Articles
240 Documents
FENOMENA DYNAMIC STRAIN AGING PADA PROSES TEMPA PANAS PADUAN Co-33Ni-20Cr-10Mo[Dynamic Strain Aging Phenomena of Co-33Ni-20Cr-10Mo Alloy During Hot Forging]
Kartika, Ika
Metalurgi Vol 27, No 1 (2012): Metalurgi Vol. 27 No. 1 April 2012
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (877.426 KB)
|
DOI: 10.14203/metalurgi.v27i1.136
FENOMENA DYNAMIC STRAIN AGING PADA PROSES TEMPA PANAS PADUAN Co-33Ni-20Cr- 10Mo. Pada penelitian ini, telah dilakukan proses tempa panas terhadap bahan paduan Co-33Ni-20Cr-10Mo pada selang temperatur 700-900 ºC , laju regangan (έ) berkisar antara 0,01-30 per detik dan regangan (ε) konstan sebesar 0,5 untuk mempelajari karakteristik deformasinya. Kurva tegangan regangan menunjukkan kecepatan pengerasan regangan pada temperatur tersebut. Pada temperatur 700-750 ºC , tegangan pada 0,2 % terlihat menurun dengan meningkatnya laju regangan, sementara pada temperatur 800-850 ºC, tegangan pada 0,2 % tersebut tidak bergantung terhadap laju regangan. Sensitivitas laju regangan yang dihasilkan pada temperatur 700-900 ºC mempunyai nilai negatif yang menandakan bahwa interaksi dislokasi dengan atom terlarut telah terjadi pada selang temperatur tersebut. Interaksi antara atom terlarut dan kesalahan susun yang diikat oleh parsial Shockley merupakan fenomena dynamic strain aging (DSA) yang berasal dari segregasi Suzuki. DSA kemudian dikategorikan sebagai salah satu fenomena yang merugikan dalam proses pengerjaan panas dari paduan Co-33Ni-20Cr-10Mo. AbstractDYNAMIC STRAIN AGING PHENOMENA OF Co-33Ni-20Cr-10Mo ALLOY DURING HOT FORGING. In the present study, hot deformation characteristic in Co-33Ni-20Cr-10Mo superalloy was carried out by using hot compression test in the temperature range from 700-900 ºC and strain rates ranging from 0.01-30 s–1 with a constant strain 0.5. The flow curves showed high work hardening rate at those temperatures. At temperatures 700-750 ºC, the 0.2 % flow stress decreased with increasing strain rate, while at temperatures 800-850 ºC, the 0.2 % flow stress is independent of a strain rate. Negative strain rate sensitivity was obtained at temperatures 700-900 ºC, suggesting the dislocation solute interaction occurred in those temperature ranges. DSA come from Suzuki segregation; chemical interaction between solute atoms and stacking faults bonded by the shockley partials. DSA is categorized as one of catastrophic phenomena in a hot working process of Co-33Ni-20Cr-10Mo superalloy.
ASPEK TEKNOLOGI DAN EKONOMI PEMBANGUNAN PABRIK PENGOLAHAN BIJIH BESI MENJADI PRODUK BAJA DI INDONESIA[Technological and Economical Aspects of The Intallation of Iron Ore Processing Plant to Produce Steel In Indonesia.]
