cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Metalurgi
ISSN : 01263188     EISSN : 24433926     DOI : -
Core Subject : Science,
METALURGI published by Research Center for Metallurgy and Materials LIPI. The objective of this journal is the online media for disseminating of RCMM results in Research and Development and also as a media for a scientist and researcher in the field of Metallurgy and Materials.
Arjuna Subject : -
Articles 240 Documents
Karakterisasi Tingkat Degradasi Superalloy Udimet 520 Pada Sudu Putar Turbin Pembangkit Listrik Tenaga Gas Adnyana, Dewa Nyoman
Metalurgi Vol 33, No 1 (2018): Metalurgi Vol. 33 No. 1 April 2018
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1502.228 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v33i1.436

Abstract

Sudu putar turbin tingkat pertama pada sebuah unit pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) dengan kapasitas terpasang 130 MW telah dioperasikan selama lebih dari 50.000 jam. Menurut data desain, material sudu  turbin dibuat dari paduan super berbasis Ni dengan spesifikasi Udimet 520. Selama pengoperasiannya, sudu turbin diperkirakan mengalami degradasi akibat sejumlah mekanisme kegagalan yang terjadi seperti: thermal aging, creep, fatik, korosi, dan/atau erosi. Pengujian yang dilakukan ini bertujuan untuk menentukan tingkat degradasi dan kelayakan sudu turbin untuk kelanjutan pengoperasiannya diwaktu yang akan datang. Sebuah sudu turbin tingkat pertama dilepas dari rotor unit PLTG untuk digunakan dalam pengujian ini. Sebelum melakukan pengujian, sudu turbin tersebut dibelah menjadi 2 (dua) bagian, dimana salah satu belahan diberi proses heat-treatment. Sejumlah pengujian laboratorium telah dilakukan meliputi analisa kimia, uji metalografi, uji kekerasan dan uji creep. Hasil pengujian menunjukkan bahwa material sudu turbin belum mengalami perubahan yang berarti pada morfologi struktur mikro akibat thermal aging, baik pada matrik fasa austenit (g) dan partikel/presipitat fasa  gamma prime (g') Ni3 (Al,Ti) maupun pada fasa karbida. Disamping itu tingkat ketahanan creep material sudu turbin terlihat masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan sifat ketahanan creep minimum material standar Udimet 520. Lebih jauh, tingkat degradasi akibat korosi dan/atau oksidasi yang terjadi pada permukaan luar sudu turbin pada umumnya masih tergolong rendah. Didasarkan pada kondisi tersebut, sudu turbin tingkat pertama direkomendasikan untuk dilanjutkan pemakaiannya, tetapi setelah dilakukan pekerjaan rekondisi.  
STUDI KINETIKA PELINDIAN BIJIH MANGAN KADAR RENDAH DAERAH WAY KANAN LAMPUNG DENGAN MENGGUNAKAN MOLASES DALAM SUASANA ASAM Sumardi, Slamet; Mufakhir, Fika Rofiek; Prasetyo, Agus Budi
Metalurgi Vol 29, No 2 (2014): Metalurgi Vol.29 No.2 Agustus 2014
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.099 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v29i2.282

Abstract

STUDI KINETIKA PELINDIAN BIJIH MANGAN KADAR RENDAH DAERAH WAY KANANLAMPUNG DENGAN MENGGUNAKAN MOLASES DALAM SUASANA ASAM. Telah dilakukanpercobaan pelindian bijih mangan kadar rendah daerah Way Kanan Lampung dengan menggunakan molaseshasil limbah pabrik tebu dalam suasana asam sulfat. Percobaan ini dilakukan untuk mempelajari pengendali lajuproses dalam pelindian bijih mangan, nilai-nilai konstanta laju reaksi dan/atau konstanta difusi serta energiaktivasinya. Pelindian dilakukan dengan kondisi percobaan yang tetap untuk persen solid padatan 10%,kecepatan pengadukan 300 rpm, dosis pemberian molases sebanyak 80 g/L sedangkan suhu dan konsentrasiyang divariasikan. Studi kinetika diasumsikan dengan pendekatan Shrinking Core Model (SCM). Pelindian bijihmangan kadar rendah daerah Way Kanan Lampung dapat dilakukan dengan menggunakan molases sebagaipereduksi dan dalam medium asam sulfat. Hasil penelitian terhadap kinetika pelindian mangan denganmenggunakan molases sebagai agen pereduksi menunjukkan bahwa tahap pengendali laju pelindian adalah difusiproduk reaksi melalui inti yang tidak bereaksi dengan energi aktivasi sebesar 3,73 kkal/mol.
PEMBUATAN KAWAT SUPERKONDUKTOR MULTI-FILAMEN Cu-Nb-Sn DENGAN METODA SERBUK DALAM TABUNG [Production Of Cu-Nb-Sn Multifilamenary Superconductor Wire By Powder-In-Tube Method] Firdiyono, Florentinus
Metalurgi Vol 30, No 1 (2015): Metalurgi Vol.30 No.1 APRIL 2015
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.859 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v30i1.109

