cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 14115239     EISSN : 25984209     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words "patra" and "widya", derived from Sanskrit, and became an absorption word in Old Javanese. the word "patra" is derived from the word "pattra", from the root of the term pat = float, which is then interpreted by the wings of birds; fur, leaves; flower leaf; fragrant plants fragrant; leaves used for writing; letter; document; thin metal or gold leaf. The word "widya" comes from the word "vidya", from the root vid = know, which then means "science". Patrawidya is defined as "a sheet containing science" ISSN 1411-5239 (print) ISSN 2598-4209 (online).
Arjuna Subject : -
Articles 149 Documents
PERGELARAN RITUAL SEREN TAUN DAN AJARAN SPIRITUAL KIYAI MADRAIS DI CIGUGUR KABUPATEN KUNINGAN JAWA BARAT Subiantoro, Ignatius Herry
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6059.417 KB) | DOI: 10.52829/pw.46

Abstract

Kajian "Pergelaran Ritual Seren Taun" menggunakan metoda deskriptif kualitatif, berdasarkan observasi dan analisis etnografi dari data verbal maupun data pictorial. Berdasarkan hasil pengamatan, wawancara, dan mencermati aspek-aspek terkait dari sistem ritual yang dipergelarkan, Seren Taun merupakan "drama estetik" yang mengekspesikan tiga prinsip kehidupan. Tiga prinsip itu meliputi kelahiran yang digambarkan pada Tari Pwahaci, kedewasaan atau perkawinan pada ngararemokeun pare, dan kematian (kesempurnaan) pada prosesi puncak Seren Taun. Pergelaran ini merupakan tindakan estetik sebagai gambaran penghayatan ajaran spiritual Aliran Kepercayaan Kyai Madrais. Konsep pergelaran yang bertema menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam, Tuhan, dan sesama yang di dalamnya terjalin adanya persatuan dan kebinekaan tanpa adanya perbedaan atas suku, agama, adat, dan kepercayaan, maka Seren Taun menjadi sarana silaturahmi bagi raja-raja Nusantara, budayawan, seniman, agamawan, dan masyarakat luas untuk datang. Pergelaran ritual ini dapat diartikan pula sebuah gelar budaya.____________________________________________________________Seren Taun performances study used qualitative descriptive method, which compiled base on ethnographic observations and analysis of the data both verbal and pictorial data. Based on related data, as well as direct observation, interviews, and aspects interrelated ritual system were staged, ritual performances, Seren Taun are 'drama aesthetic', to describe the three principles of life. The three principles of life, the dance performance Pwahaci as the principle symbolization of birth, ngararemokeun pare as the principle of maturity (marriage), and the procession peak Seren Taun as the symbol of the principles of death (perfection). The performance is an act of aesthetic to live the spiritual teachings Beliefs Kyai Madrais. The concept of themed performances maintain harmonious relationship between human and nature, God, and others, in which established their unity and diversity, without distinction on ethnicity, religion, customs, and beliefs, Seren Taun became gathering the kings of the archipelago, humanist, artists, religious leaders, and the general public to come. The ritual performace can be defined as well a degree of culture.
SAAT ORANG JAWA MEMBERI NAMA; STUDI NAMA DI TAHUN 1950-2000 Moordiati, Moordiati
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 16 No. 3 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (41.778 KB) | DOI: 10.52829/pw.73

Abstract

Memilih dan memberi nama tidak lagi dianggap sebagai sebuah persoalan besar, pada akhirnya banyak nama yang justru tidak dikenal dan terdengar asing. Padahal pemilihan dan pemberian nama seseorang sebenarnya juga mengandung maksud dan makna tertentu sesuai dengan harapan orang tua. Dengan kata lain bahwa “nama adalah doa”. Ini juga yang menjadi alasan serta tujuan dari artikel ini untuk melihat perubahan makna pada pemberian nama di dalam kebudayaan masyarakat Jawa terutama ketika masa periode awal kemerdekaan (1950) sampai dengan tahun 2000an. Ada perkembangan serta perubahan yang menarik dari sumber sementara yang ada, bahwa nama-nama anak dari etnis Jawa akan semakin panjang dan tidak familiar di dengar (bahkan semakin kompleks dan kehilangan kejawaannya). Inilah yang menjadi pertanyaan besar dari artikel ini mengapa terjadi perubahan dalam pemilihan serta pemberian nama pada anak di dalam kebudayaan masyarakat Jawa Jombang? Kedua, Faktor apa saja yang mempengaruhi alasan terjadinya perubahan pemilihan serta pemberian nama dalam masyarakat Jawa di Jombang?. Tidak sebagaimana model metode sejarah selama ini, maka metode yang dilakukan dalam hal ini adalah melalui pengumpulan sample data siswa dari sekolah dasar dan sekolah menengah salah satu daerah di Jawa Timur, yakni Jombang untuk mendiagnosa dan mengklasifikasikan perubahan yang terjadi dari periode satu ke periode berikutnya, sekaligus juga sebagai bahan perbandingan. Akhirnya bahwa sejarah intelektual orang Jawa dapat disusun meski bersandar pada “sekedar” daftar nama. Ada perubahan besar dalam masyarakat di Jombang terutama mengenai pemilihan dan pemberian nama pada anak mereka. Nama yang dipilih dan diberikan (digunakan) bukan lagi berdasarkan atas doa dan makna dari nama tersebut, namun pemilihan serta pemberian nama lebih didasarkan pada model apa yang berkembang saat itu. Inilah yang menjadi alasan tidak banyak lagi dijumpai nama-nama yang identik dengan kejawaannya.Choosing and naming is no longer regarded as a major problem, in the end many names that actually unknown and foreign sounding. Though the elections and the naming of someone actually have the intent and specific meaning in accordance with the expectations of parents. In other words, that "the name is a prayer". This is also why the reason and the purpose of this article to see the changes of meaning in the naming in the culture of the Java community, especially when the period of the early period of independence (1950) until the 2000s. The developments as well as interesting change from the source while there, that the names of the children of ethnic Java will become longer and unfamiliar at the hearing (even more complex and losing his Javanese). Not as a model for this method of history, through the collection of data sample of students from primary schools and one secondary school in East Java region, namely Jombang to diagnose and classify the changes from one period to the next period, as well as a comparison. Finally that the intellectual history of the Javanese can be arranged even rely on "just" a list of names, although it still requires improvement, both in terms of methodology and preparation needs to get serious attention from historians that the picture of the human past into a more whole and humanist.
TIGA PELUKIS POTRET WAJAH KEPALA NEGARA PASCA PRESIDEN SUKARNO DI ISTANA KEPRESIDENAN REPUBLIK INDONESIA Susanto, Mikke; Simatupang, Lono Lastoro; Haryono, Timbul
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 19 No. 1 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1499.815 KB) | DOI: 10.52829/pw.13

Abstract

Kepala negara adalah representasi bangsa. Wajah presiden adalah wajah yang dianggap mewakili segenap masyarakatnya. Oleh karena itulah, setiap presiden memiliki keistimewaan untuk diabadikan, baik pada sebidang kanvas maupun selembar foto secara resmi. Lukisan potret akhirnya menjadi pilihan yang menarik. Lukisan potret tidak hanya berfungsi sebagai penghias dinding istana, tetapi juga memiliki fungsi lainnya, baik yang bersifat sosial maupun personal. Setelah era Presiden Sukarno, terdapat tiga pelukis potret yang sering diminta untuk melukis kepala negara: yakni IB Said, Soetarjo dan Warso Susilo. Ketiganya mengalami masa kerja dari dekade 1960-an hingga dekade pertama 2000. Selama masa tersebut ketiganya telah membuat puluhan lukisan kepala negara. Mereka tidak saja melukis wajah presiden RI, namun juga kepala negara lain. Artikel ini ingin mengupas mereka melalui pendekatan sejarah. Di samping itu tulisan ini juga ingin mengetahui sejauh mana nilai-nilai karya yang dihasilkannya. Kesimpulannya cukup mengejutkan, mereka melukis dan mendudukan lukisan potret bukan sebagai karya pribadi. Inilah potret presiden pesanan, dimana pelukis hanya menjalani tugas sebagai instrumen mimetik atas realitas, bukan interpretator.____________________________________________________________Head of state is a nation’s representation. Therefore, every president has the privilege of being immortalized, both on a canvas and photography. Portrait painting becomes an interesting option, not only serves as a decoration, but also have social and personal functions. President Sukarno had three court painters. After that era, this tradition no longer exists. The Palace ordered portraits on three portrait painters: IB Said, Soetarjo, and Warso Susilo. Research about the history of the court painters have been written in a number of books and articles, but not with these three painters, though they painted from the 1960s to the first decade of 2000. This article wants to discuss their existence and creative process through historical approach. In addition, this paper also wants to know the extent to which the value of the work it produces. The conclusion, they paint and portrait paintings portraiture not as a personal work. The painter only serves as a mimetic instrument of reality, not an interpreter. His artwork, although a formal or state portrait, also has significance for discourse of political and power.
GAMELAN DI KEMLAYAN: STUDI SEJARAH KAMPUNG ABDI DALEM NIYAGA DI SURAKARTA Priyatmoko, Heri
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 19 No. 2 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (984.911 KB) | DOI: 10.52829/pw.143

Abstract

Tulisan ini membahas sejarah lahirnya kampung Kemlayan yang menjadi tempat tinggal komunitas abdi dalem seniman di Keraton Kasunanan Surakarta dalam rentang waktu abad XVIII-XX. Pengambilan topik tersebut dilatarbelakangi oleh dua hal pokok, yaitu langkanya studi ilmiah mengenai sejarah kampung di Jawa yang bergerak di bidang kultural pada periode kerajaan sampai republik, dan keberadaan kampung tersebut tidak tertulis dalam panggung sejarah dinasti Mataram Islam. Permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini, yaitu lahirnya Kemlayan yang mayoritas dihuni oleh kelompok abdi dalem seniman karawitan, posisi Kemlayan dalam lingkaran kekuasaan istana, serta pandangan masyarakat Surakarta terhadap kampung seniman-priayi tersebut. Guna memperoleh jawaban atas permasalahan utama tersebut dipakai metode sejarah kritis serta penggunaan sumber primer maupun sekunder. Kemlayan muncul pada masa Paku Buwana IV (1788-1821). Faktor penentu terciptanya kampung tersebut adalah raja memiliki ketertarikan pada karawitan, dan kesenian menjadi alat legitimasi politis kerajaan sehingga wajar kelompok seniman karawitan yang setia mengabdi kepada istana diberi keistimewaan berupa daerah untuk ditinggali. Kemlayan merupakan satu-satunya kampung seniman dalam dinasti Mataram Islam. Kemlayan lahir dan tumbuh bukan dilandasi semangat etnisitas, nafas keagamaan maupun orientasi bisnis, melainkan bergerak di bidang kesenian karawitan tradisional Jawa. Aktivitas kebudayaan dilakukan oleh penghuninya secara konsisten membentuk karakteristik ruang yang ditinggalinya. Di lingkungan sosial, Kemlayan dikenal juga sebagai kampungnya priayi. Dengan keahlian menabuh gamelan, seniman-priayi Kemlayan sering tampil dalam acara bergengsi. Dampak positifnya ialah Kemlayan selalu diperhitungkan dalam jagad kesenian tradisional Jawa selama seabad lebih.____________________________________________________________This paper discusses the establishment of a kampong named Kemlayan which becomes the home of Abdi Dalem artists community of Surakarta palace during XVIII-XX century. The discussion is triggered by two major reasons. First, only few academic discourses present topics on the history of cultural village in Java since dynasties period to the establishment of Republic of Indonesia. Second, the existence of the kampong has not been written in the discussion of Islamic Mataram history. This paper discusses three problems, i.e. the establishment of kampong Kemlayan in which most of the residents are Abdi Dalem karawitan artists, the kampong’s position in the power relation with the palace, and the society’s attitude towards the kampong. In discussing those problems, this paper employs critical history method involving both primary and secondary sources. Kemlayan was established during the reign of Paku Buwana IV (1788-1821). The main motives of the establishment are the king’s interests in karawitan and arts, and it became the political excuse to provide loyal groups of karawitan artists some territories to live in. Kemalyan was the only kampong whose residents were artists in Islamic Mataram era. It was not established and developed based on ethnicity, religion, or economic ambitions. It was based on Javanese tradition of karawitan. Further, the constant and consistent cultural activities by the residents of kampong Kemlayan chracterize their living spaces. In social contexts, Kemlayan is well known as the kampong of priyayi. Having the skills of playing gamelan instruments, priyayi artists often performed in prominent events. Positively, this brings a consequence that Kemlayan has been always acknowledged in Javanese traditional arts for more than a century.
KEARIFAN LOKAL PADA ARSITEKTUR RUMAH TRADISIONAL DI KAMPUNG WANA Rostiyati, Ani
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 18 No. 3 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5513.822 KB) | DOI: 10.52829/pw.4

