cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Masyarakat dan Budaya
ISSN : 14104830     EISSN : 25021966     DOI : -
Core Subject :
Jurnal Masyarakat dan Budaya (JMB) or Journal of Society and Culture is a peer-reviewed journal that aims to be an authoritative academic source on the study of society and culture. We publish original research papers, review articles, case studies, and book reviews focusing on Indonesian society, cultural phenomena, and other related topics. A manuscript describing society and culture outside Indonesia is expected to be analyzed comparatively with the issues and context in Indonesia. All papers will be reviewed rigorously at least by two referees. JMB is published three times a year, in April, August , and December.
Arjuna Subject : -
Articles 869 Documents
ANALISIS WACANA KRITIS FILM “PUTERI GIOK”: CERMIN ASIMILASI PAKSA ERA ORDE BARU Rustono Farady Marta
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v17i3.323

Abstract

Abstrak Media massa merupakan salah satu sarana bagi setiap bangsa untuk memperkenalkan perjalanan sejarahnya dari masa ke masa. Salah satu perekam jejak yang paling efektif adalah film nasional. Film nasional dapat merefleksikan proses konstruksi identitas yang ditampilkan, baik visual maupun nonverbal. Salah satu film nasional yang menggambarkan hal tersebut adalah “Puteri Giok” yang dibesut oleh Maman Firmansjah pada tahun 1980. Film tersebut berkisah mengenai konflik tentang asimilasi melalui relasi seorang remaja putri bernama Han Giok Nio dan Han Tek Liong sebagai kakaknya. Konflik muncul akibat opini TuanVijay, rekan bisnis Han Liong Swie, ayah Giok dan Tek Liong, mengenai hubungannya dengan Herman seorang pribumi. Kemarahannya memuncak hingga menggunduli rambut Giok. Tak pelak, Tek Liong mendatangi kantor TuanVijay untuk menyadarkannya melalui Pancasila serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang dipahaminya sebagai upaya meredam rasialisme. Peneliti menggunakan wacana Leeuwen untuk menyibak pola bercerita film yang mengetengahkan tokoh minoritas yang dibungkam dari berbagai tataran identitasnya, bahkan seakan-akan memperjuangkan terjadinya pembauran. Film ini memperlihatkan adanya doktrin Pancasila serta subordinasi dari pemangku kebijakan di era pemerintah Orde Baru melalui BP 7 dan BAKOM PKB serta doktrin Pancasila. Selain itu, praktik-praktik diskursif berupa “asimilasi paksa” tampak melalui wacana film. Kata kunci: Film Nasional, Wacana Kritis Leeuwen, Asimilasi Paksa Abstract Mass media is one way for each nation to introduce their history now and then. One of the most effective track records is the national movie, which reflects the process of identity construction both visual and nonverbal. The national movie "Puteri Giok"—directed by Maman Firmansjah in 1980—told the story of a teenage girl, namely Han Giok Nio and her brother, Han Tek Liong, who dealt with assimilation issue. Conflict arised from the opinion of Mr. Vijay as a business partner of Han Liong Swie, the father of Giok and Tek Liong about her relationships with Herman—a “pribumi”, which led to cut Giok’s hair bald. In the conflict, Pancasila and the motto ‘Unity in Diversity’ were understood to prevent racism. Researcher used Leeuwen critical discourse to uncover the pattern of the movie, which muted the minority figures from their identities, even as though fighting for assimilation. The movie shows that there was Pancasila doctrinal as well as assimilation that reflected the subordination of the New Order regime through BP 7 and Bakom PKB. Moreover, the discursive practices in the movie also showed the "forced assimilation". Keywords : National Movie , Leeuwen Critical Discourse, Forced Assimilation
KETERLIBATAN PEREMPUAN DAN SIARAN BUDAYA LOKAL DI RADIO KOMUNITAS RUYUK FM, TASIKMALAYA, JAWA BARAT1 WOMEN INVOLVEMENT IN LOCAL CULTURAL PROGRAM ON COMMUNITY RADIO OF RUYUK FM, TASIKMALAYA, WEST JAVA Emilia Bassar; Irwan Abdullah; Hermin I. Wahyuni
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v17i3.324

