cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Biji Chia : Karakteristik Gum dan Potensi Kesehatannya Safari, Asep; Kusnandara, Feri; Syamsir, Elvira
JURNAL PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1369.785 KB) | DOI: 10.33964/jp.v25i2.329

Abstract

Chia seeds (Salvia hispanica L.) have distinctive physical characteristics; they are able to form mucilage through hydration process. This mucilage may absorb water up to 12-27 times of dry weight, and have a viscous solution at low concentration. The mucilage of chia seeds has behavior as a non-Newtonian fluid and is classified as an anionic polysaccharide due to its richness in hydroxyl and carboxylate carbonyl groups. For this reason, mucilage of chia seeds is potentially applied as thickeners, stabilizers, emulsifiers, and edible film materials. In addition, chia seeds are reported to contain bioactive compounds and essential fatty acids, especially α-linolenic acid (omega-3). Consuming chia seed can decrease blood cholesterol level, weight gain in obesity, and risk of cardiovascular disease and diabetes. Chia seeds are potentially used for the development of functional foods.
Pengembangan Teknologi Pengendalian Serangga Hama Gudang Menggunakan Pestisida Alami Berbasis Nimba {Azadirachta indica. A.Juss) Development of Stored Product Pest Control Technology Using Biopesticide Based on Neem (Azadirachta indica. A. Juss) Yusuf, Sulaeman; Setiawan, Khoirul Himmi; Tarmadi, Didi; Zulfiana, Deni; Ismayati, Maya; Setyowati, Atik
JURNAL PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1860.515 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i3.153

Abstract

Selama dalam masa penyimpanan, komoditi hasil panen dapat mengalami kerusakan dan susut bobot (losses) yang disebabkan oleh serangan hama. Sitophilus oryzae adalah salah satu penyebab kerugian dan kerusakan terbesar karena memiliki kemampuan cepat berkembang biak akibat suplai makanan yang melimpah, mampu berpindah bersama-sama dengan komoditas hasil panen, serta mempunyai daya adaptasi pada kondisi kering. Pengendalian secara kimiawi tidak menjadi solusi, karena masih menggunakan bahan-bahan pestisida berbahaya seperti Carbamat, Piretroid, PH3 dan Metil Bromida,yang memiliki efek karsinogenik yang memicu kanker, akibat efek residual yang tertinggal dalam komoditas pangan. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini menawarkan teknologi pengendalian hama gudang penyimpanan hasil panen, menggunakan pestisida alami berbasis nimba, Azadirachta indica yang efektif, aman sekaligus ramah lingkungan. Hasil bioassay menunjukkan respon yang sangat baik, dimana mortalitas 100 persen S. orizae dicapai pada konsentrasi 10 ppm produk formulasi. Uji toksisitas akut oral dan dermal juga menunjukkan produk formulasi termasuk kategori bahan tidak berbahaya (WHO, 2003).During storage, stored product commodities could be damaged and lose weight caused by pest attack. Sitophilus oryzae is one of the most dangerous stored pests because of their fast reproductive abilities due to abundant supply of foods; their moving abilities with stored commodities; and their adaptability to extremely drying condition.Chemical treatments are not solving the problems because they still contain some toxical substances like carbamate, pyretroid, methyl boric, that would lead to residual contain remains on food commodity and possess carsinogenic effect Based on that background, this research proposes new stored product pest control technology using effective and environmentally friendly biopesticide based on neem (Azadirachta indica A. Juss). Bioassay results against S. oryzae show that 100 percent mortality is achieved at 10 ppm biopesticide formulation. Both acute oral and dermal toxicity tests also show that biopesticide formulation is classified as not harmful substances (WHO, 2003). 
Peningkatan Produksi dan Kualitas Susu Melalui Injeksi Bovine Somatotropin (bST) dan Suplementasi Seng Selama Masa Kering Pada Sapi Peranakan Fries Holland (PFH) Dzarnisa, Dzarnisa
JURNAL PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.529 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i1.25

