cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Masyarakat dan Budaya
ISSN : 14104830     EISSN : 25021966     DOI : -
Core Subject :
Jurnal Masyarakat dan Budaya (JMB) or Journal of Society and Culture is a peer-reviewed journal that aims to be an authoritative academic source on the study of society and culture. We publish original research papers, review articles, case studies, and book reviews focusing on Indonesian society, cultural phenomena, and other related topics. A manuscript describing society and culture outside Indonesia is expected to be analyzed comparatively with the issues and context in Indonesia. All papers will be reviewed rigorously at least by two referees. JMB is published three times a year, in April, August , and December.
Arjuna Subject : -
Articles 869 Documents
UPACARA SEBA BADUY: SEBUAH PERJALANAN POLITIK MASYARAKAT ADAT SUNDA WIWITAN Retty Isnendes
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 18 No. 2 (2016)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v18i2.411

Abstract

This article takes the theme of seba ceremony held by the traditional community of Baduy, which is assumed to be a traditional-political journey that has been held for centuries since the founding of Banten Sultanate. The writing aims to: Explain text (ceremony event) and describe the co-text and context of seba ceremony. The method used was descriptive qualitative, conducted through library research, observation, interview, and recording. Data were processed using transcription, analysis, and interpretation. The data collected consisted of seba leutik (small seba) ceremony from May 1-5, 2014 and seba ageung (the grand/big ceremony) from April 23-26, 2016. The results reveal that seba ceremony is held simultaneously by Baduy community (Baduy Luar and Dalam/Outer and Inner Baduy) with different procedures. What distinguishes the ceremony is the existence of lalampah, a journey heading to the capitals of the Regency and Province, which is done by Baduy Dalam community by foot, while Baduy Luar community do this by vehicle. The seba ceremony itself consists of seba ageung (the grand/big ceremony) and seba leutik (small seba), held annually. Seba is the awarding of marks of honor and recognition by Baduy community as those who ‘nu tapa di mandala’ (meditate in the holy land) to those who ‘nu tapa di nagara’ (meditate in the state). With these political marks, they expect that their rights of communal land protection and community prosperity will be fulfilled. The accompaniments to the text of seba are goods resulted from the holy ritual of kawalu, namely laksa and produce as well as rajah utterances (mantra) and traditional speeches. Keywords: Seba Baduy, traditional politic, Sunda Wiwitan Tulisan ini mengangkat upacara seba yang dilakukan oleh masyarakat adat Baduy yang diasumsikan sebagai perjalanan politik tradisional yang telah dilakukan berabad-abad lamanya, semenjak kesultanan Banten berdiri. Tujuan tulisan ini adalah: memaparkan teks (peristiwa upacara), mendeskripsikan ko-teks, dan konteks upacara seba. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik studi pustaka, observasi, wawancara, dan perekaman. Pengolahan data dilakukan dengan transkripsi, analisis, dan interpretasi. Data yang dikumpulkan adalah upacara seba leutik (seba kecil) pada tanggal 01 s.d. 05 Mei 2014 dan seba ageung (seba besar) pada tanggal 23-26 April 2015. Hasilnya adalah bahwa upacara seba dilakukan pada waktu bersamaan oleh masyarakat Baduy (dalam dan luar) dengan tata cara yang berbeda. Hal yang membedakannya adalah adanya lalampah yang dilakukan oleh orang Baduy Dalam dengan berjalan kaki menuju kota Kabupaten dan Propinsi, sedangkan orang Baduy Luar menggunakan kendaraan. Upacara seba terdiri atas seba ageung (seba raya/besar) dan seba leutik (seba kecil) yang dilakukan selang setahun sekali. Seba adalah menyerahkan tanda penghormatan dan penghargaan masyarakat Baduy sebagai ‘nu tapa di mandala’ (yang bertapa di tanah suci) pada mereka ‘nu tapa di nagara’ (yang bertapa di negara). Dengan tanda politis tersebut, mereka berharap haknya terpenuhi atas perlindungan tanah ulayat dan kesejahteraan masyarakatnya. Hal-hal yang menyertai teks seba adalah barang-barang yang berupa hasil ritual suci kawalu, yaitu laksa dan hasil bumi, juga tuturan rajah (mantra) dan pidato tradisional. Kata kunci: Seba Baduy, politik tradisional, Sunda wiwitan
KEBEBASAN INDIVIDU MANUSIA ABAD DUA PULUH: FILSAFAT EKSISTENSIALISME SARTRE Sihol Farida Tambunan
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 18 No. 2 (2016)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v18i2.412

