cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat
ISSN : 20859767     EISSN : 25809237     DOI : -
Core Subject : Art,
Journal of Papua is published twice a year in June and November by the Balai Arkeologi Papua. The Papua Journal contains the results of research, conceptual ideas, studies and the application of theory relating to archeology.
Arjuna Subject : -
Articles 410 Documents
BABI DALAM BUDAYA PAPUA (Pig in The Papua Culture) Hari Suroto
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.832 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i1.41

Abstract

The pig is an integral part of the culture in the highlands of Papua. Nevertheless, to this day still happening cross of opinion among experts about when the first swine entered in Papua. This paper will discuss the beginning of pigs in Papua and Papuan cultural values associated with the presence of a pig. Data was collected with a literature study, in this paper used descriptive qualitative method. Beginning of the presence of swine in Papua brought by Austronesian speakers. Pig bones found in cave sites north coast of Papua. The presence of pigs in Papua are very influential in Papuan culture. ABSTRAKBabi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari budaya di daerah dataran tinggi Papua. Meskipun demikian, sampai hari ini masih saja terjadi persilangan pendapat antar para ahli mengenai kapan pertama kali babi masuk di Papua. Tulisan ini akan membahas awal mula babi di Papua dan nilai-nilai budaya Papua yang terkait dengan keberadaan babi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan, dalam tulisan ini digunakan metode deskriptif kualitatif. Awal mula keberadaan babi di Papua dibawa oleh penutur Austronesia. Tulang-tulang babi ditemukan di situs-situs gua pesisir utara Papua. Keberadaan babi di Papua sangat berpengaruh pada budaya Papua.
ALAT PERTANIAN TRADISIONAL SEBAGAI WARISAN KEKAYAAN BUDAYA BANGSA (Traditional of Agricultural Equipment as Nation Cultural Heritage Property) Lilyk Eka Suranny
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.661 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i1.42

Abstract

Traditional farm equipment is one of the cultural richness of Indonesia. Modernization in agriculture causes decreasing of traditional farm equipment using by farmers. There are many different kinds of traditional farm equipment made by our ancestors in earlier time, for example plows, harrows, hoes, ani-ani, sickle, etc. In some region of Indonesia, the traditional farm equipments has different local name although has the same usability. This traditional farm equipment contains adi luhung values according to the personality of the Indonesian nation. Therefore, traditional farm equipment needs to be preserved from exitinction and can be inherited to the next generations. ABSTRAKAlat pertanian telah dibuat oleh manusia prasejarah sejak masa neolitik. Alat pertanian tradisional merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia. Modernisasi di bidang pertanian menyebabkan berkurangnya penggunaan alat pertanian tradisional oleh petani. Tulisan ini akan menjelaskan mengenai berbagai peralatan pertanian tradisional yang digunakan untuk bercocok tanam baik dari fungsi maupun cara pemakaiannya. Selain itu penulis mencoba untuk mengupas nilai-nilai yang terkandung dalam penggunaan peralatan tradisional tersebut. Metode yang digunakan dalam tulisan ini yaitu observasi, wawancara dan studi pustaka. Peralatan pertanian tradisional merupakan bentuk kearifan lokal, memiliki nilai tradisi dan budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang.
BENTENG SOMBA OPU PERSPEKTIF SEJARAH BERDASARKAN BATU BATA (Brick of The Somba Opu Fortress: Historical Perspective) nFN Muhaeminah
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.724 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i1.43

