cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Metalurgi
ISSN : 01263188     EISSN : 24433926     DOI : -
Core Subject : Science,
METALURGI published by Research Center for Metallurgy and Materials LIPI. The objective of this journal is the online media for disseminating of RCMM results in Research and Development and also as a media for a scientist and researcher in the field of Metallurgy and Materials.
Arjuna Subject : -
Articles 240 Documents
ANALISIS STRUKTUR DAN SIFAT MAGNETIC PEROVSKITE LaMnO3 SEBAGAI KANDIDAT BAHAN ABSORBER GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK[Effect of Structure Analysis and Magnetic Properties of Perovskite LaMnO3 as for Candidate Materials Absorber Electromagnetic Wave.] Sebleku, Pius; Adi, Wisnu Ari
Metalurgi Vol 28, No 2 (2013): Metalurgi Vol.28 No.2 Agustus 2013
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.154 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v28i2.251

Abstract

ANALISIS STRUKTUR DAN SIFAT MAGNETIC PEROVSKITE LaMnO3 SEBAGAI KANDIDAT BAHAN ABSORBER GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK. Telah dilakukan sintesis dan karakterisasi bahan magnetic system LaMnO3 hasil proses mechanical alloying. Bahan magnetic ini dibuat dari oksida penyusun La2O3, dan MnCO3. Campuran di milling selama 10 jam kemudian di sintering pada suhu 1000 °C selama 10 jam. Hasil refinement pola difraksi sinar-x menunjukkan bahwa sampel memiliki fasa tunggal (single phase), yaitu fasa LaMnO3 yang memiliki struktur monoclinic (I12/a1) dengan parameter kisi a = 5.4638(7) Å, b = 5.5116(6) Å dan c = 7.768(1) Å,  = 90° dan  = 90.786(9)°, volume unit sel sebesar V = 233.93(3) Å3 dan kerapatan atomik sebesar  = 6.449 gr.cm-3. Hasil analisis elementer dan morfologi partikel tampak bahwa sampel memiliki komposisi yang telah sesuai dengan yang diharapkan dengan bentuk partikel yang relatif seragam dan terdistribusi merata diseluruh permukaan sampel. Fenomena absorpsi gelombang EM telah terjadi pada rentang frekuensi antara 9 – 15 GHz dengan frekuensi puncak absorbpsi pada 11 GHz sebesar ~ 2,6 dB. Pada frekuensi puncak ini dikalkulasi besarnya absorpsi gelombang EM mencapai 30 % dengan ketebalan bidang absorp 1,5 mm. Disimpulkan bahwa bahan lanthanum manganite LaMnO3 sistem perovskite ini dapat digunakan sebagai studi awal pengembahan bahan baru untuk absorber gelombang elektromagnetik. AbstractThe synthesis and characterization of LaMnO3 magnetic materials by mechanical alloying process have beenperformed. This magnetic material is prepared by oxides, namely La2O3, and MnCO3. The mixture wasmilled for 10 h then sintered at a temperature of 1000 ° C for 10 h. The refinement results of x-ray diffractionpattern of lanthanum manganite showed that the sample had single phases, namely, LaMnO3 phases. LaMnO3phase had a monoclinic structure (I12/a1) a = 5.4638(7) Å, b = 5.5116(6) Å and c = 7.768(1) Å,  =90°and  = 90.786(9) 0°, the unit cell volume of V = 233.93(3) Å3, and the atomic density of  = 6.449gr.cm-3. The results of elementary analysis and particle morphology appears that the sample has acomposition as expected with a relatively uniform particle shape and evenly distributed the surface of thesample. The electromagnetic wave absorption phenomenon has occurred in the frequency range of 9-15 GHzwith absorption of ~ 2.6 dB at 11 GHz peak frequency. The electromagnetic wave absorption is calculatedabout 30 % with a thickness of 1.5 mm. We concluded that the material lanthanum manganite perovskitesystem LaMnO3 can be used as a preliminary study of the development of new materials for electromagneticwave absorber.
MORFOLOGI STRUKTUR DAN KARAKTERISTIK SIFAT MEKANIK SERTA KEAUSAN BAJA BAINIT DENGAN VARIASI MANGAN HASIL NORMALISING UNTUK TAPAK KENDARAAN TEMPUR [Morphology The Structure And Mechanical Properties And Wear of Normalizing Bainitic Steel With Various Manganese For Track Link of Combat Vehicle] Pratomo, Sri Bimo
Metalurgi Vol 30, No 2 (2015): Metalurgi Vol.30 No.2 Agustus 2015
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (983.174 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v30i2.40

Abstract

Tapak rantai impor yang digunakan untuk kendaraan tempur menggunakan baja bainite. Baja bainite digunakan secara luas karena memiliki sifat yang keras tetapi tangguh. Untuk memperbaiki sifat mekanis produk cor, umumnya dilakukan proses perlakuan panas normalisasi. Tahap akhir dari proses normalisasi adalah proses pendinginan yang sangat mempengaruhi morfologi struktur mikro. Pengaruh mangan terhadap pembentukan struktur bainite saat ini masih dalam perdebatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengamati pengaruh kadar mangan dan perbedaan proses pendinginan terhadap struktur mikro, kekerasan dan ketahanan aus dari tapak rantai yang terbuat dari baja bainite. Disebabkan karena terbentuknya massive bainitic ferrite maka kekerasan dan ketahanan aus prototipe tapak rantai yang mengandung 2% mangan menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan yang hanya mengandung 1% mangan. Pada prototipe tapak rantai yang mengandung 1% mangan dan dinormalisasi dengan pendinginan kipas angin, akan menghasilkan struktur mikro compact bainitic ferrite, dengan nilai kekerasan dan ketahanan aus yang lebih baik bila dibandingkan dengan tapak rantai impor; yaitu 31 HRC, 0,28% dan 28 HRC, 0,52%, masing-masing untuk tapak rantai prototipe dan impor. Struktur mikro dari compact bainitic ferrite memperlihatkan morfologi yang lebih baik bila dibandingkan dengan struktur mikro massive bainitic ferrite. AbstractImported track link for combat vehicle uses bainitic steel. Bainitic steels are widely used because they exhibithard but tough. To improve the mechanical properties of casting product generally are performednormalizing heat treatment. The final stage of normalizing namely cooling process greatly affects the changeof microstructure morphology. Effect of manganese in the formation of bainitic structure is still debated. Thepurpose of this study was observing effect the manganese content and effect the various cooling process ofbainitic steel track link on microstructures, hardness and abrasive resistant. Due to the formation of massivebainitic ferrite, the hardness and abrasive resistance of track link prototype containing 2% manganesebecomes higher compared with track link prototype contains only 1% manganese. The track link prototypecontaining 1% manganese and normalized by the cooling fan, produced the microstructure of compactbainitic ferrite that has hardness and abrasive resistance was better compared to imported track link; ie 31HRC, 0.28% and 28 HRC, 0.52%, respectively for the track link prototype and imported track link. Compactbainitic ferrite microstructure showed better morphology compared to the massive bainitic ferritemicrostructure.
indeks, panduan Jurnal Metalurgi, Redaksi
Metalurgi Vol 29, No 2 (2014): Metalurgi Vol.29 No.2 Agustus 2014
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/metalurgi.v29i2.403

Abstract

KINETIKA REAKSI PELARUTAN TEMBAGA DARI MALACHITE KE DALAM LARUTAN ASAM SULFAT[Reaction Kinetics of Copper Dissolution for Malachite into Sulfuric Acid Solution] Subagja, Rudi; Andriyah, Lia
Metalurgi Vol 28, No 3 (2013): Metalurgi Vol.28 No.3 Desember 2013
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (921.938 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v28i3.264

