cover
Contact Name
Hirowati Ali
Contact Email
hirowatiali@med.unand.ac.id
Phone
+6281276163526
Journal Mail Official
mka@med.unand.ac.id
Editorial Address
Faculty of Medicine, Universitas Andalas
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 01262092     EISSN : 24425230     DOI : https://doi.org/10.25077
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Andalas (MKA) (p-ISSN: 0126-2092, e-ISSN: 2442-5230) is a peer-reviewed, open-access national journal published by Faculty of Medicine, Universitas Andalas and is dedicated to publish and disseminate research articles, literature reviews, and case reports, in the field of medicine and health, and other related disciplines
Articles 792 Documents
PAYUNG HUKUM PELAKSAAN ABORTUS PROVOKATUS PADA KEHAMILAN AKIBAT PERKOSAAN Rika Susanti
Majalah Kedokteran Andalas Vol 34, No 1 (2010): Published in April 2010
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.975 KB) | DOI: 10.22338/mka.v34.i1.p25-30.2010

Abstract

AbstrakPada survei yang dilakukan WHO dibeberapa kota besar di Asia pada tahun 1996 di Indonesia ditemukan bahwa pada wanita yang berumur diatas 16 tahun dikota Jakarta dan Surabaya pada 1400 sampel didapatkan 2,7% pernah mengalami perkosaan. Beberapa korban hamil, dan ingin mengakhiri kehamilan. Hukum di Indonesia (KUHP), menjelaskan bahwa semua usaha dalam rangka menghentikan kehamilan adalah suatu tindak pidana dan tidak dipersoalkan apakah indikasi dari pengguguran kandungan tersebut. Setelah adanya UU Kesehatan RI No 23 tahun 1992, barulah abortus provokatus atas indikasi medis mendapatkan payung hukum. Disini dijelaskan bahwa jika abortus dalam rangka menyelamatkan nyawa ibu atau anak diperbolehkan (indikasi medis). Legitimasi abortus provokatus atas indikasi medis saat ini dianggap tidak mencukupi lagi, sehingga diperlukan pula legalisasi indikasi non medis, seperti pada korban pemerkosaan dan child abuse. Dengan keluarnya UU Kesehatan No.36 tahun 2009, maka sudah melegalkan tindakan aborsi pada kehamilan akibat perkosaan.Kata kunci: perkosaan, kehamilan, abortus provokatus, payung hukum, KUHP, UU Kesehatan.AbstractIn the survey conducted by WHO in several major cities in Asia in 1996 in Indonesia found that in women aged over 16 years in the city of Jakarta and Surabaya in 1400 samples were obtained 2.7% had experienced rape. Some victims become pregnant due to rape action and there is a desire to terminate the pregnancy. The law in Indonesia is regulated in the Penal Code (KUHP), explain determined that all efforts in order to stop the pregnancy is a crime and not questioned whether the indications of such abortions. After the Health Law (Undang-Undang Kesehatan RI) No. 23 of 1992, then provoked abortion on medical indication obtain legal protection. Here was explained that if the abortion in order to save the life of the mother or child is allowed (a medical indication). The legitimacy of provoked abortion on medical indication currently considered no longer sufficient, so that will be required to legalize non-medical indications, such as the victims of rape and child abuse. With the release of the Health Law No.36 of 2009, it had legalized abortion in pregnancies due to rape. Key words : rape, pregnancy, abortus, legal protection, article of the Penal Code, the Law on Health.
MEDICAL ETHICS, LOCAL WISDOM AND PROFESSIONALISM Sajid DarmadiPura
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37 (2014): Supplement 1 | Published in March 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.222 KB)