Abstract

This study aims to uncover the historical data Somba Opu fortress archeology of Gowa District, using the method of observation of the data linkage with the existence of the fort. Surveys and interviews with local leaders in order to gain an overview of Somba Opu fortress stori websites. Test-pit were conducted to determine the various forms of archaeological relics contained in the excavated soil by opening a box of 100 x 100 cm with a depth measurement system using the spit with a depth of 15 cm set consistently every spitnya. The results of the research, its history proves that the value is very high, resulting in the colonization process began with trade, economic mastery, and then increased to mastery in the field of politics, with a mastery of this that there is a harmonious relationship between the kingdom of Gowa with colonial Dutch, and finally agreed an agreement which agreement the Somba Opu Bungaya as a triumph of Gowa destroyed and razed by the Dutch colonists. Archaeological remains in the form of fragments of brick were still clear scratch-jangang jangang lontara letters, footprints of animals, boats and motifs mat. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap data sejarah arkeologi Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa, dengan menggunakan metode pengamatan terhadap keterkaitan data dengan keberadaan benteng. Survei dan wawancara dengan tokoh masyarakat setempat guna memperoleh gambaran sejarah situs benteng Somba Opu. Test-pit yang dilakukan untuk mengetahui berbagai bentuk peninggalan arkeologi yang terdapat di dalam tanah dengan membuka kotak galian 100 x 100 cm dengan pendalaman menggunakan sistem spit dengan ukuran kedalaman yang ditetapkan 15 cm secara konsisten setiap spitnya. Hasil penelitian, membuktikan bahwa nilai historinya sangat tinggi, sehingga dalam proses kolonialisasi diawali dengan kegiatan perdagangan, penguasaan ekonomi, kemudian meningkat menjadi penguasaan di bidang politik, dengan penguasaan inilah maka terjadi suatu hubungan yang tidak harmonis antara kerajaan Gowa dengan kolonial Belanda, dan akhirnya disepakati suatu perjanjian yaitu Perjanjian Bungaya maka Benteng Somba Opu sebagai kejayaan Gowa dihancurkan dan diratakan dengan tanah oleh penjajah Belanda. Tinggalan arkeologi berupa fragmen bata yang masih jelas goresan huruf lontara jangang-jangang, bekas kaki binatang, perahu dan motif tikar.
PERADABAN MASA SEJARAH SITUS EREKE, BUTON UTARA, SULAWESI TENGGARA [1] (The Historical Civilization of Ereke Site, North Buton, Southeast Sulawesi) M. Irfan Mahmud
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.134 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i1.44

Abstract

Ereke is one of regions in the north of Buton Island which grew in the authorization of Muna Palace.Under the threat of pirates and the greatness of Waolio Castle (Buton) and Muna, they built their government in a fortress (intra-murros). It was divided into some units with “kalisusu” as physical symbol of residential centre, and it became their identity. This paper will reveal the archaeological trackin historical landscape. To describe some aspects of community civilization in the history of Ereke archaeological site. At least since XV until XIX centuries. The purpose is to give initial information which can be developed in the broader and deeper research in the future. There was one significant thing found using archaeological survey, although cultural acculturation and assimilation occurred transparently, but the substantive element of local culture can hold up as the identity by adapting the external influence, such as defence system, fortress, armament, import goods, and religious order of the society. ABSTRAKEreke merupakan kawasan di sisi utara pulau Buton yang tumbuh dalam pengaruh penguasa keraton Muna. Di bawah ancaman bajak laut dan bayang-bayang kebesaran keraton Wolio (Buton) dan Muna, mereka membangun pemerintahan dalam benteng (intra-murros). Ruang benteng terbagi dalam beberapa unit, dengan “Kalisusu” sebagai simbol pusat permukiman, sekaligus menjadi identitas yang merekatkan. Tulisan ini akan mengungkapkan jejak arkeologis dalam bentang sejarah (historical landscape) untuk menggambarkan beberapa aspek peradaban komunitas di situs Ereke masa sejarah, sekurang-kurangnya sejak abad XV hingga XIX. Tujuannya, untuk memberikan informasi awal yang dapat dikembangkan dalam penelitian yang lebih luas dan mendalam di masa akan datang. Ada satu hal yang penting ditemukan dengan survei arkeologis, bahwa meskipun akulturasi dan assimilasi budaya berlangsung terbuka, namun unsur subtantif budaya lokal mampu bertahan sebagai identitas dengan tetap mengadaptasi anasir luar, seperti sistem pertahanan (benteng), persenjataan, barang impor, dan tatanan keagamaan.
SEJARAH RAT SRAN RAJA KOMISI KAIMANA (History of Rat Sran King of Kaimana) Desy Polla Usmany
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.506 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i1.45