Abstract

Sebanyak 16 ekor sapi perah Fries Holland (PFH) dalam masa kering kandang di Peternakan INKOPPOL di Cijeruk Bogor, telah digunakan untuk mempelajari pengaruh injeksi bovine somatotropin (bST) dan suplementasi mineral logam seng (Zn) terhadap peningkatan volume produksi dan kualitas susu pada periode laktasi berikutnya. Pada penelitian ini sapi-sapi dibagi ke dalam dua kelompok dan menggunakan Rancangan Acak Kelompok 2x2. Kelompok pertama adalah sapi kontrol terdiri atas delapan ekor. Kelompok kedua disuntik dengan bST. Faktor pertama adalah penyuntikan dengan bST dua tingkat dosis, yaitu nol (kontrol) dan 250 mg per ekor per dua minggu. Sedangkan faktor kedua adalah suplementasi Seng ( Zn) dengan dua tingkat dosis, yakni: 35 ppm dan 75 ppm. Peubah yang diukur adalah: fa’ali hewan (frekuensi pernafasan dan suhu tubuh), kimia darah (hematokrit, hemoglobin, glukosa dan trigliserida), produksi susu, volume ambing, kualitas susu (jumlah bakteri susu, pH, komponen gizi: protein, lemak, laktosa dan karbohidrat ), sanitasi dan mastitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bovine somatotropin tidak meningkatkan frekuensi pernafasan, suhu tubuh dan kimia darah ( hematokrit, hemoglobin, glukosa dan trigliserida). Injeksi bovine somatotropin pada sapi perah dalam periode kering dapat memberi pengaruh yang nyata (signifikan) pada peningkatan produksi susu dan volume ambing. Terdapat interaksi antara bST dengan suplementasi seng pada produksi susu dan volume ambing. Injeksi bovine somatotropin dan suplementasi seng selama periode kering dapat meningkatkan produksi susu sampai 17-25 persen. Suplementasi seng yang dikombinasi dengan somatotropin, ternyata juga dapat mengurangi mastitis subklinis.Sixteen dry period dairy cows of the Fries Holland Breed in INKOPPOL Cijeruk, a highland in Bogor, were used to study the effect bovine somatotropin (bST) injection and zinc (Zn) supplementation during dry period on the improvement of milk yield and milk quality in the next lactation. The experimental cows were classified into two groups and assigned into a randomized block design with a 2x2 factorial arrangement of treatments. The first factor was somatotropin treatment consisting of two levels: without injection (control) and biweekly injection with 250 mg of somatotropin (bST) per head. The second factor was with zinc supplementation at 35 ppm and 75 ppm. Variables measured were the respiration frequency and rectal temperature, blood chemistry (hematocrit, hemoglobin glucose and triglyceride), milk yield, udder volume, milk quality (bacterial count, pH, nutrition: protein, fat, lactose, carbohydrate), sanitation, and mastitis. It was found that Bovine somatotropin did not significantly increase the respiration rate, rectal temperature and blood chemistry (hematocrit, hemoglobin, glucose and triglyceride). However, Bovine somatotropin injection in the dry period significantly increased milk production and udder volume. There was an interaction between bST dan zinc supplementation on milk production and udder volume. Bovine somatotropin injection biweekly and supplementation in dry period increased milk production by 17-25 percents. Supplementation of zinc in combination with somatotropin reduced subclinical incident of mastitis in the dry period. 
Aplikasi Teknik Pengolahan Citra dalam Analisis Non-Destruktif Produk Pangan Ahmad, Usman
JURNAL PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.479 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i1.119