Abstract

Abstrak Radio komunitas adalah media alternatif warga dan memberi kesempatan bagi perempuan untuk terlibat dalam produksi siaran radio. Keunikan radio komunitas yang bersifat lokal dan menggunakan bahasa lokal memungkinkan perempuan untuk berpartisipasi dalam menyiarkan acara-acara yang sesuai dengan kebutuhan komunitas. Siaran yang diasuh oleh perempuan adalah siaran budaya lokal karena perempuan mempunyai peran dalam mendidik anak-anaknya sesuai dengan nilai, tradisi, adat maupun budaya masyarakatnya. Siaran budaya lokal tidak hanya melestarikan bahasa dan budaya Sunda melalui partisipasi warga pada siaran on air dan off air; tetapi juga menjawab persoalan-persoalan perempuan di komunitasnya. Namun demikian, keterlibatan perempuan dalam siaran radio komunitas masih terbatas pada acara yang berkaitan dengan kehidupan perempuan atau kehidupan personal, sehingga belum mendobrak stereotip acara-acara yang umumnya ranah laki-laki, seperti persoalan pertanian, konservasi hutan, kesehatan masyarakat, atau pemerintahan desa. Terbatasnya pengetahuan dan pemahaman perempuan tentang radio komunitas membuat perempuan membutuhkan adaptasi yang cukup panjang, pelatihan, motivasi, dan peningkatan rasa percaya diri untuk terlibat dalam pengelolaan ataupun siaran di radio komunitas. Tantangan ini dapat dijawab dengan peningkatan kapasitas diri perempuan dan aksesibilitas perempuan pada informasi, pendidikan dan pelatihan radio komunitas. Kata kunci: radio komunitas, akses dan keterlibatan perempuan, siaran budaya lokal, stereotip Abstract Community radio provides an alternative medium and opportunity for women to involve in the production of radio broadcasts. Generally, radio community is uniquely local and uses local language that enables women to manage programs based on their community needs. One of the broadcast programs managed by the women is the local culture. The local culture program is closely related to women because of their roles in educating the children with the values, traditions, customs and culture. Community participation in on-air and off-air broadcasting of local culture provides opportunities for preserving Sundanese language and culture, as well as discussing the problems of women in their communities. Nevertheless, the women’s opportunities to involve in the community radio are still limited, particularly only in the program associated with the woman's life or personal life. These have not countered the men domain programs, such as the issues of agriculture, forest conservation, public health, or village administration. As women's knowledge and understanding of community radio is still limited; therefore, they require some time to adapt, get motivated, and to be confidence to participate in the community radio. These challenges can be addressed through increasing the capacity of women and accessibility of women to information, education and training of community radio. Keywords: community radio, women access and involvement, local culture program, stereotypes
Pola Konsumsi Program TV di Masyarakat Pattern of Television Programm Consumption in Society Ana Windarsih
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v17i3.325