Abstract

Kajian ini bertujuan mengungkap cara pembuatan rumah dilihat dari kearifan lokal dalam beradaptasi dengan lingkungan alamnya. Hasil kajian menemukan bahwa arsitektur rumah di Kampung Wana sangat adaptif terhadap lingkungan sekitarnya dan merupakan gambaran kebijakan nenek moyang dalam mensiasati dan tanggap terhadap kondisi kehidupan lingkungannya agar terhindar dari gempa, banjir dan ancaman binatang buas. Pemilihan konstruksi yang tepat untuk membangun rumahnya menjadi gambaran kearifan lokal budaya masyarakat setempat. Sistem konstruksi  menggunakan umpak batu, atap daun rumbia, sistem sambungan purus dan pen, konfigurasi balok lantai yang saling jepit, tumpu, tekan, dan tarik, merupakan sistem kearifan lokal  pada arsitektur tradisional rumah Kampung Wana. Agar rumah tersebut kuat  terhadap gempa, tidak banjir dan tidak mudah lapuk. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan merupakan penelitian eksplorasi. Jenis penelitian bersifat deskriptif, yakni menganalis dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga mudah untuk dipahami dan disimpulkan. Adapun pengambilan data melalui observasi, wawancara mendalam pada sejumlah informan, dan studi pustaka. Untuk pengambilan gambar, dilakukan foto dan membuat sketsa atau denah rumah.  This study aims to reveal how the making of houses viewed from local wisdom in adapting to the natural environment. The results of the study found that the architecture of houses in the wana village is very adaptive to the surrounding environment and is a description of the ancestors policy in anticipating and responsive to the living conditions of the environment to avoid the earthquakes, floods, and threats of wild animals. The selection of proper construction to build a house becomes a picture of local wisdom from local people. The construction system uses the stone, therumbia  leaf roof, the connecting system of purus and pen, the interlocking floor ,the tump, the tap, and the pull, is the local wisdom of the traditional architecture in  wana village so that the house is strong against earthquake, free from flood, and not easily weathered. This research uses qualitative approach and exploratory research. This type of research is descriptive, analyzing and presenting facts systematically so that it is easy to understand and conclude. The data was collected through observation, in-depth interviews on a number of informants and literature study. The picture was from photo shoot and making sketch or house plan.
KAJIAN NILAI BUDAYA DALAM SERAT WULANG PANDHITA TEKAWARDI Mumfangati, Titi
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 18 No. 2 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5877.37 KB) | DOI: 10.52829/pw.40

Abstract

Serat Wulang Pandhita Tekawardi merupakan salah satu karya sastra Jawa yang berisi piwulang atau ajaran. Piwulang atau ajaran tersebut pada dasarnya berupa nilai-nilai luhur hasil pemikiran nenek moyang pada lampau. Kehidupan masa lampau tercermin dalam karya sastra kuna, khususnya Serat Wulang Pandhita Tekawardi.Naskah ini sesuai dengan judulnya berisi piwulang atau ajaran, terdiri dari dua bagian; bagian pertama adalah ajaran atau piwulang yang diberikan oleh Pendeta Purwaduksina kepada isterinya; bagian kedua berisi ajaran pendeta Tekawardi yang berada di Gunung Malinggeretna kepada para muridnya.Permasalahan dalam kajian ini adalah apa saja kandungan nilai budaya dalam Serat Wulang Pandhita Tekawardi. Selain itu,akan dilihat relevansinya dalam kehidupan masyarakat sekarang.Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengungkap nilai-nilai budaya dalam Serat Wulang Pandhita Tekawardi. Pengumpulan data menggunakan metode kepustakaan. Selanjutnya data yang telah terkumpul dianalisis secara deskriptif analitis.Hasil kajian menunjukkan bahwa Serat Wulang Pandhita Tekawardi berisi nilai-nilai yang masih dapat dimanfaatkan dan diterapkan dalam kehidupan masa sekarang. Nilai-nilai tersebut yaitu nilai religius, nilai kesetiaan, nilai moral, nilai etika, dan nilai didaktis.Oleh karena itu, mempelajari, mengungkapkan, dan melaksanakan ajaran-ajaran yang ada teks tersebut merupakan tindakan yang tepat. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai luhur tersebut tidak lenyap begitu saja bahkan mampu menjadi ciri jati diri bangsa Indonesia pada umumnya, masyarakat Jawa pada khususnya.Serat Wulang Pandhita Tekawardi (literally translated as Pastor Tekarwadi’s boof of teaching) is a Javanese classical literature containing piwulang or teachings of ancestor views about life and culture value. This literature consist of 2 section. The first section tell the teachings of Pastor Tekarwadi himself to his wife, while the second section contains his teachings to his appretince in Mountain Malinggeretna. This study will explore the moral values that contained in Serat Wulang Pandhita Tekarwadi. The goal of this research is to reveal the contents of culture value teachings inside Serat Wulang Pandhita Tekarwadi, which could became example for behavourial and characters attitude. Data is collected through means of literature method. Then, the collected data is analyzed further through descriptive analysis process. The study show that the culture teaching inside Serat Wulang Pandhita Tekarwardi is still relevant to today way of lives. Those culture value of religious, moral, loyalty, ethics, and didactic value could still be implemented in current generation. This is intended to avoid the culture value of ancestor to simply dissapear and even could became the characteristic of Indonesian, especially Javanese people.
GALLANT BRITISH-INDIANS, VIOLENT INDONESIANS: BRITISHINDONESIAN CONFLICT IN TWO BRITISH NEWSPAPERS, THE FIGHTING COCK AND EVENING NEWS (1945-1946) Zara, Muhammad Yuanda
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 16 No. 4 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (58.613 KB) | DOI: 10.52829/pw.84

