cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
rindo.herdianto@pu.go.id
Editorial Address
Jalan Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung 40393
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Permukiman
ISSN : 19074352     EISSN : 23392975     DOI : http://dx.doi.org/10.31815/jp
Core Subject : Engineering,
Karya tulis ilmiah dibidang permukiman yang meliputi kawasan perkotaan/perdesaan, bangunan dan gedung yang ada didalamnya serta sarana dan prasarana pendukungnya.
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
Kajian Kinerja Kompor Aman Kebakaran dan Hemat Energi (Kompor Ahe) Effendi, Achmad Hidajat
Jurnal Permukiman Vol 3 No 1 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.15-29

Abstract

Kajian ini dimaksud untuk melakukan pengembangan kompor minyak bersumbu yang umum digunakan masyarakat melalui modifikasi bejana minyak dengan pendingin air untuk meminimasi kemungkinan kompor meledak yang bisa menimbulkan kebakaran, serta menciptakan prototipe kompor minyak bersumbu yang hemat energi. Hemat energi disini dilakukan dengan cara menghitung efisiensi kompor untuk mengetahui seberapa besar energi panas pembakaran minyak dapat dialihkan secara berguna kepada beban masak. Dengan demikian diusahakan sebanyak mungkin panas dialihkan hingga mencapai efisiensi maksimum. Kondisi ini dicapai apabila tingkat efisiensi lebih dari 50 %, dan energi yang terbuang tidak tertumpuk pada kompor. Kompor aman kebakaran dan hemat energi ini memiliki keunggulan, yakni hemat pemakaian minyak tanah dengan nilai efisiensi 65,35 %, aman terhadap bahaya kebakaran dengan temperatur minyak 34,88ºC dan temperatur permukaan bejana minyak 39,94ºC dapat memanfaatkan bahan limbah kaleng bekas, atau 100 % menggunakan bahan lokal. Disamping itu jenis kompor ini ternyata memenuhi persyaratan SNI 12-3745-1999 tentang kompor minyak tanah bersumbu.
Kajian Kualitas Kompos Sampah Organik Rumah Tangga Darwati, Sri
Jurnal Permukiman Vol 3 No 1 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.30-43

Abstract

Berdasarkan Peraturan Pemerintah no 16 tahun 2005, tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum menggariskan kebijakan dalam pengolahan sampah dengan metode  yang ramah lingkungan, terpadu, dengan mempertimbangkan karakteristik sampah, keselamatan kerja dan kondisi sosial masyarakat setempat. Komposisi sampah di perkotaan di Indonesia secara umum terdiri atas sampah  organik 70% dan an organik 30%. Pengomposan merupakan alternatif pengolahan sampah organik, yang mana dari 70% sampah organik, 40% nya dapat dikomposkan. Kompos mengandung makro dan mikro nutrein yang sangat bermanfaat sebagai pengkondisi tanah (soil conditioner) sehingga pengomposan sebagai solusi pengolahan sampah yang ramah lingkungan yang menghasilkan nilai tambah berupa kompos yang secara ekonomi menguntungkan. Metode pengumpulan data sekunder kualitas kompos dari berbagai hasil penelitian dan kompos yang dijual dipasaran. Metode analisis secara  deskriptif berdasarkan dengan pengelompokan kualitas kompos berdasarkan jenis sampah pasar dan rumah tangga; pengelompokan kualitas kompos berdasar sistem pengolahan dan analisis kualitas kompos dibandingkan dengan standard Hasil analisis menunjukkan bahwa kualitas kompos sampah organik masih belum memenuhi standar spesifikasi kualitas kompos. Beberapa parameter fisik, kandungan nutrien N dan P masih rendah serta ditemui kompos yang mengandung logam berat dan bakteri coli. Direkomendasikan kompos harus disertai dengan pemilahan yang baik untuk mencegah kontaminan yang berbahaya, pengontrolan kualitas selama proses dan penambahan nutrien untuk meningkatkan kandungan kualitasnya  agar memenuhi standar. 
Pengaruh Getaran Pemasangan Pondasi Tiang Pancang Terhadap Lingkungan Permukiman Ridwan, Mohamad
Jurnal Permukiman Vol 3 No 1 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.44-54