Abstract

KINETIKA REAKSI PELARUTAN TEMBAGA DARI MALACHITE KE DALAM LARUTAN ASAMSULFAT. Penelitian untuk mempelajari kinetika reaksi pelarutan tembaga dari malachite ke dalam larutan asamsulfat telah dilakukan melalui percobaan dalam skala laboratorium di Pusat Penelitian Metalurgi LIPI, denganmenggunakan reaktor gelas kapasitas 1 liter, dilengkapi dengan pemanas listrik dan alat pengaduk yangdigerakan oleh motor listrik. Dari hasil percobaan diketahui bahwa 95,63 % tembaga dapat dilarutkan ke dalamlarutan asam sulfat konsentrasi 7,5 % dari bijih malachite ukuran -100 mesh, pada temperatur 60 °C selamawaktu reaksi 2 jam, dan kinetika reaksi pelarutan mengikuti model reaksi yang dikontrol oleh proses difusidengan energi aktivasi 41 Kkal/mol. AbstractA research to study the reaction kinetics of copper dissolution from malachite into sulfuric acid solution hasbeen done through experiments in laboratory scale at Pusat Penelitian Metalurgi LIPI, using 1 liter capacityglass, equipped by heater and stirrer which is driven by electric motor. The result of this experiment is95,63% copper can be dissolved into sulfuric acid solution 7,5% from ore malachite -100 mesh, thetemperature is 60 °C during 2 hours, and reaction kinetics of dissolution follow the models of reaction thatcontrol by diffusion process with the activation energy 41 Kkal/mol.
PENGARUH UKURAN BUTIRAN TERHADAP STRUKTUR KRISTAL PADA PROSES KALSINASI PARSIAL DOLOMIT [Effect of Particles Size to Crystal Structure in Partial Calcination Process of Dolomite] sulistiyono, eko; sulistiyono, eko
Metalurgi Vol 30, No 3 (2015): Metalurgi Vol. 30 No. 3 Desember 2015
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.326 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v30i3.71

Abstract

Salah satu proses yang menentukan pada pembuatan magnesium karbonat adalah proses kalsinasi mineral dolomit. Dari proses kalsinasi ini akan diketahui apakah terjadi pembentukan senyawa MgO, CaO, CaCO3dan MgCO3 . Pada proses kalsinasi diharapkan untuk dapat membentuk senyawa MgO dalam jumlah banyak dan CaO dalam dalam jumlah sedikit. Pada tahapan proses selanjutnya diharapkan MgO yang terbentuk menjadi magnesium bikarbonat mampu larut dalam air dan kalsium berada dalam bentuk CaCO3 yang tidak larut dalam air.  Pada penelitian ini telah dilakukan percobaan kalsinasi dolomit dari Gresik  dengan variabel ukuran butiran, temperatur dan waktu proses. Dari hasil percobaan diketahui bahwa dolomite dari Gresik memiliki titik kalsinasi parsial antara temperatur 600ºC sampai dengan temperatur 700ºC dan kalsinasi total antaratemperatur 800ºC sampai dengan temperatur 900ºC. Semakin besar ukuran butiran proses kalsinasi semakin cepat, dimana ukuran butiran paling besar yaitu 2,5 cm menunjukkan hasil yang paling cepat. Sehingga titik optimal ukuran butiran belum ditemukan oleh karena itu percobaan dengan ukuran butiran diatas 2,5 cm dengan skala percobaan lebih besar dari 100 gperlu dilakukan. AbstractOne of the processes that determine the magnesium carbonat production is calcination process in dolomitmineral. From that process can be known that MgO, CaO, CaCO3 and MgCO3 happened. On calcinationprocess expected that MgO can be formed in large quantities and CaO in small quantities. On the next stepexpected that MgO which was formed as Mg(HCO3)2 soluble in water and calcium which was formed asCaCO3 not dissolved in water. This research has been done a calcination process on dolomite mineral fromGresik and used three variables such as particles size, temperature and time of this process. From the result ofthis research were known that the dolomite from Gresik has a partial calcination point around 600 °C until700 °C, total calcination around 800 °C until 900 °C.The result also shows that the particles size effected thetime of calcination, when its size reached 2.5 cm the calcination time was the fastest. But the optimal resultwas not found yet so that the particles size above 2.5 cm and the scale of the research above 100 g need to bedone.
Pengaruh Rapat Arus dan Waktu Pelapisan Nikel pada AISI 410 dengan Metode Pulse Electrodeposition terhadap Strukturmikro dan Laju Korosi [The Influences of Current Density and Time on Microstructure and Corrosion Rate Nickel Coating in Aisi 410 by Pulse Electro Deposition Method] Saputra, Rivaldo Ramadhana; Oediyani, Soesaptri; Lestari, Yulinda; Mabruri, Efendi
Metalurgi Vol 32, No 2 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 2 Agustus 2017
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.31 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v32i2.224

