cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Keunggulan Jagung QPM (Quality Protein Maize) dan Potensi Pemanfaatannya dalam Meningkatkan Status Gizi (The Advantage of Quality Protein Maize and The Potent of Its Utilization In Improving Nutritional Status) Widowati, Sri
JURNAL PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1348.351 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i2.127

Abstract

Jagung merupakan sumber karbohidrat dan sekaligus sumber protein, terutama bagi masyarakat yang pangan pokoknya berbasis jagung. Kandungan protein jagung cukup tinggi yaitu 8-11 persen, namun kualitas protein jagung pada umumnya (32 persen) jauh di bawah kualitas protein beras (79 persen). Hal ini disebabkan karena protein jagung kekurangan dua asam amino esensial, yaitu lisin dan triptofan. Keberhasilan perakitan varietas jagung tipe baru, yaitu QPM(Quality Protein Maize) memberi harapan bagi masyarakat bahwa jagung dapat digunakan sebagai pangan pokokyang setara kualitas gizinya dengan beras, bahkan kualitas protein jagung QPM (82 persen) lebih bagus. Jagung kompositQPM varietas Srikandi kuning-1 dan Srikandi putih-1 masing-masing memiliki kandungan lisin 0,580 persen dan 0,468 persen dan triptofan 0,114 persen dan 0,102 persen dua kali lebih besar bila dibandingkan denganjagung hibrida varietas Bima-1 (lisin 0,291 persen dan tritofan 0,058 persen). Selain sebagai pangan pokok, Jagung QPM juga dapat diolah menjadi produk pangan sebagaimana jagung biasa, antara lain menjadi tepung, pati, susu jagung, jagung sosoh pratanak cepat masak, tepung instan, serta aneka kudapan berbasisjagung utuh maupun tepungjagung. Berdasarkan kualitas gizi dan sifat fungsionalnya, menu makan berbasis jagung QPM dapat meningkatkan status gizi masyarakat.Maize isthe main source of carbohydrates and protein, especiallyfor people whose staple food is this cereal. Protein content of maizeis relatively high i.e. 8-11 percent. However, the quality of protein compared to casein (32 percent) is far below that of rice(79 percent) because of its deficiency in two essential amino acids, namelylysineandtryptophan. The success inbreeding a new typeof maize varieties, the QPM (Quality Protein Maize), has provided hope for people whose staple food is this cereal because its nutritional quality is comparable torice, and itis even better in many cases. For instance, the quality of protein QPM is 82 percent. Composite QPM Srikandi kuning-1 and Srikandi putih-1 varietiescontain lysine(0,580 percent and 0,468 percent) and tryptophan (0,114 percent andO, 102 percent), which are twice greater than hybridmaizeBima-1 variety (lysine of0,291 percentand trytophan of0,058 percent). Beside as staple food, QPM maize can also be processed similar to ordinary maize, such as flour, starch, maize-milk, quick cooking polished maize, instant flour, and variousmaize-based snacks. Due to its superior nutritional qualityandfunctional properties, QPM maize-based dietcan remarkably improve the nutritional status ofthe people. 
Kedaulatan Pangan dan Kepemimpinan Alimoeso, Sutarto
JURNAL PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1112.489 KB) | DOI: 10.33964/jp.v17i3.269

Abstract

Pemikiran tentang kedaulatan pangan untuk kedaulatan negara menjadi suatu tema yang sangat penting dan fundamental bagi kita semua dalam menghadapi situasi bangsa dan dunia saat ini maupun dimasa mendatang. Selama ini, eksplorasi sumber daya alam tanpa diikuti dengan peningkatan sumber daya manusia menjadikan bangsa kita kurang memiliki kualitas pembangunan yang baik. Menurut Sampumo (2007), agar bangsa ini dapat memiliki keunggulan daya saing maka perlu membangun knowledgebasedeconomy dimana pembangunan harus dilakukan bertumpu pada keandalan human capital dengan mengelola kekayaan alam (resource) secara berkelanjutan. Perdebatan terus menerus tanpa alur pikir (framework) yang sistematis menjadi semakin "memprihatinkan", apalagi dengan pemberlakuan otonomi daerah saat ini belum memberikan cerminan atas pengelolaan pemerintahan yang lebih baik. Daerah masih didominasi ekskalasi' perebutan kekuasaan" daripada ekskalasi peningkatan pelayanan bagi publik. Kepemimpinan (leadership) menjadi sangat mendesak (urgent) dan menjadi suatu syarat keharusan dalam menjawab kedaulatan pangan sekaligus kedaulatan negara. Kedaulatan pangan dicerminkan dengan kriteria (tiga pilar) sebagai berikut 1) politik pangan tidak berorientasi harga murah (harus sesuai dengan mekanisme pasar-mar/cef oriented); 2) pengelolaan usaha pertanian yang berorientasi keunggulan daya saing (competitive advantage); dan 3) pemenuhan pangan berorientasi pada kemampuan daya beli (ability to pay). Pada masa mendatang, tantangan pemenuhan pangan adalah terjadinya pegeseran selera (Tungkot Sipayung, 2008) sebagai berikut a) menurunnya konsumsi beras per kapita; b) meningkatnya konsumsi gandum per kapita; c) meningkatnya konsumi produk pertanian sub-tropis seperti sayuran, buah, daging, dan susu; d) meningkatnya konsumsi pangan dengan berbagai atribut modern yang mendorong food service industry (Piangli menyebut ini sebagai westernization of diets atau globalisasi diet). Dinamisasi masyarakat ke arah modernisasi (manusia modem bukan manusia kebarat-baratan) memerlukan pemimpin-pemimpin yang baik. Ciri-ciri masyarakat modern adalah 1) orientasinya ke depan, 2) terbuka, 3) komunikatif, 4) adaptif terhadap perubahan, 5) berkeswadayaan tinggi, 6) menerima adanya keragaman, 7) selalu mengembangkan diri, 8) tahu "apa" yang ia butuhkan dan "bagaimana" mendapatkannya, serta 9) berani mengambil resiko (Slamet, 2002 dalam Infointernet, 2008). Untuk itu, pemimpin yang baik harus memiliki sistem nilai dan visi (pathfinding), kemampuan penyelaras (aligning), pemberdaya (empowerment), serta kekuatan melakukan perbaikan (recondition).
ANALISIS POTENSI PRODUKSI TEBU DENGAN PENDEKATAN FUNGSI PRODUKSI FRONTIR (Studi Kasus di PT. Perkebunan Nusantara X) Zainuddin, Ahmad
JURNAL PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.143 KB) | DOI: 10.33964/jp.v27i1.404

Abstract

Salah satu kondisi yang dihadapi industri gula nasional dalam bidang on-farm adalah ketersedian lahan tebu yang terbatas. Pertumbuhan lahan tebu secara nasional mengalami penurunan. Produktivitas tebu nasional hanya berkisar antara 60-70 ton/ha (idealnya lebih dari 100 ton/ha). Oleh karena itu, perlu dilakukan identifikasi adanya peluang untuk meningkatkan potensi produktivitas tebu melalui peningkatan efisiensi, besaran nilai efisiensi dan faktor-faktor penentu inefisiensi usahatani tebu. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja PTPN X. Sampel diambil secara purposive dengan memilih 35 orang responden petani tebu. Pendugaan parameter fungsi produksi frontier stokastik (SFPF). Hasil Penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berpengaruh signifikan adalah luas lahan, pupuk anorganik, pestisida dan tenaga kerja. Nilai indeks rata-rata efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomi usahatani tebu di wilayah kerja PTPN X berturut-turut adalah sebesar 0,77, 0,60, dan 0,45 yang mengindikasikan bahwa usahatani tebu efisien secara teknis, namun belum efisien secara alokatif dan ekonomi karena biaya produksi yang masih tinggi dengan harga gula yang masih belum memberikan keuntungan kepada petani tebu. Potensi produksi tebu di wilayah kerja PTPN X masih dapat ditingkatkan menjadi 151,40 Ton/Ha bahkan mampu meningkat sampai dengan 156,67 Ton/Ha dengan menggunakan teknologi bud chip, peningkatan kompetensi dan melakukan manajemen produksi yang baik.
Teknologi Pengolahan Mie Jagung: Upaya Menunjang Ketahanan Pangan Indonesia Ekafitri, Riyanti
JURNAL PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (928.909 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i3.152