Abstract

Jenis pondasi tiang pancang sudah banyak digunakan untuk gedung bertingkat maupun jembatan karena mempunyai daya dukung yang sangat baik, tetapi proses yang dilakukan saat pemancangan akan menimbulkan getaran yang cukup besar dan akan mengganggu terhadap kenyamanan manusia maupun kerusakan bangunan. Untuk mengetahui dampak langsung dari getaran saat dilakukan proses pemancangan maka perlu diketahui intensitas getaran dan dibandingkan dengan standar yang berlaku. Pengukuran dilakukan pada jarak 25 – 200 m dari sumber getar dengan interval 25 m dengan menggunakan alat mikrotremometer yaitu sejenis seismograf dengan sensitivitas yang sangat tinggi. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada beberapa lokasi diketahui bahwa secara empirik dampak getaran tiang pancang sampai jarak 200 m adalah kategori B dan C terhadap kenyamanan manusia dan kategori B terhadap kerusakan bangunan.
Peremajaan Permukiman Melalui Keswadayaan Masyarakat (Membangun dengan potensi masyarakat di Cigugur Tengah, Cimahi, Jawa Barat) Marwati, Gundhi
Jurnal Permukiman Vol 3 No 1 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.66-78

Abstract

Tumbuhnya permukiman kumuh di daerah perkotaan pada umumnya akibat dari kebutuhan perumahan yang belum terpenuhi bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Penerapan penataan kembali kawasan kumuh  di  Cigugur Tengah-Cimahi diharapkan sebagai model yang bisa diterapkan di berbagai daerah yang kondisinya sama. Cigugur Tengah adalah salah satu kawasan di kota Cimahi yang letaknya sangat strategis, terletak dekat perbatasan kota Bandung dan kota Cimahi. Karena kawasan tersebut berdampingan dengan kawasan industri, maka keberadaan kaum buruh yang jumlahnya cukup tinggi menyebabkan banyak yang menyewa atau mendirikan pondok-pondok secara ilegal. Tidak terkendalinya pembangunan perumahan Cigugur Tengah, menyebabkan kawasan tersebut mengalami penurunan kualitas lingkungan secara keseluruhan. Adanya program peremajan kawasan kumuh pemerintah kota Cimahi, akan memberi peluang untuk peremajaan permukiman kawasan Cigugur Tengah. Dalam konsep ini, selain menerapkan konsep membangun tidak menggusur, juga diterapkan konsep membangun keswadayaan masyarakat berkelanjutan.
Mengurangi Pemanasan Bumi Dengan Pola Hidup Hemat Energi Purwito, Purwito
Jurnal Permukiman Vol 3 No 2 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.79-95