Abstract

Abstrak Tulisan ini menguraikan perkembangan budaya populer pada TV nasional Indonesia pascapemilu legislatif serta pemilihan presiden tahun 2009 dan tahun 2014. Perdebatan mengenai budaya populer di Indonesia menjadi penting karena apapun bisa menjadi informasi penting jika sesuatu itu berkaitan dengan politik, seperti politik nasional. Budaya populer bisa diamati melalui film, musik, atau program TV yang lain. TV nasional Indonesia, terutama satu dekade terakhir ini, cenderung menyiarkan reality show, game show, dan sinetron. Hal tersebut menguatkan pandangan bahwa TV adalah bagian dari budaya populer atau budaya massa dan murah. Namun, rating AGB AC Nielsen Media Research dalam buletin berkala Februari 2010 menginformasikan bahwa terjadi peningkatan rating untuk program berita, baik secara durasi maupun jumlah penonton. Apakah itu berarti media sebagai sosialisasi dan transmisi nilai- nilai sedang bekerja, atau hanya merupakan satu gejala di dalam tren TV nasional Indonesia saja? Di sisi lain, terjadi kecenderungan peningkatan jumlah penonton aktif dibandingkan dengan penonton pasif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pengumpulan data dengan wawancara mendalam serta penelusuran berbagai sumber data sekunder. Analisis data dilakukan dengan deskriptif ilustratif setelah data diolah melalui koding. Penelitian ini menemukan perubahan pola konsumsi masyarakat pada program TV nasional Indonesia yang dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung, yaitu kepuasan, perbandingan berbagai program, maupun tanggung jawab jurnalis. Sementara itu, beberapa faktor penghambat antara lain kontestasi ekonomi dan politik, rating, maupun kepemilikan modal Kata kunci: perubahan, budaya populer, pola konsumsi Abstract This paper explores the dynamic of popular culture in Indonesian national TVs after the legislative election and president election in 2009 and 2014. Debate on popular culture in Indonesia is getting more important, particularly when it is related to national politics. Popular culture can be studied through film, music, or other TV programs. In the recent decade, the trend of Indonesian national TVs tend to broadcast reality show, game show and soap opera. It shows that Indonesian TVs are part of popular culture or low and cheap culture. However, AGB AC Nielsen Media Research in their February 2010 newsletter informed that the news rating increased, both in duration and number of audiences. Does it indicate that TV as media of socialization or values transmission is working? Or is that only a trend in Indonesian TVs? Moreover, the number of active audiences is increasing rather than the passive ones. Using qualitative approach, the data was gathered from the interviews and the secondary ones. This research shows that there are changes in the pattern of TV consumption in Indonesian society with several push factors, such as gratification, comparison between TV programs and journalists’ responsibility. Meanwhile, several obstacle factors are economic and politics contestation, rating, and share. Keywords: change, popular culture, consumption pattern
DARI SOFT POWER JEPANG HINGGA HIJAB COSPLAY FROM JAPANESE SOFT POWER TO COSPLAY HIJAB Ranny Rastati
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v17i3.326

Abstract

Abstrak Tulisan ini membahas tentang penggunaan soft power Jepang di Indonesia, salah satunya melalui cosplay. Tulisan ini juga merupakan identifikasi awal mengenai fenomena hijab cosplay di Indonesia. Menggunakan konsep S. Nye. Jr, soft power didefinisikan sebagai kemampuan suatu negara untuk mencapai tujuannya dengan lebih menggunakan daya tarik budaya daripada paksaan dan kekerasan. Setelah Perang Dunia II, Jepang berupaya mengubah citra buruk negaranya melalui budaya populer yang dimiliki, seperti anime, manga, dan cosplay yang disebarkan ke seluruh dunia. Menurut Nye, Jepang memiliki sumber-sumber soft power yang lebih potensial dibandingkan dengan negara lain di Asia. Penelitian ini berfokus pada cosplay, terutama para anak muda yang hobi ber-cosplay tetapi tetap ingin mengikuti nilainilai Islam dengan menutup aurat. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga informan cosplayer memiliki kesamaan dalam memaknai hijab cosplay, yaitu (1) boleh dilakukan selama sesuai dengan aturan dan syariat Islam seperti menutup aurat dan dada, (2) tidak berpose berlebihan, dan (3) tidak berdempetan dengan lawan jenis ketika berfoto. Selain itu, ditemukan juga tiga pola sikap dari tiga informan non-cosplayer terhadap hijab cosplayer, yaitu (1) mendukung, (2) netral, dan (3) tidak mendukung. Kata kunci : soft power, budaya populer Jepang, cosplay, cosplayer, hijab cosplay, hijab cosplayer Abstract This paper describes the ways Japan uses its soft power in Indonesia, particularly through cosplay. This is a preliminary identification on hijab cosplay phenomenon in Indonesia. Based on Joseph S. Nye, Jr., the soft power is defined as as the ability of a country to achieve its goal using cultural attraction rather than coercion and violence. After the World War II, Japan has tried to change its image as war crime through popular culture, such as anime, manga, and cosplay. According to Nye, Japan has more potential resources in soft power compared to the other countries in Asia. This paper focuses on cosplay, especially those who love cosplay and keep maintaining Islamic sharia by covering their aurat. Results show that the three cosplayer informants have similarity in constructing the meaning of cosplay hijab: (1) needing to follow Islamic sharia, such as covering aurat and chest, (2) posing appropriately, and (3) not touching the opposite sex during photographed. Furthermore, there are three attitudes from the non-cosplayers informants towards cosplay hijab: (1) supportive, (2) neutral, and (3) not supportive. Keywords: soft power, Japanese popular culture, cosplay, cosplayers, cosplay hijab, cosplayer hijab
TELEVISI DAN MASYARAKAT DALAM ORDE MEDIA (Tinjauan Buku) Fatimah Fildzah Izzati
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v17i3.327

