cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Residu Pestisida di Sentra Produksi Padi di Jawa Tengah Ardiwinata, Asep Nugraha; Nursyamsi, Dedi
JURNAL PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1051.289 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i1.103

Abstract

Dewasa ini pestisida sudah merupakan bagian dari sistem usahatani sebagianbesar petani di Indonesia. Penggunaan pestisida semakin intensif dan cenderung tidak terkontrol; akibatnya agroekologi pertanian dan kesehatan manusia sebagai konsumen menjadi terabaikan.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi status penggunaan pestisida dan residunya yang dilaksanakan dengan mengambil contoh tanaman padi, tanah, dan air di sentra produksi padi di Jawa Tengah. Konsentrasi residu pestisida dalam contoh ditentukan dengan menggunakan kromatografi gas (GC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani di Jawa Tengah sudah terbiasa menggunakan pestisida karena diyakini bahwa pestisida ampuh dalam menanggulangi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Namun demikian penggunaan pestisida di petani umumnya belum berdasarkan prinsip pengelolaan hama terpadu (PHT), yaitu pestisida digunakan dalam jumlah sesedikit mungkin dalam batas yang efektif dan diaplikasikan apabila tingkat kerusakan tanaman atau kepadatan populasi organisme pengganggu melampaui batas toleransi ambang ekonomi. Meskipun penggunaan insektisida organoklorin telah dilarang dan hasil wawancara dengan petani tidak ditemukan penggunaannya di lahan sawah, tetapi residunya di lapangan masih ditemukan sehingga berpotensi mengganggu kelestarian lingkungan. Residu insektisida organoklorin dan organofosfat telah ditemukan dalam contoh tanaman padi, tanah, dan air di sentra produksi padi di Jawa Tengah (Kabupaten Grobogan, Demak, Pemalang, Brebes, Tegal Cilacap, Kebumen, Sragen, dan Klaten), sedangkan residu insektisida karbamat hanya ditemukan di Kabupaten Klaten, Demak, Cilacap, dan Pati.Presently, pesticide has already been a part of farming system of most farmers in Indonesia. The use of pesticides has become more intensive and tended to be uncontrolled; consequently agro-ecological agriculture and human health as consumers have becomeneglected. This research is aimed to identify status of use of pesticides and their residues that is carried out by collecting rice plant, soil, and water samples from paddy fields of rice production centers in Central Java. Concentration of pesticides residue in the samples is determined by using Gas Chromatography (GC) method. The results show that farmers in Central Java use the pesticides because they believe that the pesticides are significantly effective in tackling pests attack. However, the use of pesticides by farmers generally has not been based on the principles of integrated pest management(IPM), a pesticide used inamounts as little as possible withinthe effective limits (no-exaggeration) and it is applied when the extent of damage to crops or pests population densities exceeds the economic threshold. Although the use of insecticides of organochlorine has been prohibited and the interview result reveals that the farmers do not use it in paddy fields, the residues on the paddy field are still found, so that they potentially pollute the environment. Organochlorine and organophosphate insecticide residues are found at rice plants, soil, and water samples taken from paddy field of riceproduction centers in Central Java (District Grobogan, Demak, Pemalang, Brebes, Tegal,Cilacap, Kebumen, Sragen, and Klaten), whereas the carbamate insecticide residuesare only found in Klaten, Demak, Cilacap, and Pati Districts. 
Penganekaragaman Konsumsi Pangan dan Gizi Faktor Pendukung Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Suryana, Achmad
JURNAL PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.937 KB) | DOI: 10.33964/jp.v17i3.262

