cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
rindo.herdianto@pu.go.id
Editorial Address
Jalan Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung 40393
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Permukiman
ISSN : 19074352     EISSN : 23392975     DOI : http://dx.doi.org/10.31815/jp
Core Subject : Engineering,
Karya tulis ilmiah dibidang permukiman yang meliputi kawasan perkotaan/perdesaan, bangunan dan gedung yang ada didalamnya serta sarana dan prasarana pendukungnya.
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
Kriteria Kelayakan Penerapan Fire Safety Management (FSM) pada Bangunan Gedung dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sarwono, Agus
Jurnal Permukiman Vol 6 No 1 (2011)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2011.6.1-8

Abstract

Fire Safety Management (FSM) telah menjadi bagian persyaratan penting yang harus dipenuhi dalam menciptakan bangunan yang handal sebagaimana tertuang dalam Undang-undang No. 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung. Sebagaimana ditetapkan dalam Kepmeneg PU No. 11/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Manajemen Penanggulangan Kebakaran di Perkotaan, bahwa setiap bangunan dengan luas lantai minimal 5000 m2, jumlah penghuni 500 orang dan ketinggian lebih dari 8 lantai wajib menerapkan FSM. Penetapan atas penerapan FSM tersebut tidak dapat hanya dibatasi kriteria diatas, namun harus didasarkan pula pada tingkat resiko atau potensi terhadap bahaya kebakaran. Terdapat 3 faktor utama yang menjadi penyebab kebakaran yaitu faktor manusia (human factor), faktor pertumbuhan api (fire factor) dan faktor penyulutan (ignition factor). Sehingga dalam implementasinya, penerapan FSM tersebut memiliki suatu kriteria yang jelas berdasarkan tingkat resikonya (Risk -Based Methodology) agar layak untuk suatu bangunan tertentu terutama yang diperkirakan mempunyai tingkat resiko yang tinggi seperti bangunan perkantoran, rumah sakit dan bangunan pelayanan umum lainnya
Studi Kenyamanan Termal Adaptif Rumah Tinggal di Kota Malang Studi Kasus : Perumahan Sawojajar 1 – Kota Malang Alfata, Muhammad Nur Fajri
Jurnal Permukiman Vol 6 No 1 (2011)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2011.6.9-17

Abstract

Model kenyamanan termal statis kurang dapat menggambarkan kondisi kenyamanan termal yang sebenarnya. Studi ini merupakan penelitian awal untuk mengkaji kenyamanan termal adaptif penghuni bangunan pada kondisi sebenarnya di Indonesia. Hunian yang dikaji berupa hunian rumah tinggal di Perumahan Sawojajar 1, Kota Malang. Penelitian lapangan dilakukan berdasarkan tingkat II ASHRAE, dimana semua variabel fisik lingkungan yang dibutuhkan untuk menghitung indeks kenyamanan termal dikumpulkan dalam waktu dan tempat yang saat kuesioner kenyamanan diberikan. Analisis data menggunakan pendekatan statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persamaan suhu netral terhadap suhu operatif adalah y=0,606.Top-16,843 dengan suhu netral 27,8oC dan suhu preferensi 25oC. Responden merasakan kondisi iklim mikro sebagai kenetralan termal dan menginginkan kondisi iklim lokal sebagai suhu preferensi. Analisis keterterimaan termal menunjukkan bahwa seluruh responden dapat menerima, pada rentang suhu operatif 25 - 29oC, dan hanya 25% responden yang tidak dapat menerima suhu operatif 29 - 31oC. Pola adaptasi yang dilakukan antara lain melalui pemakaian pakaian dengan clo rendah dan menggunakan kipas angin untuk mendinginkan ruangan.
Formulasi Kebijakan Sistem Pengolahan Sampah Perkotaan Berkelanjutan Studi Kasus : DKI Jakarta Chalik, Alex Abdi; Lay, Bibliana W.; Fauzi, Akhmad; R., Etty
Jurnal Permukiman Vol 6 No 1 (2011)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2011.6.18-30

