cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 14115239     EISSN : 25984209     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words "patra" and "widya", derived from Sanskrit, and became an absorption word in Old Javanese. the word "patra" is derived from the word "pattra", from the root of the term pat = float, which is then interpreted by the wings of birds; fur, leaves; flower leaf; fragrant plants fragrant; leaves used for writing; letter; document; thin metal or gold leaf. The word "widya" comes from the word "vidya", from the root vid = know, which then means "science". Patrawidya is defined as "a sheet containing science" ISSN 1411-5239 (print) ISSN 2598-4209 (online).
Arjuna Subject : -
Articles 149 Documents
POTRET PENGUSAHA KERAJINAN KUNINGAN DI BEJIJONG MOJOKERTO Herawati, Isni
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 16 No. 3 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.37 KB) | DOI: 10.52829/pw.72

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengusaha kuningan memperoleh bahan baku kuningan, proses produksinya, hasil yang diperoleh, dan pemasaran hasil supaya kerajinan itu tetap eksis di pasaran. Dalam tulisan ini menampilkan 2 pengusaha kerajinan kuningan di Bejijong, Mojokerto. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data wawancara, pengamatan, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian terungkap bahwa cara memperoleh bahan baku, proses produksi, hasil produksi, pemasaran dari kedua pengusaha kerajinan kuningan itu semuanya dapat terealisasi dengan baik. Sebagai bukti bahwa kerajinan kuningan di Bejijong tetap eksis sampai sekarang justru pasarannya yang terbesar adalah di Eropa dan sekitarnya. Pemasaran dapat sampai ke mancanegara dengan melalui perantara artshop-artshop yang ada di Bali, bahkan dengan melalui internet dan SMS. Pengusaha juga aktif melakukan terobosan-terobosan baru dan membuat jaringan dengan pihak luar.This research aims to observe how the craftsmen get the raw brass materials, how they do the production, the end product of brass, and the market of the product, this article portrays 2 brass craftmens from Bejijong, Mojokerto, the research was conducted with qualitative approach by doing direct interview, direct observation and literature review, the result of the research reveals that the access to raw materials, the production process, the product and it's marketing from both the craftsmen have great realization, as the proof that the brass craft products from Bejijong, Mojokerto have existence in the market until today, the largest market from these crafts is Europe, they use art shops in Bali to reach international market, even by using internet and text messages, to expand the market and the revenue, these craftsmens also active in finding new innovations and make new net workings with international market.
PRAKTIK SOSIO-KULTURAL SEBAGAI BENTUK KEWARGAAN MASYARAKAT TAHUN 1950AN: MELIHAT KEMBALI HISTORIOGRAFI KEBANGSAAN DALAM BINGKAI NON-NEGARA Suwignyo, Agus; Yuliantri, Rhoma Dwi Aria
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 19 No. 1 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.906 KB) | DOI: 10.52829/pw.14