Abstract

Nickel plating process with pulse methods in AISI 410 electrodepostion has been done to reduce corrosion rate of this material in industrial applications i.e turbine blade that is often experienced corrosion problems. The coating process using nickel sulfate 250 g / l, boric acid 50 g / l and nickel chloride 45 g / l at temperature of 50-60 ° C with various of current densities for 10, 15, 20 and 25 A / dm² and time for coating process of 10, 15 and 20 minutes. Duty cylce used was 80% and the pulse frequency approximately around 100 Hz. Microstructure examined by using SEM-EDS (scanning electron microscopy-energy dispersive spectroscopy) to observe grain size and thickness of the nickel layer. Corrosion rate measured by using CMS (corrosion measurement system).  The results showed that increasing of current density and coating process would reduce grain size and corrosion rate in coating area. The corrosion rate is 0.00027 mmpy when the current density is 25 A / dm² and plating time is 20 minutes. AbstrakProses pelapisan nikel dengan metode pulse electrodepostion pada AISI 410 dilakukan untuk menurunkan laju korosi AISI 410 pada aplikasi industri, yaitu turbin blade yang sering mengalami masalah korosi. Proses pelapisan menggunakan larutan nickel sulphate 250 g/l, boric acid 50 g/l dan nickel chloride 45 g/l pada temperatur 50 – 60°C dengan variasi rapat arus 10, 15, 20 dan 25 A/dm² dan lamanya proses pelapisan 10, 15 dan 20 menit. Duty cylce yang digunakan adalah 80% dan frekuensi pulse 100 Hz. Pengujian struktur mikro dilakukan menggunakan SEM-EDAX untuk melihat ukuran butir dan ketebalan lapisan nikel yang terbentuk. Pengujian laju korosi dilakukan menggunakan alat CMS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar rapat arus dan semakin lama proses pelapisan maka ukuran butir yang tergambarkan dalam mikrostruktur lapisan semakin kecil dan laju korosi yang terukur semakin kecil. Laju korosi paling kecil adalah 0,00027 mmpy pada rapat arus 25 A/dm² dan waktu pelapisan 20 menit.
Struktur Mikro, Sifat Mekanik, Dan Ketahanan Korosi Paduan Mg-Zn-Ca Yang Dihasilkan Melalui Proses Metalurgi Serbuk [Microstructure, Mechanical And Corrosion Properties of Mg-Zn-Ca Alloy via Powder Metallurgy] Annur, Dhyah; Lestari, Franciska Pramudji; Erryani, Aprilia; Amal, M Ikhlasul; Sitorus, Lyandra S; Kartika, Ika
Metalurgi Vol 31, No 3 (2016): Metalurgi Vol. 31 No. 3 Desember 2016
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7886.384 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v31i3.173

