cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2004)" : 6 Documents clear
STRATIGRAFI SEISMIK PERAIRAN KELUNGKUNG-KARANGASEM DAN SEKITARNYA, PROPINSI BALI Nyoman Astawa; Agus Setyanto; Dida Kusnida
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 1 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.527 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.1.2004.105

Abstract

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bali, daerah telitian didominasi oleh endapan volkanik. Dari rekaman seismik pantul dangkal saluran tunggal,runtunan seismik daerah telitian dapat dibagi menjadi 2 ( dua) runtunan yaitu runtunan A (di bawah) dan runtunan B (di bagian atas). Runtunan A diduga sebagai basemen. Berdasarkan sifat reflektornya di duga runtunan ini berupa batuan yang kompak dan keras, dan dapat disebandingkan dengan Formasi Ulakan . Runtunan B dicirikan oleh pola refleksi paralel. Pola refleksi ini biasanya berupa sedimen yang diendapkan pada lingkungan tenang. Kontak antar runtunan A dan B adalah kontak ketidakselarasan kontak "onlap". Based on geological map of Bali Sheet, the study area is dominated by volcanic products. The shallow, single channel, seismic reflection records show that the seismic sequence can be divided into two sequences those are, sequence A (underneath) and sequence B (above). Sequence A is interpreted as a seismic basement. Based on its reflecting characteristics, this sequence is suggested of the hard and dense rocks, and can be correlated with the Ulakan Formation. Parallel reflectors characterize sequence B. These types of reflectors indicate that the sediments were deposited in a calm environment. The contact between sequence A and B is an unconformity, as shown by onlap contact.
INDIKASI FLUKTUASI ARUS LINTAS INDONESIA DI SEKITAR SELAT MAKASSAR BERDASARKAN MODEL NUMERIK Evie H. Sudjono; D.K. Mihardja
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 1 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.395 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.1.2004.106

Abstract

Arus Lintas Indonesia sering disebut dengan Arlindo, merupakan sirkulasi arus dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia melalui perairan Indonesia. Sepanjang tahun, Arlindo mengalir dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia, akan tetapi terdapat variabilitas transpor volume. Arlindo dalam perjalanannya masuk ke perairan Indonesia, melalui Selat Makassar. Terdapat fluktuasi Arlindo di Selat Lombok yang mencapai puncaknya pada bulan Juli-Agustus 1985, kemudian berkurang pada akhir bulan Oktober 1985 hingga bulan Januari 1986. Demikian pula hasil pengamatan arus di Selat Makasar dari tahun 1996 hingga tahun 1998, terdapat indikasi arah arus ke utara meskipun tidak signifikan. Berdasarkan hasil penelitian para ahli oseanografi dan meteorologi, fluktuasi nilai transpor berhubungan dengan interaksi atmosfir dan laut. Hasil simulasi model numerik menunjukkan adanya fluktuasi nilai transpor volume di sekitar Selat Makassar, dengan penurunan nilai transpor volume ke arah selatan di sekitar Selat Makassar pada saat terjadi musim dingin di benua Asia. Nilai transpor relatif kecil pada hasil penelitian, yaitu ke arah selatan sebesar 0,5 hingga 0,7 Sv pada bulan Mei-Juni 1989 dan 0,3 Sv pada bulan Oktober tahun 1997. Nilai transpor maksimum ke arah selatan terjadi pada bulan November 1988 sebesar 14,5 Sv, dan bulan Juni 1997 sebesar 11,8 Sv. Nilai transpor berfluktuasi sesuai dengan fasa yang terjadi di Samudera Pasifik ekuatorial, yaitu fasa El Niño atau La Niña. Indonesian Through Flow (ITF) is the current circulation of Pacific Ocean water to Indian Ocean through the Indonesian Seas. The ITF flows annualy from Pacific Ocean into Indian Ocean obtains variability in volume transport. During its journey into Indonesia Seas, ITF passes through Makassar Strait, Java Seas, and Lombok Strait. ITF shows fluctuation in Lombok Strait that reaches its peak in July-Agustus 1985, and decreases in late October 1985 to January 1986. Current observation conducted in Makasar Strait between 1996 and 1998, shows a northward current with no significant value. According to recent oceanography and meteorology researches, transport value fluctuation is associated with sea and atmospheric interaction. Numerical model simulation shows fluctuation in volume transport value in Makassar Strait where the volume decreases southward in Makassar Strait during Asian Continental winter. Transport value in Makassar Strait obtained from this research southward are 0,5 to 0,7 Sv in May-June 1989 and 0,3 Sv in October 1997. The research yielded maximum values of southward transport volume occuring in November 1988 is 14,5 Sv, and June 1997 is 11,8 Sv. Fluctuation transport values is in phase with El Niño or La Niña occuring in equatorial Pacific.
KETERDAPATAN MINERAL DAN UNSUR JARANG PADA SEDIMEN PANTAI DAN PERMUKAAN DASAR LAUT DI PERAIRAN SELAT PULAU BATAM DAN PULAU BINTAN Deny Setiady; Faturachman Faturachman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 1 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.754 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.1.2004.102

Abstract

Sedimen dasar laut Selat Batam - Bintan tersusun oleh pasir kerikilan yang terdapat di sepanjang pantai dan lepas pantai P. Batam, dan kerikil pasiran yang dijumpai di sepanjang dekat pantai P. Bintan. Pasir menempati bagian tengah daerah selidikan. Sebaran sedimen tersebut menunjukkan bahwa sumber sedimen berasal dari Pulau Batam dan P. Bintan, dengan ukuran butir menghalus ke arah lepas pantai. Hasil analisa mineral berat menunjukkan bahwa terdapat 12 jenis mineral berat di daerah selidikan Magnetit, Kasiterit, Zirkon, Monasit, Hornblenda, Tourmalin, Pirit, Ilmenit, Hematit, leokosen, augit, diopsid. Mineral magnetit dominan terdapat pada sedimen Pasir lanauan (BT-34), dan pasir (BT-11), sedangkan mineral kasiterit dominan terdapat pada sedimen pasir kerikilan (BT-4) dan pasir lanauan (BT-34). Analisis kandungan unsur jarang sepanjang pantai barat P. Batam menunjukkan bahwa kandungan Barium (561 ppm) lebih tinggi dibandingkan unsur Sn (16 ppm), Sr (42 ppm), Nb (13 ppm) dan Zn (186 ppm). Sedangkan di pantai P. Bintan Timur Kandungan dijumpai tinggi unsur Ba (761 ppm), Nb (480 ppm) Sr (200ppm) dan Zr (300 ppm) pada contoh Pbn-1.
PENDANGKALAN PELABUHAN CIREBON DAN ASTANAJAPURA AKIBAT PROSES SEDIMENTASI (BERDASARKAN DATA SEISMIK PANTUL DANGKAL DAN PEMBORAN INTI) Faturachman Faturachman; Riza Rahardiawan; Purnomo Raharjo
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 1 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1377.395 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.1.2004.107

Abstract

Pelabuhan Cirebon dan rencana pelabuhan Astanajapura di bagian utara Jawa Barat, saat ini sedang mengalami ancaman akan pendangkalan, hal ini ditunjukkan oleh tingginya aktifitas pengerukkan oleh PT. Pelindo yang dilakukan setiap 6 bulan sekali. Untuk mengevaluasi masalah pendangkalan tersebut, penulis melakukan telaah menggunakan metoda geologi dan geofisika yang difokuskan pada penafsiran seismik pantul dan pemboran inti. Hasil penafsiran seismik pantul dangkal memperlihatkan adanya pola progradasi yang saling menindih. Hal ini ditafsirkan bahwa proses sedimentasi di daerah ini berjalan sangat aktif hingga sekarang. Sedangkan keberadaan pola reflektor sejajar dan sigmoid kombinasi dengan pola syngled dan divergent di bagian bawahnya, menunjukkan bahwa sedimen merupakan endapan delta di dekat pantai. Dari hasil pemboran inti, dijumpai sedimen fraksi halus setebal 20,00 meter, dari atas ke bawah tersusun atas lempung lanauan, lempung dan pasir lepas. The Cirebon and the planned Astanajapura Harbour in the northern West Jave are resently having a rapid shoaling. This is indicated by high frequency number of seafloor dredging, i.e. at every 6 months by PT. Pelindo. The geology and geophysical method, emphasizing on the reflection seismic and core drilling interpretations had been used to evaluate this shoaling problem. The interpretation of reflection seismic show that there is a sediment progradation pattern, indicate that sedimentation is progressing very actively in this area. Parallel reflection and sigmoid patterns and their combination with singled and divergent pattern at the bottompart indicate that the sediment is a nearshore deltaic sediment. Sediment of fine fraction of 20 metres thick, consisting of silly clay, clay and loose sand was found from the result of core drilling.
ENDAPAN MINERAL BERAT DI PERAIRAN PACIRAN DAN SEKITARNYA, LAMONGAN JAWA TIMUR Udaya Kamiludin; Maman Surachman; Wayan Lugra
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 1 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.292 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.1.2004.103

Abstract

Sedimen permukaan dasar laut di perairan Paciran dan sekitarnya umumnya mengandung magnetit, hematit, limonit, piroksen, amfibol, biotit, pirit dan rutil. Ragam mineral berat ini terdapat pada satuan lanau pasiran, pasir lanauan dan pasir. Unsur utama pembentuk mineral berat yang terlihat dari analisis kimia berupa SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO, MgO, K2O,Na2O dan TiO2. Selain terbentuk secara mekanik endapan mineral berat ini, terutama magnetit dan pirit sebagian terbentuk secara insitu. The surficial sediments Paciran waters and its vicinity consist of magnetite, hematite, limonite, pyroxene, amphibole, biotite, pyrite and rutile. These heavy minerals can be found in sandy silt, silty sand and sand. The major elements of these heavy minerals can be seen from the chemical analysis as SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO, MgO, K2O,Na2O and TiO2. Another mechanical processes of these heavy mineral deposits, especialy magnetite and pyrite, some are formed authogenically.
INDIKASI PEMBENTUKAN DELTA PASANG SURUT EBB DI MULUT OUTLET SEGARA ANAKAN BAGIAN BARAT, TELUK PANGANDARAN, JAWA BARAT Lili Sarmili; Faturachman Faturachman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 1 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (877.137 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.1.2004.104

Abstract

Laguna Segara Anakan terletak di sebelah timur teluk Pangandaran dimana terdapat outlet Nusakambangan bagian barat yang menghubungkan laguna Segara Anakan ke laut terbuka (Samudera Hindia). Pada saat ini, laguna Segara Anakan sedang mengalami ancaman dari tingginya tingkat pengendapan sedimen. Beberapa sungai besar seperti Citanduy, Cibeureum dan Cikonde bertanggung jawab atas terjadinya penyempitan dan pendangkalan laguna. Pada waktu susut laut, energi yang tinggi dari sungai akan membawa sedimen ke laut terbuka dimana butiran yang kasar akan diendapkan di dekat muara sungai-sungai tersebut. Butiran halus akan diendapkan jauh dari sungai-sungai tersebut. Keterdapatan pulau-pulau didepan muara-muara sungai tersebut dapat disebut sebagai endapan delta. Endapan delta yang terdapat di dalam laguna disebut sebagai "Flood Tidal Delta", sedangkan yang di luar laguna Segara Anakan yaitu ke arah laut lepas disebut sebagai "Ebb Tidal Delta" . Peta sebaran sedimen permukaan yang diperkuat oleh peta isopach Kuarter dan peta batimetri menunjukkan adanya sedimen yang diendapkan di luar sistim laguna Segara Anakan sebagai indikasi pembentukan delta pasang-surut Ebb di dalam teluk Pangandaran. The Segara Anakan lagoon is located in the eastern part of Pangandaran Bay where West Segara Anakan outlets which is connecting the Segara Anakan Lagoon to the open sea (Indian Ocean). At present, the Segara Anakan lagoon is being threatened by high rates of sedimentation. Some big rivers such as Citanduy, Cibeureum and Cikonde are responsible for reducing the open water due to their sedimentation in the lagoon. During low sea level, high energy from the river bring the sediment to the open sea where the coarser grains are deposited closely to the mouth of those rivers. The finer grains as a suspended sediments are deposited far away from rivers. The occurrence of islands in front of rivers are called as deltas. These deltas which are located inside the lagoon called as a flood tidal delta, on the other hand, if they are located outside the lagoon called as an ebb tidal delta. The submarine surficial sediment distribution map that strongly modified by a Quaternary isopach map and a bathymetric map indicate that there are sediments that have been deposited outside the system of Segara Anakan lagoon which indicate formation of an Ebb tidal delta in Pangandaran bay.

Page 1 of 1 | Total Record : 6