cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Trend Teknologi Mikrowave pada Industri Pertanian Sulaiman, Muhammad Ikhsan
JURNAL PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1606.015 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i2.212

Abstract

Tren penggunaan mikrowave semakin meningkat dan berpotensi untuk diaplikasi pada industri pangan pertanian. Teknologi mikrowave menjadi unggul karena kemampuannya untuk membangkitkan panas dengan sangat cepat dan efisien. Berbeda dengan pemanasan konvensional, mikrowave membangkitkan panas dari dalam produk itu sendiri sehingga cocok digunakan dalam teknologi pengeringan, pasteurisasi atau sterilisasi dan pada produk pertanian dalam proses fumigasi menggantikan fumigasi kimiawi. Biaya aplikasi teknologi mikrowave pun cukup bersaing jika dibandingkan teknologi konvensional.
Dinamika Kalender Tanam Padi di Sulawesi The Dynamics of Paddy Planting Time in Sulawesi Runtunuwu, Eleonora; Syahbuddin, Haris; Ramadhani, Fadhlullah; Nugroho, Wahyu Tri
JURNAL PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1106.615 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i2.309

Abstract

Dalam menetapkan waktu tanam tanaman padi petani kebanyakan mengandalkan kebiasaan turun temurun, padahal kondisi iklim telah berubah akibat pemanasan global. Akibatnya petani sering menghadapi masalah sumberdaya air, terutama pada saat intensitas curah hujan tinggi dengan kurun waktu pendek atau kondisi kering yang berlangsung lama. Untuk menghindari kekeliruan dalam menentukan waktu tanam, perlu dilakukan analisis mengenai waktutanam pada beberapa kondisi ikiim yang berbeda, yang diduga bervariasi antar tempat. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari variasi waktu tanam tanaman padi di Sulawesi, baik waktu tanam yang dominan dilakukan petani maupunberdasarkan kondisi iklim. Awal waktu tanam petani pada musim tanam pertama dianalisis dengan menggunakan data luas tanam level kecamatan periode tahun 2000-2007, sedangkan estimasi waktutanam pada saat curah hujan di bawah normal, normal, maupun di atas normal menggunakan data curah hujan harian runut waktu periode tahun 1980-2007. Awal waktu tanam pada musim tanam pertama yang dilakukan petani di Sulawesi umumnya terjadi pada dasarian pertama dan kedua September (September l/ll) setiap tahunnya; yang sama dengan hasil estimasi pada kondisi basah dan normal walau dengan intensitas yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa awal waktu tanam di Sulawesi relatif tetap. Tetapi pada kondisi kering petani ebaiknya menanam agak lambat yaitu dasarian III September sampai dengan dasarian pertama Oktober (September Ill/Oktober I) dan secara bertahap dapat dilakukan sampai dengan dasarian pertama dan kedua Januari (Januari l/ll). manfaat informasi estimasiawalwaktu tanam yang tersedia untuk setiap ecamatandiharapkan dapat membantu petani menentukan awal waktu tanam sebelum tiba musim tanam. In determining planting time ofpaddy crop farmers usually use onventional traditions although climatic conditions havechangesdue toglobal warming. As a result, farmers often face water resources problem, especially during a high intensity rainfall in a short period or aprolonged dry period. To avoid inaccuracy in determining planting time, there should bea study ofplanting time on some ofthe different climatic conditions, which are suspected varied among farming sites. This research aims to study the variation in food crops planting times especially in Sulawesi Island, based on both farmer's activities andclimate condition, i.e. wet, normal, anddry years. The existing planting time is determined byusingplanting area data of each sub-district during the period of 2000 to 2007 obtained from Statistics Indonesia. Planting time is considered commencing when 8 percent ofpaddy fields in a sub district have been planted. Planting time estimation on wet, normal, or dry years uses the ten-day rainfall data during the period of 1980 to 2007. The results show that farmer in Sulawesi generally plant rice starting on September in the first and second ten-days (September l/ll) every year. This issimilar to the estimation results on wet and normal years, but with higher intensity. This circumstance shows that early time plant in Sulawesi is relatively constant. Nevertheless in dry condition, farmers have to plant gradually on September Ill/October Iup to Jan l/ll. Information ofinitial planting time ofall sub-districts of Sulawesi is available on cropping calendar map. This information is expected to become the base information in determining planting time of each sub-district to avoid crop failures. 
Pengaruh Silikat Terhadap Kekerasan Batang, Produktivitas Padi, Mutu Gabah dan Beras Yang Dihasilkan Abdulrachman, Sarlan
JURNAL PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1574.744 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i3.143

