cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Masyarakat dan Budaya
ISSN : 14104830     EISSN : 25021966     DOI : -
Core Subject :
Jurnal Masyarakat dan Budaya (JMB) or Journal of Society and Culture is a peer-reviewed journal that aims to be an authoritative academic source on the study of society and culture. We publish original research papers, review articles, case studies, and book reviews focusing on Indonesian society, cultural phenomena, and other related topics. A manuscript describing society and culture outside Indonesia is expected to be analyzed comparatively with the issues and context in Indonesia. All papers will be reviewed rigorously at least by two referees. JMB is published three times a year, in April, August , and December.
Arjuna Subject : -
Articles 869 Documents
PREFACE JMB VOL 17 NO 1 2015 Ubaidillah, Ubaidillah
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v17i1.992

Abstract

RESIGNIFICATION: WACANA BALIK ORANG PAPUA DALAM MENANGGAPI RASISME Ubaidillah, Ubaidillah
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 21 No. 3 (2019)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v21i3.876

Abstract

Terjadi pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya oleh berbagai pihak, mulai dari tentara, satuan pamong praja, kepolisian, sampai organisasi masyarakat pada 16-17 Agustus 2019. Massa pengepung meneriaki mahasiswa Papua dengan kata monyet. Artikel ini menggunakan teori resignifation Judith Butler (1997) untuk melihat bagaimana orang-orang Papua sebagai korban ujaran rasial mampu berbicara balik kepada pelaku setelah mengemansipasi dirinya sendiri dari jejaring konteks sosial yang diskriminatif. Keutamaan resignification yang diusulkan Butler sebagai cara menanggapi ujaran kebencian adalah pemanfaatan logika internal ujaran yang disusun oleh pelaku sebagai sumber daya untuk menyusun wacana balik. Pola resignification yang dilakukan orang Papua adalah meliyankan diri sendiri dengan menggunakan frasa ?monyet Papua? dalam wacana baliknya. Frasa ?monyet Papua? ini merupakan bentuk reartikulasi pembedaan diri yang dilakukan dalam ujaran rasis ?monyet?. Cara ini digunakan untuk melucuti otoritas pelaku ujaran, mempersatukan orang-orang Papua, dan mampu menjustifikasi tuntutan untuk merdeka dari kolonialisasi Indonesia. Peralihan fokus diskursus wacana balik orang Papua dari melawan rasisme menjadi tuntutan kemerdekaan Papua dapat pula dibaca sebagai upaya taktis untuk melakukan afirmasi kesetaraan status antara manusia Indonesia dan manusia Papua. Cara pandang bahwa perlakuan rasisme adalah bagian dari tindakan kolonialisasi Indonesia terhadap Papua melandasai pola interpretasi ujaran rasis Surabaya sehingga menghasilkan pola wacana balik yang demikian.Papuans Counter Speech toward Racism Speech
PREFACE JMB VOL 21 NO 1 2019 Ubaidillah, Ubaidillah
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 21 No. 1 (2019)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v21i1.984

Abstract

DAYAK KAHARINGAN DI TENGAH PERUBAHAN SOSIAL EKOLOGI DAN PRAKTIK PERPINDAHAN AGAMA DI PEDESAAN KALIMANTAN TENGAH Kumoro, Nindyo Budi
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 22 No. 1 (2020)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v22i1.939