Zulhan, Zulfiadi
Metalurgi Vol 28, No 2 (2013): Metalurgi Vol.28 No.2 Agustus 2013
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1519.025 KB)
|
DOI: 10.14203/metalurgi.v28i2.252
ASPEK TEKNOLOGI DAN EKONOMI PEMBANGUNAN PABRIK PENGOLAHAN BIJIH BESI MENJADI PRODUK BAJA DI INDONESIA. Pabrik baja yang beroperasi di Indonesia pada umumnya masih bergantung pada bahan baku dari luar, baik bijih besi maupun besi tua (steel scrap). Pengolahan bijih besi dalam negeri menjadi produk besi spons diharapkan dapat mensubstitusi besi tua sebagai bahan baku pembuatan baja dengan teknologi berbasis EAF. Bijih besi Indonesia dikelompokkan menjadi tiga yaitu bijih besi primer (hematit dan magnetit), bijih besi laterit dan pasir besi. Cadangan bijih besi Indonesia didominasi oleh bijih besi laterit, maka teknologi dan jalur proses yang sesuai untuk mengolah bijih besi laterit ini sebaiknya dikaji lebih dalam untuk mendapatkan proses yang optimum dan efisien serta produk baja yang mempunyai nilai jual tinggi. Harga gas alam di dalam negeri mempunyai kecenderungan untuk meningkat, oleh karenanya teknologi yang disarankan untuk mengolah bijih besi Indonesia adalah teknologi direct reduction berbasis batubara (rotary kiln) atau blast furnace untuk pabrik dengan kapasitas besar. Ketergantungan pada kokas (coking coal) merupakan kelemahan dari teknologi blast furnace. Perbandingan capex dan opex dari blast furnace dan rotary kiln diuraikan pada tulisan ini. Biaya produksi pembuatan baja menggunakan jalur proses rotary kiln – electric arc furnace dan blast furnace – basic oxygen furnace adalah hampir sama yaitu sekitar 500 USD/ton. AbstractRaw material for steel production in Indonesia is still imported either in the form of iron ore or steel scrap.The utilization of domestic iron ore to produce sponge iron might substitute steel scrap as raw material forEAF-based steelmaking. Indonesian iron ore can be classified into primary iron ore (hematite and magnetite),lateritic iron ore and iron sand. Lateritic iron ore is more dominant in Indonesia, therefore the suitabletechnology and process route shall be studied in order to obtain an optimum and efficient process as well asto produce high quality steel. The domestic price of natural gas tends to increase in the following years,therefore coal based direct reduction technology (e.g. rotary kiln) or blast furnace for high productioncapacity should be installed. The scarcity of domestic coking coal fo coke production is the limitation by theapplication of blast furnace technology. The comparison of capex and opex of blast furnace and rotary kilniron making is described in this paper. The steel production cost using rotary kiln – electric arc furnace routeor blast furnace – basic oxygen furnace route is nearly the same (around 500 USD/ton).
STUDI PENAMBAHAN UNSUR Ca PADA PADUAN BINER Mg-Ca TERHADAP PEMBENTUKAN FASA DAN KOROSI IN-VITRO UNTUK APLIKASI IMPLAN MAMPU LURUH [Study of Calcium Addition in Mg-Ca Binary Alloy in Phase Transformation and in- Vitro Corrosion For Biodegradable Implant]
Annur, Dhyah;
Lestari, Franciska Pramuji
Metalurgi Vol 30, No 2 (2015): Metalurgi Vol.30 No.2 Agustus 2015
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1885.331 KB)
|
DOI: 10.14203/metalurgi.v30i2.55
Paduan magnesium merupakan paduan yang tengah dikembangkan untuk aplikasi biomedis karena memiliki sifat mampu luruh dan juga biokompatibel. Pada penelitian kali ini dikembangan paduan logam binner Mg-Ca dengan komposisi 1%berat, 4%berat, dan 7%berat Ca yang dibuat dengan teknik metalurgi serbuk untuk mengetahui pengaruh penambahan unsur Ca terhadap fasa yang terbentuk dan ketahanan korosi paduan. Evaluasi fasa yang terbentuk dilakukan dengan menggunakan x-ray diffractometry (XRD) dan uji korosi secara elektrokimia yang dievaluasi melalui in-vitro dengan polarisasi potensiodinamik dalam larutan Hank’s pada temperatur ruang. Penambahan paduan Ca menyebabkan terbentuknya formasi fasa Mg2Ca yang secara sistematik meningkatkan laju korosi dan menurunkan potensial korosi paduan Mg-Ca. Hasil uji XRD menunjukkan fasa Mg2Ca terbentuk pada paduan Mg-7Ca. Hasil uji elektrokimia juga mengindikasikan bahwa laju korosi meningkat dan potensial korosi menurun dengan penambahan unsur Ca akibat terbentuknya fasa Mg2Ca yang lebih katodik. Fenomena tersebut di atas mengindikasikan bahwa Mg-1Ca merupakan kandidat serta paduan optimal yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan produk implan mampu luruh. AbstractMagnesium alloy is currently being developed for biomedical devices application due to its biodegradableand biocompatible properties. In this study, Mg- Ca (1% wt, 4%wt, and 7%wt Ca) alloys have been beenprepared through powder metallurgy process to study the effect of Ca addition to the phase transformationand the corrosion properties. Phase transformation were characterized through X-Ray Diffractometry (XRD).Meanwhile, the corrosion properties were evaluated in- vitro by means of polarization potentiodinamic inHank’s solution. The electrochemical tests were carried out at room temperature using a corrosionmeasurement system. It was shown that Ca addition affect the formation of Mg2Ca phase whichsystematically could increase the corrosion rate and reduce potential corrosion of Mg- Ca alloy. From XRDevaluation, it can be seen that Mg2Ca phase were formed at Mg-7Ca alloy. The electrochemical testing alsoindicated the increasing of corrosion rate and the reduction of potential corrosion along with Ca additionwere caused by formation of Mg2Ca phase which was more cathodic. This phenomena had shown that Mg-1Ca alloy could be studied further as a raw material for biodegradable implant application.