Abstract

Aplikasi ilmu teknik dalam bidang pertanian sudah dilakukan sejak lama. Perancangan terhadap lingkungan terkendali telah mengalami evolusi yang signifikan sejak tahun 1980. Sejak beberapa tahun terakhir bahkan kata “presisi” telah digunakan untuk menggambarkan penggunaan teknologi baru seperti komputer, elektronik, dan sensor. Beberapa contoh yang sudah muncul adalah precision farming, precision forestry, precision tillage, dan mungkin hanya masalah waktu saja bagi munculnya istilah precision fisheries and precision horticulture. Semua istilah di atas dapat dirangkum dalam satu pengertian yang berarti penerapan otomatisasi menggunakan teknologi komputer dan elektronika. Penggunaan pengolahan citra (image processing) diharapkan dapat meningkatkan akurasi sortasi dan pemutuan produk hortikultura berdasarkan kualitas dan kemasakannya. Kondisi buah dapat didekati dari ukuran obyek dalam citra bila diambil dengan latar belakang yang kontras dengan warna buah yang diamati. Tingkat kemasakan buah bisa didekati dari pengamatan warna dan tekstur kulit buah karena biasanya buah seperti mangga mengalami perubahan warna dan tekstur kulitnya seiring dengan perubahan tingkat kemasakan atau kehadiran plek-plek getah pada kulit mangga sehingga mutunya dinilai rendah. Meskipun masih berada pada tahap penelitian, pengolahan citra telah dikembangkan untuk klasifikasi beberapa produk hortikultura seperti jeruk, mangga, belimbing manis, paprika, tomat, wortel, dan lain sebagainya. Demikian halnya dengan produk pangan lainnya seperti biji-bijian, pengolahan citra dapat digunakan untuk tujuan yang sama. Beberapa contoh hasil penelitian menunjukkan bahwa klasifikasi mutu biji-bijian dengan menggunakan pengolahan citra memberikan hasil yang lebih akurat bila dibandingkan dengan hasil klasifikasi secara manual.
Peran Bioteknologi untuk Peningkatan Produksi Pangan di Lahan Marginal (Role of Biotechnology for Increased Food Production in Marginal Land) Pawiroharsono, Suyanto
JURNAL PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1563.178 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i1.101

Abstract

Dalam rangka ketahanan dan kemandirian pangan di Indonesia, maka diperlukan upaya peningkatan produktivitas pertanian, khususnya untuk tanaman pangan. Upaya intensifikasi selama ini dinilai berhasil, namun produktivitas sudah mendekati keadaan jenuh, sehingga upaya ekstensifikasi dengan memanfaatkan lahan marginal merupakan alternatif yang harus segera dilakukan. Indonesia sangat berpotensi mengembangkan pertanian di lahan marginal untuk peningkatan produktivitas tanaman pangan, mengingat luasan lahan yang dimiliki lebih dari 30 juta hektar dan memiliki kesiapan teknologi budidaya melalui aplikasi bioteknologi. Pemanfaatan lahan marginal untuk peningkatan produktivitas pangan masih banyak menghadapi kendala teknis sehingga dibutuhkan investasi yang lebih mahal. Disamping itu, implementasi pemanfaatan lahan perlu memperhatikan berbagai kearifan lokal sedemikian rupa agar berbagai sumber daya dapat dimanfaatkan secara optimal. Riset di bidang bioteknologi sudah banyak dilakukan di Indonesia dan hasil-hasilnya sangat berpotensi untuk peningkatan produksi tanaman pangan di lahan marginal. Hasil-hasil riset tersebut antara lain adalah varietas tanaman hasil rakitan yang toleran pada lahan marginal, pupuk hayati dan agen pengendalian hama. Selain itu, keberhasilan program peningkatan produktivitas pangan di lahan marginal perlu dukungan kebijakan dan komitmen pemerintah, baik pusat dan daerah serta dukungan masyarakat petani. In the framework of food security and food self-sufficiency, the improvement ofagricultural product of staple food commodities is urgently required. Intensification program is considered to be successful, but the productivity has recently been relatively saturated. Hence, the extensification program by using the marginal or sub-optimal land is an important option to be executed immediately. Indonesia has a great potential to develop agriculture in the sub-optimal land for increasing food production because it has a vast area of land of more that 30 million hectares and the readiness of farming technologies, specifically the application of biotechnology. The use of sub-optimal land for the improvement of food productivity is still facing several constraints, so that the more expensive capital investment is needed. In addition, the local wisdoms should be seriously considered in order to optimize the use of resources. Biotechnology researches have been done in Indonesia, and their results are potentially useful for improving the food productivity in sub-optimal lands. Theresearch results consist of the engineered plant varieties which are tolerant to sub-optimalland, bio-fertilizer and bio-pesticide. Moreover, the success of the program requires the support from the government (centraland regional), as well as the farmers communities. 
Proses Pembuatan Mi Jagung dengan Bahan Baku Tepung Jagung 60 Mesh dan Teknik (Sheeting-Slitting Process ofCorn Noodles based on Corn Flour 60 Mesh and Sheeting- Slitting Technique) Indrianti, Novita; Sholichah, Enny; A. Darmajana, Doddy
JURNAL PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (874.503 KB) | DOI: 10.33964/jp.v23i3.258