Abstract

AbstractRecengy the problem of profession, professional, professionalism, and ethics in medicinehave been attracting much the public, the media, the professionals, and even also the medicalpractitioners.This may be stimulated by several cases involving medical professionals exposedby the press, originaiing from the decreasing comprehension on the above named terms' Theline differentiating profession from business is too becoming vague. Professionalism that shouldcontain also high ethical moral standards and humanitarian values beside the knowledge andskill is decreasing in comprehension among the medical practitioner and other professionals ingeneral. A clear normative definition of each of those terms is needed. As lndonesian physicians,we should refer and apply the basic principles stated in Pancasila, i.e' the philosophical moralbasis of the lndonesia foundation in providing medical and health service. Further our reflectionsgo on to whether the principles of Pancasila can replace the ethical principles of Bioethics, thewestern concept. Accepting the western completely would likely mean accepting the culturalimperialism, while replacing the western values or principles totally is unnecessary consideringthat many of the western conform our local wisdom'Keywords: Profession, professionalism, medical ethics, Pancasila, local wisdom'transculturalism and value recipi"ocity'
PENGGUNAAN SILVER DIAMINA FLUORIDA (SDF) 38% SEBAGAI Arresting Caries Treatment (ACT) PADA ANAK-ANAK Lendrawati Lendrawati
Majalah Kedokteran Andalas Vol 35, No 2 (2011): Published in August 2011
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.503 KB) | DOI: 10.22338/mka.v35.i2.p98-105.2011

Abstract

AbstrakKaries merupakan masalah kesehatan gigi yang banyak diderita oleh anak-anak seluruh dunia terutama negara berkembang termasuk Indonesia. Kerusakan gigi pada anak-anak terjadi lebih cepat dibandingkan orang dewasa karena gigi yang baru erupsi masih dalam proses maturasi dan proses mineralisasi belum sempurna. Tubuli dentin anak anak yang masih lebar menyebabkan pembentukan jaringan sklerotik tidak sempurna dan buffer saliva masih kurang sehingga aktivitas proteolitik menjadi lebih banyak di dalam mulut. Fluor merupakan zat mineral yang digunakan sebagai bahan yang efektif mencegah terjadinya karies gigi dapat membuat lapisan email tahan terhadap kerusakan yang disebabkan pelarutan email oleh zat asam. Strategi pencegahan karies lebih efektif sejak diperkenalkannya silver diamina fluoride (SDF) yang merupakan cairan tidak berwarna mengandung ion fluoride yang digunakan untuk memacu terjadinya proses remineralisasi hidoksiapatit mineral gigi. Penggunaan SDF ini merupakan metoda Arresting Caries Treatment (ACT). SDF menggabungkan efek penguatan gigi dari natrium fluoride (NaF) dan efek nitrat perak.Konsentrasi efektif solusi SDF 38% (44.800 ion fluoride ppm) digunakan untuk menghambat perkembangan karies pada gigi sulung anak-anak, terutama anak-anak yang sulit untuk dilakukan perawatan. SDF sederhana, mudah dalam mengaplikasikan dan biaya pemakaian lebih murah. SDF merupakan bahan yang tepat untuk digunakan untuk mengatasi masalah kesehatan gigi masyarakat terutama pada anak-anak.Kata Kunci : karies gigi, silver diamine fluoride, Arresting Caries Treatment, topikalAbstractDental caries is a health problem that affects many children all over the world, especially in developing countries, including Indonesia. Tooth decay in children occurs more rapidly than adults because the new tooth eruption is still in the process of maturation and mineralization process is not perfect. Dentin tubules of children is still wide lead sclerotic tissue formation was not perfect and still less saliva buffer so that a more proteolytic activity in the mouth. Fluor is a mineral substance that used as an ingredient that effectively prevent the occurrence of dental caries and can make enamel resistant to decay caused by acid dissolution email. TINJAUAN PUSTAKA99Strategy of caries prevention is more effective since the introduction of silver diamine fluoride (SDF) which is a colorless liquid containing fluoride ions are used to induce the process of remineralization mineral of tooth that is hidoksiapatit. SDF is a method of Arresting Caries Treatment (ACT). That combines the strengthening tooth effects of sodium fluoride (NaF) and the effect of nitrate perak. Used of 38% concentration of SDF solution (44,800 ppm fluoride ion) are effective to inhibit the development of caries in primary teeth of children, especially children who are difficult to be treated. SDF use is simple, easy to apply and use costs cheaper. SDF is a good material to be used in the public dental health problems, especially in children.Key word : dental caries, silver diamine fluoride, Arresting Caries Treatment, topical
COMPARISON OF FOUR METHODS TO DETECT ADVERSE EVENTS IN HOSPITAL Inge Dhamanti
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38, No 2 (2015): Published in September 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.034 KB) | DOI: 10.22338/mka.v38.i2.p139-146.2015

Abstract

AbstrakDeteksi terjadinya kejadian yang tidak diharapkan (KTD) telah menjadi salah satu tantangan dalam keselamatan pasien oleh karena itu metode untuk mendeteksi terjadinya KTD sangatlah penting untuk meningkatkan keselamatan pasien. Tujuan dari artikel ini adalah untuk membandingkan kelebihan dan kekurangan dari beberapa metode untuk mendeteksi terjadinya KTD di rumah sakit, meliputi review rekam medis, pelaporan insiden secara mandiri, teknologi informasi, dan pelaporan oleh pasien. Studi ini merupakan kajian literatur untuk membandingkan dan menganalisa metode terbaik untuk mendeteksi KTD yang dapat diimplementasikan oleh rumah sakit. Semua dari empat metode telah terbukti mampu untuk mendeteksi terjadinya KTD di rumah sakit, tetapi masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan yang perlu diatasi. Tidak ada satu metode terbaik yang akan memberikan hasil terbaik untuk mendeteksi KTD di rumah sakit. Sehingga untuk mendeteksi lebih banyak KTD yang seharusnya dapat dicegah, atau KTD yang telah terjadi, rumah sakit seharusnya mengkombinasikan lebih dari satu metode untuk mendeteksi, karena masing-masing metode mempunyai sensitivitas berbeda-beda.AbstractDetecting adverse events has become one of the challenges in patient safety thus methods to detect adverse events become critical for improving patient safety. The purpose of this paper is to compare the strengths and weaknesses of several methods of identifying adverse events in hospital, including medical records reviews, self-reported incidents, information technology, and patient self-reports. This study is a literature review to compared and analyzed to determine the best method implemented by the hospital. All of four methods have been proved in their ability in detecting adverse events in hospitals, but each method had strengths and limitations to be overcome. There is no ‘best’ single method that will give the best results for adverse events detection in hospital. Thus to detect more preventable adverse events, or adverse events that have already occurred, hospitals should combine more than one method of detection, since each method has a different sensitivity.
PENGARUH KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT DENGAN STATUS GINGIVITIS PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ANDALAS KECAMATAN PADANG TIMUR KOTA PADANG TAHUN 2012 Hidayati Hidayati; Kuswardani Kuswardani; Gustria Rahayu
Majalah Kedokteran Andalas Vol 36, No 2 (2012): Published in August 2012
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.271 KB) | DOI: 10.22338/mka.v36.i2.p215-224.2012