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk silikat terhadap peningkatan kekerasan batang, produktivitas dan mutu hasil padi. Dalam percobaan ini digunakan rancangan Split-plot dengan tiga kali ulangan. Perlakuan petak utama yaitu varietas (inbrida, hibrida, dan PTB) dan pupuk silikat sebagai anak petak. 1) tanpa pupuk Si (kontrol), (2) 50 ppm SiO2, (3) 100 ppm SiO2, (4) 200 ppm SiO2, dan (5) 400 ppm SiO2. Pupuk silikat diberikan satu kali saja pada semua perlakuan pada saat sebelum tanam. Cara pemberian pupuk yang lain mengikuti rekomendasi setempat (konsep PHSL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kekerasan batang dipengaruhi oleh umur tanaman dan varietas. Semakin tua tanaman padi semakin keras batangnya, varietas inbrida Inpari 10 memiliki batang lebih lunak dibanding varietas hibrida Hipa 6 dan PTB B.105.33F-KN-11-1. Kekerasan batang tersebut dapat ditingkatkan dengan pemberian pupuk silikat. Pada tanah berkadar Si rendah seperti pada tanah alluvial Subang (76,46%) perlu diberikan 200 ppm SiO2. Sedangkan pada tanah berkadar SiO2 sedang seperti pada tanah andosol Kuningan (82,66%) hingga tinggi seperti pada tanah latosol Bogor (87,24%) cukup diberikan 50 ppm SiO2, (2) Rata-rata hasil produksi yang dicapai melalui pemberian pupuk silikat adalah 6,24 t/ha pada tanah alluvial, 6,71 t/ha pada tanah andosol, dan 7,23 t/ha pada tanah latosol. Dengan demikian ada kenaikan hasil produksi berturut-turut sekitar 6,45% untuk tanah alluvial, 6,6 % untuk tanah andosol, dan 7,05% untuk tanah latosol dibandingkan kontrol, dan (3) Pengaruh pemberian pupuk silikat terhadap mutu beras tergantung pada jenis tanahnya. Pada tanah alluvial, pemberian pupuk silikat hanya meningkatkan komponen mutu beras (transparancy) dari sekitar 1,4% menjadi 1,6%. Sedangkan pada tanah latosol, beras giling, whiteness dan milling degree meningkat masing-masing dari sekitar 68,9% menjadi 69,1%; 48,8% menjadi 50,3%; dan dari 129,9 menjadi 136,4.The objective of this research is to look into the effect of silicate application on increasing stem hardness, productivity and quality of rice. These trials were caried out using Splitplot design with three replications. Variety treatments (inbrid, hybrid, and NPT) was placed as main plot, while silcate fertilizer was as sub plot, e.i. (1) without silicate fertilizer as a control, (2) +50 ppm SiO2, (3) +100 ppm SiO2, (4) +200 ppm SiO2, and (5) +400 ppm SiO2. Silicate was applied as a basal fertilizer, while another fertilizers were applied according to those technical recommendations. The results indicated that: (1) Stem hardness was depend on crops age and variety. The more crop age harder the stem was, inbred Impair 10 variety had less stem hardness compared to hybrid Hipa 6 variety and NPT B.105.33F-KN-11-1. The stem hardness could be increased by applying silicate fertilizer. Under low Si content like in the alluvial soil of Subang (74,46%), this soil required 200 ppm SiO2. While medium content of SiO2 like in andosol soil of Kuningan (82,66%) up to high content of SiO2 like in latosol soil of Bogor (87,24%), those soil required 50 ppm Si, (2) Average rice yield that was achieved by applying cilicate fertilizer were 6,24 t/ha at alluvial soil, 6,71 t/ha at andosol soil, and 7,23 t/ha of dry paddy at latosol soil. Therefore, the yield increase was 6,45% on alluvial soil, 6,67% on andosol soil, and 7,05% on latosol soil compared to control, and (3) Application of silicate fertilizer increased rice quality, but not to all soil types. On alluvial soil, transparency as a component of rice quality increased from 1,4% to 1,6%. While on latosol soil; milling yield rice, whiteness and milling degree were incresed from 68,9% to 69,1%; 48,8% to 50,3%; and from 129,9 to 136,4; respectivelly 
Potensi dan Prospek Pengembangan Hanjeli (Coix lacryma jobi L ) sebagai Pangan Bergizi Kaya Lemak untuk Mendukung Diversifikasi Pangan Menuju Ketahanan Pangan Mandiri Nurmala, Tati
JURNAL PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.897 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i1.10

