cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Karakteristik Pati Sagu yang Dimodifikasi dengan Perlakuan Gelatinisasi dan Retrogradasi Berulang Characteristics of Modified Sago (Metroxylon sagu) Starch by Gelatinization and Retrogradation Cycling Adi Palguna, I Gusti Putu; Sugiyono, Sugiyono; Hariyanto, Bambang
JURNAL PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (863.807 KB) | DOI: 10.33964/jp.v23i2.59

Abstract

Modifikasi pati adalah perlakuan yang diberikan pada pati agar diperoleh sifat yang lebih baik atau mengubah beberapa sifat tertentu. Kajian mengenai karakteristik pati sagu termodifikasi perlu dilakukan agar pati sagu termodifikasi tepat pemanfaatannya sesuai dengan karakteristik produk pangan yang diinginkan. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari perubahan karakteristik pati sagu akibat modifikasi dengan perlakuan gelatinisasi dan retrogradasi berulang. Karakteristik yang diamati adalah sifat birefringence, bentuk granula pati, kadar pati resisten, daya cerna pati, nilai sineresis, kekuatan gel, pelepasan amilosa, dan parameter gelatinisasi pati. Proses 3 siklus gelatinisasi dan retrogradasi meningkatkan kadar pati resisten menjadi 7,82 persen. Dengan demikian pati sagu termodifikasi dapat dikaji lebih lanjut potensinya untuk pengembangan produk pangan fungsional berbasis bahan pangan lokal.Starch modification is a treatment given to the starch in order to obtain better properties or change several specific properties. The study of the characteristics of modified sago starch needs to be conducted so that modified sago can be properly utilized in accordance with the desired characteristics of food products. This research aims to study the changes in characteristics due to modification of sago starch by gelatinization and retrogradation cycling. The evaluated characteristics of gelatinized and retrogradated starch were birefringence properties, shape and size, resistant starch, starch digestibility, syneresis, gel strength, amylose leaching, and starch gelatinization profiles. A three-cycle gelatinization-retrogradation process produces the highest resistant starch content (7.82 percent). Therefore, the potential of modified sago starch can be studied further for the development of functional food products based on local food.
Optimalisasi Pemanfaatan Sumberdaya Hayati untuk Memenuhi Kebutuhan Pangan (Studi Kasus Kabupaten Aceh Selatan - NAD) Mustafril, Mustafril; Budindra, Setiawan; Purwanto MYJ, Purwanto MYJ; Prasetyo LB,, Prasetyo LB; Martianto D, Martianto D
JURNAL PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.298 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i4.221

Abstract

Pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi penduduk di suatu daerah ditentukan oleh ketersediaan, kecukupan serta konsumsi pangan suatu daerah yang selanjutnya dibandingkan dengan potensi sumberdaya hayati, sarana dan prasarana produksi yang tersedia di daerah tersebut. Produksi bahan pangan optimum dan luas lahan yang optimum untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk diprediksi dengan pendekatan optimasi kebutuhan (demand) dan produksi (supply) sumberdaya hayati untuk pangan dan gizi. Proyeksi kebutuhan dan ketersediaan bahan pangan suatu daerah dapat dioptimasi menggunakan perangkat lunak OptifoodPlus. Ketersediaan energi pangan Kabupaten Aceh Selatan sampai tahun 2020 diproyeksikan jauh melebihi dari proyeksi kebutuhan energi pangan. Proyeksi ketersediaan energi pangan dari kelompok bahan pangan serealia jauh melebihi proyeksi kebutuhan energi pangan dari serealia, sedangkan rata-rata ketersediaan energi pangan dari serealia masih berada di atas rata-rata konsumsi serealia perkapita nasional sejak tahun 2005. Demikian juga proyeksi ketersediaan produksi padi sawah jauh melebihi proyeksi produksi optimum padi sawah dari tahun 2001-2020. Ketersediaan lahan padi sawah berdasarkan luas baku lahan sawah Kabupaten Aceh Selatan seluas 17.713,50 ha dan berdasarkan kesesuaian lahan untuk tanaman pangan lahan basah mencapai luas 39.971,78 ha yang terdiri dari 1.350,15 ha (cukup sesuai) dan 38.621,63 ha (sesuai marjinal), ternyata jauh melebihi proyeksi kebutuhan lahan optimum (luas panen) untuk memproduksi padi sawah sampai tahun 2020 yang hanya 9.785,27 ha. Berdasarkan hasil optimasi ketersediaan pangan dan kebutuhan pangan, dapat disimpulkan bahwa Kabupaten Aceh Selatan mempunyai potensi ketahanan pangan dan berpotensi sebagai daerah mandiri pangan.
Pengembangan Mi Bebas Gluten dengan Teknologi Ekstrusi Nurtama, Budi; Budijanto, Slamet; Mojiono, Mojiono
JURNAL PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1264.849 KB) | DOI: 10.33964/jp.v25i2.328