Abstract

AbstrakGingivitis kehamilan adalah gingivitis yang terjadi pada wanita hamil. Gingivitisdisebabkan oleh iritasi bakteri yang ada dalam plak dan kalkulus. Plak dan kalkulus merupakanindikator kebersihan mulut yang buruk. Selama kehamilan, hormon estrogen dan progesteroneakan mengalami peningkatan yang menyebabkan jaringan gingiva merespon secara berlebihanterhadap iritasi lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kebersihan rongga mulutdan status gingivitis ibu hamil serta hubungan antara tingkat kebersihan rongga mulut denganstatus gingivitis pada ibu hamil. Jenis penelitian ini adalah anayitic correlation denganpendekatan cross sectional, sampel diambil menggunakanteknik accidental sampling dengan ujistatistik Kolmogorov-Smirnov. Subjek adalah 70 wanita hamil di Puskesmas wilayah kerjaAndalas Padang Timur. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kebersihan mulut ibu hamil diwilayah kerja Puskesmas Andalas Kecamatan Padang Timur sebagian besar adalah sedang(57,1%) dan sebagian besar ibu hamil yang diperiksa mengalami gingivitis sedang (70%). Semuaibu yang diperiksa mengalami gingivitis, baik itu ibu dengan tingkat kebersihan mulut yang baik,sedang maupun buruk. Disarankan kepada ibu hamil untuk selalu menjaga kebersihan dankesehatan rongga mulutnya.Kata Kunci : gingivitis kehamilan, estrogen, progesteron, tingkat kebersihan rongga mulut,gingivitisAbstractPregnancy gingivitis is gingivitis that occurs in pregnant women. Gingivitis caused by theirritation of bacteria in plaque and calculus. Plaque and calculus is indicator of poor oral hygiene.During pregnancy, estrogen and progesterone will increase that causes excessive gingival tissueresponse to local irritation. This study aims to determine oral hygiene level and gingivitis statusin pregnant women and relationship between oral hygiene level with gingivitis status in pregnantwomen. The kind of this research is analyitic correlation with cross sectional study, sampleswere taken with accidental sampling technique with statistical test Kolmogorov-Smirnov.Subject were 70 pregnant women at the work area Puskesmas Andalas Padang Timur. Theresults showed oral hygiene level in pregnant women at the work area Puskesmas AndalasPadang Timur are mostly moderate (57.1%) and majority of them had moderate gingivitis (70%).215ARTIKEL PENELITIANAll of the pregnant women were examined had gingivitis, both pregnant women with good oralhygiene, medium and bad. It is recommended to pregnant women to always maintain the hygieneand health of the oral cavity.Key word : pregnancy gingivtis, estrogene, progesterone, oral hygiene and gingivitis.216
PERDARAHAN INTRAKRANIAL PADA BAYI DI RUMAH SAKIT DR. M. DJAMIL Amirah Zatil Izzah; Iskandar Syarif
Majalah Kedokteran Andalas Vol 32, No 1: April 2008
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22338/mka.v32.i1.p93-97.2008