Abstract

Berbagai kajian di bidang gizi dan kesehatan menunjukkanbahwa untuk dapat hidup sehat dan produktif, manusia memerlukan sekitar 45 jenis zat gizi yang harus diperoleh dari makanan yang dikonsumsi, dan tidak ada satu jenis panganpun yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan gizi bagi manusia. Untuk memenuhi kebutuhan gizi tersebut, setiap orang perlu mengkonsumsi pangan yang beragam dan bergizi seimbang, serta aman. Penganekaragaman konsumsi pangan dan gizi dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain : faktor yang bersifat internal (individual) seperti pendapatan, preferensi, keyakinan (budaya dan religi), serta pengetahuan gizi, maupun faktor eksternal seperti faktor agroekologi, produksi. ketersediaan dan distribusi, anekaragam pangan, serta promosi/iklan. Darisegi kuantitas, jumlah energi yang dikonsumsi penduduk pada tahun 2007 sebesar 2.015 kkal/kap/hari, telah melampaui angka tingkat konsumsi yang direkomendasikan Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi (WKNPG) VIII tahun 2004 sebesar 2000 kkal/kap/hari. Sementara konsumsi protein penduduk pada tahun 2007 telah mencapai 57,65 gram/kap/hari, harga telah melampaui angka kecukupan protein yang dianjurkan sebesar 52 gram/kap/hari. Indikator kualitas konsumsi pangan ditunjukkan oleh skor Pola Pangan Harapan (PPH). Selama 5 tahun terakhir telah terjadi peningkatan mutu gizi konsumsi pangan penduduk Indonesia yang diindikasikan dengan meningkatnya skor mutu gizi pangan (PPH) dari 77,5 (2003) menjadi 82,8 (2007). Namun demikian, terlihat bahwa konsumsi kelompok padi-padian masih mendominasi dibandingkan kelompok pangan lainnya dengan kontribusi 61,74 persen, padahal proporsi ideal yang diharapkan 50 persen dari total konsumsi energi yang dianjurkan. Upaya percepatan penganekaragaman konsumsi pangan diharapkan mencapai hasil maksimal pada tahun 2015 yang diindikasikan oleh tercapainya skor PPH mendekati 100 dan pangan yang tersedia aman untuk dikonsumsi berbasis sumberdaya lokal. Untuk mencapai target tersebut dilakukan pentahapan yang secara umum terdiri atas dua tahap, yaitu Tahap I (2008-2011) dan Tahap II (2012-2015). Untuk kurun waktu Tahun 2008 - 2011 kegiatan difokuskan kepada internalisasi penganekaragaman konsumsi pangan serta pengembangan ketersediaan bahan baku dan pasar domestik anekaragam pangan baik segar maupun olahan. Untuk kurun waktu tahun 2012 - 2015, upaya-upaya percepatan penganekaragaman konsumsi pangan adalah melanjutkan kegiatan Tahap I dengan penambahan kegiatan dan penekanan pada pembinaan pengembangan bisnis dan industri pangan.
Penerapan Model Pertanian Ramah Lingkungan sebagai Jaminan Perbaikan Kuantitas dan Kualitas Hasil Tanaman Pangan Wihardjaka, Anicetus
JURNAL PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1539.559 KB) | DOI: 10.33964/jp.v27i2.376

Abstract

Keberhasilan peningkatan produktivitas tanaman pangan yang diikuti dengan kelestarian lingkungan hidup merupakan prinsip penerapan sistem pertanian ramah lingkungan berkelanjutan. Berbagai sistem pertanian ramah lingkungan telah dikembangkan dengan berpedoman pada budidaya pertanian yang baik melalui sinergis antar komponen teknologi, antara lain pengelolaan tanaman terpadu, jajar legowo super, sistem integrasi tanaman-ternak bebas limbah, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman secara terpadu. Melalui sinergi komponen teknologi secara terpadu, penerapan sistem pertanian ramah lingkungan memantapkan capaian produktivitas tanaman pangan, kualitas tanah terpelihara, dan emisi gas rumah kaca dapat tereduksi. Beberapa komponen teknologi yang mampu memberikan hasil tanaman tinggi, emisi gas rumah kaca rendah, dan rendah kontaminan antara lain pengairan berselang, penggunaan bahan organik matang (nisbah C/N rendah) dengan bantuan biodekomposer, pemupukan berimbang, pengendalian hama secara terpadu dengan mengandalkan pestisida nabati, jarak tanam legowo, dan varietas padi unggul rendah emisi.  Melalui pengelolaan tanaman terpadu, hasil padi sawah dapat meningkat hingga 47%, pendapatan petani meningkat 29-76%, dan emisi GRK turun sekitar 18-26%.
Kebijakan Pendorong Agroindustri Tepung dalam Prespektif Ketahanan Pangan Bantacut, Tajuddin
JURNAL PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1012.508 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i1.192