Abstract

Diversifications of raw materials for noodle preparation using local carbohydrate sources offer considerable advantages through lowering wheat demand and providing specially-designed food such as gluten-free diet. Structural formations of gluten-free noodles substantially differ from wheat-based noodles due to the presence of gluten. Therefore, studies on starch characteristics including the ratio of amylose and amylopectin, granule morphology, and gelatinization properties are absolutely essential since they are responsible for noodle quality. Starch modification, for instance, HMT (heat moisture treatment), is a promising technique to improve starch properties for noodle preparation. Furthermore, processing conditions also account for noodle quality. Extrusions constitute an appropriate technology for the development of noodle processing technique as it gelatinizes starch and produces pressing and kneading effects that are required to form desirable noodle structure. This paper reviews current studies of gluten-free noodles and extrusion technology for noodle production.
Utopia Pangan Berkelanjutan Tanjung, Dahri
JURNAL PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i1.106

Abstract

Tanpa kesungguhan, nampaknya pencapaian pangan yang berkelanjutan hanya akan menjadi “utopia”. Masalah dan tantangan yang dihadapi semakin besar diantaranya masih merupakan masalah yang klasik yakni masalah yang bersifat struktural yang tidak kunjung selesai. Pemilikan lahan yang sempit, teknologi yang kurang berkembang serta dukungan infrastruktur irigasi yang tidak memadai menjadi kendala utama dalam implementasi pangan yang berkelanjutan. Pemilikan atau penguasaan lahan yang sempit menjadi sumber segala sumber penyakit pangan tidak berkelanjutan. Selain usahatani tidak mencapai skala ekonomis, dampak selanjutnya pangan Indonesia tidak berdaya saing terlebih dalam perekonomian yang semakin global dan ujung-ujungnya masyarakat tidak tertarik lagi untuk usahatani pangan. Jawa yang selama ini sebagai sumber produksi pangan, lahan pertaniannya semakin terkonversi ke peruntukan non pangan; sementara di luar Jawa usahatani non pangan khususnya perkebunan mempunyai keunggulan komparatif sehingga lebih memberikan daya tarik bagi petani. Oleh karena itu agar pangan yang berkelanjutan tidak menjadi “utopia” perlu keberpihakan pemerintah. Jika landreform sebagai kebijakan yang sebetulnya tidak dapat ditawar lagi, sulit untuk diimplementasikan maka kebijakankebijakan harus diarahkan untuk meningkatkan produktivitas pangan melalui peningkatan alokasi investasi ke sektor pertanian khususnya pangan untuk membangun dan memperbaiki jaringan irigasi; research and development dalam upaya mengembangkan teknologi pangan; serta untuk pelatihan pengembangan SDM; dan diperlukan juga untuk pembukaan lahan baru.
KEBIJAKAN PEMANTAPAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL KE DEPA Syafa'at, Nizwar; Simatupang, Pantjar
JURNAL PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v15i1.287