Abstract

Pengolahan sampah di wilayah perkotaan, yang dilakukan baik dengan sistem sanitary landfill, controll landfill maupun open dumping akan menimbulkan permasalahan baik masalah lingkungan, sosial maupun ekonomi. Di wilayah perkotaan terutama di kota besar dan metropolitan seperti DKI Jakarta, permasalahan pengolahan sampah muncul berkaitan dengan tidak tersedianya lahan sebagai tempat pe merosesan akhir sampah di dalam wilayahnya. Pengolahan sampah yang dilakukan dengan teknologi sanitary landfill secara mandiri (individual), pada kenyataannya belum dapat menyelesaikan persoalan-persoalan dalam pengelolaan sampah. Pemerintah DKI Jakarta dalam usaha menyelesaikan persoalan pengolahan sampah telah menetapkan kebijakan untuk membangun incinerator skala kecil yang ditempatkan di bagian-bagian wilayahnya yang dikombinasikan dengan composting dan sanitary landfill sebagai tempat pengolahan dan pembuangan akhir sampah yang diletakkan di luar wilayahnya, namun demikian kebijakan ini tidak dapat berlanjut. Apabila kebijakan ini terus berlangsung, maka di masa yang akan datang pemerintah DKI Jakarta harus menyediakan paling tidak 600 ha lahan sebagai tempat pembuangan akhir sampah, yang menyulitkan pemerintah DKI Jakarta untuk menyiapkan lahan tersebut, disamping mahalnya ongkos pengangkutan sampah. Tujuan dari penelitian ini adalah bagaimana memformulasikan kebijakan pengolahan sampah yang dapat menyelesaikan permasalahan dalam pengolahan sampah, optimalisasi pengolahan, menghitung biaya dan dampak lingkungan, dengan menggunakan sistem pengolahan sampah terintegrasi, dikaitkan dengan aspek ekonomi, sosial dan keterbatasan lahan dengan mempergunakan sistem analisis minimalisasi biaya, analisis biaya dan manfaat serta statistik Ordinary Least Square. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa di masa yang akan datang: ”integrasi teknologi dalam sistem pengolahan sampah”, dapat membantu DKI Jakarta menyelesaikan masalah pengolahan sampah baik aspek teknis, ekonomi, dan lingkungan. Sistem ini meliputi pemanfaatan teknologi komposter kecepatan tinggi (High Rate Composting), incinerator dengan pemulihan energi listrik, dan sanitary landfill sebagai tempatm pembuangan akhir sampah, yang dioperasikan bersama (terintegrasi) untuk mendapatkan pengolahan sampah yang maksimal, mengurangi limbah dan pencemaran, untuk mencapai efektivitas dan tingkat efisiensi yang tinggi.
Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga Secara Komunal Medawaty, Ida
Jurnal Permukiman Vol 6 No 1 (2011)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2011.6.31-39

Abstract

Pembangunan berskala besar dalam menangani masalah lingkungan permukiman telah banyak diterapkan dengan upaya pengelolaan air limbah off site skala kota. Aspek kunci dalam pendekatan penyelesaian permasalahan ini, adalah diperlukan pengelolaan lingkungan pada taraf lokal yang merupakan keterlibatan kelompok-kelompok masyarakat dengan disertai pengarahan dan informasi dalam tahap desain, konstruksi serta pemeliharaan sehingga dalam penerapan teknologi dapat memanfaatkan sumber daya secara efisien dan efektif. Penelitian dilakukan untuk menumbuhkan peranserta masyarakat dalam menciptakan lingkungan permukiman yang layak, bersih dan sehat yang dapat dikelola sendiri antara lain dengan menerapkan tangki septik tipe Puslitbang Permukiman dan kolam sanita. Metodologi penelitian meliputi pengumpulan data dengan studi pustaka dan penerapan modul, pendekatan analisis yaitu analisis kualitatif terhadap kualitas air dan analisis kelembagaan masyarakat. Kesimpulan air yang keluar (outlet) melalui tangki septik tipe Puskim menghasilkan efisiensi pengolahan sampai 78%, sedangkan air yang keluar menggunakan kolam sanita mempunyai efisiensi pengolahan sampai 64%, adanya Badan Keswadayaan Masyarakat dan Bamus/ Bapel-AM menunjukkan bahwa penerapan pemberdayaan masyarakat sudah berjalan dan masyarakat dapat mengelola sendiri.
Peningkatan Peranserta Masyarakat Melalui Gerakan Menabung pada Bank Sampah di Kelurahan Babakan Surabaya, Kiaracondong Bandung Aryenti, Aryenti
Jurnal Permukiman Vol 6 No 1 (2011)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2011.6.40-46

Abstract

Bank sampah adalah tempat menabung sampah yang telah dipisah-pisah sesuai dengan jenisnya dan masih mempunyai nilai ekonomis. Setiap masyarakat dapat menjadi nasabah bank sampah dengan mendaftarkan diri sebagai nasabah. Manajemen bank sampah hampir sama dengan bank biasa pada umumnya, setiap nasabah yang akan menabung mendapatkan buku tabungan dan dicatat sebagai anggota bank sampah. Bank sampah bertujuan membantu masyarakat dalam memasarkan/menjual sampah anorganik. Metode yang digunakan dalam peningkatan peranserta masyarakat dalam pengelolaan sampah 3R melalui gerakan menabung pada bank sampah, adalah menggunakan metode deskriptif analisis, yaitu mengamati dan mempelajari perilaku masyarakat dalam mengelola sampah. Teknis analisis yang digunakan adalah dengan cara kualitatif dan pengamatan langsung di lapangan pada ibu-ibu rumah tangga yang bermukim di Kelurahan Babakan Surabaya Kiaracondong Bandung pada masyarakat RW 13 yaitu RT 1, 2, 3 dan 4. Sistem pengambilan sampelnya menggunakan teknik random sampling tiap RT diambil 10 responden yang mewakili. Data sekunder diambil dari literatur-literatur, hasil-hasil penelitian terdahulu dan melalui penelusuran data di internet. Berdirinya bank sampah di RW 13 Kiaracondong Bandung telah mampu merubah perilaku masyarakat dalam mengelola sampah. Melalui kegiatan program 3R dan gerakan menabung sampah telah mereduksi sampah lingkungan di RW 13 ± 40% dari jumlah sampah yang ada. Keberhasilan pengelolaan sampah 3R di RW 13 telah membawa RW 13 menjadi juara 3 kebersihan se Kotamadya Bandung
Komposisi Campuran Optimum Bata Beton Berlubang dengan Limbah Batubara dari Industri Tekstil Sugiarto, Aan
Jurnal Permukiman Vol 6 No 1 (2011)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2011.6.47-52

Abstract

Potensi limbah batubara saat ini kurang lebih 20 ton/hari/pabrik tekstil sehingga dapat menimbulkan masalah limbah padat berupa bottom ash dan fly ash yang memerlukan penanganan yang tepat dan serius agar limbah tersebut tidak mencemari lingkungan. Dalam penelitian ini pemanfaatan limbah bottom ash dan fly ash digunakan sebagai bahan pengganti agregat pasir dalam pembuatan komponen bata beton. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi campuran optimum penggunaan limbah batubara sebagai agregat pada pembuatan bata beton yang memenuhi persyaratan teknis. Metodologi penelitian menggunakan metode eksperimental di laboratorium berupa pembuatan benda uji mortar dengan komposisi campuran yang dibuat adalah 1 Portland Cement (PC) : 3 agregat dengan komposisi agregat 40% BA : 20% FA : 40% Pasir dan 60% BA : 20% FA : 20% pasir dan pembuatan benda uji bata beton berlubang 1 PC : 8 agregat dan 1 PC : 10 agregat dengan komposisi agregat 60% BA : 20% FA : 20% pasir, serta agregat yang menggunakan 100% pasir sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi campuran optimum tercapai pada komposisi agregat 20% pasir + 60% bottom ash + 20% fly ash dengan kuat tekan bata beton berlubang dapat memenuhi syarat sesuai SNI 03-0349-1989 kualitas III dengan kuat tekan rata- rata diatas 36,21 kgf/cm2, sehingga dapat digunakan sebagai komponen non struktural yang terlindung dari cuaca.
Dinamika Harga Lahan Di Sekitar Pengembangan Lahan Skala Besar Gedebage Kota Bandung Hasanawi, Asyrafinafilah; Winarso, Haryo
Jurnal Permukiman Vol 13 No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2018.13.41-52

Abstract

Proyek pengembangan lahan skala besar di Gedebage oleh Summarecon Gedebage yang semakin meningkat dan rencana Sub Wilayah Kota (SWK) Gedebage sebagai Pusat Pelayanan Kota (PPK) akan berpengaruh pada dinamika harga lahan secara signifikan. Investasi dalam pengembangan lahan akan terus meningkat dan akan mempengaruhi harga pasar lahan. Namun demikian, perkembangan harga lahan di kawasan sekitarnya tersebut belum diketahui secara baik. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dinamika harga lahan di sekitar pengembangan lahan skala besar dengan menggunakan beberapa metode, yaitu gabungan kerangka sampel Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dan metode geographical area untuk menentukan lokasi harga lahan, metode purposive sampling untuk menentukan broker lahan sebagai responden kunci. Dinamika harga lahan ditunjukkan dengan pertumbuhan median harga lahan dan peta isovalue menggunakan software Surfer DEM. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat dinamika harga lahan di wilayah studi yang disebabkan oleh adanya pengembangan lahan skala besar Summarecon Gedebage Kota Bandung. Faktor-faktor eksternal dan internal serta peristiwa-peristiwa penting yang terjadi baik tingkat lokal, regional, dan nasional juga mempengaruhi harga lahan di wilayah tersebut. Pertumbuhan median harga lahan di sekitar pengembangan lahan skala besar Summarecon Gedebage Kota Bandung dan jalan utama meningkat lebih cepat daripada sekitarnya. Fenomena-fenomena ini juga mempengaruhi harga pasar lahan di wilayah studi. Oleh sebab itu, diperlukan peningkatan peran pemerintah untuk memonitoring perkembangan harga lahan yang terjadi secara pesat.
Ekspresi Bentuk Klimatik Tropis Arsitektur Tradisional Nusantara dalam Regionalisme Prasetyo, Yuri Hermawan; Astuti, Sri
Jurnal Permukiman Vol 12 No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2017.12.80-94

Abstract

Kehandalan arsitektur tradisional Nusantara dalam merespon iklim sudah banyak teruji melalui beberapa penelitian terkait dengan penciptaan performa lingkungan ruang dalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ekspresi klimatik yang tercermin pada bentuk elemen arsitektur tradisional Nusantara sebagai akibat dari respon iklim makro tropis lembab. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan melakukan kompilasi tipologi arsitektur tradisional di beberapa wilayah di Indonesia. Hasil kompilasi dikaitkan dengan sistem klasifikasi iklim dari Koppen dengan menganalisis perilaku beberapa variabel iklim seperti radiasi matahari, suhu, angin, dan curah hujan. Hasil penelitian ini adalah interpretasi bentuk-bentuk elemen geometris yang terdapat pada selubung bangunan sebagai bentuk respon iklim mikro dan makro yang melekat pada selubung bangunan arsitektur tradisional Nusantara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klasifikasi iklim makro tidak memberikan korelasi yang kuat dengan bentuk rumah tradisional Nusantara. Bentuk arsitektur lebih dipengaruhi oleh iklim mikro, terutama bentuk atap rumah tradisional yang memiliki peran dominan dalam beradaptasi dengan iklim, berupa ekspresi kecuraman atap. Secara anatomi, atap sebagai representasi kepala memberikan dimensi yang lebih besar dibandingkan badan dan kaki. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai referensi perancangan arsitektur masa kini yang mempertimbangkan regionalisme dari aspek klimatik.
Analisis Jalur Kritis Penerapan Teknologi Pada Konstruksi Atap Sirap Bambu Damayanti, Desak Putu; Agustiningtyas, Rudi Setiadji; Kuswara, Kuswara
Jurnal Permukiman Vol 12 No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2017.12.95-107