Abstract

Existentialism was a label for many philosophical thoughts developed in the World War I and II. It becomes a break-through against the traditional ways of thinking, namely essentialism considering empirism and rationalism and the ontology of rationalistic being as the only ways of thinking. The traditional thinkers has agreed to dismish any possibility to change the answer to the question of being. The existentialist thinker made a revolt against that traditional philosopher of essentialism which had developed since the era of Plato and Aristoteles as a deterministic philosophy. Jean-Paul Sartre, well-known French philosopher was one of existentialist thinker who discusses human as an existential subject. According to him, existentialism was also a philosophy of being, but he resists rationalizing it. In his thought, existentialism is the personal experience of human as a subject. He calls ‘etre-en soi’ for human conciousness object and etre pour-soi for human consciousness. The purpose of human existensialist, according to him, is to be etre-ensoi-etre pour soi’ or the fully consciousness in the self. Subjectivism of human being was becoming the focus of thinking creating a new scientific mainstream called psychology. Keywords: Existentialism, Anti-deterministic, World War, Psichology and Subjectifism, Being And Nothingnes ( L’Etre et Neant.) Eksistensialisme merupakan sebuah label yang diberikan terhadap banyak pemikiran filsafat yang berkembang pada Perang Dunia I dan II. Aliran ini mendobrak aliran pemikiran tradisional sebelumnya yaitu Esensialisme yang hanya menganggap empirisme dan rasionalisme serta ontologi rasional tentang ‘ada’ sebagai hakikat pemikiran. Pemikir-pemikir tradisional telah menyepakati untuk menghilangkan setiap kemungkinan yang mengubah pertanyaan tentang ‘ada’. Pemikir-pemikir Eksistensialis melakukan revolusi terhadap para Filsuf Esensialis yang telah berkembang selama berabad-abad sejak zaman Plato dan Aristoteles sebagai suatu bentuk filsafat yang deterministik. Jean-Paul Sartre, filsuf Perancis yang terkenal adalah salah satu pemikir Eksistensialis yang membicarakan manusia sebagai subjek yang eksistensial. Menurutnya, Eksistensialisme juga merupakan filsafat tentang ‘ada’, tetapi dia menolak untuk membakukannya menjadi satu-satunya hakikat pemikiran. Ia menganggap bahwa Eksistensialisme merupakan pengalaman personal manusia sebagai subjek. Dia menyebut ‘etre-en soi’ terhadap objek kesadaran manusia dan ‘etre-pour soi’ terhadap kesadaran manusia itu sendiri. Tujuan kesadaran manusia menurut Sartre adalah menjadi ‘etre-en soi- etre-pour soi’ atau ‘kesadaran yang penuh pada dirinya.’ Subjektivitas manusia menjadi fokus pemikiran yang melahirkan aliran ilmu pengetahuan terbaru yaitu Psikologi. Kata kunci: Eksistensialisme, Anti Deterministik, Perang Dunia, Psikologi, Subjektivisme, Ada dan tiada (L’Etre et le Neant).
PERANAN PELAUT DALAM REPRODUKSI WAWASAN KESATUAN GEO-BIO-SOSIAL-BUDAYA MARITIM NUSANTARA: BELAJAR DARI NELAYAN PENGEMBARA BUGIS-MAKASSAR DI SULAWESI SELATAN Munsi Lampe
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 18 No. 2 (2016)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v18i2.413