Abstract

Judul Buku : Orde Media: Kajian Televisi dan Media di Indonesia Pasca-Orde Baru Editor : Yovantra Arief & Wisnu Prasetyo Utomo Penerbit : Insist Press, Yogyakarta Tahun Terbit : 2015 Jumlah Hlm. : vii+295 halaman
DARI ‘NEGARA ISLAM’ KE POLITIK DEMOKRATIS: WACANA DAN ARTIKULASI GERAKAN ISLAM DI MESIR DAN INDONESIA FROM ‘ISLAMIC STATE’ TO DEMOCRATIC POLITICS: DISCOURSES AND ARTICULATIONS OF ISLAMIST MOVEMENT IN EGYPT AND INDONESIA Ahmad Rizky Mardhatillah Umar
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 18 No. 1 (2016)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v18i1.328

Abstract

Abstract This article aims to explain discourses and articulations of Islamist movements in Egypt and Indonesia. In Egypt, the Muslim Brotherhood has emerged as one of the most important political force following the regime change in 2011. They have succeeded in installing Mohammad Morsy and Freedom and Justice Party in power after winning the 2012 General Elections. In Indonesia, the Prosperous and Justice Party (PKS) has also emerged as one of strong political parties following 1998 Reformasi, even though their success was not as visible as the Muslim Brotherhood. By using post-foundationalist approach, this article attempts to provide an explanation of discourses and articulations of both movements in the political arena. Having traced the historical-political trajectory of Islamist movements in Egypt and Indonesia, this article argues that both Islamist movements have departed from a universalist conception of ‘Islam’ that aims to politically articulates Islam as a basis of the state. This article also finds that there have been different achievements of these attempts in Egypt and Indonesia, due to strategies, articulations, and negotiation with other political forces in each states. Keywords: Islamism, Egypt, Indonesia, discourses, articulations, Post-foundationalism Abstrak Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan wacana dan artikulasi gerakan Islam di Mesir dan Indonesia. Di Mesir, Al-Ikhwan al-Muslimun telah menjelma menjadi sebuah kekuatan politik terpenting setelah pergantian rezim pada tahun 2011. Mereka telah berhasil menempatkan Mohammad Morsy dan Partai Keadilan Pembangunan dalam kekuasaan setelah memenangi Pemilu 2012. Di Indonesia, Partai Keadilan Sejahtera juga menjelma sebagai kekuatan politik setelah Reformasi 1998, walaupun kesuksesan mereka tak sebesar Ikhwan. Dengan menggunakan pendekatan post-fondasionalis, artikel ini berupaya untuk menyediakan penjelasan tentang bagaimana wacana dan artikulasi Gerakan Islam di kedua negara tersebut diproduksi setelah pergantian rezim. Dengan melacak perjalanan politik dan sejarah Gerakan Islam di Mesir dan Indonesia, artikel ini berargumen bahwa kedua Gerakan Islam di Mesir dan Indonesia berangkat dari konsepsi universalis tentang Islam yang bertujuan untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara. Secara garis besar, artikel ini menemukan bahwa ada perbedaan hasil yang diperoleh Gerakan Islam di dua negara tersebut, yang antara lain dipengaruhi oleh perbedaan strategi, artikulasi, dan negosiasi dengan kekuatan politik lain di negara tersebut. Kata kunci: Islamisme, Mesir, Indonesia, wacana, artikulasi, Post-fondasionalisme
FATWA KH. AHMAD RIFAI KALISALAK TENTANG OPIUM DAN ROKOK DI JAWA ABAD XIX FATWA OF KH. AHMAD RIFAI KALISALAK ON OPIUM AND SMOKING IN THE 19th CENTURY JAVA Ayang Utriza Yakin
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 18 No. 1 (2016)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v18i1.329

Abstract

Abstract The paper explores the admonition and advice (read: legal opinion) of Ahmad Rifai on opium and smoking in a manuscript entitled Bahs al-‘Iftâ’ (Discussion of Fatwa). The discussion will be limited to this fatwa for several reasons. First, the fatwa is the most interesting issue compared to the other themes and topics found in the manuscript. Most of themes and topics pertain merely to the ritual issues and to advice about the ways things should be done, for example, how to conduct a pilgrimage, prayer, and fasting, on the one hand, and to the tasawuf issues, such as taubat, tawakkal, mujâhadah, and riyâ’, on the other hand. Second, the fatwa is more comprehensive, even though short, thus enabling a deeper investigation of the selected fatwa. The article will use the philology, history, and legal methods. First, it will provide the transliteration from Pegon into Latin character and translation from Javanese into Indonesian as a philological work. Then, the author will analyze the writing using a historical approach to place the text in its contexts, and to provide a historical background for the fatwa. Eventually, the author will discuss the fatwa from a legal perspective. The paper seeks to answer the questions: What is the legal opinion of Ahmad Rifai on opium and smoking? What circumstances drove him to issue such legal opinion? What are the distinctions of his fatwa that differ from other ulama? Which and what methods did Rifai use in issuing the above mentioned fatwa? The main contribution of this article is first to provide the original text of KH. Ahmad Rifai Kalisalak on smoking and opium. Second, the article reveals that he was the only ulama concerned with the issue of smoking and opium in the 19th Century Java. Keywords: Ahmad Rifai, Bahsul Ifta, Marriage, Opium, Smoking, Ambon, Java Abstrak Tulisan ini membahas fatwa Ahmad Rifai tentang Opium dan Rokok di dalam naskah yang berjudul Bahs al-‘Iftâ’ (Pembahasan tentang Fatwa). Diskusi di dalam artikel ini hanya dibatasi pada fatwa tersebut untuk beberapa alasan. Pertama, fatwa ini adalah fatwa yang paling menarik dibandingkan dengan masalah-masalah yang ditemukan di dalam naskah. Hampir semua tema dan topik hanya terkait dengan soal-soal ibadah dan nasehat mengenai bagaimana sesuatu harus dilakukan. Contohnya, bagaimana melaksanakan ibadah haji, salat, dan puasa di satu sisi, dan terkait dengan soal-soal tasawuf, seperti taubat, tawakal, mujahadah, dan riya di sisi lain. Kedua, fatwa ini adalah fatwa terlengkap, walaupun hanya pendek, dan karenanya memungkinkan untuk menganalisis fatwa yang dipilih itu lebih dalam. Penulis menggunakan pendekatan Filologi, Sejarah, dan Hukum. Mulanya, ia akan menyediakan alih aksara dari aksara Pegon ke aksara Latin dan alih bahasa dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia sebagai kerja filologis. Kemudian, penulis akan menganalisis fatwa dengan menggunakan pendekatan sejarah guna meletakkan teks dalam konteksnya dan memberikan latar belakang sejarah untuk fatwa tersebut. Akhirnya, penulis akan membicarakan fatwa itu dari pandangan hukum. Makalah ini akan mencari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan: apa fatwa Ahmad Rifai tentang Opium dan Rokok? Keadaan apa yang mendorong Rifai mengeluarkan fatwa demikian? Apa yang membedakan fatwanya dan fatwa ulama lain? Metode apa dan yang mana yang digunakan Rifai untuk mengeluarkan fatwa tersebut di atas? Sumbangsih utama dari tulisan ini adalah, pertama, menyediakan teks asli KH. Ahmad Rifai Kalisalak tentang rokok dan opium, dan, kedua, tulisan ini mengungkapkan bahwa Rifai adalah satu-satunya ulama yang perhatian pada masalah rokok dan opium pada abad ke-19 di Jawa. Kata kunci: Ahmad Rifai, Bahsul Ifta, Pernikahan, Opium, Rokok, Ambon, Jawa
ANTARA KETAATAN BERAGAMA DAN TOLERANSI SOSIAL: MEMBACA PEMIKIRAN GURU MARZUKI MUARA DI BETAWI TENTANG KAFIR (1877-1934) BETWEEN OBEDIENCE AND SOCIAL TOLERANCE: READING GURU MARZUKI THOUGHT OF MUARA OF BETAWI ON KAFIR (1877-1934) Agus Iswanto
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 18 No. 1 (2016)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v18i1.330

