cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 14115239     EISSN : 25984209     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words "patra" and "widya", derived from Sanskrit, and became an absorption word in Old Javanese. the word "patra" is derived from the word "pattra", from the root of the term pat = float, which is then interpreted by the wings of birds; fur, leaves; flower leaf; fragrant plants fragrant; leaves used for writing; letter; document; thin metal or gold leaf. The word "widya" comes from the word "vidya", from the root vid = know, which then means "science". Patrawidya is defined as "a sheet containing science" ISSN 1411-5239 (print) ISSN 2598-4209 (online).
Arjuna Subject : -
Articles 149 Documents
DAMPAK SOSIAL SEBUAH KARYA SENI PADA KAUM MISKIN DAN TERTINDAS KAJIAN SOSIOLOGIS PADA CANDI GANJURAN Bramasti, Danang
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 16 No. 4 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.204 KB) | DOI: 10.52829/pw.79

Abstract

Situasi sosial pada 1920-an, terutama situasi pribumi dan para buruh, mempengaruhi Schmutzer bersaudara (Josef dan Julius)untuk membuat rumah sakit, sekolah, panti asuhan,dan tempat peribadatan Katolik yang berbentuk candi yang kemudian dikenal dengan Candi Ganjuran. Candi ini selesai dibangun pada tahun 1930. Schmutzer bersaudara memilih bentuk candi untuk memperlihatkan keberpihakan mereka kepada pribumi yang tertindas. Setelah dibangun, candi ini terlupakan selama enam puluh tahun dan pada masa itu candi ini tidak terwat dan terbengkalai. Pada 1990, Gregorius Utomo Pr, atau yang akrab disapa Romo Tomo, menggali kembali semangat pendiri candi ini dengan mencanangkan Deklarasi Ganjuran. Sejak itu, candi ini menjadi tempat peziarahan Katolik yang terkenal di Indonesia. Para peziarah menyumbangkan uang yang kemudian digunakan untuk membantu mereka yang lemah secara ekonomi. Penelitian ini akan mengkaji latar belakang terbentuknya Candi Ganjuran dan dampak sosial yang terjadi setelah candi ini terbentuk. Metode penelitian dengan melakukan kajian dokumen, wawancara terhadap mereka yang terlibat dalam proses sosial candi itu, dan melakukan observasi lapangan. Penelitian ini menggunakan teori Dunia Seni dari Howard S. Becker yang mengatakan bahwa sebuah karya seni terbentuk dari proses sosial. Teori ini akan memperlihatkan adanya aktor-aktor yang saling terkait satu dengan yang lain dalam proses sosial yang terjadi pada candi itu dan dalam penelitian ini melihat kaitan tersebut pada mereka yang lemah secara ekonomi. Dengan demikian, penelitian ini memperlihatkan apakah Candi Ganjuran pada saat ini memperlihatkan keberpihakan pada mereka yang lemah seperti yang diharapkan oleh pendirinya.The social situation in the 1920s, especially the situation of indigenous and workers, affected the Schmutzers brothers (Josef and Julius) to make hospitals, schools, orphanages, and Catholic place of worship which is the Hindu temple shaped and then known as the Temple of Ganjuran. The temple was built in 1930. The Schmutzer brothers chose to make it in the temple shaped because they wanted to show that they took side to the oppressed natives. However, after the temple was built, it did not get the attention of Catholics so that it was forgotten for sixty years and at that time the temple was neglected. In 1990, Gregorius Utomo Pr, or familiarly called Romo Tomo, tried to explore the spirit of the founder of this temple by launched the Declaration of Ganjuran. And then now the temple becomes famous as a Catholic pilgrimage site in Indonesia. The pilgrims donate a lot of money to help the poors. This study will examine the background of the establishment of the Temple of Ganjuran and then the social impacts that occur after the temple was established. This social process will be studied through the theory of Art World by Howard S. Becker (Art World, 2008) by examining documents, interviews with people involved with the temple and field observations. This process will show the actors who are interlinked in a social process that occurs in the course of life of the Temple of Ganjuran, especially to the poors. Thus, this study will show whether the temple Ganjuran currently showing solidarity towards the poors as expected by its founder. 
PENGALAMAN RELIJIUSITAS DALAM TEATER TRADISIONAL MASYARAKAT MADURA DI SITUBONDO Hidayatullah, Panakajaya
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 19 No. 3 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.522 KB) | DOI: 10.52829/pw.121

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian antropologi seni dengan menggunakan metode etnografi. Secara komprehensif menyoroti persoalan mengenai pengalaman relijiusitas masyarakat Madura di Situbondo dalam pertunjukan teater tradisional: Drama Al Badar dan Tabbhuwân Wali Sanga. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengalaman relijiusitas masyarakat Madura melalui seni lebih bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. Dibuktikan dari beberapa pengalaman pelaku seni dan penonton yang memaknai seni teater tradisional sebagai bagian dari laku spiritualnya. Internalisasi nilai-nilai Islam kepada masyarakat Madura cenderung lebih mudah diterima melalui seni tradisi. Relijiusitas melalui teater tradisional ini menunjukkan kecenderungan Islam tradisional, bisa dikatakan juga Islam kultural, atau Islam yang bisa integral dengan budaya lokal (sinkretis). Pengalaman relijiusitas ini juga dapat dijelaskan melalui sifat seni tradisi yang mampu menghadirkan peristiwa ‘ambang’ pada pelaku seni dan penontonnya. Peristiwa ‘ambang’ memberikan pengalaman yang kompleks, ambigu, pelik, serta membuka kemungkinan alternatif dan cara pandang yang baru dalam memahami dunia dan kehidupan. Melalui pengalaman relijiusitas yang dihadirkan oleh peristiwa ‘ambang’ inilah masyarakat Madura menemukan momen perjumpaannya dengan Tuhan.____________________________________________________________This article is the result of anthropological research using ethnographic methods. Comprehensively highlight the issue of the religious experience of Madurese people in Situbondo in traditional theater performances: Drama Al Badar and Tabbhuwân Wali Sanga. The results of the study show that the religious experience of Madurese people through art can be closer to God. Evidenced by several experiences of art performers and spectators who interpret traditional theater art as part of their spiritual practice. Internalization of Islamic values to the Madurese people tends to be more easily accepted through traditional arts. Religion through traditional theater shows the tendency of traditional Islam, it can be said that cultural Islam, or Islam can be integral to local culture (syncretic). This religious experience can also be explained by the nature of traditional art that is able to present the ‘liminal’ event to the art performer and the audience. The ‘liminal’ event provides a complex, ambiguous, complicated experience, and opens up alternative possibilities and new perspectives in understanding the world and life. Through the religious experience presented by the ‘liminal’ event, the Madurese found the moment of their encounter with God. 
FUNGSI, MAKNA, DAN EKSISTENSI NOKEN SEBAGAI SIMBOL IDENTITAS ORANG PAPUA Januar, Arie
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5142.371 KB) | DOI: 10.52829/pw.47

Abstract

Noken merupakan salah satu kerajinan tradisional masyarakat Papua. Dalam perkembangannya kerajinan ini tersebar hampir di seluruh wilayah, baik pegunungan hingga pesisir pantai. Bagi orang Papua noken tidak hanya berfungsi sebagai alat menyimpan (tas), tetapi juga memiliki fungsi dan makna yang luas dalam berbagai aspek, seperti sosial, ekonomi, dan budaya. Metode dalam tulisan ini menggunakan studi kepustakaan. Dari hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa noken tidak hanya dipahami sebagai kerajinan tradisional semata, namun juga kerajinan yang bernilai tinggi bagi masyarakat. Namun demikian, seiring perkembangan zaman, nilai fungsi noken semakin memudar, karena bahan baku yang digunakan semakin beragam. Selain bahan baku jumlah pengrajin noken sudah semakin berkurang, sebab proses pewarisan kemahiran dari generasi tua ke generasi muda tidak berjalan maksimal, sehingga kerajinan noken terancam punah.____________________________________________________________Noken is one of the traditional crafts of the Papuan people. In the development of this craft spread in almost all regions, both mountains to the coast. For Papuans noken not only serves as a means to save (bags), but also has a comprehensive function and meaning in various aspects, such as social, economic, and cultural. The method in this paper uses literature study. From the results obtained, it can be concluded that the noken is not only understood as a traditional craft, but also the craft of high value to community. However, over the times, the value of the function noken fades, because the raw materials used increasingly diverse. In addition to raw materials noken number of craftsmen was already getting decreased, because the process of inheritance finesse of the older generation to the younger generation is not running optimally, so that the craft noken endangered.
STRATEGI PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN BERKELANJUTAN Ritohardoyo, Su
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 16 No. 3 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.05 KB) | DOI: 10.52829/pw.74