Abstract

Literatures mostly focus on the Indonesian maritime communities discussing the local-traditional institutions, socio-economics, fishing techniques, marine fishery modernization which stressing capitalism and global market, poverty of fishing communities, as well as marine ecosystem destruction. In fact, most of those studies neglect the navigation and maritime interaction of fishermen, which become the key to comprehend the core and characteristics of maritime culture over the world. This article aims to identify and analyze the maritime geobio-socio-cultural insights of the Buginese-Makassarese fishermen within the context of their voyage and interaction with the other fishermen communities in Indonesia. The data were collected selectively from some research reports, especially “Studying the Institution and Maritime Cultural Concept of Buginese-Makassarese, Mandarese, and Butonese Seamans Supporting the Strength of National Integration and Social Harmony” (LP2M Unhas, 2010), in which I participated as coordinator and team member. Froom the new “navigation and reproduction of maritime geo-socio-cultural insights” model, four themes of maritime geo-bio-socio-cultural insights of the Buginese-Makassarese can be identified, namely (1) the insight of geo-bio-climate Nusantara sea, (2) the insight of sea as space with its bio-abiotic resources as opened-closed property/access, (3) the insight of maritime ethnic and culture diversity, and (4) the concept of homeland and maritime nation unity. Keywords: Bugis-Makassar fishermen, reproduction of Nusantara geo-bio-socio-cultural maritime insights, Indonesia Bacaan tentang masyarakat maritim di Indonesia menunjukkan adanya kecenderungan pilihan subjek pada komunitas-komunitas nelayan dengan fokus studi pada aspek-aspek institusi, sosial-ekonomi, teknologi penangkapan ikan, dan modernisasi teknologi perikanan laut (dengan kapitalisme dan pasar global) serta dampak kemiskinan penduduk nelayan dan kerusakan lingkungan. Sayangnya, kajian yang ada cenderung mengabaikan aspek-aspek kepelayaran dan interaksi kemaritimannya yang justru merupakan kunci menemukan inti dan karakteristik umum budaya maritim di dunia. Tulisan ini bermaksud mengidentifikasi dan menganalisis unsur-unsur wawasan kesatuan geo-bio-sosial-budaya maritim ke-Nusantara-an dari nelayan pengembara BugisMakassar dalam konteks pelayaran dan interaksi kemaritimannya dengan lingkungan laut dan kelompok nelayan lainnya di Indonesia. Sumber data untuk penulisan artikel ini diambil secara selektif dari beberapa laporan penelitian, khususnya “Studying the Institution and Maritime Cultural Concept of Buginese-Makassarese, Mandarese, and Butonese Seamans Supporting the Strength of National Integration and Social Harmony” (LPPM Unhas, 2010) di mana penulis terlibat aktif sebagai koordinator maupun anggota tim peneliti. Melalui aplikasi model analisis “navigasi dan reproduksi wawasan geo-bio-sosial-budaya maritim” yang baru, empat tema wawasan budaya maritim ke-Nusantara-an yang dimiliki nelayan pengembara Bugis-Makassar dapat diidentifikasi, yaitu (1) wawasan tentang lingkungan geo-bio-iklim perairan Nusantara, (2) wawasan tentang laut dan isinya sebagai ruang terbuka-tertutup, (3) wawasan tentang keanekaragaman suku bangsa laut dan budaya maritimnya, dan (4) konsep kesatuan Tanah Air dan Bangsa Maritim Nusantara. Kata kunci: kepelautan nelayan pengembara Bugis-Makassar, reproduksi wawasan kesatuan geo-bio-sosialbudaya maritim Nusantara, Indonesia
PENERAPAN PROGRAM MINAPOLITAN PERIKANAN TANGKAP DALAM MEMBERDAYAKAN NELAYAN KECIL DI KABUPATEN SUKABUMI Masyhuri Imron
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 18 No. 2 (2016)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v18i2.414

Abstract

Minapolitan is marines and fisheries development concept based on area economic management emphasizing on fisheries comodities. Minapolitan program intends to increase qualified fisheries production as well as community income. This paper aims to describe the implementation of Minapolitan program in Sukabumi regency; whether the program has already directed to empower small fishermen. The result shows that the activities of Minapolitan program are unfocused. Everything related to fisheries issues, even those unrelated ones, are considered as a part of Minapolitan program. The implementation of Minapolitan program undertaken by local governments and coastal development program are no different. Both capital and fishing equipment support for small fishermen has not been directed to increase the production of qualified comodities. The empowerment of small fisheries in Minapolitan program has not been interconnected with the purpose of Minapolitan program in this area, namely the increasing of four higher grade fish comodities, including Tuna, Tongkol, Cakalang and Layur. Keywords: Minapolitan, Catching Fisheries, Empowerment, Small Fishermen. Minapolitan merupakan konsep pembangunan kelautan dan perikanan berbasis manajemen ekonomi kawasan, dengan komoditas unggulan berupa perikanan. Program Minapolitan dimaksudkan untuk meningkatkan produksi perikanan unggulan, sekaligus untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Tulisan ini untuk melihat penerapan program Minapolitan di Kabupaten Sukabumi, apakah sudah diarahkan untuk memberdayakan nelayan kecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan di dalam program Minapolitan di Sukabumi belum fokus. Semua yang terkait dengan masalah perikanan dianggap sebagai bagian dari program Minapolitan, bahkan program yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah perikanan tangkap. Jadi tidak ada perbedaan antara program Minapolitan yang dilakukan oleh pemerintah daerah dengan program pembangunan pesisir. Program bantuan permodalan dan peralatan tangkap untuk nelayan kecil belum diarahkan untuk mendukung peningkatan produksi komoditas unggulan. Dengan demikian, pemberdayaan nelayan kecil di dalam program Minapolitan masih terlepas dari tujuan program Minapolitan di daerah ini, yaitu meningkatkan produksi empat jenis komoditas ikan unggulan, yaitu Tuna, Tongkol, Cakalang dan Layur. Kata kunci: Minapolitan, Perikanan Tangkap, Pemberdayaan, Nelayan Kecil.
STRATEGI ADAPTASI NELAYAN DESA TANJUNG BERAKIT DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM Sudiyono Sudiyono
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 18 No. 2 (2016)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v18i2.415

Abstract

Climate change as a consequence of global warming has been discussed nationally, regionally and internationally. Most of the people, inclusing academicians, NGO activists, government as the policy makers, put great concerns on the impact of climate change. Indonesia as an archipelagic state consisting of 17000 islands with 81.000 km coastline has a high level of vurnerability. The fishermen is one the most vulnerable ones. This paper aims to draw the ways of Tanjung Berakit fishermen in Bintan-Riau islands in facing climate change in the recent days. The data were gathered qualitatively through interviews, observations and limited discussion with the fishermen as well as the related stakeholders. Result shows that they are very vulnerable to various environmental changes. They are also vulnerable because of low level health, education and skill, as well as lack of information, financial and means of production accesses; therefore, they have low capacity for adapting. In fact, they create their own adaptation strategies, including optimizing nonfisheries products, developing any grants and programs provided by the government or other stakeholders, as well as using their traditional networks to fulfill their basic needs. Keywords: fishermen, adaptation, climate change Perubahan iklim (climate change) sebagai dampak dari pemanasan global (global warming), telah menjadi bahan pembicaraan di berbagai forum, baik di tingkat nasional, regional, maupun di tingkat internasional. Dampak luas perubahan iklim terhadap kelangsungan hidup makluk di bumi, telah menarik perhatian orang dari berbagai kalangan masyarakat, para akademisi, pegiat lingkungan yang tergabung dalam lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan pejabat pemerintah terkait yang terlibat dalam perumusan kebijakan. Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri dari 17000 pulau dan panjang pantai 81.000 km, memiliki tingkat kerentanan yang tinggi. Komunitas nelayan adalah salah satu kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Pertanyaannya, bagaimana strategi nelayan Tanjung Berakit Bintan Kepulauan Riau menghadapi perubahan iklim yang terjadi pada tahun-tahun terakhir ini? Penelitian terhadap masalah itu dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam, pengamatan dan diskusi terbatas kepada para nelayan dan para pihak lain yang terlibat dalam kehidupan para nelayan di Tanjung Berikat itu. Penelitian telah menemukan bahwa kehidupan mereka sangat rentan terhadap berbagai bentuk fenomena perubahan lingkungan. Mereka juga memiliki tingkat kerentanan yang tinggi akibat berbagai keterbatasan yang membelit dirinya, seperti rendahnya tingkat kesehatan, rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan, terbatasnya akses informasi yang dapat menolong dirinya, terbatasnya modal finansial, terbatasnya kepemilikan dan penguasaan aset produksi, kesemuanya telah berkontribusi terhadap rendahnya kemampuan adaptasi nelayan. Berbagai strategi menghadapi kerentanan itu dilakukan dengan cara, yaitu mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya laut selain ikan, mengembangkan secara maksimal bantuan dan program yang diberikan pihak pemerintah dan pihak lain, dan memanfaatkan jaringan tradisional dalam menjaga pemenuhan kebutuhan mereka mereka, walaupun masih sebatas pemenuhan kebutuhan pokok. Kata kunci: nelayan, adaptasi, perubahan iklim
PEMBERDAYAAN DAN AKSI KOLEKTIF PEREMPUAN: SEBUAH REFLEKSI SOSIOLOGIS Ida Ruwaida
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 18 No. 2 (2016)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v18i2.416

Abstract

This paper focuses on the women’s collective action related to the economic empowerment through poverty reduction programs. Empirically, policies and programs of poverty reduction, do not able to stimulate women’s capacities and awareness, both individually and collectivelly. The roles of women is more instrumental than substantive. Moreover, those programs have failed to empower women for organizing themselves to articulate their interests collectivelly. Some cases reflects that the women’s association rely on their leader. It means the performance of association and also the economic matters still depended on the capacity of the leader. The women leaders are able to develop institutional transformation even they face structural and cultural obstacles. Sociologycally, it is interesing to reveal the strategiesof women agencies in dealing with those obstacles. Keywords: Women’s collective actions, women agency, economic empowerment, instrumental roles, transformative roles, institutional transformation. Tulisan ini memfokuskan perhatian pada aksi kolektif perempuan dalam upaya pemberdayaan ekonominya melalui program penanggulangan kemiskinan. Berdasar kajian terefleksi bahwa kebijakan maupun program penanggulangan kemiskinan masih belum menstimuli kapasitas dan kesadaran kritis perempuan baik secara individual maupun kolektif. Artinya, perempuan masih diposisikan dengan peran instrumentalnya, bukan peran substantif/transformatifnya. Menariknya, ada kecenderungan program-program yang ada justru menfragmentasi perempuan. Hal ini dimungkinkan ketika kebutuhan dan kesadaran perempuan untuk mengorganisir diri dan memperjuangkan kepentingan bersama masih lemah. Pada sejumlah kasus, aksi kolektif perempuan sangat diwarnai oleh keberadaan figur yang memiliki kapasitas individual sebagai agen perubahan. Aktor perempuan ini mampu melakukan transformasi institusional, meski berhadapan dengan tantangan struktural dan kultural. Secara sosiologis, menarik mengungkap strategi agensi perempuan dalam menyikapi tantangan-tantangan struktural maupun kultural. Kata kunci: Aksi kolektif perempuan, agensi perempuan, pemberdayaan ekonomi, peran instrumental, peran substantif/transformatif, transformasi institusional.
UNDERSTANDING POSITIVE MEASURES IN AN EQUALITY FRAMEWORK ON THE GROUND OF DISABILITY Yeni Rosdianti
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 18 No. 2 (2016)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v18i2.417

Abstract

Tak dapat dipungkiri bahwa selama ini penyandang disabilitas kerap mengalami diskriminasi pada aneka bidang kehidupannya. Kenyataan ini secara umum terjadi akibat stereotype dan stigmatisasi di tengah masyarakat yang maujud dalam bentuk pandangan yang keliru tentang penyandang disabilitas. Prinsip kesetaraan (equality) dan nondiskriminasi sebagai prinsip dasar Hak Asasi Manusia menjadi landasan pijak dalam menghormati hak-hak penyandang disabilitas. Prinsip kesetaraan, dalam arti kesetaraan substantif (substantive equality model), mengandung makna kesetaraan yang memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk beroleh kesempatan yang sama dengan non-disabilitas pada seluruh lapangan kehidupan. Konsep Kesetaraan substantive ini mendorong dibuatnya langkah-langkah positif (positive measures) yang menekankan pada akomodasi kekhasan yang ada untuk menyingkirkan rintangan (removing barriers) yang selama ini dihadapi. Hingga para penyandang disabilitas sejalan dengan martabat yang melekat, terpenuhi hak-haknya, dan untuk dapat berkontribusi di tengah-tengah masyarakat sesuai dengan pengembangan potensinya masing-masing, sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Kata kunci: penyandang disabilitas, langkah-langkah positif, kesetaraan, hak asasi manusia Persons with disabilities have mostly been experienced a long history of discrimination, exclusion, deprived of liberty, and even dehumanization. A sequence of various stigmatisation and stereotype concerning disability were taken into account. They have been suffered from discrimination on both direct and indirect ways. It was a social model of disability which subsequently led to human rights based approach of disability; appoint a new horizon to perceive disability within a comprehensive pathway in the society as a whole. It comes from human rights values which accented on equality and non-discrimination as the main principles of human rights. Equality in terms of substantive equality model drives its robust landscape of disability in light of protection and fulfilment of the rights of persons with disabilities as disadvantaged group, toward the uttermost participation in the society. Substantive equality is the notion of worth and benevolence. It is sustain to conferring the positive measures as a means to achieve the genuine equality of persons with disabilities, as well as a driving force to make their rights real. Keywords: Persons with Disabilities; Positive Measures; Equality; Human Rights
THE WORLD UNTIL YESTERDAY (DUNIA HINGGA KEMARIN) Luis Feneteruma
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 18 No. 2 (2016)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v18i2.418

Abstract

Tinjauan Buku Judul : The World Until Yesterday Editor : Jared Daimond Penerjemah : Damaring Tyas Wulandari Palar Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Jakarta Tahun : 2015 Tebal : 614 halaman
“BOBOTOH PERSIB” DAN KONSTRUKSI IDENTITAS DI ERA DIGITAL Aulia Hadi, M.Sc
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 19 No. 1 (2017)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v19i1.434

Abstract

With more than 5 millions members, Bobotoh Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (Persib) seems to be the greatest football fandom in Indonesia. This paper draws the dynamics of Bobotoh Persib from the 1990s to the 2000s focusing on the identity construction in the digital era. This paper argues that Bobotoh Persib does not only provide opportunity to construct a collective identity rooted to the place (i.e. Bandung), but also ethnicity (i.e. being sundanese). Results show that the digital era provides a greater space for Bobotoh Persib to (re)negotiate who they are. Here, Bobotoh Persib (re)construct a project identity representing the local sundanese, the migrants in Bandung and the Persib fandom in general, who are connected with the global society. Dengan lebih dari 5 juta anggota, Bobotoh Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (Persib) tampaknya menjadi pendukung tim sepak bola terbesar di Indonesia. Tulisan ini menggambarkan dinamika Bobotoh Persib dari tahun 1990-an hingga tahun 2000-an dengan berfokus pada konstruksi identitas di era digital. Tulisan ini berargumen bahwa Bobotoh Persib tidak saja memberikan ruang bagi terciptanya sebuah identitas yang mengakar pada tempat (Bandung), tetapi juga etnisitas (kesundaan). Era digital memberikan ruang yang lebih luas bagi Bobotoh Persib untuk menegosiasikan kembali dirinya. Bobotoh Persib di era digital me(re)konstruksi sebuah identitas proyek yang merepresentasikan orang sunda lokal, pendatang di Kota Bandung, maupun pendukung Persib secara umum, yang terhubung dengan masyarakat global.
FUNGSI SIMBOLIK PERAYAAN ERAU DI TENGGARONG (KAJIAN SEMIOTIKA) Ulum Janah
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 19 No. 2 (2017)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v19i2.439

Abstract

Penelitian “Fungsi Simbolik Perayaan Erau di Tenggarong” merupakan penelitian lapangan. Objek penelitian ini adalah Perayaan Erau. Erau menunjukkan identitas masyarakat dan menunjukkan rasa persatuan di wilayah Kutai melalui fungsi simbolis perayaan tersebut. Untuk menganalisis prosesnya, penelitian ini menggunakan pendekatan semiotik milik Peirce. Hasilnya menunjukkan kegiatan dalam perayaan Erau di Tenggarong memiliki makna simbolis bagi masyarakat pemilik adat untuk mengkonfirmasi identitasnya. Selain itu, simbol juga berfungsi sebagai bentuk ekspresif, kreatif, psikologi, dan sosial bagi masyarakat adat maupun masyarakat umum di Tenggarong. Simbol tersebut menggambarkan orang pertama dan pemimpin di Kutai yang memiliki struktur berupa elemen-elemen yang saling terkait antara pemilik adat, dalam hal ini dari pihak kesultanan dan masyarakat sekitar. The "Functions of Symbolic Celebration Erau in Tenggarong" is the result of a field research. The object of this study are Erau Celebration. The Erau shows communities identity and demonstrate a sense of Unity in Kutai region through the symbolic function of the celebration. To analyse the process, this paper used semiotic approach by Peirce. The results indicate that the activities in Erau Celebration in Tenggarong have a symbollic meaning for the people of indigenous owners to confirm his identity. In addition, the symbols also have functioned as expressive, creative, psychology, and social forms for indigenous peoples as well as general public in Tenggarong. The symbol draws the first person and the leader of Kutai and their interrelated structural element and interdependency between indigenous owners, in this case from the sultanate and the surrounding communities.

Filter by Year

1997 2023


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 3 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 25 No. 2 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 25 No. 1 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 3 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 2 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 1 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 3 (2021): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 2 (2021): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 1 (2021) Vol. 22 No. 3 (2020) Vol. 22 No. 2 (2020) Vol. 22 No. 1 (2020) Vol. 21 No. 3 (2019) Vol. 21 No. 2 (2019) Vol. 21 No. 1 (2019) Vol. 20 No. 3 (2018) Vol. 20 No. 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol. 20 No. 2 (2018) Vol. 20 No. 1 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 3 (2017) Vol. 19 No. 3 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol. 19 No. 2 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol. 19 No. 1 (2017) Vol. 18 No. 3 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol. 18 No. 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol. 18 No. 1 (2016) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol. 17 No. 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol. 17 No. 1 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 3 (2014) Vol. 16 No. 3 (2014) Vol. 16 No. 2 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol. 16 No. 1 (2014) Vol. 15 No. 3 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol. 15 No. 2 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol. 15 No. 1 (2013) Vol. 14 No. 3 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol. 14 No. 2 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol. 14 No. 1 (2012) Vol 13, No 2 (2011) Vol. 13 No. 2 (2011) Vol. 13 No. 1 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol. 12 No. 3 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol. 12 No. 2 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol. 12 No. 1 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol. 11 No. 2 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol. 11 No. 1 (2009) Vol. 10 No. 2 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol. 10 No. 1 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 1 (2007) Vol. 9 No. 1 (2007) Vol. 8 No. 2 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol. 8 No. 1 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 2 (2005) Vol. 7 No. 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol. 7 No. 1 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 2 (2004) Vol. 6 No. 2 (2004) Vol. 6 No. 1 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 2 (2003) Vol. 5 No. 2 (2003) Vol. 5 No. 1 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 3, No.1 (2000) Vol 3, No.1 (2000) Vol 2, No.2 (1999) Vol 2, No.2 (1999) Vol 2, No.1 (1998) Vol 2, No.1 (1998) Vol 1, No.2 (1998) Vol 1, No.2 (1998) Vol 1, No.1 (1997) Vol 1, No.1 (1997) More Issue