Abstract

Mi jagung dikembangkan untuk meningkatkan ketahanan pangan melalui diversifikasi pangan pokok non gandum dan non beras. Salah satu faktor utama dalam pembuatan mi non gandum adalah tidak adanya fraksi gluten sehingga perlu dilakukan rekayasa proses dari jumlah penambahan air dan prosespemadatan adonan. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan proses pembuatan mi jagung dengan perlakuan jumlah penambahan air dan pemadatan adonan. Bahan yang digunakan adalah tepung jagung 60 mesh (90 persen), tapioka (10 persen), guar gum, garam, dan air. Mi Jagung dibuat dengan tekniksheeting-slitting dengan tahapan proses : pencampuran 1, pengukusan, pencampuran 2, pemadatan adonan, pembuatan lembaran, pencetakan mi, pengukusan, pengeringan, dan pengemasan. Perlakuan yang digunakan adalah 2 (dua) faktor yaitu jumlah penambahan air (50 persen, 53 persen, dan 55 persen terhadap tepung) dan banyaknya ulangan pemadatan adonan (2 kali, 8 kali, dan 15 kali). Parameter yang dianalisa pada masing-masing perlakuan meliputi karakteristik operasi (waktu pemadatan dan sisa bahan padat), karakteristik mi jagung (elongasi, cooking loss, kekerasan, kelengketan, dan kekenyalan). Proses pembuatan mi jagung dengan teknik sheeting-slitting yang paling baik dilakukan dengan penambahan air 53 persen dan pemadatan adonan 2 kali.Corn noodle developed to improve food security through diversification of non-staple food grain and non-rice. One of the major factors in the manufacture of non-wheat noodles is not that a significant fraction of gluten so it is necessary to process engineering of the amount of additionalwaterand dough compaction process. The purpose of this study is to process of making corn noodles with addition of water and the amount of compaction variables. The materials used were corn flour 60 mesh (90 percent), tapioca (10 percent), guargum, salt, and water. Corn noodles weremade with sheeting-slitting techniques with steppingprocess: mixing, steaming, mixing, compaction dough, sheet-making, printing noodles, steaming, drying, and packaging. The amount of water variables are 50 percent, 53 percent and 55 percent of flour. The number of replication in the dough compaction process variables are twice, eight times ang fifteen times. Parameters being measured by the characteristic of corn noodles produced, i.e.: cooking loss, elongation, hardness, adhesiveness, elasticity and the operating process characteristics such as compaction time and residual material. The result show that the best of amount of water to be added was 53 percent of the flour.While compaction time for the dough was twice. 
Analisis Mutu Produk Spaghetti Komersil dan Pengembangan Produk Spaghetti Berbasis Tepung Beras, Jagung, Mocaf, Kedelai Mayasti, Nur Kartika Indah; Ushada, Mirwan; Ainuri, Makhmudun
JURNAL PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1056.952 KB) | DOI: 10.33964/jp.v27i2.373

Abstract

Produk spaghetti yang telah komersil di pasaran terbuat dari terigu durum dan ada pula yang terbuat dari tepung beras dan tepung jagung, namun proteinnya lebih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis  mutu produk spaghetti komersil sebagai produk pembanding dan mengembangkan pspaghetti dari tepung beras, jagung, mocaf dan kedelai. Penambahan tepung kedelai diharapkan dapat meningkatkan kadar protein. Produk spaghetti ini mengandalkan gelatinisasi dan mekanisme retrogradasi dengan mesin ekstruder pemasak dan pencetak. Variasi penambahan tepung kedelai yaitu  0%, 5%, 10%, 15%, 20% untuk mensubstitusi tepung beras yang awalnya 40 %, sedangkan bahan yang lain adalah tepung mocaf 40 % dan tepung jagung 20 %. Sampel dianalisa kadar protein, cooking time, cooking weight, cooking loss, elongasi, kelengketan, kekerasan, biaya bahannya dan dipilih 3 sampel terbaik untuk diuji organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spaghetti formulasi tepung kedelai 5 % adalah perlakuan yang terbaik dengan kadar protein 8,205 % bk yang lebih tinggi dibandingkan spaghetti non terigu yang telah komersil, cooking time 11 menit 30 detik, cooking weight 291,68%, cooking loss 22,70 %, elongasi 320,10 %, kelengketan -38,69, kekerasan  6089,79. Produk ini memiliki aroma, warna, rasa, kekerasan, kelengketan dan penerimaan keseluruhan yang agak disukai. Biaya variabel bahan untuk memproduksi spaghetti/1 kg bahan sebesar Rp 14.650,00.  
Analisis Persepsi, Perilaku Konsumsi dan Preferensi Terhadap Pangan Tradisional (Perception Analysis, Consumption Behavior, and Preference Toward Traditional Food) Purnomohadi, Eri; Sumarwan, Ujang; Saefuddin, Asep; Yusuf, Eva Z
JURNAL PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i3.190