Abstract

Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Oleh karena itu kebijakan pemantapan ketahanan pangan menjadi isu sentral dalam pembangunan dan menjadifokus utama dalam pembangunan pertanian. Secara keseluruhan ada tiga program utama Departemen Pertanian yang akan dilakukan pada periode 2005-2009, yaitu; (i) Program Peningkatan Ketahanan Pangan. (ii) Program Pengembangan Agribisnis; dan (iii) Program Peningkatan Kesejahteraan Petani. Sejalan dengan Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK) yang telah dicanangkan oleh Presiden Rl tanggal 11 Juni 2005 diJatiluhur, Jawa Barat mengamanatkan bangsa ini perlu membangun ketahanan pangan yang mantap dengan memfokuskan pada peningkatan kapasitas produksi nasional untuk lima komoditas pangan strategis, yaitu padi, jagung, kedelai, tebu dan daging sapi. Untuk meningkatkan kapasitas produKSi pangan nasional tersebut, Indonesia masih memiliki potensi lahan untukperluasan usahatani. Dari luas lahan yang sesuai untuk usaha pertanian sebesar 100,8 juta hektar, telah dimanfaatkan 68,8 juta hektar, sehingga lahan yang belum dimanfaatkan sekitar 32 juta hektar. Selain itu, terdapal potensi lahan untuk usaha pertanian berupa lahan terlantar 11,5juta hektar serta pekarangan 5,4 juta hektar, dan belum termasuk lahan gambut dan lebak yang potensinya cukup besar. Dalam rangka memantapkan ketahanan pangan nasional akan dikembangkan terhadap lima komoditas pangan strategis selama periode 2005-2010 antara lain: padi, jagung, kedelai, gula dan daging sapi. Langkah strategis dan jumlah investasi untuk mendukung pengembangan kelima jenis komoditas pangan tersebut telah ditentukan dan disiapkan. Salah satu langkahnya adalah mengidentifikasi potensi lahan yang sesuai untukpengembangan kelima komoditas pangan tersebut dan pembangunan infrastruktur fisik dan non fisik pendukung.
Teknik Penanganan Pascapanen Padi untuk Menekan Susut dan Meningkatkan Rendemen Giling (Post Harvest Handling Technique to Reduce Losses and Increase the Milling Yield) Hasbullah, Rokhani; Dewi, Anggitha Ratri
JURNAL PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1162.627 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i1.90

