cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat
ISSN : 20859767     EISSN : 25809237     DOI : -
Core Subject : Art,
Journal of Papua is published twice a year in June and November by the Balai Arkeologi Papua. The Papua Journal contains the results of research, conceptual ideas, studies and the application of theory relating to archeology.
Arjuna Subject : -
Articles 410 Documents
CORAK BUDAYA AUSTRONESIA PADA RUMAH TRADISIONAL LEMBAH BADA, SULAWESI TENGAH DAN RUMAH TRADISIONAL SUMBA BARAT, NUSA TENGGARA TIMUR (STUDI ETNOARKEOLOGI) Citra Iqliyah Darojah
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.648 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i2.52

Abstract

The house is a traditional house on a particular group of people is a reflection of local knowledge inherited from generation to generation. This paper aims at comparing traditional ethnographic data on the Bada Valley and West Sumba in order to get an overview of archaeological interpretation of the Austronesian speakers in the past, there are several factors to be considered in the selection of traditional houses as many equations kasus. Lebih study of Austronesian cultural patterns that are still found in traditional house traditional house Bada Valley and West Sumba than the differences that exist.AbstrakRumah rumah tradisional pada kelompok masyarakat tertentu merupakan refleksi dari kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Tulisan ini bertujuan membandingan data etnografi pada rumah tradisional Lembah Bada dan Sumba Barat guna mendapatkan interpretasi arkeologis gambaran rumah penutur Austronesia pada masa lampau, terdapat beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan rumah tradisional sebagai studi kasus.Lebih banyak persamaan corak budaya Austronesia yang masih ditemukan pada rumah tradisional Lembah Bada dan rumah tradisional Sumba Barat dibandingkan dengan perbedaan yang ada.
AMBELO (BACTRONOPHORUS THORACITES): PANGAN LOKAL TRADISIONAL ORANG KAMORO DI KAMPUNG HIRIPAU Windy Hapsari
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.475 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i2.53

Abstract

Kamoro ethnics are civilized society swampys area, coastal and riverine, utilizing natural products to find sources of food and other necessities. All of these capabilities is a form of adaptation and interaction with nature, and generate local knowledge passed down by their predecessors. One of the traditional local knowledge is tambelo, traditional local food source. This paper aims to find out about tambelo and benefits in the lives of Kamoro ethnics in Hiripau village. Tambelo animal mollusk is a kind of worm called latin Bactronophorus thoracites , which live on decaying wood of mangrove trees. This animal has a high nutritive substances and sources of animal protein. Tambelo very useful for Kamoro ethnic in the village Hiripau in aspects of health, social, cultural and economic.AbstrakOrang Kamoro merupakan masyarakat berbudaya rawa, daerah pantai dan muara sungai, yang memanfaatkan hasil alam untuk mencari sumber pangan dan kebutuhan lainnya. Semua kemampuan tersebut merupakan bentuk adaptasi dan interaksi dengan alam, dan menghasilkan pengetahuan lokal yang diwariskan oleh para pendahulu mereka. Salah satu pengetahuan lokal tradisional tersebut adalah tambelo, sumber pangan lokal tradisional. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui tentang tambelo dan manfaatnya dalam kehidupan orang Kamoro di Kampung Hiripau. Tambelo adalah hewan molusca sejenis cacing kapal bernama latin Bactronophorus thoracites, yang hidup pada kayu pohon bakau yang membusuk. Hewan ini memiliki kandungan zat bergizi tinggi dan sumber protein hewani. Tambelo sangat bermanfaat bagi orang Kamoro di Kampung Hiripau dalam aspek kesehatan, sosial budaya dan ekonomi.
ENGUBURAN MASA LALU DI KAMPUNG BAINGKETE DISTRIK MAKBON KABUPATEN SORONG Rini Maryone
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.342 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i1.54

