cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Perbanyakan Garut {Maranta arundinacea L.) dari Bibit Cabutan Sisa Panen dengan Aplikasi Berbagai Pupuk Kandang Propagation ofArrowroot (Maranta arundinacea L.) from Post-Harvest Plant Residues with Various Applications of DungManure Setyowati, Ninik
JURNAL PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (889.119 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i4.206

Abstract

Penelitian tentang perbanyakan garut (Maranta arundinacea L) dari bibit cabutan sisa panen dengan aplikasi berbagai pupuk kandang telah dilakukan di kebun percobaan Puslit Biologi LIPI, Cibinong. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang disusun secara faktorial, dua faktor dengan lima kali ulangan. Faktor pertama adalah waktu pemupukan terdiri dari dua taraf yaitu W1= 1x pupuk di awal penanaman, W2= 2x pupuk (awal dan umur empat bulan setelah tanam). Faktor kedua adalah macam pupuk yang digunakan terdiri dari lima taraf pupuk yaitu P1= Kontrol (tanpa pupuk), P2= pupuk kandang kotoran kambing, P3= PK kotoran ayam, P4= PK kotoran sapi, P5= pupuk kompos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bibit cabutan sisa panen untuk perbanyakan garut menghasilkan pertumbuhan yang baik sama seperti menggunaan bibit dari umbi, sehingga dianjurkan penggunaan bibit cabutan sisa panen untuk perbanyakan garut karena dapat menghemat umbi (3000 - 3500 kg) sebagai bibit per hektar. Pertumbuhan bibit paling cepat terlihat pada pemakaian pupuk kandang kotoran kambing (P2) yang diberikan dua kali daripada perlakuan yang lainnya. Hal ini terlihat pada semua parameter yang diamati tertinggi (tinggi bibit 98,6 cm, jumlah daun 100 helai dan jumlah anakan 8), dan pertumbuhan paling rendah terlihat pada kontrol yang dipupuk 1kali (tinggi bibit 39,6 cm, jumlah daun 28,0 helai), akan tetapi jumlah anakannya (3,2) terlihat sedikit lebih tinggi dari pemupukan satu kali dengan kompos (2,8). Apabila dilihat dari pertumbuhan tinggi tanaman tiap bulannya juga terlihat bahwa peningkatan pertumbuhan bibit garut yang dipupuk dengan pupuk kandang kotoran kambing dengan 2kali pemupukan tertinggi. Frequensi pemupukan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman garut, yaitu dua kali pemupukan lebih baik daripada satu kali pemupukan.A study of propagation ofArrowroot (Maranta arundinacea L) from plant residues after harvest with various applications ofdung manure was conducted at the Experimental Garden of Research Center for Biology LIPI, Cibinong. The Factorial in Randomized Completely Block Design was adopted with two factors and five replications. The first factor was the timing offertilizer application with two levels, i.e. W1 = 1x fertilizer in the early ofplanting and W2 =2x fertilizer (the early and 4 months after planting). The second factor was fertilizer with five levels, i.e. P1 =Control (without fertilizer), P2 =dung manure of goat litter, P3 =poultry manure, P4 =cattle manure, P5 =compost fertilizer. The result showed that the plant residues after harvest for propagating arrowroot produced best growth comparable to the propagation with tuber material. So, it was suggested to use plant material with plant residues after harvest This could save about 3000-3500 kg of tubers for planting material per hectare. The best response on growing of arrowroot was the application of 2 times of dung manure from goat litter (P2). This was shown at all parameters observation, i.e. 98.6 cm ofplant height, 100 sheets ofleaf number, and 8of tillers. The lowest data was seen at control with 1time fertilizer i.e. 39.6 cm ofplant height, 28 sheet ofleaf number, but the clump 3.2 was more amount than compost fertilizer (2.8 of tillers). This treatment was also seen to increase the height of plants by adding arrowroot seedling during observation. The frequency of fertilizer was significant effect on growing of plant vegetative, i.e. twice fertilizer application was better than once application. 
Karakterisasi dan Kekerabatan 23 Genotip Jawawut (Setaria italica L. Beauv) yang Ditanam Tumpangsari dengan Ubi Jalar Berdasarkan Karakter (Agromorfologi Characterization and Relationship of 23 Foxtail Millet (Setaria italica L. Beauv) Genotypes Intercropped With Sweet Potato Based on Agromorphological Traits) Ali Qosim, Warid; Randall, Alan; Yuwariah, Yuyun; Nuraini, Anne; Nurmala, Tati; Irwan, Aep Wawan
JURNAL PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1141.505 KB) | DOI: 10.33964/jp.v25i1.303