Abstract

Kaimana kingdom led by the Rat Sr10an, means King of Sran or King of Commission. Initially this kingdom exists enough, but gradually fading effect, even more memorable. This article departs from the research that aims to describe the genesis of the King Sran, government and powers of the period before the entry of the Netherlands until the time of Dutch rule. The study revealed that the historical method Sran kingdom was established in 1309. The first named of Rat Sran king is Imaga who hold Nati Patimunin I. This kingdom migrate three times, namely from Patimunin, Adi Island, and the city of Kaimana. Sran kingdom until 1440 been progressing quite rapidly, but subsequently degraded power due to the inclusion of Tidore, a conflict between the royal family, as well as changes in the system of government after the entry of the Dutch government.ABSTRAKKerajaan Kaimana dipimpin oleh Rat Sran, berarti Raja Sran atau Raja Komisi. Awalnya kerajaan ini cukup eksis, namun lambat laun memudar pengaruhnya, bahkan semakin terlupakan. Artikel ini berangkat dari penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan kembali asal usul Raja Sran, pemerintahan serta kekuasaannya dari masa sebelum masuknya Belanda hingga masa pemerintahan Belanda. Penelitian dengan metode sejarah mengungkapkan bahwa Kerajaan Sran berdiri tahun 1309. Raja pertama bernama Imaga yang bergelar Rat Sran Nati Patimunin I. Kerajaan ini berpindah tempat sebanyak tiga kali, yaitu dari Patimunin, Pulau Adi, dan Kota Kaimana. Kerajaan Sran hingga tahun 1440 mengalami perkembangan cukup pesat, namun selanjutnya mengalami degradasi kekuasaan akibat masuknya Tidore, konflik diantara keluarga kerajaan, serta perubahan sistim pemerintahan setelah masuknya pemerintah Belanda.
MASUKNYA ISLAM DI KABUPATEN FAKFAK DAN TINGGALAN ARKEOLOGINYA Bau Mene
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.789 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i2.47

Abstract

The process of introduction of Islam in Fakfak conected the sultanate of Ternate and Tidore, the two regions into the arena of the struggle for the imperial influence. The purpose of this study to determine the entry and development of the Islamic religion, form of early settlement patterns of Islam in Fakfak, the influence of foreign cultures on the archaeological remains found. This study used a qualitative descriptive approach. Research found mosques, tombs, palaces of kings and the Quran.AbstrakProses masuknya agama Islam di Kabupaten Fakfak tidak terlepas dari kesultanan Ternate dan Tidore, kedua wilayah tersebut menjadi ajang perebutan pengaruh kesultanan tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui proses masuk dan berkembangnya agama Islam, bentuk pola pemukiman awal masuknya Islam di Kabupaten Fakfak, pengaruh budaya luar pada tinggalan arkeologi yang ditemukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian yang dilakukan pada Distrik Fakfak Kota, Fakfak Barat dan Fakfak Tengah ditemukan masjid, makam, istana raja dan alquran.
PENYEBARAN INJIL DAN TINGGALANNYA DI KAMPUNG NAU DAN WAREN KABUPATEN WAROPEN Desy Polla Usmany
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.689 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i2.48

Abstract

The presence of Christians in Wandamen Bay, whose life is orderly and peaceful, causing old people in Waropen asked the Dutch to also spread the gospel in their village. Some teachers of the gospel is then sent to Waropen. The purpose of this paper is to determine the religious system Waropen before the entry of Christianity, chronology and impact evangelism and missionary history remains in Waropen, especially in Nau village and Waren village. The research method used is the historical method. Evidence remains, the early history of the spread of the gospel remains can still be found on the island of Nau and Waren, Waropen.AbstrakAdanya orang-orang Kristen di Wandamen Papua, yang hidupnya teratur dan penuh kedamaian, menyebabkan orang-orang tua di Waropen meminta kepada Belanda agar Injil juga disebarkan di kampung mereka. Beberapa guru injil kemudian dikirim ke Waropen. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui sistim religi orang Waropen sebelum masuknya agama Kristen, kronologi pekabaran Injil serta dampak dan tinggalan sejarah pekabaran injil di Waropen, khususnya di Kampung Nau dan Kampung Waren. Metode penelitian yang gunakan adalah metode sejarah. Bukti tinggalan-tinggalan sejarah awal penyebaran injil masih dapat ditemukan di Pulau Nau dan Waren, Waropen.
FUNGSI KAPAK BATU PAPUA DALAM MEMPERSATUKAN KERAGAMAN Rini Maryone
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.947 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i2.49

Abstract

Stone axe found at several prehistoric sites in Papua, shows the influence of Austronesian culture that brought together other cultures. The survey results revealed that the presence of the stone axe is still functional in some tribes in Papua for traditional ceremonies, funeral rites, religious, gardening and farming. The results of the research that has been conducted shows that the stone axe is one of the remains of the cultural diversity that can unite the tribes in Papua. Stone axes can also serve to strengthen the identity of the nation and the state, and can be passed down to younger generations through education of local content for students.AbstrakKapak batu yang ditemukan pada beberapa situs prasejarah di Papua, menunjukan adanya pengaruh budaya Austronesia yang dibawa bersama budaya lainnya. Dari hasil penelitian diketahui bahwa keberadaan kapak batu saat ini masih difungsikan dalam beberapa suku di Papua untuk upacara-upacara adat, upacara kematian, religius, berkebun dan berladang. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa kapak batu adalah salah satu tinggalan budaya yang dapat mempersatukan keragaman suku-suku yang berada di Papua. Kapak batu juga dapat berperan untuk menguatkan jati diri bangsa dan negara, serta dapat diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan muatan lokal bagi pelajar dan mahasiswa.
BENTUK BIDANG PECAHAN FOSIL CERVIDAE KOLEKSIMUSEUM SANGIRAN (ANALISIS MIKROSKOPIS) Metta Adityas PS
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.418 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i2.50