Abstract

Peringatan Malthus bahwa kebutuhan pangan bertambah secara berlipat, sementara produksi naik bertahap masih relevan dengan situasi sekarang. Relevansi ini terutama tampak pada bahan pangan pokok, khususnya Indonesia yang hampir sepenuhnya bergantung pada satu komoditi beras. Kesalahan filosofis dan praktis terjadi karena bahan pokok diartikan sebagai beras, bahkan banyak masyarakat yang sebelumnya tidak mongkonsumsinya dokonversi menjadi konsumen tetap. Dalam dunia pangan, bahan pokok diartikan sebagai sumber kalori yang kandungan utamanya karbohidrat. Indonesia yang memiliki lahan, iklim dan keragaman hayati yang tinggi mempunyai tanaman penghasil karbohidrat yang banyak seperti singkong, ubi jalar, kentang, uwi, gadung, tales dan sukun. Persoalannya adalah bahan pangan ini selain sulit ditangani dalam jumlah besar juga belum dikonsumsi sebagai pangan pokok secara luas. Pengolahan bahan tersebut menjadi tepung dapat memudahkan penanganan dan penyiapan. Oleh karena itu, upaya untuk mengembangkan industri tepung sebagai langkah awal mengurangi ketergantungan pada beras perlu didukung dengan kebijakan yang memadai. Agroindustri tepung perdesaan dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan. Diversifikasi bahan pangan pokok menjadikan sektor pertanian sangat dinamis mengikuti perkembangan pasar.
Tantangan Perberasan Nasional Menghadapi Pasar Tunggal ASEAN 2015 National Rice Challenges Facing the ASEAN Single Market in 2015 Saifullah, Agus
JURNAL PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.966 KB) | DOI: 10.33964/jp.v23i2.62

Abstract

Pasar tunggal ASEAN (ASEAN Economic Community-AEC) akan mulai berlaku tahun 2015. Pada saat tersebut aliran barang, jasa, modal dan investasi akan berlangsung bebas. Dalam iklim kompetisi, komoditas beras diperkirakan tidak mampu bersaing dan akan menerima dampak serius. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menganalisa tingkat daya saing beras dari aspek harga dalam menghadapi AEC dan memperkirakan dampaknya terhadap industri perberasan. Hasil analisa menunjukkan bahwa daya saing beras domestik terhadap beras dari negara lain relatif rendah. Harga beras domestik saat ini berada 60-70 persen di atas harga paritas impor dan biaya produksinya di atas biaya produksi dari negaranegara lain di ASEAN. Selain itu posisi beras masih mendapatkan berbagai proteksi. Saat pasar tunggal berlaku berbagai bentuk proteksi tidak diperbolehkan. Hal ini dapat berakibat pada saat pasar tunggal berlaku, potensi impor beras akan besar sehingga sulit mengamankan harga produsen, meningkatnya stok yang harus dibeli pemerintah, turunnya insentif ekonomi untuk usaha tani padi dan meningkatnya potensi pengalihan usaha tani padi ke non padi. Apabila masalah tersebut tidak diantisipasi secara tepat akan berpengaruh terhadap ketahanan pangan, kesejahteraan petani dan pengangguran. Oleh sebab itu perlu kehati-hatian dan persiapan menghadapi pasar tunggal ASEAN. Hal ini mencakup negosiasi ulang untuk menjamin kebijakan perberasan saat ini masih dapat diteruskan, meningkatkan efisiensi industri perberasan nasional, memperkecil perbedaan harga beras domestik dengan harga paritas impor, dan menjaga luas lahan padi yang menjamin produksi agar ketahanan pangan tidak terganggu. kata kunci: beras, daya saing, pasar tunggal, Indonesia, AECASEAN single market (ASEAN Economic Community - AEC) will come into force in 2015. At that time the flow of goods, services, capital and investment will be free. In this competition climate, food commodities such as rice, may not be able to compete and will receive a serious impact. The purpose of this paper isto analyze the competitiveness of Indonesian domestic rice facing the AEC and its impact to rice industry. The analysis shows that the competitiveness of domestic rice is relatively low compared to that of other ASEAN countries. Domestic rice prices are currently 60-70% above the import parity price and the cost of production is also higher than the other countries. In addition, rice still enjoys various protection but when the single market is applied various forms of protection are no longer allowed. This condition can result in increasing rice imports leading to difficulties in securing producer prices, rising stock to be purchased, lowering economic incentives for paddy farming, and potential shifting of rice farming to non-rice activities. If the problems are not anticipated properly it will affect food security, farmers’ welfare and unemployment.Therefore, safeguard measures and proper preparation should be taken to face the ASEAN single market. These include renegotiating to maintain the current rice policy, improving more efficient rice industry, reducing the gap between domestic to import parity prices, and keeping the adequate rice land to ensure food security.
Ketersediaan Pupuk 2010-2014 dan Subsidi Pupuk Alimoeso, Sutarto
JURNAL PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.637 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i1.110

Abstract

Pupuk adalah salah satu input yang esensial dalam proses produksi tanaman pangan. Pupuk dapat berperan optimal dalam usaha peningkatan produktivitas dan produksi, kalau ketersediaan air cukup dan benih bermutu diadopsi petani. Proyeksi kebutuhan berbagai jenis pupuk diharapkan dapat dipenuhi dari produksi pupuk dalam negeri. Proyeksi kebutuhan pupuk 2010-2014 memperlihatkan bahwa hanya jenis pupuk N mampu disuplai oleh produksi dalam negeri. Indonesia harus  bergantung pada impor untuk jenis pupuk P dan K. Ketergantungan pada impor akan berisiko tinggi, karena instabilitas harga pupuk di pasar dunia serta ketersediaan devisa. Subsidi pupuk yang berlaku saat ini adalah tidak langsung terhadap petani produsen, tetapi melalui produsen pupuk, sehingga telah menimbulkan banyak kesulitan dalam implementasinya. Alternatif lain adalah subsidi langsung ke petani melalui Kelompok Tani. Namun hal ini perlu kesiapan matang, karena diperlukan penguatan kelembagaan pelaksana di daerah dan penguatan kelembagaan Kelompok Tani/Gapoktan. 
Kajian Efektivitas Program RASKIN di Jawa Timur (RASKIN Program Effectiveness Study in East Java) Sudiarso, Sudiarso
JURNAL PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.037 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i1.93

Abstract

Dalam upaya optimalisasi dan meningkatkan keberhasilan program RASKIN untuk dapat memenuhi hak pangan Rumah Tangga Miskin (RTM), maka perlu dilakukan evaluasi menyeluruh melalui kajian efektivitas program RASKIN. Kajian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang akurat tentang penilaian masyarakat terhadap pelaksanaan program RASKIN, kemungkinan kenaikan harga tebus RASKIN serta kelayakan kenaikan jumlah kuantum RASKIN yang diterimakan kepada RTM. Hasil Kajian menunjukkan bahwa pelaksanaan program RASKINdi Jawa Timur secara umum berjalan cukup baik. Hal tersebut ditunjukkan dari ketepatan pelaksanaan yang mencapai 81,9 persen. Kontribusi ketepatan tertinggi diperoleh dari ketepatan administrasi, kualitas, sasaran, waktu, dan harga masing-masing sebesar 94 persen, 84,3 persen, 83 persen, 80 persen, serta 78,3 persen. Sementara itu ketepatan jumlah nilai efektivitasnya paling rendah yaitu hanya sebesar 68 persen. Jumlah kuantum RASKIN yang diterimakan kepada Rumah Tangga Sasaran (RTS) perlu dipertimbangkan untuk dinaikkan. Berdasarkan hasil kajian dapat disimpulkan bahwa jumlah kuantum RASKIN setiap bulan adalah 50 persen dari kebutuhan konsumsi beras yaitu sebesar 20 kg untuk setiap RTS. Hasil kajian juga menunjukkan bahwa masyarakat menyadari adanya kemungkinan kenaikan harga tebus RASKIN, namun diharapkan tidak lebih dari Rp 2.500/kg.In order to optimize and enhance the achievement of RASKIN (Rice for Poor People) program to fulfill food rights for Underprivileged Family (Rumah Tangga Miskin = RTM), it is necessary to perform a comprehensive evaluation through a study on the effectiveness of RASKIN program. This study aims to provide precise information about the outlook of the society toward RASKIN program implementation, the response of RTM on the possibility of increasing RASKIN price and the feasibility of total quantity of RASKIN received by RTM. The result shows that the RASKIN program in East Java is generally implemented well. It can be shown by the suitability of the score of the implementation of the RASKIN that reaches up to 81.9 percent. The highest suitability of implementation is contributed by the precision of the administration, quality, object, time, and price at 94 percent, 84.3 percent, 83 percent, 80 percent, and 78.3 percent, respectively. Meanwhile, the lowest total value of the effectiveness is only 68 percent. The quantum total of RASKIN received by Rumah Tangga Sasaran (RTS) is needed to be raised. Based on this study, it can be concluded that the total quantity of RASKIN per month is 50 percent of the rice consumption i.e. 20 kgperRTS.This study also shows that the society is aware of Raskin price, but it is expected that the price is not more than Rp 2.500/kg. 
Quo Vadis Manajemen Kebutuhan Pokok ? Gafar, Sapuan
JURNAL PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.656 KB) | DOI: 10.33964/jp.v17i2.251