Abstract

Artikel ini mengkaji gagasan kewargaan sosial (social citizenship) dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pada tahun 1950an. Sejauh mana proses menjadi Indonesia dalam dimensi sehari-hari tahun 1950an sebuah proses merakyat yang tidak elitis? Kajian dalam artikel ini memanfaatkan pemberitaan surat kabar sebagai sumber data. Dengan fokus-telaah pada agensi non-negara, artikel mengulas dimensi dan pola kewargaan yang dipraktikkan masyarakat melalui perkumpulan sosial, aktivitas kolektif masyarakat dan kegiatan-kegiatan budaya. Keterlibatan warga dalam berbagai saluran aktivitas menunjukkan tiga dimensi penting kewargaan sosial mereka. Pertama, wacana kewargaan yang cair dan terus mengalami negosiasi melalui perdebatan. Kedua, bentuk kewargaan sosial yang kebanyakan tersalurkan melalui aktivitas budaya sebagai objek material. Ketiga, ekspresi kewargaan sosial dalam aneka rupa perayaan terbuka sebagai cara komunitas-komunitas  warga “menuntut” pengakuan publik atas keberadaan mereka. Ketiga dimensi menegaskan bahwa pembentukan kewargaan adalah proses sehari-hari masyarakat yang inklusif dan tidak selalu merupakan urusan negara.____________________________________________________________This article examines the practices of social citizenship in the daily life of the Indonesian people during the 1950s. In particular this article aims at answering the question: In how far was the process of being an Indonesian during the 1950s a people-based process not part of the state building project of the government? By using newspapers published in the 1950s as the sources of data, this article analyzes the dimensions of social citizenship that people perfomed through social organizations and communal and cultural activities. This article argues that the people’s participation in the many different channels of social and cultural activities during the 1950s showed three dimensions of social citizenship. First, it showedthat the people’s discourse of citizenship was ‘fluid’ and continuously adjusting to conform on-going negotiation and contestation. Second, communal and cultural activities were tangible forms of social citizenship through which people expressed their feeling as members of the Indonesian society. Third, carnivals and performances were a strategic medium for the people to acquire public recognition of their social existence.All the three dimensions suggested that the making of social citizenship during the 1950s was an inclusive process. They wereembedded in the daily life of the people and were relatively distant from the state’s project of nation building.
RITUAL MENUMBAI ORANG PETALANGAN DALAM PERSPEKTIF LINGUISTIK ANTROPOLOGIS Yance, Imelda
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 19 No. 3 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.817 KB) | DOI: 10.52829/pw.138

Abstract

Kajian ini berfokus pada ritual menumbai yang dilakukan oleh Orang Petalangan, salah satu suku asli di Provinsi Riau. Kajian ini dilakukan untuk mendeskripsikan bentuk dan makna leksikon, fungsi dan sistem kognisi Orang Petalangan yang tercermin dalam ritual tersebut.Kajian ini dilakukan dengan pendekatan linguistik antropologis dan metode kualitatif-deskriptif. Dari hasil analisis data terungkap bahwa ritual menumbai terekam dalam sejumlah leksikon budaya berupa kata dan kelompok kata, kata asal dan kata turunan, bersifat denotatif dan konotatif. Leksikon tersebut menjadi indeks dan simbol dalam pengungkapan realitas budaya Orang Petalangan baik dalam wujud benda, cara hidup, maupun cara berpikir. Ritual menumbai berfungsi untuk meminta petunjuk, menghormati, memberi tahu, menghipnotis, membujuk, memohon izin, meminta perlindungan, meminta berbohong, mengingatkan, menggambarkan keberadaan, memuji, mengusir, mongonsentrasikan pikiran, mengutarakan keinginan, pamit, dan menghibur. Secara umum, semua fungsi tersebut bersifat produktif dan protektif. Sistem kognisi Orang Petalangan yang tercermin dalam ritual menumbai terkait dengan religi, alam gaib, manusia, dan lingkungan.____________________________________________________________This study focused on the menumbai ritual performed by Petalangan People, one of the indigenous people in Riau Province. The study was conducted to describe the shape and meaning of the lexicon, function and cognition system of Petalangan People which is reflected in the ritual. The study was conducted with an anthropological linguistic approach and a qualitative-descriptive method. The findings obtained from the data analysis show that the ritual is recorded in a number of cultural lexicons such as word and word group, base and derivative words, denotative and connotative. The lexicon is an index and symbol in the cultural expression of Petalangan People both in the form of things, way of life and way of thinking. Theritual serves to ask for clues, to respect, to tell, to hypnotize, to persuade, to ask permission, to ask for protection, to ask for lies, to remind, to describe existence, to praise, to expel, to concentrate thoughts, to express desires, to say goodbye and to comfort. In general, all of these functions are productive and protective. The Petalangan cognition system is reflected in the ritual associated with religi, the occult, human and the environment.
INDUSTRI BATIK KENONGODI MADIUN : EKSPLORASI DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH MELALUI DISCOVERY LEARNING Hamdiyah, Laili Masithoh; Suryani, Nunuk; Musadad, Akhmad Arif
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 18 No. 2 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4944.183 KB) | DOI: 10.52829/pw.39