Abstract

Diversifikasi pangan lokal merupakan salah satu upaya untuk mengantisipasi krisis pangan akibat pertambahan jumlah penduduk di Indonesia setiap tahun. Produksi dan pengembangan jawawut di Indonesia masih tergolong rendah karena terbatas oleh ketersediaan lahan. Tumpangsari merupakan praktek pertanian berkelanjutan dan alternatif dalam pengembangan jawawut di Indonesia. Namun, sistem tanam tumpangsari dapat menyebabkan kompetisi antar tanaman. Strategi untuk mengurangi tingkat kompetisi antar tanaman dapat dilakukan dengan penanaman dua jenis tanaman yang mempunyai morfologi, perakaran dan umur panen yang berbeda. Budidaya jawawut dan ubi jalar tidak membutuhkan irigasi. Berdasarkan informasi tersebut, jawawut dan ubi jalar dapat dibudidayakan secara tumpangsari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter agromorfologi yang memberikan kontribusi yang nyata terhadap keragaman 23 genotip jawawut yang ditanam secara tumpangsari dengan ubi jalar. Hasil penelitian menunjukkan koefisien ketidakmiripan yang terbentuk di antara 23 genotip jawawut yang diamati karakter agromorfologinya yaitu berkisar antara 0,24 - 2,34, dan membagi dua klaster utama, yaitu klaster A dan B. Karakter tinggi tanaman 14 hst, 28 hst, 42 hst dan 56 hst, jumlah daun 14 hst dan 42 hst, indeks luas daun 49 hst dan umur panen merupakan karakter yang memberikan kontribusi terhadap keragaman paling tinggi yaitu sebesar 46,82 persen.Local food diversification is one of attempt to anticipate food crisis due to population growth in Indonesia every year. Production and development of millet in Indonesia is still relatively low because it is limited by the availability of land. Intercropping is sustainable and alternative farming practices in the development of millet in Indonesia. However, intercropping system may be occur competition between plants. Strategies to reduce the level of competition between plants by planting two types of plants which have different morphology, root and harvesting time. Cultivation of millet and sweet potatoes do not require irrigation. Based on the information millet and sweet potatoes can be cultivated intercropped. The purpose of this study was to determine the agromorplogical traits which make a significant contribution to the diversity of 23 genotypes of millet were planted with sweet potatoes. Result showed that dissimilarity coefficient between 23 genotypes of millet were 0,24 to 2,34, and split two main clusters, cluster A and B. Plant height at 14 DAP, 28 DAP, 42 and 56 DAP, leaf number at 14 DAP and 42 DAP, leaf area index at 49 DAP and harvesting time were the highest character which contributes to the diversity, 46,82 percent. 
Pemanfaatan Ampas Basah Tapioka Sebagai Media Fermentasi dalam Pembuatan Nata De Cassava (Utilization of Tapioca Wet Solid Waste as Media for Fermentation in Producing Nata de Cassava) Indah Mayasti, Nur Kartika; Nugroho, Darmawan Ari
JURNAL PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.053 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i4.138