Abstract

Salah satu serealia yang potensial dan memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan adalah jali atau hanjeli, jeten (Coix lacryma-Jobi, L.). Di Indonesia, tanaman ini menyebar di berbagai ekosistem lahan pertanian yang beragam di daerah iklim kering ataupun iklim basah, lahan kering dan lahan basah seperti ditemukan di Sumatra, Sulawesi, Kalimantan. Di Jawa Barat , tanaman tersebut diusahakan oleh petani masih secara konvensional sebagai tanaman langka, secara sporadis ditemukan di Kabupaten Bandung di Punclut, Cipongkor, Gunung Halu, Kiarapayung, Tanjungsari Kabupaten Sumedang, Sukabumi, Garut, Ciamis dan Indramayu.Bagian yang menarik adalah bijinya yang mengandung gizi setara dengan beras, yakni dalam 100 gr bahan terdapat karbohidrat (76,4 persen), protein (14,1 persen) bahkan kaya dengan kandungan lemak nabati (7,9 persen) dan kalsium yang tinggi (54,0 mgr) bila dibandingkan dengan kadar lemak pada jagung sekitar 3,5-4,7 persen. Masyarakat setempat sudah biasa menikmatinya sebagai bubur hanjeli, tape, dodol dsb. Selain sebagai sumber pangan pokok, hanjeli sangat potensial sebagai pangan fungsional dan tanaman obat.This paper discusses one of the most important cereals, hanjeli or jeten (Coix lacryma-Jobi L.), that have good prospect to be developed. In Indonesia, the crop spreads across a diverse ecosystem of agricultural lands not only in arid climate or in dry lands, but also in wet climate or wetlands found in Sumatra, Sulawesi, and Kalimantan. In West Java this crop which is sporadically found in Bandung Regency, Punclut, Cipongkor, Gunung Halu, Kiarapayung, Tanjungsari of Sumedang district, Sukabumi, Garut, Ciamis and Indramayu, is still conventionally cultivated as a crop of rare by farmers. The interesting part of the crop is that the grain contains nutrition which is comparable to that of rice. 100 grams of the grain contains carbohydrate (76.4%) and protein (14.1%). Moreover, it even contains vegetable fat (7.9%) and high calcium (54.0 mgr). The fat content is greater than that of corn which only consists of about 3.5 to 4.7 percent. Local people have enjoyed the grain in forms of hanjeli porridge, sweet fermented hanjeli, and hanjeli dodol, etc. In addition to being the source of staple food, the crop has a great 
BASIS PRODUKSI PADI INDONESIA KE DEPAN SANGAT BERESIKO Syafa'at, Nizwar; Maulana, Mohamad
JURNAL PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1384.914 KB) | DOI: 10.33964/jp.v16i1.275

Abstract

Penurunan dan deselerasi kapasitas produksi beberapa komoditas pertanian khususnya pangan telah menyebabkan kapasitas negara kita dalam menyediakan pangan menurun yang ditunjukkan oleh masih tingginya volume impor komoditas pangan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Hal ini sangat ironis, karena gejala penurunan dan deselerasi produksi terjadi pada kondisi potensi lahan dan inovasi teknologi untuk perluasan usahatani dan peningkatan produktivitas masih tersedia. Produksi padi mengalami perlambatan pertumbuhan sejak pertengahan tahun 1980-an,dansejak awal tahun 1980-an laju pertumbuhannya telah di bawah laju pertumbuhan penduduk atau produksi beras per kapita terus menurun hingga saat ini. Hasil analisis menunjukkan bahwa kecenderungan penurunan laju pertumbuhan produksi padi adalah akibat dari kombinasi dua faktor, yatu: (a) penurunan luas baku lahan sawah, khususnya di Jawa; (b) stagnasi atau bahkan penurunan produktivitas lahan. - Paling sedikit ada tiga faktor resiko yang terkait dalam usaha peningkatan produksi padi. Pertama, berkaitan dengan sumbedaya lahan dan air. Kedua, kemampuan produksi industri pupuk nasional yang makin menurun karena usia pabrik sudah tua dengan tingkat efisiensi yang rendah sekitar 70 persen. Ketiga, sistem perbenihan nasional. Berdasarkan masalah dan kendala yang dihadapi dalam pengembangan kapasitas produksi dan prospek pasar domestik yang masih terbuka tebar serta lahan untuk pengembangan lebih lanjut masih tersedia, maka kebijakan pemerintah perlu diorientasikan pada : (1) rehabilitasi dan ekstensifikasi infrastruktur irigasi; (2) pembukaan lahan sawah baru; (3) memacu inovasi teknologi, termasuk revitalisasi sistem penelitian dan pengembangan pertanian serta sistem diseminasi inovasi pertanian dengan deregulasi dan penciptaan iklim yang kondusif bagi investor swasta.
Potensi Tepung Beras Kaya Pati Resisten Sebagai Bahan Pangan Inovatif Rozali, Zalniati Fonna
JURNAL PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v27i3.396

Abstract

ABSTRACTChanges in lifestyle cause people to demand the availability of functional foods that are ready to eat, nutritious and positive for health as a part of the daily menu. A food ingredient can be said to be functional if it contains components (both nutritional and non-nutritional) which have beneficial physiological effects on the functions of organs in the body. The biological role of resistant starch as an ingredient of functional food is related to the ecology of "good" microbes that live in the large intestine (colon). The use of rice flour as a source of resistant starch is an innovation to utilize broken rice, which can be applied by industries with a wide range of businesses. Modification of rice flour to increase levels of resistant starch can be done physically, chemically, enzymatically or in combination. Each of these production processes will affect the characteristics of the hospital produced. Based on the production process, characteristics, functional values, and alternative uses, rice flour rich in resistant starch has considerable potential to be developed as a functional food product for health.  
Analisis Proses Keputusan Pembelian, Persepsi dan Sikap Konsumen Terhadap Beras Organik di Jabotabek (An Analysis of Purchasing Decision, Perceptions and Consumer Attitudes Toward Organic Rice in Jabodetabek) Sumarwan, Ujang; Noviandi, Aldi; Kirbrandoko, Kirbrandoko
JURNAL PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.484 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i2.81

