cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 14115239     EISSN : 25984209     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words "patra" and "widya", derived from Sanskrit, and became an absorption word in Old Javanese. the word "patra" is derived from the word "pattra", from the root of the term pat = float, which is then interpreted by the wings of birds; fur, leaves; flower leaf; fragrant plants fragrant; leaves used for writing; letter; document; thin metal or gold leaf. The word "widya" comes from the word "vidya", from the root vid = know, which then means "science". Patrawidya is defined as "a sheet containing science" ISSN 1411-5239 (print) ISSN 2598-4209 (online).
Arjuna Subject : -
Articles 149 Documents
PUSAKA SEJARAH MARITIM DI INDONESIA: KHASANAH, TANTANGAN, DAN STRATEGI PERLINDUNGANNYA Wahid, Abdul
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 19 No. 1 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.062 KB) | DOI: 10.52829/pw.92

Abstract

Sebagai sebuah negara kepulauan, Indonesia memiliki sejarah panjang dan peradaban maritim yang kaya. Lautan dan pantai telah menjadi faktor penting yang membentuk kehidupan sosial, ekonomi, dan identitas kultural negeri ini, yang semuanya diwariskan secara historis dari ganerasi ke generasi. Sayangnya, warisan sejarah maritim ini, baik yang bersifat bendawi maupun non-bendawi, kini secara perlahan mulai memudar dan bahkan terancam punah. Hal ini disebabkan oleh gabungan beberapa faktor diantaranya kurangnya kesadaran publik tentang keberadaannya, absennya upaya dari pemangku kepentingan untuk memliharanya, dan eksploitasi destruktif sumberdaya laut dan pantai. Makalah ini menyajikan sebuah ulasan tentang kekayaan warisan sejarah maritim Indonesia, baik yang bersifat bendawi maupun non-bendawi, kondisi terkini mereka termasuk tantangan dan ancaman yang dihadapinya, dan strategi-strategi yang bisa diterapkan untuk melindunginya. Melalui diskusi tersebut, makalah ini bermaksud memberikan kontribusi pada upaya-upaya yeng terus dilakukan di Indonesia dan di negara-negara lainnya untuk mempromosikan makna penting warisan sejarah maritim, dan untuk membangun kesadaran akan pentingnya melakukan aksi-kolektif untuk menginventarisir, mengkaji, melindungi dan menyelamatkan mereka dari kepunahan.____________________________________________________________As an archipelagic country, Indonesia has a rich and long maritime history and civilization. Marine and coastal resources have been an essential factor in shaping the social, economy, and cultural identity of the nation, which was transferred historically from generation to generation. Unfortunately, these rich maritime historical heritages, both tangible and intangible, are slowly fading away and even at risk of extinction. This is resulted from a combination of several factors, namely the lack of public awareness about their existence, the absence of initiatives from stakeholders to preserve them and the destructive exploitation of marine and coastal resources. This paper provides a survey on the richness of Indonesian maritime heritages, tangible as well as intangible ones, their current situations, including the threathening challenges, and the strategis that may be applied to preserve and protect their existence. In so doing, the papers seeks to contribute to the ongoing efforts in Indonesia and elsewhere in promoting the important of maritime heritages and the need to initiate a collective-action to inventorize, study, preserve, and hence save them from the risk of extinction.
NILAI-NILAI BUDI PEKERTI DALAM SERAT TRIPAMA KARYA MANGKUNAGARA IV SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER Sigit
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 21 No. 1 (2020): April
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.278

