cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Masyarakat dan Budaya
ISSN : 14104830     EISSN : 25021966     DOI : -
Core Subject :
Jurnal Masyarakat dan Budaya (JMB) or Journal of Society and Culture is a peer-reviewed journal that aims to be an authoritative academic source on the study of society and culture. We publish original research papers, review articles, case studies, and book reviews focusing on Indonesian society, cultural phenomena, and other related topics. A manuscript describing society and culture outside Indonesia is expected to be analyzed comparatively with the issues and context in Indonesia. All papers will be reviewed rigorously at least by two referees. JMB is published three times a year, in April, August , and December.
Arjuna Subject : -
Articles 869 Documents
Papua dari Masa ke Masa: “Zaman Batu” hingga Masa Kini Anggy Denok Sukmawati, MA
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 20 No. 3 (2018)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v20i3.768

Abstract

Judul : From ‘Stone-Age’ to ‘Real-Time’ Exploring Papuan Temporalities, Mobilities and Religiosities Penulis : Martin Slama dan Jenny Munro (ed.) Penerbit : Australian National University Press Tahun Terbit : 2015 Jumlah Halaman : xiii + 270
Watu Semar: Sebuah Refleksi Pemikiran dan Budaya Lokal Masyarakat Sambongrejo, Bojonegoro Milawaty Milawaty
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 21 No. 3 (2019)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v21i3.777

Abstract

Dikarenakan kuatnya keberadaan Watu Semar berkat mitosnya, penelitian ini dilakukan untuk mengungkap makna dan peran Watu Semar bagi masyarakat pemilik mitos, yakni para penduduk asli Desa Sambongrejo di Kabupaten Bojonegoro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemikiran dan budaya lokal masyarakat tersebut melalui keberadaan serta mitos Watu Semar. Metode penelitian yang digunakan ialah studi lapangan dengan wawancara mendalam yang dipadukan dengan teori Kritik Sastra Lisan dari Alan Dundes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mitos Watu Semar, yang dipercaya memiliki hubungan kuat dengan sosok Punakawan Semar, kuat dilanggengkan melalui pewarisan secara turun-temurun sebagai budaya kepercayaan khas masyarakat Sambongrejo. Bagi mereka, Watu Semar memiliki arti yang signifikan sebagai dulur, saudara kandung mereka sendiri, dan dan bernilai historis sehingga begitu dihormati. Watu Semar berperan sebagai simbol kepercayaan lokal serta bentuk ekspresi budaya (uri-uri budoyo) masyarakat Desa Sambongrejo yang notabene memiliki kecenderungan pemikiran ke hal-hal mistis. Karenanya di dalam masyarakat Sambongrejo, keberadaan Watu Semar dan mitosnya memiliki pengaruh yang sangat besar, dimana ia merupakan refleksi pemikiran dan basis kebudayaan dari masyarakat lokal Sambongrejo itu sendiri.
Tragedi Kebun Tebu: Pengaruh Perubahan Sosial pada Pertunjukan Ludruk Herlina Kusuma Wardani
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 21 No. 3 (2019)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v21i3.782

Abstract

Ludruk merupakan warisan budaya sejak jaman penjajahan yang dimiliki oleh masyarakat Jawa Timur. Ludruk merupakan sarana hiburan yang fenomenal pada saat itu. Cerita ludruk diambil dari kisah kehidupan sehari-hari yang dialami oleh masyarakat bawah yang mengalami kesulitan ekonomi dan ketertindasan. Oleh karena itu, ludruk juga menjadi alat perjuangan di masa penjajahan Belanda dan Jepang. Bahkan juga menjadi alat propaganda partai politik di masa orde lama maupun orde baru. Salah satu unsur yang sangat penting dalam pementasan ludruk ialah adanya pengarang. Proses kehidupan pengarang di masyarakat memiliki andil yang besar dalam proses pembuatan cerita ludruk. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan sosial pengarang dan masyarakat dalam lakon ludruk Tragedi Kebun Tebu dengan analisis sosiologi sastra. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial pengarang dan masyarakat berupa latar belakang keluarga dan tantangan masa depan, pimpinan grup ludruk Karya Budaya dan siasat menghadapi tantangan, karir pengarang dan kesempatan kerja masyarakat, ideologi pengarang dan perubahan sosial masyarakat, serta menyikapi travesti di masyarakat.Kata kunci: Pengarang, masyarakat, ludruk, sosiologi sastra.
Hutan Pesisir: Harapan dan Tantangan Dicky Rachmawan
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 21 No. 1 (2019)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v21i1.785

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar yang dihiasi hutan mangrove terluas di dunia, seluas 3.489.140,68 ha (KLHK, 2015; Hartiani, 2017). Luasnya hutan mangrove di Indonesia sebanding dengan 23% hutan mangrove di dunia yang di dalamnya terdapat 43 spesies mangrove (Long dan Giri, 2011). Hal ini merupakan kesempatan dan tantangan bagi Indonesia. Melalui buku ini Robert Siburian dan John Haba menggambarkan tentang hutan mangrove di Indonesia studi kasus di Kepualaun Bangka Belitung dengan pendekatan holistik pada partisipatori dan kegiatan action research. Membaca buku ini dapat membuka dan memperluas wawasan kita tentang hutan mangrove dan masyarakat khususnya di Kepulauan Bangka Belitung.
Hiou, Soja dan Tolugbalanga: Narasi Foto Penampilan Elitis pada Busana Tradisional Simalungun Erond Litno Damanik
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 21 No. 1 (2019)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v21i1.800

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan memahami narasi foto penampilan elitis yang melekat pada busana tradisional Simalungun. Masalah kajian difokuskan pada asal usul dan dinamika busana yang diadaptasi sebagai busana tradisional. Acuan teoritis diadaptasi dari Kees van Dijk dan Jean Gelman Taylor bahwa busana menjadi penampilan yang menyuguhkan perbedaan. Kajian dilakukan secara kualitatif  dengan pendekatan interpretatif terhadap 11 foto arsip kolonial yang dipilih dari 36 foto penampilan elitis. State of the arts ditentukan berdasar perspektif antropologi yakni busana sebagai kulit sosial dan kebudayaan.Temuan kajian ini adalah bahwa arsip foto kolonial menjadi referensi perumusan busana tradisional yang mencerminkan penampilan elitis. Busana tradisional Simalungun adalah produk adaptasi  dan komodifikasi  dari unsur modernitas dan lokalitas. Novelty kajian ini menyebutkan bahwa  busana tradisional merupakan atribut multikulturalisme untuk menjamin kebhinekaan bangsa. Kontribusi kajian ini mengukuhkan paradigma teoritis yang dipergunakan.
AKUMULASI KAPITAL DAN PERAMPASAN OTONOMI ATAS TUBUH PEREMPUAN Fathimah Fildzah Izzati
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 21 No. 2 (2019)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v21i2.806

Abstract

Judul buku : Caliban and The Witch: Women, the Body and Primitive AccumulationPenulis : Silvia FedericiPenerbit : AutonomediaTahun terbit : 2014, edisi revisiJumlah halaman : 285 halaman
Discourse of Family Well-Being and the Value of Work at RPTRA’s Testimonial Videos Sunar Wibowo; Rustono Farady Marta; Hana Panggabean
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 21 No. 3 (2019)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v21i3.808

Abstract

Well being is one of the global SDGs (Sustainable Development Goals) movement in which Indonesian Government formally join. Integrated child friendly public spaces (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak or abbreviated as RPTRA – in Indonesian), are built for improving cities to become Child Friendly Cities, which actually serve as a component for achieving this well-being SDG. This study aims  to show how RPTRA staff creatively communicate to public by uploading testimonial videos on YouTube,  which is intended to show how RPTRA’s existence is perceived by its surrounding community. Analyzing a sample of such videos using the Fairclough’s critical discourse analysis, it was found that RPTRAs provide real benefits  not only to children, but also to all family members, contributing to family well being. To put it in the context of RPTRA employment fenomena, the testimonial video also reveals the job meaningfulness as perceived by the RPTRA staff.
BETAWI PUNYE DISTRO: STRATEGI PERLAWANAN TERHADAP STEREOTIP INFERIOR BETAWI PUNYE DISTRO: A STATEGY OF RESISTANCE TO INFERIOR STEREOTYPES Halimatusa' diah
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 21 No. 1 (2019)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v21i1.814

Abstract

Betawi adalah kelompok etnik lokal di Jakarta yang lekat dengan stereotip inferior. Di tengah modernisasi Jakarta, Orang Betawi semakin termarginalkan akibat pembangunan dan tidak menjadi tuan rumah di wilayahnya sendiri. Namun, di tengah-tengah potret buram tentang Betawi tersebut, kini bermunculan distribution outlet (distro) yang mengusung simbol-simbol Budaya Betawi. Di tangan mereka, simbol-simbol budaya Betawi diekspresikan melalui cara-cara yang kreatif sebagai mode ekspresi identitas budaya di ruang sosial yang multietnik. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, untuk kepentingan apa Distro Betawi didirikan? Melalui pendekatan kualitatif, Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap fenomena kemunculan industri kreatif Betawi ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi sebagai metode pengumpulan data untuk mendapatkan deskripsi yang mendalam mengenai fenomena yang dikaji. Penelitian ini menemukan bahwa hadirnya industri kreatif Betawi saat ini adalah sebagai bentuk perlawanan terselubung terhadap stereotip inferior yang dilekatkan pada mereka. Hal ini juga merupakan upaya mereka untuk membangun sense of collectivisme dan wujud eksistensi Budaya Betawi di tengah masyarakat Jakarta yang multicultural.
Hibriditas Budaya dalam Ketoprak Dor Suyadi Suyadi
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 21 No. 2 (2019)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v21i2.817