Abstract

Permintaan beras organik terus meningkat, seiring dengan kesadaran konsumen tentang kesehatan. Beberapa penelitian terdahulu telah menyelidiki preferensi dan konsumsi beras organik serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi dan konsumsi beras organik tersebut. Penelitian terdahulu belum menyelidiki bagaimana konsumen melakukan proses keputusan pembelian beras organik, serta bagaimana sikap konsumen terhadap beras organik dan nonorganik. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan penelitian ini adalah menganalisis proses keputusan, persepsi dan sikap konsumen dalam pembelian beras organik. Penelitian ini menggunakan teori proses keputusan konsumen, teori persepsi dan sikap konsumen. Sejumlah 115 orang responden diwawancarai di Jakarta, Depok dan Bogor (Jabodetabek). Analisis deskriptif dan Model Sikap Multiatribut Fishbein digunakan untuk analisisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses keputusan pembelian beras organik melalui tahap pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, pembelian, dan evaluasi pasca pembelian. Responden memiliki persepsi bahwa harga beras organik lebih mahal dibandingkan beras nonorganik.Previous studies have shown the preferences and consumptions of organic rice and factors that influenced those preferences and consumptions of organic rice. However, previous studies did not investigate consumers’ decision processes of buying, perceptions and attitudes toward organic rice, Based on the results of previous studies, the objectives of the study were to analyze the consumers’ decision processes of buying organic rice, consumers’ perception and attitudes toward organic rice’s attributes. This study used theory of consumer decision making processes, perceptions and attitudes. The numbers of respondents were 115 who were interviewed in Jakarta, Depok and Bogor areas. Descriptive statistics and Fishbein method were employed to analyze the data. The results of the study showed that the respondents’ decision making of buying organic rices were through five steps: need recognition, information search, alternative evaluation, purchasing, and post purchase evaluation. Respondents also perceived that price of organic rice were more expensive than that of non-organic rice. Respondents also showed their attitudes toward organic rice were higher than that of non-organic rice. The respondents were more likely with organic rice than non-organic rice. 
Pengeringan Lapisan-Tipis Irisan Singkong Menggunakan Pengering (Infrared Thin-Layer Drying Of Cassava Chips Using Infrared Dryer) Afifah, Nok; Rahayuningtyas, Ari; Haryanto, Aidil; Intan Kuala, Seri Intan Kuala
JURNAL PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (789.421 KB) | DOI: 10.33964/jp.v24i3.237

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik pengeringan lapisan-tipis irisan singkong dengan menggunakan pengering inframerah pada skala pilot untuk memenuhi kebutuhan usaha kecil dan menengah. Penelitian dilakukan pada dua tingkat temperatur “set-point” yaitu 50oC dan 60oC. Irisan singkong sebanyak 6 kg dengan kadar air awal 60–68 persen pada basis basah dikeringkan dalam pengering menjadi kadar air 14 persen. Setiap 30 menit, udara pengering diukur temperaturnya dan irisan singkong yang dikeringkan dianalisis kadar airnya. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa waktu pengeringan lebih cepat dengan peningkatan temperatur set-point dan sekitar 44–62 persen kadar air teruapkan selama pengeringan 3-4 jam. Berkaitan dengan kinetika pengeringan, dua buah model matematika diujikan terhadap data eksperimen. Ditemukan bahwa model Page lebih dapat mempresentasikan pola pengeringan irisan singkong dibandingkan model Henderson-Pabis.This study is aimed to evaluate the characteristics of the thin-layer drying of cassava chips using a pilot scale infrared dryer to meet the needs of small and medium enterprises. The drying experiments are carried out at two levels of temperature set-points viz. 50 and 60°C respectively. Every 30-minute the drying air temperature is measured and the chips is analyzed for its moisture content. Cassava chips with 6 kg weight and 60–68 percent moisture content on wet basis is dried in the dryer. It is found that the drying time decreases with an increase in temperature set point and approximately 44–62 percent of the moisture is removed during the drying for 3-4 hours. With regard to drying kinetics, two commonly used mathematical models sre examined with the experimental data. It is found that the Page model provides a good fit between the experimental and predicted moisture ratio values compared to that of Henderson-Pabis model. 
Karakteristik Fisik, Kimia, dan Sensori Beras Analog Berbasis Bahan Pangan Non Beras Budijanto, Slamet
JURNAL PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1102.889 KB) | DOI: 10.33964/jp.v26i1.347

Abstract

Beras analog merupakan salah satu produk pangan yang terbuat dari bahan pangan non beras, yang dapat menjadi alternatif makanan pokok bagi masyarakat Indonesia. Bahan baku sumber karbohidrat non beras yang berpotensi antara lain jagung kuning, jagung putih, ubi kayu, dan sorgum. Keunggulan beras analog tidak hanya berbentuk menyerupai beras, namun dapat dimasak dan dikonsumsi layaknya beras dari padi. Beberapa penelitian telah mampu menghasilkan beras analog yang menyerupai beras menggunakan campuran beberapa jenis bahan baku. Beras analog yang diperoleh juga memiliki sifat fungsional seperti nilai indeks glikemik (IG) rendah, mengandung serat pangan dan total fenol yang tinggi.Karakteristik fisik penting yang diamati diantaranya adalah warna, bentuk, teknik, dan waktu pemasakan. Karakteristik sensori beras analog juga telah dapat diterima oleh panelis pada kisaran agak tidak suka hingga suka. Penelitian-penelitian mengenai beras analog menunjukkan dapat meningkatkan nilai tambah dari bahan pangan non beras serta mendukung keragaman sumber gizi bagi masyarakat. Artikel ini mengulas beras analog yang menggunakan teknologi ekstrusi dari beberapa jenis bahan baku non beras.
Kapasitas Antioksidan Plasma dan Sel Darah Merah Responden di Kecamatan Dramaga, Bogor (Plasma and Erythrocyte Antioxidant Capacity ofthe Respondents in Dramaga County, Bogor) Zakaria, Fransiska; Misran, Misran; Waysima, Waysima
JURNAL PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1964.972 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i3.169

Abstract

Masalah kekurangan vitamin Adi Indonesia masih belum terselesaikan walaupun telah diketahui semenjak 20 tahun yang lalu. Salah satu sumber vitamin A yang banyak terdapat di Indonesia adalah minyak sawit mentah (MSMn) atau crude palm oil {CPO) yang juga merupakan komoditi yang paling banyak diekspor dari Indonesia. Pada saat ini terdapat Program Sawit A yang mendistribusikan dan menyosialisasikan manfaat MSMn kepada 2500 orang di Kecamatan Dramaga, Bogor. Penelitian ini dilakukan untuk memonitor dan mengevaluasi penerimaan responden sebagai konsumen MSMn dan menganalisis manfaat MSMn dalam meningkatkan kapasitas antioksidan plasma dan sel darah merah responden. Responden yang diwawancarai dalam penelitian ini berjumlah 75 orang dari Desa Sukadamai, Babakan, dan Dramaga, Bogor, sedangkan yang diambil darah sebelum dan sesudah pengamatan berjumlah 13, 11, dan 11 perempuan usia produktif berturut-turut dari masing-masing desa. Penerimaan responden terhadap produk MSMn yang diberikan mencapai 97,4 persen dengan kategori suka. Hasil analisis kapasitas antioksidan responden menunjukkan peningkatan setelah konsumsi MSMn selama dua bulan jika dibandingkan sebelum konsumsi produk. Konsentrasi antioksidan plasma meningkat dari rata-rata 0,229±0,064 mM menjadi 0,308±0,032 mM (P=0,000). Kapasitas antioksidan sel darah merah juga meningkat dari rata-rata 35,16 persen menjadi 46,36 persen (P=0,000). Peningkatan kapasitas antioksidan plasma dan sel darah merah kemungkinan berasal dari komponen antioksidan pada produk yaitu karotenoid dan vitamin E dengan asumsi pola makan responden adalah tetap.VitaminAdeficiency is still a common problem in Indonesia although ithas been recoqnized since 20 years ago. Indonesia has been the largest crude palm oil (CPO) producer and exporter in the world. CPO is a local product and an excellent source of vitaminA. At present, there is a SawitAprogram, which is an activity to overcome vitaminA deficiency in Indonesia by using CPO. This program was conducted for two months in 10 villages in Dramaga County Bogor. During this program, 2500 respondents were given free CPO and were informed of its benefit. This research was carried out to partially monitor and evaluate the implementation of SawitA Program that focused on analyzing product acceptance in 75 respondents and total plasma and erythrocyte antioxidant capacity in 35 respondents. Product acceptance analysis was done by home-used test method in Sukadamai, Babakan and Dramaga villages. The results showed that CPO was accepted 97.4 percent by respondents with "like" category toward taste, odor, color, and over all attributes. The total plasma antioxidant capacity average increased significantly from 0,229±0,064 mM to 0,308±0,032 mM after interventions (P=0,000). The erythrocytes antioxidant capacity average increased significantly from 35,16 percent to 46,36 percent after two-month consumption of CPO (P=0,000). The increasing of this antioxidant capacity revealed the effect of antioxidant compounds in CPO, such as carotenoids and vitamin E. 

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN More Issue