cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pekalongan,
Jawa tengah
INDONESIA
RELIGIA
ISSN : 14111632     EISSN : 25275992     DOI : -
Religia is a periodical scientific journal with ISSN Print: 1411-1632; Online: 2527-5992 published by the Faculty of Ushuluddin, Adab and Da'wah IAIN Pekalongan. This journal specializes in the study of Islamic sciences (Islamic Theology, Philosophy and Islamic thought, Tafsir-Hadith, Science of Da'wah, and Sufism). The managers invite scientists, scholars, professionals, and researchers in Islamic scholarship disciplines to publish their research results after the selection mechanism of the manuscript, the review of the partner bebestari, and the editing process. The Religia Journal is published in April and October each year. This journal has been indexed in a reputable national indexing agency.
Arjuna Subject : -
Articles 300 Documents
Riba dalam Tinjauan Al-Quran Ade Dedi Rohayana
Religia Vol 18 No 1: April 2015
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v18i1.622

Abstract

Artikel ini membahas tentang riba menurut al- Qur'an. Dalam konteks masyarakat kontemporer, pemahaman kaum muslim hingga saat ini masih terjadi perbedaan pemikiran tentang konsep riba. Karena itu, kajian tentang riba masih dirasa aktual sampai sekarang, terutama kajian riba menurut al-Quran juga hadis sebagai rujukan utama kaum muslim. Beberapa ayat tentang riba dikaji dalam tulisan ini berdasarkan konsep turunnya ayat, baik ayat riba turun di Mekah maupun di Madinah. Alasan hukum dari ayat-ayat tersebut juga dijelaskan untuk memperkuat argumen. Berdasarkan kajian, tampak bahwa riba yang sudah jelas haram dalam al-Quran adalah riba pada masa jahiliyah yang diberi nama riba nasi’ah atau riba fahisy atau rabh murakkab atau faidah murakkabah. Riba yang seperti ini diharamkan secara pasti oleh Nash al-Quran, sedangkan kata adh’afan mudha’afah sebagai penjelasan khusus (incident clarifier) dan ilustrasi keadaan manusia pada masa jahiliyah, selain menjelaskan ketercelaan perbuatan tersebut yang mengandung penganiayaan dan penindasan kepada mereka yang sedang kesulitan. Kata adh’afan mudha’afah tidak menjelaskan bahwa riba yasir (riba yang sedikit) adalah halal, karena itu bukan maksud ayat ini, selain karena riba itu baik sedikit maupun banyak tetap diharamkan dan termasuk dosa besar. Dalam ayat juga dijelaskan bahwa riba yang diharamkan merugikan salah seorang tanpa satu sebab kecuali keterpaksaannya, serta menguntungkan pihak lain tanpa usaha kecuali penganiayaan dan ketamakan. Hal ini berbeda dengan investasi yang memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak.
Waria’s Religion and Interreligious Dialogue: a Case of Waria Community In Kebaya NGO Yogyakarta Muta‘ali Arauf
Religia Vol 18 No 1: April 2015
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v18i1.623

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami 'Agama waria' dan dialog antariman, dalam artian bahwa mereka mempunyai pengalaman keberagamanya. Mereka punya pandangannya tersendiri tentang Tuhan, tentang ibadah, tentang takdir, dan dosa. Mereka memandang Tuhan dalam intimasi personal yang mendalam. Mereka juga memosisikan Tuhan sebagai satu-satunya dzat yang membuat mereka tercipta sebagai waria. Terlepas dari bagaimana pandangan mereka tentang dosa dan tidaknya “menjadi waria”, yang jelas relasi mereka dengan Tuhan masih sering terjadi di ruang privat.
Zakat Produktif: Studi Pemikiran KH. MA. Sahal Mahfudh Jamal Ma'mur
Religia Vol 18 No 1: April 2015
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v18i1.624