Abstract

Kebutuhan pokok merupakan kebutuhan yang menyangkut hajat hidup orang yang banyak meliputi pangan, sandang dan papan termasuk di dalamnya pendidikan dan hiburan. Pengaturan tataniaga komoditi bahan pokok penting dan perlu dilakukan oleh pemerintah karena hal ini dipandang sangat penting bagi kelangsungan industri nasional dan dapat mempengaruhi kualitas gizi penduduk. Pengaturan tataniaga masing-masing komoditi dapat berbeda dikarenakan beberapa hal, antara lain : (i) perbedaan karakteristik permintaan dan penawaran, (ii) perbedaan struktur pasar, (iii) perbedaan kendala dan masalah yang dihadapi, (iv) perbedaan peranannya sendiri dalam masyarakat, baik secara ekonomi maupun politik. Oleh karena itu perlakukan pengaturan tataniaga akan berbeda dan berkembang menurut waktu dan jenis komodititasnya. Pada masa yang lalu kebutuhan pokok meliputi tiga hal, yaitu : (i) bahan pokok (ii) barang strategis dan (iii) barang penting. Adapun cara pengaturan kebutuhan pokok tersebut pada dasarnya ada lima antara lain : (i) pemerintah menetapkan harga meliputi harga produsen, harga grosir atau harga eceran, (ii) pemerintah menguasai dan mengawasi stok cadangan pada tingkat tertentu, baik dimiliki sendiri atau hanya menguasai, (iii) pemerintah mengatur perdagangan ekspor-impomya dengan cara melaksanakan sendiri atau melalui kuota/tarif, (iv) pemerintah memonitor pasokan dan harganya untuk dapat melakukan tindakan tertentu, (v) pemerintah mengatur perdagangan dalam negeri atas komoditi tersebut. Berkenaan dengan adanya otonomi daerah, maka diperlukan pembagian tugas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mengatur kebutuhan pokok yang intinya adalah : (i) pemerintah pusat menetapkan kebijaksanaan kebutuhan pokok yang berlaku diseluruh Indonesia. Selanjutnya pemerintah pusat juga mengatur kelancaran distribusi antara daerah dan antara pulau. Pemerintah pusat menetapkan dan mengatur kebijaksanaan ekspor-impor dengan sasaran pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan perlindungan terhadap produsen dan konsumen, (II) pemerintah daerah pada dasarnya menjalankan kebijaksanaan pemerintah pusat. Selanutnya menjaga kelancaran arus barang dari dan ke daerahnya. Pemda memonitor persediaan di berbagai tingkat perdagangan dan memonitor perkembangan harga.
Karakteristik Fisikokimia Tepung Dari Berbagai Genotipe Baru Ubi Kayu Purwanto, Aris; Ariany, Septian Palma
JURNAL PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.396 KB) | DOI: 10.33964/jp.v26i3.367

Abstract

Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) adalah salah satu sumber karbohidrat yang berpotensi besar dikembangkan untuk mendukung program diversifikasi pangan. Ubi kayu menjadi sumber karbohidrat non-beras terbesar kedua dunia setelah jagung. Ubi kayu merupakan komoditas agroindusti yang potensial untuk dijadikan bahan baku berbagai industri seperti pangan, pakan, farmasi, kertas dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sifat fisikokimia dari 20 genotipe ubi kayu yang berasal dari tim pemulia tanaman ubi kayu IPB, sehingga dapat menjadi umpan balik bagi pemulia (breeder) untuk mendapatkan genotipe yang sesuai dengan tujuan pengolahan ubi kayu skala industri. Analisis fisikokimia dilakukan dengan analisis fisik meliputi analisis karakteristik pasta (pasting properties) dan analisis kimia meliputi (kadar air, total pati, amilosa, amilopektin, kadar HCN) dan rendemen tepung singkong. Dari hasil karakterisasi diperoleh bahwa setiap genotipe ubi kayu memiliki sifat fisiko-kimia tepung yang berbeda.  Kandungan air tertinggi, total pati, amilosa, amilopektin, HCN, dan rendemen pada tepung ubi kayu ditemukan pada varian V4D2-122 (varian Malang-4) (8,13 persen), V2D0-311 / 313 (Ratim) (90,44 persen), V3D1-423 (varian UJ-5) (31,69 persen), V2D0-311/313 (Ratim) (64,70 persen), V5D2-333 (varian Adira-4) (1,52 ppm), dan V2D0-311/313 (Ratim) (29,11 persen). Pada pengujian pasting properties genotipe V4D2-122 (varian Malang-4) memiliki viskositas puncak tertinggi (5703 cP). Genotipe ubi kayu dapat diaplikasikan pada produk pangan dan nonpangan yang sesuai dengan karakter fisikokimianya
Pusat Penelitian Kimia LIPI, Kawasan Puspiptek, Serpong Susilowati, Agustine; M. Iskandar, Yetti; Aspiyanto, Aspiyanto; Maryati, Yaty
JURNAL PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.448 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i4.182

Abstract

Rhizopus C1 adalah kultur dari Rhizopus oligosporus yang diisolasi dari usar tempe Malang dan biasa digunakan sebagai inokulum tempe. Potensinya sebagai sumber enzim protease dapat dimanfaatkan dalam menghidrolisis protein sorgum (Sorgum bicolor L Moench) untuk memperoleh serat pangan (Dietary Fiber) yang berperan sebagai anti kolesterol dan anti konstipasi. Perlu diketahui bahwa serat pangan tidak termasuk protein, sehingga hidrolisis protein diharapkan dapat membentuk asam-asam amino dengan berat molekul rendah dan tidak berpengaruh terhadap Total Serat (TDF/Total Dietary Fiber). Hidrolisis dilakukan pada suhu 60°C, pH 5,5 dengan variasi waktu hidrolisis yaitu 30 menit (W 30’) dan 60 menit (W 60’) dan variasi konsentrasi Rhizopus C1 dalam substrat sorgum mulai dari nol (kontrol) sampai 0,8 persen (b/b protein) pada liquisat yaitu hasil hidrolisis sorgum dengan a-Amylase. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa hidrolisis dengan konsentrasi Rhizopus C1 dan waktu proses hidrolisis yang berbeda berpengaruh terhadap aktifitas proteolitik dan amylolitik Rhizopus C1, total padatan, N-Amino, TDF, protein terlarut dan gula pereduksi hidrolisat. Kondisi optimum hidrolisis berdasarkan TDF tertinggi diperoleh pada konsentrasi Rhizopus C1 0,6 persen (b/b) selama 30 menit (W 30’) dengan peningkatan TDF sebesar 63,021 persen dibandingkan kontrol tanpa penambahan Rhizopus C1 (0 persen).Rhizopus C1 is a culture of the Rhizopus ologosporus isolated from Malang tempe usar and used in fermentation of tempe. Its potential as the source of protease enzyme can be used to hydrolyze sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) protein in order to get Dietary Fiber (DF) as the functional food for anti cholesterol and anti constipation.DF does not include protein, so that hydrolysis of protein can be expected to degrade and convert amina groups into amino acids with low molecular weight (MW). Therefore it does not affect the Total Dietary Fiber (TDF). Hydrolysis process was carried out at the concentration of Rhizopus C1 in sorghum substrate varied from zero (control) to 0.8 percent (w/w) onto the liquifisate (sorghum hydrolysate with a-Amylase), with pH of 4.5 and 5.5 and temperature of 60°C for the duration of 30 and 60 minutes.The result demonstrated that the variation of process conditions (Rhizopus C1 concentration and time) affected the proteolytic and amylolytic activities of Rhizopus C1, total solids and reduction of dissolved protein, and the increase of TDF of liquifisate. Based on the highest TDF yield, the optimal condition of protease hydrolysis was reached at Rhizopus C1 concentration 0.6 percent (w/w) for 30 minutes. 

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue