cover
Contact Name
Abu Muslim
Contact Email
abumuslim@kemenag.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
abumuslim@kemenag.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Al-Qalam
ISSN : 08541221     EISSN : 2540895X     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al-Qalam Jurnal Penelitian Agama dan Sosial Budaya adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan 2 edisi dalam setahun oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar. Terbit sejak tahun 1990. Fokus Kajian Jurnal berkaitan dengan penelitian Agama dan Sosial Budaya. Lingkup Jurnal meliputi Bimbingan Masyarakat Agama dan Layanan Keagamaan, Pendidikan Agama dan Keagamaan, Naskah keagamaan Kontemporer, Sejarah sosial keagamaan, Arkeologi religi, Seni dan Budaya Keagamaan Nusantara.
Arjuna Subject : -
Articles 662 Documents
DESIGN AND IMPLEMENTATION OF UNIFIED MANAGEMENT SYSTEM FOR TEACHING ARABIC LANGUAGE IN MA’HAD AL-BIRR UNDER SUPERVISION OF ASIA MUSLIM CHARITY FOUNDATION Muhammad Ali Bakri
Al-Qalam Vol 25, No 2 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.742 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i2.735

Abstract

A management system has to be developed to suit the current situation in Indonesia, which would efficiently and effectively promote and educate Arabic Language and Islamic Studies for students. Improvement of management system of the Ma'had (Islamic boarding school) is a must, and following it is a necessity. The Government has Islamic Universities for Indonesian Muslims, same as it has for other religions. However, the Islamic Universities are very weak, even people who are graduating from Arabic Language faculty with a high grade do not know how to speak fluently in Arabic.  Therefore, it is necessary to study how to develop a unified college management system to be implemented in each college. Qualitative research approach was applied to answer the research question. This study was conducted in Ma’had Al-Birr–Muhammadiyah University of Makassar, South Sulawesi, Indonesia. Observation and depth interview were applied to collect data. Some document analysis was employed to clarify the interview and observation data. This article is to describe education management system has been developed to achieve excellence in teaching Arabic Language and proper Islamic studies as per Quran and Hadith in the Ma’had Al-Birr Unismuh Makassar under the control and supervision of AMCF (Asia Muslim Charity Foundation). Some learning design have been taken are unified syllabus to be taught in all the college; an equally qualified staff to be employed; easy centralized supervision and control over all the college; unified academic calendar to be formulated for every academic year and formulating a single board for preparing the unified tests for all the college. This is one of the primary steps AMCF is taking now, with the vision of having a network of college, providing best possible learning opportunities and facilities in general, and scholars in particular, to learn Arabic Language and Islamic Studies. The AMCF future vision is to increase the number of qualified Scholars and Teachers in Indonesia, so that in turn, those scholars and teachers could contribute to solve the social problems in Indonesia by providing proper guidance to the public. 
PERNIKAHAN DINI DI KOTA YOGYAKARTA DITINJAU DARI ASPEK PENDIDIKAN AGAMA Hanif Cahyo Adi
Al-Qalam Vol 25, No 2 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.245 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i2.759

Abstract

Fenomena pernikahan dini saat ini marak terjadi di berbagai tempat. Pernikahan dini muncul karena ada factor pemicunya. Salah satu factor utama dalam pernikahan dini adalah adanya kasus kehamilan pra nikah. Kasus ini banyak terjadi karena kurangnya pengetahuan tentang pendidikan. Selain factor pendidikan. Kurangnya pengetahuan dan informasi tidak cukup membantu dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Ketidaksiapan dari aspek mental. Ekonomi, status social berdampak pada keberlangsungan pernikahan dini. Akibatnya banyak terjadi perceraian dini diantara pasangan pernikahan dini. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan teknik analisis deskriptif analitis, yakni memberikan atau uraian tentang  fenomena, pandangan tokoh pendidikan Islam, faktor , dan sisi positif negatif dari perkawinan dini. Subyek penelitian di tentukan dengan teknik purposive sampling, dimana informan sudah ditentukan dengan sengaja berdasarkan lokasi tertentu yaitu daerah kota gede Yogyakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, observasi, dokumentasi dan pengumpulan literatur sesuai tema penelitian . berdasakan hasil analisis dan temuan dapat disimpulkan bahwa fenomena pernikahan dini di daerah Yogyakarta ternyata di sebabkan karena factor rendahnya tingkat pendidikan, minimnya wawasan agama, dan pergaulan sosial yang sangat bebas. Pasangan perniakahn dini, tidak banyak mengetahui sebelumnya tentang batasan dalam pergaulan dan perkawinan. Hal ini juga disebabkan karena factor pendidikan yang rendah. Rata – rata berpendidikan SD dan SMP. Dengan bekal pendidikan yang masih kurang sudah tentu mereka tidak dapat berpikir secara komprehensip tentang adanya pernikahan. Pernikahan dilangsungkan karena keterpaksaan.
EMMY SAELAN: PERAWAT YANG BERJUANG Bahri Bahri; Bustan Bustan; Andi Dewi Riang Tati
Al-Qalam Vol 25, No 3 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.378 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i3.791

Abstract

Emmy Saelan sosok perawat dan pejuang yang berperan dalam mempertahankan kemerdekaan di Sulawesi Selatan. Pejuang muda alumni SMP Nasional Makassar sejak muda memperlihatkan sikap anti terhadap penjajah. Berperan dalam pemogokan “Stella Marris” sebagai bentuk protes terhadapap penangkapan Gubernur Sulawesi Sam Ratulangi. Tahun 1946 bergabung dengan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) dibawah komando Ranggong Daeng Romo. Pada agresi meliter Belanda kedua, Emmy Saelan menggabungkan diri pada Laskar Harimau Indonesia pimpinan Wolter Mongonsidi, beliau menjadi pimpinan Laskar Perempuan sekaligus petugas Palang Merah. Perjuangannya berakhir setelah berhasil melemparkan granat pada pasukan Belanda di Kassi-Kassi pada tanggal 23 Januari 1947. Nasionalisme dan patriotismenya mengilhami, berperan ganda sebagai perawat dan pejuang pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Sulawasi Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian sejarah dengan langkah-langkah sebagai berikut; heuristik, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap perjuangan Emmy Saelan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Sulawesi Selatan dalam perannya sebagai perawat sekaligus pejuang.
MENGKAJI ULANG SALATIGA SEBAGAI KOTA TOLERANSI: MASA KOLONIAL HINGGA PASCA-KEMERDEKAAN Firdan Fadlan Sidik
Al-Qalam Vol 25, No 3 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.554 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i3.782

Abstract

Di era kontemporer ini Kota Salatiga terkenal sebagai kota toleransi di Indonesia yang dicetuskan oleh lembaga perdamaian. Tingkat pluralitas yang tinggi disertai kerukunan antar golongan menjadi salah satu tolak ukurnya. Salatiga telah melalui jejak sejarah yang berdinamika, mulai dari masa kolonial hingga era kontemporer. Zaman yang berbeda juga memiliki tantangan yang beragam. terdapat banyak sekali pemicu konflik dan perpecahan antar golongan, baik konflik fisik maupun non fisik. Penelitian ini akan meruntut sejarah Kota Salatiga dari masa kolonial sampai masa pasca kemerdekaan. Penelitian ini ingin mengkaji ulang Salatiga sebagai kota toleransi, apakah predikat tersebut masih relevan untuk disematkan kepada Salatiga jika melihat sudut pandang sejarah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini membuktikan bahwa terdapat fakta sejarah mengenai diskriminasi Kota Salatiga berupa diskriminasi di berbagai bidang kehidupan. Di balik tatanan kemegahan infrastruktur kota, terdapat kesenjangan rasial di balik pemanfaatnya
WAJAH AGAMA DI HADAPAN POLITIK IDENTITAS: REFLEKSI-KRITIS SEJARAH DI/TII DI SULAWESI TENGGARA Fathul Karimul Khair
Al-Qalam Vol 25, No 3 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.065 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i3.787

Abstract

Posisi agama dalam politik identitas belum banyak dibincangkan secara serius oleh para peneliti sosial. Salah satu peristiwa dalam sejarah Indonesia yang dapat dijadikan acuan untuk lebih jelas memandang persoalan itu adalah gerakan DI/TII di Sulawesi. Pimpinan gerakan ini adalah Qahar Muzakkar, seorang pemuda dari Sulawesi Selatan yang turut berjuang selama revolusi Indonesia. Ia berontak karena beberapa tuntutannya soal ketentaraan ditolak oleh TNI, lalu pada tahun 1953 menjadikan Islam sebagai landasan pemberontakannya. Makalah ini menggunakan kerangka pemikiran Francis Fukuyama soal politik identitas untuk menginvestigasi langkah praktis politik Qahar Muzakkar. Langkah taktis Qahar itu kemudian berimplikasi pada corak gerakan mereka di Sulawesi Tenggara, suatu daerah periferi dari Sulawesi Selatan ketika pemberontakan tersebut dideklarasikan. Berangkat dari studi arsip dan literatur dalam metode sejarah, makalah ini memperlihatkan ciri-ciri megalothymia dalam kelompok Qahar. Ciri yang demikian nampak ketika kelompoknya menggunakan agama baik untuk meneror maupun menarik simpati massa di Sulawesi Tenggara. Terdapat pula gambaran mengenai posisi ulama lokal Sulawesi Tenggara di bawah tekanan arus politik penuh darah itu. Gerakan DI/TII di Sulawesi Tenggara adalah satu contoh konflik politik identitas dalam sejarah Indonesia. Telaah kritis pada episode sejarah ini akan memperlihatkan bagaimana posisi agama sebagai wahana sekaligus korban dari suatu ambisi politik.
BANDIT-BANDIT REVOLUSI: KEKERASAN TERHADAP RAKYAT SIPIL SELAMA PERANG DI SUMATERA BARAT 1945-1949 Maiza Elvira
Al-Qalam Vol 25, No 3 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.225 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i3.794

Abstract

Tidak lama setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan tahun 1945, di Sumatera Barat ketegangan mulai terasa seiring dengan munculnya kelompok pro dan kontra republik. Kelompok pro republik mulai melakukan operasi sweeping di beberapa wilayah basis Eropa di Sumatera Barat, seperti Padang, Sawahlunto, dan Bukittinggi. Operasi yang utamanya diperuntukkan bagi orang Eropa dan Indo-Eropa, mulai melebar kepada masyarakat pribumi yang diduga termasuk kelompok anti Republik, seperti kaum bangsawan, etnis Tionghoa, pribumi pendatang seperti orang Nias dan orang-orang yang diduga dan dituduh sebagai “kaki-tangan” Belanda. Kelompok-kelompok tersebut menjadi sasaran operasi yang mereka lakukan: pembunuhan dan penyiksaan. Beberapa kali etnis Tionghoa, India dan pribumi yang menjadi sasaran kekerasan tersebut menyurati komandan pasukan Belanda saat itu yang berada di Padang untuk meminta bantuan. Aksi teror oleh kelompok liar bersenjata yang menamai dirinya kelompok republikeun tersebut melakukan penjarahan, dan sebelum mereka membakar rumah-rumah. Perempuan bahkan diculik; diperkosa dan kemudian dibunuh. Hal ini membuktikan bahwa di dalam tubuh tentara republik sendiri, bersemayam bandit-bandit yang motif perangnya bukan lagi semata-mata untuk mempertahankan kemerdekaan, tetapi dengan motif lain seperti balas dendam. Aksi bandit-bandit tersebut seolah dibiarkan, karena dilakukan atas dasar tujuan Revolusi. Hal yang menjadi pertanyaan adalah siapa dan dari mana bandit-bandit ini datang, dan motif yang mendasari mereka melakukan aksi tersebut? Penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah, dengan empat tahapan penelitian yaitu, heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data yang digunakan berupa arsip, foto-foto, koran Belanda dan Indonesia, ego dokumen para pejuang di Sumatera Barat, dan wawancara dengan pelaku yang terlibat pada masa perang tersebut.
KEKERASAN DAN KRIMINALITAS DI KOTA SEMARANG: ANTARA NEGARA KOLONIAL DAN OTORITAS LOKAL Putri Agus Wijayati
Al-Qalam Vol 25, No 3 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.444 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i3.795

Abstract

Memasuki dekade pertama awal abad ke-20, Semarang sebagai unit historis mengalami modernisasi yang didukung oleh terbangunnya infrastruktur sebagai kota kolonial, yang mengidealkan keteraturan. Kajian sejarah ini mencoba menghadirkan kehidupan keseharian warga kota dan penguasa kota yang diwarnai oleh keragaman faktual, mulai dari keteraturan hingga ketidakteraturan sosial, namun lebih difokuskan pada kondisi-kondisi ketidakteraturan, ketidakamanan, dan beragam persoalan sosial lainnya yang pernah terjadi di Kota Semarang pada empat dekade akhir era kolonial. Sebagai realitas masa lalu, berbagai permasalahan sosial yang berlangsung di Kota Semarang dikonstruksi berdasarkan sumber primer dan sekunder. Konstruksi historis ini dipahami melalui konsep kekerasan dan kriminalitas. Penguasa kota, yang dalam hal ini adalah gemeente merupakan representasi kuasa dari negara kolonial ingin membuat segala sesuatunya menjadi aman dan teratur, sehingga hukum dan aturan yang diproduksi oleh gemeente didasarkan pada cara pandang kolonial. Dalam konteks implementasi hukum itulah, kemudian atas nama keteraturan maka negara kolonial mengambilalih otoritas yang sebelumnya berada di tangan penguasa lokal, yang mengakibatkan ekslusivitas penguasa lokal. Pada saat yang sama, penguasa lokal ingin mempertahankan eksistensi diri di ruang kota, sehingga yang terjadi adalah sebagian dari mereka terkonversi ke dalam informal services atau ilegal agency di perkotaan. Kajian ini menyimpulkan bahwa ketidakteraturan sosial yang berlangsung di ruang kota membuktikan ketidakmampuan negara kolonial dalam mengatur warga kota.
HAK ATAS TANAH ADAT: GERAKAN MASYARAKAT ADAT PANDUMAAN-SIPATUHUTA SELAMA ERA REFORMASI Lasron P. Sinurat
Al-Qalam Vol 25, No 3 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.932 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i3.784

Abstract

Masa reformasi ditandai dengan munculnya berbagai gerakan sosial baru di Indonesia, salah satunya adalah gerakan masyarakat adat. Artikel ini akan membahas mengenai gerakan masyarakat adat Pandumaan-Sipituhuta di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara yang berhasil mempertahankan tanah adatnya, serta menjelaskan strategi perjuangan untuk mendapatkan pengakuan dan perlindungan hak atas tanah masyarakat hukum adat dari pemerintah. Tumpang tindih atas kepemilikan tanah adat dengan kawasan hutan negara mengakibatkan konflik antara masyarakat adat Pandumaan-Sipituhuta dengan PT. Toba Pulp Lestari (PT. TPL) pada tahun 2009. Masyarakat menolak tanah adatnya ditunjuk sebagai wilayah areal konsesi PT. TPL karena perusahaan menebangi pohon kemenyan milik masyarakat. Gerakan masyarakat adat Pandumaan-Sipituhuta menggunakan identitas budaya masyarakat Batak Toba sebagai alat perjuangannya. Perjalanan panjang perjuangan masyarakat adat Pandumaan-Sipituhuta atas tanah adatnya tidak terlepas dari berbagai kekerasan dan intimidasi dari berbagai pihak. Bahkan, sejumlah tokoh yang terlibat dalam konflik tersebut ditangkap dan dipenjara oleh aparat kepolisian. Pada akhir tahun 2016, Presiden Joko Widodo, melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menetapkan dan mengeluarkan tanah adat Pandumaan-Sipituhuta seluas 5.172 hektar dari konsesi PT. TPL. Pada awal tahun 2019, tanah adat tersebut disahkan sebagai hutan adat milik masyarakat hukum adat Pandumaan-Sipituhuta oleh Pemerintah Daerah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dan tahapan kerja ilmu sejarah.
K.H.MUHAMMAD SALEH THAHA Semangat Belajar, Kemandirian, dan Kepedulian Muhammad Hamdar Arraiyyah
Al-Qalam Vol 25, No 2 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (988.944 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i2.739

Abstract

This paper is intended to describe a short biography of a Muslim scholar (ulama) named K.H. Muhammad Saleh Thaha (d. 1999). Description focuses on some aspects of his life, like the process that he went through to improve his knowledge, some religious and local values that he emphasized in his interaction with others, his roles in the endeavors of Indonesian nation to liberate the country and the people from colonialism, and his dedication as an ulama and a bureaucrat.           Contemporary and next Muslim generations in this country are expected to know some principles of life and dedication of the figure. They might face special challenges, though they are expected to understand and follow the main objectives of struggles of former Muslim scholars. They should make sincere ulama as good models in their lives.             Main data is collected through interview, documents, and observation. Units of data are compared one another to put into description. Data description is based on a research finding explaining that there were always teachers on Islam among Muslim communities and they usually took care for the condition of their community members
BERTAHAN HIDUP DALAM MASA YANG SULIT: KEHIDUPAN SEHARI-HARI MASYARAKAT TIONGHOA PADA MASA REVOLUSI DI SURABAYA Noviani Mariyatul Hakim
Al-Qalam Vol 25, No 3 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.741 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i3.789

Abstract

Masa revolusi (1945-1949) merupakan salah satu periode yang mencekam dalam sejarah Indonesia. Peperangan yang terjadi selama periode ini, khususnya di Kota Surabaya dan sekitarnya telah menciptakan trauma yang dalam bagi para korbannya. Masyarakat lokal, khususnya kelompok-kelompok masyarakat minoritas seperti India dan Tionghoa berusaha mengamankan diri, mencari tempat perlindungan agar bisa bertahan hidup. Mereka yang mengungsi, merasa Kota Surabaya tidak lagi aman dan nyaman untuk ditinggali. Mereka antara lain mengungsi ke beberapa tempat yang dianggap aman seperti Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan Mojokerto. Dengan menggunakan berbagai sumber seperti surat kabar, arsip, karya sastra, dan wawancara dengan berbagai narasumber, artikel ini bertujuan untuk menggambarkan dan menganalisis nasib masyarakat Tionghoa saat meletusnya perang revolusi di Kota Surabaya dan sekitarnya. Pertanyaan utama yang hendak dijawab dalam tulisan ini adalah bagaimana orang-orang Tionghoa menyiasati agar tetap bertahan hidup dalam situasi perang yang sangat tidak aman bagi mereka. Bagaimana cara mereka mencari nafkah, bagaimana mereka menjalankan kehidupan sosial-budaya dan keagamaan mereka? Apakah klenteng sebegai pusat kegiatan religi mereka, aman dari perang? Dengan kata lain, artikel ini akan melihat lebih dalam bagaimana orang-orang Tionghoa Surabaya menyiasati kehidupan mereka selama masa revolusi.