Abstract

Analisis pekerjaan konstruksi bangunan tradisional dalammenganalisis efektifitas pelaksanaannya masih jarang dilakukan. Hal ini dikarenakan metode pelaksanaan konstruksi tradisional memiliki mekanisme pekerjaan yang spesifik. Kajian ini bertujuan untuk mengevaluasi jalur kritis selama proses penerapan teknologi pada konstruksi atap berbahan sirap bambu di Desa Angseri – Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Objek penelitian adalah bangunan tradisional Bale Paruman Agung dan Bale Paselang. Penelitian ini bersifat eksploratif-evaluatif. Pengumpulan data primer dilakukan melalui ekplorasi lapangan selama 3 bulan. Data yang dikumpulkan terfokus pada tahapan pengerjaan, jumlah tenaga yang dibutuhkan, dan lama waktu pengerjaan. Menurut rencana, proses penerapan teknologi pada peremajaan konstruksi atap sirap bambu membutuhkan jumlah sirap sebanyak +30.000 bilah sirap selama 60 (enam puluh) hari kerja. Namun, pekerjaan membutuhkan tambahan waktu pengerjaan selama 30 (tiga puluh) hari. Berdasarkan hasil evaluasi ditemukan bahwa jalur kritis terdapat pada tahapan pembuatan bilah sirap dan pengawetan bambu dengan larutan Boron 5% (menggunakan metode Boucherie). Rendahnya tingkat penguasaan teknologi terkait pembuatan sirap dan proses pengawetan menyebabkan terdapat sebagian sirap yang dihasilkan tidak layak digunakan. Sehingga dibutuhkan tambahan waktu untuk membuat ulang sirap pengganti sebesar 10% dari jumlah yang dibutuhkan (+3.000).
Tektonika dan Ragam Akulturasi Arsitektur Rumah Tinggal Di Sendangharjo Tuban Fauzy, Bachtiar
Jurnal Permukiman Vol 12 No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2017.12.108-115

Abstract

Studi ini dipandang penting dan memiliki tingkat urgensi untuk dapat dilakukan telaah mendalam, dimana kajian tentang tektonika yang bernuansa akulturasi arsitektur masih jarang dilakukan. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sejauh mana wujud tektonika dan ragam akulturasi arsitektur pada rumah tinggal di Sendangharjo, Tuban. Kasus studi ini  merupakan rumah tinggal masyarakat Jawa yang dipengaruhi oleh nilai budaya dan arsitektur etnis Kolonial Belanda yang masuk sejak abad ke-16. Studi tektonika dan ragam akulturasi arsitektur menjadi penting untuk ditelaah lebih lanjut, berdasarkan fenomena dan perkembangan arsitektur pesisir dewasa ini yang berkembang tanpa mempertimbangkan kaidah tektonika dan ragam akulturasi arsitekturnya, yang lambat laun akan menghilangkan ciri dan identitas lokal. Metoda yang digunakan dalam studi ini adalah tektonika, ordering principle, archetype dan relasi fungsi, bentuk dan makna (f, b, m) yang digunakan untuk mengungkap fenomena arsitektur pesisir tersebut. Penelusuran dilakukan melalui deskriptif, analitik dan interpretatif, sehingga penelusuran kasus studi ini dapat dilakukan secara integral, komprehensif dan mendalam. Hasil studi ini menunjukkan bahwa arsitektur rumah tinggal di Sendangharjo Tuban memiliki wujud tektonika dan ragam akulturasi arsitektur yang unsur-unsur bentuk pelingkupnya mengekspresikan wujud ciri dan identitas sebagai arsitektur pesisir.