Abstract

Solusi bijak untuk mengatasi kekurangan beras adalah dengan memaksimalkanproduksi beras dalam negeri, diantaranya dengan menekan susut pasca panen dan meningkatkan rendemen giling. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji teknik penanganan pascapanen terutama perontokan dan penggilingan padi varietas Ciherang, Hibrida, dan Cibogo. Perontokan padi dilakukan dengan tiga metode perontokan: (i) digebot; (ii) pedal thresher; dan (iii) power thresher. Penggilingan padi dilakukan menggunakan tiga konfigurasi penggilingan mesin yang berbeda: (i) dua kali pecah kulit dan dua kali sosoh (2H-2P); (ii) satu kali pengupasan kulit, satu kali pengayakan (separator), dan satu kali penyosohan (H-S-P); dan (iii) satu kali pengupasan kulit, dua kali pengayakan dan dua kali penyosohan (H-2S-2P). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah butir gabah per malai pada varietas hibrida adalah 303 butir, paling tinggi diikuti ciherang (158 butir) dan cibogo (130 butir). Namun demikian, varietas hibrida memiliki berat seribu butir paling rendah (28,6 g) dibandingkan ciherang (29,7 g) dan cibogo (30,4 g). Penggunaan power thresher mampu menekan susut perontokan dari 3,31–4,35 persen (dengan alat gebot) menjadi 0,49–1,21 persen dan menghasilkan gabah dengan persentase keretakan butiran gabah yang paling rendah. Rendemen giling padi varietas cibogo (67,81 persen) lebih tinggi dibandingkan varietas ciherang (62,61 persen) dan hibrida (60,78 persen). Konfigurasi penggilingan H-2S-2P menghasilkan susut penggilingan terendah yaitu 2,52 persen dan mampu meningkatkan derajat sosoh dan tidak mempengaruhi rendemen giling. The best solutions to overcome the shortage of national rice production is by applying good postharvest handling practices to reduce losses and increase the milling yield. This study aims to assess postharvest handling of several varieties of paddy, especially threshing and milling. Threshing of paddy is done by three methods: (i) manually or “gebot”; (ii) using pedal threshers; and (iii) using power threshers. Milling of rice is done using three milling configurations: (i) twice paddy husking and twice rice polishing (2H-2P); (ii) once paddy husking, once paddy separation and once rice polishing (HSP); and (iii) once paddy husking, twice paddy separation and twice rice polishing (H-2S-2P). The results show that the highest number of grains per paddy panicle is 303 grains for Hybrid varieties followed by Ciherang (158 grains) and Cibogo (130 grains). However, Hybrid variety has the lowest weight of thousand grains (28.6 g) compared to Ciherang (7.29 g) and Cibogo (4.30 g). The use of power thresher is able to reduce paddy losses from 3.31 to 4.35 percent (for manual threshing or gebot) to be 0.49 to 1.21. The use of power thresher also reduces the percentage of grain cracking. The milling yield of Cibogo variety is the highest (67.81 percent) compared to Ciherang variety (62.61 percent) and Hybrid variety (60.78 percent). Milling configuration of H-2S-2P is the best performance of rice milling processing; resulting the lowest milling losses (2,52 percent) and increasing the polish degree (100 percent) and does not affect the milling yield of rice (66,22 percent). 
Situasi Pangan Kedepan dan Kebijakan Ketahanan Pangan Hasan, M. Fadhil; Yustika, Ahmad Erani
JURNAL PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1055.351 KB) | DOI: 10.33964/jp.v17i2.248

Abstract

Era pangan murah telah berlalu sejak melonjaknya harga pangan akhir-akhir ini.Kompetisi pangan (food), pakan (feed), dan energi (fuel) mendorong peningkatan harga produk pertanian. Kondisi ini diperparah dengan masalah perubahan iklim yang semakin tidak bersahabat bagi kegiatan pertanian. Walaupun dalam publikasi FAO baru-baru ini, Indonesia bukan termasuk sepuluh negara paling rawan pangan di dunia dan juga Asia, namun dengan mempertimbangkan berbagai realitas pertanian yang membujur mulai hulu sampai dengan hilir, kelangkaan pangan sangat mungkin terjadi dalam beberapa tahun ke depan. Pembangunan pertanian dan ketahanan pangan di Indonesia masih belum menampakkan hasil yang memadai. Komitmen pemerintah untuk betul-betul mengembangkan sektor pertanian belum tampak, bahkan cenderung semakin turun dari waktu ke waktu. Kenaikan harga pangan saat ini seharusnya menjadi berkah bagi Indonesia yang dikenal memiliki sumber daya pertanian cukup melimpah dan bukannya menjadi beban dan masalah. Pengelolaan yang diiringi dengan strategi kebijakan yang tepat menjadi kunci bagi persoalan pertanian saat ini. Berpijak pada realitas tersebut, tulisan ini mencoba menggambarkan perkembangan sektor pertanian selama ini, sekaligus menawarkan pendekatan kebijakan yang komprehensif dan integral bagi perbaikan arah pembangunan sektor pertanian sekarang dan ke depan. Tujuannya supaya ketahanan pangan nasional bisa terealisir, tidak hanya pada tingkatan tercukupinya produksi pangan tetapi juga dari sisi aksesibilitas dan stabilitas harga.
Penggunaan Beras Sagu Untuk Penderita Pradiabetes Use of Rice Sagu for Patients of Prediabetes Hariyanto, Bambang
JURNAL PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.982 KB) | DOI: 10.33964/jp.v26i2.361

Abstract

Beras sagu dibuat dengan campuran pati sagu dan tepung kacang merah dengan komposisi 90 persen dan 10 persen.  Selanjutnya beras sagu diberikan pada relawan penderita pradiabetes. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui pengaruh konsumsi beras sagu terhadap kadar glukosa penderita pradiabetes. Jumlah relawan sebanyak 20 orang dan waktu intervensi 4 minggu. Pemberian makan beras sagu sebanyak 120 gram setiap hari dan menu lainnya bebas kecuali lauk yang mengandung karbohidrat seperti kerupuk, perkedel, mi dan sebagainya. Parameter yang dianalisa adalah kadar glukosa darah relawan dan kadar kolesterol dan trigleserida pada awal dan akhir intervensi.  Hasil  penelitian menunjukkan bahwa intervensi beras sagu dan kacang merah pada relawan prediabetes selama 4 minggu dapat menurunkan glukosa, total kolesterol dan trigliserida post prandial secara signifikan. Dengan demikian beras sagu sebagai pangan lokal  memiliki kelebihan  yaitu dapat menjaga gula darah penderita pradiabetes. Penggunaan beras sagu dapat diperluas sebagai pangan kesehatan.
Delinasi Kalender Tanam Tanaman Padi Sawah Untuk Antisipasi Anomali Iklim Mendukung Program Peningkatan Produksi Beras Nasional Runtunuwu, Eleonora; Syahbuddin, Haris; Tri Nugroho, Wahyu
JURNAL PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i4.179

Abstract

Perubahan iklim global yang berimbas terhadap pola hujan menjadi kendala bagiProgram Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN). Salah satu implikasi dariperubahan iklim adalah pergeseran awal dan akhir musim tanam yang berdampak negatif terhadap pola tanam dan produktifitas tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun atlas kalender tanam Pulau Sumatera dengan skala 1:250.000, yang dapat dijadikan sebagai panduan untuk menentukan potensi pola tanam dan waktu tanam pada tanaman semusim (terutama padi) sampai tingkat kecamatan berdasarkan potensi dan dinamika sumber daya iklim dan air. Atlas kalender tanam ini disusun melalui beberapa tahapan yaitu (i) pengumpulan data dan wawancara dengan petani; (ii) analisis waktu tanam; (iii) verifikasi lapang; dan (iv) penyusunan atlas. Selain memetakan kebiasaan waktu tanam yang diterapkan petani saat ini, atlas kalender tanam ini juga dilengkapi dengan kalender tanam berdasarkan tiga kondisi iklim, yaitu pada saat curah hujan tinggi (tahun basah), pada saat curah hujan rendah (tahun kering), dan pada saat curah hujan normal (tahun normal). Atlas kalender tanam dapat menjadi panduan bagi penyuluh pertanian maupun petani dalam menjalankan usahataninya secara berkelanjutan. Beberapa manfaat atlas kalender tanam adalah untuk menentukan waktu tanam tingkat kecamatan, menentukan rotasi tanaman berdasarkan potensi sumberdaya iklim dan air, mendukung perencanaan tanam tanaman pangan semusim, dan mengurangi dampak buruk pergeseran musim tanam terhadap kerugian petani. Global climate change causes change in the rainfall pattern and becomes a constraint to the national program on rice. The change implies both the shifting of the cropping time and the change in cropping pattern of annual crops that eventually decrease crop productivity. The aim of this research is to provide the cropping calendar map of Sumatera island at 1:250.000 scale that can be applied as reference in determining time of planting and cropping pattern for each sub district that suit to the dynamic of climate and water resources. This cropping calendar is arranged through several steps: (i) climate data collection and farmer’s interview; (ii) analysis of planting time; (iii) field verification; and (iv) mapping process by delineating of cropping pattern. This map is prepared for the farmer’s condition in different climate anomaly scenarios such as La-Nina, El-Nino, or normal. This cropping calendar map can be used as a reference for farmers and extension workers in planning a sustainable farming.Cropping calendar map serves several function, i.e. providing spatial and tabular cropping pattern for crop land at the sub-district level, determining cropping rotation in each sub district based on the existing climate and water resources, supporting the planning of cropping season and pattern, especially for seasonal food crops, and reducing the negative impact of climate anomaly and risk of farmer’s losses. 
Evaluasi Nilai Gizi Protein Tepung Tempe yang Terbuat dari Varietas Kedelai Impor dan Lokal Evaluation on Protein Nutritional Value of Tempe Flour Made from Imported and Local Soybean Varieties Astawan, Made; Mursyid, Mursyid; Muchtadi, Deddy; Wresdiyati, Tutik; Bintari, Siti Harnina; Suwarno, Maryani
JURNAL PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.31 KB) | DOI: 10.33964/jp.v23i1.48

Abstract

Tempe merupakan produk olahan fermentasi kedelai asli Indonesia. Telah diketahui bahwa kandungan gizi tempe lebih baik dibandingkan kedelai yang tidak difermentasi. Masalah utama tempe adalah umur simpan yang relatif rendah. Salah satu alternatif pengolahan tempe adalah tepung tempe. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kualitas protein tepung tempe yang terbuat dari kedelai impor dan lokal. Penelitian ini menggunakan tikus putih Sprague-Dawley sebagai hewan model. Tikus dibagi 4 kelompok berdasarkan sumber protein dalam ransum, yaitu tepung tempe kedelai impor Genetically Modified Organism (GMO)/hasil rekayasa genetika, tepung tempe kedelai impor non-GMO, tepung tempe kedelai lokal Grobogan, dan kasein sebagai kontrol. Parameter kualitas protein diukur berdasarkan metode pertumbuhan dan metode keseimbangan nitrogen. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata pada nilai food convertion efficiency (FCE), protein efficiency ratio (PER), dan net protein ratio (NPR) dari semua jenis tepung tempe. Nilai true protein digestibility (TPD) tepung tempe kedelai grobogan dan non-GMO tidak berbeda nyata, namun nyata lebih tinggi dari tepung tempe kedelai GMO, dan lebih rendah dari kasein. Tidak terdapat perbedaan yang nyata pada nilai biological value (BV) dan net protein utilization (NPU) semua sampel. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa secara umum nilai gizi protein tepung tempe kedelai lokal Grobogan tidak berbeda dengan tepung tempe kedelai impor non-GMO.Tempe is a fermented soybean product from Indonesia. It has been known that nutritional values of tempe are better than unfermented soybean. The main problem of tempe product is its short shelf life. An alternative way to solve this problem is tempe flour. The objective of this research was to evaluate the protein nutritional quality of tempe flours made from imported and local soybeans. This research used albino Sprague-Dawley rats as an animal model. The rats were divided into 4 groups based on protein source of the diet, namely: tempe flour of imported Genetically Modified Organism (GMO) soybean, tempe flour of imported non-GMO soybean, tempe flour of local Grobogan soybean, and casein as a control. Protein nutritional parameters were observed based on growth of rats and nitrogen balance methods. The results showed that there were no significant different of food conversion efficiency (FCE), protein efficiency ratio (PER), and net protein ratio (NPR) values from all of tempe flours. True protein digestibility (TPD) value of Grobogan and non-GMO tempe flours was not different, but higher than GMO soybean tempe flour, and lower than casein. There were no significant different of biological value (BV) and net protein utilization (NPU) values from all samples. This research concluded that generally the nutritional quality of protein of tempe flour from local Grobogan soybean tempe flour was not different from the protein quality of import non-GMOZT. 

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue