cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2009)" : 6 Documents clear
KETERDAPATAN MINERAL ZIRKON DAN HUBUNGANNYA DENGAN BATUAN METAMORFIK DI TELUK WONDAMA, PAPUA Lili Sarmili; Jevie F.X.
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1251.244 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.1.2009.169

Abstract

Mineral Zirkon sebagai mineral primer umumnya ditemukan pada batuan beku, batugamping kristalin, sekis, dan genes, juga di dalam batuan sedimen sebagai sedimen plaser yang diendapkan di pantai dan di muara sungai. Hasil analisis petrografi dari empat lokasi contoh di teluk Wondama Papua Barat, menunjukan WDM06-20 adalah amfibolit, WDM06-21 adalah mica schist, WDM06-22 adalah amfibolit, dan WDM06-23 adalah schist. Hasil analisis kimia lainnya menunjukan bahwa batuan asal termasuk kedalam batuan yang bersifat siliceous-alkali-calsic rock, sedangkan keterdapatan zirkon di daerah penyelidikan berada di dalam lingkungan batuan metamorf. Hasil ploting tipologi, mineral zirkon yang diambil dari percontohan di sepanjang pantai, termasuk kedalam tipe utama granite terutama berasal dari kerak benua dan berdasarkan populasi dan bentuk kristal termasuk ke dalam (Sub)autochthonous Monzogranit and Granodiorites. Berdasarkan data analisis kimia dan bukti-bukti di lapangan bahwa batuan asal dapat ditafsirkan sebagai batuan bersifat granitik yang telah mengalami proses granitisasi menjadi batuan metamorfik. Kata Kunci : Mineral zirkon, batuan metamorf, granit, Teluk Wondama Papua. A zircon mineral as a primary mineral is generallly formed in the igneous rocks, crystalline limestones, schists, and gneisses also in sedimentary rocks in beaches and rivers as placer deposits. The petrographical analyses from four differents samples shows that WDM 06-20 is amphibolite, WDM 06-21 is micca schist, WDM 06-22 is amphibolite and WDM 06- 23 is schist. From other chemical analyses show that the source rocks belong to siliceous-alkali-calsic rocks whereas the occurrences of zircon minerals in the study area are correlates to metamorphic rocks. On typological evolution trends, zircon minerals from samples taken alongs the shoreline are plotted as granitic rocks of continental crust, and based on their population and crystallographical forms they are in (sub) autochthonous Monzogranite and Granodiorite. Based on data of chemical analyses and fieldworks, the source rock can be interpreted as granitic rocks which have been substituted by granitization process to be metamorphic rocks. Keyword : Zircon mineral, metamorphic rock, granite, the Wondama Bay of Papua.
PENELITIAN DINAMIKA PESISIR MUARA SUNGAI COMAL DAN SEKITARNYA, JAWA TENGAH, DITUNJANG OLEH PENAFSIRAN DATA FOTO UDARA DAN CITRA SATELIT Prijantono Astjario; Yudi Darlan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.577 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.1.2009.165

Abstract

Perubahan garis pantai di kawasan pesisir Kabupaten Tegal, Pemalang dan Pekalongan disebabkan oleh aktifitas sungai-sungai yang bermuara di pantai utara Pulau Jawa. Sungai-sungai tersebut mengangkut material sedimen yang disebarkan di Laut Jawa dan diendapkan kembali di sepanjang garis pantai oleh aktivitas gelombang laut mengakibatkan kawasan pesisir utara Pulau Jawa mengalami akresi. Iklim turut berperan dalam mempengaruhi perubahan garis pantai tersebut, khususnya pada musim hujan dimana air sungai akan meluap dan membanjiri kawasan pesisir dan mengendapkan material sedimen yang berlebihan. Citra Landsat 7 ETM+ hasil rekaman tahun 2002 menunjukan bentukan delta muara sungai Comal yang mengalami perubahan membentuk “cuspate”. Perubahan garis pantai di mulut muara diperkirakan karena arah muara sungai Comal selalu berpindah-pindah seirama dengan jumlah pasokan air sungai dan material sedimen terangkut, iklim serta aktivitas gelombang dan arus yang bergerak saat itu. Kata kunci : garis pantai, iklim, banjir, akresi dan cuspate. Coastline changes in Kabupaten Tegal, Pemalang and Pekalongan are caused by the rivers activity which spread out to the Java Sea. The sediment materials have been transported and distributed to the Java-sea and redeposited along the coastline by wave activities. Consequently, the coastline has been rapidly accreted by sedimentary processes. Closely climatic supported coastline changes during the rainy season, flooding covered river mouth area and deposited all sediment materials. Landsat 7ETM+ Satellite imageries recorded in 2002; delta form in river mouth of Comal River has been changed into cuspate delta form. The changes of delta configuration especially in the river mouth area have been interpreted by river water supply, sediment materials, climatic, wave and current activities. Keywords: coastline, climatic, flood, cuspate and accression.
PROSES SEDIMENTASI DI TELUK SAMPIT, KABUPATEN KOTA WARINGIN TIMUR KALIMANTAN TENGAH DALAM KAITANNYA DENGAN ALUR PELAYARAN KE PELABUHAN SAMPIT Wayan Lugra; Ketut Gede Aryawan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.624 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.1.2009.170

Abstract

Teluk Sampit adalah tempat bermuaranya Sungai Mentaya yang merupakan akses menuju ke pelabuhan Sampit sebagai pelabuhan utama di propinsi Kalimantan Tengah. Masalah utama yang terjadi di alur pelayaran adalah sedimentasi yang cukup tinggi yang dibawa oleh daerah aliran sungai yang bermuara di Teluk Sampit. Proses sedimentasi dan pembentukan pantai yang terjadi di teluk Sampit sangat dipengaruhi sistem arus sungai, pasang surut dan energi gelombang, serta pasokan sedimen dari sungai-sungai. Hasil penelitian menunjukan bahwa sedimentasi yang paling tinggi terjadi di daerah barat bagian dalam teluk yang terlindung oleh spit Ujung Pandaran, dimana jenis pantainya berbakau. Di bagian timur proses sedimentasi relatif lebih kecil karena garis pantai terbuka terhadap Laut Jawa sehingga pengaruh energi gelombang dan pasang surut cukup tinggi. Endapan pantai ini berupa sedimen pasir yang mengindikasikan diendapkan pada lingkungan energi tinggi. Proses pembentukan Spit Ujung Pandaran murni oleh proses marin yaitu gelombang, pasang surut dan arus memanjang pantai, dimana pasokan sedimen dari hasil pelapukan dan abrasi Formasi Pembuang yang terletak di sebelah barat bagian luar. Spit ini sangat berpengaruh terhadap lebar mulut teluk dan pendangkalan di teluk. Morfologi permukaan dasar laut teluk Sampit menunjukan hal yang tidak lazim, dimana di bagian tengah ada lekukan yang memiliki kedalaman sampai dengan 18 meter, hal ini dapat ditafsirkan bahwa pernah dilakukan pengerukan di mulut teluk untuk keamanan navigasi. Untuk menjaga keamanan navigasi di teluk Sampit agar dapat dilayari maka harus dilakukan pengerukan secara berkala. Kata Kunci : sedimentasi, morfologi permukaan dasar laut, pengerukan, Teluk Sampit Sampit Bay is the place of Mentaya estuary as an access to the main Sampit Harbour in the Central Kalimantan Province. The main problem for the access is high of sedimentation transported by many rivers into the Sampit Bay. Sedimentation process and beach forming in Sampit Bay are influenced by current river system, tide, wave energy and sedimentary supply from the rivers. From the field investigation indicate that high rate of sedimentation occur in western part of the inner bay, due to the bay is protected by Ujung Pandaran Spit, where mangrove is dominated in that beach. In the eastern part, the sedimentation rate is relatively small, because the coast line is open to the Java Sea, so that the influence of wave and tide energy is relatively high. This coastal deposit is represented by sand so that the sediment was deposited in high energy environment. The formation of Spit Ujung Pandaran is pure by marine procceses such as tide, wave, longshore current, where the sedimentary supply from weathered and erotion of Pembuang Formation, which is located in the west off Ujung Pandaran Capé. The spit can influenced to the wide of the bay and high rate sedimentation at the bay. The sea floor morphology of the Sampit Bay is not common, where in the central of the bay, we found a small basin with 18 meters depth, this fact is interpreted that the basin had been dredged in the mouth of the bay for safety navigation. For safety navigation in the Sampit Bay, it is consequently must be dredged regularly. Key words : sedimentation, morphology of the sea floor, dredged, the Sampit Bay
ZONA SESAR DI PERAIRAN KALIMANTAN SELATAN (LP 1611) Lukman Arifin; Wayan Lugra
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3077.578 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.1.2009.166

Abstract

Penafsiran data rekaman seismik pantul dangkal daerah telitian memperlihatkan adanya struktur dangkal berupa sesar-sesar yang berarah timurlaut-baratdaya. Zona sesar tersebut terletak pada Zona Tektonik Muria-Meratus. Jika zona sesar ini dianggap aktif, maka perlu diperhatikan terutama untuk kontruksi lepas pantai. Kata kunci: struktur dangkal, zona sesar, Muria-Meratus Shallow seismic data interpretation indicate several fault structures in the study area. The direction of these faults is NE-SW and coincide with the Muria-Meratus Tectonic Zone. If this fault zone is assumed to be potentially active, then it need the attention especially for marine construction. Key word: shallow structure, fault zone, Muria-Meratus
ANALISIS SEDIMEN DAN PERUBAHAN KONDISI LINGKUNGAN:DAERAH KASUS DELTA MAHAKAM KALIMANTAN TIMUR Yudi Darlan; Udaya Kamiludin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.872 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.1.2009.167

Abstract

Delta Mahakam mempunyai sumberdaya minyak dan gas bumi serta sumberdaya laut lainnya. Hutan mangrove di kawasan Delta Mahakam merupakan salah satu parameter kelestarian lingkungan. Pembukaan lahan mangrove Delta Mahakam untuk daerah pertambakan ikan, pemukiman, dermaga, dan industri, serta untuk alur pelayaran mengakibatkan berkurangnya tanaman mangrove, perubahan dinamika sedimentasi dan lingkungan kawasan pesisir. Kawasan yang rusak diperkirakan lebih dari 80 persen. Sekitar 20 persen dari luas sekitar 1.400 kilometer persegi, hutan mangrove yang masih baik. Ini adalah sebagai bukti Delta Mahakam mengalami proses destruktif. Sebanyak 15 contoh sedimen permukaan dan 2 contoh air permukaan diambil dari lokasi dekat dengan kegiatan industri perminyakan dan daerah hunian telah dianalisis unsur utama dan unsur logam berat. Berdasarkan analisis unsur utama dan unsur logam berat ke 15 contoh sedimen tersebut mengandung unsur silika (SiO2) >50% dan unsur air raksa (Hg) < 2000 ppb. Ke 2 contoh air mengandung unsur logam berat Cadmium (Cd) antara 0 ppb dan 54 ppb, dan Hg antara 1 ppb – 2 ppb. Merujuk pada baku mutu air laut dan baku mutu sedimen maka kualitas air laut dan sedimen Delta Mahakam masih dalam batas normal atau dikatagorikan sebagai kondisi belum tercemar. Jadi perubahan kondisi lingkungan Delta Mahakam tidak memberikan dampak terhadap kuallitas baku mutu sediment dan air secara kimiawi, Kata kunci: analisis unsur utama, analisis unsur logam berat, perubahan lingkungan, Delta Mahakam, Kalimantan Timur The Mahakam Delta has natural resources of oil and gas and other marine resources. Mangroves of the Delta Mahakam is one of an environmental indicator Deforestation of mangroves of Delta Mahakam for fishery ponds, settlements, harbor, industries, and for marine transports cause to decrease of those mangroves, changes of dynamics of sedimentation and coastal environments. Mangroves are about 80% in bad condition and whereas 20% of them are in still good condition from total areas of 1.400 km square. This indicates that the Delta Mahakam is in destructive processes. 15 samples from surfacial sediment and 2 samples from surface water taken from locations where close to oil industry fields and settlement areas were analyzed for major and heavy metal elements. According to the analyses those 15 samples, they content elements of silica (SiO2) >50% and mercury (Hg) <2000 ppb. The two samples of water content elements of cadmium (Cd) from 0 ppb – 54 ppb, and Hg from 1 ppb – 2 ppb. Referring to the standard of seawater and sediment quality the water and sediment of the Mahakam Delta are in good condition or no pollution. In fact, changes of the Mahakam Delta environmental condition do not cause impacts to the quality of seawater and sediment of the Mahakam Delta. Keywords: major element analyses, heavy metal element analyses, environmental changes, the Mahakam Delta, East Kalimantan
DESAIN SURVEI METODA MAGNETIK MENGGUNAKAN MARINE MAGNETOMETER DALAM PENDETEKSIAN RANJAU Subarsyah Subarsyah; Ketut Gede Aryawan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.785 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.1.2009.168

Abstract

Magnetometer memiliki kemampuan untuk mendeteksi objek logam (besi) dengan tingkat deteksi yang berbeda tergantung sensitivitas dan akurasinya. Kalibrasi merupakan salahsatu cara dalam menentukan daya deteksi dari sebuah magnetometer dimana hasilnya dapat digunakan dalam desain survei pendeteksian ranjau. Data hasil kalibrasi yang digunakan dalam paper ini adalah kalibrasi terhadap magnetometer Geometrics G-877. Prosedur kalibrasi dilakukan dengan cara melewatkan objek logam besi batangan pada 5 lintasan dengan jarak lintasan berbeda masing-masing 2, 3, 4, 5, dan 6 meter terhadap sensor magnetometer. Hasil kalibrasi menunjukan bahwa kemampuan deteksi sampai 5 m dilihat dari respon anomali magnetnya. Sehingga untuk desain survei dengan menggunakan 2 sensor magnet yang sejenis maka spasi lintasan 10 m dan jarak masing-masing sensor 2 m sementara kedalaman sensor dipertahankan 1 meter di atas dasar laut. Kata Kunci: magnetometer, kalibrasi, variasi harian. Magnetometer has ability to detect metal object (iron) with different level of detection, that depend on its sensitivity and accuracy. Calibration is one way in determine detection level of magnetometer where this procedure can be used to arrange survey design for mine detection. The result of calibration that will be used in this paper was calibration on Geometrics type G-877. Calibration procedure was done by passing plate iron object on 5 line with different distances 2,3,4,5 and 6 meters from magnetometer sensor. The result show that detection level up to 5 meters based on respond of anomaly magnetic and the survey design can be arranged in case using 2 sensor of magnetometer the line spacing will be 10 m and distance between both sensor 2 meter and depth sensor must be kept 1 meter above seabed. Keywords: magnetometer, calibration, diurnal variation.

Page 1 of 1 | Total Record : 6