Abstract

Zakat adalah satu-satunya rukun Islam yang secara spesifik berbicara tentang pemberdayaan ekonomi umat. Sayangnya, pola pemberian zakat selama ini bercorak konsumtif, dalam arti diberikan secara instan atau kontan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan zakat tidak mampu mengubah kemiskinan umat menuju kemandirian yang dicita-citakan Islam. KH. MA. Sahal Mahfudh yang dikenal dengan gagasan fikih sosial mengubah realitas ini. Kiai Sahal memaknai zakat sebagai ajaran Islam yang berorientasi pada pengentasan kemiskinan. Zakat harus dikelola secara profesional supaya mampu mewujudkan cita-cita besar Islam, yaitu kesejahteraan dan keadilan sosial. Dalam konteks ini, zakat harus diberikan secara produktif, tidak konsumtif. Zakat produktif adalah zakat yang bisa mengeluarkan mustahik dari jurang kemiskinan menuju kemandirian dan kesejahteraan ekonomi. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menjadikan dana zakat sebagai modal usaha yang dikelola secara profesional. Dalam melakukan agenda transformasi ini, Kiai Sahal membentuk teamwork yang solid dan kapabel dengan memberikan life skills kepada kelompok yang berhak menerima zakat sehingga mereka bisa mengelola dana zakat secara produktif.
Fragmentasi Tafsir Surah Al-'Alaq Berbasis Kronologi (Studi atas Fahm al-Qur'an al-Hakim: al-Tafsir al-Wadhih Hasb Tartib al-Nuzul Karya Muhammad 'Abid al-Jabiri) Muhammad Julkarnain
Religia Vol 18 No 2: Oktober 2015
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v18i2.625

Abstract

Penelitian ini berkesimpulan bahwa Fahm al-Qur’an al-Hakim: al-Tafsir al-Wadhih Hasb Tartib al-Nuzul Karya Muhammad Abid al-Jabiri secara epistemologis memiliki metode tartib nuzuli, corak tarikhi (historis) dengan sumber penafsiran al-Ra’y dan atsar. Hal ini bertujuan untuk memproduksi sebuah penafsiran-penafsiran yang realistis, rasional, aplikatif dan memiliki basis keilmuan yang kokoh. Konstruksi pemahaman pola ini, termasuk dalam usaha menafsirkan teks al-Qur’an banyak dipengaruhi oleh perspektif post-modernis. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan historis- filosofis, penelitian ini berusaha menggambarkan karakteristik pemikiran Abid al-Jabiri secara komprehensif.
Ilmu Kalam dalam Sorotan Filsafat Ilmu Amat Zuhri; Miftahul Ula
Religia Vol 18 No 2: Oktober 2015
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v18i2.626

Abstract

Melihat ilmu kalam dari sisi epistemologi, secara umum akan ditemukan tiga persoalan pokok, yaitu tentang sumber-sumber ilmu kalam itu, bagaimana pengetahuan itu dapat diketahui dan apa ukuran suatu pengetahuan itu disebut benar atau valid. Berkaitan dengan pertanyaan ketiga, sejarah telah mencatat bahwa di antara para penganut aliran-aliran kalam yang ada selalu mengklaim bahwa aliran yang dianutnya adalah yang benar sementara aliran yang lain adalah salah. Maka dalam penelitian ini penulis akan mencoba melihat kembali aliran-aliran kalam yang ada dengan menggunakan pendekatan tiga teori kebenaran, yaitu korespondensi, koherensi dan pragmatism. Tujuannya adalah untuk melihat ilmu kalam tidak hanya dari sisi epistemologi tapi juga dari sisi aksiologi sehingga sekarang ini tidak perlu lagi memperdebatkan mana yang lebih benar di antara aliran-aliran kalam yang ada, tetapi melihat mana yang lebih cocok untuk dipegang sesuai dengan situasi dan kondisi zaman.
Maqamat Tasawuf dan Terapi Kesehatan Mental (Studi Pemikiran Amin Syukur) Yoana Bela Pradityas; Imam Hanafi; Esti Zaduqisti
Religia Vol 18 No 2: Oktober 2015
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v18i2.627

Abstract

Kesehatan mental mencerminkan pada ketenangan, keharmonisan dan ketenteraman jiwanya. Hal tersebut sesuai dengan pemikiran Amin Syukur mengenai maqāmāt tasawuf bagi terapi mental. Metode penelitian yang digunakan adalah library research. Selain itu, teknik pengumpulan data juga dilakukan dengan wawancara kepada sumber data primer untuk tujuan cek dan ricek (trianguasi). Semua data dianalisis menggunakan metode deskriptif analisis dan content analysis. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini, yaitu: Pertama, bahwa konsep tasawuf Amin Syukur termasuk dalam tasawuf akhlaki. Menurut Amin Syukur tasawuf akhlaki merupakan ajaran mengenai moral atau akhlak yang hendaknya diterapkan sehari-hari guna memperoleh kebahagiaan yang optimal. Kedua, bahwa Amin Syukur memandang Maqamat dalam tasawuf dapat dijadikan sebagai konsep dasar bagi penyembuhan berbagai penyakit, terutama mental dan dapat juga dijadikan sebagai sumber penyembuhan penyakit fisik. Ketiga, masyarakat modern saat ini mengalami beberapa problem, seperti himpitan ekonomi, kenakalan remaja, kegelisahan, kecemasan, stres dan depresi. Maka dari itu, tasawuf memberikan kontribusi upaya penyembuhan dengan melalui amaliah-amaliah tasawuf seperti ridha terhadap ketentuan, harus bersikap sabar terhadap segala persoalan yang dihadapi, harus membiasakan sikap hidup zuhud (tidak glamor).
Pendekatan Semiotika dan Penerapannya dalam Teori Asma’ Al-Qur’an Fadhli Lukman
Religia Vol 18 No 2: Oktober 2015
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v18i2.628

Abstract

Paradigma Integrasi-interkoneksi meniscayakan penggunaan pendekatan-pendekatan baru dalam studi Islam, termasuk studi al-Qur’an. Semiotika adalah salah satu pendekatan modern dan post-modern yang belakangan digemari. Artikel ini berniat melihat prinsip-prinsip semiotika dan bagaimana contoh penerapannya dalam studi al-Qur’an. Pendekatan ini dipandang bisa memberikan perkembangan bagi teori Asma’ al-Qur’an yang sejauh ini terlihat stagnan. Pendekatan ini berpotensi membawa teori tersebut ke arah yang lebih progresif, yaitu sebagai self-identity al-Qur’an.
Pola Redaksi Matan Hadis dalam Kitab Majmû’ah al-Syarî’ah Karya K.H. Saleh Darat Mudzakiron Mudzakiron; Arif Chasanul Muna
Religia Vol 18 No 2: Oktober 2015
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v18i2.629

Abstract

Kitab Majmȗ’ah al-Syarĩ’ah al-Kãfiyah li al-‘Awam merupakan kitab penting dalam khasanah keilmuan Nusantara. Kitab yang ditulis oleh Kyai Saleh Darat dengan aksara pegon dan berbahasa jawa ini menjadi rujukan masyarakat dalam bidang akidah, fiqh dan juga akhlak-tasawuf. Sebagaimana kecenderungan ulama sunni yang lain, Kyai Saleh Darat mempunyai pandangan bahwa hadis Nabi merupakan dalil keagamaan yang otoritatif, sehingga di dalam kitab Majmȗ’ah al-Syarĩ’ah banyak ditemukan hadis-hadis Nabi sebagai dalil. Objek kajian penelitian ini adalah matan-matan hadis yang tercantum dalam kitab Majmȗ’ah al-Syarĩ’ah. Yang menjadi fokus kajian adalah kesamaan dan ketidaksamaan redaksi matan yang terdapat dalam kitab Majmȗ’ah al-Syarĩ’ah dengan matan-matan yang terdapat dalam kitab-kitab hadis primer. Kajian ini penting sebab periwayatan hadis bi al-ma’nā paska pengkodivikasian hadis merupakan permasalahan yang banyak menyita perhatian para akademisi hadis.
تصييغ بسانترين كقائد للحضارات الإسلامية الدولية (دراسة عن حضارة الكتابة والتراث وحضارة االتوسط والتسامح واالتعادل في بسانترين Muhammad Makmun
Religia Vol 18 No 2: Oktober 2015
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v18i2.630