Abstract

Research on past burials conducted in Sorong is an attempt to reveal the burial of the past that are in the region particularly in the area of Kampung Papua Baingkete Makbon Sorong District. The methods used in this study is etnoarkeologi approach. The results in Kampung Baingkete, find flute drum, gong, porcelain plates, cloth Timor, white plates, white cloth and red cloth. Based on these findings can describe past and burial ceremonies debt payments to the families of the dead in owedAbstrakPenelitian tentang penguburan masa lalu yang dilakukan di Kabupaten Sorong adalah upaya dalam mengungkapkan penguburan masa lalu yang berada di wilayah Papua khususnya di wilayah Kampung Baingkete Distrik Makbon Kabupaten Sorong. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui pendekatan etnoarkeologi. Hasil penelitian di Kampung Baingkete, menemukan suling tambur, gong, piring porselin, kain timor, piring putih, kain putih dan kain merah. Berdasarkan temuan-temuan tersebut dapat menggambarkan penguburan masa lalu dan upacara pembayaran hutang si mati kepada keluarga yang di hutangi.
KERAMIK DALAM RITUS PENGUBURAN PADA MASYARAKAT NAPAN WAINAMI KABUPATEN NABIRE Klementin Fairyo
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.373 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i1.55

Abstract

Ceramic plates are used as stock Napan Wainami grave by the community, the process is carried out in a funeral rite that is characterized by solving the ceramic plates on the tomb of the dead bodies. Form of burial rites is devoted to every firstborn of men and women. This rite describes the emotional relationship between parents (father and mother) and the eldest son, in which the eldest child in a family inheritance priority, so a form of homage to solve the ceramic plates should be done as an expression of affection. Associated with the description of the Objectives to be disclosed in this paper was to determine the shape and type of ceramic that is used in funeral rites and the meaning contained in the use of ceramics as stock grave. In answering the research objective research method used was etnoarkeologi approach, field surveys, interviews and a literature review.AbstrakPiring Keramik digunakan sebagai bekal kubur oleh masyarakat Napan Wainami, proses ini dilakukan dalam suatu ritus penguburan yang ditandai dengan memecahkan piring keramik diatas makam dari Jasad orang mati. Bentuk ritus penguburan ini dikhususkan untuk setiap anak sulung laki-laki dan perempuan. Ritus ini menggambarkan hubungan emosional antara orang tua (ayah dan ibu) dan anak sulung, dimana anak sulung mendapat prioritas dalam warisan keluarga, sehingga bentuk penghormatan dengan memecahkan piring keramik patut dilakukan sebagai ungkapan kasih sayang. Terkait dengan uraian tersebut maka Tujuan yang ingin diungkapkan dalam penulisan ini adalah mengetahui bentuk dan jenis keramik yang digunakan dalam ritus penguburan serta mengetahui makna yang terkandung didalam pemanfaatan keramik sebagai bekal kubur. Dalam menjawab tujuan penelitian maka metode penelitian yang gunakan adalah pendekatan etnoarkeologi, survei lapangan, wawancara dan kajian pustaka.
KERAMIK SEBAGAI KOMODITAS PERDAGANGAN DI PULAU MISOOL KABUPATEN RAJA AMPAT Bau Mene
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.93 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i1.56