Abstract

No longer after Sukarno proclaimed Indonesian independence, British and Indian troops were deployed in Indonesia to disarm Japanese troops and evacuate prisoners of war and internees. British arrival was initially welcomed by nationalist Indonesians. Yet, clashes with armed Indonesians occured when the British were considered by nationalist Indonesians as supporting the restoration of Dutch colonial power. In order to campaign their policies, British military in Jakarta published two English languange newspapers, The Fighting Cock dan Evening News. This article analyzes how both newspapers were run and how they reported political and military developments in Indonesia. The main themes I explore are reports about the newspapers justification on British presence in Indonesia, violence committed by Indonesians, British and Indian troops' heroism, and the British troops' victories.Tidak lama setelah Sukarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, pasukan Inggris dan India dikirim ke Indonesia untuk melucuti pasukan Jepang dan menyelamatkan tawanan perang dan interniran. Awalnya kedatangan Inggris disambut baik oleh golongan nasionalis Indonesia. Namun, pertempuran dengan pihak Indonesia mulai terjadi saat Inggris dianggap mendukung kembalinya kolonialisme Belanda. Dalam rangka mengkampanyekan kebijakan-kebijakannya, militer Inggris di Jakarta menerbitkan dua surat kabar, yakni The Fighting Cock dan Evening News. Tulisan ini menganalisa bagaimana kedua surat kabar tersebut dikelola dan bagaimana mereka melaporkan berbagai perkembangan politik dan militer di Indonesia. Tema utama yang dibahas adalah bagaimana laporan mereka menjustifikasi kehadiran Inggris di Indonesia, kekerasan yang dilakukan pihak Indonesia, heroisme pasukan Inggris dan India, dan kemenangan yang diraih pasukan Inggris.
EKSISTENSI PANRITA LOPI: STUDI TENTANG SULITNYA REGENERASI PENGRAJIN KAPAL PINISI DI KECAMATAN BONTO BAHARI Udding, Muslimin
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 19 No. 2 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1268.93 KB) | DOI: 10.52829/pw.96

Abstract

Kapal pinisi merupakan salah satu warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia. Melalui tangan para panrita lopi (Ahli Pembuatan Kapal), kapal pinisi telah menjadi simbol kebanggaan tidak hanya untuk Indonesia namun dunia pun mengakuinya sebagai karya yang luar biasa. Proses pengrajinan kapal pinisi diwariskan secara turun temurun dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Perkembangan era globalisasi yang semakin maju menyebabkan pengetahuan pengrajinan kapal pinisi sulit terwariskan dari satu generasi kegenerasi berikutnya, penyebab utama yang menghambat proses transformasi pengetahuan pengrajinan kapal pinisi karena sebagian besar generasi muda di Kecamatan Bonto Bahari lebih memilih untuk merantau dan menempuh pendidikan dibanding belajar pengrajinan kapal pinisi. Kurangnya generasi muda di Kecamatan Bonto Bahari yang mengetahui proses pengrajinan kapal pinisi menjadi masalah tersendiri bagi eksistensi kapal pinisi dimasa sekarang dan yang akan datang, padahal pengetahuan pengrajinan kapal pinisi telah di tetapkan sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).____________________________________________________________Pinisi ship is one of the cultural heritage of the Indonesian nation. Through the panrita lopi (shipbuilding expert), pinisi ships have become a symbol of pride not only for Indonesia but the world also recognize it as a masterpiece. The process of crafting the pinisi vessels is passed down from generation to generation to the next generation. The era of increasingly advanced globalization towards the knowledge of sensing that is difficult to be inherited from one subsequent generation, the main cause affecting the process of transformation of greater and better knowledge in Bonto Bahari Subdistrict is more to choose and learn from learning the craft of pinisi vessels. The lack of young people in Bonto Bahari Sub-district who know the process of pinisi crafters is a problem for cruise ships today and in the future, whereas the knowledge of pinisi crafters has been declared as one of the world cultural heritage by UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).
TRADISI NYADRAN TUK TEMPURUNG DARI DOMESTIK KE PUBLIK Purwaningsih, Ernawati
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 18 No. 3 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5731.109 KB) | DOI: 10.52829/pw.28

Abstract

Upacara nyadran Tuk Tempurung di Dusun Liangan, Temanggung merupakan tradisi yang selalu dijaga oleh masyarakat pendukungnya. Tradisi tersebut terus diwariskan secara turun temurun. Namun, semenjak ditemukannya Situs Liangan yang lokasinya di Dusun Liangan, pada tahun 2008, penyelenggaraan upacara tradisi tersebut mengalami perubahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perubahan penyelenggaraan nyadran Tuk Tempurung dan fungsinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelenggaraan nyadran Tuk Tempurung mengalami perubahan baik dalam hal penyelenggaraan maupun fungsinya. Upacara nyadran Tuk Tempurung yang semula diselenggarakan secara perorangan dan sederhana, setelah ditemukannya Situs Liangan diselenggarakan secara kolektif. Penyelenggaraan nyadran dikemas lebih meriah. Nyadran Tuk Tempurung mengalami perubahan fungsi, yang semula sakral menjadi profan, artinya kepentingan menjadikan upacara tersebut sebagai daya tarik wisata menjadi lebih menonjol daripada esensi dari  penyelenggaraan tradisi nyadran Tuk Tempurung. The ceremony of Nyadran Tempurung Spring in Liangan village, Temanggung is a tradition which is always maintaned by the society supporting it. The tradition is continuously descended.However, the tradition of the performance of the ceremony has changed since Liangan Sites was found in Liangan village in 2008. This research is aimed to know the performance of Nyadran Tempurung Springs and its function. This research used  qualitatif and qualitative descriptive analysis methods. The result of the research shows  that Nyadran Tempurung Springs has changed in term of the performance and the function. The ceremony of Nyadran Tempurung Springs which was initially performed individually and simply was performed collectively after Liangan Site had been found. The ceremony is merrily performed now. Nyadran Tempurung Springs has changed its function, which is initially sacred turns into profane. It means the ceremony is carrried out to be a tourist attraction more than the essence of the performance of the tradition of Nyadran Tempurung Springs.
PERGESERAN FUNGSI RITUAL RUWATAN LAKON SUDHAMALA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MODERN Harpawati, Tatik
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 18 No. 2 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5974.468 KB) | DOI: 10.52829/pw.35

Abstract

Ruwatan dengan lakon Sudhamala pada mulanya digunakan untuk meruwat sukerta, peristiwa bersih desa, khitanan, dan pernikahan. Akan tetapi, pada era modern ruwatan dengan lakon itu juga difungsikan untuk kegiatan yang terkait dengan kehidupan masyarakat modern, misalnya ulang tahun, peresmian perusahaan, dan lain-lain. Permasalahan dalam penelitian ini, yaitu bagaimana pergeseran fungsi ritual ruwatan Sudhamala dan faktor-faktor apa yang menyebabkannya. Pendekatan fungsi  digunakan untuk mencari jawaban atas permasalahan tersebut. Metode pengumpulan data didapat dari observasi langsung, yaitu melihat pertunjukan wayang lakon Sudhamala, merekam, dan mentranskripsikannya. Wawancara dan studi pustaka juga dilakukan guna melengkapi data. Berdasarkan penelitian diperoleh hasil, bahwa fungsi ritual lakon Sudhamala bergeser karena sumber cerita berasal dari teks hasil karya masyarakat “pinggiran” dan menjadi seni ritual yang bersifat kerakyatan sehingga mudah mencair seiring dengan dinamika masyarakat. Pergeseran fungsi ritual disebabkan oleh faktor internal (pendidikan, pengalaman, agama) dan eksternal (kekuasaan, teknologi, ekonomi).Ruwatan with lakon Sudhamala, previously, is committed for sukerta, bersih desa (purifying a village from evil spirits), circumsicion and wedding party. In this modern era, eventhough, ruwatan is also functioned for the life of modern society for example birthday party, business ceremony, and others. Problem of this research covers how the change of ritual function of ruwatan Sudhamala is  and whatever factors that cause the change is. The function approach is executed to solve the problems. The method of data collecting is executed through direct observation by looking at the wayang performance lakon Sudhamala, recording, and then transcripting it. Interview and library study are also committed to complete the data. The research finding shows that the ritual function of lakon Sudhamala has changed for the story source comes from "marginal" text and becomes a populist ritual art so that it easily melt along with the social dynamics. The shift of ritual function is caused by internal factors (education, experience, religion) and external factors (power, technology, economy). 

Page 5 of 15 | Total Record : 149