Al-Qalam
Al-Qalam Jurnal Penelitian Agama dan Sosial Budaya adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan 2 edisi dalam setahun oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar. Terbit sejak tahun 1990. Fokus Kajian Jurnal berkaitan dengan penelitian Agama dan Sosial Budaya. Lingkup Jurnal meliputi Bimbingan Masyarakat Agama dan Layanan Keagamaan, Pendidikan Agama dan Keagamaan, Naskah keagamaan Kontemporer, Sejarah sosial keagamaan, Arkeologi religi, Seni dan Budaya Keagamaan Nusantara.
Articles
662 Documents
POLITISASI IDEOLOGI DALAM LINTASAN SEJARAH
Margriet Moka Lappia;
A. Lili Evita
Al-Qalam Vol 25, No 3 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (340.346 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v25i3.783
Een Kwestie Van Macht (persoalan kekuasaan) karya Anthony Van Kampen, mengisahkan riwayat dr. l.j.a. schoonheyt yang mengalami perubahan nasib yang drastis akibat politisasi ideologi setelah menulis bukunya boven digoel.. dokter ahli penyakit tropis di tanah jajahan Hindia belanda yang berkarier gemilang, dihormati serta hidup mapan ini, menjadi tahanan politik tanpa prosedur yang normal. ia ditawan sejak 1940 dan saat belanda menyerah di tahun 1942, diberangkatkan ke Suriname, dan baru dibebaskan kembali tahun 1946. penuh perjuangan dan untuk waktu yang lama, schoonheyt mengusahakan rehabilitasi namanya. Chalid Salim, adik agus salim, yang berjuang untuk kaum tertindas dan dibuang belanda mengalami nasib yang tak jauh berbeda. nasib dan perlakuan penahanan sebagai dampak politisasi ideologi juga dialami banyak orang di tahun 1965 dengan pecahnya g30s. ada yang memang bersimpati dan aktif dalam organisasi politik pki, namun ada juga yang hanya mendaftar dalam suatu organisasi berorientasi komunis untuk mengikuti kegiatan seni menyanyi atau menari. ini nyata dari kesaksian dalam acara Kick Andy Show tanggal 3 mei 2019 yang menginterviu ibu-ibu mantan tapol yang menjadi korban penahanan tanpa prosedur pengadilan. mereka masih mengharapkan rehabilitasi nama mereka. di masa kini istilah politisasi ideologi kembali terdengar. pihak yang ditangkap merasa dizalimi dan menuduh penguasa melakukan kriminalisasi. sebaliknya pihak penguasa menyatakan menjalankan kewajibannya sesuai prosedur hukum yang berlaku. melalui metode heuristik dan analisis wacana peristiwa-peristiwa ini akan direkonstruksi dan dianalisis dimana akan diperlihatkan betapa kondisi politik dan kebijakan penguasa, dipengaruhi rumor media, dapat membuat sejumlah orang tak bersalah menjadi korban politisasi ideologi.
PERGESERAN SISTEM PERNIKAHAN ENDOGAMI MASYARAKAT ETNIS BUGIS
A. Dian Fitriana;
Khaerun Nisa'
Al-Qalam Vol 26, No 1 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (215.651 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v26i1.825
Endogamy or marriage in family clumps or known as in-marriage is one way to maintain kinship relations in Bugis society. The purpose of this research is to know the development of the endogamous marriage system adopted by Bugis ethnic society to the present. This research uses qualitative method with fenomenology approach. The subject of this research consisted of six pairs of husband and wife who had mixed ethnic marriages. The results showed that the contemporary Bugis extended the boundaries of endogamy, from within close and extended families (cousins) to Bugis from the same village, and eventually to ethnic Bugis generally. But over the times, technology and time have been able to erode the endogamous marriage system that was originally adopted by the Bugis ethnic society. There are several reasons that affect Bugis endogamous marriage system, such as the background of parents who choose to marry different cultures, gender (males who have more influence to determine the spouse), characters and prospective spouse's work.
PENGUATAN DAKWAH MELALUI PESAN KHOTBAH JUMAT DI MASJID RAYA LAMA KENDARI
Muhammad Nur
Al-Qalam Vol 26, No 1 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (205.195 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v26i1.776
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan serta memberikan informasi tentang bagaimana bentuk penyanmpaian Khotbah Jumat, dan memberikan gambaran tentang topik apa saja yang hadir dalam pesan-pesan Kotbah Jumat yang di sampaikan oleh khatib yang terdapat dalam teks Khotbah yang di sampaikan di Masjid Raya Lama Kendari. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dipadukan dengan analisis isi deskriptif, tujuanya adalah untuk menggambarkan secara detail suatu pesan atau teks tertentu, yaitu teks Khotbah Jumat, tanpa bermaksud melakukan generalisasi dalam mengambil kesimpulan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, dokumentasi dan melalui rekaman audio. Penelitian ini menemukan bahwa bentuk penyampaian Khotbah Jumat di Masjid Raya Lama Kendari adalah dengan membawa teks atau catatan kecil yang dibawah ke atas mimbar sebagai pemandu agar tidak terjadi kesalahan dalam mengutip dalil-dalil yang akan disampaikan, dengan menggunakan suara atau nada yang tinggi jika ada kalimat penekanan yang harus di perhatikan sebagai poin penting dalam pesan teks tersebut, namun sesekali merendah. Sedangkan yang menjadi topik dalam pembahasan Kotbah Jumat berupa ajakan pentingnya menyiapkan bekal kahidupan di dunia sebagai persiapan kita untuk menyongsong kehidupan yang sesungguhnya.
DISKURSUS MODERASI ISLAM DALAM PENGGUNAAN CADAR DI IAIN SORONG
Sudirman Sudirman;
Muhammad Rusdi Rasyid;
Rosdiana Rosdiana
Al-Qalam Vol 26, No 1 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (210.341 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v26i1.823
AbstrakFokus penelitian ini adalah menganalisis pemakaian cadar dalam perspektif moderasi hukum Islam di kampus IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sorong. Pendekatan penelitian deskriktif kualitatif dengan metode penelitian menggunakan studi kasus. Responden dalam penelitian ini adalah Dosen, mahasiswa, dan civitas akademik IAIN Sorong. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pandangan mengenai pemakaian cadar di kampus IAIN Sorong. Ada dosen yang melarang pemakain cadar saat dalam kelas tatap muka berlangsung ada juga dosen yang membiarkan pemakaian cadar dibolehkan. Terdapat mahasiswa yang tetap mempertahankan untuk memakai cadar meskipun harus meninggalkan atau keluar pada mata kuliah yang melarang memakai cadar saat dalam kelas. Ada juga mahasiswa yang dengan membuka cadarnya saat tatap muka berlangsung. Tawaran moderasi hukum Islam terhadap kedua permasalahan tersebut terletak lahirnya sebuah regulasi yang berlandaskan kemaslahatan tanpa mengorbankan hak mahasiswa. Keyword: Cadar, Moderasi, Hukum Islam, IAIN Sorong.
AJI UGI: PERGUMULAN ISLAM DENGAN TRADISI LOKAL DAN GAYA HIDUP DALAM MASYARAKAT BUGIS
Syamsurijal Adhan;
Musafir Pababari;
Muhammad Ramli;
Wahyuddin Halim
Al-Qalam Vol 26, No 1 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (312.786 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v26i1.846
Haji adalah salah satu rukun Islam yang kelima. Umat Islam juga meyakini bahwa haji adalah ibadah yang pahalanya berlipat ganda. Tetapi dalam masyarakat Bugis haji bukan semata-mata praktik ibadah dan ritual untuk memenuhi rukun Islam yang kelima. Haji juga terkait dengan ritual lokal, penanda status sosial, bahkan juga kini menjadi bagian dari gaya hidup. Penelitian dengan metode kualitatif di salah satu daerah Bugis, yaitu di Segeri kabupaten Pangkajene Kepulauan, menemukan corak haji orang-orang Bugis yang telah mengalami perjumpaan antara ajaran Islam, tradisi lokal dan modernitas. Perjumpaan ini melahirkan corak haji yang unik, sebab diekspresikan dengan cara-cara lokal di satu sisi, sekaligus dipengaruhi modernitas di sisi yang lain. Dalam ekspresi semacam itulah ditemukan praktik yang disebut Haji Bawakaraeng, Haji Calabai (Haji Waria) dan Haji Pa’gaya (Haji yang suka bergaya). Tetapi di saat yang sama juga ditemukan Haji yang sarat dengan nuansa hikmah, misalnya haji sebagai were na pammase (Haji sebagai takdir dan Rahmat Tuhan) dan haji sebagai assenu-senungeng (ritual haji adalah simbol pengharapan terhadap hal yang baik). Keseluruhan praktik haji semacam itu mencerminkan sebuah praktik keberislaman ala Bugis, yang disebut dengan “Aji Ugi”. Aji Ugi ini menjadi semacam ekspresi Islam lokal yang sekaligus universal, Islam tradisional sekaligus modern.
SYEKH MOHAMMAD ARSYAD THAWIL 1851-1934 : PERJUMPAAN ULAMA BANTEN DENGAN JEMAAT KRISTEN MINAHASA
Almunauwar Bin Rusli
Al-Qalam Vol 26, No 1 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (553.453 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v26i1.779
The fight of Ulama in the history of Indonesian colonialism took place through eschatological awareness, ethical action and mystical reflection. Syeikh Mohammad Arsyad Thawil is one of the important Ulama in this case. He was born in Tanara, Banten 1851 and died in Lawangirung, Manado 1934. Syekh Mohammad Arsyad Thawil studied Islam on three teachers: Syeikh Abdul Gani Bima, Syeikh Ahmad Zaini Dahlan and Syeikh Nawawi Al-Bantani. He lived in Makkah from 1868-1873 and was involved in the Banten peasant uprising 9-13 July 1888. First, since 1808 Banten fell under Dutch rule. Colonial bureaucracy destroys traditional bureaucracy. Second, abolition of inheritance, tax collection and forced labor. Third, the raises of sufi movements, pesantren and pilgrimage groups that formed the Pan-Islamic ideology. When exiled at Airmadidi, Minahasa 1888, the da’wah of Syeikh Mohammad Arsyad Thawil was supported by Kapiten Tan Tjin Bie. Thus, Islam and Tionghoa have relations of knowledge and power because of cooperation of commerce and memory of commerce.
PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN KITAB KUNING DI PESANTREN PUTRA ALKHAIRAAT PUSAT PALU
Amir, Syarifuddin
Al-Qalam Vol 26, No 1 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (295.842 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v26i1.827
Kitab Kuning merupakan salah satu rukun dari beberapa rukun pesantren. Oleh karena itu, pembelajaran Kitab Kuning sesuatu yang mutlak dilaksanakan oleh setiap pesantren. Namun faktanya, banyak pesantren yang tidak melaksanakan pembelajaran kitab Kuning. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang memotret problem pembelajaran kitab kuning yang dihadapi oleh Pesantren Putra Alkhairaat Pusat Palu. Kajian ini menemukan bahwa Kitab Kuning diajarkan secara langsung di Pesantren Putra Alkhairaat Pusat Palu masih pada taraf kitab tingkat dasar seperti Matan Aljurumiyah, Nahwu al-Wadhih, Aqidah al-?Awwam, Risalah al-Jami?ah, Matan Safinah al-Naja dan Muqaddimah Hadramiyyah. Realitas tersebut disebabkan karena minimnya tenaga pengajar. Sistem kaderisasi tenaga pengajar yang tidak berjalan juga berkorelasi dengan problem pendanaan dalam operasional pesantren yang lebih mengandalkan iuran pembayaran dari santri. Sehingga pihak pesantren kesulitan mencari tenaga pengajar yang bisa mengabdikan waktu dalam mengajar kitab kuning. Disisi lain secara metodologis, masalah yang dihadapi yaitu tidak adanya konsep kurikulum dan silabus yang baku yang menjadi acuan wajib dalam pembelajaran kitab kuning.
GELIAT, DILEMA SATU RUMAH DUA NEGARA DAN TRADISI KEAGAMAAN SEBAGAI KEKUATAN PEMERSATU DI KALANGAN MUSLIM SEBATIK
Abd Kadir Ahmad
Al-Qalam Vol 26, No 1 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (268.167 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v26i1.820
Improving the quality of life of the people in the border areas is the concern of the government in a united spirit to develop Indonesia from the edge to achieve national integrity and increase community benefit. One of the prerequisites for the benefit of the community is the maintenance of unity, especially Muslims. This study aims to examine and explore religious traditions as cultural and social capital of the Sebatik people to increase unity in society. The study used a qualitative approach with in-depth interviews, observations, and document reviews used to collect data. The research analysis was conducted descriptively and analytically through the mechanism and process of data reduction, data display and data verification. Documents were analyzed using content analysis. Research findings indicate (1) a number of social, economic, and security issues, as a consequence of Sebatik's position as a border area; (2) however, the problems that arose did not shake the unity and integrity of the local community and the border region between the two countries; (3) one of the binding factors of unity is social and cultural capital in the form of religious traditions as the cultural core of the society supported by the dominant culture of the Bugis people.
RITUAL DALAM SIKLUS HIDUP MASYARAKAT BAJO DI TOROSIAJE
Kamaruddin Mustamin;
Sunandar Macpal
Al-Qalam Vol 26, No 1 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (278.337 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v26i1.799
Penelitian ini bermaksud menjawab pertanyaan bagaimana life cirle masyarakat Bajo di Torosiaje Serumpun baik di laut maupun di darat: Bagaimana perubahan life circle pada masyarakat Bajo di darat; faktor apa saja yang menjadikan adanya perubahan dalam life circle. Penelitian dilaksanakan di pada tiga desa yang termasuk dalam Bajo Serumpun yakni Desa Torosiaje, Torosiaje Jaya dan Bumi Bahari yang dilakasaakan pada tahun 2019 dengan menggunakan skema pembiayaan dari Diktis Kemenag. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan FGD. Temuan dari penelitian ini bahwa dalam melewati setiap siklus hidup pada masyarakat Bajo baik di Darat maupun di laut selalu dilakasaakan ritual/maupun tradisi adat. Pada fase kehamilan atau Bitta sudah dilaksanakan ritual pemasangan sangkine begitu juga pada fase ngana/ana’ dilaksana ritual berupa ngita ura (pemotongan tali pusar bayi), temuni, tiba kaka dan bantang. Pada fase bayi dilaksaakan ritual kukkor (gunting rambut) dan sunna (sunat bagi anak perempuan). Pada fase remaja dilaksanakan sunna, (sunnat bagi laki-laki) dan baiat bagi anak perempuan. Pada fase dewasa dan menikah dilaksanakan prosesi massuroh dan nabo botte. Sementara pada fase terakhir, atau kematian/kapatayang dilaksanakan ritual melaku tana untuk penggalian kubur, dan ngalabangi untuk pelaksanaan doa tahlilan. Pemindahan suku bajo kemudian melahirkan segregasi pada masyarakat Bajo sehingga melahirkan istilah Bajo Darat dan Bajo Laut. Bagi Bajo Darat, bajo laut merupakan culture core atau pusat kebudayaan orang Bajo sehingga segala bentuk kebudayaan selalu merujuk pada Bajo Laut. Namun demikian bukan berarti masyarakat Bajo Darat tidak terjadi perubahan, kaitannya dengan ritual dalam siklus hidup telah terjadi perubahan dalam beberapa hal, seperti misalnya kehamilan, kelahiran, dan kematian. Hal yang paling mendasar dalam perubahan dalam siklus hidup dari masyrakat Bajo adalah soal nilai dari sebuah ritual. Ritual pada masyarakat Bajo Darat tetap dilaksanakan namun pada beberapa aspek seakan telah kehilangan esensi dari ritual tersebut. Perubahan yang terjadi selain karena faktor ekology, ternyata kehadiran negara menjadi faktor yang sangat kuat terjadinya perubahan sosial masyarakat Bajo di Darat.
HAJI FUNDS FOR INFRASTRUCTURE INVESTMENT
Muh Fudhail Rahman;
Shubhan Shodiq;
Aida Humaira
Al-Qalam Vol 26, No 1 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (346.972 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v26i1.812
As an implementation of the conditions for istita'ah, for person who want to register pilgrimage, the government requires paying amount of money called Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH). The accumulated funds have reached untill trillions of rupiah, this accumulation has potential to be developed. Currently, there is debate about the permissibility of using BPIH outside the direct interests of pilgrims such as government infrastructure investment. This research uses normative juridical research. This study also uses a statutory approach and a comparative approach. The results of this study indicate the pilgrimage fund can be invested. However, in terms of the ability to use the pilgrimage funds for investment in government infrastructure, there must be permitted by people who want to go on pilgrimage, or can be used in infrastructure that is directly related to the pilgrimage.