cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pekalongan,
Jawa tengah
INDONESIA
RELIGIA
ISSN : 14111632     EISSN : 25275992     DOI : -
Religia is a periodical scientific journal with ISSN Print: 1411-1632; Online: 2527-5992 published by the Faculty of Ushuluddin, Adab and Da'wah IAIN Pekalongan. This journal specializes in the study of Islamic sciences (Islamic Theology, Philosophy and Islamic thought, Tafsir-Hadith, Science of Da'wah, and Sufism). The managers invite scientists, scholars, professionals, and researchers in Islamic scholarship disciplines to publish their research results after the selection mechanism of the manuscript, the review of the partner bebestari, and the editing process. The Religia Journal is published in April and October each year. This journal has been indexed in a reputable national indexing agency.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 21 No 2: Oktober 2018" : 14 Documents clear
Infiltrasi Dakwah Moderat dalam Novel Kyai Joksin - Kyai Tanpa Pesantren Nuriyah, Nuriyah
RELIGIA Vol 21 No 2: Oktober 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.504 KB) | DOI: 10.28918/religia.v21i2.1506

Abstract

Artikel ini menjelaskan dakwah dalam karya fiksi, yakni novel Kyai Joksin Kyai Tanpa Pesantren karya Imam Sibawaih el-Hasany. Sebuah karya sastra termasuk selalu menyimpan pesan yang hendak disampaikan. Pesan moral agama seringkali disajikan dalam karya bentuk novel untuk tujuan menginspirasi masyarakat pembacanya. Novel Kyai Joksin Kyai Tanpa Pesantren merupakan salah satu karya sastra yang sarat dengan pesan religius khususnya berkaitan dengan dakwah. Dengan pendekatan teori dakwah, fokus kajian ini berkaitan dengan metode dakwah yang digunakan Kyai Joksin. Kajian ini menghasilkan kesimpulan bahwa Novel Kyai Joksin Kyai Tanpa Pesantren adalah sebuah novel yang bercerita mengenai perjalanan kisah seorang kyai yang tidak mempunyai pesantren namun dakwahnya mampu memberikan pengaruh signifikan karena metode yang diterapkan berupa kesantunan dan lemah lembut, uswatun hasanah, dakwah dengan nasihat, wasiat, dakwah dengan hikmah, tidak melakukan diskriminasi sosial, dakwah dengan metode tanya jawab dan dialog.
Urban Sufism And Transformation Of Islamic Culture In Millenial Society Nurani, Shinta
RELIGIA Vol 21 No 2: Oktober 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.404 KB) | DOI: 10.28918/religia.v21i2.1508

Abstract

Penelitian ini membahas tentang Sufisme masyarakat perkotaan yang menjadi tren budaya Islam populer di masyarakat milenium. Memahami tentang Sufisme menjadi bentuk untuk menemukan solusi masalah kehidupan yang hanya memiliki karakteristik temporer dan reaksioner. Sufisme yang semula di bidang privat kemudian berkembang menjadi budaya Islam populer untuk menciptakan kesalehan sosial. Budaya Islam populer itu adalah bentuk kebiasaan hidup berulang (habitus) dan diterima secara kolektif sebagai bentuk kebiasaan umum. Pembentukan kebiasaan Sufi di kalangan masyarakat perkotaan memulai penciptaan simbol Sufi perkotaan seperti kesalehan, hijab, jubah, serban, sarung dan lain-lain. Fenomena ini memicu lahirnya transformasi konsep dan praktik tasawuf dalam kelompok tariqa seperti Tarekat Naqsabandiyah Haqqani Pekalongan. Oleh karena itu, fokus makalah ini akan membahas tentang bagaimana transformasi konvensional tasawuf terhadap Sufisme perkotaan, fenomena Sufisme perkotaan terkait dengan kyai menjadi agen transformasi sosial di Tarekat Naqsabandiyah Haqqani di Pekalongan dan diskusi sufisme perkotaan sebagai populer simbol Islam di era seribu tahun. 
Teologi Eksklusif Era Kolonial - Potret Pemikiran KH. Ahmad Rifa’i tentang Konsep Iman Ma'mun, Ma'mun
RELIGIA Vol 21 No 2: Oktober 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.209 KB) | DOI: 10.28918/religia.v21i2.1509