PEMBUATAN PIGMEN TITANIUM DIOKSIDA DENGAN MEDIUM KLORIDA[Making Titanium Dioxide through Chloric Acid Leaching]
Solihin, Solihin;
Ciptasari, Nurhayati Indah;
Arini, Tri
Metalurgi Vol 27, No 2 (2012): Metalurgi Vol. 27 No. 2 Agustus 2012
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (526.96 KB)
|
DOI: 10.14203/metalurgi.v27i2.147
PEMBUATAN PIGMEN TITANIUM DIOKSIDA DENGAN MEDIUM KLORIDA. Indonesia memilikicadangan bijih ilmenit yang melimpah. Pengolahan bijih ilmenit melalui jalur hidrometalurgi telah dapatmenghasilkan pigmen titanium dioksida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur besi dalam ilmenit dapatdihilangkan menggunakan media klorida sehingga didapat titanium dioksida dengan konsentrasi yang cukuptinggi. Ukuran butiran dan konsentrasi asam mempengaruhi penghilangan unsur besi. Semakin halus butiran dansemakin tinggi konsentrasi asam, semakin banyak unsur besi yang bisa dihilangkan. Pada konsentrasi asamklorida 37 % ukuran butiran -200 mesh dan temperatur 100 °C kadar TiO2 dapat ditingkatkan menjadi 88 %. AbstractTHE MAKING OF TITANIUM DIOXIDE PIGMENT WITH CHLORIDE MEDIUM. Indonesia posses hugeamount of ilmenit deposits. The ilmenite can be processed to produce titanium dioxide throughhydrometallurgical method . The experimental results shows that the iron content in ilmenite can be eliminitedthrough chloric acid leaching, leaving high concentration titanium dioxide as the product. The particle size ofilmenite and chloric acid concentrations affects the elimination rate of iron. The smaller the particle size and thehigher the acid concentrations, the higher amount of iron can be eliminated. At 37 % Chloric acid, -200 meshparticle size and 100 °C, the concentrations of TiO2 can be increased up to 88 %.
PROSES PEMBUATAN MATERIAL SUPERKONDUKTOR BSCCO DENGAN METODA PADATAN
Lusiana, Lusiana
Metalurgi Vol 29, No 1 (2014): Metalurgi Vol.29 No.1 April 2014
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (583.933 KB)
|
DOI: 10.14203/metalurgi.v29i1.265
PROSES PEMBUATAN MATERIAL SUPERKONDUKTOR BSCCO DENGAN METODA PADATAN.Material superkonduktor BSCCO (bismuth strontium calcium copper oxide) adalah material superkonduktoryang banyak digunakan dalam bentuk kabel bawah tanah, kabel transmisi, kabel penghubung, maglev train, danlain-lain. Pada penelitian ini dipelajari proses pembuatan bulk superkonduktor BSCCO dari campuran berbagaioksida yaitu Bi2O3, SrCO3, CaO, CaCO3, dan PbO dengan metoda padatan atau pencampuran kering dandilanjutkan dengan proses sintering. Tujuan penelitian ini adalah mencari temperatur optimum proses sinteringuntuk menghasilkan material superkonduktor BSCCO dengan menggunakan metoda padatan. Campuran serbuksebelumnya ditekan menggunakan mesin kompresi dengan beban 1000 KPa pada temperatur kamarmenggunakan cetakan berbentuk silinder dengan diameter 10 mm. Temperatur sintering (°C ) dilakukan pada T= 800, 820, 845, dan 865 dengan waktu penahanan 90 jam. Hasil sintering kemudian dikarakterisasi denganmenggunakan XRD (x-ray diffraction), SEM (scanning electron microscopy) dan uji Meissner. Dari hasilanalisa XRD diperoleh fasa Bi2212 dan fasa Bi2223. Fraksi volume fasa Bi2212 terbesar diperoleh pada T= 845°C yaitu sebesar 73,6%, sedangkan untuk fasa Bi2223 terbesar diperoleh pada T= 865 °C sebesar 42,4%. Efekdari tingginya fraksi volume fasa-fasa pada kondisi tersebut secara berturut-turut memberikan efek levitasi kuatdan sedang.