Abstract

Jagung merupakan salah satu komoditi pangan Indonesia yang dapat diandalkan untuk penunjang program ketahanan pangan Nasional. Salah satu strategi yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan produksi jagung nasional adalah dengan penggunaan benih jagung hibrida. Jagung hibrida memiliki produktivitas yang lebih baik dibandingkan dengan jagung komposit. Oleh karena itu jenis jagung ini sangat potensial untuk diolah menjadi produk pangan, terutama mie jagung. Pembuatan mie jagung diawali dengan proses penepungan dengan menggunakan teknik penggilingan basah atau penggilingankering. Mie jagung juga dapat dibuat dengan dua cara yaitu teknik calandering dan teknik ekstrusi. Kedua metode tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Namun, teknik ekstrusi lebih sesuai digunakan dalam produksi mie jagung karena karakteristik tepung jagung yang berbeda dengan tepung terigu. Pada umumnya pembuatan mie dengan bahan baku terigu dilakukan dengan teknik calandering. Mie jagung dibuat dengan memanfaatkan pati tergelatinisasi yang berfungsi sebagai matriks pengikat untuk menghasilkan untaian mie dengan kualitas prima. Mie jagung memiliki dua parameter penentu kualitas mie yang utama yaitu Kehilangan Padatan Akibat Pemasakan (KPAP) yang rendah dan persen elongasi yang tinggi. Kedua parameter ini dipengaruhi oleh rasio amilosa-amilopektin pati tepung jagung dan sifat fungsional pati. Pengembangan mie jagung patut mendapat perhatian serius dari berbagai pihak karena menggunakan komoditas lokal Indonesia yang memiliki produktivitas yang cukup tinggi serta keunggulan lainnya seperti tidak membutuhkan pewarna sintetis dalam pembuatannya, nilai IG sedang yang cocok untuk penderita diabetes serta cocok dikonsumsi untuk para penderita alergi gluten dan anak autis.Corn is one of the most important staple food in Indonesia which can support food security. One of government strategies to boost national corn production was the adoption of hybrids corn.The hybrids had better productivity than composite corn. Therefore, hybrid corn had a good potential use for corn noodle. Corn noodle was produced from very fine corn flour having particle size of 100 mesh. Milling of dry corn kernel can be performed by dry or wet milling technique. The production of corn noodle can be done through by two techniques, ie calandering and extrusion. Both of them have strength and weakness. But, extrusion method is more suitable corn noodle production than calandering because corn flour has a different characteristic from wheat flour. Wheat flour noodle is commonly made by calandering technique. On the other hand, corn noodle to be produced through starch gelatinization as a binder to form a high quality noodle . The main quality parameters of noodle were the cooking loss and high elongation. These parameters were dependent on amylose-amylopectin ratio and functional properties of the starch. Corn noodle should be seriously considered in the development of staple processed foods in Indonesia because the noodle utilized domestic food commodity having high productivity. Moreover, it did not need synthetic food coloring, having medium GI (Glycemic Index), and can be safely consumed for the gluten allergic and autistic children.  
Konsumsi Protein Hewani dan Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia di Provinsi Nusa Tenggara Barat Rachman, Handewi Purwati Salim; Supriyati, Supriyati
JURNAL PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1154.931 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i1.24

Abstract

Tulisan bertujuan mengkaji perspektif peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Analisis dilakukan secara deskriptif analitik dengan menggunakan data Susenas tahun 1996-2008. Hasil analisis menunjukkan bahwa (i) Proporsi rumah tangga yang tidak tahan pangan di NTB secara agregat, daerah perkotaan maupun perdesaan relatif tinggi dan tidak menunjukkan penurunan yang signifikan selama 1996-2008. Oleh karena itu program peningkatan ketahanan pangan di NTB dan upaya penurunan proporsi penduduk tidak tahan pangan sangat diperlukan. Penerapan inovasi teknologi pertanian diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, produksi, pendapatan dan akses pangan rumah tangga; (ii) Konsumsi pangan sumber protein di NTB secara agregat melebihi standar kecukupan namun tingkat konsumsi protein hewani lebih rendah dari rekomendasi. NTB merupakan wilayah pengembangan peternakan, maka upaya pengembangan peternakan diharapkan mampu meningkatkan ketersediaan pangan hasil ternak, dan peningkatan pendapatan rumah tangga. Peningkatan pendapatan rumah tangga akan meningkatkan akses dan konsumsi protein hewani serta ketahanan pangan rumah tangga, sehingga dapat meningkatkan kualitas SDM.Hasil kajian ini menyarankan pentingnya pengembangan pertanian sesuai dengan potensi wilayah setempat untuk meningkatkan ketersediaan bahan pangan di tingkat wilayah, meningkatkan akses dan konsumsi pangan rumah tangga, dan pada gilirannya mampu meningkatkan kualitas SDM.Paper aims to examine perspective of improving the quality of Human Resources (HR) in West Nusa Tenggara (NTB). Analytic descriptive analysis was performed by using SUSENAS data year 1996-2008. The results showed that proportion of households food insecure in NTB in the aggregate, urban and rural areas is relatively high and not decline significantlyduring 1996-2008. Therefore, food security enhancement program in NTB and efforts to reduce the proportion of food insecure population is necessary. Application of agricultural technology innovation is expected to increase productivity, production, income and household food access. Consumption of food sources of protein in the aggregate NTB adequacy standards have been exceeded but the level of animal protein consumption is lower than recommendations. NTB was livestock development area, then efforts to increase food availability in the NTB is expected to increase food availability for livestock products, increase household income so that accessto and consumption of animal food products can be improved.The increase in household income will increase access and consumption of animal protein as well as household food security and in turn can improve the quality of human resources. The results of this study suggest the importance of agricultural development in accordance with the local potential for increasing food availability at regional level, improving access and household food consumption and in turn can improve the quality of human resources. 
Pengembangan Granula Ubi Kayu yang Disuplementasi dengan Tepung Kecambah Kedelai (Development of Cassava Granule Supplemented with Soy Sprout Flour) Sugiyono, Sugiyono; Satyagraha, Hoerip; Joelijani, Wiwik; Syamsir, Elvira
JURNAL PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1041.713 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i2.118

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk ganula ubi kayu dengan suplementasi tepung kecambah kedelai. Dari analisis ragam didapatkan hasil bahwa granula ubi kayu yang disuplementasi dengan tepung kecambah kedelai 10 persen, 15 persen, dan 20 persen memiliki nilai kesukaan yang tidak berbeda nyata dalam hal rasa, warna, aroma dan tekstur. Granula ubi kayu yang diberi perlakuan penambahan Na2S20s 0,0 persen dan lama sangrai 20 menit serta penambahan Na2S205 0,1 persen dan lamasangrai30 menit memiliki nilai kesukaantertinggi dibandingkan perlakuan yang lain untuk atribut rasa. Dalam hal atribut tekstur, nasi ubi kayu dengan penambahan Na2S20s 0,0 persen dan variasi lama sangrai 30 menit memiliki nilai kesukaan terbaik dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Berdasarkan hasil uji pembobotan, produk terbaik adalah granula ubi kayu yang diberi perlakuan suplementasi tepung kecambah kedelai 20 persen tanpa penambahan Na2S20s dan lama sangrai 20 menit. Produk granula ubi kayu terbaik memiliki densitas kambasebesar 0,62 g/ml, kadarair5,95persen, kadarprotein 11,31 persen, kadar lemak 0,87 persen, kadarabu 3,04persen,kadar karbohidrat 78,83 persen, kadar pati 45,21 persen, kadarserat 2,50 persen, daya rehidrasi 3,76g air/g, dan kadar HCN 12,30 ppm.The objective of this research is to develop a cassava granule product supplemented with soy sprout flour. Byusing the analysis of variance, itis found that the supplementation of soy sprout flour at the rate of 10percent, 15percent and20 percent do notcause anydifferences in terms of color, texture, aroma, and taste ofthe products. Cassava granules bleached bythe addition of0.0percent of Na2S20s and roasted for 20 minutes, and the addition of 0.1 percent of Na2S20s and roasted for 30 minutes have the highest score of taste among the other products. For the texture attribute, cassava granules treated bythe addition of 0.0 percent of Na2S205 and roasted for 30 minutes have the highest score.Based on the weighted method, it is found that the bestproduct is produced bythe supplementation of 20percent ofsoy sprout flour, without the addition ofNa2S20d and roasting for 20 minutes. The product had the following characteristics: bulk density of0.62 g/ml, and the contents ofmoisture, protein,fat, ash, carbohydrate, starch, and fiber are 5.95, 11.31, 0.87, 3.04, 78.83, 45.21, and 2.50 percent respectively. The rehydration rate is 3.76 g water/g, with the content of 12.30 ppm of HCN. 
Ketahanan Pangan Berbasis Cassava Bantacut, Tajuddin
JURNAL PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.485 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i1.100

Abstract

Secara kualitatif, Indonesia belum terbebas dari kerentanan pangan akibat kurangnya pasokan (produksi) beras dibandingkan dengan kebutuhan. Demikian juga dengan akses masyarakat terhadap bahan pangan pokok tersebut. Masih banyak penduduk yang tidak dapat menjangkau bahan dasar bagi kehidupan. Kerentanan ini terutama bermula dari kebijakan pangan yang bias pada beras sebagai pangan pokok utama bagi hampir seluruh penduduk. Beras telah menjadi komoditas politik yang sangat berpengaruh terhadap kestabilan sosial dan keamanan. Paper ini membahas kemampuan komoditas yatim cassava (orphan commodity) untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Bahan pangan pokok dalam menu adalah sumber energi utama, sehingga semua bahan hasil pertanian yang kandungan utamanya karbohidrat dapat digunakan, baik secara sendiri maupun bersamaan dengan bahan lainnya.
Analisa Hasil Sensus Penggilingan Padi 2012 (Analysis ofRice Milling 2012 Census Results) Sawit, M. Husein
JURNAL PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (990.021 KB) | DOI: 10.33964/jp.v23i3.257

Abstract

Sejak lama, Penggilingan Padi (PP) di Indonesia didominasi oleh PP Kecil (PPK). PP jenis ini tidak mampu menghasilkan beras kualitas baik dengan biaya rendah. Jumlah PP terus bertambah, terutama jumlah PPK. PPsaat inisedang menghadapi kesulitan memperoleh gabah dan diduga mempunyai kapasitas terlantar yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah : (i) menganalisa pertambahan PP, dan (ii) menghitung kapasitas terlantar PP. Penelitian ini menggunakan hasil sensus Pendataan Industri Penggilingan Padi (PIPA) BPS 2012. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa jumlah PP telah mencapai 182 ribu unit, 86 persen berada di 13 propinsi utama penghasil padi. Pangsa Penggilingan Padi Besar (PPB) sangat kecil (1 persen), sebaliknya pangsa PPK sangat besar (93 persen). PPK dan Penggilingan Padi Keliling (PPKL) terus bertambah tanpa kendali. Disimpulkan bahwa kesulitan utama PP adalah ketersediaan bahan baku gabah dan modal. Total angka kapasitas terlantar PP secara umum adalah sebesar 15 persen, dimana kapasitas terlantar untuk PPB dan PPK adalah, masing-masing sebesar 10 persen dan 17 persen. Pengadaan beras kualitas medium oleh BULOG telah menjadi salah satu faktor penghambat perbaikan kualitas beras. Dominasi PPK dan PPKL berimplikasi menghambat upaya pengurangan kehilangan hasil pada tahap pengeringan dan penggilingan, menyebabkan rendahnya rendemen giling, serta telah mempersulit upaya peningkatan kualitas beras dan efisiensi; yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan biaya produksi beras dan harga beras menjadi mahal. The rice milling industry in Indonesia has been dominated by small scale rice mills for a long time. This type ofmills is incapable ofproducing good quality rice at low costs. The number of small scale rice mills (SSRM) has continued to grow. This type of rice mills is currentlypresumed to face serious difficulty in obtaining grains, resulting in quite high idle capacity The purposes of this paper are: (i) to analyze the increasing numberof rice mills, and (ii) to calculate the rice mills'idle capacity Thisstudy uses 2012 CBS Rice Milling Census data. The results of the study show that the number of rice mills has reached 182 thou sand units of which 86 percent are located in 13 of the main rice producing provinces. The share of large scale rice mills (LSRM) is very small (1 percent); in contrary the share ofSSRM is very large (93 percent). The total idle capacity ofrice mills is about 15 percent for which the idle capacity forLSRMaccounts for 10 percent and SSRM 17 percent. The predominance of small scale and mobile rice mills has provided sev eral implications: hindered efforts to reduce losses duringdryingand milling stages; resulted in low milling yields; and undermined the efforts to improve the rice qualityand cost efficiency which in turn resulted in the increase of production costs and higher rice prices. 
Efektivitas Kompos Limbah Jagung Menggunakan Dekomposer Bakteri dan Cendawan pada Tanaman Jagung pate, faesal
JURNAL PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1324.235 KB) | DOI: 10.33964/jp.v27i2.378

Abstract

Utilization of maize waste as the organic matter sources in agricultural land couldn’t be directly applied, caused by late decomposition prosess. An effort to accelerate of maize waste decomposting needed bioactivator. The research was conducted in green house and Bajeng Research Intallation from March to August 2015. The research was arranged in randomized block design using isolate bacteria and fungus just one or theier combining ie: three bacteria  (B7.1,E7.7and E7.11), three fungus (M7, O5, P7), and four bacteria-fungus combining(B7.1+O5, B7.1+M7, E7.7+P7, B7.1+E7.7+O5), EM4 and N,P,K fertilizer(200,45,60) ha-1as the check treatment. Just one isolate fertilized by 75 percent N,P,K while combine isolate fertilized by 50 percent N,P,K recommended. The results indicated that just one decomposer E7.7 produced high enouugh grain yield not siqnificantly different by N,P,K (200,45,60) and five other just one treatment (E7.11,B7.1,M7 and O5), however siqnificantly different with combining decomposer (B7.1+O5, E7.11+M7, E7.7+P7, B7.1+E7.7+O5 and EM4). This mean that using stalk plus leaf waste maize compost could be subtitution in organic fertilizer untill 25 percent. Meanwhile combining decomposer was good enough for composting stalk and leaf of maize waste ie. isolate B7.1+O5 and E7.7+P7 although not significntly different with the other combine isolate including EM4. Thise case related by applied 50 percent N,P,K inorganic recommended fertilizer did not sufficient to supporting maize nutrient.Key Words: Decomposer, Bacteria, Fungus, Composting,Maize waste
Reorientasi Kebijakan Perberasan Khudori, Khudori
JURNAL PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1548.408 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i1.188

Abstract

Kebijakan perberasan cenderung terjebak dalam kepentingan jangka pendek. Padahal, tidak mudah meningkatkan produksi padi secara terus-menerus karena usaha tani padi dihadapkan pada sejumlah masalah serius: iklim yang makin kacau, lahan sawah utama yang jenuh dan keletihan (so/7 fatique), rendahnya investasi di bidang infrastruktur pertanian (irigasi, waduk dan jalan), konversi lahan yang tak terkendali, dan penurunan rendemen dan besarnya kehilangan hasil. Dari sisi konsumsi, ketergantungan hampir semua perut warga pada beras membuat pemerintah seperti disandera. Selain harus menyediakan beras dalam jumlah cukup dan terdistribusi merata, harganya juga harus terjangkau kantong. Di sisi lain, harga beras harus tetap menarik agar petani mendapatkan untung. Secara ekonomi usatahani padi sebenarnya masih menguntungkan. Namun, karena penguasaan lahan gurem penghasilan mereka hanya bisa menopang sebagian kecil kebutuhan keluarga. Dari sisi kelembagaan, setelah otonomi daerah garis komando penangangan beras semakin tidak jelas, termasuk penanggung jawab stabilisasi harga. Ini semua menuntut reorientasi kebijakan. Disarankan pemerintah tidak terombang-ambing isu jangka pendek; mengintensifkan insentif non-harga; melakukan reforma agraria dan revitalisasi serta industrialisasi perdesaan; membangun cluster-cluster pangan lokal yang unik; dan merevitalisasi semua kelembagaan pangan yang terkait dengan beras.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN More Issue