Abstract

Tulisan ini akan menyoal fakta menarik tentang ekslusivitas teologi yang muncul dalam pemikiran KH. Ahmad Rifa’i Batang di era kolonial. Kajian akan difokuskan pada konsep iman yang digagas Kiai Rifa’i dalam karya-karyanya. Data diperoleh dari karya-karya Kiai Rifa’i yang ajarkan kepada para murid-muridnya. Data-data tersebut akan dianalisis dengan pendekatan fenomenologi dengan mengacu pada fakta-fakta teologis dan filosofis yang mewarnai pemikiran Kiai Rifa’i. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekslusivitas teologi dalam pemikiran Kiai Rifa’i terbentuk karena adanya polarisasi terhadap kualitas iman manusia, yang dibedakan menjadi tiga: (1) Iman Maqbul, yakni iman orang mukmin yang hanya melakukan dosa kecil; (2) Iman Mauqūf, yaitu iman orang yang melakukan dosa besar penyebab fasik; (3) Iman Mardūd, adalah iman orang munafik dan orang yang melakukan dosa besar penyebab kafir. Dari trilogi iman tersebut, beberapa masalah fiqh kerap dihukumi oleh Kiai Rifa’i dengan kesimpulan yang bersifat eksklusif seperti dalam pernikahan dan Sholat Jum’at yang menurutnya dihukumi tidak sah, karena pada dua masalah itu terdapat peran orang yang kualitas keimanannya masuk dalam kategori “Iman Mauquf”, yakni para penghulu yang mau membantu pemerintahan kolonial (Belanda).
Transformasi Identitas Etnis Melalui Konversi Keyakinan di Masyarakat Pontianak Kalimantan Barat Nugraha, Muhammad Tisna
RELIGIA Vol 21 No 2: Oktober 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.759 KB) | DOI: 10.28918/religia.v21i2.1504

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena rapuhnya konsep identitas etnis dalam masyarakat multikultural. Identitas bukan sebatas menunjuk pada sesuatu yang melekat secara permanen pada individu, tetapi juga pada sesuatu yang terus mengalami perkembangan dan transformasi melalui dasar keyakinan (reiligi). Identitas etnis memang seringkali dikaitkan dengan perbedaan ras, agama, tanah kelahiran, dan latar belakang historis. Perbedaan ini, meskipun demikian, tidak menjadi sesuatu yang dipermasalahkan ketika individu berpindah agama ke Islam. Konversi agama lain ke Islam sebagai konsekuensinya mempengaruhi sejauhmana seseorang diakui sebagai bagian dari etnis tertentu. Studi ini dilakukan pada etnis Dayak, Melayu dan Tionghoa di Pontianak, Kalimantan Barat dengan pengumpulan informasi melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil studi menunjukkan bahwa latar belakang etnis cenderung tidak berperan dalam praktik interaksi sosial yang bersifat multilateral. Dalam konteks ini, kelompok-kelompok etnis beserta anggotanya, justru lebih mudah dipersatukan oleh kesamaan etnis-keagamaan (etno-religius) dibandingkan faktor-faktor lainnya. Disinilah siklus etnisitas telah kembali pada fase klasik dimana pembentukan etnis tidak hanya ditentukan oleh latar belakang historis, wilayah, dan pertalian darah melainkan juga agama.
Peneguhan Identitas dan Ideologi Majelis Mujahidin Melalui Terjemah Al-Qur’an Yahya, Mohamad
RELIGIA Vol 21 No 2: Oktober 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (954.227 KB) | DOI: 10.28918/religia.v21i2.1510