Abstract

Tulisan ini membahas tentang bagaimana pesantren tampil sebagai pelopor peradaban Islam dunia melalui tradisi tulis menulis, turats, sikap toleran dan moderat. Peneliti menjabarkan beberapa hasil temuan berikut: 1) Pesantren berperan penting dalam membentuk peradaban Islam dunia melalui tradisi tulis menulis, menjaga turats, bersikap toleran dan moderat. 2) tradisi tulis menulis yang lahir dari dunia pesantren selama ini telah membentuk peradaban Islam dunia melalui peran para ulama dan kiyai pesantren. Karyakarya mereka baik dalam bahasa Arab, Inggris, Jerman dan lainlain telah dikenal luas dalam dunia akademik internasional. 3) Tradisi dalam bentuk bersikap toleran dan moderat di dunia pesantren juga mampu mewarnai peradaban Islam dunia, sebab tradisi-tradisi pesantren yang bercorak Islami, moderat dan teloran dapat mengurai terjadinya pertikaian dan permusuhan di masyarakat yang mengatasnamakan Islam dan gerakan-gerakan keagamaan.
TASAWUF DALAM SOROTAN EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI Amat Zuhri
Religia Vol 19 No 1: April 2016
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v19i1.658

Abstract

Aspek ajaran Islam seringkali dibagi secara dikotomis menjadi aspek syari’at dan hakikat. Aspek syari’at adalah ajaran yang bersumber dari al-Qur’an dan sunnah berkenaan dengan aqidah, ibadah, akhlak, sosial, ekonomi dan aspek kehidupan lainnya yang bersifat lahiriyah dalam bentuk legal-formal atau identik dengan fikih. Karena bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah maka ilmu syari’at digolongkan sebagai ilmu yang menggunakan epistemologi bayani. Sedangkan hakikat adalah aspek ajaran dalam Islam yang lebih menekankan pada penghayatan batin sehingga digolongkan sebagai ilmu yang menggunakan epistemologi irfani. Yang termasuk dalam hakikat ini adalah Tasawuf. Pembagian secara dikotomis seperti ini secara tidak langsung menimbulkan pemahaman bahwa tasawuf bukanlah bagian dari syari’at. Maka tidak jarang ada pihak-pihak yang menganggap bahwa tasawuf adalah salah satu bentuk penyimpangan dalam Islam atau setidaknya tidak memperhatikan aspek syari’at. Selain dianggap mernyimpang, tasawuf juga sering dianggap sebagai ajaran yang tidak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan. Benarkah tasawuf itu tidak memperhatikan aspek syari’at dan tidak memiliki nilai-guna untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan? Dalam tulisan ini penulis akan mencoba menjawab pertanyaanpertanyaan tersebut dengan menggunakan metode analisis Critical Discouse Analysis (CDA). Secara aplikatif, pembahasannya dimulai dengan mendeskripsikan sejarah dan faktor penyebab munculnya aliran-aliran tasawuf dalam Islam serta pokok-pokok ajaran tasawuf. Adapun pendekatan yang digunakan adalah filsafat ilmu. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa ajaran tasawuf juga menekankan aspek syari’ah  sehingga tidak melulu hanya menggunakan epistemologi irfani. Selain itu nilai-nilai tasawuf juga memiliki nilai-guna untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan.