cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sumenep,
Jawa timur
INDONESIA
Reflektika
ISSN : 23376821     EISSN : 25804006     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Reflektika is a peer-reviewed journal which is highly dedicated as public space to deeply explore and widely socialize various creative and brilliance academic ideas, concepts, and research findings from the researchers, academicians, and practitioners who are concerning to develop and promote the religious thoughts, and philosophies. Nevertheless, the ideas which are promoting by this journal not just limited to the concept per se, but also expected to the contextualization into the daily religious life, such as, inter-religious dialogue, Islamic movement, living Qur'an, living Hadith, and other issues which are socially, culturally, and politically correlate to the Islamic and Muslim community development.
Arjuna Subject : -
Articles 128 Documents
SYNTHESIS OF MULTICULTURAL EDUCATION AND CARE OF DISTRICT CULTURE IN PESANTREN (EDUCATION IN TMI AL-AMIEN PRENDUAN SUMENEP MADURA INDONESIA) Iwan Kuswandi
Reflektika Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.005 KB) | DOI: 10.28944/reflektika.v11i1.34

Abstract

Society of Indonesia should live peace in diversity without leaving regional values. pesantren as education institute has important role in integrating of two items. pesantren of TMI Al-Amien Prenduan is one of pesantren that has strategies in education of multicultural to students (santri), without leaving regional education. It can be witnessed that students’ room should stay in community that come from in any districts over Indonesia, it is as education of multicultural (they don’t stay in one community). In addition, it is to keep away ethnic fanaticism and tribal, so students should obligated to communicate Arabic, English and Indonesia in daily life. In curriculum, in TMI Al-Amien Prenduan is taught religion confrontation and the Islamic School of Doctrine of jurisprudence (madzhab fiqh), to keep away fanaticism in being religion and Islamic School of Doctrine. But, TMI Al-Amien Prenduan holds student entertainment in a week to continue regional cultural wealth that packed into consulate dynamic event (each district over Indonesia), such as fairy tale folklore competition ect. In addition, the students is obligated to publish month bulletin in Madura that contained of history, legend in journalistic each districts.
MENILAI ISI KANDUNGAN CERAMAH: KAJIAN KES PENCERAMAH YANG DITAULIAHKAN OLEH JABATAN AGAMA ISLAM SELANGOR (JAIS) Muhammad Husni B Ali
Reflektika Vol 11, No 2 (2016)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.374 KB) | DOI: 10.28944/reflektika.v11i2.25

Abstract

Penyebaran ilmu-ilmu Islam perlu dipantau oleh pihak Jabatan Agama Islam Selangor ( JAIS) dalam penerapan pengetahuan Islam kepada masyarakat. Oleh itu pihak JAIS akan memberi sijil Pentauliahankepada penceramah di masjid seluruh Selangor. Maka Penceramah yang mengajar pengajian ini memerlukan pengetahuan yang mantap dalam bidang pentauliahan tersebut. Kajian ini bertujuan untuk meneroka dan menganalisis isi kandungan yang dimiliki oleh penceramah dan bagaimana isi kandungan tersebut dilaksanakan semasa proses pengajaran. Pendekatan penilaian nutralistik digunakan untuk meneliti isi kandungan penceramah. Dengan melihat peratusan isi kandungan yang di sampaikan bagi ketogeri akidah, syariat, akhlak dan tasawuf serta sejarah dapat mengenalpasti peratusan penekanan ketegori akidah dalam ceramah yang disampaikan untuk mencapai tujuan kajian. Seramai lapan orang penceramah yang ditauliah JAIS dipilih sebagai peserta di dalam kajian ini. Kajian kualitatif ini menggunakan reka bentuk kajian kes dan memperoleh data kajian melalui protokol temubual, senarai semak pemerhatian pengajaran dan analisa dokumen. Dapatan kajian ini diharap dapat dijadikan panduan untuk menambahbaik kualiti isikandungan penceramah.
ANALISIS KEBIJAKAN PP NO 47 TAHUN 2008 (Is Quality or Quantity Measurable) Zainuddin Zainuddin
Reflektika Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.409 KB) | DOI: 10.28944/reflektika.v11i1.103

Abstract

Prodi PGSD STKIP PGRI SumenepUpaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan terus dilakukan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatanmutu pada setiap jenis dan jenjang pendidikan sebagai upaya tercapainyatujuan pendidikan nasional.Dilaksanakannya wajib belajar 9 tahun merupakan dimensi pemerataan pendidikan yang diharapkan dapat memberikan kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan bagi semua usia sekolah, hal ini tidak lain sebagai kometmen pemerintah terhadap pendidikan nasional untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia sebagai landasar dasar dalam peradaban pendidikan di Indonesia.Perbaikan kualitas pendidikan diharapkan tidak hanya mampu memenuhi target pemebangunan pendidikan pada tingkat kuantitas yakni pemenuhan hak berpendidikan setiap warga akan tetapi harus memenuhi aspek yang paling penting pada tingkat kualitas pendidikan yang terus berupaya untuk menajdi pendidikan yang berkualitas dalam rangka mencetak sumeber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan beberadap sebagaimana tercermin dalam amanah tujuan pendidikan nasional.
Akal Budi Belia Melayu Islam: Peranan dan Pengaruh Ibu Bapa Siti Masliah Mohd Nuri
Reflektika Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.911 KB) | DOI: 10.28944/reflektika.v11i1.39

Abstract

Makalah ini membincangkan mengenai peranan keluarga Islamik dan harmoni khususnya ibu bapa adalah sebagai pembangun akal budi belia Melayu Islam pada masa kini. Masalah sosial yang melanda generasimuda kini semakin hebat dan mencabar selaras dengan perubahan zaman dan era globalisasi serta modenisme. Tujuan makalah ini ditulis adalah untuk menjelaskan kepentingan peranan keluarga dan ibu bapa dalam membangunkan akal budi belia Melayu Islam. Makalah ini mengumpul dan komentor terhadap maklumat yang diperoleh daripada sarjana tempatan secara langsung melalui perbincangan kumpulan yang diaturkan oleh penyelidik. Perbincangan dan menganalisis dalam makalah ini merujuk kepada pandangn sarjana tempatan dan luar negara, disamping merujuk kepada al-Quran dan tafsiran. Hasil daripada sumber maklumat tersebut dapat dirumuskan bahawa pembangunan akal budi belia atau gerasi muda bermula dari didikan keluarga terutama ibu dan bapa semenjak kecil lagi. Kegagalan didikan menyebabkan rosaknya sahsiah belia atau generasi muda sedangkan mereka akan menjadi generasi pewaris akan datang
EVOLUSI KRITIK HADIS PERSPEKTIF MUSTHAFA A’DHAMI Moh. Jufriyadi‬ Sholeh‬‬
Reflektika Vol 11, No 2 (2016)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.868 KB) | DOI: 10.28944/reflektika.v11i2.30

Abstract

‫بسبب‬ ‫احلديث‬ ‫نقد‬ ‫يف‬ ‫احملدثني‬ ‫حبوث‬ ‫نتيجة‬ ‫املستشرقون‬ ‫رفض‬ ‫األكرب‬ ‫القسم‬ ‫أن‬ ‫عوا‬ ‫اد‬ ‫ّ‬ ‫و‬ ‫خاصا‬ ‫منهجا‬ ‫ألنفسهم‬ ‫واختاروا‬ ‫نظرهم‬ ‫يف‬ ‫املنهج‬ ‫ضعف‬ ‫القرنني‬ ‫ىف‬ ‫واالجتماعي‬ ‫والسياسي‬ ‫الديين‬ ‫للتطور‬ ‫نتيجة‬ ‫زعمهم‬ ‫يف‬ ‫احلديث‬ ‫من‬ ‫األعلى‬ ‫الرفيق‬ ‫إىل‬ ‫ينتقل‬ ‫مل‬ ‫الرسول‬ ‫أن‬ ‫وتقر‬ ‫تكذهبم‬ ‫الثابتة‬ ‫والنقول‬ ‫والثاين‪.‬‬ ‫األول‬ ‫مصطفى‬ ‫حممد‬ ‫قال‬ ‫لذلك‬ ‫الشامخ‪.‬‬ ‫اإلسالم‬ ‫لبنيان‬ ‫الكاملة‬ ‫األسس‬ ‫وضع‬ ‫وقد‬ ‫إال‬ ‫صفات‬ ‫طياته‬ ‫يف‬ ‫حيمل‬ ‫ال‬ ‫ألنه‬ ‫علميا‬ ‫منهجا‬ ‫منهجهم‬ ‫اعتبار‬ ‫ميكن‬ ‫ال‬ ‫األعظمي‬ ‫تعارضهم‬ ‫بل‬ ‫ادعائهم‬ ‫تؤيد‬ ‫ال‬ ‫التارخيية‬ ‫واحلقائق‬ ‫غري‪.‬‬ ‫ال‬ ‫اهلوى‬ ‫ركيزته‬ ‫العلمية‪،‬‬ ‫املناهج‬ ‫معروفني‬ ‫أشخاص‬ ‫طريق‬ ‫عن‬ ‫إال‬ ‫إلينا‬ ‫تصل‬ ‫ال‬ ‫النبوية‬ ‫فاألحاديث‬ ‫شديدة‬ ‫معارضة‬ ‫موثوقني‪.‬‬
TASAWUF AL-GHAZALI: ANTARA SPIRITUALITAS DAN FORMALISME HUKUM ISLAM Ghozi Mubarok
Reflektika Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6341.272 KB) | DOI: 10.28944/reflektika.v8i2.138