Abstract

Tujuan penelitian adalah menganalisis persepsi konsumen terhadap berbagai jenis makanan ringan tradisional, pola konsumsi berbagai jenis makanan ringan tradisional, dan menganalisis faktorfaktor yang mempengaruhi preferensi terhadap makanan ringan tradisional. Dalam studi ini diuji model Preferensi Makanan yang dikembangkan Khan (1981) yang menyatakan preferensi makanan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor pribadi, pendidikan, biologi dan psikologi, budaya, religi dan regional, ekstriksik dan instrinsik. Sementara faktor pribadi dan pendidikan saling dipengaruhi oleh factor sosial ekonomi. Lokasi penelitian ini berada di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi (Jabodetabek). Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan survey melalui penyebaran kuesioner kepada masyarakat (responden) yang berusia 16-60 tahun sebanyak 503 orang. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara tatap muka. Metode sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah multistage random sampling. Analisis Persamaan Model Struktural atau Structural Equation Modeling (SEM) digunakan untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi konsumen terhadap makanan ringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor biologi dan psikologi (meliputi indikator usia, jenis kelamin, dan pengaruh psikologi), faktor instrinsik (meliputi rasa, aroma, SEM penampilan, dan kualitas makanan), faktor pribadi (meliputi indikator selera, emosi, dan kepribadian) memberikan pengaruh langsung yang signifikan terhadap preferensi konsumen dalam memilih dan mengonsumsi makanan ringan tradisional. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa faktor sosialekonomi berpengaruh terhadap faktor pribadi secara signifikan sedangkan faktor pribadi berpengaruh terhadap preferensi konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa faktor sosial ekonomi berpengaruh tidak langsung terhadap preferensi konsumen melalui faktor pribadi. Demikian pula dengan faktor ektrinsik yang memiliki hubungan dengan faktor biologi dan psikologi, serta faktor intrinsik. Sedangkanfaktor biologi dan psikologi,serta faktor intrinsik berpengaruh terhadap preferensi konsumen. Sehingga dapat dikatakan bahwa factor ektrinsik berpengaruh tidak langsung terhadap preferensi konsumen melalui faktor biologi dan psikologi serta faktor intrinsik.The objectives of the study were to analyze the perception, preference, and consumption patternon traditional snack foods and to determine factors influencing consumers'preference on traditional snack foods. The study tested a model of food preferences developed by Khan (1981) which stated that food preference was a function ofpersonal factors, economics, education, biology and psychology, extrinsic and intrinsic factors, cultural, regional andreligious factors. The data were randomly selected from the Greater Jakarta (Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok and Jakarta) in July 2011. The number of samples was 503 respondents. Structural Equation Model was employed to analyze factors influencing preferences toward traditional snack food. The results showed that personalfactors, biology andpsychology, andintrinsic factors had significant effects on consumer preferences toward traditional snack food. Socio economic factors had significant influence on personal factors which meant that socio economic factors had significant indirect effect onconsumerpreferences through their effect onpersonal factor. Similar finding wasalso found in the effect of extrinsic factor which had indirect effect on consumer preferences through their effect of intrinsic factor and biological/psychological factors. 
Peningkatan Pati Resisten Tipe III Pada Tepung Singkong Modifikasi (Mocaf) Dengan Perlakuan Pemanasan-Pendinginan Berulang Dan Aplikasinya Pada Pembuatan Mie Kering (Increasing Resistant Starch Type III on the Modified Cassava Flour (Mocaf) Through Heating-Cooling Cycles and Its Application on Production of Dried Noodles Asbar, Ramlan; Sugiyono, Sugiyono; Haryanto, Bambang
JURNAL PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v23i2.60