Abstract

Makalah ini bertujuan untuk mengungkap pembangunan rumah susun sebagai salah satu strategi pembangunan perumahan berkelanjutan, dan implikasinya terhadap kebijakan pembangunan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Metode analisis data sekunder digunakan untuk analisis secara deskriptif kualitatif dari berbagai sumber pustaka dan dokumen. Hasil bahasan menunjukkan bahwa pembangunan rumah susun merupakan solusi penyediaan perumahan rakyat yang saat ini paling rasional bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Dikaji dari berbagai aspek baik penggunan lahan, pembiayaan, maupun keberlanjutan lingkungan, rumah susun memberikan alternatif terhadap pembangunan perumahan dan permukiman yang adil, nyaman, dan berkelanjutan.The article was purposed to discusse of the development of vertical residential for the sustainable of housing development and its impact to the housing development policy for the low income people. Secondary data analysis method used to analyze the data which were collected from literature and several documents. The result of the discussion showed that vertical residential development is the solution of people housing supply, which the most rational for low income people. Based on the several aspects wether it is land use, cost and environment sustainabelity, vertical residential gives several alternatives to housing and setllement developments which are fair, leisure, and sustainable.
DARI SIRIP HIU HINGGA PENYELUNDUPAN MANUSIA: KAPITALISASI DUNIA PELAYARAN NELAYAN TRADISIONAL DI WILAYAH LINTAS BATAS LAUT TIMOR Sholihah, Fanada
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 19 No. 1 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.601 KB) | DOI: 10.52829/pw.17

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang aktivitas nelayan tradisional Indonesia yang dinilai “menerobos batas” serta melakukan tindakan ilegal di perairan Australia. Pada 1999, terjadi perubahan target operasi, nelayan Indonesia tidak lagi melakukan penangkapan teripang, kerang lola (trochus niloticus), dan hiu untuk diambil siripnya, tetapi beralih pada “penyelundupan manusia (people smuggling)”. Kasus penyelundupan manusia telah mengonfirmasi betapa sistem kapitalis berhasil mengkooptasi aktivitas pelayaran nelayan tradisional Indonesia dengan memanfaatkan rute-rute pelayaran tradisional. Sementara, posisi mereka di wilayah perairan Indonesia semakin termarjinalkan dan terdesak oleh keberadaan nelayan asing dengan penguasaan modallebih besar dan teknologi modern. Keberadaan “pemodal besar” berhasil merubah mindset nelayan dari sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari (subsiten) menjadi nelayan industri yang turut aktif dalam kontestasi penangkapan ikan ilegal bahkan penyelundupan manusia.Penelitian ini hendak mengetengahkan dua permasalahan: Pertama, jalannya sistem ekonomi kapitalis dalam mengkooptasi aktivitas pelayaran nelayan tradisional di wilayah lintas batas Laut Timor.Kedua, manifestasi dari kapitalisasi aktivitas pelayaran. Akhirnya, pemerintah perlu hadir untuk melakukan penegakan terhadap aturan main dalam aktivitas pelayaran di wilayah lintas batas Laut Timor.____________________________________________________________This paper examines the activities of traditional Indonesian fishermen who are charged with violating Australia’s maritime borders and conducting illegal activities in Australian waters. In 1999, operating targets shifted as Indonesian fishermen abandoned traditional catches of sea cucumbers, lola shells (trochus niloticus), and shark fins. Instead they turned to illegal fishing and a more lucrative endeavor, people smuggling. The case of people smugglingconfirms how a turn to capitalism successfully co-opts traditional Indonesian fishing activities by utilizing traditional shipping and fishing routes for illegal activities. The position of Indonesian fisherman in Indonesia’s waters is increasingly marginalized and driven by the presence of foreign fishermen with greater capital and modern technology. The existence of “great investors” has succeeded in changing the mindset of fishermen from simply fulfilling daily needs (subsistence) and supplying local markets to becoming industrial fishermen that are also active inillegal fishing contestation and even people smuggling. This research addresses two dilemmas: First, the course of a capitalist economic system in co-opting the activities of traditional fishing voyages in the cross-border areas of the Timor Sea. Second, the embrace of capital investment in shipping and fishing in this maritime zone. Finally, as a suggested policy step, the government needs to be present to enforce the rules of the game in shipping and fishing activities in the cross-border areas of the Timor Sea.
Perkampungan Kristen Di Muna (1920 – 1998) Rismawidiawati, Rismawidiawati
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 19 No. 2 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.845 KB) | DOI: 10.52829/pw.144

Abstract

Saat ini, umat Kristen di Kabupaten Muna memang minoritas, namun perkampungan Kristen yang ada di Wale-ale Kabupaten Muna telah ada sejak zaman Hindia Belanda. Ditambah gerakan Kahar Muzakkar, membuat banyak masyarakat muslim yang melarat kehidupannya  memberikan peluang bagi Agama Kristen untuk bertindak sebagai juru selamat bagi mereka yang memerlukan bantuan. Pada masa inilah Agama Kristen mulai dikenal dan mengalami perkembangan kuantitatif. Berdasar latar tersebut, maka tulisan ini bertujuan untuk mengurai proses munculnya perkampungan Kristen di Kabupaten Muna, mengurai proses masuknya agama Kristen di Kabupaten Muna dan menjelaskan faktor pendukung dan penghambat perkembangan Agama Kristen di Kabupaten Muna. Tulisan ini menggunakan metode sejarah, dengan mengikuti empat langkah yaitu: 1) mencari dan mengumpulkan sumber, yakni sumber primer dan sumber sekunder. 2) melakukan kritik terhadap isi dokumen agar mendapatkan fakta sejarah, 3) dilakukan yaitu interpretasi dimana data yang telah di kritik selanjutnya disebut sebagai fakta sejarah dan 4) historiografi yang merupakan tahapan terakhir dari seluruh rangkaian prosedur kerja metode sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) proses masuknya Agama Kristen di Kabupaten Muna tidak terlepas dari perkembangan pelayaran bangsa-bangsa Barat ke Indonesia yang disertai dengan upaya Kristenisasi, 2) Pada awalnya penduduk Wale-Ale telah memeluk agama Islam. Akan tetapi kedatangan para pastor di Wale-ale mempengaruhi anak-anak penduduk Wale-ale dengan bersikap ramah kepadanya. Penduduk yang tadinya beragama Islam melakukan pindah agama menjadi penganut Kristiani dan 3) Faktor pendukung penyebaran ajaran Kristen di Wale-ale karena adanya kemiskinan dan keterbelakangan penduduk sehingga para pastor dengan mudah mempengaruhi mereka. Faktor penghambat penyebaran ajaran Kristen di Wale-ale adalah bahwa masyarakat Wale-ale sebelumnya telah memeluk agama Islam, juga perubahan politik yang berubah-berubah sehingga berupa pula kebijakan terhadap misionaris.____________________________________________________________At present, Christians in Muna Regency are indeed a minority. But the Christian village in Muna Wale-ale has been existing since the days of the Dutch East Indies. Another side, the Kahar Muzakkar movement, made many Muslim communities destitute of their lives. This situation provides an opportunity for Christianity to act as a savior for those who need help. At this time the Christian Religion began to be known and experienced quantitative development. Based on the background of the study, this study aims to unravel the process of the emergence of Christian villages in Muna Regency, unravel the process of entry of Christianity in Muna Regency and explain the supporting and inhibiting factors of the development of Christianity in Muna Regency. This paper uses the historical method, following the four steps of the research step, namely: 1) finding and collecting resources related to research, namely primary sources and secondary sources. 2) criticizing the contents of the document in order to get historical facts, 3) carried out namely the interpretation where the data that has been criticized is then referred to as historical facts and 4) historiography which is the last stage of the whole series of historical methods work procedures. The results showed that 1) the process of entering Christianity in Muna Regency was inseparable from the development of  Western shipping to Indonesia accompanied by Christianisation efforts. 2) Initially, the population of Wale-Ale had embraced Islam. But the arrival of priests at Wale-ale affected the children of Wale-ale residents by being friendly to him. Residents who were previously Muslims converted to Christianity and 3) Factors supporting the spread of Christianity in Wale-ale because of poverty and backwardness of the population so that priests easily influenced them. The inhibiting factor in the spread of Christian teachings at Wale-ale was that the Wale-ale community had previously embraced Islam, as well as changing political changes in the form of policies towards missionaries.
MEMPEREBUTKAN WAHYU MAJAPAHIT DAN DEMAK: MEMBACA ULANG JEJAK KESULTANAN PAJANG DALAM HISTORIOGRAFI INDONESIA Purwanto, Bambang
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 18 No. 3 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7968.287 KB) | DOI: 10.52829/pw.19

Abstract

Pajang sebagai sebuah kerajaan dan masyarakatnya yang pernah ada dalam sejarah Indonesia pasca-kegemilangan Kemaharajaan Mapajahit dan Kesultanan Demak tidak mendapat tempat yang memadai dalam historiografi Indonesia selama ini. Padahal nama Jaka Tingkir yang diyakini sama dengan Sultan (H)Adiwijaya yang merupakan sultan pertama Pajang, dikenal juga oleh masyarakat, terutama di Jawa. Tulisan ini membahas tentang peminggiran dan marginalisasi Kesultanan Pajang dari naratif besar sejarah Indonesia, berdasarkan asumsi adanya mata rantai yang putus antara memori sosial sebagai sistem budaya masyarakat dengan tradisi historiografi Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk melihat relasi historis fungsional antara kenyataan sejarah sebagai peristiwa masa lalu dan pembentukan memori dengan historiografi sebagai sebuah naratif bangsa yang merupakan wujud dari kontestasi atas sejarah itu sendiri.____________________________________________________________Pajang as a kingdom and its society that once existed in post-glorious Maps and Demak Sultanate in Indonesian history does not get adequate place in the historiogrphy of Indonesia so far. Even though the name Jaka Tingkir is believed to be the same as the Sultan (H)Adiwijaya who is the first sultan of Pajang, widely known by the people, especially in Java. This paper discusses the exclusion and marginalization of the Pajang Sultanate from the Indonesian grand historical narrative, based on the assumption of a broken link between social memory as a cultural system of society and the tradition of Indonestan historiography. This paper aims to look at the functional historical relation between historical reality as a past event and the formation of memory with historiography as a national narrative which is a manifestation of contestation over history itself.
PERDAGANGAN ORANG BUGIS DI KAWASAN TELUK TOMINI MASA KOLONIAL BELANDA Anwar, Hasanuddin
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 18 No. 2 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5798.685 KB) | DOI: 10.52829/pw.41

Abstract

Perdagangan orang Bugis di kawasan Teluk Tomini didorong karena tradisi yang kuat tentang sompeq (merantau). Pedagang dan perantauan Bugis keluar mencari kekayaan dan kejayaan di kawasan Teluk Tomini. Mereka dengan perahu tradisionalnya menjadi urat nadi bagi kehidupan perekonomian di kawasan Teluk Tomini, sampai di pedalaman melalui pelayaran pantai dan sungai. Komoditas utama adalah emas, bijih besi, budak, sisik penyu, teripang, kayu cendana, kopra, damar, dan rotan. Barang dagangan tersebut dipasarkan ke Ternate, Singapura, dan Makassar. Masa kekuasaan VOC kemudian Pemerintah Hindia Belanda telah menjadi persaingan pedagang Bugis untuk memperebutkan produk emas dan budak, walaupun dikeluarkan kebijakan untuk mempersempit usahanya tetapi pedagang Bugis tetap menguasai perdagangan, utamanya emas dan budak. Faktor ini menyebabkan munculnya perkampungan-perkampungan Bugis, dan beberapa di antaranya berhasil dikuasainya. Secara de facto pedagang Bugis memegang hegemoni politik dan ekonomi di kawasan Teluk Tomini. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode sejarah yaitu studi pustaka dengan mengumpulkan data-data sejarah, dengan menguraikan suatu peristiwa ke dalam bagian-bagiannya dalam rangka memahami peranan pedagang Bugis dalam jalur perdagangan dan kekuasaannya di kawasan Teluk Tomini.Bugis trading in Tomini bay region was done in supporting of tight tradition about sompeq (wander about). Merchant and sompeq of Bugis leave their land to seek for welfare and glory in Tomini Bay. They used traditional ship that became the core of economical life in Tomini Bay through beach and river sailing. The importance commodity was produced mostly by merchant communities such as gold, slave, and scale of turtle, tripang, yellow sandalwood, copra, resin, and rattan. Those commodities were marketed to Ternate, Singapore, and Makassar. VOC reign and then Dutch Indies had been rivals for Bugis merchants in selling gold and slave. Although there was a policy for Bugis traders to limit their activities, but Bugis traders still held and mastered in trading, particularly for gold and slave. This factor stimulated emerge of Bugis districts and some of them were colonized. Bugis traders held political hegemony de facto and economy in Tomini Bay. This research was conducted using library research and analytical description method by describing events to their parts in understanding the role of Bugis traders in trading line and their power in Tomini Bay.
NILAI BUDAYA YANG TERKANDUNG DALAM TRADISI SASI IKAN LOMPA DI NEGERI HARUKU KABUPATEN MALUKU TENGAH Marjanto, Damardjati Kun
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 16 No. 3 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.868 KB) | DOI: 10.52829/pw.69

Abstract

Manusia, alam, dan kebudayaan merupakan tiga entitas yang tidak bisa dipisahkan. Alam lingkungan sebagai tempat tinggal manusia membentuk cara hidup manusia yang dikenal sebagai kebudayaan, sedangkan kebudayaan itu sendiri juga merupakan cara adaptasi manusia dalam menanggapi lingkungan alamnya. Praktik keselarasan manusia dengan alam pada masyarakat Negeri Haruku dikenal sebagai Tradisi Sasi ikan lompa. Penelitian ini bertujuan untukmendeskripsikan sasi ikan lompa dan mengungkapkan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sasi ikan lompa merupakan salah satu contoh keberhasilan simbiosis mutualisme manusia dengan alam. Ikan Lompa yang dipelihara dengan tradisi sasi dapat berkembang dengan baik dan pada gilirannya mendatangkan kesejahteraqan bagi manusia Di samping itu tradisi sasi ikan lompa juga sarat dengan nilai-nilai budaya, yaitu penghormatan terhadap alam lingkungan, ketaatan terhadap aturan adat, kebersamaan dan kesetiakawanan sosial, dan juga pengorbanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif di mana teknik pengumpulan data diperoleh dengan cara observasi, wawancara, dan FGD (Focus Group Discussion), dengan teknik analisis data deksriptif kualitatif.Man, nature, and culture are three entities that can not be separated. The natural environment as a dwelling for man shapes way of life that is known as culture. The other side, culture is also a way of human adaptation in response to its natural environment the harmony practices between man and nature in Negeri Haruku community is known as Sasi tradition for Lompa fish. The aim of this study describs Sasi tradition for Lompa fish and reveal cultural values in the tradition. The result of the study indicates that Sasi tradition for Lompa fish is one of succes model of symbiosis mutualisma between man and nature. Lompa fish that is cared in Sasi tradition can be thrived and bring in human welfare. Besides it, the tradition also loaded with cultural values, i.e. respect to natural environment, adherence to customary rules, togetherness and social solidarity, and also spirit of sacrifice. This study is a qualitative approach in which techniques for data collection is obtained by observation, interview, and FGD (Focus Group Discussion), with a qualitative descriptive techniques for data analysis.
KEMUNCULAN ORIENTASI POLITIK DAN GAGASAN KEBANGSAAN, BALI AWAL ABAD KE-20 Winardi, Uji Nugroho
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 16 No. 4 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.716 KB) | DOI: 10.52829/pw.85

Abstract

Perkembangan nasionalisme pada paruh pertama abad ke-20 sering dianggap sebagai hasil dari komitmen bersama yang berjalan linear dengan kemunculan elit modern Indonesia. Kajian ini mengeksplorasi orientasi politik dan gagasan kebangsaan yang berkembang di Bali untuk menunjukan adanya partikularitas dalam merespon perkembangan nasionalisme Indonesia. Meskipun kelompok elit terdidik di Bali cukup giat dalam mensuarakan gagasannya mengenai kemajuan, orientasi politik mereka condong ke dalam menyangkut tentang persoalan domestik. Tulisan ini berargumen bahwa ada kompleksitas dari dalam masyarakat Bali menyangkut kasta, adat dan tradisi yang tidak tertembus oleh ide-ide modern.The development of nationalism in early 20th century is commonly presumed as a result of commitment which run linear with the emergence of the Indonesian modern elites. This research explores political orientation and national consciousness surfacing in Bali to explain particularities responding the rise of the Indonesian nationalism. Although the Balinese-educated-elites were fairly active in articulating their ideas of progress, they had very much inward orientation which mainly concerned with local/domestic issues. This article eventually argues that the main problem revolves around the complexity of its society related with caste system, custom and tradition that remained inpenetrable by the modern ideas.

Page 6 of 15 | Total Record : 149