Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

STUDI PERBANDINGAN KARAKTERISTIK KIMIA DAN PETROGRAFI BATUBARA LAPANGAN X CEKUNGAN SUMATERA SELATAN DAN LAPANGAN Y CEKUNGAN SUMATERA TENGAH INDONESIA Baihaqi, Azmi; Susilawati, Rita; Fauzielly, Lili; Muljana, Budi
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 12, No 2 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4583.66 KB)

Abstract

Karakteristik batubara dari dua wilayah prospek batubara di Sumatera dievaluasi dengan menggunakan metode kimia dan petrografi batubara. Penelitian terfokus pada evaluasi peringkat (tingkat pembatubaraan di daerah penelitian), tipe (komposisi material organik dan lingkungan pengendapan batubara) serta grade (kandungan material inorganik yang bisa berpengaruh terhadap proses utilisasi) batubara. Lapangan X memiliki lapisan batubara yang merupakan bagian dari Formasi Muaraenim dan Kasai Cekungan Sumatera Selatan sedangkan batubara pada lapangan Y merupakan bagian dari Formasi Petani Cekungan Sumatera Tengah. Sebanyak enam conto batubara dari lapangan X dan 8 conto dari lapangan Y digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua lapangan memiliki batubara dengan karakteristik yang berbeda. Walaupun batubara di kedua daerah termasuk dalam kategori lignit, nilai rata-rata reflektansi huminit batubara Lapangan Y sedikit lebih tinggi dari lapangan X. Hal ini mengindikasikan bahwa batubara lapangan Y mengalami pengaruh peningkatan termperatur dan pembebanan yang lebih tinggi dari lapangan X. Berdasarkan hasil analisis komposisi maseral, batubara lapangan X dapat dibedakan ke dalam 3 fasies: fasies 1 (huminit >90%, kandungan inertinit dan liptinit <10%), fasies II (huminit 80% s.d. 90%, inertinite 10% s.d. 15%, dan liptinit 10%) serta fasies III (huminit 75% s.d. 85%, inertinit 15% s.d. 20% dan liptinit <10%). Sementara batubara lapangan Y lebih homogen dan dapat digolongkan ke dalam satu fasies (huminit >90% dan liptinit serta inertinite <10%). Hasil plot Gelification index (GI) dan Tissue preservation index (TPI) menunjukkan bahwa batubara lapangan X diendapkan pada lingkungan limnic-marsh hingga limno telmatic sedangkan batubara lapangan Y pada lingkungan limnic hingga telmatic marsh. Banyaknya konkresi pirit pada batubara lapangan Y mengindikasikan bahwa batubara tersebut mendapat pengaruh laut yang lebih besar daripada batubara lapangan X Batubara di kedua lapangan dapat dianggap sebagai batubara grade tinggi atau batubara bersih karena memiliki kandungan sulfur (<10%) dan abu yang relatif rendah (<10%). Hanya satu conto (SJ2) yang memiliki kadar abu tinggi (>50%) menunjukkan bahwa conto tersebut bukan batubara. Sebagai kesimpulan, perbedaan karakteristik batubara lapangan X dan Y mendukung teori bahwa batubara dengan sejarah pengendapan yang berbeda akan menghasilkan karakteristik yang berbeda.
SOSIALISASI MITIGASI BENCANA LONGSOR DI DAERAH HAMBALANG, KECAMATAN CITEREUP, KABUPATEN BOGOR Fauzielly, Lili
Dharmakarya Vol 7, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1504.679 KB) | DOI: 10.24198/dharmakarya.v7i1.14770

