cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2007)" : 5 Documents clear
POLA REGIONAL UNSUR UTAMA DAN MINERALOGI PERAIRAN UTARA JAWA TIMUR Noor C.D. Aryanto; Udaya Kamiludin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 2 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1144.749 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.2.2007.137

Abstract

Berdasarkan analisis megaskopik, jenis sedimen permukaan di daerah ini sebagian besar tersusun oleh sedimen berbutir halus berukuran lempung – lanau. Berdasarkan analisa 6 contoh sedimen dasar laut dengan menggunakan metode AAS, berhasil diidentifikasi jenis dan kandungan unsur utamanya dimana unsur-unsur tersebut memperlihatkan beberapa pola, seperti: (1) Pola linier negatif untuk CaO terhadap SiO2 (2) pola linier positif untuk K2O terhadap. SiO2 dan Al2O3 vs. SiO2 serta (3) Pola linier yang rata/datar, seperti telihat pada unsur Na2O, MgO dan Fe2O3 terhadap SiO2 . Semua ini menjelaskan tipe batuan asal di daratnya, seperti batugampingan yang tercerminkan oleh kandungan CaO dan MgO yang tinggi selain memperlihatkan pula bahwa sedimen dasar laut di lokasi telitian bersifat lempungan yang dicerminkan oleh kandungan Al2O3 (yang merupakan senyawa penyusun lempung) yang tinggi. Kata kunci: unsur utama, AAS (Atomic Absorption Spectrometry) dan Perairan utara Jawa Tengah-Jawa Timur. Based on megascopic analysizes, the sea floor surface sediment types on this area consist of fine grain sediment (from clay to silt). Atomic Absorption Spectometry (AAS) method was carried out to the 6 sea floor sediment samples that succeed to identified the different types and major element contents such as: (1) negative linier pattern for CaO to SiO2; (2) positive linier pattern for K2O to SiO2 and Al2O3 to SiO2; and (3) flat linier pattern is showed by Na2O, MgO and Fe2O3 to SiO2 . All these patterns are influenced by their source rocks on land, such as calcareous rocks have more contents of CaO and MgO where Al2O3 contents are closed to clay minerals. Key words: major element, AAS (Atomic Absorption Spectrometry) and northern central and east Java waters.
SEDIMENTOLOGI DAN STRATIGRAFI HOLOSEN DATARAN PANTAI MEDAN - BELAWAN SEKITARNYA, SUMATERA UTARA Herman Moechtar; Herman Mulyana; Indyo Pratomo
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 2 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4794.875 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.2.2007.138

Abstract

Studi sedimentologi dan stratigrafi endapan Kuarter di dataran pantai Medan – Belawan dibedakan menjadi enam lingkungan pengendapan. Yaitu endapan-endapan rawa, laut, pantai, rawa bakau, dataran banjir, dan alur sungai. Berdasarkan korelasi perubahan lingkungan pengendapan secara lateral dan vertikal, rangkaian sedimen Kuarter tersebut dapat dibedakan menjadi empat Interval Pengendapan (I – IV). Setiap interval dicirikan oleh berubahnya lingkungan yang dikontrol oleh perubahan iklim dan muka laut Holosenl. Perkembangan dari endapan Kuarter dan pengisisan cekungan cekungan di daerah dataran pantai Medan – Belawan dipengaruhi oleh peristiwa global. Perubahan dari sirkulasi iklim dan turun naiknya muka laut selama proses pengendapan berlangsung adalah berkaitan dengan perisitiwa global tanpa dipengaruhi oleh efek tektonik. Studi yang dilakukan mencakup analisis sedimentologi dan stratigrafi terhadap empat belas pemboran yang dilakukan di sepanjang lintasan yang berarah utara – selatan dari Medan hingga Belawan. Kedalaman pemboran berkisar antara 5,0 hingga 15,0 m.Kata Kunci: Sedimentologi dan stratigrafi, Holosen, dataran pantai Studies of sedimentology and Stratigrafi on Quaternary deposits in the coastal plain of Medan– Belawan surroundings, North Sumatera revealed six depositional environments. These are swamp, marine, beach, marsh, floodplain, and channel deposit environments. Based on the correlation of the lateral and vertical variation of the depositional environment, whereas the successsion of the Quaternary sediments can be divided into four sedimentary intervals (I – IV). Each interval is typically for environment changes which is controlled by sea level and climatic especially during Holosen. The development of the Quaternary sediments and basin fill in the coastal plain of Medan to Belawan area was influenced by global events. Changes in climatological and relative sea level during during depostional processes were included clobal changes without influenced by tectonic. The study was based on analyses of sedimentology and stratigraphy of fourteen borehole information obtained along the North to South traverse from Medan to Belawan. The penentration of the bore head varied from 5.0 to 15.0 m. Keywords: Sedimentology and stratigraphy, Holosen, coastal plain
PROSPEKSI EMAS LETAKAN DI PERAIRAN BAYAH, KABUPATEN LEBAK, PROPINSI BANTEN Hananto Kurnio; Catur Purwanto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 2 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1972.853 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.2.2007.134

Abstract

Mineral emas letakan di perairan Bayah dijumpai dalam sedimen dasar laut perairan, pantai dan sungai. Emas letakan Bayah dari hasil analisis mineral butir terakumulasi pada sedimen pasir berukuran sangat halus (0,125 hingga 0,0625 mm). Hasil analisis mineral bijih, kandungan tinggi Au dan Ag berasosiasi dengan kandungan tinggi mineral magnetik. Dari kurva energi fluks gelombang sebagian pantai perairan Bayah memiliki kecenderungan akresi akibat proses sedimentasi aktif yang membawa emas letakan. Hasil penelitian diketahui kadar Au 0,4-1,8 ppm, Ag 6,8-7,8 ppm, Fe 38,54-48,64 % dan Cu 17-18 ppm. Sedangkan data bor dalam prospek emas letakan pada kedalaman bor 9-14 meter, mempunyai kadar antara 0,4-1,8 ppm. Pendulangan yang dilakukan pada 13 lokasi sepanjang pantai Bayah mendapatkan hanya 3 lokasi nihil sehingga persentase keterdapatan emas letakan di daerah ini sementara adalah 76,9 %. Kata kunci: emas letakan, sedimen dasar laut, mineral bijih, mineral magnetit, energi fluks gelombang Gold placer mineral indications in Bayah waters are occurred in the seafloor, coastal and river sediments. Bayah gold placer is accumulated in a very fine sand sediment (0.125 up to 0.0625 mm). Results of ore mineral analyses, the high content of Au and Ag samples are associated with high content of magnetic minerals. The observation of wave flux energy curve, parts of Bayah Coast tends to accretion due to active sedimentation process that carrying gold placer. Research results, it is known that Au 0,4-1,8 ppm, Ag 6,8-7,8 ppm, Fe 38,54-48,64 % and Cu 17-18 ppm . While from deep borehole, gold placer prospects are between depths of 9-14 meters with the range of the contents between 0,4-1,8 ppm. Gold panning carried out in 13 locations along Bayah beach found out only 3 empty gold locations; thus percentage of gold placer existences in this area temporarily 76.9 %. Key words: gold placer, seafloor sediments, ore minerals, magnetite minerals, wave flux energy
PENAFSIRAN STRUKTUR GEOLOGI SEMENANJUNG MURIA DARI DATA CITRA SATELIT Prijantono Astjario; Dida Kusnida
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 2 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1103.039 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.2.2007.135

Abstract

Penafsiran data citra satelit yang ditunjang dengan data geologi sekunder, menunjukan bahwa Semenanjung Muria telah mengalami minimal dua rejim tektonik yaitu peregangan (rifting/extension) dan tektonik tekanan (inverse/compression). Keberadaan gunungapi Muria saat ini menunjukan pernah terjadi interaksi yang komplek antara rejim tekanan dan keberadaan struktur regangan di daerah ini. Proses tektonik tekanan ini mengakibatkan batuan dasar berumur lebih tua mengalami pemampatan yang memungkinkan keluarnya magma melalui bidang sesar yang teraktifkan kembali dan membentuk Komplek Gunungapi Muria. Kata kunci : struktur patahan,citra satelit, Semenanjung Muria Satellite imageries data interpretation complemented by secondary geological data, indicate that the Muria Peninsula has been undergone by at least two tectonic regimes, those are rifting/extension and inversion/compression tectonics. At present, the occurrence of Muria volcano indicates there was a complex interaction between compression regime and the occurrence of extensional structures in the area. These tectonic processes implies that the older basement in the study area is accomplished by lithosphere shortening which allows active upwelling of magma through the reactivated fault planes forming a Muria Volcano Complex. Keyword : fault structures,satellite imageries, Muria Peninsula
INDIKASI KEBERADAAN GAS BIOGENIK DI DELTA SUNGAI CIMANUK BERDASARKAN DATA SEISMIK DAN BOR INDRAMAYU, JAWA BARAT Nyoman Astawa; Wayan Lugra
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 2 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3589.846 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.2.2007.136

Abstract

Hasil interpretasi seismik di daerah penelitian, dijumpai adanya indikasi rembesan gas dari bawah permukaan dasar laut yang membawa material sedimen sangat halus. Hal tersebut memperjelas bahwa di daerah lepas pantai gas yang terbentuk di dalam sedimen dan tidak terperangkap. Analisis bakteri semua percontoh bor inti, menunjukkan semua percontoh mengandung bekteri pembentuk gas biogenik (methan). Gas biogenik juga keluar dari sumur air penduduk di desa Brondong dan Pasekan, dengan kedalaman berkisar antara 100 – 150 meter. Kata kunci : delta, seismik, sumur bor, dan gas Seismic interpretation from the surveyed area indicate a gas seep from the sea floor together with the very fine sediment materials. It is olso indicates that the gas formed underneath are untrapped. Bacterical analyses from whole core samples, indicate that all samples contain of bacterical forming biogenic gas (methane gas). The gas are olso seeping from several wells in Desa Brondong and Pasekan at 100-150 meters depth. Keywords : delta, seismic, well, and gas

Page 1 of 1 | Total Record : 5