Abstract

AbstrakPemberian profilaksis vitamin K pada bayi baru lahir di Indonesia belum rutin dilakukan. Hampir 2/3 dari bayi dengan perdarahan akibat defisiensi vitamin K mengalami perdarahan intrakranial. Di RS DR. M. Djamil Padang belum ada profil perdarahan intrakranial pada bayi yang dirawat. Untuk melihat profil klinis bayi yang mengalami perdarahan intrakranial yang dirawat di bangsal Anak RS DR. M. Djamil Padang, data bayi berusia lebih dari tujuh hari dengan perdarahan intrakranial yang yang dirawat dari tahun 2004-2007 dikumpulkan dan ditelaah secara retrospektif. Perdarahan intrakranial dipastikan berdasarkan hasil CT scan. Di samping itu dicatat juga umur, jenis kelamin, riwayat persalinan, jenis susu yang dikonsumsi, manifestasi klinis, data hematologi, jenis perdarahan, riwayat pemberian vitamin K, dan status ketika pulang. Dari 15 bayi yang diteliti, 11 (73,3%) adalah laki-laki, dan mayoritas (80%) berusia antara 4-8 minggu. Empat (26,7%) bayi lahir di rumah sakit, dan bidan merupakan penolong persalinan terbanyak (73,3%). Vitamin K tidak diberikan pada semua bayi saat lahir, sedangkan ASI diberikan pada 14 (93,3%) bayi. Gejala yang sering dikeluhkan adalah kejang (86,7%), pucat (80%) dan muntah (73,3%). Ubun-ubun besar yang tegang dan membonjol terdapat pada 86,7% bayi. Jenis perdarahan paling banyak adalah ganda (46,7%), dan tiga (20%) bayi meninggal dalam perawatan. Sebagai kesimpulan, perdarahan intrakranial sering ditemukan pada bayi laki-laki berusia antara 4–8 minggu, dengan perdarahan ganda paling banyak ditemukan. Vitamin K tidak diberikan pada semua bayi termasuk bayi yang lahir di rumah sakit. Sangat perlu untuk mensosialisasikan tentang pentingnya pemberian vitamin K pada semua bayi baru lahir untuk mencegah terjadinya perdarahan intrakranial.Kata kunci: perdarahan intrakranial, defisiensi vitamin K, bayiAbstractVitamin K prophylaxis of the newborn has not been routinely administered in Indonesia. Almost two third of late hemorrhage in infants due to vitamin K deficiency have intracranial hemorrhage. There is no data about intracranial hemorrhage of infant at DR. M. Djamil hospital. The aim of this study is to comprehend the clinical profile of infants with intracranial hemorrhage at Pediatric ward of DR. M. Djamil hospital. Cases of intracranial hemorrhage in infants aged seven days or more from 2004-2007 were collected. Diagnosis of intracranial hemorrhage was confirmed by CT scanning. Age, sex, vitamin K administration, feeding history, history of trauma, delivery history, placeARTIKEL PENELITIAN94of birth, clinical signs, hematologic data, bleeding type, and discharge status were examined. Of 15 infant, 12 (73.3%) were boys, majority (80%) were in the age group of 4–8 weeks. None received vitamin K at birth. Breastfeeding was given in 14 (93.3%) infants. The most delivery helper was midwive (73.3%). Convulsion (86.7%), pallor (80%), and vomiting (73.3%) were the common presenting symptoms. Anterior fontanel was tense and bulging in 86.7% infants. The most common bleeding type was multiple hemorrhage (46.7%), and three (20%) infants died during hospitalization. Intracranial hemorrhage was more prevalent in boys and more frequent at 4–8 th weeks. It is imperative to sosialize the importance of vitamin K prophylaxis to prevent hemorrhages of the newborn.Keywords: intracranial hemorrhage, vitamin K deficiency, infants
PERJALANAN PARASIT MALARIA DITINJAU DARI ASPEK IMUNOLOGI DAN BIOMOLEKULER Selfi Renita Rusjdi
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37, No 2 (2014): Published in September 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.486 KB) | DOI: 10.22338/mka.v37.i2.p143-150.2014

Abstract

Infeksi parasit malaria pada tubuh manusia terjadi akibat gigitan nyamuk Anopheles betina yang mengandung sporozoit Plasmodium. Perjalanan parasit ini dari awal infeksi sampai menimbulkan gejala klinis terdiri atas tiga tahap; yaitu tahap pre-eritrositik, tahap intrahepatik dan tahap eritrositik. Pada tahap pre-eritrosit, parasit bergerak aktif di sirkulasi hingga mencapai sel hepar. Tahap intrahepatik dimulai ketika sporozoit berhasil memasuki sel hepar dengan bantuan sel Kupffer melalui pembentukan parasitophorous vacuole. Setelah mengalami perkembangan dan multiplikasi di dalam sel hepar, parasit membentuk skizon yang terdiri dari ribuan merozoit, menempel dan memasuki eritrosit melalui interaksi ligand dengan banyak reseptor. Setiap tahapan ini melibatkan proses molekuler yang komplek termasuk pertahanan tubuh host terhadap invasi Plasmodium.
Penatalaksanaan Acute Low-tone Sensorineural Hearing Loss Jenny Tri Yuspita Sari; Jacky Munilson; Rossy Rosalinda
Majalah Kedokteran Andalas Vol 42, No 1 (2019): Published in January 2019
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.769 KB) | DOI: 10.25077/mka.v42.i1.p22-30.2019

Abstract

Acute Low-tone Sensorineural Hearing Loss (ALHL) merupakan ketulian mendadak sensorineural pada nada rendah dengan penyebab yang tidak diketahui secara jelas (idiopatik) dan tidak disertai dengan keluhan vertigo. Tujuan: Melaporkan ALHL sebagai salah satu kegawatdaruratan di bagian telinga hidung tenggorok bedah kepala dan leher (THT-KL) yang memerlukan tindakan penanganan yang cepat. Diagnosis dini dan penatalaksanaan segera pada kasus ALHL dapat meningkatkan angka kesembuhan dan menurunkan risiko ketulian permanen pada pasien. Kasus: Dilaporkan seorang  pasien perempuan 22 tahun dengan diagnosis Acute Low-tone Sensorineural Hearing Loss telinga kanan. Pasien datang dengan keluhan telinga berdengung, telinga terasa penuh, penurunan pendengaran tanpa disertai dengan pusing berputar. Pasien diberikan terapi kombinasi kortikosteroid dengan terapi tambahan lainnya dan menunjukkan perbaikan komplit dalam 2 minggu terapi. Simpulan: Pemberian terapi yang cepat dan tepat (terapi inisial) dapat memberikan perbaikan yang maksimal pada pasien dengan ALHL. Evaluasi  terapi awal sangat berpengaruh terhadap prognosis jangka panjang pasien  ALHL, terutama evaluasi pada satu bulan pertama.
GAMBARAN ANTI HBc POSITIF PADA DONOR DARAH DENGAN HbsAG NEGATIF Susila Sastri
Majalah Kedokteran Andalas Vol 33, No 2: Agustus 2009
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.671 KB) | DOI: 10.22338/mka.v33.i2.p%p.2009

Abstract

AbstrakPemeriksaan HBsAg saja untuk skrining hepatitis B (HBV) belum dapat menjamin donor darah bebas dari HBV sehingga darah donor belum memenuhi persyaratan untuk ditransfusikan. Darah donor yang akan ditranfusikan hendaklah memenuhi syarat diantaranya donor tidak pernah menderita HBV. Skrining darah donor terhadap HBV pada PMI hanya dengan uji HBsAg saja dimana HBsAg akan negatif pada stadium HBV tertentu, pada hal donor menderita atau dalam masa penyembuhan HBV. Anti-HBc dapat memberi informasi tentang perjalanan HBV bila digabungkan dengan marker HBV lain dan anti-HBc bertahan lebih lama dalam darah dibandingkan dengan marker lain. Donor darah HBsAg negatif dengan anti-HBc positif dari beberapa penelitian terdahulu masih ada yang mengandung HBV-DNA dan dapat menularkan HBV.Telah dilakukan penelitian terhadap donor darah dengan melakukan uji anti-HBc secara deskriptif terhadap donor darah dengan HBsAg negatif (n=100) pada UTD PMI Cabang Padang secara cross sectional study. Sampel diambil secara proportional random sampling. Darah sampel adalah darah HBsAg negatif dengan VDRL, HVC, HIV  negatif , semuanya diperiksa dengan dengan ELISATujuan penelitian untuk melihat gambaran anti-HBc positif pada donor darah dengan HBsAg negatif dan melihat hubungan antara indeks HBsAg dengan indeks anti-HBc. Pemeriksaan anti-HBc dilakukan dengan ELISA, alat dan reagen keluaran yang sama.Hasil penelitian menunjukkan frekuensi anti-HBc positif pada donor darah dengan HBsAg negatif sebanyak 27%, terutama pada laki-laki berumur antara 20-29 tahun (44,4%). Terdapat korelasi positif antara indeks HBsAg negatif dengan indeks anti-HBc (r = 0,02). Anti-HBc positif banyak ditemukan pada indeks HBsAg negatif 0,21-0,60 (76%).Kesimpulan, darah donor dengan HBsAg negatif yang selama ini dianggap aman untuk transfusi terbukti masih mungkin menularkan HBV dengan ditemukannya anti-HBc yang positif. Karena itu perlu pemeriksaan lanjutan DNA HBV pada donor darah dengan HbsAg negatif dan antiHbc positif untuk memastikan darah donor tersebut tidak boleh ditransfusikan.Kata kunci: Skrining, HBV, HBsAg, Anti-HBc, donor darah  Abstract            HBsAg examination alone to screen for hepatitis B (HBV) has not been able to guarantee freedom from HBV blood donor so that blood donors have not fulfilled the requirements to be transfused. Blood donors will be transfused donors should qualify them have never suffered from HBV. Screening of blood donors against HBV in the PMI only with HBsAg alone where the HBsAg test is negative at certain stages of HBV, in terms of donors suffering or recovering in HBV. Anti-HBc can provide information on HBV trip when combined with other HBV markers and anti-HBc last longer in the blood compared with other markers. HBsAg negative blood donors with anti-HBc positive than some previous research is still exist that contain HBV-DNA and can transmit HBV.Has done research on blood donors with anti-HBc test descriptively against HBsAg negative blood donors (n = 100) on the UTD PMI Branch of Padang in cross sectional study. Samples taken by proportional random sampling. Blood samples were HBsAg negative blood VDRL, HCV, HIV negative, all examined by the ELISA. The aim is to see the picture of positive anti-HBc in blood donors with HBsAg negative and look at the relationship between the index of HBsAg with anti-HBc index. Examination of anti-HBc by ELISA, equipment and reagents the same output. The results showed the frequency of positive anti-HBc in HBsAg negative blood donors by 27%, especially in men aged between 20-29 years (44.4%). There is a positive correlation between the index of negative HBsAg with anti-HBc index (r = 0.02). Anti-HBc positive are found in HBsAg negative index of 0.21 to 0.60 (76%). In conclusion, blood donors with negative HBsAg have been considered safe for transfusion is still likely to transmit HBV proven by the discovery of anti-HBc positive. Because it needs a further examination of HBV DNA in blood donors with HBsAg negative and positive antiHbc to ensure donor blood should not be transfused.Key words: screening, HBV, HBsAg, Anti-HBc, blood donors
PENATALAKSANAAN PLEOMORFIK ADENOMA PALATUM Sukri Rahman; Bestari Jaka Budiman; Yolazenia Yolazenia
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38, No 1 (2015): Published in May 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.794 KB) | DOI: 10.22338/mka.v38.i1.p66-72.2015

Abstract

AbstrakPleomorfik adenoma merupakan tumor jinak campuran yang terdiri dari komponen sel epitel, mioepitel dan mesenkim yang tersusun dalam beberapa variasi. Tumor ini paling sering ditemukan pada kelenjar liur. Kelenjar liur mayor yang paling umum dikenai adalah kelenjar parotis, sedangkan kelenjar liur minor paling sering terjadi pada palatum. Terapi pilihan untuk pleomorfik adenoma kelenjar liur adalah reseksi tumor. Kasus ini diajukan agar dokter umum dan dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorok dapat mengetahui diagnosis dan penatalaksanaan pasien dengan pleomorfik adenoma pada palatum. Dilaporkan satu kasus pada seorang pasien laki-laki umur 49 tahun dengan benjolan yang tidak nyeri di palatum sejak 3 bulan sebelum masuk rumah sakit, histopatologi mengkonfirmasi pleomorfik adenoma sebagai diagnosisnya. Pada pasien ini dilakukan reseksi tumor sebagai penatalaksanaannya. Tumor jinak pada palatum sering berupa pleomorfik adenoma yang bila dilakukan reseksi tumor secara komplit memberikan prognosis yang baik.AbstractPleomorphic adenoma is a benign mixed tumour composed of epithelial, myoepithelial, and mesenchymal components arranged with various morphological patterns. This is the most common tumour of the salivary glands. The parotid gland was the most commonly affected major gland, and the palate the most common site of minor salivary gland involvement. Treatment of choice for pleomorphic adenoma of salivary gland is tumour resection. This case is presented to enlighten general practitioners and also otorhino-laryngologists about diagnosis and treatment of pleomorphic adenoma of the palate. Reported case of a 49 years old male with painless mass on the palate since 3 months before admission. Pathologic examination confirmed the diagnosis was pleomorphic adenoma. Tumour resection was performed to manage the patient. Pleomorphic adenoma is the most common benign tumour of the palate, which has good prognosis with complete resection of the tumour.