Abstract

Ketoprak dor is a performing art that lives and develops in North Sumatra. Its appearance began with the sending of Javanese as contract workers for tea plantations. The transmigration of the kuli kontrak formed a new layer of society with the participation of existing social and cultural growth. They did their Javanese activities as usual before being sent as contract coolies, including throwing parties. From this party, there was a desire to make a ketoprak performance. This show is called the ketoprak dor. Based on this, the author conducted a ketoprak dor study in 2009 and 2012 using a semiotic approach by Morris (Zaimar, 2008). The author's semiotic review is done to facilitate the tracking of history and description of the ketoprak dor in North Sumatra Province. From the research that the authors did mention the ketoprak dor is almost extinct swallowed by the times. In fact, the ketoprak dor is actually no longer only owned by Javanese people, but has become the property of Deli Malays. Adapting Javanese people plus Malays who want to accept openness is a big capital of this cultural hybrid process.
KESENANGAN DAN OTORITAS KEAGAMAAN: SOSIALISASI ANTI-MUSIK DI INSTAGRAM Aflahal Misbah
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 21 No. 2 (2019)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v21i2.819

Abstract

Perdebatan tentang kesenangan merupakan isu lama dalam masyarakat Muslim yang masih populer hingga sekarang. Perdebatan ini tentu saja tidak dapat dilepaskan dari kelompok-kelompok Muslim seperti Salafi yang menyebarkan   paham penentangan terhadap beragam bentuk dan praktik kesenangan. Berangkat dari pandangan Asef Bayat bahwa sosialisasi anti-kesenangan berkaitan erat dengan preservasi kuasa, tulisan ini memfokuskan perhatian pada reaksi masyarakat Muslim Indonesia terhadap sosialisasi anti-musik di media sosial Instagram oleh Salafi. Dari tagar #musikharam dan #hukummusik, perhatian kemudian diarahkan pada sosialisasi anti-musik yang dilakukan oleh tiga akun utama, yaitu, kajianislam, ikhwan_kendari, dan daeng_indonesia. Karakter dan pola sosialisasi khas yang ditunjukkan oleh masing-masing akun menghasilkan pemahaman yang beragam terhadap pola reaksi yang muncul. Permintaan argumen, musik islami, dan sejarah dakwah Walisongo, adalah tiga dari pola umum yang bisa dipahami dari semua respons yang ada. Dari ketiga pola reaksi tersebut, penulis berargumen bahwa sosialisasi anti-kesenangan bukan semata berkaitan erat dengan preservasi kuasa, melainkan juga berpotensi melemahkan otoritas yang mensosialisasikan itu sendiri, terutama bagi otoritas keagamaan dari figur-figur Salafi.

Filter by Year

1997 2023


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 3 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 25 No. 2 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 25 No. 1 (2023): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 3 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 2 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 24 No. 1 (2022): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 3 (2021): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 2 (2021): Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 23 No. 1 (2021) Vol. 22 No. 3 (2020) Vol. 22 No. 2 (2020) Vol. 22 No. 1 (2020) Vol. 21 No. 3 (2019) Vol. 21 No. 2 (2019) Vol. 21 No. 1 (2019) Vol. 20 No. 3 (2018) Vol. 20 No. 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol. 20 No. 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol. 20 No. 1 (2018) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol. 19 No. 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol. 19 No. 2 (2017) Vol. 19 No. 1 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol. 18 No. 3 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol. 18 No. 2 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol. 18 No. 1 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol. 17 No. 2 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol. 17 No. 1 (2015) Vol. 16 No. 3 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol. 16 No. 2 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol. 16 No. 1 (2014) Vol 15, No 3 (2013) Vol. 15 No. 3 (2013) Vol. 15 No. 2 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol. 15 No. 1 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 3 (2012) Vol. 14 No. 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol. 14 No. 2 (2012) Vol. 14 No. 1 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 2 (2011) Vol. 13 No. 2 (2011) Vol. 13 No. 1 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 3 (2010) Vol. 12 No. 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol. 12 No. 2 (2010) Vol. 12 No. 1 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 2 (2009) Vol. 11 No. 2 (2009) Vol. 11 No. 1 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 2 (2008) Vol. 10 No. 2 (2008) Vol. 10 No. 1 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 1 (2007) Vol. 9 No. 1 (2007) Vol. 8 No. 2 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol. 8 No. 1 (2006) Vol 7, No 2 (2005) Vol. 7 No. 2 (2005) Vol. 7 No. 1 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 2 (2004) Vol. 6 No. 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol. 6 No. 1 (2004) Vol. 5 No. 2 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol. 5 No. 1 (2003) Vol 3, No.1 (2000) Vol 3, No.1 (2000) Vol 2, No.2 (1999) Vol 2, No.2 (1999) Vol 2, No.1 (1998) Vol 2, No.1 (1998) Vol 1, No.2 (1998) Vol 1, No.2 (1998) Vol 1, No.1 (1997) Vol 1, No.1 (1997) More Issue