Abstract

Bencana longsor merupakan salah satu bencana yang paling umum terjadi di Indonesia terutama dalam waktu musim hujan. Sebagai salah satu langkah mitigasi bencana demi mengurangi resiko dampak bencana longsor, dilakukan kegiatan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan bencana longsor pada masyarakat. Objek dari kegiatan sosialisasi ini merupakan anak-anak berusia dini di Sekolah Dasar Negeri 2 Hambalang, dengan sepengawasan guru-guru yang sedang bertugas. Indikator keberhasilan Dalam proses pembelajaran, diadakan dua kali uji pengetahuan, bencana sebelum dan setelah proses pemberian materi ajar dilakukan. Nilai uji tersebut yang didapat kemudian dibandingkan dan digunakan sebagai parameter dari keberhasilan pembelajaran. Didapatkan peningkatan nilai rata-rata sebesar 23.12% dan peningkatan murid yang lolos ujian sebesar 22.53%. Berdasarkan perbandingan hasil uji, dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan pengetahuan murid yang diuji setelah kegiatan pembelajaran selesai dilakukan. Diharapkan dengan berhasilnya kegiatan sosialisasi tersebut dapat berkontribusi dalam mengurangi resiko bencana longsor di daerah Hambalang. Keywords: landslide; disaster mitigation; social work
Pemodelan Kondisi Lingkungan Sag pond Sesar Lembang, Berdasarkan Analisis Kandungan Alga, Lembang, Jawa Barat Rachman, Rizki Satria; Winantris, Winantris; Jurnaliah, Lia; Fauzielly, Lili
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 14, No 2 (2021): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v14i2.15420

Abstract

AbstrakAlga merupakan mikroorganisme fotosintesis yang tidak memiliki tubuh sejati dengan distribusi lingkungan yang sangat luas dan memiliki banyak fungsi, salah satunya sebagai indikator perubahan lingkungan. Wilayah Cekungan Bandung telah dilakukan penelitian dari beberapa aspek. Akan tetapi, penelitian terutama dari aspek alga yang memperlihatkan perubahan lingkungan belum dilakukan pada daerah tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana perubahan lingkungan dari endapan sag pond bekas Danau Bandung pada wilayah Cekungan Bandung menggunakan keberagaman alga dan ukuran butir sedimen. Metode asam dilakukan untuk memisahkan alga dari endapan, serta deskripsi batuan dilakukan untuk melihat ukuran butir endapan pada lokasi penelitian. Analisis data dan pemodelan dilakukan dengan mengelompokkan alga sesuai dengan kondisi habitatnya yang terbagi menjadi kelompok Pinnularia, Euglena, Acrinastrum dan Dinobryon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi penelitian mengalami empat kali perubahan lingkungan yang dibagi kedalam zona-zona dan subzona. Setiap zona tersebut diawali dengan kondisi air tercemar yang ditandai oleh peningkatan kelompok Euglena dan ukuran butir halus dari sedimen. Sedangkan pada bagian akhir, perairan memperlihatkan kondisi air normal yang ditunjukkan dengan peningkatan kelompok Pinnularia dan ukuran butir sedimen yang menjadi lebih kasar.AbstractAlgae is known as a photosynthetic microorganism that don’t have a true body with very broad distributions of the environment. Algae have a lot of functions, one of which is an indicator of environmental change. The Bandung Basin area has been researched from several aspects. However, research especially from the algae aspect that shows environmental changes, has not been carried out in this area. This research was conducted to see how the environmental changes of Lake Bandung sag pond deposits in the Bandung Basin by using algae diversity and grain size deposits. The acetolysis method is carried out to see algae content in the sediment, and rock description is carried out to see the grain size of the sediment in the study area. Furthermore, data analysis and modeling were conducted by grouping algae according to environmental conditions which are divided into Pinnularia group, Euglena group, and other groups. The result showed that the study area occurred four times in environmental changes which were divided into zones and subzones. Each zone initially had polluted water conditions characterized by an increase in Euglena groups and the fine grain size of sediment. While in the end, the waters showed normal water conditions characterized by an increase in Pinnularia group and the grain size of the sediment became coarser.
Depositional Environmental Changes of Cimanceuri Formation Based on Mollusk Fossil Assemblages in Bayah, Banten Province Rahajeng Ayu Permana Sari; Winantris Winantris; Lili Fauzielly; Anita Galih Ringga Jayanti; Aswan Aswan; Unggul Prasetyo Wibowo
Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology Vol. 4 No. 2 (2019): JGEET Vol 04 No 02 : June (2019)
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1700.772 KB) | DOI: 10.25299/jgeet.2019.4.2.2986