Abstract

This study focuses on Koreksi Tarjamah Harfiyah al-Qur’an Kemenag RI (QTK) by Muhammad Thalib, Amir (Leader) Majelis Mujahidin. Significance of this focus is due only Thalib who is bold and sincere against the authority of Al-Qur’an dan Terjemahnya by The Ministry of Religious Affairs of the RI. This study uses social identity theory and critical discourse analysis. The conclusion of this study says that Thalib’s interpretation or translation, Koreksi QTK and QTT, represent the social identity of Thalib and MM, as his context. Koreksi QTK (and QTT) is not merely a normative religious ritual; it is also the result of Thalib's dialectic in MM context with the socio-political context of Indonesia. Koreksi QTK  (and QTT) is a self-affirming social media of Thalib and MM that attempt to illustrate illusively with a more peaceful, harmonious, anti-extremist-jihadist face. Both of these books are also a tool of the ideological campaign and political orientation of MM. The effort of delegitimizing QTK and the inauguration of QTT authority became a vital medium in the effort to sow the ideology and political orientation of MM in Nusantara context.
Kiai Muhaimin and His Outreach Activity of Dakwah for Promoting Moderation and Preventing Conflict: Seeding Pluralism vis-a-vis Preaching Religion Sobirin, Mohamad
RELIGIA Vol 21 No 2: Oktober 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1020.357 KB) | DOI: 10.28918/religia.v21i2.1505

Abstract

Dakwah yang dilakukan oleh seorang Kiai biasanya dilangsungkan di Masjid, Pondok Pesantren, Majlis Taklim, atau forum keagamaan Islam lainnya. Kegiatan dakwahnya dalam banyak kasus dilakukan dengan menyerukan pengikut Islam supaya menjadi Muslim yang sempurna (Muslim Kaffah), dan membangkitkan mereka yang tidak menganut Islam agar tertarik masuk Islam demi keselamatan mereka di akhirat. Namun, dakwah semacam itu tidak berlaku jika kita melihat praktik dakwah yang ditunjukkan oleh seorang Kiai dari Yogyakarta, yang akrab dipanggil sebagai Kiai Muhaimin. Dia tidak hanya mengajarkan Islam di komunitasnya dan tempat-tempat lazimnya dakwah Islam, tetapi juga di gereja-gereja dan tempat ibadah lainnya. Dakwahnya telah menjangkau beberapa tempat ibadah selain Islam. Dia tidak mendakwahi non-Muslim agar tertarik melakukan konversi menjadi Muslim, tetapi justru mempromosikan toleransi dan pemahaman pluralisme. Demikian juga, pernyataan religiusnya tentang Islam di komunitas Muslim adalah untuk menumbuhkan pluralisme aktual di kalangan umat Islam. Dia telah merumuskan kerangka konseptual bagi dakwah moderat dalam Islam sebagai dasar filosofis untuk membangun toleransi dan koeksistensi dalam masyarakat multikultural dan kehidupan sosial keagamaan di Indonesia, seperti yang dilakukannya melalui organisasi yang ia dirikan, yaitu FPUB (Forum Persaudaraan Umat Beragama).
Ta’wīl Teologis Abū Manṣūr Al-Māturīdī (Pembacaan Kritis atas Ayat-ayat Keesaan Tuhan) Tazkiyah, Izzatu
RELIGIA Vol 21 No 2: Oktober 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.239 KB) | DOI: 10.28918/religia.v21i2.1511

Abstract

Secara historis, diskursus tafsīr dan ta’wīl tidak selalu berjalan beriringan. Terlebih ketika madzhab al-Asy’ārī memperoleh kekuasan, tafsīr telah diposisikan lebih unggul dibanding ta’wīl yang keberadaannya tidak saja dianggap sebagai oposisi madzhab melainkan telah dinilai menyimpang dari kebenaran. Dalam penelitian ini, penulis berusaha menyingkap ta’wīl teologis al-Māturīdī dalam magnum opusnya Ta’wīlāt Ahl al-Sunnah dan Kitāb al-Tauhīd. Karya al-Māturīdī menjadi obyek penelitian dengan mempertimbangkan bahwa ia dianggap mampu menjembatani antara kalangan tradisionalis (Asy’ariyah) dan rasionalis (Muktazilah). Sementara pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan teologi dan tafsīr komparatif. Setidaknya penulis menemukan tiga temuan pokok di antaranya: Pertama konsepsi ta’wīl yang dikonstruk al-Māturīdī dalam tafsīrnya nampak begitu longgar. Kedua, objektivitas makna yang dihadirkan terkadang tereduksi oleh pandangan-pandangan teologisnya yang nampak subyektif. Ketiga, di satu sisi pandangan teologisnya mampu meredam paham-paham yang dianggap berseberangan dengan Islam, sementara di lain sisi menunjukan bahwa al-Māturīdī berusaha membasiskan doktrin teologi Sunni.
Transformasi Identitas Etnis Melalui Konversi Keyakinan di Masyarakat Pontianak Kalimantan Barat Muhammad Tisna Nugraha
Religia Vol 21 No 2: Oktober 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v21i2.1504