Abstract

Telah dilakukan percobaan pembuatan konduktor Nb3Sn dengan cara PIT (powder-in-tube) untuk  aplikasi  medan  magnet  tinggi.  Superkonduktor  Cu-Nb-Sn adalah  salah  satu  jenis superkonduktor  temperatur  rendah  yang  cocok  untuk aplikasi  pada  peralatan  MRI  (magnetic  resonance imaging). Percobaan pembuatan kawat superkonduktor multi-filamen jenis Cu-Nb-Sn ini dilakukan melalui beberapa tahapan proses yaitu: preparasi bahan, proses pemesinan, penarikan kawat, dan proses perlakukan panas.  Proses pencampuran serbuk  Nb dan  Sn  dilakukan menggunakan HEM  (high  energy  milling)  agar diperoleh campuran yang sempurna. Perlakuan panas terhadap kawat dilakukan pada temperatur 700°C selama96 jam agar serbuk Nb dan serbuk Sn dapat berdifusi satu sama lain membentuk fasa inter-metalik Nb3Sn sehingga  kawat  menjadi bersifat superkonduktor. Pengamatan mikrostuktur kawat  multi-filamen dilakukan terhadap potongan penampang melintang maupun membujur. Pengamatan mikrostruktur dengan SEM (scanning electron microscopy) dan EDS (energy dispersive spectroscopy) dilakukan terhadap kawat hasil perlakuan panas tersebut untuk melihat adanya pembentukkan Nb3Sn di dalam kawat multi-filamen. AbstractExperimental process to produce Nb3Sn conductors, based on the powder-in-tube (PIT) method, have beendeveloped for application high field magnets. Cu-Nb-Sn superconductor is one type of low temperaturesuperconductor that suitable to be applied for MRI eqiupment. The experiments to produce these multifilamensuperconductor wires were done through some steps such as: sample preparation, machining process,wire drawing, and heat treatment process. Perfectly mixing of Nb - Sn powder was needed, so the processwas done by using High Energy Mill (HEM). The wires containing Nb-Sn powder was subsequently heattreated at 700°C in 96 hours for the formation of the superconducting Nb3Sn phase by diffusion reaction ofNb-Sn powder mixture. Microstructure observation of multi-filamen wires was done through the longitudinaldan transverse cross section. Microstructure observation was done by using SEM and EDS to observed theformation of the superconducting Nb3Sn phase inside the multi-filamen wires.
Karakterisasi Struktur Coating Fe-25Al Yang Difabrikasi Dengan Metode Paduan Mekanik [Structure Characterization of Fe-25Al Coating Fabricated by Mechanical Alloying Method] Nisa, Khoirun; Aryanto, Didik; Sudiro, Toto; Sebayang, Perdamean; Aji, Mahardika P
Metalurgi Vol 31, No 2 (2016): Metalurgi Vol. 31 No. 2 Agustus 2016
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.903 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v31i2.129

Abstract

Fe-25Al coating has been prepared on low carbon steel substrate by using a mechanical alloying technique. Structure of Fe-25Al coating before and after heat treatment at 600, 700, and 800 °C was studied by using XRD (x-ray diffraction) characterization. SEM (scanning electron microscopy) and EDX (energy disperse xray) were used to identified the morphology of cross-section of Fe-25Al coating after mechanical alloying process. The result of SEM, EDX and XRD showed that the Fe-25Al deposited uniformly on low carbon steel. The Fe-25Al coating formation has a solid solution Fe(Al) phase. Heat treatment caused the changing in the phase of Fe-25Al coating, where the Fe3Al phase with orientation of (110), (200) and (211) plane was formed. The optimum of diffusion process was occurs at temperature of 600C which was indicated by the increasing in the crystalline size and followed by the decreasing in the dislocation density and lattice strain. Increasing temperature on the heat treatment caused the changing in the structure parameter, such as lattice parameter, crystalline size, lattice strain and dislocation density. In this work, heat treatment on the Fe-25Al coating influenced the changing in crystal defect such as grain boundaries, vacancy and dislocation. It affected thechanges of lattice strain and crystalline size of Fe-25Al coating.AbstrakCoating Fe-25Al telah dipreparasi di atas substrat baja karbon rendah dengan menggunakan metode paduan mekanik. Struktur dari coating Fe-25Al sebelum dan setelah diberi perlakuan panas pada 600°C, 700°C, and 800°C dipelajari dengan menggunakan karakterisasi X-ray diffraction (XRD). Scanning electron microscopy (SEM) dan energy disperse X-ray (EDX) digunakan untuk mengetahui morfologi dari penampang lintang coating Fe-25Al setelah proses paduan mekanik. Hasil dari SEM, EDX dan XRD menunjukkan bahwa Fe-25Al telah terdeposisi seragam pada substrat baja karbon rendah. Coating Fe-25Al yang terbentuk memiliki fasa solid solution Fe(Al). Perlakuan panas menyebabkan perubahan fasa pada coating Fe-25Al, dimana terbentuk fasa Fe3Al dengan orientasi bidang (110), (200) dan (211). Proses difusi optimum terjadi pada suhu 600°C yang ditunjukkan dengan peningkatan ukuran butir, diikuti dengan berkurangnya densitas dislokasi dan regangan kisi. Meningkatnya suhu pada perlakuan panas menyebabkan perubahan parameter struktur seperti parameter kisi, ukuran kristal, regangan kisi dan kerapatan dislokasi. Dalam pekerjaan ini, perlakuan panas pada coating Fe-25Al mempengaruhi perubahan cacat kristal seperti batas butir, kekosongan dan dislokasi. Hal tersebut berakibat pada perubahan regangan kisi dan ukuran kristal dari coating Fe-25Al.
PENGARUH PENAMBAHAN KARBON AKTIF PADA STRUKTUR KRISTAL DAN MAGNETISASI PARTIKEL NANO Fe3O4[Addition Effect of Active Carbon on Crystal Structure and Magnetization of Fe3O4 Nanoparticles] Wardiyati, Siti; Sukirman, E
Metalurgi Vol 28, No 1 (2013): Metalurgi Vol.28 No.1 April 2013
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.785 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v28i1.241

Abstract

PENGARUH PENAMBAHAN KARBON AKTIF PADA STRUKTUR KRISTAL DAN MAGNETISASIPARTIKEL NANO Fe3O4. Pengaruh penambahan karbon aktif (C) pada struktur kristal dan magnetisasipartikel nano Fe3O4 sebagai bahan adsorben telah diteliti. Cuplikan partikel nano Fe3O4 disintesis denganmetoda ko-presipitasi. Disiapkan cuplikan Fe3O4 murni (FeM) dan cuplikan Fe3O4 dengan penambahan C,dimana perbandingan berat prekursor Fe3O4 terhadap C divariasiakan. Variasi perbandingan berat Fe3O4terhadap C adalah 1:1, 1:2 dan 1:3, selanjutnya cuplikan disebut berturut-turut FeC11, FeC12 dan FeC13.Cuplikan dikarakterisasi dengan XRD (x-ray diffraction), VSM (vibrating sample magnetometer) dan TEM(transmission electron microscope). Hasil analisis data difraksi sinar-x dengan metoda Rietveld menunjukkanbahwa parameter kisi Fe3O4 pada FeM, FeC11, FeC12 dan FeC13 berturut-turut adalah a = b = c = 8,390(3) Å; a= b = c = 8,433(4) Å; a = b = c = 8,43(1) Å dan a = b = c = 8,434(5) Å. Kurva magnetisasi dari FeM, FeC11,FeC12 dan FeC13 masing-masing menampilkan sifat superparamagnetik. Harga magnetisasi, Ms cuplikan FeM,FeC11, FeC12 dan FeC13 berturut-turut adalah 60, 30, 20 dan 15 emu/g. Semakin banyak C ditambahkan,parameter kisi Fe3O4 bertambah panjang. Ini berarti sebagian C masuk ke dalam sistem kristal Fe3O4 secarainterstisi. Semakin banyak atom C di posisi interstisi antara Fe dan Fe, harga magnetisasi Fe3O4 terus menyusut.Cuplikan FeC12 memiliki ukuran kristalit magnetite terkecil atau luas permukaan yang paling besar. Sehinggamemungkinkan memiliki kapasitas adsorpsi yang paling besar. abstractThe addition effect of Carbon active (C) on crystal structure and magnetization of Fe3O4 nanoparticles asadsorbent have been studied. The samples of Fe3O4 nanoparticles have been synthesized by coprecipitationmethod. It were prepared Fe3O4 samples without and with the addition of C. The sample without C addition iscalled FeM, and the weight ratio of Fe3O4 precursors to C were varied. The Fe3O4 weight ratio to C is 1:1, 1:2and 1:3, hereinafter called FeC11, FeC12 and FeC13, respectively. The samples were characterized by XRD(x-ray diffraction), VSM (vibrating sample magnetometer) and TEM (transmission electron microscope). Theanalysis results of x-ray diffraction data using the Rietveld method showed that the lattice parameters ofFe3O4 on FEM, FeC11, FeC12 and FeC13 are as follows: a = b = c = 8.390 (3) Å, a = b = c = 8.433 (4) Å, a= b = c = 8.43 (1) Å, and a = b = c = 8.434 (5) Å, respectively. Each magnetization curves of the FEM,FeC11, FeC12 and FeC13 show the super paramagnetic properties. The magnetization of FEM, FeC11,FeC12 and FeC13 are Ms = 60, 30, 20 and 15 emu/g, respectively. The more C added, the longer the Fe3O4lattice parameter is. This means that some C entered into the crystal system of Fe3O4 as interstitial atoms.With growing number of C atoms in the interstitial positions between Fe and Fe, magnetization of Fe3O4decreases. FeC12 sample has the smallest size of crystallites or the large surface area. So it may have thegreatest adsorption capacity.
OPTIMASI PROSES PELAPISAN ANODISASI KERAS PADA PADUAN ALUMINIUM Eka Febriyanti, Eka
Metalurgi Vol 26, No 2 (2011): Metalurgi Vol.26 No.2 Agustus 2011
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.951 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v26i2.15

Abstract

Aluminium merupakan logam yang banyak digunakan untuk bahan baku  komponen otomotif karena ringan dan mudah diproses menjadi bentuk yang diinginkan. Namun disamping keunggulan tersebut aluminium juga mempunyai kelemahan yaitu  mudah terdeformasi dan mempunyai nilai kekerasan dan ketahanan aus yang rendah, sehingga tidak sesuai untuk aplikasi yang kondisinya harus bergesekan dengan komponen lainnya. Karena itu untuk aplikasi tersebut aluminum harus ditingkatkan kekerasan dan ketahanan ausnya, salah satunya dengan proses anodisasi keras. Pada penelitian ini proses anodisasi keras dilakukan dengan memberi konsentrasi asam sulfat 15 wt % yang dicampur dengan konsentrasi asam oksalat yang berbeda-beda dengan pengaturan temperatur yang berbeda pula, serta dilakukan pada waktu anodisasi yang berbeda beda.  Dari hasil penelitian terlihat bahwa dengan penambahan konsentrasi berat asam oksalat dapat meningkatkan ketebalan dan kekerasan lapisan  hasil  proses  anodisasi  keras  sampai  titik  optimal.  Namun  hal  tersebut  berbanding  tebalik  dengan kenaikan temperatur anodisasi, semakin meningkatnya temperatur anodisasi ketebalan dan kekerasan lapisan anodis menurun. Dengan bertambahnya waktu anodisasi justru meningkatkan ketebalan lapisan anodis dan menurunkan kekerasannya.  Ketebalan lapisan anodis terbaik sebesar 89,6 μm didapat dari penelitian anodisasi keras dengan temperatur 9 °C, asam oksalat 2 wt %, dan waktu anodisasi selama 60 menit.  Kekerasan lapisan anodis tertinggi sebesar 515 HV didapat dari penelitian anodisasi keras dengan temperatur 5 °C, asam oksalat 1 wt %, dan waktu anodisasi selama 30 menit. AbstractAluminum is one of the metals that commonly used for automotive parts because it has specific character such as light weight and easy to be processed to the desired shapes. Nevertheless, aluminum is also easy to be deformed, has low hardness and low wear resistance. Therefore, aluminum needs to be treated for application where abrasive process is taken place. One of the treatment for aluminum to improved its hardness and wear resistance is hard anodizing. In this research , hard anodizing has been proceed using 15 wt % sulphate acid mixed with various weight of oxalic acid at different temperature and duration arrangement. Experimental result show that addition of oxalic acid concentration can increase thickness and hardness value of anodized layer to the optimal point. However, by increasing anodizing temperature the thickness and hardness of anodized layer decrease. With increasing anodizing time, it can improves thickness of anodized layer but decreases its hardness value. The optimum thickness of anodized layer that can be obtained is 89,6 μm at variation of temperature 9 °C, oxalic acid of 2 wt % and 60 minutes of anodization time. The optimum hardness that can be obtained is 515 HV at variation of temperature 5 °C, oxalic acid of 1 wt % and 30 minutes of anodization time.
Indeks, panduan Andriyah, Lia
Metalurgi Vol 33, No 3 (2018): Metalurgi Vol. 33 No. 3 Desember 2018
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.153 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v33i3.460

Abstract

PENAMBAHAN AlTiB SEBAGAI PENGHALUS BUTIR PADA PROSES RAPID SOLIDIFICATION ALUMINIUM [Addition of AlTib As Grain Refiner On Rapid Solidification Process of Aluminium] Senopati, Galih; Saefudin, Saefudin
Metalurgi Vol 29, No 3 (2014): Metalurgi Vol.29 NO.3 Desember 2014
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.454 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v29i3.295

Abstract

PENAMBAHAN AlTiB SEBAGAI PENGHALUS BUTIR PADA PROSES RAPID SOLIDIFICATIONALUMINIUM. Telah dilakukan percobaan penambahan penghalus butir AlTiB pada proses rapid solidificationaluminium. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penghalus butir terhadap sifat mekanikdan struktur mikro pada proses rapid solidification aluminium. Pelat aluminium hasil proses rapid solidificationdiuji keras menggunakan alat uji keras vicker’s dan diamati struktur mikronya menggunakan mikroskop optik.Harga kekerasan tertinggi dari pelat aluminium dengan tebal 2 mm diperoleh pada penambahan 0,03% beratAlTib yaitu harga rata-rata kekerasan adalah 29,39 VHN dengan besar butir rata-rata adalah 70 μm. AbstractIn this study AlTiB was added as grain refiner on rapid solidification aluminium. The purpose of this study is to determine the influent of AlTiB as grain refiner on microstructures and mechanical properties of aluminum rapid solidification process. Aluminium plate that was produced by rapid solidification process examined by using vicker’s hardness tester and optical microscope. The highest average hardness value of aluminum plate with 2 mm of  thickness  is 29,39 VHN and average grain size is 70µm  by additional of 0,03wt% AlTiB as grain refiner.
OVERVIEW OF DENSITY FUNCTIONAL THEORY FOR SUPERCONDUCTORS[Sekilas Tentang Teori Fungsional Kerapatan Elektron pada Superkonduktor] Pramono, Andika Widya; Suryantoro, Anton
Metalurgi Vol 27, No 2 (2012): Metalurgi Vol. 27 No. 2 Agustus 2012
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.796 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v27i2.141

Abstract

 SEKILAS TENTANG TEORI FUNGSIONAL KERAPATAN ELEKTRON PADA SUPERKONDUKTOR. Teori fungsional kerapatan elektron atau density functional theory (DFT) digunakanuntuk menjelaskan interaksi elektron pada material superkonduktor. Makalah ini membahas aspek mendasaruntuk inisiasi penggunaan DFT, seperti aproksimasi kerapatan lokal atau local density approximation (LDA)serta transformasinya menjadi sistem yang bergantung terhadap waktu atau time dependent system (TDDFT) dankondisi superkonduktif atau superconducting state (SCDFT). Teorema Hamiltonian dan Kohn-Sahmdipergunakan untuk menghitung energi sistem yang berinteraksi maupun yang tidak berinteraksi. PersamaanSchrödinger yang independen terhadap waktu diselesaikan untuk mengetahui posisi elektron terisi maupun tidakterisi serta respon mereka terhadap pengaruh eksternal seperti medan optik. Pemodelan menghasilkan konstruksidari LDA superkonduktor.Kata kunci : Teori fungsional kerapatan elektron, Aproksimasi kerapatan lokal, Sistem Hamiltonian, TeoremaKohn-Sahm, Superkonduktor AbstractOVERVIEW OF DENSITY FUNCTIONAL THEORY FOR SUPERCONDUCTORS. The density functionaltheory (DFT) has been utilized to describe the electron interaction in superconducting materials. This paperdiscusses the fundamental aspects to begin with the DFT, including local density approximation (LDA) as wellas its necessary transformation into time dependent system (TDDFT) and superconducting state (SCDFT). TheHamiltonian and Kohn-Sahm theorems along with Helmann-Feymann theorem are utilized to yield the energy ofinteracting and non-interacting systems. The procedures begins with the utilization of time-independentSchrödinger equation which is solved for occupied and unoccupied states. The equation is also computedagainst linear and non-linear responses of the material system to the external forces such as optical field. Theresults indicate construction of an LDA for superconductors.Keywords : Density
cover, daftar isi, abstrak Jurnal Metalurgi, Redaksi
Metalurgi Vol 28, No 3 (2013): Metalurgi Vol.28 No.3 Desember 2013
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/metalurgi.v28i3.398

Abstract

Page 7 of 24 | Total Record : 240


Filter by Year

2011 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 34, No 3 (2019): Metalurgi Vol. 34 No. 3 Desember 2019 Vol 34, No 2 (2019): Metalurgi Vol. 34 No. 2 Agustus 2019 Vol 34, No 1 (2019): Metalurgi Vol. 34 No. 1 April 2019 Vol 34, No 1 (2019): Metalurgi Vol. 34 No. 1 April 2019 Vol 33, No 3 (2018): Metalurgi Vol. 33 No. 3 Desember 2018 Vol 33, No 2 (2018): Metalurgi Vol. 33 No. 2 Agustus 2018 Vol 33, No 1 (2018): Metalurgi Vol. 33 No. 1 April 2018 Vol 32, No 3 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 3 Desember 2017 Vol 32, No 3 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 3 Desember 2017 Vol 32, No 2 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 2 Agustus 2017 Vol 32, No 2 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 2 Agustus 2017 Vol 32, No 1 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 1 April 2017 Vol 31, No 3 (2016): Metalurgi Vol. 31 No. 3 Desember 2016 Vol 31, No 2 (2016): Metalurgi Vol. 31 No. 2 Agustus 2016 Vol 31, No 1 (2016): Metalurgi Vol. 31 No. 1 April 2016 Vol 30, No 3 (2015): Metalurgi Vol. 30 No. 3 Desember 2015 Vol 30, No 2 (2015): Metalurgi Vol.30 No.2 Agustus 2015 Vol 30, No 1 (2015): Metalurgi Vol.30 No.1 APRIL 2015 Vol 29, No 3 (2014): Metalurgi Vol.29 NO.3 Desember 2014 Vol 29, No 2 (2014): Metalurgi Vol.29 No.2 Agustus 2014 Vol 29, No 1 (2014): Metalurgi Vol.29 No.1 April 2014 Vol 29, No 1 (2014): Metalurgi Vol.29 No.1 April 2014 Vol 28, No 3 (2013): Metalurgi Vol.28 No.3 Desember 2013 Vol 28, No 2 (2013): Metalurgi Vol.28 No.2 Agustus 2013 Vol 28, No 1 (2013): Metalurgi Vol.28 No.1 April 2013 Vol 27, No 3 (2012): Metalurgi Vol.27 No.3 Desember 2012 Vol 27, No 2 (2012): Metalurgi Vol. 27 No. 2 Agustus 2012 Vol 27, No 1 (2012): Metalurgi Vol. 27 No. 1 April 2012 Vol 26, No 3 (2011): Metalurgi Vol. 26 No. 3 Desember 2011 Vol 26, No 2 (2011): Metalurgi Vol.26 No.2 Agustus 2011 Vol 26, No 1 (2011): Metalurgi Vol. 26 No. 1 April 2011 More Issue