Abstract

This paper examines the bones Cervidae Sangiran Museum collection. The analysis used the microscopic analysis after knowing the results of the analysis ekofaktual. Based on the analysis results obtained ekofaktual long bone fragments and insects. Fractions are expected to know it will be able to describe the causes of these fractions. Early humans have utilized in Sangiran specimens of the long bones and rangga as materials for bone tool.AbstrakTulisan ini mengkaji tulang Cervidae koleksi Museum Sangiran. Analisis yang digunakan yaitu analisis mikroskopis setelah mengetahui hasil dari analisis ekofaktual. Berdasarkan hasil analisis ekofaktual didapatkan pecahan tulang panjang dan rangga. Diharapkan dengan mengetahui bentuk pecahan maka akan dapat menggambarkan penyebab dari pecahan tersebut. Manusia purba di Situs Sangiran telah memanfaatkan spesimen dari tulang panjang dan rangga sebagai bahan pembuatan alat tulang.
PENINGGALAN ARKEOLOGI KOLONIAL DI KOTA TOMOHON Irfanuddin Wahid Marzuki
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.622 KB) | DOI: 10.24832/papua.v5i2.51

Abstract

Tomohon city has a variety of potential archaeological re source sr, from prehistoric era until Colonial era. Archaeological resources from colonial era in Tomohon currently still well maintained and utilized by the community. Archaeological resources from colonial era includes building a house of worship, school buildings, hospital buildings, and the building of homes. This research using descriptive eksploratif methods, with inductive reasoning, moving from the study of the facts or specific symptoms then summed up as symptoms of a general nature. Data collection using surveys, interviews and literature studies. Utilization of reserve building in the City of Tomohon Colonial culture largely remains as the initial function, namely as a house of worship, schools, hospitals, and home living.AbstrakKota Tomohon mempunyai potensi peninggalan arkeologi yang beragam, mulai masa pra sejarah sampai masa Kolonial. Peninggalan arkeologi masa Kolonial di Kota Tomohon saat ini masih terawat dengan baik dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Peninggalan masa Kolonial di Kota Tomohon meliputi bangunan rumah ibadah, bangunan sekolah, bangunan rumah sakit, dan bangunan rumah tinggal. Metode penelitian berupa deskriptif eksploratif, dengan menggunakan penalaran induktif, yang bergerak dari kajian fakta-fakta atau gejala khusus yang kemudian disimpulkan sebagai gejala yang bersifat umum. Pengumpulan data menggunakan survey, wawancara dan studi pustaka. Pemanfaatan bangunan cagar budaya Kolonial di Kota Tomohon sebagian besar masih seperti fungsi awal, yaitu sebagai rumah ibadah, sekolah, rumah sakit, dan rumah tinggal.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 2 (2021): November 2021 Vol. 13 No. 1 (2021): Juni 2021 Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020 Vol. 12 No. 1 (2020): Juni 2020 Vol. 11 No. 2 (2019): November 2019 Vol. 11 No. 1 (2019): Juni 2019 Vol. 10 No. 2 (2018): November 2018 Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018 Vol 9, No 2 (2017): November 2017 Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017 Vol 9, No 1 (2017): Juni 2017 Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017 Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016 Vol 8, No 2 (2016): November 2016 Vol 8, No 1 (2016): Juni 2016 Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016 Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 1 (2015): Juni 2015 Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015 Vol. 6 No. 2 (2014): November 2014 Vol 6, No 2 (2014): November 2014 Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014 Vol 6, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 5, No 2 (2013): November 2013 Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013 Vol 5, No 1 (2013): Juni 2013 Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013 Vol 4, No 2 (2012): November 2012 Vol. 4 No. 2 (2012): November 2012 Vol 4, No 1 (2012): Juni 2012 Vol. 4 No. 1 (2012): Juni 2012 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol. 3 No. 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol. 3 No. 1 (2011): Juni 2011 Vol 3, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 2, No 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 1 (2010): Juni 2010 Vol 2, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 1, No 2 (2009): November 2009 Vol. 1 No. 2 (2009): November 2009 Vol. 1 No. 1 (2009): Juni 2009 Vol 1, No 1 (2009): Juni 2009 More Issue