Abstract

Bayah is located in Lebak Regency, Banten Province. This location is chosen due to its abundant mollusk fossils which exposed along the outcrops. The aim of this research is to determine depositional environmental changes using mollusk fossil assemblages. Data obtained from a measured stratigraphic section of Cimanceuri Formation. It is dominated by very fine-fine sandstones with claystone intercalation. A total thickness of measured stratigraphic section is 4.2 meters. There are at least seventeen mollusk associations (bottom-top) consisting of 1) Ringicula arctatoides - Olivella tomlini were obtained. 2) Ringicula arctatoides - Marginella (Cryptospira) ventricosa sangiranensis. 3) Olivella tomlini, 4) Ringicula arctatoides - Olivella tomlini, 5) Ringicula arctatoides, 6) Turritella (Turritella) bantamensis - Scapharca (Scapharca) gedinganensis, 7) Polinices aurantius - Marginella (Cryptospira) ventricosa sangiranensis, 8) Scapharca (Scapharca) gedinganensis, 9) Scapharca (Scapharca) multiformis - Timoclea bataviana, 10) Turritella (Turritella) bantamensis tjicumpaiensis - Ringicula arctatoides, 11) Turritella (Turritella) bantamensis - Ringicula arctatoides, 12) Turritella (Turritella) bantamensis tjicumpaiensis - Turritella (Turritella) bantamensis, 13) Turritella (Turritella) bantamensis tjicumpaiensis - Ringicula arctatoides, 14) Turritella (Turritella) bantamensis - Architectonica sp., 15) Turritella (Turritella) bantamensis tjicumpaiensis, 16) Turritella (Turritella) bantamensis – Turritella (Turritella) bantamensis tjicumpaiensis, and 17) Turritella (Turritella) bantamensis. The condition with the most stable ecosystem is the association of Turritella (Turritella) bantamensis tjicumpaiensis - Turritella (Turritella) bantamensis (Association 12). At least there are seven depositional environmental changes that occur in this research area with two shallowing – deepening cycles : 1) open shallow marine, 2) subtidal – open shallow marine, 3) open shallow marine, 4) open shallow marine – subtidal, 5) subtidal, 6) subtidal – open shallow marine, and 7) open shallow marine.
PALEOBATIMETRI FORMASI JATILUHUR BERDASARKAN KUMPULAN FORAMINIFERA KECIL PADA LINTASAN SUNGAI CILEUNGSI, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT Lili Fauzielly; Lia Jurnaliah; Ria Fitriani
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 28, No 2 (2018)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1898.539 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2018.v28.660

Abstract

Formasi Jatiluhur di sekitar Sungai Cileungsi merupakan lingkungan laut dangkal (zona neritik) berdasarkan dominasi foraminifera yang dikandungnya. Namun beberapa penelitian terdahulu menyatakan umur Formasi Jatiluhur yang bervariasi. Penelitian paleobatimetri berdasarkan kumpulan foraminifera kecil diharapkan dapat melengkapi kajian detil yang terkait dengan evolusi daerah ini selama Miosen. Pengambilan 30 sampel sedimen dilakukan secara sistematik pada satu lintasan di sepanjang Sungai Cileungsi. Hasil preparasi sampel sedimen dengan metode hidrogen peroksida menghasilkan 57301 individu foraminifera kecil yang terdiri dari 23276 individu foraminifera plangtonik dan 34025 foraminifera bentonik. Untuk mengetahui paleobatimetri, digunakan rasio foraminifera plangtonik dan foraminifera bentonik kecil.  Hasil  Rasio P/B berkisar antara 4,4 % - 74,0 % menunjukkan paleobatimetri Formasi Jatiluhur berkisar antara zona neritik dalam – zona batial atas.Jatiluhur Formation in the area of Cileungsi River was a shallow marine environment based on the foraminiferas domination. Several previous published papers had suggested age variation of the Jatiluhur Formation. Paleobatimetry study based on small foraminiferas was expected to complete the Miocene evolution analysis of the region. Thirty sediment samples were picked systematically in a section line along Cileungsi River. The hydrogen peroxide preparation of sediment samples produced 57301 small foraminifera. There were 23276 planktonic foraminiferas and 34025 benthic foraminiferas.  To understand the paleobathimetry of this research area, we calculated the ratio of planktonic foraminifera and benthic foraminifera (P/B ratio).  The P/B ratio is betweeen 4,4% and 74,0%.  The ratio suggests that the paleobathimetry of Jatiluhur Formation is Inner Neritic Zone - Upper Bathyal Zone.
SOSIALISASI MITIGASI BENCANA LONGSOR DI DAERAH HAMBALANG, KECAMATAN CITEREUP, KABUPATEN BOGOR Lili Fauzielly
Dharmakarya Vol 7, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1504.679 KB) | DOI: 10.24198/dharmakarya.v7i1.14770