Abstract

Industri tapioka menghasilkan produk samping sebesar dua per tiga dari bahan mentahnya berupa bonggol, kulit, dan ampas tapioka. Dalam penelitian ini, ampas basah tapioka dimanfaatkan sebagai medium fermentasi Acetobacter xylinum untuk menghasilkan nata de cassava. Pati yang terkandung dalam ampas dihidrolisis secara enzimatis untuk menghasilkan gula reduksi yang kemudian diperkaya dengan sumber nitrogen sebanyak 0,2 persen (b/v) amonium sulfat. Selama proses fermentasi 14 hari terjadi pertumbuhan biomasa yang ditunjukkan dengan adanya penurunan nutrisi dalam medium fermentasi berupa perubahan gula reduksi dalam dari 6,66 menjadi 4,81 persen, densitas optikal menjadi 0,6 dan tingkat keasaman meningkat dari 4,4 menjadi 2,9. Dari hasil penelitian diperoleh nata de cassava dengan kadar serat 1,71 persen, kadar air 97,83 persen dan ketebalan lapisan nata 1,7 cm.Tapioca industry produces starch as the main product, while two third of raw materials are wasted as knobs, peels and wet solid waste. In this study, the wet solid waste was used as substrate for fermentation by Acetobacter xylinum to produce nata de cassava. Starch contained in the pulp was hydrolyzed to simple reducing sugar (glucose) and enriched by addition of ammonium sulfate as source of nitrogen at 0.2 percent (w/v) and extended fermentation period to 14 days. The rate of biomass growth was inferred by sugar content decreased from 6.66 to 4.81 percent, optical density increased to 0.6, and substrate acidity increased from 4.4 to 2.9, respectively. This research produced nata de cassava with fiber content of 1.71 percent, water content of 97.83 percent, and layer thickness of 1.7 cm. 
Penerapan Model Pengembangan Teknologi Tepung Sukun Untuk Meningkatkan Nilai Tambah Komersial (Application of Development Model of Breadfruit Flour Technology to Increase the Commercial Added Value) Rachmat, Ridwan; Widowati, Sri
JURNAL PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.559 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i1.76

Abstract

Komoditas sumber karbohidrat non-serealia, seperti aneka umbi dan buah khususnya sukun, dalam bentuk segar umumnya mudah rusak karena tingginya kadar air (60-80 persen). Upaya penggalian sumberdaya pangan lokal untuk meningkatkan ketersediaan dan ketahanan pangan dan mengubah citra inferior menjadi superior dapat dilakukan dengan proses pengolahan produk setengah jadi, diantaranya menjadi tepung. Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian telah berhasil mengembangkan teknologi proses produksi tepung sukun dengan palatabilitas tinggi. Inovasi teknologi tepung sukun tersebut telah diimplementasikan dalam suatu model kelembagaan melalui kerjasama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Cilacap dan telah menunjukkan peningkatan nilai tambah khususnya dari segi ekonomi. Berdasarkan perhitungan B/C rasio, disimpulkan bahwa pada usaha skala 100 kg sukun segar dengan harga Rp 650/kg, maka harga jual tepung sukun Rp 12.000/kg. Sedangkan untuk skala usaha 1.000 kg sukun segar, dengan harga Rp 1.000/kg dan harga jual tepungnya Rp 10.000/kg. Harga tersebut dapat memberikan keuntungan pada petani. Nilai tambah ekonomi yang diperoleh dari usaha dengan model kelembagaan yang diintroduksikan lebih tinggi (Rp 1.811/kg), dibandingkan dengan model usaha skala petani yang ada yaitu sebesar Rp 1.233/kg.In general, non-cereals-based carbohydrates such as tubers and fruits, especially breadfruit as local food bio-resources, are perishable at high moisture content (60 - 80 percent). The effort in exploring and processing the commodities to produce flouras intermediate products will support the food availability and food security, and also improve the commodities image from inferior to the superior ones. The Indonesian Center forAgricultural Postharvest Research and Development (ICAPRD) has developed the production technology of highpalatability breadfruit's flour. This innovation has been implemented in a household level business model at farmerlevel through a collaborative work program on product development with the agricultural and animal husbandry extension service of Cilacap District, Central Java, and this resulted in lifting up the economic added value. Based on B/C ratio analyses, it is concluded that the feasible business at 100 kg of rawbreadfruit with Rp 650/kg, the flour's price is Rp 12,000/kg. While at 1,000 kg, the flour's prices is Rp 10,000/kg. The added valueof breadfruit's flour business at an introduced institutional model is higher (Rp 1,8117kg) than the existing farmer's business scale (Rp 1,233/kg).  
MODIFIED CASSAVA FLOUR (MOCAL): SEBUAH MASA DEPAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL BERBASIS POTENSI LOKAL Subagio, Achmad
JURNAL PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (894.624 KB) | DOI: 10.33964/jp.v17i1.231

Abstract

Sampai saat ini pemanfaatan ubi kayu di Indonesia masih sangat terbatas. Pemanfaatan ubi kayu sebagian besar diolah menjadi produk setengah jadi berupa pati (tapioka), tepung ubi kayu, gaplek dan chips. Produk olahan yang lain adalah bahan baku pembuatan tape, getuk dan lain-lain. Padahal, kandungan pati dari ubi kayu yang tinggi merupakan potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi produk yang lebih bernilai tinggi. MOCAL adalah produk turunan dan tepung ubi kayu yang menggunakan prinsip memodifikasi sel ubi kayu secara fermentasi. Mikroba yang tumbuh akan menghasilkan enzim pektinolitik dan sellulolitik yang dapat menghancurkan dinding sel singkong, sedemikian rupa sehingga terjadi liberasi granula pati. Proses liberalisasi ini akan menyebabkan perubahan karakteristik dari tepung yang dihasilkan berupa naiknya viskositas, kemampuan gelasi, daya rehidrasi, dan kemudahan melarut.MOCAL dapat digunakan sebagai food ingredient dengan penggunaan yang sangat luas. Hasil uji coba menunjukkan bahwa MOCAL dapat digunakan sebagai bahan baku untukberbagai jenis makanan, mulai dari mie, bakery,cookies hingga makanan semi basah. Namun demikian, yang perlu dicatat adalah bahwa produk ini tidak sama persis karakteristiknya dengan tepung terigu, beras atau yang lainnya. Sehingga dalam aplikasinya diperlukan sedikit perubahan dalam formula, atau prosesnya sehingga akan dihasilkan produk yang bermutu optimal. MOCAL mempunyai potensi pasar yang sangat besar. Karena mempunyai spektrum aplikasi yang mirip dengan tepung terigu, beras dan tepung-tepungan lainnya, maka dimisal bahwa produk ini bisa menempatkan 15% dari pasar terigu, maka proyeksi kebutuhan konsumsi tepung terigu nasional pada tahun 2005 dapat mencapai 1,824,837 per tahun dengan pertumbuhan per tahun sebesar 5.84%, maka potensi pasar MOCAL sebesar 289,711 ton per tahun. Potensi ini akan terus bertambah seiring dengan pertumbuhan penduduk Indonesia.
Tempe sebagai Pangan Fungsional Antidiabetes Nurwati, Nurwati
JURNAL PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v25i3.337

Abstract

Diabetes is one of the degenerative diseases that continue to increase from year to year and becomea global health problem. Diabetics need a food diet to maintain a normal blood glucose level. The adequatepattern of food consumption is a good solution for the diabetic people. Tempe is a food rich in bioactivecomponents that potentially to be antidiabetic through various mechanisms. The fermentation process ofsoybean to tempe can improve the health nutrition and reduce antinutrient substances that can be harmfulto health. The consumption of tempe as a part of good diet supported by good processing can be analternative therapy solution in the treatment of diabetes disease.
Efektivitas dan Neraca Hara Pupuk SNL dan SNP untuk Jagung pada Tanah Inceptisol di Bogor Nursyamsi, Dedi
JURNAL PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1644.801 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i3.164

Abstract

Percobaan lapang yang bertujuan untuk mempelajari efektivitas dan kontribusi hara pupuk SNL dan SNP terhadap tanaman jagung telah dilaksanakan pada tanah Inceptisol,di Bogor pada MK 2008. Percobaan terdiri dari 2 unit, yaitu unit SNL dan SNP dengan menggunakan tanaman indikator jagung hibrida varietas pioneer 21 (P21). Perlakuan ditata dalam Rancangan Acak Kelompok dengan 8 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan merupakan kombinasi dari 2 faktor, yaitu faktor pertama takaran pupuk NPK : 0, 25, 50, dan 100 persen dosis anjuran berdasarkan uji tanah, sedangkan faktor kedua adalah pupuk SNL : 0 dan 10 l/ha (unit I) dan SNP 0 dan 10 kg/ha (unit II). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian SNL dan SNP tidak efektif meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung apabila dosis NPK < 100 persen dosis anjuran. Pupuk SNL efektif meningkatkan pertumbuhan dan hasil jagung jika pupuk NPK diberikan dengan dosis 100 persen dosis anjuran. Pemberian 10 l/ha SNL pada pemupukan NPK 100 persen memberikan hasil biji dan keuntungan bersih tertinggi, yakni masing-masing 8,80 t/ha dan Rp. 6.155.000,-/ha/musim. Walaupun demikian pemberian SNL hanya menyumbang hara : 0,002 kg N; 0,003 kg P2O5; dan 0,002 kg K2O per hektar. Dengan demikian peningkatan hasil biji tersebut sangat tergantung pada kontribusi ketersediaan hara N, P, dan K dalam tanah.Field experiments aimed to study the effectiveness and nutrients contribution of SNL and SNP on maize growth were conducted at Inceptisol, in Bogor at DS 2008. The experiment consisted of 2 units, i.e. SNL and SNP, and used pioneer 21 variety of maize as plant indicator. The experiments used Randomize Complete Block Design with 8 treatments and 3 replicates. The treatments were combination of 2 factors. The first factor was rate of NPK application, i.e.: 0, 25, 50, and 100 percent of reccomendation doses based on soil analyses and the second one was the application of SNL i.e. 0 and 10 l/ha (unit I) or SNP i.e. 0 and 10 kg/ha (unit II). The results showed that application of SNL and SNP were not effective in increasing maize growth unless NPK doses > 100 percent of reccomendation doses. Application of 10 l/ha of SNL combined with 100 percent doses of NPK was effective in increasing maize growth and gave the highest grain yield (8.80 t/ha) as well as net profit (Rp. 6.155.000,-/ha/season). Nutrients contribution from the fertilizer, however, were only 0.002 kg N, 0.003 kg P2O5, and 0.002 kg K2O per hectare. Thus, increase of the yield was depending on contribution of N, P, and K availabilities from the soils. 
Produktivitas dan Proses Penggilingan Padi Terkait Dengan Pengendalian Faktor Mutu Berasnya Budijanto, Slamet; Sitanggang, Azis Boing
JURNAL PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2034.451 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i2.33

Abstract

Beras merupakan sumber karbohidrat utama bagi masyarakat Indonesia. Dalam beberapa dekade terakhir, ternyata Indonesia masih memiliki nilai impor beras yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara berkembang lainnya yang ada dikawasan ASEAN. Kecenderungan ini mungkin dapat dilatarbelakangi oleh proses panen yang gagal (on-farm) maupun pada proses penggilingan (off-farm). Dua komponen kualitas beras hasil giling yang harus dijaga untuk dapat mempertahankan daya saing beras di pasar adalah persentase beras kepala dan derajat sosoh. Secara umum, kedua parameter diatas merupakan fungsi dari varietas gabah yang digiling, serta metode penggilingan yang terkait dengan jenis dan waktu proses penyosohan.Rice is the staple food and the main source of calorie in Indonesia. In the last few decades, Indonesia has been importing rice from ASEAN countries such as Thailand and Vietnam with significant value. This phenomenon could be caused by on-farm constraints such as crop failures or agricultural pests and even off-farm constraints, like milling process. Two important quality parameters, namely the percentage of head rice and the milling degree, have to be maintained during milling to keep the competitiveness of rice produced in the market. Generally, the values of those two parameters could be the function of paddy variety and the milling techniques which are related to the type of whitening and polishing machines used and the residence time in the machine. 
Kebijakan Perberasan dan Stabilisasi Harga Beras di Indonesia: Strategi Pengendalian Harga pada Masa Krisis Agus Saifullah, Agus Saifullah
JURNAL PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1114.112 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i2.197

Abstract

Krisis harga beras yang terjadi pada tahun 2008 merupakan fenomena yang tidak pernah diduga akan berkembang begitu cepat. Harga beras mengalami kenaikan sekitar 3 kali lipat hanya dalam waktu beberapa bulan. Seperti sebuah reaksi berantai, situasi tersebut direspon cepat oleh banyak negara untuk mengamankan kebutuhan pangan dalam negeri dengan cara membatasi sampai melarang ekspor atau berusaha membeli beras dalam waktu cepat meskipun pada saat harga tinggi. Dampaknya, kekalutan pada pasar beras menyebar cepat menjadi masalah global yang berakibat pada kenaikan harga beras domestik dan inflasi yang tinggi, kepanikan dan masalah sosial. Hanya sedikit negara yang mampu terbebas dari krisis harga beras tersebut. Salah satunya adalah Indonesia. Ada tiga faktor penting yang berperan dalam ketahanan pangan dan stabilitas harga beras di pasar domestik. (1). Kebijakan perberasan yang mencakup dua hal yaitu (i). konsistensi kebijakan perberasan untuk memperkuat ketahanan pangan, peningkatan produksi, pengendalian harga serta jaminan akses pangan bagi keluarga miskin serta (ii). respon kebijakan yang dilakukan pemerintah pada awaltahun 2008 dalam menghadapi krisis harga beras global antara lain melalui kebijakan fiskal, tambahan penyaluran beras kepada keluarga miskin serta pemberian insentif untuk peningkatan produksi. (2). Penyediaan beras dalam negeri yang cukupakibat keberhasilan peningkatan produksi beras tahun 2008 yang mencapai 5,46%. (3). Keberhasilan BULOG dalam mencukupi stok beras dari dalam negeri. Dengan pengadaan yang mampu mencapai rekor 3,2 juta ton, memberi kontribusi positif untuk menjamin akses pangan bagi masyarakat, menjaga stabilitas harga beras dalam negeri serta menekan spekulasi. Tersedianya stok beras BULOG yang cukup dan merata di seluruh daerah memberikan sinyal positif pada pasar dalam negeri tentang kemampuan pemerintah menjaga stabilitas dan ketahanan pangan dalam negeri yang pada akhirnya mengurangi spekulasi dan memberikan rasa aman bagi masyarakat.
INDONESIA DALAM TATANAN PERUBAHAN PERDAGANGAN BERAS DUNIA Sawit, M. Husein
JURNAL PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.285 KB) | DOI: 10.33964/jp.v15i2.291

Abstract

Ciri perdagangan beras dunia masih tetap tipis, walau volume beras yang diperdagangkan di pasar dunia telah meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan dengan awal 1990an. Ciri lainnya yang masih melekat adalah sebagai pasar sisa (residual market). Negara eksportir utama seperti Thailand, Vietnam dan India tetap mengutamakan kepentingan dalam negar dan membatasi ekspor, manakala stabilisasi harga dan stok pangan nasional terancam. Disamping itu, harga beras di pasar dunia, belum menggambarkan tingkat efisiensi, karena besarnya subsidi yang diberikan oleh pemerintahnya, terutama di negara net eksportir. Pendapatan petani padi di negara maju OECD misalnya, sekitar 80% diantaranya berasal dari bantuan dan subsidi pemerintahnya. Tujuan tulisan ini adalah membahas instrumen yang paling tepat untuk perlindungan petani. Perlindungan itu, tidak seharusnya memakai instrumen primitif seperti pelarangan impor, lebih tepat ke perlindungan tarif. Disamping itu, daya saing industri padi/beras harus didorong melalui faktor non-harga, sebagai unsur utama untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi industri padi/beras. Insentif harga terutama HPP haruslah dirancang secara hati-hati, sekali ditetapkan terlalu tinggi, akan sulit dikoreksi untuk diturunkan. Pada saat sekarang, HPP telah mencapai 37% dari harga beras di pasar dunia, jauh lebih tinggi dari jaminan harga di Thailand untuk kualitas beras bagus (fragrant rice):

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue