spektrum responnya = 1,0 g  pada Tc = 0,6 detik. Untuk gempabumi Mexico menghasilkan nilai rata–rata PGA = 0,30 g dengan spektrum responnya = 0,9 g pada Tc = 0,6 detik. Artinya, variabilitas jenis tanah sangat berpengaruh tehadap variabilitas spektrum respon di permukaan tanah.  One of the office complex located at Jalan Thamrin, Jakarta, was chosen as the location of the reseach. Results of data modeling soil, produces 3 different soil layers with soil type criteria tend to be soft, with a value of N-SPT  average = 11.23. Calculation of peak ground acceleration (PGA) and the value of the response spectrum at ground surface using the method of equivalent linear analysis with Monte Carlo simulation. SHAKE2000 application software  is a tool in the simulation, by including some assumptions as input data. Dynamic input data using Elcentro and Mexican  earthquakes  which have different frequency contents. Assumed value of peak base acceleration (PBA) for the two earthquakes was 0.18 g. The result of analysis was the value of response spectrum and peak ground acceleration is very different variable. Elcentro earthquake result average value of  PGA = 0.36 g with the response spectrum = 0.6 sec at Tc = 1.0 g.  For Mexican  earthquake result average value of PGA = 0.30 g with the response spectrum = 0.6 sec at Tc = 0.9 g. That is , the variability of the soil types was influential affect the variability of the response spectrum at ground surface
TREN TEMPERATUR DAN HUJAN EKSTRIM DI JUANDA SURABAYA TAHUN 1981-2013 Firda Amalia Maslakah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 16, No 3 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v16i3.284

Abstract

Perubahan iklim akibat  peningkatan konsentrasi gas rumah kaca telah menyebabkan perubahan pada kejadian iklim ekstrim. Pada  penelitian  ini dilakukan kajian mengenai tren indeks temperatur dan hujan ekstrim periode 1981-2013 di Juanda Surabaya. Data temperatur maksimum, temperatur minimum dan  curah hujan harian  diolah dengan Software RClimDex sehingga didapatkan data indeks temperatur dan hujan ekstrim. Indeks-indeks tersebut merupakan indeks iklim ekstrim yang ditetapkan oleh ETCCDMI yang terdiri atas TN10p, TN90p, TX10p, TX90p, TNn, TNx, TXn, TXx, DTR, RX1day, RX5day, PRCPTOT,  CDD, CWD dan R95p. Hasil menunjukkan bahwa frekuensi kejadian baik temperatur dingin maupun panas di siang hari semakin meningkat seperti halnya yang terjadi pada kejadian temperatur panas di malam hari. Tren meningkat juga teramati pada jumlah hari hujan berturut-turut, jumlah hari tanpa hujan berturut-turut dan kejadian hujan lebat. Sebaliknya, kejadian temperatur dingin di malam hari, kisaran temperatur diurnal,dan jumlah curah hujan tahunan semakin berkurang. Peningkatan frekuensi kejadian cuaca/iklim ekstrim dapat menyebabkan semakin tingginya potensi bencana alam seperti banjir dan kekeringan.  Climate change due to the increase in greenhouse gas concentration has caused changes in extreme climate events. Changes in indices of temperature and extreme precipitation for the period of 1981-2013 in Juanda Surabaya has been studied. Data on daily minimum temperature, maximum temperature, and daily rainfall were processed with the RClimDex software package to obtain extreme temperature and rain indices data. Those indices are extreme climate indices fixed by ETCCDMI which consist of TN10p, TN90p, TX10p, TX90p, TNn, TNx, TXn, TXx, DTR, RX1day, RX5day, PRCPTOT, CDD, CWD and R95p. The result shows that the frequency of both cold and warm days rise as observed on warm nights. The number of consecutive wet days, the number of consecutive dry days and heavy precipitation events also show upward trends. On the other hand, there are downward trends in the number of cold nights, diurnal temperature range and total annual precipitation. An increase in the frequency of extreme weather/climate can lead to a higher probability of natural disasters such as floods and drought.
ANALISIS SPASIAL FENOMENA URBAN HEAT ISLAND MENGGUNAKAN ALGORITMA LAND SURFACE TEMPERATURE KOTA KENDARI La Ode Alwi; La Gandri; Herlan Hidayat; Eka Rahmatiah Tuwu; Irawati Irawati; Sahindomi Bana; Vivi Fitriani; Lies Indriyani
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 23, No 2 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v23i2.852

Abstract

Konversi terhadap lahan-lahan bervegatasi menjadi lahan-lahan terbangun akibat perkembangan kota dan arus urbanisasi dapat memicu terjadinya fenomena urban heat island di beberapa kota di Indonesia. Berdasarkan data peningkatan jumlah penduduk dan ekspansi ruang terbangun yang tidak terkendali di Kota Kendari, ada dugaan bahwa telah terjadi fenomena urban heat island. Mengidentifikasi serta mengukur karakteristik spasial temporal urban heat island sejak dini akan sangat penting bagi pengambil keputusan untuk merumuskan kebijakan demi mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi fenomena urban heat island Kota Kendari perode tahun 2001 dan tahun 2019. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah brightness temperature dengan menggunakan logaritma yang diformulasikan pada alat pengolahan Citra Landsat 7 untuk data tahun 2001 dan Citra Landsat 8 OLI untuk data tahun 2019. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstraksi land surface temperatur menggunakan citra Satelit Landsat-7 tahun 2001 menunjukkan nilai suhu minimum sebesar 19,099 oC dan suhu maksimum sebesar 34,459 oC.  Hasil perhitungan urban heat island treshold sebesar  25,95 0C. Sehingga dengan menentukkan urban heat island index disimpulkan bahwa pada tahun 2001 wilayah Kota Kendari telah mengalami fenomena Urban Heat Island dengan wilayah paparan sebesar 1,021% dari total luas wilayah. Sedangkan pada tahun 2019, ekstraksi land surface temperatur menggunakan citra Satelit Landsat-8 OLI, menunjukkan nilai suhu minimum sebesar 14,27 0C dan suhu udara maksimum sebesar 35, 426 0C. Hasil perhitungan urban heat island treshold sebesar 24,6 0C. Dengan menentukkan urban heat island index disimpulkan bahwa pada tahun 2019 telah terjadi peningkatan fenomena urban heat island dengan wilayah paparan yang lebih luas yakni 18,92% dari luas wilayah.
ANALISA VERTICAL TOTAL ELECTRON CONTENT DI IONOSFER DAERAH JAWA DAN SEKITARNYA YANG BERASOSIASI DENGAN GEMPABUMI YOGYAKARTA 26 MEI 2006 UTC I Made Kris Adi Astra; I Putu Pudja
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v10i2.41

Abstract

Kenyataan bahwa dampak gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006 (local time) memberikan dampak negatif bagi kehidupan menjadikannya salah satu bencana yang tidak memberikan waktu yang cukup lama untuk sebuah peringatan.  Sebelumnya, telah banyak dilakukan penelitian untuk membangun sebuah system yang diharapkan memberikan petunjuk untuk mem-pre-deteksi gempabumi. Salah satunya adalah pendekatan dengan Seismo-Ionospheric Coupling. Dalam pemikiran ini dijelaskan tahapan-tahapan yang terjadi di Ionosfer ketika gempabumi akan terjadi dan saat terjadi.Dalam tulisan ini dipilih Densitas Elektron dalam arah Vertical (Vertical Total Electron Content) di Ionosfer sebagai parameternya. Total Electron Content (TEC) adalah jumlah elektron dalam kolom vertikal (silinder) berpenampang seluas 1 m2 sepanjang lintasan sinyal perangkat GPS yang dilalui di lapisan ionosfer pada ketinggian sekitar 350 km.Dari analisa didapatkan, terjadi tiga kali penurunan nilai VTEC yang signifikan di daerah Jawa dan sekitarnya. Yaitu pada 18, 20 dan 22 Mei 2006. Namun setelah dikoreksi Dst Index, penurunan nilai VTEC pada tanggal 18 Mei 2008 berkaitan dengan gangguan magnetic. Selanjutnya pada tanggal 20 Mei 2006 dan 22 Mei 2006, penurunan nilai VTEC  diindikasikan sebagai akibat dari proses fisis Seismo-Ionospheric Coupling sebelum terjadinya gempabumi. Hal ini diperkuat dari koreksi Dst. Index yang tidak menunjukan adanya gangguan magnetik yang berarti. Earthquake that struck Jogjakarta on May 27 2006 (local time) gives negative impact to life and it became of no awareness disaster. Previously, there are many researches that developed a system which can give signal to earthquake pre-detection. One of them is Seismo-Ionosperic Coupling. This research, explain phases in Ionospere before and after shock.Electron densities in vertical direction in Ionospere (Vertical Total Electron Content) is selected as parameter. Total  Electron Content  (TEC) is defined as the amount of electron in vertical column (cylinder) with cross-section of 1 m2 along GPS signal trajectory in Ionospere at arround 350 km of height.There are three times of significant decrease of VTEC value in Java and its surrounding, i.e. at 18, 20, 22 of May 2006. However, after corrected by Dst Index, the decrease VTEC value on May 18 2008 has relationship with magnetic disturbance. The decrease of VTEC value on May 20 and May 22 2006 is indicated as effect of Seismo-Ionosperic Coupling physical process before shock. This is supported by correction of Dst. index that shows there is no significant magnetic disturbance.
VALIDASI DATA TRMM TERHADAP DATA CURAH HUJAN AKTUAL DI TIGA DAS DI INDONESIA M. Djazim Syaifullah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v15i2.180

Abstract

Validasi data TRMM telah dilakukan dengan data curah hujan di tiga DAS di wilayah Indonesia. Ketiga DAS tersebut adalah: DAS Citarum-Jawa Barat, DAS Sutami-Brantas Jawa Timur dan DAS Larona-Sulawesi Selatan. Dari analisis dua jenis tipe data TRMM NASA (3B42RT) dan TRMM Jaxa (GSMap_NRT) menunjukkan bahwa TRMM Jaxa lebih mendekati data pengamatan dibandingkan dengan TRMM NASA. Secara umum dari hasil analisis untuk ketiga DAS memperlihatkan bahwa nilai curah hujan TRMM Jaxa (GSMap_NRT) mempunyai pola yang mengikuti curah hujan pengamatan (aktual) meskipun nilainya cenderung di bawah perkiraan. Perbedaan ini salah satunya bisa diakibatkan karena pemasangan penakar hujan yang kurang representatif terhadap DAS sehingga rerata curah hujan wilayahnya kurang merepresentasikan DAS tersebut. Untuk plot scatter bulanan nilai korelasinya lebih baik dibandingkan dengan plot scatter harian (dari 0.13~0.14 meningkat menjadi 0.58~0.75) dan nilai RMSE menurun (dari rerata 11.6 mm/hari menjadi 7.6 mm/hari), sehingga analisis TRMM bulanan lebih merepresentasikan kondisi aktual. TRMM data validation has been done with rainfall data in three watersheds of Indonesia. There are Citarum (West Java), Sutami-Brantas (East Java) and Larona (South Sulawesi). There are two types of TRMM data; TRMM NASA (3B42RT) and TRMM Jaxa (GSMap_NRT). The analysis of both types of data indicates that the TRMM Jaxa closer to observed data. In general, the results of the analysis for all three catchments showed that the value of TRMM rainfall Jaxa (GSMap_NRT) has a better agreement to the pattern of observed rainfall data although it's value tends to underestimate. This difference could be caused due to the installation of the rain gauge less representative of catchment so that the average rainfall less territory represents the catchment. Scatter plot for the monthly data has a better correlation coefficient than the daily plot (0.13~0.14 raise 0.58~0.75) and decreasing RMSE value (from average 11.6 mm/day to 7.6 mm/day), so monthly analysis of TRMM has more represents the actual conditions.
MODIFIKASI KONSTANTA PERSAMAAN Z-R RADAR SURABAYA UNTUK PENINGKATAN AKURASI ESTIMASI CURAH HUJAN Thahir D. F. Hutapea; Donaldi S. Permana; Alfan S. Praja; Linda F. Muzayanah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 21, No 2 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v21i2.545

Abstract

Radar cuaca sangat berpotensi untuk memberikan estimasi curah hujan beresolusi tinggi secara spasial dan temporal yang dapat meningkatkan akurasi prakiraan dini cuaca ekstrim dan juga dapat menyediakan informasi curah hujan pada wilayah yang tidak mempunyai stasiun pengamatan curah hujan. Radar cuaca tidak dapat secara langsung mengukur intensitas curah hujan, melainkan berdasarkan hubungan empiris antara reflektifitas radar (Z) dan tingkat curah hujan (R) dalam hubungan Z-R (Z = ARb). Pada penelitian ini, metode optimalisasi digunakan untuk menentukan konstanta A dan b yang sesuai untuk wilayah Surabaya di provinsi Jawa Timur. Data reflektifitas pada radar Surabaya dan data curah hujan per jam dari stasiun Juanda Surabaya pada periode Desember 2014 - Februari 2015 digunakan dalam studi ini. Hasil studi menunjukkan bahwa hubungan Z-R dengan persamaan Z = 110R1,6 menghasilkan estimasi curah hujan yang memiliki indikator statistik lebih baik dibandingkan dengan estimasi dari persamaan Marshall-Palmer (MP, Z = 200R1,6) dan Rosenfeld (Ros, Z = 250R1,2) sehingga dapat meningkatkan akurasiestimasi curah hujan di wilayah Surabaya.  Weather radar can potentially provide rainfall estimates with high spatial and temporal resolution in which improving the early warning accuracy of extreme weather and also provide rainfall estimates in areas with insufficient rainfall stations. Weather radar cannot directly be used to measure the rainfall intensity, but based on an empirical relationship between the reflectivity (Z) and rainfall rate (R) in the Z-R relationship (Z = ARb). In this study, an optimization method was used to determine suitable constants A and b for Surabaya, East Java province. The reflectivity data from Surabaya radar and hourly rainfall data at Juanda station in Surabaya during a period of December 2014 - February 2015 were used in this study. The results show that a Z-R relationship in the form of equation Z = 110R1,6 produces rainfall estimates with a better statistical indicator than ones produced by Marshall-Palmer (MP, Z = 200R1,6) and Rosenfeld (Ros, Z = 250R1,2) relationships, making it suitable for improving the accuracy of rainfall estimates for Surabaya.
Studi Variasi Spatial Seismisitas Zona Subduksi Jawa Supriyanto Rohadi; Hendra Grandis; Mezak Arnold Ratag
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 8, No 1 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v8i1.4

Abstract

Variasi nila-b dari relasi Gutenberg-Richter memegang peranan penting dalam sebagian besar model prakiraan gempabumi yang terkait dengan resiko bencana. Dari relasi Gutenberg-Richter yaitu log N = a - bM, slope dari hukum pangkat ini merupakan nilai-b yaitu sebuah paremeter tektonik yang menggambarkan ukuran distribusi dari gempabumi. Nilai-b yang tinggi mengindikasikan suatu proporsional yang relatif besar dari gempa-gempa kecil dan nilai-b yang rendah sebaliknya. Di dalam analisis kegempaan ini, kelengkapan katalog gempabumi merupakan faktor penting yang dapat mereduksi timbulnya deviasi linearitas. Katalog gempabumi NEIC dari tahun 1973-2006 dan katalog gempabumi BMG digunakan untuk analisis variasi nilai-a, nilai-b dan periode ulang gempabumi di Zona Subduksi Jawa dengan batas 6,5° LS - 12° LS dan 105° BT - 115° BT. Dari analisis katalog gempabumi di wilayah penelitian diperoleh variasi nilai-b berkisar antara 0,8-2,5, variasi nilai-a berkisar antara 6-12 sedangkan periode ulang gempabumi dengan magnitude 6 secara umum adalah sekitar 5 tahun.