Abstract

Abstract This paper presents the work and ideas of Guru Marzuki, a Jakarta (Betawi) Islamic scholar, from the late 19th to the early 20th century. This paper focuses on theological thought or kalam highlighting the issue of kafir. This paper is based on the works of Guru Marzuki, interviews and other relevant sources. Result shows that the theology school of Guru Marzuki is ‘Asy’ari. Guru Marzuki stays in between of ‘religious discipline’ and tolerance to other Muslims. Marzuki emphasizes the importance of 'discipline' in aqidah and worship. Nevertheless, in the context of social relations among Muslims Marzuki promotes tolerance, as shown by his careful judgement on the issue of kafir. The thoughts of Guru Marzuki contribute to the history of moderate Islam as well as responding to the issue of ‘kafir’ that is still relevant in the recent days. Keywords: Islamic thought, theology, kafir, ulama of Betawi-Indonesia, Guru Marzuki Abstrak Tulisan ini menyajikan karya dan pemikiran dari seorang ulama Jakarta atau Betawi dari akhir abad ke-19 dan awal ke-20, yakni Guru Marzuki. Tulisan ini berfokus pada pemikiran teologi atau kalam dengan pembahasan khusus pada masalah penilaian kafir, sebuah isu yang masih relevan sekarang. Sumber-sumber yang digunakan dalam tulisan ini adalah karya-karya Guru Marzuki, wawancara, dan sumber lain yang relevan dengan konteks kehidupan Guru Marzuki. Dari sisi aliran teologi, Guru Marzuki mengikuti mazhab ‘Asy‘ari. Dari karya-karyanya di bidang teologi, terungkap bahwa Guru Marzuki berdiri di antara ‘disiplin dalam beragama’ dengan toleransi kepada sesama Muslim. Secara individual, Guru Marzuki menekankan ‘kedisiplinan’ dalam akidah dan ibadah. Namun, dalam konteks relasi sosial sesama Muslim Guru Marzuki mengedepankan toleransi, terbukti dari pandangan yang hati-hati dalam memberi penilaian kafir. Pengungkapan pemikiran Guru Marzuki dapat menyumbangkan khazanah intelektual mengenai persoalan kafir yang hingga kini menjadi isu yang selalu muncul di Indonesia. Pemikiran Guru Marzuki memberikan kontribusi bagi sejarah pemikiran Islam moderat di Indonesia. Kata kunci: pemikiran Islam, teologi, kafir, ulama Betawi-Indonesia, Guru Marzuki
SIASAT ANAK JALANAN MELAWAN PRAKTIK OPRESIF DI MAKASSAR STREET CHILDREN’S TACTICS AGAINST OPPRESSIVE PRACTICES IN MAKASSAR Abu Bakar
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 18 No. 1 (2016)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v18i1.340

Abstract

Abstract This paper discusses the problems of street children lives in Makassar City, focusing on their motivation and resistance against oppressive practices in their environments. The main question is how street children establish tactics against oppressive practices. Using Scott’s theory of resistance in daily life as well as ethnographic approach, this paper underlines that street children’s tactics against oppressive practices are determined by their economical subsistence. They are motivated to escape from their subsistence crisis. Keywords: tactics, oppressive practices, resistance, street children, resistance motivation Abstrak Tulisan ini mendiskusikan masalah kehidupan anak jalanan di Kota Makassar, dengan fokus pada motivasi dan resistensinya dalam menghadapi praktik-praktik opresif di sekelilingnya. Pertanyaan yang diajukan adalah bagimana siasat anak jalanan dalam melawan praktik-praktik opresif. Untuk menggambarkannya, penulis menggunakan teori perlawanan sehari-hari James C. Scott dan pendekatan etnografi. Siasat anak jalanan dalam melawan praktik opresif ternyata didasarkan pada masalah subsistensi (ekonomi). Motivasi mendasar dari anak jalanan adalah keluar dari krisis subsistensi. Kata kunci: siasat, praktik opresif, resistensi, anak jalanan, motivasi resistensi
BANJIR, PENGENDALIANNYA, DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DI SURABAYA, 1950-1976 FLOOD CONTROL AND PEOPLE’S PARTICIPATION IN SURABAYA, 1950-1976 Sarkawi B. Husain
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 18 No. 1 (2016)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v18i1.341

Abstract

Abstract During the mid of 20th Century until the 1970s, there were several factors causing floods in Surabaya. Using archival research, scrutinizing news reports and conducting interviews, this article found three causes of flood. They are: (1) Overflowing Kali Lamong which has headwaters in Lamongan and Mojokerto; (2) Demolition of Kali Pakis and Kali Kali Baru Bratang Dike by society; (3) River sedimentation, waste, illegal buildings on the riverbanks and under bridges, and the reduction of water catchment areas. People made various efforts to control floods, both individually and cooperating through gotong royong. The rich people elevated their houses and buy flood pump, while the poor people only created pile of sandbags in front of the door. Mutual cooperation coordinated by Neighborhood Association/Citizens Association (RT/RW) is other mechanisms to control the flood. Keywords: flood, Surabaya, control, community, participation Abstrak Selama pertengahan abad ke-20 hingga tahun 1970-an, banjir di Kota Surabaya menunjukkan eskalasi dan siklus yang semakin pendek. Faktor-faktor apa yang menyebabkan eskalasi tersebut dan apa yang dilakukan oleh masyarakat dalam menanggulangi banjir yang melanda rumah dan kampung mereka? Melalui penelitian arsip, sejumlah surat kabar, dan wawancara, berbagai masalah tersebut dielaborasi. Studi ini menemukan bahwa banjir pada periode ini disebabkan antara lain oleh: (1) Meluapnya Kali Lamong yang berhulu di Kabupaten Lamongan dan Mojokerto; (2) Tindakan penduduk yang membobol tanggul Kali Pakis dan Kali Bratang Baru; (3) Sedimentasi kali, sampah, bangunan liar di bantaran kali dan kolong jembatan, serta berkurangnya wilayah resapan air. Untuk menanggulangi banjir, masyarakat melakukan berbagai upaya, baik perorangan maupun gotong-royong. Mereka yang memiliki dana yang banyak, meninggikan lantai rumahnya dan membeli pompa penyedot banjir, sedangkan yang tidak punya banyak uang, hanya membuat tanggul di depan pintu rumahnya. Kerja sama Rukun Tetangga/Rukun Warga (RT/RW) menjadi sebuah mekanisme lain untuk mengontrol banjir. Kata Kunci: Banjir, Surabaya, pengendalian, masyarakat, partisipasi

Filter by Year

1997 2023


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 3 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 25 No. 2 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 25 No. 1 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 3 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 2 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 1 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 3 (2021): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 2 (2021): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 1 (2021) Vol. 22 No. 3 (2020) Vol. 22 No. 2 (2020) Vol. 22 No. 1 (2020) Vol. 21 No. 3 (2019) Vol. 21 No. 2 (2019) Vol. 21 No. 1 (2019) Vol. 20 No. 3 (2018) Vol. 20 No. 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol. 20 No. 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol. 20 No. 1 (2018) Vol 19, No 3 (2017) Vol. 19 No. 3 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol. 19 No. 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol. 19 No. 1 (2017) Vol. 18 No. 3 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol. 18 No. 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol. 18 No. 1 (2016) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol. 17 No. 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol. 17 No. 1 (2015) Vol. 16 No. 3 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol. 16 No. 2 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol. 16 No. 1 (2014) Vol. 15 No. 3 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol. 15 No. 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol. 15 No. 1 (2013) Vol. 14 No. 3 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol. 14 No. 2 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol. 14 No. 1 (2012) Vol. 13 No. 2 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol. 13 No. 1 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol. 12 No. 3 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol. 12 No. 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol. 12 No. 1 (2010) Vol. 11 No. 2 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol. 11 No. 1 (2009) Vol. 10 No. 2 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol. 10 No. 1 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol. 9 No. 1 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol. 8 No. 2 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol. 8 No. 1 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 2 (2005) Vol. 7 No. 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol. 7 No. 1 (2005) Vol. 6 No. 2 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol. 6 No. 1 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 2 (2003) Vol. 5 No. 2 (2003) Vol. 5 No. 1 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 3, No.1 (2000) Vol 3, No.1 (2000) Vol 2, No.2 (1999) Vol 2, No.2 (1999) Vol 2, No.1 (1998) Vol 2, No.1 (1998) Vol 1, No.2 (1998) Vol 1, No.2 (1998) Vol 1, No.1 (1997) Vol 1, No.1 (1997) More Issue