Abstract

Serat Tripama karya KGPAA Mangkunagara IV berisi ajaran yang masih relevan diterapkan pada masa sekarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap ajaran-ajaran moral yang terdapat di dalam serat Tripama koleksi Museum Sonobudoyo. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Untuk mengkaji, mengetahui, dan menjabarkan isi serat Tripama dilakukan dengan transliterasi teks. Pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan metode baca catat. Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif. Validasi terhadap data menggunakan triangulasi sumber, sedangkan reliabilitas menggunakan reliabilitas interater. Hasil penelitian adalah bahwa serat Tripama berisi ajaran moral yang sangat baik sebagai sarana pendidikan karakter siswa. Karakter baik yang terdapat di dalam serat Tripama adalah; (1) setia terhadap perintah (2) rela berkorban jiwa raga, (3) membela kebenaran dan keadilan, (4) cinta tanah air dan bangsa, (5) Tahu membalas budi.
IDENTITAS DAN KESETARAAN SOSIAL DALAM PEMBENTUKAN SEBUAH GEREJA DI YOGYAKARTA Khusyairi, Johny A
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 21 No. 1 (2020): April
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.279

Abstract

One of the important issues in the formation of Javanese Reformed-Christian (JRC) church was the usage of the Javanese language. The formation of the church did not only involve transplanting theological and ritual teachings of the Dutch Reformed Churches (GKN), but also the usage and the choice of registers of the hierarchical Javanese language for Javanese congregation. This article intends to examine the importance of Javanese in the formation of Javanese Reformed-Christian church in Yogyakarta. Archival sources, particularly of the GKN, were used to examine the importance of Javanese in the establishment of this JRC church in Yogyakarta. The author concluded that the usage of Javanese terms for “church” and “pastor”, and the choice of the highest level of the language, Krama, in church ritual was intended to preserve Javanese language and convey social equality between the Javanese and the Dutch.
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DI LEMBAGA PENDIDIKAN TENAGA KEPENDIDIKAN Siswanto, Heni Waluyo
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 21 No. 1 (2020): April
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.280

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi terkait implementasi pendidikan karakter pada lembaga pendidikan tenaga kependidikan dalam hal: 1) kebijakan; 2) bentuk implementasi; 3) ketercapaian pelaksanaan; dan 4) hambatan yang dihadapi. Terdapat sembilan perguruan tinggi yang dijadikan sampel yang dipilih dengan teknik purposive. Responden penelitian berjumlah 54 orang ditentukan secara purposive. Teknik analisis data menggunakan deskripsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perguruan tinggi umumnya: 1) telah memiliki program pendidikan karakter secara baik; 2) memiliki beragam bentuk, pola, model, strategi, dan karya nyata terkait implementasi pendidikan karakter; 3) telah cukup berhasil dalam mengimplementasikan pendidikan karakter; dan 4) pendanaan merupakan salah satu faktor yang berkontribusi dalam implementasi pendidikan karakter.
KOENTJARANINGRAT DAN INTEGRASI NASIONAL INDONESIA: SEBUAH TELAAH KRITIS Ahimsa-Putra, Heddy Shri
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 20 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.288

Abstract

Dalam artikel ini penulis membahas pemikiran Koentjaraningrat mengenai masalah integrasi nasional, mulai dari awal karir beliau sebagai ahli antropologi, hingga masa pensiunnya. Penulis mengidentifikasi tiga tahap perkembangan pemikiran Koentjara-ningrat mengenai integrasi nasional di Indonesia. Tahap pertama adalah tahun 1970an, yang merupakan masa awal perkembangan pemikiran beliau. Penggunaan konsep-konsep lebih untuk memenuhi keperluan deskripsi daripada analisis. Tahap kedua ada-lah tahun 1980an, ketika Koentjaraningrat mulai lebih analitis dalam memahami masa-lah integrasi nasional, dan identifikasi masalah-masalahnya menjadi lebih tajam dan rinci. Tahun 1990an merupakan tahap perkembangan terakhir, di mana Koentjaraning-rat menggunakan perspektif yang lebih komparatif dan makro untuk memahami feno-mena integrasi nasional. Paparan di sini merupakan hasil kajian pustaka dengan meng-gunakan metode content analysis.
NARASI DAMPAK (ALAM DAN SOSIAL) LETUSAN GUNUNG TAMBORA 1815 Tantri, Erlita
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 20 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.289