Abstract

This paper tries to explain the relation between social-ecological change and the phenomenon of religious conversion in a minority group in Indonesia. The case study is the Dayak community religion in Central Kalimantan, Kaharingan, with 'world' or 'official' religions such as Christianity, Catholicism, or Islam. The study of Kaharingan in this paper is placed in the context of Kalimantan as an object of resource expansion with massive intensity by the global economic capitalist chain. Forest exploitation and local gold mining activity from outsiders urged Dayaks to participate in new economic patterns, which caused swidden cultivation to become inaccessible to villagers and began to slowly be abandoned. This has implications for the transformation of the Dayaks in perceiving their relationship with the natural environment, a relationship that was previously the basis of Kaharingan religious beliefs and practices. Based on my ethnographic research in the rural Dayak community upriver Katingan, this paper shows that the religious conversion from Kaharingan to a new religion is more driven by social and economic morals that emphasize individual-household relations rather than the communal-collective pattern as before. This paper also argues that although traditional beliefs have slowly been abandoned, the practice of Kaharingan ceremonies is still held intensively for different purposes.Keywords: Minority religion, socio-economic and ecological change, religious conversion Abstrak Artikel ini berupaya menunjukkan relasi perubahan sosial-ekologi dengan fenomena perpindahan agama pada kelompok minoritas di Indonesia. Studi kasus dalam tulisan ini adalah agama masyarakat Dayak Kalimantan Tengah, yakni Kaharingan, dengan agama ?dunia? atau ?resmi? seperti Kristen, Katolik, maupun Islam di sana. Kajian mengenai Kaharingan di sini diletakkan dalam konteks Kalimantan sebagai obyek dari ekspansi sumber daya dengan intensitas yang massif oleh rantai ekonomi kapitalisme global. Eksploitasi kayu maupun pertambangan lokal dari pihak luar mendorong orang Dayak turut berpartisipasi dalam pola ekonomi baru menggeser perladangan berpindah ke posisi yang tidak menguntungkan. Hal ini turut mendorong perubahan orang Dayak dalam memaknai relasi mereka dengan alam sekitar, relasi yang sebelumnya menjadi basis kepercayaan dan praktik agama Kaharingan. Dengan mendasarkan pada hasil riset etnografi pedesaan Dayak di hulu Sungai Katingan, tulisan ini menunjukkan bahwa perpindahan agama dari Kaharingan ke agama baru lebih didorong oleh moral sosial dan ekonomi baru yang menekankan relasi individu-rumah tangga dari pada komunal-kolektif seperti sebelumnya. Tulisan ini juga ingin menunjukkan meskipun kepercayaan lama telah ditinggalkan, namun praktik upacara Kaharingan tetap digelar dengan intensif meskipun untuk tujuan yang berbeda. Kata kunci: Agama minoritas, perubahan material-ekologi, perpindahan agama 
WATU SEMAR: SEBUAH REFLEKSI PEMIKIRAN DAN BUDAYA LOKAL MASYARAKAT SAMBONGREJO, BOJONEGORO Milawaty, Milawaty
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 21 No. 3 (2019)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v21i3.777

Abstract

Dikarenakan kuatnya keberadaan Watu Semar berkat mitosnya, penelitian ini dilakukan untuk mengungkap makna dan peran Watu Semar bagi masyarakat pemilik mitos, yakni para penduduk asli Desa Sambongrejo di Kabupaten Bojonegoro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemikiran dan budaya lokal masyarakat tersebut melalui keberadaan serta mitos Watu Semar. Metode penelitian yang digunakan ialah studi lapangan dengan wawancara mendalam yang dipadukan dengan teori Kritik Sastra Lisan dari Alan Dundes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mitos Watu Semar, yang dipercaya memiliki hubungan kuat dengan sosok Punakawan Semar, kuat dilanggengkan melalui pewarisan secara turun-temurun sebagai budaya kepercayaan khas masyarakat Sambongrejo. Bagi mereka, Watu Semar memiliki arti yang signifikan sebagai dulur, saudara kandung mereka sendiri, dan dan bernilai historis sehingga begitu dihormati. Watu Semar berperan sebagai simbol kepercayaan lokal serta bentuk ekspresi budaya (uri-uri budoyo) masyarakat Desa Sambongrejo yang notabene memiliki kecenderungan pemikiran ke hal-hal mistis. Karenanya di dalam masyarakat Sambongrejo, keberadaan Watu Semar dan mitosnya memiliki pengaruh yang sangat besar, dimana ia merupakan refleksi pemikiran dan basis kebudayaan dari masyarakat lokal Sambongrejo itu sendiri.
PREFACE JMB VOL 20 NO 3 2018 Ubaidillah, Ubaidillah
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 20 No. 3 (2018)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v20i3.985

Abstract

PREFACE JMB VOL 22 NO 1 2020 M.A., Ubaidillah
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 22 No. 1 (2020)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v22i1.1035

Abstract

KEBUDAYAAN DAN PEMBANGUNAN DI ERA CULTURAL TURN Sukmawati, MA, Anggy Denok
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 21 No. 3 (2019)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v21i3.987

Abstract

Kebudayaan dan pembangunan adalah dua hal yang sesungguhnya erat terkait. Keduanya saling terkait dan mempengaruhi ? perubahan kebudayaan dan laju pembangunan akan senantiasa terus membentuk perkembangan dan peradaban masyarakat ke depan. Dalam konteks ini, maka keduanya tak bisa dipilah-pisahkan sama sekali. Kebudayaan tak bisa dilepaskan karena ia adalah matras dari peradaban dan pembangunan adalah hal yang tak terelakkan seiring dengan tumbuh dan berkembangnya masyarakat yang terus berubah. Namun demikian, hubungan keduanya tidaklah selalu mulus. Dalam sejarahnya, kebudayaan dan pembangunan mengalami ketegangan-ketegangan yang berdampak pada masyarakat secara konkret.
FRONTIR-ISASI DAN DE-FRONTIR-ISASI SEBAGAI KERANGKA UNTUK STUDI MARJINALITAS: STUDI KASUS LINDU DI SULAWESI TENGAH Acciaioli, Gregory Lawrence; Nasrum, Muhammad
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 22 No. 1 (2020)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v22i1.1017

Abstract

AbstractDrawing on past and recent literature using the concept frontier, this paper presents a case study of processes of frontierisation and defrontierisation in the Lindu plain of Central Sulawesi. After establishing the rationale for a more processual framework to analyse frontiers, it traces the history of the Lindu plain along the four dimensions of frontierisation related to control, extraction, settlement and conservation from the precolonial era to the contemporary post-Reformasi period. Using this Lindu case study, it seeks to reconceptualise such notions as the closing of frontiers by drawing attention away from certain demographic and economic thresholds of occupation and by emphasising instead the exercise of agency on the parts of marginalised local peoples in frontier regions, allowing them to reverse the asymmetric relations of the (dominant) occupiers and (subordinated) occupied that have constituted frontiers. This is illustrated by the changing position of the Indigenous Lindu people as subordinated first by colonial incursions and then in the immediate postcolonial period through domination by entrepreneurial Bugis migrants whose own position was buttressed by alliances with governmental agencies to the contemporary reassertion of their control over their own territory through alliances with both the Indonesian Indigenous people?s movement and with transnational conservation.Keywords: Frontier, Frontierisation, Defrontierisation, Marginality, Marginal Societies, Lindu Bugis, Central Sulawesi  AbstrakBersandar kepada naskah lama dan mutakhir yang menggunakan konsep frontir, makalah ini menyajikan studi kasus proses frontir-isasi dan de-frontir-isasi di dataran Lindu, Sulawesi Tengah. Sesudah memberikan alasan untuk kerangka yang memusatkan proses, artikel ini menggambarkan sejarah Lindu melalui empat dimensi frontir-isasi ? kendali, ekstraksi, pemukiman dan konservasi ? dari zaman prakolonial sampai era Pasca-Reformasi. Studi kasus ini digunakan untuk memikirkan kembali gagasan seperti penutupan frontir; daripada indicator demografis dan ekonomis, daya tindak (agensi) dari masayakarat lokal yang didominasi/dipinggirkan dalam usaha membalikkan relasi-kuasa menjadi kriterium yang dipusatkan sebagai unsur utama penutupan frontir atau de-frontir-isasi. Proses penggulingan ini dicontohkan oleh perubahan posisi To Lindu sebagai orang asli di wilayah ini. Mulai dari keadaan dipinggirkan di masa kolonial sampai ke era paska-kolonial waktu mereka didominasi oleh migran Bugis yang memperkuat usaha kewiraswastaannya dengan menggunakan alasan pembangunan dan aliansi dengan instansi permerintah, akhirnya di era Reformasi dan Pasca-Reformasi To Lindu sempat menarik kembali penguasaan atas wilayahnya melalui aliansi dengan gerakan masyarakat adat dan organisasi konservasi.Kata kunci: Frontir, Frontir-isasi, Defrontir-isasi, Marjinalitas, Masyarakat Pinggiran, Lindu, Bugis, Sulawesi Tengah
REPRODUKSI (PERTUKARAN) PANGAN: MENYEMAI DAULAT HIDUP DI SUMBA BARAT (DAYA) Paschalis Maria Laksono; Esti Anantasari; Olga Aurora Nandiswara
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 21 No. 3 (2019)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v21i3.747

Abstract

Abstrak Pada orang Kodi di Kabupaten Sumba Barat (Daya), bagaimana pun ekonomi itu, masih menyatu dalam totalitas organisasi sosial sistem kekerabatan yang dibayangkan memancar dari sistem kepercayaan pada Marapu, yaitu seorang ayah sekaligus ibu pencipta dan perawat kehidupan (Ama Mawolo Ina Marawi). Oleh karena itu garis kerabat baik dari sisi ayah maupun ibu, masing-masing secara kreatif dilantunkan demi tegaknya moralitas pertukaran, yaitu jalannya ekonomi-Uma. Secara simbolik pertukaran itu diritualkan pada pesta adat. Artikel ini dapat diperlakukan sebagai penggalan reflektif cuplikan dari proses penelitian partisipatoris berkesinambungan yang masih terus berlangsung sejak tahun 2015. Proses itu terkait dengan usaha bersama warga masyarakat untuk memilih dan mereproduksi moda pertukaran pangan, tanpa harus menjadi peminta-minta (mandara uang), di pulau-pulau kecil di Maluku dan Nusa Tenggara Timur demi kedaulatan pangan mereka. Oleh karena itu di sini Sumba Barat Daya akan terkoneksikan secara komparatif dengan kabupaten dan pulau-pulau lainnya. Abstarct For Kodi's people in Southwest Sumba Regency, their economy is still based on social kinship organizations, which can be seen from the belief system in Marapu,that is a father and a creator and a guardian of life (Ama Mawolo Ina Marawi). Therefore, both the father and mother's kinship lines, each creatively revealed for the sake of the morality of exchange, that is the continuation of the Uma-economy. Symbolically the exchange is ritualized at a traditional ritual. This article can be treated as a reflective fragment of footage from a continuous participatory research process that has continued since 2015. The process is related to the effort with community members to choose and reproduce food exchange modes, without being a beggar (mandara uang), on small islands in Maluku and East Nusa Tenggara for their food sovereignty. Therefore, in this article Southwest Sumba will be connected comparatively with other districts and islands.

Filter by Year

1997 2023


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 3 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 25 No. 2 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 25 No. 1 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 3 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 2 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 1 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 3 (2021): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 2 (2021): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 1 (2021) Vol. 22 No. 3 (2020) Vol. 22 No. 2 (2020) Vol. 22 No. 1 (2020) Vol. 21 No. 3 (2019) Vol. 21 No. 2 (2019) Vol. 21 No. 1 (2019) Vol. 20 No. 3 (2018) Vol. 20 No. 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol. 20 No. 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol. 20 No. 1 (2018) Vol 19, No 3 (2017) Vol. 19 No. 3 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol. 19 No. 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol. 19 No. 1 (2017) Vol 18, No 3 (2016) Vol. 18 No. 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol. 18 No. 2 (2016) Vol. 18 No. 1 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol. 17 No. 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol. 17 No. 1 (2015) Vol. 16 No. 3 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol. 16 No. 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol. 16 No. 1 (2014) Vol. 15 No. 3 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol. 15 No. 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol. 15 No. 1 (2013) Vol. 14 No. 3 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol. 14 No. 2 (2012) Vol. 14 No. 1 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol. 13 No. 2 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol. 13 No. 1 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol. 12 No. 3 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol. 12 No. 2 (2010) Vol. 12 No. 1 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol. 11 No. 2 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol. 11 No. 1 (2009) Vol. 10 No. 2 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol. 10 No. 1 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol. 9 No. 1 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 2 (2006) Vol. 8 No. 2 (2006) Vol. 8 No. 1 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol. 7 No. 2 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol. 7 No. 1 (2005) Vol. 6 No. 2 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol. 6 No. 1 (2004) Vol 5, No 2 (2003) Vol. 5 No. 2 (2003) Vol. 5 No. 1 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 3, No.1 (2000) Vol 3, No.1 (2000) Vol 2, No.2 (1999) Vol 2, No.2 (1999) Vol 2, No.1 (1998) Vol 2, No.1 (1998) Vol 1, No.2 (1998) Vol 1, No.2 (1998) Vol 1, No.1 (1997) Vol 1, No.1 (1997) More Issue