Abstract

Pati resisten tipe III (RS3) adalah pati resisten utama yang digunakan dalam produksi makanan fungsional berbasis pati resisten. RS3 terbentuk melalui retrogradation dari pati yang tergelatinisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah : (i) meningkatkan kadar pati resisten Mocaf melalui siklus pemanasanpendinginan; dan (ii) menggunakan Mocaf termodifikasi pada pembuatan mie kering. Kondisi optimum untuk meningkatkan kadar pati resisten Mocaf adalah rasio tepung-air 1 : 3,44 (b/b) dan pemanasan pada 79,93oC. Kadar RS3 Mocaf yang diberi perlakuan pemanasan-pendinginan 1 siklus, 2 siklus dan 3 siklus masing-masing adalah 4,16 persen, 6,30 persen dan 8,73 persen. Penambahan 15 persen dan 25 persen Mocaf termodifikasi (3 siklus) pada pembuatan mie kering meningkatkan kadar pati resisten masing-masing 3,77 persen dan 4,43 persen. Rata-rata penilaian panelis terhadap tingkat kesukaan pada mie Mocaf berada diantara rentang skala netral sampai skala agak suka.Resistant starch tipe III (RS3) is a major resistant starch used in the production of resistant starch-based functional foods. RS3 is formed through retrogradation of gelatinized starch. The objectives of this study are: (i) to increase the resistant starch content of Mocaf through heating-cooling cycles, and (ii) to use the modified Mocaf in Mocaf dried noodle production. The optimum conditions to increase the resistant starch content of Mocaf is flour-water ratio of 1 : 3.44 (w/w) and heating at 79.93oC. The resistant starch contents as results of 1, 2, and 3 heating-cooling cycles are 4.16 percent, 6.30 percent and 8.73 percent respectively. Addition of 15 percent and 25 percent modified Mocaf (3 cycles) in Mocaf dried noodle production increase the resistant starch content up to 3.77 percent and 4.43 percent respectively. The average assesment of panelists preference on Mocaf dried noodle is ranging between neutral scale and rather like scale.
Rekayasa Teknologi Produksi yang Efektif dan Efisien untuk Pembuatan Produk Multiguna Berbasis Jagung {Zea Mays) Kumalaningsih, Sri; Suhartini, Sri; Pranowo, Dodyk
JURNAL PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.538 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i1.222

Abstract

Upaya untuk memecahkan masalah kerawanan pangan dan energi perlu segera dilakukan. Salah satu alternatif adalah mencari bahan baku yang dapat dimanfaatkan secara keseluruhan termasuk bagian-bagian yang selama ini dianggap sebagai limbah. Tanaman jagung (Zea mays) adalah komoditas pertanian yang sebenarnya punya prospek untuk dikembangkan produk-produknya secara luas, diikuti dengan upaya pemanfaatnya untuk menghasilkan produk olahan multiguna dengan bahan baku dari tangkai, daun, pelepah, biji jagung pipilannya serta bonggolnya. Rekayasa teknologi yang efektif dan efisien dapat diterapkan untuk menghasilkan produk pangan berbentuk ekstrudat termodifikasi dengan ubi jalar dan kedelai, pati jagung, dekstrose, sirup jagung, protein (gluten) dan minyak jagung. Tongkol jagung, disamping digunakan sebagai pakan ternak dapat juga dimanfaatkan untuk bahan baku sumber energi terbarukan antara lain bioetanol dan briket arang. Kulit jagung dapat diolah menjadi "soluble sugars". Batang jagung telah digunakan untuk bahan baku kertas. Selanjutnya dengan menggunakan mikroorganisme, daun jagung dapat diubah menjadi pakan ternak berprotein tinggi. Demikian juga jerami jagung dapat dimanfaatkan untuk pupuk organik atau kompos. Kebijakan pengembangan pertanian untuk komoditas jagung perlu didukung berbagai pihak terkait yaitu pengambil kebijakan, pengusaha dan petani, serta para peneliti, sehingga produksi produk multiguna berbasis jagung dapat lebih efektif dan efisien.

Page 2 of 81 | Total Record : 807


Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue