cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Masyarakat dan Budaya
ISSN : 14104830     EISSN : 25021966     DOI : -
Core Subject :
Jurnal Masyarakat dan Budaya (JMB) or Journal of Society and Culture is a peer-reviewed journal that aims to be an authoritative academic source on the study of society and culture. We publish original research papers, review articles, case studies, and book reviews focusing on Indonesian society, cultural phenomena, and other related topics. A manuscript describing society and culture outside Indonesia is expected to be analyzed comparatively with the issues and context in Indonesia. All papers will be reviewed rigorously at least by two referees. JMB is published three times a year, in April, August , and December.
Arjuna Subject : -
Articles 869 Documents
Marginalisasi Hukum Adat pada Masyarakat Adat The marginalization of adat law on adat communities tine suartina
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 22 No. 1 (2020)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v22i1.936

Abstract

Tulisan ini berupaya melihat marjinalisasi adat, hukum adat serta implikasinya pada masyarakat adat. Dalam konteks Indonesia, meskipun Konstitusi dan beberapa aturan formal mengakui masyarakat adat, termasuk pranata adat, namun pada praktiknya telah terjadi upaya peminggiran jangka panjang. Ketidakkonsistenan kebijakan negara terhadap penerapan hukum adat memberikan peran dalam marjinalisasi komunitas adat pada berbagai tingkat. Melalui penelitian lapangan di tiga komunitas adat, Kasepuhan Ciptagelar, Kasepuhan Karang dan Kasepuhan Guradog di bagian Barat Jawa serta perspektif pluralism hukum, tulisan ini menjelaskan kurangnya pengakuan pada hukum adat memberikan pengaruh tertentu pada masyarakat adat, termasuk dalam pengaturan kemasyarakatan dan penghidupan. Studi ini pun membuktikan bahwa meskipun hukum adat secara praktis tidak diadopsi oleh negara, dalam beberapa kasus, masyarakat adat menemukan strategi untuk mempertahankan keyakinan dan praktik hukum adat di komunitasnya. Untuk itu, dalam konteks lebih luas, hal yang ingin disampaikan adalah, upaya marjinalisasi tidak mampu menghapuskan praktik adat dan hukum adat secara keseluruhan. Ketiga kasus memperlihatkan hingga saat ini praktik multi sistem hukum di masyarakat plural seperti Indonesia masih diterapkan, baik dalam situasi konflik maupun berdampingan. Selain itu, dalam mendiskusikan implementasi hukum di Indonesia dari perspektif masyarakat, pembedaan sistem formal dan informal di masyarakat tetap diperlukan dan unifikasi hukum hanya berfungsi dalam batas tertentu.This paper attempts to see adat and adat law marginalizations, and the implications on adat peoples. In Indonesia, despite the recognition for adat peoples in the Constitution and formal rules, including adat institutions, in practice there has been a long-term marginalization. The inconsistent State’s policies towards the adat law application play a role in the marginalization of adat communities at various levels. Having field research in Ciptagelar, Karang and Guradog kasepuhan communities in western Java and legal pluralism perspective, this paper elucidates the lack of adat law recognition giving certain impacts on adat peoples, including on their social lives and livelihood. This study also proves that although adat law is not practically adopted by the State, in some cases, adat peoples find strategies to maintain their beliefs and adat law. Thus, in a broader context, the marginalization is unable to eliminate adat and adat law as a whole. To date the practice of multi-legal systems in a plural society, such as Indonesia, still takes place, both in conflict and coexistence. Moreover, in discussing Indonesia’s implementation of law from a community perspective, the distinction between formal and informal systems is still needed and legal unification only functions within certain limits
Integrasi dan Nasionalisme di Natuna Budiana Setiawan
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 22 No. 1 (2020)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v22i1.937

Abstract

Natuna in Riau Islands is one of outermost region of the Republic of Indonesia, which is considered to have disintegration potential. Malaysia once claimed that Natuna should be part of its territory. This paper aims to answer the following questions: What is sense of nationalism of people in Natun? Is there a potential disintegration of Natuna community, to choose to be a part of Malaysia? What is government's effort to protect Natuna, so it cannot be separated from sovereignty territory of Republic of Indonesia? The purpose of this paper is therefore to indicate factors that determine nationalism; to describe disintegration potentialsy; and to know government's efforts to safeguard Natuna as an area of sovereignty of Republic of Indonesia. This paper is based on a qualitative research, that data collection techniques employed through in-depth interviews, observations, and literature reviews. The results showed that geographical closeness of economic and socio-cultural with Malaysia does not decrease sense of nationalism in the Natuna community. Natuna community views Indonesia as a large country with a wider area and more population than Malaysia, and is a respected country in Asian region.
Mencipta Ruang, Menggapai Langit: Pendidikan Publik Kritis dan Ruang Alternatif Minoritas di Yogyakarta dan Bandung Meike Lusye Karolus; Firdhan Aria Wijaya
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 22 No. 1 (2020)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v22i1.938

Abstract

Since 2016, there have been several cases in intolerance towards minority groups in Yogyakarta and Bandung. Those actions were triggered by conservative-extremist religious groups which are seemingly becoming powerful source for disintegration as well as threats to the freedom of expression and diversity. With the lack of protection from regional government apparatus, initiative grassroots movements tend to find alternative ways that open possibilities to create a space for minority groups. In Yogyakarta, there is Pemetik Buah Khuldi, a community which provides alternative critical public education related to diversity issues and democracy. Meanwhile in Bandung, there is Panggung Minoritas, an initiative that creates a safe space to gender and sexual minorities meet, share, learn and discuss about gender and sexuality topics. Both groups have similar purposes which cultivate awareness and support minorities rights through education, support groups, and creative activities. By examining both independent community’s activities through ethnographic approach, we analyze how these groups are becoming prevalent in the area of Java where have high numbers of intolerances and the reason why they prefer grassroots movement to government-approved groups to support minority groups. Furthermore, this article seeks to contribute a relevant perspective on recent situation of marginal groups and part of our critical reflection on responding of common project failure to recognise diversity. Keywords: grassroots, minority group, disintegration, intolerance Abstrak Sejak tahun 2016, intoleransi terhadap kelompok minoritas marak muncul di Yogyakarta dan Bandung. Tindakan-tindakan itu dipicu oleh sederet kelompok agama tertentu yang konservatif nan ekstremis. Kelompok-kelompok tersebut berpotensi menjadi sumber kuat untuk disintegrasi bangsa dan ancaman terhadap kebebasan berekspresi dan keberagaman. Dengan kurangnya perlindungan dari aparat pemerintah daerah, inisiatif gerakan akar rumput cenderung menempuh cara-cara alternatif untuk menciptakan ruang bagi kelompok-kelompok minoritas. Di Yogyakarta, terdapat Pemetik Buah Khuldi, sebuah komunitas yang menyediakan alternatif pendidikan publik kritis terkait dengan isu keberagaman dan demokrasi. Sementara itu, di Bandung, terdapat Panggung Minoritas, sebuah komunitas yang berinisiatif menciptakan ruang yang aman bagi minoritas gender dan seksual untuk bertemu, berbagi, belajar, dan mendiskusikan topik gender dan seksualitas. Kedua kelompok tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu menumbuhkan kesadaran dan mendukung minoritas melalui dialog, kepedulian kolektif, dan kegiatan kreatif. Dengan menelusuri aktivitas kedua komunitas tersebut melalui pendekatan etnografi, kami menganalisis bagaimana keduanya hadir di tengah meningkatnya jumlah intoleransi di pulau Jawa dan motivasi di balik mengapa mereka lebih memilih gerakan akar rumput daripada kelompok yang sah untuk membantu mereka. Selain itu, artikel ini berupaya memberikan kontribusi untuk mengisi perspektif yang relevan mengenai situasi terkini kelompok marginal dan bagian dari refleksi kritis dalam merespons kegagalan mengenali keberagaman. Kata kunci: akar rumput, kelompok minoritas, disintegrasi, intoleransi
Dayak Kaharingan di tengah perubahan sosial ekologi dan praktik perpindahan agama di pedesaan Kalimantan Tengah Nindyo Budi Kumoro
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 22 No. 1 (2020)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v22i1.939

Abstract

This paper tries to explain the relation between social-ecological change and the phenomenon of religious conversion in a minority group in Indonesia. The case study is the Dayak community religion in Central Kalimantan, Kaharingan, with 'world' or 'official' religions such as Christianity, Catholicism, or Islam. The study of Kaharingan in this paper is placed in the context of Kalimantan as an object of resource expansion with massive intensity by the global economic capitalist chain. Forest exploitation and local gold mining activity from outsiders urged Dayaks to participate in new economic patterns, which caused swidden cultivation to become inaccessible to villagers and began to slowly be abandoned. This has implications for the transformation of the Dayaks in perceiving their relationship with the natural environment, a relationship that was previously the basis of Kaharingan religious beliefs and practices. Based on my ethnographic research in the rural Dayak community upriver Katingan, this paper shows that the religious conversion from Kaharingan to a new religion is more driven by social and economic morals that emphasize individual-household relations rather than the communal-collective pattern as before. This paper also argues that although traditional beliefs have slowly been abandoned, the practice of Kaharingan ceremonies is still held intensively for different purposes.Keywords: Minority religion, socio-economic and ecological change, religious conversion Abstrak Artikel ini berupaya menunjukkan relasi perubahan sosial-ekologi dengan fenomena perpindahan agama pada kelompok minoritas di Indonesia. Studi kasus dalam tulisan ini adalah agama masyarakat Dayak Kalimantan Tengah, yakni Kaharingan, dengan agama ‘dunia’ atau ‘resmi’ seperti Kristen, Katolik, maupun Islam di sana. Kajian mengenai Kaharingan di sini diletakkan dalam konteks Kalimantan sebagai obyek dari ekspansi sumber daya dengan intensitas yang massif oleh rantai ekonomi kapitalisme global. Eksploitasi kayu maupun pertambangan lokal dari pihak luar mendorong orang Dayak turut berpartisipasi dalam pola ekonomi baru menggeser perladangan berpindah ke posisi yang tidak menguntungkan. Hal ini turut mendorong perubahan orang Dayak dalam memaknai relasi mereka dengan alam sekitar, relasi yang sebelumnya menjadi basis kepercayaan dan praktik agama Kaharingan. Dengan mendasarkan pada hasil riset etnografi pedesaan Dayak di hulu Sungai Katingan, tulisan ini menunjukkan bahwa perpindahan agama dari Kaharingan ke agama baru lebih didorong oleh moral sosial dan ekonomi baru yang menekankan relasi individu-rumah tangga dari pada komunal-kolektif seperti sebelumnya. Tulisan ini juga ingin menunjukkan meskipun kepercayaan lama telah ditinggalkan, namun praktik upacara Kaharingan tetap digelar dengan intensif meskipun untuk tujuan yang berbeda. Kata kunci: Agama minoritas, perubahan material-ekologi, perpindahan agama 
Marjinalisasi Perempuan Kuli Panggul di Pasar Pabean Surabaya Marjinalisasi Perempuan Kuli Panggul di Pasar Pabean Surabaya Miranti Dwi Yuniarti
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 22 No. 1 (2020)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v22i1.940

Abstract

 Marginalization often occurs in Indonesia, and it makes people gradually consider marginalization as a natural phenomenon. Female porters are one of the marginalized groups in Indonesia. They have been marginalized by others, but they donot realize it. This paper analyzes and describes the dilemmas and kind of marginalization faced by female porters in Pabean Surabaya market. The methods used in this study were qualitative, including direct observation and in-depth interviews. The results suggest that female porters marginalized by getting differential treatmentby other people, they can not negotiate their wages with customers which makes the income they earn incommensurate with their hard work, which is also exacerbated by the wage differential between female porters and male porters. They also face some dilemmas related to their work such as: (1)having double burden as housewives and workers, (2)limited skills so they can not choose a better job for them, (3)insufficient income for daily needs, (4)social pressure from fellow workers and other people. Marjinalisasi sering terjadi di Indonesia dan hal ini membuat masyarakat secara tidak sadar menganggap marjinalisasi merupakan hal yang biasa, meski pun itu merupakan hal yang salah. Perempuan kuli panggul merupakan salah satu kelompok yang termarjinal di Indonesia. Mereka dimarjinalisasi oleh masyarakat, namun mereka sendiri tidak menyadarinya. Tulisan ini dibuat untuk menganalisis dan menjelaskan dilema-dilema dan bentuk marjinalisasi yang dialami perempuan kuli panggul di pasar Pabean Surabaya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yang terdiri dari observasi langsung dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan kuli panggul mengalami marjinalisasi dengan cara diperlakukan berbeda oleh masyarakat. Mereka tidak dapat menawar upah sehingga upah yang didapatkan tidak sesuai dengan kerja keras mereka. Upah mereka pun juga memiliki jumlah yang lebih sedikit daripada kuli panggul laki-laki. Dilema yang mereka hadapi sebagai kuli panggul adalah: (1)adanya beban ganda sebagai kuli panggul dan juga sebagai ibu rumah tangga, (2)kemampuan yang terbatas sehingga mereka tidak dapat memilih pekerjaan yang lebih baik, (3)pendapatan yang seringkali tidak dapat menutupi kebutuhan sehari-hari, (4)serta tekanan sosial dari sesama kuli panggul
Adaptasi Sosial Gay Muslim Indonesia Terhadap Agama dan Keluarga The social adaptation of Gay Muslim to Religion and Family Wisnu Adihartono
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 22 No. 1 (2020)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v22i1.941

Abstract

The LGBT groups in Indonesia have little or no power and limited access to fight for their rights. Growing up in a system where one cannot be or say who they truly are, places them in a position where they are in a constant state of having to negotiate life within a hostile environment. This paper will look their (social) adaptation between their religion (Islam) and their family. They have to obey their religion, as well as they also have to obey and respect to their family in order to preserve the family’s honor. Those complexities raise a hierarchy, which is side by side with the religious teachings, culture and norms that causes a difficulty for them to come out showing as a gay. For this paper, I took the data from my doctoral research at Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS), France which I completed in 2015. For the purposes of this paper, I only used ten questions that are very closely related to religious and family issues. Kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transjender (LGBT) di Indonesia memiliki akses yang sangat terbatas untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Tumbuh dalam sistem di mana seseorang tidak dapat mengatakan siapa mereka sebenarnya, menempatkan mereka dalam posisi di mana mereka berada dalam keadaan konstan. Mereka harus melakukan adaptasi dalam lingkungan yang bermusuhan. Makalah ini akan melihat adaptasi (sosial) mereka di antara agama (Islam) dan keluarga. Mereka harus mematuhi agama mereka dan juga harus menghormati keluarga mereka untuk menjaga kehormatan keluarga. Kompleksitas itu memunculkan hierarki dalam ajaran agama, budaya, dan norma-norma yang menyebabkan mereka sulit tampil sebagai gay. Untuk makalah ini, saya mengambil data dari penelitian doktoral saya di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS), Perancis yang saya selesaikan pada tahun 2015. Untuk keperluan makalah ini, saya hanya menggunakan sepuluh pertanyaan yang sangat erat kaitannya dengan agama dan masalah keluarga.
Karakter Keberagamaan di Java Pasca Geertz Gutomo Bayu Aji
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 22 No. 1 (2020)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v22i1.942

Abstract

Karakter keberagaman Geertz yang sering digunakan sebagai gambaran situasi keagamaan di Indonesia telah berubah secara drastis setelah peristiwa politik tahun 1965. Konteks perang dingin yang menggunakan Wahabi-salafisme sebagai instrumen pengendalian komunisme telah menciptakan tekanan dan ancaman yang memungkinkan terbentuknya otoritarianisme keagamaan. Dalam struktur dominasi dan sub-ordinasi, pemerliharaan otoritarianisme itu dilakukan melalui pemeliharaan agama resmi yang diakui pemerintah dan penggunaan diskursus toleransi sebagai instrumen hegemoni terhadap kepercayaan-kepercayaan sub-ordinat. Gus Dur merupakan aktor yang memainkan peranan penting dalam pembongkaran otoritarianisme itu. Tetapi sepeninggalnya, kecenderungan otoritarianisme semakin mengeras ketika bersinggungan dengan oligarkhi yang menguasai sumber daya ekonomi-politik. Kelompok pedesaan terutama petani kecil dan buruh tani adalah yang paling dipinggirkan dengan instrumen penjinakan ganda yaitu revolusi hijau dan otoritarianisme keagamaan. Kata kunci: keberagaman, otoritarianisme keagamaan, toleransi, dialog agama, rekonsiliasi, marjinal. Abstract Geertz’s religious characterization underwent drastic change since the ‘65 event. Western influences and the use of Wahabi-salafism as instruments of religious politics have changed the open model of religious life. After that event, the model of religious life turns into closed; formed on the basis of a political security agenda and limited to five official religions.. This article views the model as the basis for the formation of an authoritarian religious character, among others, which gives space to modernists to control the political infrastructure of religious and state religious resources, strengthen limited official religious arrangements, allow pressures and threats to work on religious conversion, purification of traditions and labeling untruth. In addition, the model is used to produce a discourse of tolerance which has the following tendencies: the discourse of tolerance originating from Western political philosophy is contradictory to the religious norms that are growing in Indonesian society, and the discourse operates in a limited manner among official religions as the dominant discourse that is dominant creating formal-exclusivism that strengthens the authoritarian religious character. Key words: diversity, authoritarianism, tolerance, religious dialogue, reconciliation, marginality
PREFACE JMB VOL 21 NO 2 2019 Ubaidillah Ubaidillah
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 21 No. 2 (2019)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v21i2.983

Abstract

PREFACE JMB VOL 21 NO 1 2019 Ubaidillah Ubaidillah
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 21 No. 1 (2019)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v21i1.984

Abstract

PREFACE JMB VOL 20 NO 3 2018 Ubaidillah Ubaidillah
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 20 No. 3 (2018)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v20i3.985

Abstract


Filter by Year

1997 2023


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 3 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 25 No. 2 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 25 No. 1 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 3 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 2 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 1 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 3 (2021): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 2 (2021): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 1 (2021) Vol. 22 No. 3 (2020) Vol. 22 No. 2 (2020) Vol. 22 No. 1 (2020) Vol. 21 No. 3 (2019) Vol. 21 No. 2 (2019) Vol. 21 No. 1 (2019) Vol. 20 No. 3 (2018) Vol. 20 No. 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol. 20 No. 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol. 20 No. 1 (2018) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol. 19 No. 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol. 19 No. 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol. 19 No. 1 (2017) Vol. 18 No. 3 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol. 18 No. 2 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol. 18 No. 1 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol. 17 No. 2 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol. 17 No. 1 (2015) Vol. 16 No. 3 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol. 16 No. 2 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol. 16 No. 1 (2014) Vol. 15 No. 3 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol. 15 No. 2 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol. 15 No. 1 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 3 (2012) Vol. 14 No. 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol. 14 No. 2 (2012) Vol. 14 No. 1 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 2 (2011) Vol. 13 No. 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol. 13 No. 1 (2011) Vol 12, No 3 (2010) Vol. 12 No. 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol. 12 No. 2 (2010) Vol. 12 No. 1 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 2 (2009) Vol. 11 No. 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol. 11 No. 1 (2009) Vol. 10 No. 2 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol. 10 No. 1 (2008) Vol. 9 No. 1 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol. 8 No. 2 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol. 8 No. 1 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol. 7 No. 2 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol. 7 No. 1 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 2 (2004) Vol. 6 No. 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol. 6 No. 1 (2004) Vol. 5 No. 2 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol. 5 No. 1 (2003) Vol 3, No.1 (2000) Vol 3, No.1 (2000) Vol 2, No.2 (1999) Vol 2, No.2 (1999) Vol 2, No.1 (1998) Vol 2, No.1 (1998) Vol 1, No.2 (1998) Vol 1, No.2 (1998) Vol 1, No.1 (1997) Vol 1, No.1 (1997) More Issue