Abstract

Al-Ghazali merupakan salah satu figur paling penting dalam sejarah tasawuf Islam. Hal itu disebabkan bukan hanya oleh melimpahnya karya al-Ghazali dalam bidang tasawuf, tetapi juga oleh posisinya yang unik di tengah-tengah proses tarik menarik antara wilayah spiritual dan yurisprudensial dalam Islam. Tulisan ini mencoba, pertama-tama, menentukan di mana posisi al-Ghazali di antara dua wilayah tersebut untuk kemudian, pada akhirnya, memberikan penilaian apakah tasawuf al-Ghazali termasuk ke dalam jenis tasawuf Sunn atau Falsaf. Melalui analisis terhadap karya-karya al-Ghazali sendiri, tulisan ini kemudian menghasilkan beberapa kesimpulan. Pertama, al-Ghazali sebetulnya konsisten dalam pendiriannya tentang tasawuf sebagai laku spiritual yang tidak boleh bertentangan dengan, namun sekaligus berada pada level yang lebih tinggi daripada, ketaatan lahiriah dan formal terhadap syariat. Konsistensi itu kadang-kadang menempatkannya pada posisi yang dilematis sehingga boleh dibilang bahwa, dalam perspektif yang menyeluruh, al-Ghazali tidak sepenuhnya sukses menjembatani ketegangan di antara wilayah spiritual dan yurisprudensial dalam Islam itu. Kedua, karena al-Ghazali terlihat membidik dua audiens yang berbeda dalam karya-karyanya, maka model tasawuf al-Ghazali tidak bisa dikategorikan secara sederhana sebagai model tasawuf sunn yang sepenuhnya non-falsaf.
TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP TRADISI PENYEDIAAN TEMPAT TINGGAL BAGI ISTRI DI MADURA Abdul Aziz
Reflektika Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.987 KB) | DOI: 10.28944/reflektika.v13i1.73

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tradisi penyediaan tempat tinggal pada masyarakat Madura serta tinjauan hukum Islam terhadap tradisi tersebut. Dengan menggunakan metode kualitaif dengan pendekatan fenomenologi, didapat hasil sebagai berikut. Penyediaan nafkah tempat tinggal yang dianut oleh masyarakat Madura adalah Matrilokal-uksorilokalhal ini disebab oleh beberapa faktor yaitu pertamakarena kehawatiran orang tua perempuan dimasa tuanya nanti, Kedua untuk menjaga harga diri. Ketiga adalah bahwa para orang tua di Madura masih beranggapan bahwa walau anak perempuannya sudah menikah ia masih berada dibawah tanggung jawab seorang ayah untuk selalu melindunginya serta menddik dan mengayominya. Keempat adalah bahwa pekerjaan suaminya sebelum menikah beraada di sekitar rumah istrinya.Kelima adanya falsafah hidup orang Madura yang berbunyi kore’ noro’ pa’lopa’. Kewajiban memberikan nafkah prespektif hukum Islam merupakan kewajiban suami, nafkah tersebut meliputi sandang, pangan, dan papan. menurut madzhab Syafi’i, ukuran nafkah pangan dan sandang sesuai dengan kemampuan suami, sedangkan nafkan papan (Tempat Tinggal) harus disesuaikan dengan kebiasaan istri.
PENGURUSAN KEBAJIKAN DALAM ISLAM: SUATU PENELITIAN Tengku Radziatan Mardziiah binti Tengku A. Razak
Reflektika Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.072 KB) | DOI: 10.28944/reflektika.v11i1.35

Abstract

Pengurusan dana merupakan salah bidang yang menarik di bawah sistem kewangan Islam yang perlu diperhalusi. Pengurusan dan pengendalian dana kebajikan secara Islam pula adalah salah satu daripada contoh pelaksanaan Sistem Kewangan Islam di badan-badan kebajikan.Justeru, kertas ini cuba membincangkan konsep dan tuntutan Islam terhadap pengurusan dan pengendalian dana kebajikan dalam Islam yang menyentuk beberapa aspek sahaja. Perbincangan ini juga akan menyentuh dari sudut operasinya dengan mengambil contoh salah sebuah institusi kebajikan di Malaysia iaitu Islamic Relief Malaysia meliputi aspek pengurusan dana yang diperolehi dan di agihkan. Umumnya, ruang perolehan dana dalam Islam sangat luas untuk diperhalusi dalam membantu kesejahteraan golongan sasaran meneruskan kehidupan serta menanamkan semangat kerjasama dikalangan masyarakat.
DAKWAH K.H. MOH. FAIZ ABDUL RAZZAQ (Studi Dakwah Melalui Seni Kaligrafi) Ahmad Zulfikar Ali
Reflektika Vol 11, No 2 (2016)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.005 KB) | DOI: 10.28944/reflektika.v11i2.26

Abstract

Aktivitas dakwah merupakan salah satu jalan yang dianggap paling ideal untuk menyampaikan ajaran islam. Namun, selama ini usaha tersebut belum terasa maksimal. Banyak fator yang menjadi penyebabnya, salah satunya adalah Aktivitas dakwah selama ini hanya dipahami sebagai bentuk komunikasi yang hanya dapat disampaikan dengan bahasa verbal saja, padahal pada kenyataannya komunikasi non verbal memiliki pengaruh yang lebih besar, untuk itu setiap da’i perlu menyadari pentingnya hal ini, sehingga aktivitas dakwah tidak hanya berlangsung dari mimbar kemimbar saja, namun disampaikan dengan cara yang beragam sesuai dengan keadaan masyarakat.Dalam berdakwah banyak media yang dapat digunakan seorang da’i, mulai dari yang bersifat verbal maupum non verbal, seorang dai dituntut untuk lebih arif dalam memilih media sesuai dengan kemampuan dan sasaran dakwah. Hal tersebut juga dilakukan oleh KH. Moh. Faiz Abdul Razzaq dalam berdahwah, sebagai seorang kaligrafer beliau memilih kaligrafi Islam sebagai media dakwah. Permasalahan yang akan diteliti adalah bagaimana aktivitas dakwah KH. Moh. Faiz Abdul Razzaq, bagaimana persepsi beliau tentang kaligrafi, dan apa saja upaya beliau untuk menjadikan kaligrafi sebagai media dakwah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan metodepengumpulan data adalah interview dan dokumentasi. Melalui metode analisis deskriptif diharapkan hasil penelitian ini mampu menjawab persoalan yang akan ditelliti.
PURITANISM OF ISLAM IN ISLAMIC BOARDING SCHOOL (PESANTREN) (Models of Religious Understanding in Puritan Pesantren in East Java) M. Arfan Mu'ammar
Reflektika Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.4 KB) | DOI: 10.28944/reflektika.v12i2.100

Abstract

Religious purification in Indonesia is often considered as radical movement of Islam, the straitlaced and extreme one. This research aimed to explore religious understanding of the puritans. Six of pesantren were selected as those are considered as the proper representative of those puritan pesantren. Qualitative descriptive method was employed to analyze the data. The result showed that those six pesantren are varied in the quality of how puritan they are. Those pesantren can be grouped into three groups, radical, accomodationists, and moderinists. The grouping is based on how they deal with the concert issues occurring in the society. The radicals tend to strait-lacedly deal those issues. The accomodationists are more flexible than the radicals as they prohibit some issues under certain condition and purpose. On the contrary, the modernists are more lenient with the tajdid issues.    Religious purification in Indonesia is often considered as radical movement of Islam, the straitlaced and extreme one. This research aimed to explore religious understanding of the puritans. Six of pesantren were selected as those are considered as the proper representative of those puritan pesantren. Qualitative descriptive method was employed to analyze the data. The result showed that those six pesantren are varied in the quality of how puritan they are. Those pesantren can be grouped into three groups, radical, accomodationists, and moderinists. The grouping is based on how they deal with the concert issues occurring in the society. The radicals tend to strait-lacedly deal those issues. The accomodationists are more flexible than the radicals as they prohibit some issues under certain condition and purpose. On the contrary, the modernists are more lenient with the tajdid issues.    

Page 3 of 13 | Total Record : 128