Abstract

This paper aims to explain the phenomenon of the fragility of the concept of ethnic identity in a multicultural society. Ethnic identity does not exclusively refer to something that is permanently attached to an individual. Rather, it also has to do with something that experiences development and transformation on the basis of the individual’s religious belief (religion). Indeed, ethnic identity oftentimes is associated with differences in race, religion, birthplace, and historical background. These differences, however, do not mater when individuals convert to Islam. Conversion to Islam as a consequence affects the extent to which individuals’ different ethnic identity is recognized as part of other ethnic identities. We conducted this study among ethnic Dayaks, Malays and Chinese in Pontianak, West Kalimantan. Data were obtained by means of interviews, observation and documentation. The main finding of the study reveals that ethnic backgrounds did not play a convincing role in the practice of multilateral social interactions. In this context, ethno-religious similarity more so than other factors easily unite members of ethnic groups. Here then lies the cycle of ethnicity that has returned to the classical phase wherein ethnic formation is not only determined by historical background, territory, and blood relations, but also religion.
Kiai Muhaimin and His Outreach Activity of Dakwah for Promoting Moderation and Preventing Conflict: Seeding Pluralism vis-a-vis Preaching Religion Mohamad Sobirin
Religia Vol 21 No 2: Oktober 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v21i2.1505

Abstract

Dakwah (English: Preaching) by Kiai (English: Javanese terminology referring to a Muslim cleric) commonly takes place in mosques, Islamic Boarding Schools, Majlis Taklim, or other Islamic religious forums. The dakwah is practiced mostly by inviting adherents of Islam to be a truly Muslim (Muslim Kaffah), or evoking non-Muslims to convert their religion into Islam for the sake of their salvation in the hereafter. However, a kiai in Yogyakarta who is familiarly called Kiai Muhaimin has practiced a unique style of dakwah. He preaches Islam not only in his in-group communities and habitual places but also in churches and other religious places of worship. His dakwah thus has been reaching a wide range of places of worship of besides Islamic ones. He did not call for non-Muslims to convert to Islam. Rather, he has promoted tolerance and a better understanding of pluralism. Likewise, he aims his religious standpoints on Islam in Muslim communities for seeding actual pluralism among Muslims. He has formulated a conceptual framework of Islamic moderate dakwah as a philosophical basis for building tolerance and coexistence in Indonesian multicultural society and socio-religious life. Through the organization he established, i.e., FPUB (Interfaith Brotherhood Forum), he put into practice such an Islamic moderation.
Infiltrasi Dakwah Moderat dalam Novel Kyai Joksin - Kyai Tanpa Pesantren Nuriyah Nuriyah
Religia Vol 21 No 2: Oktober 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v21i2.1506

Abstract

This article aims to explain dakwah in the fiction novel Kyai Joksin Kyai Tanpa Pesantren by Imam Sibawaih el-Hasany. A literary work more often than not contains messages the author wants to convey. Religious moral messages are often presented in the form of a novel, with the goal of inspiring the readers. Novel Kyai Joksin Kyai Tanpa Pesantren is one of the literary works full of religious messages, which are particularly connected to dakwah. Through the lens of dakwah theory, this study focuses on the method of dakwah used by Kyai Joksin. This study concludes that Novel Kyai Joksin Kyai Tanpa Pesantren is a narrative about the journey of a kyai who has no pesantren (English: Islamic boarding school). Despite this drawback, but the preaching of the kai turns out to be effective. This effectiveness resides upon the methods of the dakwah the kyai applied which are characterised by politeness and gentleness, uswatun hasanah, advice, wills, wisdom, justice, and dialogue.

Page 1 of 2 | Total Record : 14