Abstract

Bencana longsor merupakan salah satu bencana yang paling umum terjadi di Indonesia terutama dalam waktu musim hujan. Sebagai salah satu langkah mitigasi bencana demi mengurangi resiko dampak bencana longsor, dilakukan kegiatan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan bencana longsor pada masyarakat. Objek dari kegiatan sosialisasi ini merupakan anak-anak berusia dini di Sekolah Dasar Negeri 2 Hambalang, dengan sepengawasan guru-guru yang sedang bertugas. Indikator keberhasilan Dalam proses pembelajaran, diadakan dua kali uji pengetahuan, bencana sebelum dan setelah proses pemberian materi ajar dilakukan. Nilai uji tersebut yang didapat kemudian dibandingkan dan digunakan sebagai parameter dari keberhasilan pembelajaran. Didapatkan peningkatan nilai rata-rata sebesar 23.12% dan peningkatan murid yang lolos ujian sebesar 22.53%. Berdasarkan perbandingan hasil uji, dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan pengetahuan murid yang diuji setelah kegiatan pembelajaran selesai dilakukan. Diharapkan dengan berhasilnya kegiatan sosialisasi tersebut dapat berkontribusi dalam mengurangi resiko bencana longsor di daerah Hambalang. Keywords: landslide; disaster mitigation; social work
VERTICAL CHANGES OF RECENT OSTRACODE ASSEMBLAGES AND ENVIRONMENT IN THE INNER PART OF JAKARTA BAY, INDONESIA Lili Fauzielly; Toshiaki Irizuki; Yoshikazu Sampei
JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT Vol 16, No 1 (2012): Volume 16, Number 1, Year 2012
Publisher : JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.085 KB)

Abstract

A short sediment core from the inner part of Jakarta Bay, Indonesia, was quantitatively analysed for ostracods (minute Crustacea), total organic carbon (TOC) and total nitrogen (TN) contents, and the vertical distributions were recorded. A total of 53 ostracod species were obtained from 80 continuous core samples. The dominant species were Keijella carriei and Loxoconcha wrighti, which are common in areas with high TOC and TN contents. Based on an analysis of ostracod assemblages and carbon/nitrogen ratio, the study site began to be influenced by organic contamination from around 1950. Although the population of Jakarta City has increased rapidly since then, TOC and TN contents which were low, have gradually increased (0.7%–0.9% and 0.10%–0.12%, respectively), probably due to addition of nutrients from river sedimentation. The increased sedimentation rate after 1950 resulted in an increasing TOC ratio. The observed correlation between TOC and dominant species shows that Phlyctenophora orientalis may be a good indicator for monitoring increases in the narrow TOC content range of 0.7%–1.1%.
DISTRIBUSI SPASIAL FORAMINIFERA DI PERAIRAN TELUK CENDERAWASIH, PAPUA BARAT Eko Saputro; Lili Fauzielly; Imelda Rosalia Silalahi; Winatris Winatris
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2471.509 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.2.2019.602