Abstract

Pada tahun 2001 Panel Perubahan Cuaca Antarpemerintah atau IPCC (Intergovernment Panel on Climate Change) yang dalam salah satu  laporannya  menegaskan, beberapa dampak yang terjadi dari perubahan iklim (climate change) di daerah tropis Asia.  Diprediksi daerah ini sangat rentan atau mudah terserang oleh dampak yang ditimbul oleh perubahan iklim dan khususnya risikonya akan  sangat tinggi pada  daerah–daerah banjir sekalipun dalam musim kemarau. Selama abad yang lalu manusia pada dasarnya sudah menambah atau meningkatkan gas rumah kaca (GRK) ke atmosfer, dengan membakar minyak bumi untuk menjalankan mobil, pabrik, utilitas serta peralatan untuk kegiatan sehari-hari, sehingga terjadi penambahan gas karbon dioksida dan metane yang memberikan kontribusi kenaikan suhu bumi dan perubahan cuaca. Dua puluh tahun yang lalu sebetulnya kita sudah mengetahui hal ini akan terjadi dan dampak yang banyak dirasakan  oleh masyarakat dunia adalah, terjadinya kenaikan suhu bumi, kenaikan muka air laut, banjir, angin topan, berkembangnya penyakit demam berdarah  dll. Beberapa perusahaan besar di dunia dalam pengolahan produknya, secara sukarela  bekerja sama dengan WWF sudah mulai mengurangi emisi CO2 dengan melakukan penggantian peralatan produksi serta  bahan bakar minyak ke bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan seperti, angin, biomass, energi geotermal dll. Keuntungannya  yaitu sebesar $ 100 juta dan ini  merupakan prospek ke depan yang bagus  dalam rangka pengurangan emisi CO2 yang ditargetkan pada tahun 2010 dapat mencapai  10 ton per-tahun atau setara dengan 10 juta mobil yang sedang beroperasi di jalan. Apa yang bisa kita lakukan? Kita harus mulai sedikit merubah pola hidup di rumah dan sekitarnya, melalui penghematan penggunaan energi listrik, air, bensin, menciptakan desain rumah serta penggunaan bahan bangunan yang hemat energi  serta ikut menjaga kelestarian lingkungan  sekitar, hutan dan polusi udara. Partisipasi masyarakat yang sekecil apapun jika dilakukan secara global akan memberikan arti yang cukup besar dalam mengurangi pemanasan global.
Potensi Tanaman Dalam Menyerap Co2 DAN Co untuk Mengurangi Dampak Pemanasan Global Kusminingrum, Nanny
Jurnal Permukiman Vol 3 No 2 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.96-105

Abstract

Pemanasan global adalah adanya  proses peningkatan suhu rata-rata atmosfir, laut dan daratan bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan bumi telah meningkat 0.74 ±0.18° C selama seratus tahun terakhir. IPCC (Intergovermental Panel on Climate Change) menyimpulkan bahwa sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke 20 kemungkinan besar disebabkan oleh menigkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktifitas manusia. Gas-gas rumah kaca, antara lain : uap air, karbondioksida dan metana. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi, sehingga panas tersebut akan tersimpan pada permukaan bumi. Hal ini akan terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Ada beberapa cara yang dapat mengurangi peningkatan temperatur bumi tersebut, antara lain melalui : penambahan ruang terbuka hijau. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu kiranya dilakukan penelitian manfaat tanaman untuk meminimasi pemanasan global yang dewasa ini sedang mencuat. Pada penelitian ini dikaji besarnya reduksi CO oleh berbagai jenis pohon, jenis perdu dan jenis semak secara mandiri, maupun kombinasi ketiganya. Metoda yang digunakan adalah metoda experimental melalui teknik observasi di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reduksi CO terbesar untuk : a) jenis pohon yaitu tanaman Ganitri (Elaeocarpus sphaericus) sebesar 81.53 % (0.587 ppm) ; b) jenis perdu yaitu  Iriansis (Impatien sp)     sebesar 88.61 % (0.638 ppm) ; c) jenis semak yaitu: Philodendron (Philodendron sp)  sebesar  92.22 % ( 0.664 ppm); serta d) tanaman gabungan, yaitu  Galinggem + Kriminil Merah  dengan perbandingan 2 : 1 sebesar 79.22 % (0.244 ppm). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa setiap tanaman mempunyai kemampuan yang berbeda  dalam menyerap polutan CO, demikian pula apabila tanaman–tanaman tersebut dikombinasikan. Untuk itu, dapat dipilih jenis tanaman yang sesuai dengan maksud dan tujuan pemilihannya, kemudahan didapatnya, kemudahan dalam pemeliharaannnya
Potensi Ruang Terbuka Hijau dalam Penyerapan Co2 Di Permukiman Studi Kasus : Perumnas Sarijadi Bandung dan Cirebon Hastuti, Elis; Utami, Titi
Jurnal Permukiman Vol 3 No 2 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.106-114