Abstract

Magnesium (Mg), known for its biodegradable and biocompatible properties, currently is being developed for biodegradable implant material. Unfortunately, application of Mg in biomedical devices was limited due to its low mechanical strength and low corrosion resistance. In this study, powder metallurgy was selected to process Mg-3Zn-1Ca, Mg-29Zn-1Ca, and Mg-53Zn-4.3Ca (in weight%) alloys. Holding time of sintering were varied for five and ten hours. Microstructure of Mg alloy was characterized by SEM (scanning electron microscope) and also XRD (x-ray diffraction). Compression testing was done to show the mechanical strength of Mg alloy, while corrosion resistance was examined through electrochemical testing. This study showed that ten hours of sintering time would increase mechanical properties of Mg alloy but would reduce corrosion resistance. The lowest corrosion rate was 0.32 mmpy given by Mg-29Zn-1Ca alloy and Mg-53Zn- 4Ca alloy which were sintered for five hours. Therefore, sintering time for five hours was found to be the optimum time to process Mg-Zn-Ca alloy for biodegradable implant material.AbstrakMagnesium (Mg), dengan kemampuan mampu luruh dan biokompatibilitas, merupakan salah satu logam yang kini dikembangkan sebagai material implan mampu luruh. Namun, penggunaan Mg dalam aplikasi biomedis masih terkendala kekuatan dan ketahanan korosi yang rendah. Pada penelitian kali ini proses metalurgi serbuk dipilih untuk membuat paduan Mg-3Zn-1Ca, Mg-29Zn-1Ca, and Mg-53Zn-4.3Ca (dalam %berat) dengan variasi waktu tahan sintering lima jam dan sepuluh jam. Pengaruh waktu tahan sintering dikaji dari segi kekuatan tekan dan ketahanan korosi paduan. Karakterisasi struktur mikro paduan Mg dilakukan dengan menggunakan scanning electron microscope (SEM) dan juga x-ray diffraction analysis (XRD). Dilakukan pengujian tekan untuk mengetahui nilai kekuatan paduan sedangkan ketahanan korosi dianalisis dengan menggunakan pengujian elektrokimia.  Waktu  tahan sintering selama 10 jam akan meningkatkan kekuatan mekanik namun menurunkan ketahanan korosi paduan. Laju korosi yang terbaik (0,32 mmpy) ditunjukkan oleh paduan Mg-29Zn-1Ca dan Mg-53Zn-4Ca dengan waktu tahan lima jam. Oleh karena itu, waktu tahan sintering yang optimum  adalah lima jam untuk menghasilkan paduan Mg-Zn-Ca untuk material implan.
KONSENTRASI PASIR BESI TITAN DARI PENGOTORNYA DENGAN CARA MAGNETIK Sufiandi, Dedi
Metalurgi Vol 26, No 1 (2011): Metalurgi Vol. 26 No. 1 April 2011
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.972 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v26i1.4

Abstract

Pasir besi titan Indonesia cadangannya cukup besar terutama di daerah sekitar pantai Selatan Jawa. Salah satu potensi pasir besi titan yang akan di teliti adalah pasir besi dari daerah Tegal Buleud Pantai Selatan Sukabumi. Pemanfaatan pasir besi titan merupakan alternatif yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri baja yang dalam perkembangan dan kebutuhannya semakin meningkat dengan terbatasnya cadangan bijih  besi  konvensional.  Tujuan  penelitian  untuk  mendapatkan  kualitas  pasir  besi  titan  yang  memenuhi persyaratan  peleburan,  perlu  dilakukan  konsentrasi untuk  meningkatkan  kadar  besi  dengan  cara  magnetik. Metode percobaan adalah melakukan identifikasi pasir besi titan dengan mengunakan analisa XRD. Kemudian dilakukan proses preparasi sampel dan pengayakan sebelum dimasukan kedalam peralatan pemisah magnetik dan  dari  pemisah  magnet  akan  dihasilkan  produk  konsentrat,  middling,  dan  tailing.  Hasil  percobaan menunjukkan produk konsentrat pasir besi titan mempunyai kandungan Fe2 03   80 % dan TiO2   20 %. Dan pemisahan pasir besi titan dengan kondisi optimum diperoleh pada kondisi arus 3,5 ampere dan fraksi - 100 mesh dengan perolehan konsentrat rata-rata 90 %. AbstarctTitan iron sand has been found a lot in Indonesia especially around west coast of Java. One of titan iron sand used in this research is iron sand from Tegal Buleud area at Sukabumi west coast. The utilization of iron sand is an alternative to fill-up the rising demand of raw material for steel industry development due to limited amount of conventional iron ore. To obtain the quality of titan iron sand which is suitable with the requirement for smelting, it is needed to have concentration process by magnetic separator to increase iron content. The step of experiment were identification of titan iron sand composition, preparation of sample and sampling processes, and material separation using magnetic separator to get concentrate, middling, and tailing products. The result of experiment shown concentrate product of titan iron sand has Fe2O3 and TiO2 with weight composition 80 % and 20 % respectively. And also The optimum condition in magnetic separator was 3.5 Ampere current and fraction -100 mesh got average concentrate yield about 90 %.
Ekstraksi Litium dari β – Spodumen Hasil Dekomposisi Batuan Sekismika Indonesia Menggunakan Aditif Natrium Sulfat Natasha, Nadia Chrisayu; Lalasari, Latifa Hanum; Rohmah, Miftakhur; Sudarsono, Johny Wahyuadi
Metalurgi Vol 33, No 2 (2018): Metalurgi Vol. 33 No. 2 Agustus 2018
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.74 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v33i2.429

Abstract

Spodumen merupakan salah satu mineral yang terkandung di dalam batuan sebagai sumber litium. Mineral bahan baku litium ditemukan di alam dalam bentuk α – spodumen. Syarat utama dalam melakukan ekstraksi litium dari spodumen dengan metode leaching adalah fasa β – spodumen. Hal tersebut dapat terjadi karena fasa tersebut mempunyai poros yang membuatnya menjadi lebih reaktif jika dibandingkan dengan fasa α – spodumen.  Pembentukan fasa β – spodumen diperoleh dari batuan sekismika Indonesia dengan metode roasting menggunakan natrium sulfat sebagai aditif pada 650, 700, 750 dan 850 ºC selama 20, 40 dan 60 menit.  Proses leaching dilakukan untuk mengetahui pengaruh fasa yang terbentuk terhadap persen ekstraksi litium. Variasi perbandingan solid dan liquid pada proses leaching yaitu 1 : 15, 1 : 10, 1 : 5, 1 : 2 dan 1 : 1. Proses leaching dilakukan menggunakan aquadest selama 1 jam pada temperatur kamar. Analisis Simultaneous Thermal Analysis (STA) digunakan untuk menentukan temperatur reaksi antara sekismika dan natrium sulfat pada saat proses roasting. Analisis X – ray diffraction (XRD) dan Scanning Electron Microscope (SEM) dilakukan untuk analisis secara fisik dalam mengetahui perubahan fasa yang terbentuk, morfologi dan mapping. Sedangkan komposisi dari sekismika ditentukan dengan Inductively Coupled Plasma (ICP). Di dalam batuan sekismika, Kebumen Indonesia mengindikasikan adanya kandungan mineral spodumen. Fasa β – spodumen mulai terbentuk pada temperatur 700 ºC dan waktu roasting 20 menit namun fasa tersebut berubah pada 750 ºC dan waktu roasting 40 menit menjadi sanidine (AlLiO8Si3). Persen ekstraksi optimum litium yang diperoleh adalah 70,6% pada 700 ºC dan waktu roasting 40 menit.
PENGARUH OIL SPILL DISPERSANT TERHADAP KOROSI PADA STRUKTUR BAJA KONSTRUKSI DI LINGKUNGAN AIR LAUT Binudi, Rahardjo; Sundjono, Sundjono
Metalurgi Vol 29, No 2 (2014): Metalurgi Vol.29 No.2 Agustus 2014
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.865 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v29i2.284

Abstract

PENGARUH OIL SPILL DISPERSANT TERHADAP KOROSI PADA STRUKTUR BAJAKONSTRUKSI DI LINGKUNGAN AIR LAUT. Oil spill dispersant (OSD) adalah bahan kimia dispersanyang sekarang banyak digunakan untuk pengendalian tumpahan petroleum pada eksplorasi sumur minyak dangas di anjungan lepas pantai. Bahan kimia ini cenderung mempunyai potensi korosi terhadap struktur baja. Telahdilakukan pengujian efek korosifitas dari beberapa jenis OSD yaitu sampel A, B, C dan D terhadap bahankonstruksi baja dengan metoda pencelupan berdasarkan kehilangan berat. Dari hasil pengujian menunjukkanbahwa baik sampel A maupun sampel D tidak bersifat korosif terhadap baja, dengan laju korosi masing-masing0 mpy, dibandingkan sampel C dengan laju korosi rata-rata sebesar 1,35 mpy. Sedangkan sampel B bersifatsangat korosif terhadap baja dengan laju korosi rata-rata sebesar 11,42 mpy.

Page 5 of 24 | Total Record : 240


Filter by Year

2011 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 34, No 3 (2019): Metalurgi Vol. 34 No. 3 Desember 2019 Vol 34, No 2 (2019): Metalurgi Vol. 34 No. 2 Agustus 2019 Vol 34, No 1 (2019): Metalurgi Vol. 34 No. 1 April 2019 Vol 34, No 1 (2019): Metalurgi Vol. 34 No. 1 April 2019 Vol 33, No 3 (2018): Metalurgi Vol. 33 No. 3 Desember 2018 Vol 33, No 2 (2018): Metalurgi Vol. 33 No. 2 Agustus 2018 Vol 33, No 1 (2018): Metalurgi Vol. 33 No. 1 April 2018 Vol 32, No 3 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 3 Desember 2017 Vol 32, No 3 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 3 Desember 2017 Vol 32, No 2 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 2 Agustus 2017 Vol 32, No 2 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 2 Agustus 2017 Vol 32, No 1 (2017): Metalurgi Vol. 32 No. 1 April 2017 Vol 31, No 3 (2016): Metalurgi Vol. 31 No. 3 Desember 2016 Vol 31, No 2 (2016): Metalurgi Vol. 31 No. 2 Agustus 2016 Vol 31, No 1 (2016): Metalurgi Vol. 31 No. 1 April 2016 Vol 30, No 3 (2015): Metalurgi Vol. 30 No. 3 Desember 2015 Vol 30, No 2 (2015): Metalurgi Vol.30 No.2 Agustus 2015 Vol 30, No 1 (2015): Metalurgi Vol.30 No.1 APRIL 2015 Vol 29, No 3 (2014): Metalurgi Vol.29 NO.3 Desember 2014 Vol 29, No 2 (2014): Metalurgi Vol.29 No.2 Agustus 2014 Vol 29, No 1 (2014): Metalurgi Vol.29 No.1 April 2014 Vol 29, No 1 (2014): Metalurgi Vol.29 No.1 April 2014 Vol 28, No 3 (2013): Metalurgi Vol.28 No.3 Desember 2013 Vol 28, No 2 (2013): Metalurgi Vol.28 No.2 Agustus 2013 Vol 28, No 1 (2013): Metalurgi Vol.28 No.1 April 2013 Vol 27, No 3 (2012): Metalurgi Vol.27 No.3 Desember 2012 Vol 27, No 2 (2012): Metalurgi Vol. 27 No. 2 Agustus 2012 Vol 27, No 1 (2012): Metalurgi Vol. 27 No. 1 April 2012 Vol 26, No 3 (2011): Metalurgi Vol. 26 No. 3 Desember 2011 Vol 26, No 2 (2011): Metalurgi Vol.26 No.2 Agustus 2011 Vol 26, No 1 (2011): Metalurgi Vol. 26 No. 1 April 2011 More Issue