Abstract

Ceramics in the presence of Misool Island, Raja Ampat attractive to explore, see the geographical position of the island which is on track trade traffic between the kingdom of Ternate, Tidore and kingdoms in the island of Misool. Ceramics found on the island of Misool derived from the Ching Dynasty, the Ming Dynasty, ceramic Europe, Japan and the Netherlands. Ceramic forms found them shape plate, bowl, and drain tube in fragmentary form. The purpose of this paper is to find out since when traded ceramics and ceramic forms were traded. The method used in this research is the data collection methods that include library research, field surveys while the data processing methods include shape analysis.AbstrakKeberadaan keramik di Pulau Misool Kabupaten Raja Ampat menarik untuk ditelusuri, melihat posisi geografis pulau tersebut yang berada pada jalur lintas perdagangan antara kerajaan Ternate, Tidore dan kerajaan yang ada di Pulau Misool. Keramik- keramik yang ditemukan di Pulau Misool berasal dari Dinasti Ching, Dinasti Ming, keramik Eropa, Jepang dan Belanda. Bentuk- bentuk keramik yang ditemukan diantaranya bentuk piring, mangkok, cepuk dan cerat dalam bentuk fragmentaris. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui sejak kapan perdagangan antara masyarakat pulau Misool dengan masyarakat pulau-pulau di sekitarnya dan bentuk-bentuk keramik apa saja yang diperdagangkan di pulau Misool. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengumpulan data yang meliputi studi pustaka, survei lapangan sedangkan metode pengolahan data meliputi analisis bentuk.
PELAYARAN DAN PERDAGANGAN ABAD XVII-XIX BUGIS-MAKASSAR KE PAPUA M. Irfan Mahmud
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.867 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i1.57

Abstract

Shipping and trade Bugis - Makassar is one cultural phenomenon in the southern peninsula of Sulawesi rooted since archaic times . Shipping and trade to Papua as expressed in this paper relates to the early days of contact , commodity trading , and archaeological evidence of the existence of the Bugis - Makassar peramanen who live in this area as an intensive relationship implications . It aims to show to the networks - ‘s archipelago , in addition to showing the impact of a long-term relationship between the Bugis - Makassar and Papua which created solidarity and openness that have a place to settle in the local ethnic settlements together . To illustrate these aspects of archaeological survey and literature review , especially for archaeological evidence in the context of shipping and trade XVII - XIX centuries in the Bird’s Head region of Papua into the gate . Based on the data obtained concluded that the diaspora Bugis - Makassar to Papua unrelated to war factor, but purely an economic boost, especially for commodities and profitable market. In the long run some of the traders community decided to stay permanently, but not exclusive residential building.AbstrakPelayaran dan perdagangan Bugis-Makassar merupakan salah satu fenomena kebudayaan di semenanjung selatan Sulawesi yang berakar sejak zaman arkaik. Pelayaran dan Perdagangan ke Papua yang diungkap dalam tulisan ini berkaitan dengan masa awal kontak, komoditas dagang, dan bukti arkeologis adanya orang Bugis-Makassar yang tinggal secara peramanen di kawasan ini sebagai implikasi hubungan intensif. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan jejaring ke-Nusantara-an, selain menunjukkan dampak hubungan jangka panjang antara orang Bugis-Makassar dan Papua yang menimbulkan solidaritas dan keterbukaan sehingga mendapat tempat untuk menetap dalam pemukiman etnis lokal secara bersama-sama. Untuk menggambarkan aspek-aspek tersebut dilakukan survei arkeologis dan kajian pustaka, khususnya mencari bukti arkeologis dalam konteks pelayaran dan perdagangan abad XVII-XIX di wilayah Kepala Burung yang menjadi pintu gerbang Papua. Berdasarkan data-data yang diperoleh disimpulkan bahwa diaspora Bugis-Makassar ke Papua tidak terkait dengan faktor perang, melainkan murni dorongan ekonomi, terutama mencari dan memasarkan komoditas yang menguntungkan. Dalam jangka panjang beberapa diantara komunitas pedagang memutuskan tinggal secara permanen, tetapi tidak membangun pemukiman eksklusif.
AKULTURASI BUDAYA LOKAL DAN KONSEPSI ISLAM DI SITUS KALI RAJA, RAJA AMPAT M. Irfan Mahmud
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.071 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i1.58

Abstract

Founding dynasty in the archipelago in general have origins legend miraculous, as well Petuanan Raja Ampat. Discuss the problems associated with the new colors due to the arrival of the influence of Islamic dynasties parmanensi Maluku and local cultural roots; archaeological evidence and legend dynasty Raja Ampat, as well as implications for public rites on the site supporters until now. In essence, this paper aims to reveal the acculturation of local and Islamic conceptions and their associated folklore. The data were collected through observation, library research, and interviews. Based on the research data it can be seen that happen locally and acculturation while maintaining the Islamic conception of collective memory are internalized through legend and tradition medium Kaliraja rites on the site. Rites were performed routinely in medium kapatnai (Stone Eggs King) is useful in building solidarity and community integration Raja Ampat until now.ABSTRAKBerdirinya dinasti di Nusantara pada umumnya memiliki legenda asal-usul yang penuh keajaiban, sebagaimana juga Petuanan Raja Ampat. Masalah yang bahas terkait dengan warna baru akibat kedatangan pengaruh Islam dinasti Maluku dan parmanensi akar budaya lokal; bukti arkeologis dan legenda dinasti Raja Ampat; serta implikasi ritus pada situs bagi masyarakat pendukungnya sampai sekarang. Pada intinya tulisan ini bertujuan mengungkapkan akulturasi budaya lokal dan konsepsi Islam beserta cerita rakyat yang terkait. Data-data dikumpulkan lewat observasi, studi pustaka, dan wawancara. Berdasarkan data-data penelitian dapat diketahui bahwa terjadi akulturasi budaya lokal dan konsepsi Islam dengan tetap memelihara memori kolektif yang diinternalisasi lewat legenda dan medium tradisi ritus di situs Kaliraja. Ritus yang dilakukan secara rutin pada medium kapatnai (Batu Telur Raja) bermanfaat dalam membangun solidaritas dan integrasi masyarakat Raja Ampat sampai sekarang.
NILAI PENTING PENGELOLAAN KOLEKSI DI UPTD MUSEUM NEGERI PROVINSI PAPUA Zubair Mas’ud
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.156 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i1.59

Abstract

UPTD Museum Negeri Provinsi Papua are an important asset in understanding culture in Papua. The existence of the museum was directed as a meas of identity communities in Papua through collection. This research applies qualitative method with descriptive analysis. Data are being collected from related studies, close observations, and interviews. These data and facts are then processed to build proper suggestions. Including interpretation in collection because it has an important value for the history, science, education, religion, and culture. This research shows that the collection management of UPTD Museum Negeri Provinsi Papua is not yet at it maximum efforts to provide proper knowledge about Papua’s culture to public. The existence of collections is important to define the identity of the society it originated. The development of collection management is necessary to improve the museum’s role in introducing and promoting the cultural identity of Papua.AbstrakUPTD Museum Negeri Provinsi Papua merupakan aset penting dalam memahami kebudayaan di Papua. Keberadaan museum ini diarahkan sebagai sarana identitas masyarakat di Papua melalui koleksi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, observasi, dan wawancara. Selanjutnya data dan fakta yang diperoleh, diolah sampai pada penyusunan saran-saran. Termasuk interpretasi dalam koleksi karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan. Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan koleksi di UPTD Museum Negeri Provinsi Papua belum maksimal memberikan informasi pengetahuan dan pemahaman mengenai kebudayaan di Papua. Keberadaan koleksi dianggap memiliki nilai penting karena merupakan identitas atau jati diri dari pendukungnya menyangkut aspek kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, perlu pengembangan dalam pengelolaan koleksi sehingga mencerminkan apresiasi budaya sebagai identitas masyarakat dalam mengenal Papua.
JAYAPURA PADA ERA PERANG PASIFIK Hari Suroto
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.02 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i1.61

Abstract

Jayapura on World War II or the Pacific War into direct battle between Japan and the Allies. This research aims to determine military strategy in the Pacific War in Jayapura, and to know the direct impact of the Pacific War against Jayapura and its inhabitants. The method used in this paper is the collection of data by conducting archaeological surveys in the area of Lake Sentani and Jayapura, interviews, and literature. Pacific War which caused much destruction it has also brought a constructive effect on construction activity Jayapura.AbstrakJayapura pada Perang Dunia II atau Perang Pasifik menjadi medan pertempuran langsung antara Jepang dan Sekutu. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui strategi militer dalam Perang Pasifik di Jayapura, serta mengetahui dampak langsung Perang Pasifik terhadap Jayapura dan penduduknya. Metode yang digunakan dalam penulisan ini yaitu pengumpulan data dengan melakukan survei arkeologi di Kawasan Danau Sentani dan Kota Jayapura, wawancara dan studi pustaka. Perang Pasifik yang banyak menyebabkan kehancuran itu juga telah membawa akibat yang konstruktif terhadap aktivitas pembangunan Jayapura.
BANGUNAN PERTAHANAN (LOUVRAK) JEPANG DI PULAU DOOM Sri Chiirullia Sukandar
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.226 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i1.62

Abstract

The outbreak of the Pacific War between Japan and the Allied forces occur over Japan’s ambition to become one Superpower in Asia. Papua is located in the Pacific waters are also at infasi Japan to dominate Asia. Doom Island is located in the western part of New Guinea became one of the regions that have successfully mastered. method used was a descriptive survey method. The purpose of this paper to describe the various forms of Japanese defense building in Doom Island, as well as trying to be able to explain the role of the defense buildings during the fighting around the Island of Doom. Japanese troops on the island to build military facilities in the form of holes defense to attack alliedfleets in the waters of the Pacific.AbstrakPecahnya perang pasifik antara Jepang dengan pasukan Sekutu terjadi atas ambisi Jepang untuk menjadi salah satu Negara Adidaya di Asia. Tanah Papua yang terletak di perairan Pasifik pun tidak terlepas dari infasi Jepang untuk menguasai Asia. Pulau Doom yang terletak di bagian barat Pulau Papua menjadi salah satu daerah yang berhasil dikuasainya. metode yang digunakan adalah metode survei dan bersifat deskriptif. Tujuan tulisan ini untuk mendeskripsikan berbagai macam bentuk bangunan pertahanan Jepang di Pulau Doom, serta berusaha untuk dapat menjelaskan peranan bangunan-bangunan pertahanan tersebut selama terjadinya pertempuran di sekitar Pulau Doom. Di pulau ini pasukan Jepang membangun sarana militer berupa lubang pertahanan untuk menyerang armada laut sekutu di perairan pasifik.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 2 (2021): November 2021 Vol. 13 No. 1 (2021): Juni 2021 Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020 Vol. 12 No. 1 (2020): Juni 2020 Vol. 11 No. 2 (2019): November 2019 Vol. 11 No. 1 (2019): Juni 2019 Vol. 10 No. 2 (2018): November 2018 Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018 Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017 Vol 9, No 2 (2017): November 2017 Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017 Vol 9, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 8, No 2 (2016): November 2016 Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016 Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016 Vol 8, No 1 (2016): Juni 2016 Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 1 (2015): Juni 2015 Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015 Vol 6, No 2 (2014): November 2014 Vol. 6 No. 2 (2014): November 2014 Vol 6, No 1 (2014): Juni 2014 Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014 Vol 5, No 2 (2013): November 2013 Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013 Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013 Vol 5, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 4, No 2 (2012): November 2012 Vol. 4 No. 2 (2012): November 2012 Vol 4, No 1 (2012): Juni 2012 Vol. 4 No. 1 (2012): Juni 2012 Vol. 3 No. 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 1 (2011): Juni 2011 Vol. 3 No. 1 (2011): Juni 2011 Vol 2, No 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 2 (2010): November 2010 Vol 2, No 1 (2010): Juni 2010 Vol. 2 No. 1 (2010): Juni 2010 Vol. 1 No. 2 (2009): November 2009 Vol 1, No 2 (2009): November 2009 Vol. 1 No. 1 (2009): Juni 2009 Vol 1, No 1 (2009): Juni 2009 More Issue