Abstract

Kondisi pembangunan perumahan di perkotaan yang sangat pesat cenderung meminimalkan  dan melakukan alih fungsi ruang terbuka hijau (RTH). Penghijauan diperlukan untuk  peningkatan kualitas ekosistem perkotaan, dengan menciptakan iklim mikro yang sehat dan nyaman melalui peningkatan luasan hijau sebagai penyerap emisi CO2 dan  polutan udara.Melalui  penelitian  perumahan berdasarkan karakter lokasi, aktivitas penduduk, dan  potensi pengembangan  RTH,  maka dilakukan pemilihan sampel  perumahan di Bandung dan Cirebon, yang  menunjukkan perbedaan karakteristik RTH. Pendekatan analisis untuk pengembangan RTH dilakukan  berdasarkan kebutuhan luasan hijau dan potensi penyerapan CO2. Di Perumnas Sarijadi, Bandung, menunjukkan tingkat penanaman tanaman dengan luas lahan hijau per rumah sekitar 2,46 m2/orang, dengan luas lahan hijau  di setiap rumah   berkisar antara 0-20 %. Sementara di Perumnas Burung-Gunung dan GSP mempunyai  tingkat luasan hijau  per rumah yaitu 1,02 – 1,84 m2/orang, dengan  prosentasi luas lahan hijau setiap rumah sekitar 0-20 %. Di lokasi RW 08 dan RW 09, Perumnas Gunung, saat ini RTH yang ada hanya 7 -10 % dari luas kawasan dengan luasan hijau sekitar 3,33 - 4,25 m2/orang. Untuk meningkatkan kualitas lingkungan  di permukiman, maka selain  peningkatan luasan hijau, juga diperlukan keanekaragaman sesuai  fungsi serapan, kondisi tanah, ataupun segi sosial. Penataaan bangunan dengan rumah susun harus mulai digalakkan sehingga untuk ruang terbangun yang dialokasikan 60 % di Perumnas Sarijadi agar  dapat mememuhi standar kebutuhan lahan hijau dengan minimum RTH sekitar 33 %. Sementara di Perumnas Gunung, penerapan konsep ‘roof garden’ atau penghijauan vertikal dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan lahan hijau penduduk dan penyerapan polutan kendaraan karena peningkatan luas RTH tidak mencukupi dari sisa lahan yang ada jika area terbangun dialokasikan 65 %, maka  kebutuhan RTH mencapai lebih dari 35 %. 
Kajian Perubahan Tingkat Pelayanan Jalan dan Kualitas Udara Di Zona Tidak Sesuai untuk Perumahan Masri, Rina Marina; Sitorus, Santun R.P.; Mudikdjo, Kooswardhono; Prasetyo, Lilik Budi; Hardjomidjojo, Hartrisari
Jurnal Permukiman Vol 3 No 2 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.115-128

Abstract

Dampak perkembangan Kawasan Bandung Utara di zona tidak sesuai untuk perumahan meningkatkan pertumbuhan jumlah penduduk dan perekonomian masyarakat, menurunkan kualitas lingkungan yang ditandai dengan menurunnya tingkat pelayanan jalan dan kualitas udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi  pola perubahan volume lalulintas  dan tingkat pelayanan jalan; mengetahui hubungan pola perubahan volume lalulintas dan pencemaran udara terhadap indeks kualitas lingkungan; dan mengusulkan pilihan kebijakan dalam pengelolaan lalu lintas. Pengumpulan data primer diperoleh dari pengamatan fisik kimia udara dan lalu lintas dari lapangan serta data sekunder dari instansi-instansi berwenang. Analisis sistem dampak pembangunan perumahan terhadap kinerja jalan dan pencemaran udara menggunakan software Excel for Windows 2003 dan Powersim versi 2.5C. Hasil yang diperoleh adalah : (i) peningkatan volume lalu lintas di sepanjang koridor  jalan serta menurunnya kinerja tingkat pelayanan jalan dengan kategori D,E, F (>0,85), (ii) penurunan indeks kesehatan lingkungan (peningkatan jumlah kematian dini akibat pencemaran udara); (iii) pengelolaan dampak lingkungan dengan memprioritaskan kebijakan perbaikan kapasitas jalan,rasio volume dengan kecepatan kendaraan melalui penambahan lajur jalan dan lebar jalan. 
Mitigasi dan Adaptasi Dampak Perubahan Iklim Melalui Penerapan Teknologi Hijau Ginting, Nana Terangna
Jurnal Permukiman Vol 3 No 2 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.129-136

Abstract

Perubahan iklim yang diakibatkan oleh pemanasan global merupakan tantangan yang paling serius dihadapi oleh negara-negara di dunia pada abad ke 21 ini.. Pada tahun 2100 diperkirakan suhu meningkat 1,5 0 4,5 derajat Celsius dan permukaan air laut akan naik hingga 15 – 95 cm. Dampak yang diperkirakan terjadi antara lain es dan glazier di kutub mencair, sejumlah pulau dan sebagian kota pantai tenggelam, berbagai keaneragaman hayati musnah, kerusakan terumbu karang, frekuensi bencana banjir, angin topan hujan badai, dan banjir, frekuensi kebakaran meningkat, penyebaran penyakit bertambah, hama penyakit tanaman bertambah. Di Indonesia pemanasan global akan berdampak kepada hambatan pertumbuhan ekonomi, menurunnya ketahanan pangan, meningkatnya gangguan kesehatan. Hasil penelitian mutakhir menunjukkan bahwa masalah pemanasan global terjadi karena tindakan manusia yang dimulai sejak revolusi industri 50 tahun terahir ini. Oleh karena itu perlu adanya upaya-upaya adaptasi dan mitigasi dampak pemanasan global. Teknologi hijau merupakan salah satu upaya yang perlu dikembangkan sebagai upaya adaptasi dan mitigasi pemanasan global tersebut. Berbagai teknologi hijau telah tersedia dan telah diterapkan oleh beberapa negara maju dan negara berkembang.  Khusus pada bidang pelestarian sumber air dan pengolahan air limbah tersedia beberapa teknologi hijau antara lain teknologi taman biologi, taman buangan air limbah dan sanitasi ekologi.
Pengaruh Emisi co2 dari Sektor Perumahan Perkotaan Terhadap Kualitas Lingkungan Global Kurdi, Siti Zubaidah
Jurnal Permukiman Vol 3 No 2 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.137-150

Abstract

Pembangunan perumahan telah menyumbang emisi gas rumah kaca khususnya gas CO2 dalam jumlah yang cukup besar. Emisi CO2 yang ditimbulkan secara langsung maupun tidak langsung antara lain berasal dari energi yang digunakan untuk berbagai aktivitas yang dapat dikelompokan dalam aktivitas domestik, transportasi, limbah padat dan cair dan bahan bangunan untuk hunian dan sarana dan prasarana lingkungan. Perubahan alih fungsi lahan juga berpengaruh terhadap timbulan gas CO2. Pepohonan, kawasan hijau  dan badan air berfungsi negatif terhadap CO2 karena berfungsi sebagai zink gas tersebut. Pengembangan rumah melebihi Koefisien Dasar Bangunan (KDB) menurunkan kenyamanan lingkungan dan meningkatkan emisi CO2. Tulisan ini membahas jumlah emisi CO2 yang ditimbulkan oleh pembangunan suatu lingkungan perumahan perkotaan. Metoda analisis deskriptif dan eksploratif digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penentu emisi CO2. Hasil penelitian menunjukan bahwa makin banyak rumah yang dikembangkan makin banyak gas yang teremisikan. Emisi gas CO2 terbesar berasal dari energi listrik yang digunakan untuk kegiatan domestik. Kenyamanan lingkungan perumahan akan dicapai apabila dapat terjadi keseimbangan antara gas yang timbul dan daya serap lingkungan. Salah satu usaha penurunan emisi CO2 dapat dilakukan melalui perencanaan dan perancangan bangunan dan kawasan.