Abstract

Artikel ini didasarkan pada hasilpenelitian dengan tujnan untuk mendeskripsikan bagaimana penggunaan model discovery learning dalam proses pembelajaran untuk mengeksplorasi materi sejarah lokal tentang industri Batik Kenongo di Madiun. Metode yang digunakan adalah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejarah industri Batik Kenongo merupakan bagian dari sejarah lokal yang harus diekplorasi dalam pembelajaran sejarah dengan menggunakan salah satu model pembelajaran yakni discovery learning. Selain untuk memperkenalkan Batik Kenongo pada siswa (khususnya di Madiun), eksplorasi juga bisa meningkatkan kecintaan mereka terhadap kebudayaan lokal. Hal ini terlihat saat ada siswa melakukan penelitian di Desa Kenongorejo, Kabupaten Madiun yang merupakan tempat industri batik tersebut. Eksplorasi sejarah industri Batik Kenongo dalam pembelajaran sejarah melalui model discovery learning mampu membangkitkan antusiasme siswa terhadap informasi kesejarahan dari Batik Kenongo. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa model discovery learning mampu memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk mengkonstruksi pemahaman sejarah mereka terhadap Sejarah Industri Batik Kenongo di Madiun.This article is based on research results with a purpose to describe how to use the model of discovery learning in process of learning to explore the local historical material about industry of Batik Kenongo in Madiun.This research used qualitative method. The results showed that the history ofBatik Kenongo industryis part of local history that should be explored in the history teaching using one of the learning models, that is Discovery Learning. In addition to introducing Batik Kenongo on students (particularly in Madiun), exploration can also increase their love of local culture. This is seen when there are students doing research in the Village Kenongorejo, Madiun district which is where thebatik industry. Exploring the history of Batik Kenongo industry in learning history through the model of discovery learning can generate students' enthusiasm for the historical Information of Batik Kenongo.Thus it can be said that the model of Discovery Learning is able to provide the widest opportunity to students to construct their historical understanding of the History of Kenongo Batik Industry in Madiun.
ESOSO: MENCARI HARI-HARI BAIK PADA MASYARAKAT DI PULAU KRAMIAN Mudjijono, Mudjijono
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 16 No. 4 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.147 KB) | DOI: 10.52829/pw.83

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Pulau Kramian, Madura. Permasalahan yang di angkat dalam penelitian ini yaitu apakah prakiraan perhitungan hari-hari baik (esoso) selalu benar atau sesuai dengan prakiraan sebelumnya? Penelitian juga ingin mencari tahu kapan dan bagaimana perhitungan hari-hari baik untuk mencari ikan. Sampel penelitian diambil dari penduduk Dusun Sudimampir. Wawancara dilakukan dengan penduduk, baik yang mempercayai dan tidak mempercayai prakiraan hari-hari baik, dengan memakai pedoman yang telah disiapkan sebelumnya. Perunutan data juga dilakukan dengan partisipasi aktif, mengikuti perjalanan laut. Pemahaman esoso didapat dari Ibnu Hajar dan Caneng. Ibnu Hajar mempunyai keahlian memperkirakan hari baik dengan pattiro(melihat), sedangkan Pak Caneng memperkirakan hari baik dengan epa' tarala atau empat laku. Aplikasi perkiraan hari baik untuk mencari ikan tersebut dirunut dari kasus mencari ikan dan melakukan perjalanan laut dari Ibnu Hajar dan Tayek. Kasus memancing Ibnu Hajar dan erjalanan laut kapal yang dinahkodai Pak Tayek menunjukkan akan benarnya prakiraan cuaca dan keselamatan yang telah diperkirakan.This research was conducted in Kramian Island, Madura. The problems in this study is whether the forecast calculation good days (esoso) always true or in accordance with previous forecasts? Research also want to find out when and how the calculations are good days for fishing. Samples were taken from the population Sudimampir Hamlet. Interviews were conducted with residents, both the trust and not to trust using forecasts good days, using guidelines that have been prepared beforehand. Tracking data is also carried out with the active participation, following a sea voyage. Esoso understanding obtained from Ibn Hajar and Caneng. Ibn Hajar had a good day with a membership estimated Pattiro (seeing), while Caneng predict good day with epa 'tarala or four behavior. Applications forecast a good day for fishing are traced from the case of fish and sea journeys of Ibnu Hajar and Tayek. Ibnu Hajar fishing and travelingvessel driven by Tayek show the truth of weather forecasts and safety that has been predicted.
HUBUNGAN ANTARA MITOS PAGEBLUG DAN TRADISI APITAN PADA MASYARAKAT JAWA DI SEMARANG brata, nugroho trisnu
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 19 No. 2 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.511 KB) | DOI: 10.52829/pw.117

Abstract

Artikel ini mengkaji mitos pertunjukan wayang kulit dalam tradisi apitan di daerah Kelurahan Kalipancur RW IV Kota Semarang. Tujuan kajian ini adalah untuk mengetahui narasi mitos pertunjukan wayang kulit yang ada dalam tradisi apitan di Kalipancur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pegambilan data berupa observasi, wawancara dan studi literatur. Analisis teori menggunakan teori fungsionalisme dan konsep mitos Malinowski. Hasil penelitian menunjukan, bahwa: (1) Mitos pertunjukan wayang kulit terdapat dua cerita narasi mitos yaitu versi pertama lama diyakini warga asli Kalipancur dengan keyakinan adanya mitos, pertama muncul ketika pernah sekali tidak melakukan apitan wayangan dhanyang marah terjadilah pagebluk dan versi kedua baru diyakini warga pendatang dengan keyakinan mitos muncul akibat penularan wabah penyakit karena minimnya pengetahuan warga mengenai kebersihan dan penanganan penyakit sehingga terjadilah pagebluk banyak warga meninggal secara bersamaan. (2) Fungsi simbolis tradisi apitan bagi warga Kalipancur RW IV yaitu pertama dimaksudkan untuk tolak bala mendapatkan keselamatan bagi warga Kalipancur dari pengaruh hal buruk ataupun ancaman roh. Kedua yaitu menambah keyakinan diri yang dirasakan pada masing-masing warga Kalipancur. Ketiga yaitu merekatkan kerukunan antar warga Kalipancur merupakan hasil dari rangkaian acara tradisi apitan yang berkembang.____________________________________________________________This article examines the myth of the show wayang kulit in the apitan traditional in Kalipancur RW IV regional, Semarang city. This study used a qualitative approach with methods of observation, interview and documentation, as well as the theory of functionalism and the concept of myth from Malinowski. The results of this study are: (1) The myth of wayang kulit show there are two stories of mythical narratives that are first versions of long believed to be indigenous of Kalipancur Belief in the myth comes when it did not do apitan wayangan dhanyang angry pageblug happen and second version is believed to be immigrant residents with the confidence of transmission of disease outbreaks due to the lack of knowledge of the community about cleanliness and handling of the disease so that there are pageblug that causes people died simultaneously. (2) Symbolic function apitan tradition for the Kalipancur RW IV is first for tolak bala to get safety from the influence of bad or threatening spirit. The second is to increase the confidence that is felt in each the Kalipancur. Third is to bring harmony between citizens of Kalipancur Is the result of a growing series of events of the apitan tradition.
RAJA TANPAINGAN, KAJIAN NILAI DALAM TRADISI LISAN BULENG Purnama, Yuzar
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 18 No. 3 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5525.328 KB) | DOI: 10.52829/pw.22