Abstract

Sebanyak 20 sampel sedimen dari perairan Teluk Cenderawasih telah digunakan sebagai bahan studi foraminifera, yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana sebaran spasial dan struktur komunitas foraminifera di perairan Teluk Cenderawasih. Hasil penelitian menunjukkan komposisi foraminifera planktonik yang terdiri dari 7 Genus dan 13 Spesies sedangkan foraminifera bentonik terdiri dari 57 Genus dan 87 Spesies. Foraminifera planktonik yang paling umum ditemukan karena muncul di seluruh sampel adalah genus Globigerinoides, terutama G. trilobus dan G. ruber. Sedangkan foraminifera bentonik didominasi oleh subordo Rotaliina, dan yang paling banyak ditemukan adalah genus Cibicidiodes dan Lenticulina. Keanekaragaman foraminifera planktonik dan bentonik termasuk dalam kategori tinggi dengan kisaran antara 0.82 – 0.90 (planktonik) dan 0.79 – 0.95 (bentonik). Kemerataan foraminifera planktonik dan bentonik juga termasuk dalam kategori tinggi dengan kisaran antara 0.83 – 0.99 (planktonik) dan 0.82–0.99 (bentonik). Sedangkan untuk dominasi foraminifera planktonik dan bentonik berada dalam kategori rendah dengan kisaran 0.10 – 0.18 (planktonik) dan 0.05 – 0.21 (bentonik). Hal ini menunjukkan bahwa Teluk Cendrawasih meskipun merupakan perairan yang semi tertutup, namun kondisinya masih sangat bagus bagi perkembangan foraminiferaKata Kunci : foraminifera, distribusi spasial, struktur komunitas, dan Teluk Cenderawasih A total of 20 marine sediment samples from Cenderawasih Bay waters have been used for foraminiferal study, . The purpose to describe the spatial distribution and structure of the foraminifera community in the waters of Cenderawasih Bay. The results indicate that marine sediments are composed of 7 genera and 13 species of planktonic foraminifera, and 57 genera and 87 species belong to benthic foraminifera. The most common planktonic foraminifera is Globigerinoides which is found in all location, particularly G. trilobus and G. ruber. Furthermore, benthonic foraminifera is dominated by subordo Rotaliina, particularly genera Cibicidoides and Lenticulina as the most common genera. Diversity of both Planktonic and benthonic foraminifera are categorized as high, the values are between 0.82 and 0.90, and between 0.79 and 0.95 respectively. Planktonic and benthonic foraminiferal evenness are also high with range value between 0.83 and 0.99 (planktonic), and between 0.82 and 0.99 (benthonic). In contrast, dominance of both foraminiferal type are low, between 0.10 and 0.18 for planktonic, and between 0.05 and 0.21 (benthonic).This indicates that despite a semi–enclosed bay, Cendrawasih Bay is still considered as a good environment for foraminiferal community. Keywords: foraminifera, spatial distribution, community structure, and Cenderawasih Bay.
STUDI PERBANDINGAN KARAKTERISTIK KIMIA DAN PETROGRAFI BATUBARA LAPANGAN X CEKUNGAN SUMATERA SELATAN DAN LAPANGAN Y CEKUNGAN SUMATERA TENGAH INDONESIA Azmi Baihaqi; Rita Susilawati; Lili Fauzielly; Budi Muljana
Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 12 No. 2 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4583.66 KB) | DOI: 10.47599/bsdg.v12i2.35

Abstract

Karakteristik batubara dari dua wilayah prospek batubara di Sumatera dievaluasi dengan menggunakan metode kimia dan petrografi batubara. Penelitian terfokus pada evaluasi peringkat (tingkat pembatubaraan di daerah penelitian), tipe (komposisi material organik dan lingkungan pengendapan batubara) serta grade (kandungan material inorganik yang bisa berpengaruh terhadap proses utilisasi) batubara. Lapangan X memiliki lapisan batubara yang merupakan bagian dari Formasi Muaraenim dan Kasai Cekungan Sumatera Selatan sedangkan batubara pada lapangan Y merupakan bagian dari Formasi Petani Cekungan Sumatera Tengah. Sebanyak enam conto batubara dari lapangan X dan 8 conto dari lapangan Y digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua lapangan memiliki batubara dengan karakteristik yang berbeda. Walaupun batubara di kedua daerah termasuk dalam kategori lignit, nilai rata-rata reflektansi huminit batubara Lapangan Y sedikit lebih tinggi dari lapangan X. Hal ini mengindikasikan bahwa batubara lapangan Y mengalami pengaruh peningkatan termperatur dan pembebanan yang lebih tinggi dari lapangan X. Berdasarkan hasil analisis komposisi maseral, batubara lapangan X dapat dibedakan ke dalam 3 fasies: fasies 1 (huminit >90%, kandungan inertinit dan liptinit <10%), fasies II (huminit 80% s.d. 90%, inertinite 10% s.d. 15%, dan liptinit 10%) serta fasies III (huminit 75% s.d. 85%, inertinit 15% s.d. 20% dan liptinit <10%). Sementara batubara lapangan Y lebih homogen dan dapat digolongkan ke dalam satu fasies (huminit >90% dan liptinit serta inertinite <10%). Hasil plot Gelification index (GI) dan Tissue preservation index (TPI) menunjukkan bahwa batubara lapangan X diendapkan pada lingkungan limnic-marsh hingga limno telmatic sedangkan batubara lapangan Y pada lingkungan limnic hingga telmatic marsh. Banyaknya konkresi pirit pada batubara lapangan Y mengindikasikan bahwa batubara tersebut mendapat pengaruh laut yang lebih besar daripada batubara lapangan X Batubara di kedua lapangan dapat dianggap sebagai batubara grade tinggi atau batubara bersih karena memiliki kandungan sulfur (<10%) dan abu yang relatif rendah (<10%). Hanya satu conto (SJ2) yang memiliki kadar abu tinggi (>50%) menunjukkan bahwa conto tersebut bukan batubara. Sebagai kesimpulan, perbedaan karakteristik batubara lapangan X dan Y mendukung teori bahwa batubara dengan sejarah pengendapan yang berbeda akan menghasilkan karakteristik yang berbeda.
Identifikasi Lokasi Sebaran Fosil untuk Penentuan Konservasi Situs Paleontologi Bumiayu, Provinsi Jawa Tengah Rahajeng Ayu Permana Sari; Agustina Djafar; Ifan Yoga Pratama Suharyogi; Winantris Winantris; Lili Fauzielly; Erick Setiyabudi
Jurnal Geosains dan Teknologi Vol 5, No 2 (2022): Juli 2022
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgt.5.2.2022.116-129

Abstract

Bumiayu merupakan daerah yang menarik untuk dikaji dari sisi paleontologi, salah satunya keberadaan Fauna Satir yang merupakan fauna vertebrata tertua di Pulau Jawa. Ada beberapa titik lokasi penemuan yang tersebar di tiga kecamatan, yaitu Desa Bumiayu, Kecamatan Bumiayu; Desa Kutamendala, Kecamatan Tonjong; dan Desa Pengarasan, Kecamatan Bantarkawung. Situs Paleontologi Bumiayu dikenal dengan nama lain Situs Buton (Bumiayu-Tonjong). Metode yang digunakan berupa identifikasi keragaman geologi dan analisis data kualitatif berdasarkan PP No. 26 Tahun 2008. Lokasi yang perlu dikonservasi adalah Sungai Kaliglagah, Sungai Cisaat, Sungai Kalibiuk, Sungai Pelem, Sungai Slatri, Sungai Santanaya, Sungai Cipanglosoran, Sungai Jawan, dan Sungai Bodas karena menceritakan secara runtut pengangkatan Pulau Jawa menjadi daratan selama Plio-Plistosen. Geosite tersebut memiliki keunikan batuan dan fosil yang berfungsi sebagai laboratorium alam, sehingga direkomendasikan untuk dikonservasi sebagai Kawasan Cagar Alam Geologi (KCAG) terutama untuk melindungi dari kerusakan.