Pengaruh Mo dan Ni terhadap Struktur Mikro dan Kekerasan Baja Tahan Karat Martensitik 13Cr [The Effect of Mo And Ni on The Microstructure and Mechanical Properties of 13Cr Martensitic Stainless Steels]
Mabruri, Efendi
Metalurgi Vol 30, No 3 (2015): Metalurgi Vol. 30 No. 3 Desember 2015
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1071.982 KB)
|
DOI: 10.14203/metalurgi.v30i3.73
Tulisan ini melaporkan pengaruh Mo dan Ni terhadap struktur mikro dan kekerasan baja tahan karat martensitik 13 Cr dengan kondisi temperisasi pada 625oC. Pengamatan struktur mikro dilakukan menggunakan mikroskop optik, SEM-EDS dan uji kekerasan dengan Rockwell C. Penambahan Mo ke dalam baja tahan karat martensitik 13Cr meningkatkan kandungan fasa ferit delta di dalam struktur mikro dan menurunkan kekerasan baja yang bersangkutan. Sedangkan penambahan 3%Ni ke dalam baja tahan karat martensitik 13Cr yang mengandung 3%Mo menurunkan kandungan fasa ferit delta di dalam struktur mikro dan meningkatkan kekerasan. Karbida logam yang terbentuk merupakan senyawa M23C6 dan penambahan 3%Mo menurunkan kandungan Cr di dalam karbida logam tersebut akibat substitusi parsial Cr oleh Mo. AbstractThe 13Cr martensitic stainless steels have been widely used for turbine blade materials in steam turbinesystem due to high strength, high toughness and good corrosion resistance.This paper reports the effect of Moand Ni on the microstructure and hardness of 13Cr martenstitic stainless steel in tempered condition at625 °C. Optical microscope and SEM-EDS were used for microstructural observation and Rockwell C forhardness testing. The addition of Mo into 13Cr martensitic stainless steel increased delta ferrite content in themicrostructure and decreased Rockwell C hardness. On the other hand, the addition of Ni into the steelcontaining 3% Mo decreased delta ferrite content and increased the hardness. With respect to metal carbide,EDS analysis confirmed the formation of M23C6 in the steels and Mo addition decreased Cr content in thecarbide due to partial substitution of Cr with Mo
Penelitian Dan Analisis Metalurgi Pada Cacat Permukaan Lubang Utama Dari Komponen Paduan Aluminium Hasil Permesinan Untuk Bagian Sayap Pesawat Terbang (Aileron) [Metallurgical Assesment of Main Bore Surface Defect of A Machined Aluminum Alloy Aileron Block]
Adnyana, D.N.
Metalurgi Vol 31, No 3 (2016): Metalurgi Vol. 31 No. 3 Desember 2016
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3763.608 KB)
|
DOI: 10.14203/metalurgi.v31i3.175
A newly machined aileron block was reportedly exhibiting several pits on its particular main bore area after it has been subjected to sulfuric anodizing process. This defective machined aileron block was made of aluminum alloy AA 2618 forging, designed to accommodate some moving parts internally and connected to a mechanism that may allow the movement of aircraft aileron. In order to determine type and factors that may have caused the occurrence of surface defect on the main bore area of the machined aileron block, it was considered to perform a metallurgical assessment. A number of specimens were prepared for laboratory examinations which included macroscopic examination, chemical composition analysis, metallographic examination, hardness test and SEM (scanning electron microscopy) examination equipped with EDS (energy dispersive spectroscopy) analysis. Results of the metallurgical assessment obtained show that the surface defect occurred on the main bore area of the machined aileron block is mainly influenced by the presence of large precipitates in the aluminum matrix phase of the aileron block material. Formation of these large precipitates may have reduced their coherency with the matrix phase of the aluminum alloy and hence could easily detach them from the surface during machining and formed several abandoned pits thereonAbstrakSebuah aileron block hasil proses permesinan dilaporkan memperlihatkan sejumlah sumuran pada dinding bagian dalam dari lubang utama setelah diberi proses anodisasi sulfurik. Aileron block yang cacat tersebut terbuat dari paduan aluminium AA 2618 hasil proses tempa dan dirancang untuk mengakomodasi pergerakan komponen-komponen di dalamnya yang terhubung dengan suatu mekanisme sehingga memungkinkan terjadi gerakan pada aileron di bagian sayap pesawat terbang. Untuk menentukan jenis dan faktor-faktor yang mungkin telah menyebabkan terjadinya cacat permukaan pada bagian lubang utama dari aileron block tersebut, maka diperlukan untuk melakukan pengujian dan analisis metalurgi. Sejumlah benda uji disiapkan untuk pengujian laboratoriumya itu terdiri dari uji makroskopik, analisa komposisi kimia, uji metalografi, uji kekerasan dan uji SEM (scanning electron microscopy) yang dilengkapi dengan analisa EDS (energy dispersive spectroscopy). Hasil pengujian dan analisis metalurgi yang diperoleh menunjukkan bahwa cacat permukaan yang terjadi pada dinding bagian lubang utama aileron block tersebut utamanya dipengaruhi oleh pembentukan endapan partikel (presipitat) berukuran besar di dalam matrik fasa aluminium aileron block tersebut. Pembentukan partikel/presipitat yang besar tersebut telah menurunkan ikatan koherensi dengan matrik fasa aluminium dan mengakibatkan pertikel tersebut mudah terlepas dari permukaan selama proses permesinan dan membentuk/meninggalkan sejumlah lubang sumuran di sana.
PENGARUH PENAMBAHAN SERAT POLYVINYL ALCOHOL DAN SUPERPLASTISIZER POLYCARBOXYLATE ETHERS TERHADAP SIFAT MEKANIK MATERIAL ECC
Sadjuri, Harsisto
Metalurgi Vol 26, No 1 (2011): Metalurgi Vol. 26 No. 1 April 2011
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (301.972 KB)
|
DOI: 10.14203/metalurgi.v26i1.5
Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh penambahan serat PVA dan superplastisizer tipe polycarboxylate ethers (tipe P) terhadap sifat mekanik material ECC. Tujuan dari penggunaan PVA adalah untuk meningkatkan kekuatan beton sehingga apabila dikenai beban, tipe retakan yang terjadi adalah retak rambut (microcrack). Superplasticizer ditambahkan untuk meningkatkan kelecakan (workability) ECC sehingga mudah dipadatkan dan didapatkan mutu yang lebih baik. Pengujian material ECC dilakukan dengan mengukur kuat tekan dan kuat lentur menggunakan universal testing machine. Dari variasi komposisi sampel ECC yang dilakukan, komposisi paling efektif terdapat pada perbandingan semen : air : pasir : fly ash : SP : PVA = 1 : 0,68 : 0,94 : 1,6 : 0,01 : 0,02 dengan kuat tekan 196 kg/cm2 dan kuat lentur145,3 kgf. AbstractThis research was conducted to study the effect of PVA fiber and polycarboxylate ethers typed superplastisizer (type P) to the mechanical properties of ECC materials. The purpose of the use of PVA is to increase the strength of the concrete so that when subjected to load, type of fracture is microcrack. Superplasticizer was added to enhance ECC workability so it was easily compressed and get better quality. ECC material testing was conducted by measuring the compressive and flexural strength using a universal testing machine. The most effective composition of ECC material on the ratio of cement: water: sand: fly ash: SP: PVA = 1 : 0.68 : 0.94 : 1.6 : 0.01 : 0.02 has compressive and flexural strength of 196 kg/cm2 and 145.3 kgf respectively.