Abstract

Buleng adalah tradisi lisan yang tumbuh kembang di Betawi. Tradisi lisan ini diperkirakan punah tahun 1978. Upaya revitalisasi terus dilakukan, tahun 2015 Atin Hisyam sempat manggung dan mendapatkan apresiasi yang cukup baik dari penonton. Upaya pelestarian lainnya dapat dilakukan dengan pengkajian. Penulis akan melakukan kajian tentang nilai budaya Raja Tanpaingan dalam tradisi lisan Buleng. Diharapkan dari kajian ini selain untuk mendokumentasikanjuga hasilnya dapat menggugah semua pihak untuk bersama-sama mendukung upaya revitalisasi tradisi lisan Buleng. Tulisan dibatasi, apa yang dimaksud tradisi lisan buleng, cerita Raja Tanpaingan, dan nilai budaya yang terkandung dalam cerita tersebut. Kesimpulan dari ulisan ini, nilai budayayang terdapat dalam cerita Raja Tanpaingan adalah etos kerja, nilai agama, politik, filsafat, dan nilai kuasaBuleng is a owing oral tradition in Betawi. Oral tradition is estimated to be extinct in 1978. Revitalization e orts continue to be done, in 2015 Atin Hisham had a gig and get a pretty good appreciation of the audience. Other conservation efforts may be made by assessment. The author will conduct a stu of the cultural values ??of the King Without the oral tradition Buleng. It is expected that from this study other than to document also the results can inspire all parties to jointly support efforts revitalization Oral traditions Buleng. The writings are limited, what is meant by the oral traditions of buleng, the story of the King Without, and the cultural values ? contained in the story of the King without Light is the work ethic, religious values, politics, philosophy, and the value of power.
DARI ANAK PANTAI PARIAMAN MENJADI SAUDAGAR BESAR SUMATERA Zara, Muhammad Yuanda
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1715.302 KB) | DOI: 10.52829/pw.51

Abstract

IMPLEMENTASI PROGRAM REVITALISASI DESA ADAT DI PROVINSI JAWA BARAT Hendrik, Herman
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 19 No. 3 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.987 KB) | DOI: 10.52829/pw.126

Abstract

Adat merupakan subjek dari berbagai kebijakan, misalnya kebijakan sosial, kebijakan sumber daya alam, kebijakan pemerintahan lokal, dan kebijakan kebudayaan. Sehubungan dengan itu, banyak kajian telah dilakukan untuk melihat adat dalam konteks kebijakan tertentu. Namun, kajian-kajian tersebut lebih banyak membahas adat dalam konteks kebijakan sosial, kebijakan sumber daya alam, dan kebijakan pemerintahan lokal. Kajian mengenai adat dalam konteks kebijakan kebudayaan masih sedikit. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menjalankan program Revitalisasi Desa Adat (RDA). Tujuan utama RDA yaitu merevitalisasi bangunan adat, dengan mekanisme pemberian bantuan dana. Tulisan ini memaparkan implementasi program RDA di Jawa Barat, tepatnya di Desa Panjalu (Ciamis) dan di Kampung Dukuh (Garut). Penelitian yang mendasari tulisan ini dilakukan pada Agustus 2016. Metode yang digunakan yaitu kualitatif dengan wawancara sebagai teknik pengumpulan data. Berdasarkan temuan, tulisan ini berargumen bahwa program RDA, tanpa mengesampingkan manfaat yang diterima oleh komunitas penerima bantuan, masih belum menjawab masalah utama yang dihadapi oleh masyarakat adat. ____________________________________________________________Adat is a subject of many policies, e.g. social policy, natural resources policy, local government policy, and cultural policy. Accordingly, many studies have been conducted on adat in the context of certain policies. However, studies on adat in the context of cultural policy are still rare. The Ministry of Education and Culture has run a program named Adat Village Revitalization, aimed at revitalizing adat-related buildings and objects with the mechanism of cash transfer. This article discusses the implementation of that program in West Java Province, namely in Desa Panjalu (Regency of Ciamis) and Kampung Dukuh (Regency of Garut). The research for this article was conducted on August 2016. The method used is qualitative, with interview as a main technique of data collection. Based on the findings, this article argue that the Adat Village Revitalization Program, without ignoring the benefit gained by the recipient communities, has not answered the main problems faced by adat communities.
Hindia-Belanda Sebelum Depresi Ekonomi Global: Catatan Dari Sang Penjabat Kolonial Sulistiyawan, Andrik
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 19 No. 2 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (752.649 KB) | DOI: 10.52829/pw.146

Abstract

Page 4 of 15 | Total Record : 149