cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 2 (2021)" : 5 Documents clear
SEBARAN ARUS GEOSTROPIK DAN TRANSPOR MASSA AIR DI PERAIRAN PULAU SUMBA, NUSA TENGGARA TIMUR Tanto, Try Al; Hartanto, Tri
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 19, No 2 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/jgk.19.2.2021.691

Abstract

Arus geostropik dapat terjadi akibat perbedaan gradien tekanan, serta dipengaruhi oleh gaya coriolis sehingga menyebabkan pembelokkan arah aliran yang terjadi. Tujuan kajian adalah untuk mengetahui sebaran arus geostropik dan transport massa air di perairan barat daya P. Sumba - NTT pada musim berbeda (musim timur dan peralihan I). Data yang digunakan adalah data sekunder, data hasil reanalysis karakteristik massa air seluruh lautan dunia. Pengolahan data dilakukan dalam perangkat lunak ODV, juga perhitungan grafik arus geostropik dengan pengolah data Excel. Kisaran nilai densitas potensial (σt) adalah 1022.18 – 1027.61 kg/m3(musim timur) dan 1021.33 – 1027.60 kg/m3 (musim peralihan I), nilai densitas pada musim timur lebih tinggi. Sebaran kedalaman dimanik menunjukkan aliran air terjadi dari ST 5 yang berada pada laut lepas dari P. Sumba menuju ST 1 berdekatan dengan pesisirnya, searah dengan angin muson tenggara. Arus geostropik terjadi terutama menuju ke arah barat, dengan pembelokkan oleh gaya coriolis. Kecepatan arus geostropik pada musim timur antara ST 1 dan ST 2 adalah 0.09 – 10.45 cm/s, ST 2-3 sebesar 0.07 – 14.52 cm/s, ST 3-4 sebesar 0.03 – 7.14 cm/s, dan ST 4-5 sebesar 0.02 – 2.49 cm/s. Kecepatan aliran arus pada musim peralihan I antara ST 1 dan ST 2 sebesar 0.03 –8.55 cm/s, ST 2-3 sebesar 0.06 – 9.71 cm/s, ST 3-4 sebesar 0.0037 – 3.32 cm/s, dan ST 4-5 sebesar 0.0004 – 0.99 cm/s. Nilai transport massa air pada perairan barat daya P. Sumba musim timur mencapai 1.35 - 4.46 Sv, untuk musim peralihan I lebih rendah sebesar 0.32 – 3.43 Sv.
ASOSIASI FASIES & REKONSTRUKSI PALEOGEOGRAFI PADA ZONA TRANSISI FORMASI TALANGAKAR, CEKUNGAN ASRI, LEPASPANTAI BLOK TENGGARA SUMATRA, INDONESIA Ralanarko, Dwandari; Iqbal Ramadhan, M.; Fauzielly, Lili; ⠀, Winantris; Syafri, Ildrem; ⠀, Abdurrokhim
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 19, No 2 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/jgk.19.2.2021.736

Abstract

Lapangan Widuri terletak pada konfigurasi antiklin tersesarkan yang terletak pada back arc basin Cekungan Asri, Sumatera Tenggara yang berumur Paleogen. Lapangan Widuri pertama kali dilakukan pemboran sumur eksplorasi pada tahun 1988 pada reservoir Batupasir Formasi Talangakar. Penelitian terdahulu belum pernah mengintegrasikan data sumur dan data seismik 3D untuk mengidentifikasi penyebaran reservoir batupasir dan rekonstruksi paleogeografi, sehingga dilakukan penelitian pada interval reservoir 35-A dan 34-B yang merupakan dua dari enam reservoir produktif di Lapangan Widuri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk pengkarakterisasian asosiasi fasies dan rekonstruksi paleogeografi dengan mengintegrasikan data deskripsi batuan inti, petrografi, log tali kawat, biostratigrafi, uji sumur, dan seismik 3D. Metode yang digunakan meliputi analisis fasies dan lingkungan pengendapan, analisis stratigrafi sikuen, pemetaan struktur, geometri reservoir, hingga rekonstruksi pengendapan.. Hasil analisis pada interval 35-A dan 34-B tersusun atas sembilan litofasies yaitu, F1, F2, F3, F4, F5, F6, F7, F8, F9. Interval 35-A menunjukkan lingkungan pengendapan Fluvial dengan 3 asosiasi fasies yaitu, Fluvial Channel, Floodplain, dan Swamp, sedangkan pada interval 34-B menunjukkan lingkungan pengendapan Fluvio-Tide Delta dengan 3 asosiasi fasies yaitu, Distributary Channel, Tidal Flat, dan Swamp. Distribusi fasies Channel digambarkan pada analisis geometri, stratigrafi sikuen, dan seismik 3D yang menunjukkan arah pengendapan dengan arah Baratlaut – Tenggara.  Data biostratigrafi berupa kemunculan akhir fosil polen berumur Oligosen Akhir dan kemunculan awal fosil foraminifera berumur Miosen Awal menunjukkan perubahan paleoenvironment secara gradual dari terrestrial (darat) menjadi transisi, serta paleoclimate dari iklim basah menjadi iklim kering yang terjadi pada rentang umur Oligosen Akhir – Awal Miosen. Berdasarkan data batuan inti yang menunjukkan perubahan litofasies Batupasir simpang siur dan Batulempung masif menjadi  Batupasir flaser dan Batulempung lenticular mencirikan pengaruh dari pasang surut air laut yang dikontrol oleh curah hujan dan iklim. Paleogeografi pada Interval 35-A dan 34-B secara umum mengikuti dua tahapan perekahan tektonik yaitu: 1) fase Late Syn-Rift dicirikan oleh lingkungan sungai berkelok dan dataran Alluvial pada interval 35-A (Oligosen Akhir); 2) fase Early Post-Rift, dicirikan oleh lingkungan sungai berkelok dan Deltaic pada interval 34-B (Miosen Awal).
BIOZONA DELTA MAHAKAM MODERN BERDASARKAN KUMPULAN FORAMINIFERA BENTIK KECIL DAN POLEN KALIMANTAN TIMUR Jurnaliah, Lia; ⠀, Winantris
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 19, No 2 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/jgk.19.2.2021.742