Page 7 of 80 | Total Record : 792


Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 48 No. 4 (2025): MKA October 2025 Vol. 48 No. 3 (2025): MKA July 2025 Vol. 48 No. 2 (2025): MKA April 2025 Vol. 48 No. 1 (2025): MKA January 2025 Vol 46, No 12 (2024): Online Oktober 2024 Vol 46, No 11 (2024): July 2024 Vol 46, No 10 (2024): Online May 2024 Vol 46, No 10 (2024): Supplementary April 2024 Vol. 47 No. 4 (2024): MKA October 2024 Vol. 47 No. 3 (2024): MKA July 2024 Vol. 47 No. 2 (2024): MKA April 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): MKA Januari 2024 Vol 46, No 9 (2024): Supplementary Januari 2024 Vol 46, No 8 (2024): Online Januari 2024 Vol 46, No 7 (2023): Supplementary December 2023 Vol 46, No 5 (2023): Supplementary July 2023 Vol 46, No 4 (2023): Online Juli 2023 Vol. 46 No. 3 (2023): Online Juli 2023 Vol. 46 No. 3 (2023): Supplementary July 2023 Vol 46, No 3 (2023): Supplementary May 2023 Vol 46, No 2 (2023): Online April 2023 Vol 46, No 1 (2023): Online Januari 2023 Vol 46, No 6 (2023): Online Oktober Vol. 46 No. 4 (2023): Online Oktober Vol 45, No 4 (2022): Online October 2022 Vol 45, No 3 (2022): Online July 2022 Vol 45, No 2 (2022): Online April 2022 Vol 45, No 1 (2022): Online Januari 2022 Vol 44, No 7 (2021): Online Desember 2021 Vol 44, No 6 (2021): Online November 2021 Vol 44, No 5 (2021): Online Oktober 2021 Vol 44, No 4 (2021): Online September 2021 Vol 44, No 3 (2021): Online August 2021 Vol 44, No 2 (2021): Online July 2021 Vol 44, No 1 (2021) Vol 43, No 2 (2020): Online Mei 2020 Vol 43, No 1 (2020): Published in January 2020 Vol 42, No 3 (2019): Published in September 2019 Vol 42, No 3S (2019): Published in November 2019 Vol 42, No 2 (2019): Published in May 2019 Vol 42, No 1 (2019): Published in January 2019 Vol 41, No 3 (2018): Published in September 2018 Vol 41, No 2 (2018): Published in May 2018 Vol 41, No 1 (2018): Published in January 2018 Vol 40, No 2 (2017): Published in September 2017 Vol 40, No 1 (2017): Published in May 2017 Vol 39, No 2 (2016): Published in August 2016 Vol 39, No 1 (2016): Published in April 2016 Vol 38, No 3 (2015): Published in December 2015 Vol 38, No 2 (2015): Published in September 2015 Vol 38 (2015): Supplement 1 | Published in September 2015 Vol 38, No 1 (2015): Published in May 2015 Vol 37, No 3 (2014): Published in December 2014 Vol 37, No 2 (2014): Published in September 2014 Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014 Vol 37 (2014): Supplement 1 | Published in March 2014 Vol 37, No 1 (2014): Published in May 2014 Vol 36, No 2 (2012): Published in August 2012 Vol 36, No 1 (2012): Published in April 2012 Vol 35, No 2 (2011): Published in August 2011 Vol 35, No 1 (2011): Published in April 2011 Vol 34, No 2 (2010): Published in August 2010 Vol 34, No 1 (2010): Published in April 2010 Vol 33, No 2: Agustus 2009 Vol 33, No 1: April 2009 Vol 32, No 2: Agustus 2008 Vol 32, No 1: April 2008 More Issue