Abstract

Indonesia adalah negara yang terletak di jalur ring of fire sehingga kaya akan gunung berapi, gempa tektonik dan vulkanis. Secara umum, sekitar 13 persen gunung berapi dunia ada di Indonesia (129 gunung berapi) namun dalam sejarah bencana gunung berapi dunia, setengah dari korban letusannya ada di Indonesia. Gunung Tambora merupakan salah satu gunung berapi aktif di Indonesia yang memiliki resiko letusan yang sangat dasyat. Dampak letusannya pada tahun 1815 sedikit banyak terekam dalam sejarah. Namun, bagaimanakah kondisi setelah letusan Gunung Tambora 1815 dan dampaknya (alam dan sosial) dari catatan yang terdokumentasi, baik oleh pemerintah kolonial serta lokal (mapun dari sumber lainnya)? Melalui studi literatur, tulisan ini mencoba menggambarkan secara ringkas tentang kondisi dan dampak pasca letusan Gunung Tambora pada lingkungan dan masyarakat (lokal maupun global). Letusan Gunung Tambora telah memberikan dampak kerusakan pada ekologi akibat masifnya kuantitas material yang dikeluarkan sehingga berakibat pada perubahan iklim dan lingkungan. Bahaya kelaparan, kekurangan air bersih, penyakit, tidak tersedianya pangan akibat kerusakan lahan dan perubahan musim yang berakibat pada kegagalan panen di berbagai wilayah, menjadikan letusan Gunung Tambora 1815 sebagai sejarah bencana besar di tanah air di abad ke-19. Dari kondisi pasca letusan Gunung Tambora 1815, diharapkan masyarakat memiliki pengetahuan dan kewaspadaan terhadap dasyatnya bahaya letusan Gunung Tambora. Dengan demikian, masyarakat maupun pemerintah akan memiliki pemahaman dan kesiapsiagaan dalam menghadapi periode letusan Gunung Tambora berikutnya.
PENGEJAWANTAHAN TARI GENDING SRIWIJAYA: SOCIOCULTURAL DALAM PERSPEKTIF NILAI Mareta, Yoan; Sariyatun, Sariyatun; Sutimin, Leo Agung
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 20 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.290

Abstract

Tari Gending Sriwijaya merupakan tari sambut asal Sumatera Selatan yang sejauh ini dipandang sebagai icon cultural. Sebagai warisan nilai estetika dari perjalanan sejarah yang panjang, tari ini dapat difungsikan sebagai bentuk manifestasi nilai. Tujuan penelitian ini adalah untuk menafsirkan nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam setiap gerakan tari Gending Sriwijaya, menerjemahkan nilai-nilai tersebut, serta relevansinya dengan realitas yang ada pada masyarakat selama ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik observasi/pengamatan dan kajian literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya sumbangsih literasi makna yang sangat luas dari setiap gerakan tari Gending Sriwijaya. Setelah dikaji melalui pendekatan sociocultural, ditemukan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam tari Gending Sriwijaya terdiri dari nilai sosial, nilai budaya, nilai
INTEGRASI PENGETAHUAN LOKAL DAN ILMU PENGETAHUAN: PENELAAHAN ROTI BUAYA DALAM PERSPEKTIF ZOOLOGI Sihotang, Vera Budi Lestari; Hamidy, Amir; Kurniati, Hellen
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 20 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.291

Abstract

Roti buaya merupakan roti khas Betawi yang selalu muncul di upacara pernikahan masyarakat Betawi. Penggunaan roti buaya dalam upacara pernikahan masyarakat Betawi merupakan pengetahuan lokal yang sudah dilakukan secara turun-temurun. Simbol kesetiaan merupakan makna yang muncul dari roti buaya. Artikel inibertujuan untuk melihat integrasi pengetahuan lokal dan ilmu pengetahuan yang terlihat dalam penggunaan roti buaya dalam pernikahan Betawi. Karakter buaya dalam roti buaya dikaitkan dengan karakter buaya di alam. Penelitian ini dilakukan melalui dua metode, yaitu wawancara dan studi literatur. Dari data yang terkumpul diketahui bahwa jenis buaya yang digambarkan dalam roti buaya adalah buaya muara (Crocodylus porosus). Karakter buaya yang dapat hidup di darat dan di air, ukuran buaya betina lebih kecil dari buaya jantan, merupakan karakter buaya yang digambarkan dalam roti buaya, dan sesuai dengan karakter buaya di alam. Simbol buaya sebagai simbol kesetiaan hanya sesuai ketika buaya ditempatkan dalam sistem kandang pasangan. Meskipun begitu, pemahaman buaya sebagai simbol kesetiaan tetap dipegang oleh masyarakat Betawi. Hal ini ditandai dengan penggunaan roti buaya dalam pernikahan yang bertahan hingga sekarang
PEMUDA, BELAH DAN SOLIDARITAS: KAJIAN MODEL SOLIDARITAS ANAK MUDA GAYO Setyantoro, Agung Suryo; Setiadi, Setiadi; Rosyid, Nur
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 20 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.292

Abstract

Tulisan ini membahas bagaimana pemuda Gayo berhadapan dengan signifikansi belah, salah satu dari beban kultural, yang menopang dalam bertindak di lingkungan masyarakatnya. Fokus dari penelitian ini ialah bagaimana belah menjadi faktor penggerak anak muda Gayo dalam beraktivitas sosial di kampungnya. Hal ini menarik karena di tengah makin mencairnya sekat-sekat identitas karena pengaruh kemajuan teknologi dan dorongan sifat materialisme, pemuda Gayo tetap mampu memperlihatkan identitas belahnya sebagai pondasi solidaritas diantara mereka. Kegiatan yang dilakukan bersama oleh para pemuda menjadi sebentuk ruang-ruang pembentukan solidaritas sosial. Belah yang muncul karena hubungan kekerabatan dan memiliki satu ikatan sejarah menjadikannya mudah untuk mengikat dalam satu jaringan dan menjadikannya sebagai modal sosial. Belah juga mampu menginternalisasikan nilai-nilai bersama kelompok, hal ini yang dipahami sebagai atribut atau sebagai identitas individu dan kolektivitas.
MEMAKNAI LUKISAN PEREMPUAN DALAM KONTEKS BUDAYA VISUAL Rostiyati, Ani
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 20 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.293

Abstract

Sebuah lukisan adalah objek dalam bentuk visual yang memiliki makna. Sejalan dengan itu, tulisan ini bertujuan ingin memperlihatkan bagaimana suatu lukisan memadatkan gagasan dan nilai tertentu sebagai media untuk menyampaikan pesan. Penelitian ini menggunakan teori budaya visual dari Barnard dan gender dari Megawangi dan Abdullah. Kajian ini mengungkapkan bahwa empat lukisan perempuan Jawa yang dipamerkan oleh kelompok ”pepeling” Surakarta tersebut menggambarkan perempuan sebagai housewifization dan ibuisme yakni peran utama perempuan sebagai ibu rumah tangga yang melakukan tugas domestik. Kesimpulan dari kajian ini adalah Housewifization dan ibuisme ini merupakan identitas visual yang dikontruksi sehingga menjadi sumber pembentukan atau citra perempuan dalam realitas sosial masyarakat Jawa, terutama di pedesaan. Kajian ini menggunakan metodologi etnografis interpretatif yakni suatu pendekatan tafsir yang menggunakan ”teks” sebagai analogi atau model yang memandang, memahami, dan menafsirkan suatu kebudayaan atau gejala sosial budaya tertentu. Dalam pengumpulan data, peneliti melakukan wawancara, studi pustaka, majalah, dan buku.

Page 7 of 15 | Total Record : 149