Abstract

ABSTRAKLokasi penelitian terletak di Delta Mahakam, Kalimantan Timur.  Sebanyak 83 sampel sedimen diambil dari 3 bagian delta, yaitu Delta Plain, Delta Front dan Distributary Channel.  Analisis foraminifera bentik kecil dan polen dilakukan dengan metode kuantitatif.  Selanjutnya, Analisis kluster digunakan dalam penentuan biozona Delta Mahakam.  Hasil penelitian menunjukkan Delta Mahakam terbagi menjadi 4 biozona, yaitu Biozona I (Polen palmae) terletak di Delta Plain, Biozona II (Foraminifera “A”) dan  Biozona III (Foraminifera “B”) terletak di Delta Front.  Sementara itu,  Biozona IV (Polen non mangrove) terletak di Delta Plain, Delta Front dan Distributary Channel.  Berdasarkan pola penyebaran biozona, Bagian Utara Delta Mahakam mempunyai biozona yang lebih beragam dibandingkan dengan bagian Selatan Delta Mahakam. Kata Kunci:  Delta Mahakam, foraminifera bentik kecil, polen, biozona.
STRUKTUR GEOLOGI SELAT MADURA JAWA TIMUR Arifin, L.; ⠀, Susilohadi; Setyadi, D.; Silalahi, I. R.; Kristanto, N. A.; Rahardjo, P.; Purwanto, C.
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 19, No 2 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/jgk.19.2.2021.737

Abstract

Penelitian dilakukan di perairan Selat Madura yang berada diantara Pulau Madura dan Jawa Timur. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kondisi geologi dan pola sedimentasi yang ditafsirkan dari data rekaman seimik pantul. Orientasi struktur geologi Selat Madura berarah barat-timur, serupa dengan orientasi zona Kendeng di daratan Jawa Timur. Struktur antiklin yang berkembang di darat menerus hingga Selat Madura yang ditunjukkan di beberapa pulau seperti P. Kambing dan P. Ketapang yang merupakan puncak-puncak antiklin.Pada lereng selatan antiklin P. Gili Genting dan P. Gili Raja batuan berumur Pliosen Akhir dan batuan Quarter mencirikan adanya penurunan cekungan yang cepat dan menerus. Poros cekungan ini diperkirakan diisi oleh sedimen dengan ketebalan lebih dari 500  m, dimana pada bagian antiklin kemungkinan ditempati oleh batuan berumur Tersier Akhir sebanding dengan batuan yang tersingkap pada kedua pulau di atas.
SEBARAN SEDIMEN BERDASARKAN ANALISIS PARAMETER UKURAN BUTIR DI PERAIRAN MUARA SUNGAI SAMBAS KALIMANTAN BARAT Warsidah Warsidah; Risko Risko; Dicky Wahyuda Saputra; Muliadi Muliadi; Zan Zibar; Heni Susiati
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 19, No 2 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/jgk.19.2.2021.723

Abstract

Studi tentang sebaran sedimen dasar laut ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui persentase nilai fraksi, jenis dan parameter statistik ukuran butir. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – April 2021 di perairan muara Sambas, Kecamatan Pemangkat, Kalimantan Barat. Hasil persentase fraksi sedimen dasar laut dari pasir di lokasi ini diperoleh nilai rata-rata sebesar 23,11 %, lanau 63,33 % dan lempung 13,56 %. Dari hasil tersebut secara keseluruhan didapatkan sebaran jenis sedimen dasar di perairan ini didominasi oleh lanau. Berdasarkan parameter ukuran butir sedimen dasar diperoleh nilai ukuran butir rata-rata (Mz) berkisar antara 1,04 – 2,47. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemusatan sedimen di lokasi penelitian berada pada klasifikasi pasir halus (fine sand) dan pasir sedang (medium  sand). Kemudian nilai sortasi yang diperoleh dari seluruh stasiun berkisar antara 0,93 - 1,50 dengan klasifikasi terpilah sedang (moderately sorted) dan terpilah buruk (poorly sorted), nilai skewnes berkisar antara 0,54 – 1,45 dengan klasifikasi condong sangat halus dan nilai kurtosis pada setiap stasiun berkisar antara 0,61 – 1,17 dengan klasifikasi platycuric, mesokurtic, very platykuric dan leptokurtic.

Page 1 of 1 | Total Record : 5